Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH KELOMPOK

PANGAN FUNGSIONAL

DAUN MIANA

ERVAN TOGATOROP

G31113302

ANDI NADYA TITA ALIA G31113304


NURFADILLA RAHMA SARI

G31113305

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASAR
2015

I. Pendahuluan
I.1

Latar belakang
Indonesia kaya akan tanaman obat yang telah digunakan oleh masyarakat selama berabad-

abad, salah satunya adalah tanaman Miana (Coleus blumei). Di dunia pengobatan tradisional
daun Miana ini biasa digunakan untuk mengatasi cacingan telah membuktikan daun Miana jenis
varietas miana yang digunakan baik untuk pengobatan tradisional dan penelitian diatas tidak
diketahui, padahal terdapat banyak varietas tanaman Miana.
Tanaman Miana merupakan sebuah tanaman yang unik karena memiliki varietas yang
sangat banyak. Perbedaan varietas tersebut dapat dilihat dari perbedaan warna daun yang sangat
beragam. Warna-warni daun ini disebabkan oleh pigmen yang dimilikinya. Formasi pigmen
didalam daun ditentukan secara genetik dan juga dipengaruhi faktor lingkungan seperti cahaya
dan lingkungan. Perbedaan warna daun antar varietas miana ditentukan oleh kandungan pigmen
yang termasuk kedalam golongan flavonoid. Flavonoid merupakan kelompok fenol yang terbesar
yang ditemukan dialam. Senyawa fenol ini yang diduga memiliki aktivitas anthelmintik.
Salah satu tanaman obat yang sering digunakan masyarakat untuk pengobatan ialah Miana
(Coleus scutellarioides [L] Benth). Tanaman Miana mengandung senyawa-senyawa yang
berkhasiat sebagai antibakteri, diare, bisul, infeksi telinga, wasir maupun sebagai penambah
nafsu makan (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).Penelitian tentang khasiat daun Miana sebagai
antibakteri telah dilakukan oleh Deby A. Mpila (2012) yaitu ekstrak etanol daun Miana (Coleus
scutellarioides [L] Benth) memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus
aureus, Eschericia coli dan Pseudomonas naeruginosa. Konsentrasi ekstrak 20%, 40% dan 80%
merupakan konsentrasi efektif untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus. Konsentrasi
10%, 20%, 40% dan 80% merupakan konsentrasi efektif untuk menghambat bakteri Eschericia
coli. Sedangkan ekstrak 40% dan 80% merupakan konsentrasi efektif untuk menghambat bakteri
Pseudomonas aeruginosa.
Melihat kandungan dan manfaat dari pangan fungsional daun miana maka penulis
berinisiatif untuk membuat makalah ini sebagai salah satu prasyarat melulusi mata kuliah pa
ngan fungsional

II.

TAKSONOMI

Daun miana atau yang biasa disebut dengan tanaman iler menurut Lisdawati (2008)
mempunyai nama ilmiah (Coleus benth). Tanaman ini tergolong ke dalam famili Lamiaceae,
yaitu tumbuhan liar yang terdapat di ladang atau di kebun-kebun sebagai tanaman hias.
Berbatang basah yang tingginya mencapai 1 meter. Daunnya berbentuk segitiga atau bentuk
bulat telur dengan warna yang sangat bervariasi, dari warna hijau hingga merah keungu-unguan
dan mempunyai tepi yang beringgit. Pada saat dewasa atau tanaman ini mempunyai bunga yang
berwarna merah atau ungu atau kuning. Senyawa kimia yang terkandung dalam daun miana
(Coleus benth) adalah golongan minyak atsiri, flavonoid, alkaloid, steroid, tanin,dan saponin
(Iler, 2012).
Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak ini disebut juga
minyak menguap, minyak eteris, minyak esensial karena pada suhu kamar mudah menguap.
Istilah esensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya. Dalam keadaan
segar dan murni, minyak atsiri umumnya tidak berwarna. Namun, pada penyimpanan lama
minyak atsiri dapat teroksidasi. Untuk mencegahnya, minyak atsiri harus disimpan dalam bejana
gelas yang berwarna gelap, diisi penuh, ditutup rapat, serta disimpan di tempat yang kering dan
sejuk (Gunawan & Mulyani, 2004).

Gambar daun Miana

Flavonoid adalah senyawa fenolik alam yang potensial sebagai antioksidan dan mempuyai
bioaktifitas sebagai obat.Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru, dan
sebagian zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan dan terdapat pada batang,
daun, bunga, dan buah. Flavonoid dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidan sehingga
sangat baik untuk pencegahan kanker. Manfaat flavonoid antara lain adalah untuk melindungi
struktur sel, meningkatkan efektifitas vitamin C, anti-inflamasi, mencegah keropos tulang, dan
sebagai antibiotik.
Mungkin banyak orang di Indonesia belum banyak mengetahui tentang keberadaan daun
miana ini, sehingga tidak mengetahui kandungan dan manfaat yang ada di dalam daun tersebut.
Secara empiris daun miana ini dapat berefek farmakologis antara lain, sebagai penambah nafsu
makan, antimalaria, penambah darah, selain itu bisa untuk terapi penyakit jantung. Bagian yang
digunakan atau dimanfaatkan adalah daunnya.
Tanaman iler ini banyak tumbuh pada daerah yang memiliki tanah agak lembab atau sedikit
berair. Di daerah tertentu seperti Manado, Kupang, Papua, dan Toraja daun miana diolah sebagai
sayuran untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari (Iler, 2012).
Dari sistem sistematika (taksonomi), tumbuhan iler dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Class : Dicotylendonae
Ordo : Solanales
Family : Lamiaceae
Gens : Coleus
Speies : Coleus atropurpureus Benth.
Nama umum tumbuhan ini adalah iler. Tumbuhan ini dikenal masyarakat Indonesia dengan
nama daerah yaitu: si gresing (batak), adang-adang (Palembang), miana, plado (sumbar), jawer
kotok (sunda), iler, kentangan (jawa), ati-ati, saru-saru (bugis), majana (Madura) (Dalimartha,
2008).

III.

EFEK FUNGSIONAL & PHARMACEUTICAL

Tumbuhan iler bermanfaat untuk menyembuhkan hepatitis dan menurunkan demam, batuk
dan influenza. Selain itu daun tumbuhan iler ini juga berkhasiat untuk penetralisir racun
(antitoksik), menghambat pertumbuhan bakteri (antiseptik), mempercepat pematangan bisul,
pembunuh cacing (vermisida), wasir, peluruh haid (emenagog), membuyarkan gumpalan darah,
gangguan pencernaan makanan (despepsi), radang paru, gigitan ular berbisa dan serangga
(Dalimartha, 2008).
Sedangkan akar tumbuhan ini berkhasiat untuk mengatasi perut mulas dan diare..
Dalimartha juga menyebutkan bahwa tumbuhan iler dapat menyembuhkan radang telinga,
mengeluarkan cacing gelang dari perut, Tetapi dengan catatan ibu hamil dilarang meminum
rebusan daun iler ini karena dapat menyebabkan keguguran (Yuniarti, 2008)
Herba tumbuhan iler yang memiliki sifat kimiawi harum, berasa agak pahit, dingin,
memiliki kandungan kimia sebagai berikut: daun dan batang mengandung minyak atsiri, fenol,
tannin, lemak, phytosterol, kalsium oksalat, dan peptik substances. Komposisi kandungan kimia
yang bermanfaat antara lain juga alkaloid, etil salisilat, metal eugenol, timol karvakrol, mineral
(Dalimartha, 2008)
Senyawa flavonoida adalah senyawa-senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon,
terdiri dari dua cincin benzena yang dihubungkan menjadi satu oleh rantai linier yang terdiri dari
tiga atom karbon. Senyawa-senyawa flavonoida adalah senyawa 1,3 diaril propana, senyawa
isoflavonoida adalah senyawa 1,2 diaril propana, sedangkan senyawa-senyawa neoflavonoida
adalah 1,1 diaril propana. Istilah flavonoida diberikan pada suatu golongan besar senyawa yang
berasal dari kelompok senyawa yang paling umum, yaitu senyawa flavon; suatu jembatan
oksigen terdapat diantara cincin A dalam kedudukan orto, dan atom karbon benzil yang terletak
disebelah cincin B. Senyawa heterosoklik ini, pada tingkat oksidasi yang berbeda terdapat dalam
kebanyakan tumbuhan. Flavon adalah bentuk yang mempunyai cincin C dengan tingkat oksidasi

paling rendah dan dianggap sebagai struktur induk dalam nomenklatur kelompok senyawasenyawa ini. Sifat struktur yaitu cincin A biasanya memiliki tiga gugus oksigen yang berselang
seling. Sedangkan cincin B kebanyakan mempunyai gugus fungsional oksigen berkedudukan
para dua oksigen, berkedudukan para atau meta terhadap C3 (Manitto, 1981).
Cara klasik untuk mendeteksi senyawa fenol sederhana ialah dengan menambahkan larutan
besi (III) klorida dalam air atau etanol kepada larutan cuplikan, yang menimbulkan warna hijau,
merah, ungu, biru, atau hitam yang kuat. Cara yang ini dimodifikasi dengan menggunakan
campuran segar larutan besi (III) klorida 1% masih tetap digunakan secara umum untuk
mendeteksi senyawa fenol pada kromatografi kertas. Tetapi kebanyakan senyawa fenol (terutama
senyawa flavonoida) dapat dideteksi pada kromatogram berdasarkan warnanya atau
floresensinya dibawah lampu UV, warnanya akan diperkuat atau berubah bila diuapi ammonia.
Pigmen fenolik berwarna dapat terlihat jadi dan mudah disimak selama proses isolasi dan
pemurnian (Harbone, 1987).
Senyawa flavonoida terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu,
kulit, tepung sari, bunga, buah, dan biji. Kebanyakan flavonoida ini berada di dalam tumbuhtumbuhan, kecuali alga. Namun ada juga flavonoida yang terdapat pada hewan, misalnya dalam
kelenjar bau berang-berang dan sekresi lebah. Dalam sayap kupu-kupu dengan anggapan bahwa
flavonoida berasal dari tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan hewan tersebut dan tidak
dibiosintesis di dalam tubuh mereka. Penyebaran senyawa flavonoida tersebar pada jenis
tumbuhan angiospermae, klorofita, fungi, briofita (Markham, 1988).
Senyawa varian flavonoid saling berkaitan karena alur biosintesis yang sama, yang
memasukkan substrat dari alur sikimat atau alur asetat-melanoat, flavonoida pertama yang
dihasilkan segera setelah kedua alur itu bertemu. Modifikasi flavonoid pengurangan hidroksilasi;
metilasi gugus hidroksil atau inti flavonoida; isopreenilasi gugus hidroksil atau inti flavonoida;
metilenasi gugus orto- dihidroksil; dimerisasi (pembentukan bivlafonoida); pembentukan
bisulfat; dan yang terpenting glikolisasi gugus hidroksil (pembentukan flavonida o-glikosida atau
inti flavonoida pembentukan flavonoida C-glikosida) (Markham, 1988).

IV.1 PRODUK OLAHAN DAUN MIANA


4.1 EFFERVESCENT
Pemilihan daun miana dalam keadaan segar, Sortasi dan dicuci, untuk menghilangkan
kotoran luar, Penimbangan, Dihancurkan dengan blender selama 1 menit dengan menggunakan
air mineral (Aqua) 1:5, Dilakukan perebusan miana dengan menggunakan beaker glass selama
10-15 menit, lalu disaring dengan kain saring untuk mendapatkan filtrat, Dilakukan
pencampuran filtrat miana dengan dekstrin konsentrasi 5%, 10% dan 15% b/v, Diletakkan
campuran di atas loyang yang telah dilapisi plastik kemudian dikeringkan suhu 65oC,dengan
tekanan -62 cmHg, Serbuk kering daun miana dihancurkan dengan menggunakan mortal,
Diambil serbuk kering daun miana sebanyak 2 gram, Dicampur dengan asam sitrat konsentrasi
5%, 10%, 15% menggunakan blender kering selama 30 detik, Kemudian dicampur dengan bahan
tambahan Na-Bikarbonat 10%, Aspartam 1% dihomogenisasi dengan blender kering kecepatan
max 1 selama 30 detik., Pengayakan 60 mesh dihasilkan Serbuk effervescent miana.
4.2 Teh daun Miana
1. Ambil Beberapa Daun Miana Dan Cuci.
2. Setelah Dicuci Bersih, Tiriskan Daun Miana Menggunakan Kain Bersih Hingga Benar-Benar
Kering.
3. Masak Air Hingga Mendidih
4. Setelah Air Mendidih, Masukkan Daun Miana Pada Panci Dengan Air Mendidih Tadi Kurang
Lebih 1 Menit.
5. Saring Airnya Dan Tempatkan Daun Miana Yang Sudah Dimasak Tadi Pada Kain Bersih Lagi.
6. Tempatkan Daun Miana Tadi Pada Tempat Gelap Dan Kering selama Kurang Lebih Satu Mingu
Hingga Kering.
7. Setelah Benar-Benar Kering, Berarti Teh Daun Miana Sudah Jadi.
4.3 sirup daun Mina
Bahan-bahan
1. 100 gram Daun miana
2. 800 gram Gula Pasir (kalau suka manis bisa di tambah gulanya)
3. Air 1 liter

4. Vanili secukupnya.
Cara Membuatnya : Masak air hingga mendidih, Cuci Daun miana dan tiriskan, Setelah air
mendidih masukkan daun miana yg udah di cuci. Aduk hingga air berwarna merah, kalo air
sudah berwarna merah ambil daun miana dan di tauh di dalam baskom (jangan dibuang, bunga
yg hbs dibuat sirup bisa di bikin selai daun miana).
4.4 Selai daun Miana
Bahan : 1. Bunga Rosella yg habis membuat sirup
2. Gula Pasir
3. Vanili Cara Membuat : Blender Bunga Rosella, campur gula dan vanili, setalah itu masak
hingga mengental, kalo lum mengental bisa di kasih tepung sedikit aja. kemudian tiriskan.

Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah daun miana ini adalah Salah satu tanaman obat yang
sering digunakan masyarakat untuk pengobatan ialah Miana (Coleus scutellarioides [L] Benth).
Tanaman Miana mengandung senyawa-senyawa yang berkhasiat sebagai antibakteri, diare, bisul,
infeksi telinga, wasir maupun sebagai penambah nafsu makan (Syamsuhidayat dan Hutapea,
1991).Penelitian tentang khasiat daun Miana sebagai antibakteri telah dilakukan oleh Deby A.
Mpila (2012) yaitu ekstrak etanol daun Miana (Coleus scutellarioides [L] Benth) memiliki
aktivitas sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Eschericia coli dan Pseudomonas
naeruginosa. Konsentrasi ekstrak 20%, 40% dan 80% merupakan konsentrasi efektif untuk
menghambat bakteri Staphylococcus aureus. Konsentrasi 10%, 20%, 40% dan 80% merupakan
konsentrasi efektif untuk menghambat bakteri Eschericia coli. Sedangkan ekstrak 40% dan 80%
merupakan konsentrasi efektif untuk menghambat bakteri Pseudomonas aeruginosa.

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, G. 2006. Pengembangan Sediaan Farmasi. ITB-Press, Bandung.


Anief, 1997. Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Kaplan NE, Hentz VR. 1992. Emergency Management of Skin and Soft Tissue Wounds, An
Illustrated Guide, Little Brown. Boston: USA.
Klokke. 1980. Pedoman Untuk Pengobatan Luar Penyakit Kulit. PT. Gramedia : Jakarta.
Mpila D. A. 2012. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Miana (Coleus atropurpureus
[L] Benth) Terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonas
aeruginosa Secara In-Vitro. Pharmacon. 1(1): 15-20.
Sugianti B. 2005. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Tradisional Dalam Pengendalian Penyakit Ikan.
Institut Pertanian. Bogor.
Syamsuhidayat SS., Hutapea JR. 1991. Inventaris Tanaman Obat NIndonesia. Departemen
Kesehatan RI, Jakarta.