Anda di halaman 1dari 63

KONSEP MUTU

DAN
PENGANTAR
AKREDITASI
PUSKESMAS
DAN FKTP

Tim Fasilitator

1. Nama: dr. C. Tjahjono Kuntjoro MPH, DrPH

Jabatan :

2. Nama: dr. Soenoe Juwono MKes, MMR

Jabatan:

Konsultan manajemen mutu PKMK-FK UGM

Konsultan, Purna tugas Widyaiswara Bapelkes Salaman

3. Nama: Jemingin Pamungkas MKes

Jabatan:

Konsultan, Purna tugas Widyaiswara BPTPK Provinsi Jawa


Tengah

Basic Concepts:
Client

Centered Care
Access
Quality Quality
assurance/quality
management
Safety (pmk 1691/2011) Risk
management

Pengertian mutu

Mutu adalah kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan


(Crosby, 1984)
Mutu adalah memenuhi bahkan melebihi kebutuhan dan keinginan
pelanggan melalui perbaikan sluruh proses secara berkelanjutan
(Zimmerman)
Donabedian: Tidak dapat dibuat satu definisi ttg mutu
Donabedian mengusulkan definisi sbb:

The absolutist definition: the possibility of benefit and harm to health as


valued by practitioner, with no attention to cost

The individualized definition: the patients expectations of benefit and/or


harm and other undesired consequences

Defisini absolut: kemungkinan terjadinya manfaat atau cedera terhadap kesehatan


sebagaimana dinilai oleh praktisi kesehatan tanpa mempertimbangkan biaya

Defisini individual: ekspektasi pasien terhadap manfaat dan/atau terjadinya cedera dan
konsekuensi yang tidak diharapkan

The social definition: the cost of care, the benefit/harm continuum,


distribution of health care as valued by the population in general

Definisi sosial: biaya pelayanan, manfaat atau cedera yang terjadi sepanjang proses
pelayanan, distribusi pelayanan kesehatan sebagaimana dinilai oleh masyarakat secara
umum.

Mutu (Kemenkes)

Mutu pelayanan kesehatan


adalah kinerja yang menunjuk
pada tingkat kesempurnaan
pelayanan kesehatan, yang
disatu pihak dapat
menimbulkan kepuasan pada
setiap pasien sesuai dengan
tingkat kepuasan rata-rata
penduduk, serta dipihak lain
tata cara penyelenggaraannya
sesuai dengan standar dan
kode etik profesi yang telah
ditetapkan

Perspektif mutu

Mutu dapat ditinjau dari berbagai perspektif:

baik dari perspekstif penerima pelayanan


kesehatan,

profesi tenaga pelaksana pelayanan kesehatan

pengelola program/sarana kesehatan,

penyandang dana,

pembuat dan pelaksana kebijakan pelayanan


kesehatan

Manajemen mutu

Manajemen Mutu (Quality Management)


adalah seluruh aktivitas kegiatan fungsi
manajemen dari kebijakan, tugas dan
tanggung jawab yang dituangkan dalam
bentuk:

perencanaan mutu (quality planning),


kendali mutu (quality control),
jaminan mutu (quality assurance) dan

peningkatan mutu (quality improvement)


,serta

kendali biaya dalam satu sistem mutu.

Dimensi Mutu (WHO)


Akses thd pelayanan
Keefektifan
Efisiensi
Keamanan
Kelangsungan layanan
Kompetensi tehnis
Kenyamanan
Hub. Antar manusia

Dimensi Mutu (Maxwell)


Access
Relevant to need
Effectiveness
Equity
Acceptability
Efficiency & Economy

Trilogy Juran
Quality

planning
Quality control
Quality improvement
Juran

menjelaskan bahwa agar pelayanan kita


bermutu, maka mutu perlu direncanakan,
dikendalikan, dan secara berkelanjutan
ditingkatkan atau disempurnakan

Standar mutu (Donabedian)


Standar

struktur
Standar proses
Standar outcome
Menurut Donabedian: perlu dilakukan standardisasi agar
pelayanan yang kita berikan bermutu. Standar meliputi:
standar struktur/input, standar proses, dan standar
outcome/hasil

14 Prinsip Deming

1. Peningkatan mutu merupakan tujuan yang secarakonsisten


hendak dicapai

2. Menerapkan filosofi mutu

3. Mengurangi ketergantungan pada pengawasan

4. Hentikan pendapat bahwa harga membawa nama

5. Peningkatan yang berkesinambungan sistem pelayanan dan


produksi

6. Pendidikan dan pelatihan karyawan

7. Kepemimpinan yang mempunyai komitmen thd mutu

8. Menghilangkan rasa takut dalam iklim kerja

9. Menghilangkan barier antar unit kerja

10. Membatasi slogan

11. Mengurangi penekanan pada angka pencapaian target

12. Menghilangkan hambatan thd kepuasan kerja

13. Merencanakan dan melaksanakan program diklat yang


membangun

14. Melaksanakan proses perubahan

14 langkah Crosby

1. Komitmen manajerial
2. Pembentukan Kelompok Kerja Mutu
3. Pengukuran
4. Penetapan biaya mutu
5. Kembangkan kesadaran akan mutu
6. Lakukan tindakan koreksi
7. Perencanaan cacat nihil (zero defect)
8. Pendidikan dan pelatihan
9. Penetapan hari bebas cacat (zero defect)
10. Penetapan tujuan yang jelas
11. Hilangkan penyebab terjadinya penyimpangan
12. Penghargaan
13. Pembentukan dewan mutu
14. Lakukan sebagai kegiatan yang
berkesinambungan

EVOLUSI PRINSIP MANAJEMEN


DOING THINGS
CHEAPER
(EFFICIENCY)

DOING THE
RIGHT
THINGS
RIGHT

DOING
THINGS RIGHT
DOING THINGS
BETTER
(QUALITY
IMPROVEMENT)

1970

DOING THE
RIGHT THINGS
RIGHT BY
DEFAULT

DOING THE
RIGHT THINGS
(EFFECTIVENESS)

1980

1990

2000

ABAD 21

PRIMUM, NON NOCERE


FIRST, DO NO HARM

HIPPOCRATESS TENET
(460-335 BC)

Pengertian Patient Safety


Keselamatan

pasien (patient
safety) : reduksi dan meminimalkan

tindakan yang tidak


aman dalam sistem pelayanan
kesehatan sebisa mungkin melalui
pratik yang terbaik untuk mencapai
luaran klinis yang optimum. (The
Canadian Patient Safety Dictionary,
October 2003)

Crisis In Health Care

Slide: Dwiprahasto, Iwan, 2009Source The Philadelphia Inquirer

Studi di Amerika 2004 2006:

Medical Errors Cost U.S. $8.8 Billion, result in 238,337


potentially preventable deaths,
according to HealthGrades Study
Top-Performing Hospitals have 43 Percent Lower Incidence
Rate
Compared with Poorest Performers

Wayne Jowett, Kehilangan Nyawa


Akibat Dokter Salah Suntik ..!
BBC, Kamis, 02 Oktober 2003, 8:22 WIB

Wayne meninggal dunia di Queens Medical Center, Nottingham,


Inggris, tepat pukul 8 pagi, setelah obat kemoterapi Vincristine
yang seharusnya disuntikkan i.v, oleh dokter disuntikkan intrathecal.
Yang seharusnya disuntikkan intrathecal adalah cytosine
Dr. Feda Mulhem dikenai hukuman 8 bulan penjara atas
pembunuhan tak direncanakan --ditambah 10 bulan penjara atas
tuduhan lainnya, menyebabkan kematian pada pasien muda,
Wayne Jowett.
Slide: Dwiprahasto, Iwan, 2009

Slide: Djasri, Hanevi, 2008

nursing care
medical care

Slide: Dwiprahasto, Iwan, 2009

Risiko yang mungkin terjadi pada sarana


pelayanan kesehatan
(McCaffrey & Hagg-Rickert, Risk Management Handbook, pp 100-104, 2004)

Risiko yang terkait dengan pelayanan pasien


Risiko yang mungkin dialami oleh tenaga klinis
Risiko yang mungkin dialami oleh tenaga
kesehatan yang lain
Risiko yang terkait dengan sarana dan prasarana
Risiko financial
Risiko lain (yang lain, misalnya yang terkait
dengan penggunaan kendaraan/alat transportasi,
misalnya ambulans, vans, sepeda motor dsb)

Risiko pada saat akses ke


faskes

Akses
Kegagalan
melakukan
akses
Keterlambatan
akses
Salah
menuju/memilih

Risiko pada saat pendaftaran

Pendaftaran
Kekeliruan identitas
rekam medis
Rekam medis tidak
ditemukan, dibuatkan
rekam medis baru,
Kartu identitas tertukar,
Rekam medis tertukar

Risiko pada saat pengkajian dan


penyusunan rencana asuhan
Pengkajian
&
Penyusunan
Rencana asuhan
Salah diagnosis
Salah baca hasil
pem
Penunjang
Salah interpertasi
hasil
Salah menyusun

Risiko pada
Tindakan
dan
Pemberian
obat
Pelaksanaan asuhan tidak

sesuai rencana asuhan


Kekeliruan dalam melakukan
tindakan medik/keperawatan
Kekeliruan dalam
menyediakan diit
Kekeliruan dalam penulisan
resep, penyediaan obat,
pemberian obat yang tidak
perlu, tidak memberikan obat
yang diperlukan, peracikan
obat, informasi ttg obat, dsb
Pemberian pelayanan yang

Risiko
pada saat
Evaluasi
dan tindak
lanjut

Risiko pada
saat kembali
ke
rumah/masy
a-rakat

of
The
Patient

of
The
Facilities

Safety
of
The Environment

Slide: Dwiprahasto, Iwan, 2009

of
The
Business

of
The
Health Care
Worker

Keselamatan Pasien di Sarana


Pelayanan Kesehatan:
Upaya upaya yang dirancang untuk: mencegah terjadinya
adverse outcomes/events (hasil/kejadian yang tidak
diharapkan, yang disebaBkan bukan oleh kondisi pasien)
sebagai akibat tindakan yang tidak aman

atau kondisi laten

Beberapa definisi
Adverse

event (Kejadian tidak diharapkan=KTD):


injury caused by medical management rather
than by the underlying condition of the patient

Kejadian

Tidak Cedera (KTC)

Near

miss (Kejadian nyaris cedera=KNC): suatu


kejadian atau situasi yang sebenarnya dapat
menimbulkan kecelakaan, trauma atau penyakit
tetapi belum terjadi karena secara kebetulan
diketahui atau upaya pencegahan segera
dilakukan

Kondisi

Potensial Cedera (KPC): suatu keadaan


yang mempunyai potensi menimbulkan cedera

Penyebab terjadinya
kejadian tidak diharapkan (KTD=Adverse event)

Tindakan
Human

yang tidak aman (unsafe act):

error:

Slips:

error sebagai akibat kurang/teralihnya perhatian atau


salah persepsi)

Lapses:

error yang terkait dengan kegagalan memori


lupa/tdk ingat)

Mistakes:

Kesalahan yang terkait dengan proses mental


dalam assessment informasi yang tersedia, kesalahan dalam
merencanakan asuhan, kesalahan dalam menetapkan tujuan,
kesalahan dalam mengambil keputusan klinis

Violation

(pelanggaran)
Sabotage (sabotase)

(Reason, 1997)

Kondisi laten (latent condition):

Sistem yang kurang tertata yang menjadi


predisposisi terjadinya error

Sumber daya yang tidak memenuhi persyaratan

(Reason, 1997)

Multi-Causal Theory Swiss


Cheese diagram (Reason, 1991)

Situasi/kondisi yang
memudahkan terjadi medical
error

Tekanan waktu

Lingkungan kerja yang tidak menentu

Beban kerja yang tinggi

Menghadapi situasi, alat, kasus yang belum pernah


sebelumnya

Kesibukan yang tinggi shg kurang istirahat

Tuntutan kecepatan dlm menangani kasus setiap saat

Petunjuk yang meragukan/tidak tepat

Terlalu percaya diri

Komunikasi yang tidak memadai

Lingkungan kerja dg stress tinggi

Error dapat terjadi dalam


bentuk tindakan:
Melakukan yang semestinya tidak
dilakukan (commission)
atau
Tidak melakukan yang semestinya
dilakukan (omission)

Proses manajemen risiko

Menetapkan lingkup
Manajemen risiko
Kajian risiko (risk assessment)
Identifikasi risiko
Komunikasi
dan
Konsultasi
pd
stakeholders

Analisis risiko
Evaluasi risiko
tdk
ya
Tindakan/treatment
terhadap
risiko

Monitoring,
audit
dan
Tinjauan
(review)
Dukungan
internal

8 Prinsip dasar
peningkatan mutu

Pusat perhatian pada


pelanggan (client centered)
Kepemimpinan
Keterlibatan personil
Pendekatan proses
Pendekatan sistem untuk
pengelolaan
Peningkatan berkesinambungan
Pembuatan keputusan
berdasarkan fakta
Hubungan saling
menguntungkan dengan
rekanan

Mutu pelayanan puskesmas


mutu

SISTEM
MANAJEMEN
MUTU

SISTEM
PELAYANAN

Penyebab masalah mutu:


Variasi Proses

Proses tidak diukur dg baik

Proses tidak dimonitor dg baik

Proses tidak dikendalikan dg baik

Proses tidak dipelihara dg baik

Proses tidak disempurnakan

Sistem Manajemen Mutu


mengukur
memonitor

menyempurnakan

Sistem
Manajemen
Mutu
mengendalikan

memelihara

Mutu pelayanan puskesmas


Komitmen
Leadership

SISTEM
MANAJEMEN
MUTU

Mengukur
Memonitor
Mengendalikan
Memelihara
Menyempurnakan
Mendokumentasik
an

SISTEM
PELAYANAN
-Struktur
-Proses
-Outcome

Mengukur

Indikator

Memonitor

Mengendalikan

Standar/
SPO

Memelihara

Ringkas, Rapih,
Resik, Rawat,
Rajin

Menyempurnakan

CQI:
Siklus PDCA

45

Health care
regulation
(Nihal Hafez, 1997)

SUATU AKSI SOSIAL YANG


DILAKUKAN (OLEH PEMERINTAH)
UNTUK MEMPENGARUHI SECARA
LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG
TERHADAP PERILAKU DAN FUNGSI
TENAGA KESEHATAN DAN/ATAU
ORGANISASI KESEHATAN

Mekanisme regulasi

Perijinan

(lisensi)
Sertifikasi
Akreditasi

46

47

Proses

Pelaksana

Sasaran evaluasi

Komponen
persyaratan

Standard

Akreditasi
(sukarela), contoh:
akreditasi RS, yan
med dasar

Lembaga yang
diakui, biasanya
LSM

Organisasi atau
sebagian fungsi
organisasi

Kepatuhan pada
standar, on-site
evaluation, kepatuhan
tsb tidak diharuskan
oleh hukum

Standar maksimal
yang dapat dicapai
untuk memacu
perbaikan mutu yang
kontinyu

Lisensi (wajib):
lisensi tenaga
kesehatan, lisensi
fasilitas pelayanan

Pemerintah atau
konsil

Individu atau
organisasi

Bagian dari regulasi


untuk menjamin
kompetensi minimum
Bagian dari regulasi
untuk menjamin
standar minimal suatu
fasilitas pelayanan

Standar minimal untuk


melindungi pasien,
menjamin keamanan,
dan meminimalkan
resiko

Sertifikasi
(sukarela/wajib):
sertifikasi ATLS,
sertifikasi
tehnologi
kesehatan,
sertifikasi berbagai
pusat di RS

Lembaga yang
diberi
kewenangan,
pemerintah, atau
LSM

Individu/organisasi

Evaluasi persyaratan
yang ditetapkan,
pendidikan/pelatihan
tambahan, dan
kompetensi di bidang
tertentu
Menunjukkan bahwa
organisasi
mempunyai
pelayanan, tehnologi
atau kapasitas khusus

Standar lembaga
(misalnya ISO) untuk
mengevaluasi
kepatuhan terhadap
spesifikasi rancangan
lembaga

Definisi Akreditasi

ISQua (2001) :Accreditation is a public


recognition by a national healthcare
accreditation body of the achievement of its
accreditation standards by a healthcare
organisation, demonstrated through an
independent external peer assessment of that
organisations level of performance in relation to
the standards.

Akreditasi adalah pengakuan oleh public melalui


lembaga akreditasi pelayanan kesehatan
nasional pada suatu organisasi pelayanan
kesehatan atas tingkat pencapaian terhadap
standar akreditasi yang diwujudkan melalui
penilaian eksternal oleh peer secara independen
thd tingkat kinerja terkait dengan standar tsb.

AKREDITASI MERUPAKAN
SALAH SATU BENTUK
AUDIT EKSTERNAL
UNTUK MENILAI SISTEM
PELAYANAN DAN SISTEM
MUTU APAKAH SUDAH
SESUAI DENGAN
STANDAR YG
DITETAPKAN

Akreditasi puskesmas
dan fasyankes tingkat
pertama

Pengakuan terhadap puskesmas, klinik


pratama, praktik dokter dan praktik
dokter gigi yang diberikan oleh
lembaga independen penyelenggara
akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri
setelah dinilai bahwa fasilitas
kesehatan tingkat pertama itu
memenuhi standar pelayanan fasilitas
kesehatan tingkat pertama yang telah
ditetapkan untuk meningkatkan mutu
pelayanan secara berkesinambungan

Peraturan
Perundangan
Pedoman
Acuan
Standar

Penyelenggaraan
Pelayanan
(Produksi):
Kebijakan
-mengukur
Pedoman
-memonitor
Kr.Acuan
Prosedur
-mengendalikan
Manual
-memelihara
-menyempurnakan
-mendokumentasikan

Akreditasi

Standar
Akreditasi

Outcome
Pelayanan
Kepuasan

Akreditasi Puskesmas

Pelayanan Klinis

Pelayanan
Yang
diakreditasi

Penyelenggaraan
Upaya Puskesmas

Administrasi manajemen
Puskesmas

Standar akreditasi puskesmas disusun


dalam
9 bab, dengan 802 elemen penilaian (EP):
Bab I. Penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas (PPP) dengan
59 EP
Bab II. Kepemimpinan dan Manajemen Puskesmas (KMP)
dengan 121 EP
Bab III. Peningkatan Mutu dan Manajemen Risiko (PMMR)
dengan 32 EP
Bab IV. Upaya Puskesmas yang Berorientasi Sasaran (UPBS)
dengan 53 EP
Bab V. Kepemimpinan dan Manajemen Upaya Puskesmas
(KMPP) dengan 101 EP
Bab VI. Sasaran Kinerja dan MDGs (SKM) dengan 55 EP
Bab VII. Layanan Klinis yang Berorientasi Pasien (LKBP)
dengan 151 EP
Bab VIII. Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK)
dengan 172 EP
Bab IX. Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien

4 Bab standar akreditasi klinik


(TOTAL 503 EP)

Bab I Kepemimpinan dan Manajemen Klinik (KMK) : 122 EP

Bab II Layanan Klinis yang Berorientasi Pasien (LKBP) : 151


EP

Bab III Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK): 172


EP

Bab IV Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) :


58 EP

Standar akreditasi
Praktik Dokter Mandiri
(227
Bab I EP)
Kepemimpinan dan Manajemen Praktik

Mandiri (KMPM) dengan 71 EP

Bab II Layanan Klinis dan Peningkatan Mutu dan


Keselamatan Pasien (LKPM) dengan 156 EP

Struktur standar
Bab:
Standar:
Kriteria

Maksud

dan Tujuan:

Elemen

Penilaian

1. BAB I. Penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas (PPP)

Standar
1.1. Analisis Kebutuhan Masyarakat dan Perencanaan Puskesmas
Kebutuhan masyarakat akan pelayanan Puskesmas diidentifikasi dan tercermin dalam Upaya
Puskesmas. Peluang untuk pengembangan dan peningkatan pelayanan diidentifikasi dan
dituangkan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.

Kriteria 1.1.1
Di Puskesmas ditetapkan jenis-jenis pelayanan yang disediakan bagi masyarakat dan dilakukan kerja sama
untuk mengidentifikasi dan merespon kebutuhan dan harapan masyarakat akan pelayanan Puskesmas yang
dituangkan dalam perencanaan.

Maksud dan Tujuan:

Pukesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan dasar perlu menetapkan jenis-jenis pelayanan yang
disediakan bagi masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan permasalahan kesehatan yang ada di
wilayah kerjanya dengan mendapatkan masukan dari masyarakat melalui proses pemberdayaan masyarakat.
Penilaian kebutuhan masyarakat dilakukan dengan melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan
sektor terkait dan kegiatan survei mawas diri, serta memerhatikan data surveilans untuk kemudian dilakukan
analisis kesehatan komunitas (community health analysis) yang menjadi bahan untuk penyusunan rencana
Puskesmas.
Rencana Puskesmas ..dst
Elemen Penilaian:
1. Ditetapkan jenis-jenis pelayanan yang disediakan berdasarkan prioritas
2. Tersedia informasi tentang jenis pelayanan dan jadwal pelayanan.
3. Ada upaya untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat.
4. Ada Informasi tentang kebutuhan dan harapan masyarakat yang dikumpulkan melalui survey atau kegiatan
lainnya.
5. Ada perencanaan Puskesmas yang disusun berdasarkan analisis kebutuhan masyarakat dengan melibatkan
masyarakat dan sektor terkait yang bersifat komprehensif, meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
6. Pimpinan Puskesmas, Penanggungjawab, dan Pelaksana Kegiatan menyelaraskan antara kebutuhan dan
harapan masyarakat dengan visi, misi, fungsi dan tugas pokok Puskesmas

Bab I
Persyaratan Umum Klinik
Standar
1.1. Persyaratan Pendirian dan Perijinan Klinik
Klinik harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan dan ruang, prasarana, peralatan, dan
ketenagaan.
Persyaratan Lokasi
Kriteria
1.1.1. Lokasi pendirian Klinik harus sesuai dengan tata ruang daerah
Maksud dan Tujuan:

Pendirian Klinik perlu memperhatikan tata ruang daerah dan kebutuhan pelayanan sesuai rasio
ketersediaan pelayanan kesehatan dengan jumlah penduduk.

Analisis yang mempertimbangan tata ruang daerah dan rasio ketersediaan pelayanan kesehatan dan
jumlah penduduk dituangkan dalam rencana strategik Klinik atau rencana pembangunan Klinik

Elemen Penilaian:
1. Dilakukan analisis terhadap pendirian Klinik yang mempertimbangkan tata ruang daerah dan rasio jumlah
penduduk dan ketersediaan pelayanan kesehatan
2. Pendirian Klinik mempertimbangkan tata ruang daerah
3. Pendirian Klinik mempertimbangkan rasio jumlah penduduk dan ketersediaan pelayanan kesehatan
4. Klinik memiliki perijinan yang berlaku

Cara penilaian
Tiap

pembuktian pada elemen


diberikan nilai:
0

= jika belum ada sama sekali atau baru


sebagian kecil ada ( 0% 20 %)

= jika sebagian besar sudah


dilaksanakan (20 79 %)

10 =

jika sudah dilaksanakan (80 100 %)

Skor total untuk tiap kriteria =


jumlah skor semua elemen pada tiap kriteria x 100 %
jumlah elemen pd tiap kriteria x 10

Skor total untuk tiap bab=


jumlah skor semua elemen pada tiap bab x 100 %
jumlah elemen pd tiap bab x 10

Pelaksanaan survei

Periksa dokumen yang menjadi regulasi: dokumen


eksternal dan internal

Telusur:

Wawancara:

Pimpinan puskesmas

Penanggung jawab program

Staf puskesmas

Lintas sektor

Masyarakat

Pasien, keluarga pasien

Observasi:

Pelaksanaan kegiatan

Dokumen sebagai bukti pelaksanaan kegiatan


(rekaman/records)

Agenda Pembahasan Standar


dan Instrumen

Linatih akan dibagi dalam 3 kelas:

Kelas A : Manajemen puskesmas (dr. Soenoe J Mkes MMR)

Kelas B : Upaya Puskesmas (Djemingin P, Mkes)

Kelas C : Pelayanan Klinis (dr. Tjahjono)

Pembahasan terinci tiap Bab, Standar, Kriteria, dan


Elemen Penilaian (oleh Fasilitator)

Penugasan diskusi:

Esensi dari tiap Bab

Dokumen yang perlu dilihat dalam waktu 2 jam kegiatan


survey

Butir-butir inti dari tiap Bab

Daftar Pertanyaan yang akan digunakan sebagai pemandu


pada saat survey

Terimakasih !