Anda di halaman 1dari 23

PENDAHULUAN

Padang penggembalaan merupakan suatu areal yang ditumbuhi vegetasi


dominant famili Gramineae dan mungkin juga terdapat jenis tumbuhan lainya
seperti legum, dan herbal lainya yang digunakan untuk makanan ternak. Padang
penggembalaan daerah tropik biasanya menghasilkan hijauan yang melimpah
pada musim hujan, pada saat sesudah itu tunas tanaman biji tumbuh dan
berkembang dengan baik dan cepat. Pemanfaatan padang penggembalaan alami
sebagai sumber pakan hijauan sudah lama dilakukan oleh peternakan kecil
(peternakan rakyat) di pedesaan. Untuk memperoleh pakan hijauan bagi ternak
yang dipeliharanya, peternak umumnya menggembalakan ternaknya pada padang
penggembalaan alami yang berada di sekitar tempat tinggalnya (Sawen dan
Junaidi, 2011).
Analisa komposisi botani diperlukan untuk mengetahui kondisi pastura
yang dapat mempengaruhi produksi dan kualitas hijauan yang dihasilkan. Analisis
komposisi botani dapat dilakukan secara manual dengan melihat secara langsung
komposisi botani yang ada di suatu pastura. Namun hal ini tentu akan menjadi
masalah dalam menentukan akurasi jenis botani dan waktu yang diperlukan untuk
melihat kondisi botani dan waktu yang diperlukan untuk melihat kondisi botani
yang ada secara keseluruhan (Priyanto dan Yulistiani, 2005).
Pengukuran pada pastura merupakan cara evalusi yang cukup akurat baik
dengan metode langsung maupun tidak langsung. Pengukuran pastura secara
langsung akan lebih memberikan gambaran akan keadaan pastura sebenarnya,
metode ini dapat dilakukan dengan penghitungan komposisi botani dengan
beberapa caranya, dengan mengukur produktivitasnya dan juga penghitungan

komposisi kimianya. Oleh karena itu dilakukan praktikum tatalaksana padang


penggembalaan mengenai penentuan komposisi botanis dengan tujuan untuk
mengetahui berat komponen spesies dan mengetahui cara ranking berdasarkan
bahan kering di PT. Bendikari United Live Stock (PT. BULS) Kabupaten Sidrap,
serta kegunaan dilaksanakan praktikum tatalaksana padang penggembalaan
mengenai penentuan komposisi botanis agar sebagai informasi ilmiah bagi
mahasiswa dan masyarakat dalam mengetahui berat komponen spesies dan
mengetahui cara ranking berdasarkan bahan kering di PT. Bendikari United Live
Stock (PT. BULS) Kabupaten Sidrap.

TINJAUAN PUSTAKA
Gambaran Umum Penggunaan Padang Penggembalaan
Padang penggembalaan merupakan suatu daerah padangan dimana
tumbuh tanaman makanan ternak yang tersedia bagi ternak yang merenggutnya
menurut kebutuhannya dalam waktu singkat. Produktivitas hijauan pakan pada
suatu padang penggembalaan dipengaruhi oleh faktor ketersediaan lahan yang
memadai, dimana lahan tersebut harus mampu menyediakan hijauan pakan yang
cukup bagi kebutuhan ternak. Selain itu faktor kesuburan tanah, ketersediaan air,
iklim dan topografi juga turut berpengaruh (Sawen dan Junaidi, 2011).
Padang penggembalaan dapat diklasifikasikan menjadi empat golongan
utama yakni padang penggembalaan alam, padang penggembalaan permanen yang
sudah diperbaiki, padang penggembalaan buatan (temporer), dan padang
penggembalaan

dengan

irigasi.

Vegetasi

yang

tumbuh

pada

padang

penggembalaan terdiri atas rumput-rumputan, kacang-kacangan, atau campuran


keduanya. Fungsi kacang-kacangan pada padang penggembalaan memberikan
nilai gizi pakan yang lebih baik terutama berupa protein, fosfor dan kalium
(Sudaryanto dan Priyanto, 2009).
Faktor faktor yang memepengaruhi padang pengembalaan antara lain,
Air berfungsi untuk fotosintesis, penguapan, pelarut zat hara dari atas ke daun.
Intensitas sinar mata hari. Peningkatan pertumbuhan tanaman sejalan dengan
peningkatan intensitas cahaya. Jumlah energi matahari yang diterima seawal
mungkin pada saat munculnya sampai periode pemasakan adalah penting untuk
akumulasi berat kering selama periode tersebut. Kompetisi zat zat makanan.
Kompetisi terjadi dengan tanaman utama. Kekompakan tanah.Pastura yang

digembala dengan stocking rate yang tinggi, tanah menjadi kompak, padat dan
berakibat mengurangi aerasi akar dan daya tembus air. Pengambilan zat zat
makanan. Makin sering pastura dipotong makin sedikit daun yang gugur yang
menambah humus dan pada waktu yang sama, makin banyak zat-zat makanan
yang hilang. Berkurangnya produksi pastura yang terlalu tinggi menyebabkan
(Pertiwi, 2007).
Pemanfaatan padang penggembalaan alami sebagai sumber pakan hijauan
sudah lama dilakukan oleh peternakan kecil (peternakan rakyat) di pedesaan.
Untuk memperoleh pakan hijauan bagi ternak yang dipeliharanya, peternak
umumnya menggembalakan ternaknya pada padang penggembalaan alami yang
berada di sekitar tempat tinggalnya. Pada kenyataannya, pemeliharaan ternak
ruminansia dengan sistem pemeliharaan tersebut cenderung memperlihatkan
bahwa produksi yang dihasilkan relatif rendah (Sawen dan Junaidi, 2011).
Pengelolaan padang penggembalaan yang digunakan untuk penggemukan
sapi dengan sistem pasture fattening adalah rotasi penggunaan padang
penggembalaan. Suatu areal padang penggembalaan dapat dibagi atas beberapa
petak dan diisi dengan beberapa ekor sapi yang digemukkan. Setiap petak harus
diamati terus agar dapat ditentukan saat yang tepat untuk melakukan rotasi
(Siregar, 2010).
Gambaran Umum Komposisi Botanis
Analisis botani padang penggembalaan mengidentifikasi spesies yang ada
dan proposal masing masing spesies. Komposisi botanis pasture terutama
legume sangat penting diperhatikan di padang penggembalaan karena
menunjukkan kualitas hiauan. Keberadaan legume di padang penggembalaan

menunjukkan pasture tersebut kualitasnya baik karena legume lebih tinggi kadar
protein, mineral dan daya cernanya disbanding rumput dan umumunya komposisi
legume sampai 50% sangat baik untik memperoleh produksi ternak yang tinggi.
Komposisi legume diatasnya kurang karena produksi dan kandungan energi
legume lebih rendah dari pada rumput. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk
menentukan komposisi botanis yaitu berat, metode rangking spesies berdasarkan
berat kering, penutupan, jumlah individu dan frekuensi (Hasan dkk., 2015).
Analisa komposisi botani diperlukan untuk mengetahui kondisi pastura
yang dapat mempengaruhi produksi dan kualitas hijauan yang dihasilkan. Analisis
komposisi botani dapat dilakukan secara manual dengan melihat secara langsung
komposisi botani yang ada di suatu pastura. Namun hal ini tentu akan menjadi
masalah dalam menentukan akurasi jenis botani dan waktu yang diperlukan untuk
melihat kondisi botani dan waktu yang diperlukan untuk melihat kondisi botani
yang ada secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan metode analisis
komposisi botani hijauan makanan ternak yang cepat dan tepat (Priyanto dan
Yulistiani, 2005).
Komposisi botani suatu padang penggembalaan tidak konstan, hal ini
disebabkan karena adanya perubahan susunan akibat adanya pengaruh iklim,
kondisi tanah dan pemanfaatan oleh ternak. Analisis komposisi botani yang
meliputi suatu vegetasi padangan menunjukkan gambaran tentang adanya spesiesspesies tertentu serta proporsinya di padangan tersebut. Beberapa teknik telah
digunakan untuk menganalisa vegetasi, antara lain dengan menimbang berat
masing-masing komponen. Penimbangan masing-masing spesies atau kultivar
merupakan metode yang paling tepat dan obyektif dalam menentukan komposisi

botani suatu padangan dimana masing-masing komponen diekspresikan dalam


persentase dan total produksi bahan kering. Sampel yang dipakai dapat diambil
dari hijauan yang dipotong pada saat pada saat mengukur produksi atau unit
contoh yang secara spesifik dipakai untuk mengukur komposisi dari masingmasing spesies. Jumlah contoh yang bervariasi, tetapi diperkirakan 0,5 kg
dianggap sudah cukup untuk pelaksanaan analisis. Beberapa metode untuk
mengetahui komposisi botani yaitu pemisahan dengan tangan dan penimbangan
hijauan pakan yang telah dipotong, estimasi persentase berat pada hijuan pakan
yang telah dipotong, stimasi persentase berat insitu di kebun atau di lapangan
dan estimasi unit berat dari tiap-tiap spesies di kebun atau lapangan (Correia dkk.,
2010).
Kualitas Hijauan Pada Padang Penggembalaan
Kualitas nutrisi hijauan yang tumbuh pada suatu padang penggembalaan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya komposisi rumput dan legum,
tahap pertumbuhan hijauan, kondisi tanah, pemupukan, dan ketersediaan air.
Tanaman legum mengandung nitrogen yang lebih tinggi dibandingkan dengan
rumput dan rendahnya proporsi legum yang ada dalam vegetasi yang tumbuh di
padang penggembalaan atau perkebunan kelapa di lokasi penelitian menjadi
salah satu penyebab rendahnya kualitas nutrisi hijauan yang ada. Faktor lain
yang juga diduga menjadi penyebab rendahnya kandungan protein kasar
hijauan di lokasi penelitian adalah kondisi undegrazing yang sedang terjadi
sehingga vegetasi yang ada mengalami penuaan dengan kandungan serat kasar
yang tinggi (Damry, 2009).

Komposisi hijauan suatu padang penggembalaan turut menentukan


kualitas hijauan pakan. Analisis komposisi botani merupakan suatu metode yang
digunakan untuk menggambarkan
serta

proporsinya di dalam suatu

adanya

spesies-spesies tumbuhan tertentu

ekosistem

padangan.

Komposisi

suatu

padangan tidak konstan, hal ini disebabkan karena adanya perubahan susunan
akibat adanya pengaruh iklim, kondisi tanah dan juga pemanfaatannya oleh
ternak. Padang penggembalaan yang memiliki spesies hijauan yang bervariasi
antara rumput dan leguminosa terutama spesies tanaman yang berkualitas baik
akan meningkatkan kualitas hijauan (Sawen dan Junaidi, 2011).
Kualitas suatu tanaman hijauan pakan ditentukan oleh komposisi kimianya
melalui suatu analisa laboratorium terutama protein kasar. Kualitas hijauan dapat
tercapai apabila kecepatan fotosintesis lebih tinggi dari pada tingkat respirasi yang
dilakukan oleh tanaman. Fotosisntesis akan berjalan baik apabila ditunjang oleh
ketersediaan unsur hara, sinar matahari, air dan CO2 yang cukup. Akumulasi
biomassa dari hasil fotosintesis banyak tergantung pada umur sedangkan proporsi
dan komponen biomassa senantiasa berubah dari fase ke fase pertumbuhan sesuai
dengan tingkat kedewasaan dan umur. Tanaman yang dipotong pada saat masih
mudah kandungan nutrisinya masih tinggi namun bahan keringnya rendah
sehingga hasil yang diperoleh juga rendah. Sedangkan pemotongan yang
dilakukan pada saat tanaman terlalutua, bahan keringnya tinggi namun kandungan
nutrisinya rendah, struktural kabohidratnya tinggi sehingga tidak menguntungkan
karena mempengaruhi kecernaan dari hijauan tersebut. Tingkat kedewasaan
adalah faktor penting yang memperngaruhi komposisi kimia, perbandingan daun

dan batang, banyaknya biji atau butiran dimana sangat besar pengaruhnya
terhadap nilai nutrien suatu hijauan (Correia, 2010).
Komponen Spesies
Penggembalaan

Rumput,

Legum

dan

Gulma

pada

Padang

Keanekaragaman hijauan pakan termasuk rumput merupakan potensi yang


telah disediakan oleh alam untuk dimanfaatkan. Memaksimalkan hijauan pakan
dalam memenuhi kebutuhan nutrisi ternak dilakukan berdasarkan acuan
kebutuhan di lapangan. Pengembangannya dilakukan dengan mengikuti kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan. Rumput ditinjau dari metode
pemanfaatannya terbagi atas dua yaitu rumput grazing dan rumput potong.
Rumput grazing adalah rumput yang dikonsumsi oleh ternak langsung di
lapangan. Biasanya tinggi rumput grazing dapat mencapai 2 meter di atas
permukaan tanah, tahan terhadap injakan, serta tahan terhadap renggutan ternak.
Sementara rumput potong adalah rumput yang dikonsumsi oleh ternak ruminansia
melalui perantara peternakannya. Rumput potong pada umumnya berproduksi
tinggi, tingginya dapat mencapai 10 meter di atas permukaan tanah dan
memerlukan perhatian dalam pengrlolaan permanenan (Hasan, 2012).
Legum adalah kelompok hijauan lain yang merupakan unsur utama dalam
usaha peternakan ruminansia. Legum pada umumnya mengandung protein yang
tinggi dibandingkan Graminae. Legum juga memiliki fungsi yang sama dengan
Graminaedalam lingkungan yaitu sebagai tanaman vegetasi dan pengendali erosi.
Namun hal lain yang dimiliki legum adalah kemampuannya memfiksasi nitrogen
di udara melalui bintil bintil akarnya (Hasan, 2012).
Jenis rumput lainnya, dalam penanamanya juga biasa dicampur dengan
jenis legum yang tujuannya untuk meningkatkan nilai gizi dan produksinya. Jenis

legum yang dapat ditanam bersama- sama yaitu Trifolium repens, Trifolium
procumbens,

Trifolium dubium

dan Lespedeza sp. Berdasarkan kandungan

gizinya, maka legum lebih tinggi kandungan protein kasarnya dari pada rumput.
Peranan legum sangat penting untuk satwa, legum juga mempunyai peranan
sangat penting untuk padang rumput antara lain yaitu memperbaiki kualitas
produksi suatu padang rumput, karena kadar protein kasar legum yang lebih
tinggi dari pada rumput. Memanfaatkan transfer nitrogen dari legum untuk
menjaga produksi rumput padang rumput karena pelapukan akar serta rontokan
daun legum akan menyumbangkan N pada tanah setelah melewati proses
dekomposisi. Hal tersebut pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas
satwa yang hidup pada padang rumput tersebut (Arnold, 2014).
Gulma merupakan tanaman pengganggu yang mampu menghambat
bahkan mematikan hijauan pakan yang tumbuh bersamanya. Kerusakan yang
diakibatkan oleh gulma dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu kerusakan ringan,
sedang dan berat. Kerusakan ringan adalah kerusakan yang diakibatkan oleh
gulma yang mencakup 10-30% total lahan. Kerusakan sedang ketika gulma telah
merusak tatanan padang penggembalaan 31-50% dari total lahan. Kerusakan berat
terjadi ketika gulma telah merusak tatanan padang penggembalaan sebesar 5180% atau bahkan 100% dari total lahan (Hasan, 2012).
Keberadaan gulma padang penggembalaan rumput dinilai sangat
merugikan. Gulma yang tumbuh di padang penggembalaan dapat menurunkan
produktivitas padang penggembalaan karena merupakan pesaing terhadap hijauan
pakan, baik terhadap air, unsur hara, maupun cahaya. Pada kondisi yang
menguntungkan, gulma dapat tumbuh dengan cepat karena mempunyai daya saing

tinggi yang disebabkan adanya zat penghambat pertumbuhan terhadap tumbuhan


lain yang disebut zat allelopati. Pencegahan agar gulma tidak dapat tumbuh
dilakukan adalah membasmi gulma tersebut hingga akar akarnya. Jenis gulma
yaitu Lantana camara, Chromolaena odorata, Hiptis brevipus, Urena lobata,
Mimosa pudica dan yang lainnya (Hasan, 2012).
Sebagian besar hijauan yang ada di padang penggembalaan adalah rumput
alam yakni diatas

90%,

hanya terdapat relatif sedikit tanaman leguminosa.

Kurangnya proporsi tanaman leguminosa di padang rumput alam menyebabkan


rendahnya kualitas hijauan, terutama selama musim kemarau proporsi legum
sudah tidak ada, di mana rumput alam sudah menjadi sangat rendah mutunya
yang menjadi sumber pakan satu - satunya. Pada kebanyakan padang rumput
alam ditambah dengan ancaman gulma semak bunga
odorata)

yang

putih (Chromolaena

semakin banyak (Arnold, 2014). Dominasi spesies hijauan

ditemukan 67,16% rumput, 1,49% legum, 11,94% dapat dikonsumsi, dan 19,40%
hijauan non pakan (Yuko dkk., 2012).
Metode Rangking Penentuan Komposisi Botanis
Komposisi botani diperlukan untuk mengetahui kondisi pastura yang dapat
mempengaruhi produksi dan kualitas hijauan yang dihasilkan. Analisis komposisi
botani dapat dilakukan secara manual dengan melihat secara langsung komposisi
botani yang ada di suatu pastura. Namun hal ini tentu akan menjadi masalah
dalam menentukan akurasi jenis botani dan waktu yang diperlukan untuk melihat
kondisi botani dan waktu yang diperlukan untuk melihat kondisi botani yang ada
secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan metode analisis komposisi botani

hijauan makanan ternak yang cepat dan tepat (Diwyanto dan Handiwirawan,
2004).
Metoda analisis komposisi botani menurut Diwyanto dan Handiwirawan
(2004) :
1.

Metoda langsung
Pemisahan dengan menggunakan tangan dan penimbangan hijauan makanan

ternak yang ternak yang telah dipotong. Metode ini paling teliti jika digunakan
jumlah sampel yang cukup banyak, tetapi memerlukan waktu yang lama dengan
fasilitas pengeringan yang memadai.
2. Metoda pendugaan
1.

Estimasi persentase berat pada hijauan makanan ternak yang telah


dipotong.

2.

Estimasi persentase berat in situ di kebun/lapangan.

3.

Estimasi unit berat dari tiap-tiap spesies di kebun/lapangan.


Metode-metode tersebut lebih cepat tetapi kurang teliti karena faktor-

faktor subyektif. Dalam perkembangannya, diperkenalkan metode rank atau


perbandingan yang memberikan persentase relatif tentang kedudukan masingmasing spesies (relative importance percentage). Metode ini digunakan untuk
menaksir komposisi botani pada rumput atas dasar bahan kering tanpa melakukan
pemotongan dan pemisahan spesies hijauan (Diwyanto dan Handiwirawan.,
2004).

METODE PRAKTIKUM
Waktu danTempat
Praktikum Tatalaksana Padang Penggembalaan Peternakan Rakyat
mengenai Penentuan Komposisi Botanis, dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 April
1 Mei 2016 pukul 10.00 WITA sampai selesai, bertempat penggembalaan PT.
Berdikari United Livestock (PT.BULS) Kabupaten Sidrap.
Materi Praktikum
Alat yang digunakan dalam melakukan praktikum Tatatlaksana Padang
Penggembalaan Peternakan Rakyat

mengenai penentuan komposisi botanis

adalah parang/gunting, meteran, kuadrat dan timbangan,


Bahan yang digunakan dalam melakukan praktikum Tatatlaksana Padang
Penggembalaan Peternakan Rakyat

mengenai penentuan komposisi botanis

adalah jerami padi/rumput kering, air, kantong plastik, tali rafia dan koran
Metode Praktikum
Berat Komponen Spesies
Melemparkan
memotong

semua

kuadrat
hijauan

secara
di dalam

acak di padang

penggembalaan,

kuadrat sampai permukaan tanah,

memotong hijauan dan menyebarkan di atas koran, memisahkan satu spesies


dari spesies lainnya kemudian menimbang masing-masing spesies, mengambil
sampel masing-masing spesies,

kemudian menentukan kadar bahan kering

dengan memasukkan sampel kedalam oven pada temperature 100 oC selama


24 jam, kemudian menentukan kadar bahan kering dan berat kering masingmasing spesies/komponen.
Metode Ranking Berdasarkan Bahan Kering

Melemparkan kuadrat secara acak pada padang rumput dan catat semua
spesies yang ada. Ukuran kuadrat tidak terlalu kritis tetapi asalak cukup luas
sehingga sekurang-kurangnya tiga spesies yang masuk di dalamnya . Untuk
padang penggembalaan tropis, kuadrat dengan ukuran 4,9,25 atau 40 dm2 cukup
baik digunakan, memperkirakan spesies yang menempati ranking pertama kedua
dan ketiga dalam hal produksi bahan kering. Apabila tidak ada perbedaan ranking
pertama dan kedua, ranking kedua dan ketiga secara sama pada kedua atau ketiga
spesies, kemudian mengulang prosedur di atas banyak kali, lebih disukai antara
50-100 kali sehingga menghasilkan sekumpulan data, kemudian data ditabulasi
untuk memberikan proporsi kuadrat dimana tiap spesies menempati ranking
pertama, kedua dan ketikga. Proporsi kuadrat dimana spesies menempati ranking
pertama, kedua dan ketiga masing-masing dikalikan dengan faktor 70, 19, 21, 0,
dan 73, kemudian jumlah proporsi kuadrat suatu spesies setelah dikalikan dengan
faktor tersebut merupakan komposisi botanis spesies tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan Komponen Spesies


Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan mengenai Komposisi Botanis
maka diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 10. Pengamatan Komponen Spesies
Spesies
Kuadran
Rumput
Legum
Gulma
1
1
1
1
2
2
2
1
3
4
2
2
Sumber : Hasil Praktek Lapang Tatalaksana Padang Pengembalaan Rakyat
PT.BULS, 2016.
Berdasarkan tabel diatas maka dapat dilihat bahwa spesies tanaman yang
paling banyak adalah graminae (rumput), yang kedua legum dan yang ketiga
gulma. Pada Praktek Lapang Tata Laksana Padang Pengembalaan Peternakan
Rakyat PT. Berdikari Unit Live Stock di Kabupataen Sidrap mengenai Penenetuan
Komposisi Botanis melalui jenis komponen spesies berdasarkan jumlah spesies
tanaman. Disebabkan karena rumput sebagai sumber pakan ternak yang biasanya
digunakan oleh peternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Hasan (2012)
menyatakan bahwa keanekaragaman hijauan pakan termasuk rumput merupakan
potensi yang telah disediakan oleh alam untuk dimanfaatkan. Memaksimalkan
hijauan pakan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi ternak dilakukan berdasarkan
acuan kebutuhan di lapangan. Pengembangannya dilakukan dengan mengikuti
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan. Rumput ditinjau dari
metode pemanfaatannya terbagi atas dua yaitu rumput grazing dan rumput potong.
Rumput grazing adalah rumput yang dikonsumsi oleh ternak langsung di
lapangan. Biasanya tinggi rumput grazing dapat mencapai 2 meter di atas
permukaan tanah, tahan terhadap injakan, serta tahan terhadap renggutan ternak.
Sementara rumput potong adalah rumput yang dikonsumsi oleh ternak ruminansia

melalui perantara peternakannya. Rumput potong pada umumnya berproduksi


tinggi, tingginya dapat mencapai 10 meter di atas permukaan tanah dan
memerlukan perhatian dalam pengrlolaan permanenan. Hal ini ditambahkan oleh
Yuko dkk., (2012) menyatakan bahwa dominasi spesies hijauan ditemukan
67,16% rumput, 1,49% legum, 11,94% dapat dikonsumsi, dan 19,40% hijauan
non pakan.
Metode Ranking Bersadarkan Bahan Kering
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan mengenai Komposisi Botanis
maka diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 11. Metode Ranking Berdasarkan Bahan Kering
Spesies

Ranking

Proporsi(kg/ m

1
2
3
1
2
3
Rumput
7
1
1
46
16
25
Legum
5
2
2
33
33
50
Gulma
3
3
1
20
50
25
Jumlah
15
6
4
99
99
1
Sumber : Hasil Praktek Lapang Tatalaksana Padang Pengembalaan Rakyat
PT.BULS, 2016.
Berdasarkan tabel diatas maka dapat dilihat bahwa spesies tanaman yang
paling banyak adalah graminae (rumput), yang kedua legum dan yang ketiga
gulma. Pada Praktek Lapang Tata Laksana Padang Pengembalaan Peternakan
Rakyat PT. Berdikari Unit Live Stock di Kabupataen Sidrap mengenai Penenetuan
Komposisi Botanis melalui jenis komponen spesies tidak terjadi perbedaan yang
signifikan pada rumput, legum dan gulma, dikarenakan komposisi tanaman pada
suatu padang penggembalaan tidak selalu tetap dipengaruhi oleh iklim dan
kepadatan tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sawen dan Junaidi (2011)
menyatakan bahwa komposisi suatu padangan tidak konstan, disebabkan karena
adanya perubahan susunan akibat adanya pengaruh iklim, kondisi tanah dan

juga pemanfaatannya oleh ternak. Padang penggembalaan yang memiliki spesies


hijauan yang bervariasi

antara rumput dan leguminosa

terutama

tanaman yang berkualitas baik akan meningkatkan kualitas hijauan.

PENUTUP

Kesimpulan

spesies

Berdasarkan

Praktek Lapang Tata Laksana

Padang Pengembalaan

Peternakan Rakyat mengenai Penentuan Komposisi Botanis di PT. BULS dapat


disimpulkan bahwa paling banyak adalah graminae (rumput), yang kedua legum
dan yang ketiga gulma. Pada Praktek Lapang Tata Laksana Padang Pengembalaan
Peternakan

Rakyat PT. Berdikari Unit Live Stock di Kabupataen Sidrap

mengenai Penenetuan Komposisi Botanis melalui jenis komponen spesies


berdasarkan jumlah spesies tanaman. Disebabkan karena rumput sebagai sumber
pakan ternak yang biasanya digunakan oleh peternak.
Saran
Proses praktikum di lapangan sebaiknya alat yang digunakan lebih
lengkap lagi sehingga dapat mempermudah dalam praktikum dan sebaiknya
peternak lebih memperhatikan kondisi ternaknya agar ternaknya mendapatkan
nutrisi dan bobot badannya bertambah/gemuk.

DAFTAR PUSTAKA

Arnold, E.M. 2014. Produktivitas Padang Penggembalaan Sabana Timor Barat.


Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana, Kupang.

Correia, B.A., Ligia, L.G., Joao, Rendes, Cruz, M dan Afonso, A. 2010. Analisis
komposisi botani dan komposisi kimia padang penggembalaan alam di
pertengahan dan akhir musim hujan pada dataran tinggi dan rendah di
Kabupaten Lautem. Direktorat Bina Sarana Usaha Peternakan, Direktorat
Jenderal Peternakan Departamen Pertanian Indonesia.
Damry. 2009. Produksi dan kandungan nutrient hijauan padang penggembalaan
alam Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso. Jurusan Peternakan
Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah. 16(4): 296
300.
Diwyanto, K. Dan E. Handiwirawan. 2004. Peran Litbang Dalam Mendukung
usaha agribisnis pola integrasi tanaman ternak. Prosiding Sistem Integrasi
Tanaman dan Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali dan CropAnimal Systems Research Network (CASREN), Bali.
Hasan, S. 2012. Hijauan Pakan Tropik. IPB Press. Bogor.
Hasan, S., Rusdy, M., Nompo, S., Nohong, B. 2015. Bahan Praktikum Ilmu
Tanaman Pakan. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.
Pertiwi, E. 2007. Upaya Pelestarian Alam Sebagai Padang Penggembalaan
Bersama Peternak Tradisional Yang Berwawasan Lingkungan di
Kabupaten Sumbawa. Tesis. Program Magister Ilmu Lingkungan Program
Pasca Sarjana Universitas Diponegoro, Semarang.
Priyanto, D. dan D. Yulistiani. 2005. Estimasi Dampak Ekonomi Penelitian
Partisipatif Penggunaan Obat Cacing Dalam Meningkatkan Pendapatan
Peternak Domba di Jawa Barat. Seminar Nasional Teknologi Peternakan
dan Veteriner. Pusat penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.
Sawen, D dan Junaidi, M. 2011. Potensi padang penggembalaan alam pada dua
kabupaten di Provinsi Papua Barat. Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner. Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Negeri Papua, Manokwari.
Siregar, B.S. 2010. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudaryanto, B dan Priyanto, D. 2009. Degradasi padang penggembalaan. Balai
Penelitian Ternak, Yogyakarta.
Yuko, O., Supriyantono, A., Widayati, T dan Sumpe, I. 2012. Komposisi botani
dan persebaran jenis jenis hijauan local padang penggembalaan alam di
Papua Barat. Jurusan Peternakan Fakultas Peterankan Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Papua, Manokwari. 4(2):62-65.

LAMPIRAN

Lampiran 5. Perhitungan Metode Ranking Berdasarkan Bahan Kering

Rumput:
Proporsi 1=
=

Rumput pada ranking 1


Jumlahranking 1
7
15

100

100

= 0,46 100
2
= 46 kg/ m
Proporsi 2=
=

Rumput pada ranking 2


Jumlahranking 2
1
6

100

100

= 0,16 100
2
= 16 kg/ m
Proporsi 3=
=

Rumput pada ranking 3


Jumlahranking 3
1
4

100

100

= 0,25 100
2
= 25 kg/ m
Legum :
Proporsi 1=
=

Legum pada ranking 1


Jumlah ranking 1
5
15

100

100

= 0,33 100
2
= 33 kg/ m
Proporsi 2=
=

Legum pada ranking 2


Jumlah ranking 2
2
6

100

100

= 0,33 100
2
= 33 kg/ m
Proporsi 3=

Legum pada ranking 3


Jumlah ranking 3

100

2
4

100

= 0,5 100
2
= 50 kg/ m
Gulma
Proporsi 1=
=

Gulma pada ranking 1


Jumlah ranking1
3
15

100

100

= 0,2 100
2
= 20 kg/ m
Proporsi 2=
=

Gulma pada ranking 2


Jumlah ranking2
3
6

100

100

= 0,5 100
2
= 50 kg/ m
Proporsi 3=

Gulma pada ranking 3


Jumlahranking 3

100 = =

1
4

100

= 25

Lampiran 8. Dokumentasi Pengukur Kapasitas Tampung

= 0,25 100

Laporan Praktikum
Tatalaksana Padang Penggembalaan Peternakan Rakyat

PRAKTIKUM VI
PENENTUAN KOMPOSISI BOTANIS

NAMA
NIM

: MARIYANI NUR MEILANI


: I 111 14 022

KELOMPOK/GEL : VIII/II
ASISTEN
: ISNAWATI MUHAJIR

LABORATORIUM ILMU HIJAUAN PAKAN DAN PASTURE


JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016