Anda di halaman 1dari 6

TUGAS

MATA KULIAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

EFISIENSI PRODUKSI

Disusun oleh :
Iswatin Iftitah E.M.
(135040100111097)
Kelas E

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

EFISIENSI PRODUKSI
Ekonomi produksi merupakan ilmu yang mempelajari tentang alternatif
pilihan bagaimana memanfaatkan sumber daya atau input yang terbatas untuk
menghasilkan output. Produksi merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan untuk
menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih
bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan. Untuk mengelola sumberdaya kaitanya
dengan pertanian diketahui sebagai usahatani.
Ilmu usahatani biasanya diartikan sebagai ilmu yang mempelajari
bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan
efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu.
Dengan kata lain dikatakan efektif bila petani sebagai produsen dapat
mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki sebaik-baiknya. Dikatakan
efisien bila tidak ada barang yang terbuang percuma atau penggunaannya seefektif
mungkin untuk memenuhi keinginan masyarakat.
Soekartawi (2003) menerangkan bahwa dalam terminologi ilmu ekonomi,
maka pengertian efisiensi ini dapat dibedakan menjadi tiga yaitu efisiensi teknis,
efisiensi harga atau alokatif dan efisiensi ekonomis.
A. EFISIENSI TEKNIS
Efisiensi teknis (technical efficiency) adalah mencakup hubungan antara
input dan output. Dalam hal ini dimana kemampuan petani dapat menggunakan
kombinasi input (kecil) untuk mendapatkan output maksimum. Sehingga dapat
diartikan sebagai kemampuan petani dalam menggunakan input minimum untuk
memproduksi pada tingkat output dan pada tingkat teknologi tertentu. Analisis
efisiensi teknis menggunakan dengan pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas.
Fungsi produksi usahatani yang telah dispesifikasi dengan fungsi produksi CobbDouglas diestimasi dan diidefinisikan sebagai berikut:
LnY

= 0 + 1LnX1 + 2LnX2 + 3LnX3(1) + 4LnX4 +

Dimana:
Y = Jumlah produksi komoditas (kg)
X1 = Bibit (kg)

X2 = Pupuk Urea (kg)


X3 = Pupuk NPK (Phonska dan Pelangi) (kg)
X4 = Pupuk Organik (kg)
X5 = Pestisida (lt)
X6 = Tenaga Kerja (HOKP)
Untuk megetahui apakah nilai efisiensi teknis sudah efisien atau tidak
efisien adalah sebagai berikut :
1. Jika nilai efisiensi teknis sama dengan 1, maka penggunaan input atau
faktor produksinya sudah efisien.
2. Jika nilai efisiensi teknis kurang dari 1 (tidak sama dengan 1), maka
penggunaan input atau faktor produksinya tidak efisien.
3. Jika nilai efisiensi teknis lebih besar dari satu (tidak sama dengan 1), maka
penggunaan input atau faktor produksinya belum efisien.
Jika nilai efisiensi teknis semakin mendekati 1 maka usaha tani dapat
dikatakan semakin efisien secara teknik dan jika nilai efisiensi teknis semakin
mendekati 0 maka usaha tani dapat dikatakan semakin tidak efisien secara teknik.
B. EFISIENSI HARGA
Efisiensi harga atau efisiensi alokatif menunjukkan hubungan biaya dan
output. Efisiensi harga terjadiapabila nilai dari produk marginal sama dengan
harga produksi yang bersangkutan. Seorang petani mendapatkan keuntungan yang
besar dari usahataninya, misalnya karena pengaruh harga, maka petani tersebut
dapat dikatakan mengalokasikan input usahataninya secara efisien harga. Efisiensi
alokatif menjelaskan kemampuan petani dalam menghasilkan sejumlah output
pada kondisi minimisasi rasio biaya input.
Efisiensi merupakan upaya penggunaan input sekecil-kecilnya untuk
mencapai apabila perbandingan antara nilai input tersebut (Px). Secara matematis
untuk menghitung efisiensi harga maka fungsi produksi yang digunakan adalah :
NPMX = PX atau NPMX /PX = 1 b.Y.Py / X
= PX atau b.Y.Py / X.PX =1

Dimana, b adalah koefisien regresi yang sekaligus menggambarkan elastisitas


prduksi sehingga dapt ditulis sebagai berikut :

NPM = bYPy / X = PX
Dimana :
b = elastisitas
produksi
Y = produksi
Py = harga produksi
X = jumlah faktor produksi X
PX= harga faktor produksi
Menurut Soekartawi (2003), dalam kenyataan yang sebenarnya persamaan
diatas nilainya tidak sama dengan 1, yang seringkali terjadi adalah :
1.

(NPM / Px) > 1, hal ini berarti bahwa penggunaan faktor produksi X
belum efisien. Agar bisa mencapai efisien, maka penggunaan faktor produksi X
perlu ditambah.

2.

(NPM / Px) < 1, hal ini berarti bahwa penggunaan faktor produksi X tidak
efisien, sehingga perlu dilakukan pengurangan faktor produksi X agar dapat
tercapai efisien.
C. EFISIENSI EKONOMI
Efisiensi ekonomi adalah kemampuan yang dimiliki oleh petani dalam
berproduksi untuk menghasilkan sejumlah output yang telah ditentukan
sebelumnya (predetermined quantity of output). Petani yang memiliki efisiensi
ekonomi tinggi beroperasi mendekati fungsi produksi frontier dan jalur
pengembangan usaha. Bagi petani yang terpenting adalah pencapaian efisiensi
ekonomi yang tinggi karena akan menentukan kesejahteraannya.
Efisiensi ekonomis terjadi apabila dari dua efisiensi sebelumnya yaitu
efisiensi teknis dan efisiensi harga tercapai dan memenuhi dua kondisi, antara
lain:
a. Syarat keperluan (necessary condition) menunjukkan hubungan fisik
antara input dan output, bahwa proses produksi pada waktu elastisitas
produksi antara 0 dan 1. Hasil ini merupakan efisiensi produksi secara
teknis.

b. Syarat kecukupan (sufficient condition) yang berhubungan dengan


tujuannya yaitu kondisi keuntungan maksimum tercapai dengan syarat
nilai produk marginal sam dengan biaya marginal.
Efisiensi ekonomi merupakan hasil kali antara seluruh efisiensi teknis
dengan efisiensi harga dari seluruh faktor input, sebuah alokasi sumber daya yang
efisien secara teknis dimana kombinasi output yang diproduksi juga
mencerminkan preferensi masyarakat (Nicholson, 2002). Dapat dinyatakan
sebagai berikut:
EE = ET x EH
Diman :
EE : Efisiensi Ekonomi
ET : Efisiensi Teknik
EH : Efisiensi Harga
Untuk megetahui apakah nilai efisiensi teknis sudah efisien atau tidak
efisien adalah sebagai berikut :
1. Jika nilai efisiensi teknis sama dengan 1, maka penggunaan input atau
faktor produksinya sudah efisien.
2. Jika nilai efisiensi teknis kurang dari 1 (tidak sama dengan 1), maka
penggunaan input atau faktor produksinya tidak efisien.
3. jika nilai efisiensi teknis lebih besar dari satu (tidak sama dengan 1), maka
penggunaan input atau faktor produksinya belum efisien.

DAFTAR PUSTAKA
Ayu, I Gusti, dkk. 2012. Analisis Efisiensi Usahatani Padi Sawah (Studi Kasus di
Subak Pacung Babakan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung).
E-Journal Agribisnis dan Agrowisata, ISSN: 2301-6523, Vol. 1, No.
1. Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana
Flower, Tuty. 2012. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Pada
Usahatani Padi Sawah Di Desa Sei Belutu Kecamatan Sei Bamban
Kabupaten Serdang Bedagai. Jurnal Ilmiah. Medan: Prodi
Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Kurniawan, A. Y, dkk. 2008. Analisis Efisiensi Ekonomi Dan Daya Saing Jagung
Pada Lahan Kering Di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan
Selatan. Forum Pascasarjana Vol. 31 No. 2, Hal: 93-103