Anda di halaman 1dari 12

PENGARUH GIBERELIN TERHADAP PERPANJANGAN BATANG

Oleh :
Dwi Ariyanto P B1J013079
Ardo Ramdhani
B1J013089
Bahana Aditya Adnan B1J013093
Rombongan
: III
Kelompok
:5
Asisten
: Nurul Amalia

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015
I. PENDAHULUAN

Pertumbuhan,

A. Latar Belakang
perkembangan, dan

pergerakan

tumbuhan

dikendalikan beberapa golongan zat yang secara umum dikenal sebagai


hormon tumbuhan atau fitohormon. Beberapa ahli berkeberatan dengan
istilah ini karena fungsi beberapa hormon tertentu tumbuhan (hormon
endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan) dapat diganti
dengan

pemberian

zat-zat

tertentu

dari

luar,

misalnya

dengan

penyemprotan (hormon eksogen, diberikan dari luar sistem individu).


Mereka lebih suka menggunakan istilah zat pengatur tumbuh (bahasa
Inggris plant growth regulator) ( Ashari, 1997).
Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik
dan

berfungsi

sebagai

prekursor.

Rangsangan

lingkungan

memicu

terbentuknya hormon tumbuhan. Bila konsentrasi hormon telah mencapai


tingkat tertentu, sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai ekspresi.
Dari sudut pandang evolusi, hormon tumbuhan merupakan bagian dari
proses

adaptasi

mempertahankan

dan

pertahanan

kelangsungan

hidup

diri

tumbuh-tumbuhan

jenisnya.

Salah

satu

untuk
hormon

pengatur tumbuh adalah giberelin ( Gardner, 1991).


Pemahaman terhadap fitohormon pada masa kini telah membantu
peningkatan hasil pertanian dengan ditemukannya berbagai macam zat
sintetis yang memiliki pengaruh yang sama dengan fitohormon alami.
Aplikasi

zat

pengatur

tumbuh

dalam

pertanian

modern

mencakup

pengamanan hasil, memperbesar ukuran dan meningkatkan kualitas produk,


atau menyeragamkan waktu berbunga (Gardner, 1991).
B. Tujuan
Tujuan praktikum adalah untuk mengetahui konsentrasi giberelin
yang

efektif

dalam

merangsang

terhadap perpanjangan batang.

pertumbuhan

tanaman,

khususnya

II. TINJAUAN PUSTAKA


Giberelin ditemukan oleh ilmuwan jepang, Eiichi Kurosawa saat
mengamati cendawan Gibberela fujikuroi. Dari hasil pengamatannya,
senyawa

yang

terinfeksi

cendawan

tersebut

mensekresikan

hormon

giberelin dalam jumlah berlebih. Setelah perang dunia ke dua, Stodola dan
kawan-kawannya melanjutkan penelitian tersebut dan ditemukan jenis
giberelin lain, yaitu GA1, GA2, Dan GA3 ( Kusumo, 1990).
Giberelin merupakan senyawa isoprenoid yang disintesis dari koenzim
A melalui asam mevalonat, GGPP,

senyawa CO 2 yang bertindak sebagai

donor elektron bagi semua atom karbon. Giberelin dibuat di daun muda,
buah yang sedang tumbuh, dan diujung akar. Giberelin hasil sintesis
ditranslokasikasi ke lokasi tertentu lewat berkas pengakut dan jaringan
parenkim (kusumo, 1990).
Terung ialah terna yang sering ditanam secara tahunan. Tanaman ini
tumbuh hingga 40150 cm (16-57 inci) tingginya. Daunnya besar, dengan
lobus yang kasar. Ukurannya 1020 cm (4-8 inci) panjangnya dan 510 cm
(2-4 inci) lebarnya. Jenis-jenis setengah liar lebih besar dan tumbuh hingga
setinggi 225 cm (7 kaki), dengan daun yang melebihi 30 cm (12 inci) dan
15 cm

(6

inci)

panjangnya.

Batangnya

biasanya

berduri.

Warna bunganya antara putih hingga ungu, dengan mahkota yang memiliki
lima lobus. Benang sarinyaberwarna kuning. Buah tepung berisi, dengan
diameter yang kurang dari 3 cm untuk yang liar, dan lebih besar lagi untuk
jenis yang ditanam (Lakitan, 1996).
Menurut Lakitan (1996), klasifikasi dari terong sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Solanales

Famili

: Solanaceae

Genus

: Solanum

Spesies

: Solanum melongena

III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan

adalah tabung reaksi, gelas piala, batang

pengaduk, timbangan analitik dan gelas ukur.


Bahan yang digunakan adalah bibit tanaman Terong ( Solanum
melongena), zat pengatur tumbuh giberelin dan akuades.
B. Metode
1. Alat dan bahan yang akan digunakan terlebih dahulu disiapkan.
2. Tanaman kedelai yang telah disediakan dilakukan pengukuran tinggi
tanaman dengan menggunakan penggaris lalu dicatat datanya.
3. Selanjutnya tanaman tersebut diberi label nama kelompok serta
konsentrasi giberelin yang diberikan.
4. Setelah itu, tanaman disemprot dengan zat pengatur tumbuh GA
pada konsentrasi tertentu dan penyemprotan dilakukan setiap dua
hari sebanyak tiga kali.
5. Tanaman tersebut diamati selama 2 minggu.
6. Data yang telah diproleh dimasukkan ke dalam tabel pengamatan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Gambar 1. Tanaman Kedelai yang diberi GA

T (0,05/2 ;
8)

Perlakuan
0 ppm
50 ppm
100 ppm
150 ppm

2,306
RataRata
0
9,4966
67
20,733
33
36,133
33

DATA PERTAMBAHAN TINGGI TANAMAN


Ulangan
2
0
0

Perlakuan
0 ppm

50 ppm

3,33

75 ppm
100 ppm
TOTAL

3
0

Jumlah
0

8,53

16,63

28,49

11,1

20,6

30,5

62,2

24,2

32,2

52

108,4

38,63

61,33

99,13

199,09

Rataan
0
9,4966
67
20,733
33
36,133
33
66,363
33

FK
Jktotal
Jkperlakuan
Jkgalat

3303,0
69
2861,6
38
2173,9
58
687,68

TABEL ANNOVA
Sumber
Keragaman
Perlakuan
Galat
Total
LSD

Db
3
8
11
14,253
33

JK
2173,9
58
687,68
2861,6
38

KT
724,65
26
85,96

Fhit
8,4301
14 **

GRAFIK PERTAMBAHAN TINGGI TANAMAN TERONG

Rata-rata Penambahan Tinggi


Tanaman

40
35
30
25
20
15
10
5
0

Konsentrasi Giberelin

F tabel
0,05
0,01
4,06

7,59

Perlakuan
0 ppm
50 ppm
100 ppm
150 ppm

JIKA F HITUNG > F TABEL GUNAKAN UJI LANJUT LSD/BNT


0 ppm
50 ppm
100 ppm
150 ppm
Rata20,733
36,133
Rata
0
9,496667
33
33
0
0
9,4966 9,4966
67
67 ns
0
20,733 20,733
33
33 *
11,23667 ns
0
36,133 26,636
33
67 *
36,13333 *
0 ns
0

B. Pembahasan
Giberelin (GA) merupakan hormon yang dapat ditemukan pada
hampir semua seluruh siklus hidup tanaman. Hormon ini mempengaruhi
perkecambahan biji, batang perpanjangan, induksi bunga, pengembangan
anter, perkembangan biji dan pertumbuhan pericarp. Hormon ini juga
berperan dalam respon menanggapi rangsang dari melalui regulasi fisiologis
berkaitan dengan mekanisme biosntesis GA. Hormon giberelin ditemukan
dalam dua fase (Jacobsen et al., 1995).
Giberelin pada tumbuhan dapat ditemukan dalam dua fase utama
yaitu giberelin aktif (GA Bioaktif) dan giberelin nonaktif. Giberelin yang aktif
secara biologis (GA bioaktif) mengontrol beragam aspek pertumbuhan dan
perkembangan

tanaman,

termasuk

perkecambahan

biji,

batang

perpanjangan, perluasan daun, dan bunga dan pengembangan benih.


Seratus lebih GA telah diidentifikasi pada tahun 2008 dari tanaman dan
hanya sejumlah kecil dari mereka, seperti GA1 dan GA4, diperkirakan
berfungsi sebagai bioaktif hormon (Jacobsen et al., 1995). Menurut Gardner
(1991) giberelin mampu merangsang pemanjangan ruas-ruas batang
melalui pembelahan dan pembesaran sel batang sehingga memacu

pemanjangan tunas batang, pada peristiwa pembelahan sel, GA akan


merangsang fase G1 (fase pertumbuhan sel sebelum DNA direplikasi) untuk
cepat masuk ke fase S (fase pertumbuhan sel ketika DNA direplikasi) dan
mempersingkat fase S. GA juga akan meningkatkan pembelahan sel di
daerah meristematik (contohnya pada ruas-ruas batang).
Hasil percobaan yang telah dilakukan pada pemeberian hormon giberelin
pada tanaman kedelai didapat hasil F hitung yang diperoleh adalah 7,59,
sedangkan F tabel (0,05) adalah 4,06

untuk pengukuran pertumbuhan

batang. Data ini menunjukkan hasil yang signifikan, karena F hitung > F
tabel. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa larutan berpengaruh
terhadap tanaman. Berdasarkan uji lanjut BNT diketahui bahwa giberelin
konsentrasi 100 ppm yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan
tanaman. Giberelin merupakan senyawa organik yang berperan penting
dalam proses perkecambahan, karena dapat mengaktifkan reaksi enzimatik
di dalam benih. Hormon tumbuh ada yang bersifat alami dan ada yang
bersifat sintesis. Giberelin merupakan hormon tumbuh pada tanaman yang
bersifat sintesis dan berperan mempercepat perkecambahan. Giberelin
mempercepat munculnya tunas di permukaan tanah. Hal ini disebabkan
karena GA3 memacu aktivitas enzimenzim hidrolitik khususnya amilase
yang menghidrolisis cadangan pati sehingga tersedia nutrisi yang cukup
untuk tunas supaya bisa tumbuh lebih cepat (Ratna, 2008). Menurut Asra
(2014), konsentrasi GA3 500 ppm dengan lama perendaman 24 jam
menghasilkan persentase perkecambahan yang tertinggi yaitu sebesar
57,33%. Menurut iqbal dan ashraf (2013), Giberelin mampu meningkatkan
penyerapan K+ dan Ca2+ serta menurunkan penyerapan Na+.
Pembelahan sel menyebabkan pertambahan jumlah sel pada batang,
sehingga ruas batang memanjang (Lakitan, 1996). Giberelin mampu
meningkatkan hidrolisis pati, fruktan, dan sukrosa menjadi molekul glukosa
dan fruktosa. Gula heksosa tersebut menyediakan energi melalui respirasi
yang berperan dalam pertumbuhan sel dan menurunkan potensial air
sehingga air bergerak masuk lebih cepat dan menyebabkan pelonggaran
sel. Pelonggaran sel menyebabkan pembesaran sel pada ruas-ruas batang
sehingga

mampu

mempercepat

proses

pertumbuhan

panjang

tunas

(Salisbury dan Ross, 1992).


Giberelin merupakan hormon pertumbuhan yang terdapat pada
organ-organ tanaman yaitu pada akar, batang, tunas, daun, tunas bunga,

bintil akar, buah dan jaringan khusus. Respon terhadap giberelin meliputi
peningkatan

pembelahan

sel.

Giberelin

juga

dapat

merangsang

pertumbuhan batang dan dapat juga meningkatkan besar daun beberapa


jenis tumbuhan, besar bunga dan buah. Giberelin juga dapat menggantikan
perlakuan suhu rendah (2-40C) pada tanaman. Giberelin aktif pada tanaman
utuh (Kusumo, 1990).
Giberelin sangat

berpengaruh

dalam

pertumbuhan.

Gibrelin

merupakan kunci dari kondisi lingkungan dan morfologi tanaman pada


proses

perkembangan

seperti

perpanjangan

batang

dan

akar,

perkecambahan biji, perkembangan bunga, dan penentuan ukuran serta


bentuk

daun.

Giberelin

memiliki

komponen

yang

tereduksi

Gibberellin Insensitve Dwarf 1 (GID 1) (Middleton et al., 2012).


Penuaan putik telah dipelajari dalam kacang (Pisum

seperti
sativum)

dan Arabidopsis (Arabidopsis thaliana) tanaman. Salah satu penanda


fisiologis penuaan putik di kedua tanaman yaitu kacang dan Arabidopsis
adalah

hilangnya

parthenocarpic

kapasitas

dalam

putik

menanggapi

untuk

berkembang

eksogen

asam

menjadi

giberelat

buah
(GA3).

Hilangnya respon putik untuk GA3 di Arabidopsis berkorelasi dengan


timbulnya penuaan bakal biji dan perkembangan acropetal nya sepanjang
ovarium. Sisi lain, beberapa mutan dengan cacat dalam pembangunan
bakal biji menunjukkan set buah berkurang dalam menanggapi GA3. Secara
kolektif, data ini menunjukkan bahwa layak ovula non senescing memainkan
peran penting dalam mempromosikan buah yang diatur dalam menanggapi
GA dalam Arabidopsis unfertilised putik. Identifikasi kondisi fisiologis dan
faktor molekul mengatur putik / bakal biji penuaan adalah penting karena
kapasitas putik untuk mengembangkan sebagai buah hilang ketika penuaan
dimulai. Oleh karena itu dengan menunda penuaan bakal biji, putik umur
panjang diharapkan meningkat. Hal ini dapat menyebabkan bioteknologi
penting aplikasi karena berkurangnya putik umur panjang bisa menjadi
faktor pembatas untuk reproduksi seksual dan produksi buah. Giberelin
sangat berperan penting dalam hal ini (Bejerano et al, 2011).
Biji biasanya berkecambah dengan segera bila diberi air dan udara
yang cukup, mendapat suhu pada kisaran yang memadai dan pada keadaan
tertentu mendapat periode terang dan gelap yang sesuai. Tumbuhan yang
bijinya tidak segera berkecambah meskipun telah diletakan pada kondisi
kandungan air, suhu,

udara dan cahaya yang memadai. Perkecambahan

tertunda selama beberapa hari hari, minggu atau mungkin beberapa bulan.

Giberelin dormansi dapat dipatahkan.Ada beberapa macam giberelin yaitu


GA1, GA2, GA3, GA4 dan menurut keaktifannya adalah GA3, GA, GA2 dan
GA4 (Kusumo, 1990).
Giberelin adalah zat pengatur tumbuh yang mempunyai peranan
dalam menstimulir perpanjangan sel (cell elongation), pembelahan sel (cell
devisition), aktivitas kambium dan mendukung pembentukan RNA baru
sreta sintesis protein. Pemberian giberelin pada tanaman selain menambah
tinggi tanaman, juga akan menambah luas daun dan berat kering tanaman.
Pertambahan

berat

kering

tanaman

disebabkan

adanya

peningkatan

aktivitas fotosintesis (Salisbury dan Ross, 1992).


Mekanisme pemberian zat pengatur tumbuh giberelin juga akan
meningkatkan kandungan auksin dalam tanaman, karena giberelin mampu
mengurangi kerusakan IAA akibat adanya enzim IAA oksidase. Pengaruh
giberelin terhadap perpanjangan sel karena adanya hidrolisapati yang
dihasilkan giberelin akan mendukung terbentuknya alpha amylase. Giberelin
bekerja pada gen dengan menyebabkan aktivasi gen-gen tertentu. Gen-gen
yang diaktifkan akan membentuk enzim-enzim baru yang menyebabkan
terjadinya perubahan morphogenetik (penampilan/kenampakan tanaman)
(Salisbury dan Ross, 1992).
Faktor yang mempengaruhi kerja giberelin :
a. Konsentrasi giberelin
Giberelin dengan konsentrasi tinggi (sampai 1000 ppm) dapat menghambat
pembentukan

akar.

Sedangkan

giberelin

pada

konsentrasi

rendah

mendorong pertumbuhan akar adventif seperti pada batang kacang kapri,


dan mempercepat pembelahan serta pertumbuhan sel hingga tanaman
cepat menjadi tinggi (Ashari, 1997).
b. Faktor lama perendaman
Faktor lama perendaman di dalam larutan gibberellin berkaitan dengan
pemberian kesempatan kepada larutan giberelin untuk melakukan imbibisi
kedalam biji yang akan berpengaruh terhadap perkecambahan biji (Ashari,
1997).

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan

praktikum

pengaruh

giberelin

terhadap

perpanjangan

batang yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :


1. Konsentrasi

giberelin

tidak

berpengaruh

secara

nyata

dalam

merangsang pertumbuhan tanaman, khususnya terhadap perpanjangan


batang.
2. Giberelin atau GA adalah salah satu ZPT tanaman golongan terpenoid,
yang berperan tidak hanya memacu pemanjangan batang, tetapi juga
dalam proses pengaturan perkembangan tanaman.
B. Saran
Sebaiknya ada pembagian khusus dalam pengamatan dan perlakuan
penyemprotan bagi setiap praktikan, sehingga data tidak berceceran.

DAFTAR REFERENSI
Ashari, S. 1997. Pengantar Biologi Reproduksi Tanaman. Jakarta: PT.
RinekaCipta.
Asra, Revis. 2014. Pengaruh Hormon Giberelin (GA 3) terhadap kecambah
Dan Vigoritas Calopogonium caeruleum. Biospecies. 1(7): 29-33.
Bejerano P. C, Urbez C, Granell A, Carbonell J, and Miguel A. P. A. 2011.
Ethylene is involved in pistil fate by modulating the onset of ovule
senescence and the GA-mediated fruit set in Arabidopsis. BMC Plant
Biology 2011, 11:84
Gardner, F. P. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Alih bahasa: Herawati
Susilo. UI Press. Jakarta.
Muhammad Iqbal & Muhammad Ashraf. 2010. Gibberellic acis mediated
induction of salt tolerance in wheta plant: Growth, Ioning partitioning,
Photosynthesis, yield, and Hormon Homeostasis. Environmental and
experimental Botany. 86(1): 76-85.
Jacobsen, J.V., F. Gubler and P.M. Chandler. 1995. Gibberellin action in
germinated cereal grains. In 'Plant hormones physiology, biochemistry
and molecular biology'. (Ed PJ Davies) pp. 246-271. (Kluwer Academic
Publisher: Dordrecht).
Kusumo, S. 1990. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. CV Yasaguna, Bogor.
Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. PT
Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Middleton, M. Alistair, S. beda-Toms, J. Griffiths, T. Holman, P.Hedden, S. G.
Thomas, A. L. Phillips, M. J. Holdsworth, M. J. Bennett, J. R. King, M. R.
Owen. 2012. Mathematical Modeling Elucidates The Role of
Transcriptional Feedback in Gibberellin Signaling. PNAS, Vol. 109 No.
19, 75717576. DOI: 10.1073.SYSTEMS
Ratna, D. A. 2008. Peranan dan Fungsi Fitohormon bagi Pertumbuhan
Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung.
Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology 3th. ITB, Bandung
Sitompul, S.M. dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. UGMPress. Yogyakarta