Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

Topik

: Manipulasi Resin Akrilik Aktivasi Panas (Heat Cured)

Kelompok
Tgl. Praktikum
Pembimbing

: A6
: 2 Mei 2016
: Moh. Yogiartono, drg., MKes

Penyusun:
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Nama
Chanita Elonianty
Mitha Jati Wirasti
Aulady Qibtiyah
Shasadhara P. H.
Dinda Akhlakul K.

NIM
021511133026
021511133027
021511133028
021511133029
021511133030

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2016

1. TUJUAN
a) Supaya setelah praktikum mahasiswa mampu melakukan manipulasi resin akrilik
aktivasi panas (heat cured) dengan cara dan alat yang tepat.
b) Supaya setelah praktikum mahasiswa mampu mengamati dan membedakan tahap
pada pencampuran bubuk polimer dan monomer yaitu fase sandy, fase stingy, fase
dough, fase rubbery dan fase stiff.
c) Supaya setelah praktikum mahasiswa mampu menganalisa hasil polimerisasi heat
cured acrylic resin

2. CARA KERJA
2.1 Bahan
a. Bubuk polimer
b. Cairan monomer
c. Cairan cold mould seal (CMS)

a.

b
.

c
.

Gambar 2.1 a.) Bubuk polimer, b.) cairan monomer, dan c.) cairan CMS
2.2 Alat
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

Kuvet yang telah dibuat cetakan (mould) dari gipsum tipe III
Pot porselin
Pipet ukur
Stopwatch
Kuas kecil
Timbangan digital
Gelas plastik
Sendok plastik
Press kuvet
Kuvet logam
Plastik
Pisau malam
Pisau model

a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

j.

k.

Gambar 2.2 a.) Kuvet yang telah dibuat cetakan (mould) dari gipsum tipe III,
b.) Pot porselen, c.) pipet ukur, d.) stopwatch, e.) Kuas kecil, f.) timbangan
digital, sendok plastik, dan gelas plastic, g.) Press kecil, h.) kuvet logam, i.)
plastik, j.) pisau malam, k.) pisau model

2.3 Cara Kerja


2.3.1 Pengisian cetakan ( mould ) dengan adonan resin akrilik (packing)
a. Bahan resin akrilik dan peralatan untuk packing disiapkan di atas meja
praktikum.

b. Permukaan mould dan sekitarnya diolesi dengan CMS memakai kuas dan
ditunggu sampai kering agar dapat memisahkan gips dan resin akrilik
dengan mudah. (Gambar 2.3.1)

Gambar 2.3.1 Proses pengolesan CMS pada gipsum


(mould)

c. Cairan monomer diukur menggunakan gelas ukur sebanyak 3 ml,


kemudian dituangkan ke dalam pot porselin.
d. Bubuk polimer ditimbang sebanyak 6 gram (Gambar 2.3.2), kemudian
dimasukan ke dalam pot porselin secara perlahan-lahan sampai polimer
terbasahi oleh monomer.

Gambar 2.3.2 Pengukuran


bubuk polimer

Gambar 2.3.3 Proses


penuangan cairan monomer

Gambar 2.3.4 Proses


penuangan bubuk polimer
Gambar
Gambar
2.3.5. 2.3.6.
Pengadukan
Proses
bubuk
penutupan
polimer akrilik
pot porselin
dan
cairan monomer akrilik

e. Awal waktu pengadukan dihitung atau dicatat dengan stopwatch,


campuran polimer dan monomer diaduk dengan pisau malam bagian yang
tumpul (Gambar 2.3.5) sampai homogen kemudian pot porselin ditutup.
(Gambar 2.3.6)
f. Mengamati tahapan sandy, stringy, dough ,rubbery ,dan stiff dengan
membuka tutup pot porselin.
g. Mencatat waktu masing-masing tahap

h. Pada percobaan pertama, adonan resin akrilik dimasukkan ke dalam


cetakan yang ada pada kuvet bawah setelah stringy stage tercapai. Pada
percobaan kedua, adonan resin akrilik dimasukkan ke dalam cetakan yang
ada pada kuvet bawah setelah dough stage tercapai. Dan pada percobaan
ketiga, adonan resin akrilik dimasukkan ke dalam cetakan yang ada pada
kuvet bawah setelah rubbery stage tercapai.
i. Permukaan adonan resin akrilik ditutup dengan plastik, kemudian kuvet
atas dipasang dan dilakukan pengepresan pada proses hidrolik (Gambar
2.3.7). Setelah pengepresan, kuvet dibuka, plastik diangkat dan kelebihan
resin akrilik dipotong dengan mengguakan pisau model tepat pada tepi
cetakan. (Gambar 2.3.8)

j. Pengepresan kedua dilakukan, masih menggunakan plastic dan kelebihan


Gambar 2.3.7 Proses
Gambar 2.3.8. Proses
resin akan dipotong lagi.
pengepresan resin akrilik
pemotongan kelebihan
k. Pada pengepresan terakhir tidak menggunakan plastic, kuvet atas dan
resin akrilik
bawah harus rapat kemudian dipindahkan pada handpress.
2.3.2 Proses kuring
Proses kuring resin akrilik dilakukan sesuai dengan aturan pabrik, ntuk
merk QC20 :
a. Memasak air pada penanak nasi (dandang) di atas kompor sampai
mendidih (suhu 100C)

b. Kuvet
telah

Gambar 2.3.9 Pemasukan resin akrilik yang


sedang di press ke dalam air mendidih

yang
diisi
akrilik

dan dalam keadaan dipres langsung dimasukkan pada air mendidih


100C selama 20 menit. (Gambar 2.3.9)
c. Kemudian api kompor dimatikan.
2.3.3 Deflasking
Setelah proses kuring, kuvet diberi air dingin secara perlahan sampai
dingin (suhu kamar). Kemudian kuvet dibuka, sampel diambil secara hati-hati
dengan menggunakan pisau malam.(Gambar 2.3.10)

a.

b.

c.

Gambar 2.3.10 a.) Proses pengembalian ke suhu kamar, b.) Proses pembukaam
kuvet, dan c.) Hasil resin akrilik heat cured

3. HASIL PRAKTIKUM
Pada praktikum Resin akrilik aktivasi panas (head cured) dilakukan tiga kali
percobaan dengan cara kerja yang sama namun didapati perbedaan pada fase adonan resin
aklirik ketika dimasukan kedalam mould. Ketiga percobaan tersebut yaitu percobaan ke 1,
adonan resin aklirik dimasukan kedalam mould saat fase stringy. Percobaan ke 2, adonan

resin aklirik berada pada fase dough ketika dimasukan kedalam mould. Dan percobaan ke
3, adonan resin aklirik dimasukan kedalam mould saat fase rubbery.
Tabel 3.1 Waktu yang dibutuhkan setiap percobaan untuk mengalami perubahan fase pada
resin aklirik
WAKTU

WAKTU

WAKTU

Sandy

PERCOBAAN KE 1
0

PERCOBAAN KE 2
0

Stringy

Menit ke 1 lebih 20 detik

Menit ke 1 lebih 45 detik

PERCOBAAN KE 3
0
Menit ke 2 lebih 50

Dough
Rubber

Menit ke 5 lebih 5 detik


Menit ke 13 lebih 28

Menit ke 3 lebih 30 detik


Menit ke 12 lebih 58

detik
Menit ke 120 lebih 15

detik
Menit ke 120 lebih 11

detik

detik

FASE

Stiff

detik
Menit ke 6
Menit ke 12 lebih 6
detik
Menit ke 120

TABEL 3.2 Hasil manipulasi resin aklirik heat cured pada ketiga percobaan
HASIL

PERCOBAAN KE

PERCOBAAN KE

PERCOBAAN KE

MANIPULASI
Sayap
Bintil pada

1
++++

2
++

3
+++++

+++

+++

+++

++

++++

+++

Tidak ada
Tidak ada
++

Tidak ada
Tidak ada
++++

Tidak ada
Tidak ada
+++

++

Tidak ada

+++

permukaan
Kondisi
permukaan
Perubahan dimensi
Porus
Warna
Gypsum yang
menempel

Keterangan : tanda (+) semakin banyak berarti hasil percobaan lebih banyak terdapat
sayap, bintil, porus, gypsum yang menempel, semakin kasar, perubahan dimensi besar, dan
warna semakin gelap.

4. TINJAUAN PUSTAKA
4.1 Resin Akrilik Heat Cured
Resin akrilik adalah polimer sintetik yang digunakan dalam bidang
prostetik di kedokteran gigi. Resin akrilik terbentuk ketika cairan monomer
bercampur dengan bubuk polimer, kemudian campuran tersebut akan mengalami
polimerisasi. Cairan monomer mengandung nonpolymerized methyl methacrylate,
sedangkan bubuk polimer mengandung prepolymerized polymethylmetacrylate.
Dalam bidang prostetik, resin akrilik digunakan untuk denture bases, denture teeth,
reline dan untuk memperbaiki protesa, provisional acrylic partial denture, tissue
conditioner dan custom impression trays. (Hatrick, 2011)
Resin akrilik heat cured merupakan bahan-bahan yang teraktivasi dengan
panas. Energi termal yang diperlukan untuk polimerisasi tersebut dapat diperoleh
dengan perendaman dengan air panas atau oven gelombang micro /microwave.
Meskipum demikian basis gigi tiruam resin akrilik heat cured masih memiliki
kekurangan terutama dalam hal kekuatan dan kekerasan sehingga bahan ini tidak
jarang mengalami retak atau fraktur setelah beberapa lama pemakaian akibat
terkena benturam dan tarikan yang dialami berulang-ulang. Oleh karena itu, sulit
memprediksi daya tahan basis gigi tiruan resim akrilik karena banyak faktor
lingkungan yang mempengaruhi kekuatannya. Resin akrilik heat cured dapat
dimodifikasi untuk mendapatkan sifat fisis dan mekanisme yang lebih baik lagi
seperti kekuatan fatique dan impak yang lebih besar yaitu dengan cara
menambahkan kopolimer butadiene styrene rubber yang dapat bertindak sebagai
internal shock absorber untuk menahan stress yang diterima oleh bahan dan
meningkatkan kekuatan lentur serta daya tahan terhadap fraktur akibat kekuatan
impak.
4.2 Komposisi

Heat cured acrylic resin, tersedia dalam bentuk powder dan liquid. Unsurunsur yang terkandung dalam resin akrilik polimerisasi panas, antara lain
(Anusavice, 2012, p. 475) :
Powder

Liquid

Polymer

Polymethyl

methacrylate/

Initiator
Pigments

PMMA
Benzoyl peroxide
Cadmium

Opacifiers
Plasticizer
Synthetic fiber
Monomer
Cross-linking agent

cadmimselenide
Titanium/ zinc oxide
Dibuthyl phthalate
Nylon / acrylic
Methyl methacrylate / MMA
Ethylene
glycol

Inhibitor

dimethacrylate
Hydroquinon

sulfide

4.3 Karakteristik material resin akrilik (Hatrick, 2011) :


1

Mengalami shrinkage akibat dari proses polimerisasi. Akrilik jenis Heatactivated denture base resins mempunyai volume shrink sebesar 6% dan linier

shrink sebesar 0,2%-0,5%


Mengalami perubahan dimensi yang disebabkan oleh polimerisasi shrinkage,
penyerapan air dan ekspansi termal. Denture base akan mengalami ekspansi
karena penyerapan air. Koefisien termal resin akrilik dua kali lebih besar dari

resin komposit.
Kekuatan resin akrilik termasuk rendah, dengan compressive strength sekitar
11,000 psi (73,3 MPa) dan tensile strength sekitar 8000 psi (53,3 MPa). Untuk
mengatasi kerapuhan pada resin akrilik maka beberapa pabrik menambahkan
butadiene-styrene rubber pada MMA untuk menghasilkan resin akrilik yang

4
5

high-impact.
Resin akrilik tidak menghantarkan panas dengan baik.
Adanya banyak lubang-lubang kecil atau pori-pori yang disebut dengan porous.
Porositas pada resin akrilik memperlemah kekuatan resin akrilik dan rawan
bersarang debris serta mikroorganisme. Porositas diakibatkan oleh kehilangan
monomer dan tekanan yang kurang saat proses manipulasi. Monomer sangat
cepat menguap dalam suhu ruang selama proses pencampuran bubuk dan cairan.
Monomer juga dapat menguap saat heat-curing jika temperature meningkat

cukup tajam. Curing dibawah tekanan membantu untuk menjaga monomer agar
tidak menguap saat polimerisasi dan membentuk akrilik yang padat.
4.3 Sifat Resin Akrilik Heat Cured
Beberapa sifat-sifat umum resin akrilik adalah:
a

Berat molekul
Resin akrilik polimerisasi panas memiliki berat molekul polimer yang tinggi
yaitu 500.000 1.000.000 dan berat molekul monomernya yaitu 100. Berat
molekul polimer ini akan bertambah hingga mencapai angka 1.200.000
setelah berpolimerisasi dengan benar. Rantai polimer dihubungkan antara
satu dengan lainnya oleh gaya Van der Waals dan ikatan antar rantai molekul.
Bahan yang memiliki berat molekul tinggi mempunyai ikatan rantai molekul
yang lebih banyak dan mempunyai kekakuan yang besar dibandingkan
polimer yang memiliki berat molekul yang lebih rendah.

Monomer sisa
Monomer sisa berpengaruh pada berat molekul rata-rata. Polimerisasi pada
suhu yang terlalu rendah dan dalam waktu singkat menghasilkan monomer
sisa lebih tinggi. Monomer sisa yang tinggi berpotensi untuk menyebabkan
iritasi jaringan mulut, inflamasi dan alergi, selain itu juga dapat
mempengaruhi sifat fisik resin akrilik yang dihasilkan karena monomer sisa
akan bertindak sebagai plasticizer yang menyebabkan resin akrilik menjadi
fleksibel dan kekuatannya menurun. Pada akrilik yang telah berpolimerisasi
secara benar, masih terdapat monomer sisa sebesar 0.2 sampai 0.5%. Proses
kuring yang kuat pada temperatur tinggi sangat direkomendasikan untuk
mengurangi ketidaknyamanan pasien yang diketahui memiliki riwayat alergi
terhadap MMA (Metil Metakrilat).

Absorbsi air
Resin akrilik polimerisasi panas relatif menyerap air lebih sedikit pada
lingkungan yang basah. Nilai absorbsi air oleh resin akrilik yaitu 0.69%
mg/cm2. Absorbsi air oleh resin akrilik terjadi akibat proses difusi, dimana
molekul air dapat diabsorbsi pada permukaan polimer yang padat dan
beberapa lagi dapat menempati posisi di antara rantai polimer. Hal inilah

yang menyebabkan rantai polimer mengalami ekspansi. Setiap kenaikan berat


akrilik sebesar 1% yang disebabkan oleh absorbsi air menyebabkan
terjadinya ekspansi linear sebesar 0.23%. Sebaliknya pengeringan bahan ini
akan disertai oleh timbulnya kontraksi.
d. Retak
Pada permukaan resin akrilik dapat terjadi retak. Hal ini diduga karena
adanya tekanan tarik (tensile stress) yang menyebabkan terpisahnya molekulmolekul polimer. Keretakan seperti ini dapat terjadi oleh karena stress
mekanik, stress akibat perbedaan ekspansi termis dan kerja bahan pelarut.
Adanya crazing (retak kecil) dapat memperlemah gigi tiruan.
e. Ketepatan dimensional
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi ketepatan dimensional resin akrilik
adalah ekspansi mould sewaktu pengisian resin akrilik, ekspansi termal resin
akrilik, kontraksi sewaktu polimerisasi, kontraksi termis sewaktu pendinginan
dan hilangnya stress yang terjadi sewaktu pemolesan basis gigi tiruan resin
akrilik.

f. Kestabilan dimensional
Kestabilan dimensional berhubungan dengan absorbsi air oleh resin akrilik.
Absorbsi air dapat menyebabkan ekspansi pada resin akrilik. Pada resin
akrilik dapat terjadi hilangnya internal stress selama pemakaian gigi tiruan.
Pengaruh ini sangat kecil dan secara klinis tidak bermakna.
g. Resisten terhadap asam, basa, dan pelarut organik
Resistensi resin akrilik terhadap larutan yang mengandung asam atau basa
lemah adalah baik. Penggunaan alkohol dapat menyebabkan retaknya
protesa. Ethanol juga berfungsi sebagai plasticizer dan dapat mengurangi

temperatur transisi kaca. Oleh karena itu, larutan yang mengandung alkohol
sebaiknya tidak digunakan untuk membersihkan protesa.

4.4 Manipulasi
Pada proses manipulasi resin akrilik polimerisasi panas yang harus
diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Perbandingan polimer dan monomer
Pada tahap ini perbandingan antara polimer (bubuk) dan monomer (liquid)
harus tepat, dengan perbandingan umum yang digunakan 3:1 satuan volume
atau 2:1 satuan berat. Bila polimer terlalu banyak di dalam adonan, maka
terjadi under wetting (kekurangan cairan). Dan bila monomer yang terlalu
banyak di dalam adonan maka terjadi kontraksi besar pada adonan resin
akrilik (Anusavice, 2012, p. 477).
b. Pencampuran
Campuran bubuk dan cairan akan melalui beberapa fase, yaitu :
1. Fase sandy, fase awal pencampuran bubuk dan cairan akan bertekstur
menyerupai pasir basah.
2. Fase stringy, pada fase ini campuran akan tampak berserat. Monomer
bereaksi pada permukaan butiran polimer, beberapa rantai polimer
berikatan dalam monomer cair dan rantai-rantai polimer ini melepas
jalinan ikatan, sehingga meningkatkan kekentalan adonan (flow tinggi).
Ciri-ciri adonan pada fase ini adalah berserat atau lengket ketika bahan
disentuh atau ditarik.
3. Fase dough, ditandai dengan campuran sudah tidak lengket dan bersifat
plastis. Pada fase inilah akrilik paling ideal untuk dicetak pada mould
karena memiliki tingkat flow yang cukup sehingga adonan dapat masuk
ke seluruh permukaan mould.
Kecepatan terjadinya fase dough pad pencampuran polimer dan
monomer, tergantung pada :
a. Suhu
b. Bentuk dan ukuran partikel polimer
c. Jumlah (persentase) platicizer

d. Berat molekul
e. Perbandingan polimer dan monomer.
4. Fase rubbery, campuran bersifat elastis. Monomer habis karena
penguapan dan terserap lebih jauh ke dalam butir-butir polimer yang
tersisa. Secara visual, adoa memantul bila ditekan dan diregangkan.
Adonan tidak lagi mengalir dengan bebas, mengikuti bentuk cetakan
atau wadahnya, adonan tidak dapat dibentuk dengan teknik penekanan.
5. Fase stiff, campuran telah mengeras, kering dan tidak bisa dimanipulasi
lagi. Fase ini terjadi karena penguapan monomer bebas, secara visual
adonan tampak sangat kering dan tahan terhadap deformasi mekanik.
(Anusavice, 2012, p.478).
4.5 Polimerisasi
Polimer adalah molekul dengan berat molekul yang tinggi dan memiliki
struktur seperti rantai yang terdiri atas kelompok atom yang berulang-ulang.
Polimer dibentuk melalui reaksi kimia yang mengubah mikromolekul atau
monomer menjadi makromolekul. Monomer biasanya berbentuk gas atau juga
liquid. Dalam proses membentuk polimer, monomer diubah menjadi kristalin atau
berbentuk padat yang tidak berbentuk. Proses perubahan monomer menjadi
polimer disebut dengan polimerisasi (McCabe and Walls, 2008, p. 101).
Polimerisasi merupakan proses terbentuknya polimer yaitu suatu reaksi
kimiawi yang banyak menyusun monomer menjadi suatu yang mempunyai berat
molekul. (Anusavice, 2003, p.154).
Polimerisasi terjadi dalam beberapa tahap, meliputi aktivasi, inisiasi,
propagasi dan terminasi.
1. Aktivasi
Aktivasi meliputi proses dekomposisi inisiator peroxide menggunakan
aktivator kimia.
2. Inisiasi
Reaksi polimerisasi dimulai ketika radikal yang terbentuk ketika fase aktivasi
bereaksi dengan monomer. Reaksi inisasi adalah reaksi adisi yang menghasilkan
radikal bebas lain sehingga memungkinkan terjadinya reaksi lebih lanjut.
3. Propagasi
Propagasi adalah ketika radikal bebas baru yang terbentuk dapat bereaksi
dengan monomer lebih lanjut. Setiap tahap reaksi menghasilkan bahan reaktif

atau radikal bebas baru sehingga reaksi selanjutnya dapat terjadi. Propagasi terus
berlanjut hingga molekul monomer habis.
4. Terminasi
Reaksi propagasi hendaknya berlanjut hingga molekul monomer habis dan
polimerisasi selesai. Tetapi, terjadi terminasi rantai polimer dimana ada reaksi lain
yang mengakibatkan pemutusan rantai polimer yang akan menghasilkan rantai
polimer yang mati yaitu tidak dapat terjadi reaksi polimer lebih lanjut sehingga
terdapat monomer sisa yang bersifat merugikan. Faktor yang mempunyai
pengaruh penting pada hasil polimerisasi adalah berat molekul dan derajat cabang
rantai atau cross-linking (McCabe and Walls, 2008, p. 102).

Gambar 4.1 Tahap Polimerisasi (dikutip dari;


http://weavingandsilk.blogspot.co.id/2015/08/polimer-dan-hubungannya-denganserat.html)
4.6 Packing
Mengisi resin akrilik heat cured dala, rongga mould di kuvet dinamakan
packing. Proses ini merupakan satu tahap yang paling penting dalam pembuatan
basis protesa. Mould dalam kuvet haruslah diisi dengan tepat pada saat
polimerisasi. Memasukkan bahan terlalu berlebihan, dinakaman overpacking,
menyebabkan basis protesa dengan ketebalan berlebihan serta perubahan posisi

elemen gigi protesa. Sebaliknya, dengan memasukkan bahan terlalu sedikit


disebut underpacking, menyebabkan porus (Anusavice, 2012, p. 478).

5. PEMBAHASAN
3.4 Resin Akrilik Diaplikasi pada Fase Stringy
Dilakukan pengepressan pada fase stringy bertujuan untuk mengurangi
kelebihan adonan resin akrilik. Kelebihan adonan sukar untuk disingkirkan karena
pada fase stringy adonan memiliki tekstur yang lengket. Untuk menghasilkan hasil
yang padat agar tidak porus, maka pengepressan dilakukan secara perlahan. Karena
mengaplikasikannya sebelum fase dough, yaitu tahap stringy didapat tekstur kasar
pada permukaan akrilik yang sudah dikuring. Ukuran sayap yang cukup lebar
disebabkan oleh masih banyak monomer yang bebas dan ini menimbulkan
viskositas yang rendah pada adonan sehingga adonan mudah keluar dari rongga
mould. Cairan CMS mempengaruhi permukaan, bila kurang maka menimbulkan
efek lengket, bila kelebihan maka menunggu kering nya lebih lama. Bintik-bintik
pada permukaan disebabkan oleh kesalahan pembuatan gips.
3.5 Resin Akrilik Diaplikasi pada Fase Dough
Adonan akrilik mudah dibentuk dan kelebihannya mudah dibersihkan
menggunakan pisau model karena pada fase ini adonan memiliki tekstur yang tidak
lengket. Porus yang timbul pada hasil percobaan ini disebabkan oleh adanya
adonan yang berkurang akibat pembersihan kelebihan adonan yang melebihi batas.
Kekurangan adonan menyebabkan tekanan berkurang. Berkurangnya tekanan ini
menyebabkan monomer mudah menguap sehingga terdapat udara yang terjebak
didalam adonan dan terjadilah porus.
3.6. Resin Akrilik Diaplikasi pada Fase Rubbery
Sama seperti fase dough, karena memilik tekstur yang tidak lengket, maka
kelebihan adonan mudah untuk dibersihkan. Hal ini dikarenakan monomer sudah
teratur karena telah bergabung dengan monomer. Pada fase rubbery terdapat
sayap lagi, hal ini disebabkan karena dilakukan pengepressan yang lebih dari
sekali. Fase rubbery memiliki sifat elastis, yaitu kembali ke bentuk semula. Oleh
karena itu adonan akrilik terlihat seolah-olah tidak ada kelebihan adonan saat
plastik dibuka karena bentuk adonan akrilik telah kembali seperti semula. Tidak
tercium aroma akrilik karena monomer sudah bereaksi sempurna.

1.
2.
3.
Hasil percobaan 1 (fase stringy) : terdapat sayap, ada bintil,
gypsum masih ada, warna merah pucat
Hasil percobaan 2 (fase dough) : porus, gypsum masih ada, ada sayap
sedikit, permukaan kasar, warna merah
gelap
Hasil percobaan 3 (fase rubbery) : terdapat bintil di beberapa tempat,
permukaan kasar, ada sayap sedikit, warna
merah, gypsum masih ada

3.7 Tipe Kegagalan Manipulasi Resin Akrilik Aktivasi Panas (Heat cured)
a. Porositas
Porositas dapat terjadi karena fase yang digunakan pada saat packing tidak
tepat. Pengadukan yang kurang homogen juga menyebabkan banyak monomer
yang tidak bereaksi, sehingga dapat menyebabkan porus. Selain itu karena
kurangnya tekanan pada saat pengepresan atau bahan yang tidak cukup. Porositas
dapat digolongkan menjadi:
1. Shrinkage porosity : gelembung udara yang tidak teratur.
2. Gaseous porosity : gelembung udara yang teratur.
Untuk menghindari terjadinya porositas, polimerisasi harus dilakukan perlahanlahan untuk mencegah terjadinya gaseous porosity dan dengan memberikan
tekanan untuk mencegah shrinkage porosity.
b. Sayap
Timbulnya sayap disebabkan karena kurangnya pengepresan saat melakukan
packing. Sayap juga dapat timbul karena kesalahan pada saat manipulasi akibat dari
human error pada saat proses manipulasi.
c. Permukaan kasar
Hasil dari resin akrilik yang permukaannya kasar kemungkinan besar
disebabkan oleh bentuk mould yang sudah rusak dan terkikis.
d. Menempelnya gypsum pada resin akrilik

Hal ini disebabkan karena pengulasan CMS yang tidak merata pada mould,
sehingga ada beberapa bagian mould yang tidak terulas oleh CMS.
e. Bintil
Bintil timbul pada permukaan resin akrilik karena fase yang kurang tepat pada
saat packing. Pada proses pengepresan, bila adonan terlalu encer maka hasilnya
akan lunak atau kurang padat, sehingga dapat menyisakan gelembung udara yang
kemudian menjadi bintil di permukaan.
Adonan gypsum (untuk mould) yang tidak homogen berakibat pada munculnya
gelembung udara pada permukaan mould, hal ini juga dapat menyebabkan
terjadinya bintil.
f. Warna
Warna harus menyerupai warna gingiva, supaya lebih bagus estetikanya.
6. SIMPULAN
Resin akrilik (Heat cured) adalah polimer sintetik yang digunakan dalam
bidang prostetik di kedokteran gigi. Resin akrilik terbentuk ketika cairan monomer
bercampur dengan bubuk polimer, kemudian campuran tersebut akan mengalami
polimerisasi yang dibantu oleh pemanasan dengan air mendidih serta fase yang
paling baik untuk packing adalah fase dough karena menghasilkan hasil cetakan
yang baik dibanding fase lain. Hasil percobaan yang telah dilakukan menunjukkan
bahwa faktor yang menentukan keberhasilan pembuatan basis resin akrilik aktivasi
panas adalah
1. Penentuan perbandingan polimer dan monomer
2. Waktu dan cara pengadukan
3. Pengulasan CMS
4. Ketepatan dalam proses packing, curing, dan deflasking
Apabila

faktor-faktor

tersebut

menimbulkan kegagalan-kegagalan.

7. DAFTAR PUSTAKA

kurang

diperhatikan

maka

dapat

Anusavice, KJ. 2003. Phillips science of dental materials. 11th ed. St. Louis:
Elsevier Inc. p.154.
Anusavince, et al. 2012. Phillips Science of Dental Material. 12th ed. W.B
Saunders, st. Louis Missouri . p.475,477-478.
Hatrick CD, Eakle WS, Bird WF. 2011. Dental Materials : Clinical Aplplication
for Dental Assistants and Dental Hygenists 2nd ed. Missouri : Saunders.
Elsevier Science Limited. Philadelphia, London. p.219-222.
McCabe, J. F. and Walls, A,. 2008. Applied Dental Materials. 9th ed. United
Kingdom: Blackwell Publishing Ltd. p. 101-102.