Anda di halaman 1dari 84

PESIFIKASI TEKNIK

I. PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Pengukuran di Lapangan untuk Mutual Check (MC).
Sebelum pekerjaan kami laksanakan, maka kami melakukan pengukuran di
lapangan sebelum mulai pelaksanaan pekerjaan, selama pelaksanaan pekerjaan
dan setelah pekerjaan selesai semua dilaksanakan atau akhir pekerjaan finishing.
Pedoman utama pelaksanaan pekerjaan pengukuran di lapangan, adalah patok
beton yang merupakan titik tetap utama ( Bench Mark ) yang akan ditentukan
oleh Direksi pekerjaan.
Kami akan memasang minimal tambahan 2 (dua) buah patok beton, yang akan
dijadikan sebagai titik bantu utama, diletakkan diujung awal dan ujung akhir dari
lokasi rencana bangunan, dan tidak boleh terusik atau rusak atau berubah posisinya
secara langsung maupun tidak langsung selama pelaksanaan pekerjaan dan untuk
lahan pekerjaan yang cukup panjang perlu ditambah patok beton sebagai titik
Bantu utama dengan jarak + 500 m atau sesuai dengan petunjuk Direksi Pekerjaan.
Patok beton yang merupakan titik bantu utama, posisi elevasi dan koordinatnya
harus diikat secara sempurna dengan patok beton titik utama. Patok beton sebagai
titik bantu utama, harus mempunyai ukuran lebar (10 x 10) cm panjang 100 cm
serta harus tertanam sedalam 50 cm dengan posisi tegak dan cukup kokoh tidak
meudah berubah bentuk dan posisinya.
Semua data, gambar sketsa pengukuran dan perhitungan hasil pengukuran
sebelum dimulainya pelaksanaan pekerjaan, harus disyahkan oleh Direksi
pekerjaan, dan selanjutnya dipakai sebagai pedoman untuk penggambaran rencana
gambar pelaksanaan (Construction Drawing). `
Pengukuran lapangan dan pematokan pada saluran, sungai, embung dll. harus
dilaksanakan dengan jarak/ interval paling jauh setiap 50 m atau sesuai instruksi
Pengguna Jasa khususnya pada lokasi tikungan jarak tersebut harus lebih dekat/
pendek yang dimulai dari titik awal tikungan, tengah-tengah tikungan dan ujung
akhir tikungan.
Selama masa pelaksanaan, semua data dan perhitungan hasil pengukuran harus
disyahkan oleh Direksi pekerjaan, dan dari waktu ke waktu selama masa
pelaksanaan pekerjaan akan dipergunakan sebagai dasar perhitungan prestasi hasil
pelaksanaan pekerjaan.
Setelah semua pekerjaan selesai dilaksanakan, kami akan melakukan pengukuran
akhir dari hasil pelaksanaan pekerjaan. Semua data dan perhitungan hasil
pengukuran harus disyahkan oleh Direksi pekerjaan dan dipergunakan sebagai
dasar acuan guna mempersiapkan gambar purna bangun (As built Drawing)
Pada hal-hal khusus yang ada kaitannya dengan pelaksanaan pekerjaan, Direksi
pekerjaan sewaktu-waktu berwenang dan berhak memberikan instruksi kepada

Penyedia Jasa, dan Penyedia Jasa harus bersedia untuk melaksanakan pengukuran
tertentu yang sifatnya sebagai check berkala atau stick proof, misalnya kedalaman
fondasi, batas pembebasan tanah dan lain sebagainya.
Pada saat penyerahan gambar purna bangun, Penyedia Jasa harus menyerahkan
data dan perhitungan hasil pengukuran yang sudah disyahkan oleh Direksi
pekerjaan.
Mutual Check (MC-0%) adalah hasil perhitungan kuantitas pekerjaan yang dihitung
oleh Penyedia Jasa berdasarkan gambar kerja dan disetujui Pengguna Jasa.
Perhitungan kuantitas pekerjaan tersebut harus disampaikan oleh Penyedia Jasa
paling lambat 15 (lima belas) hari sebelum pekerjaan tersebut dilaksanakan, kepada
PPK untuk mendapatkan persetujuan.
Penyedia Jasa tidak diperbolehkan melaksanakan pekerjaan bila Mutual Check (MC0%) pekerjaan bersangkutan belum mendapat persetujuan Pengguna Jasa.
Kegagalan Penyedia Jasa dalam mendapatkan persetujuan dari Pengguna Jasa atas
MC-0% yang ia sampaikan, tidak dapat dipergunakan sebagai alasan Penyedia Jasa
untuk mengusulkan perpanjangan waktu pelaksanaan.
Kami akan menyerahkan hasil seluruh perhitungan kuantitas semua pekerjaan
dalam format MC-100% kepada Pengguna Jasa untuk mendapatkan persetujuan
paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum berakhirnya masa pelaksanaan.
Pekerjaan dimaksud antara lain :
1.1. Pengukuran bendung untuk MC : pekerjaan bangunan bendung dan bangunan
pelengkapnya atau bangunan yang sejenis.
1.2. Pengukuran saluran untuk MC : pekerjaan saluran dan drainase
1.3. Pengukuran bangunan untuk MC : pekerjaan bangunan bagi/sadap, bangunan
pelengkap atau bangunan lain yang sejenis
1.4. Pengukuran lokasi pek.untuk MC : pekerjaan embung, sungai, bangunan lainnya
yang sejenis
Semua biaya yang timbul akibat pekerjaan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Penyedia Jasa dihitung berdasarkan yang tertera dalam daftar kuantitas dan harga
(bill of Quantity).

2. Pembersihan Lokasi / land clearing


Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan tanah, pembersihan lokasi pekerjaan dari
semua tumbuhan harus dikerjakan maka terlebih dahulu harus mendapat
persetujuan dari Direksi.
Pembersihan terdiri dari penebangan pohon-pohon perdu, semak belukar dan
Pembersihan terdiri dari penebangan pohon-pohon perdu, semak belukar yang ada
di lokasi pekerjaan.

Kami akan membongkar akar-akar, mengisi lubang-lubangnya dengan tanah


kemudian membuang dari tempat pekerjaan semula bahan-bahan hasil
pembersihan lapangan.
Untuk semua pohon dan semak-semak yang tidak harus dibersihkan / tidak harus
ditebang dan tetap berada di tempatnya, maka kami akan melindunginya dari
kerusakan.
Setelah pelaksanaan pekerjaan selesai semua, lokasi areal pekerjaan juga harus
dibersihkan dari sisa-sisa semua material yang tidak terpakai, serta areal diratakan
dan dirapikan kembali sesuai dengan petunjuk Direksi Pekerjaan.
Pengukuran dan pembayaran untuk pelaksanaan pekerjaan pembersihan tersebut
diatas, diperhitungkan dalam satuan (unit) m2, sedangkan harga satuan pekerjaan
yang ditawarkan, sudah harus meliputi upah tenaga, bahan material yang dipakai,
peralatan yang dipergunakan, overhead dan keuntungan Penyedia Jasa.
II. PEKERJAAN MOBILISASI DAN DEMOBILISASI
1. Lingkup Pekerjaan
a. Dalam daftar kuantitas disediakan biaya tetap untuk mobilisasi dan pembersihan
lapangan pada akhir pekerjaan.
Biaya ini termasuk :
- Biaya transportasi untuk personil, alat alat, penyediaan bahan bahan, dll. Yang
bertalian dengan tempat kerja.
- Untuk mendirikan kantor, gudang, instalasi, dan fasilitas lain di tempat pekerjaan.
- Sewa / beli alat alat.
b. Semua fasilitas, instalasi, dan alat alat yang didirikan atau dibawa ke lokasi
proyek, dianggap sebagai penyediaan untuk proyek, kecuali Direksi secara tertulis
menentukan lain untuk hal tersebut diatas.
Dalam hal ini Penyedia Jasa hanya bertanggung jawab agar penyediaan itu
mencukupi dan efisien, serta dapat melindungi, menjalankan, memperbaiki dan
mempersiapkan fasilitas instalasi dan alat alat. Alat alat tersebut tadi tidak boleh
dibongkar atau dipindahkan dari lapangan sebelum pekerjaan selesai tanpa izin
tertulis dari Direksi Pekerjaan.
c. Semua fasilitas, instalasi, dan alat alat dilapangan, juga menjadi wewenang
Direksi untuk memiliki dan menggunakannya untuk lingkup pekerjaan di Kontrak,
dan Penyedia Jasa membuat tanda pengesahan yang dapat diterima oleh Direksi
Pekerjaan.
2. Pembersihan Akhir
Jika pekerjaan telah selesai seluruhnya, Pemborong harus memindahkan semua
fasilitas, instalasi, dan alat alat dari proyek yang akan menjadi bagian yang
permanen dari bangunan lapangan akan diserahkan hingga memuaskan Direksi

dalam keadaan bersih bebas dari kotoran, material material yang sudah tak
digunakan dan alat alat bantu sementara.
3. Pembayaran
a. Pembayaran untuk mobilisasi dan pembersihan lapangan akhir harus dibuat atas
dasar harga lump sum dalam daftar kuantitas pekerjaan.
b. Kemajuan pembayaran harus dibuat sebagai berikut :
Jika 5 % dari total harga kontrak sudah diterima pembayarannya dari bagian
bagian lain dari lingkup pekerjaan, maka 45 % dari jumlah untuk mobilisasi dan
pembersihan lapangan akhir dapat dibayarkan apabila :
semua alat alat konstruksi atau yang disetujui untuk diganti telah dipenuhi 0 %
sampai 50 % seperti tercantum dalam proposal teknik dalam daftar lingkup
pekerjaan dan berada dilapangan, tak ada pembayaran untuk alat alat yang
didaftar tetapi tidak ada dilapangan.
c. Jika 50 % dari harga borongan telah dibayarkan dari lingkup pekerjaan yang lain,
maka sampai 45 % dari mobilisasi dan pembersihan lapangan dapat dibayarkan
kepada Pemborong apabila : semua alat alat konstruksi atau disetujui untuk
diganti sudah dipenuhi 50 % sampai 100 %, seperti tercantum dalam proposal
teknik dan dalam daftar lingkup pekerjaan, berada dilapangan dan dalam keadaan
bekerja.
d. Kemajuan Pembayaran untuk mobilisasi dan demobilisasi serta pembersihan
lapangan akhir akan dikenakan retensi 5 % dan retensi ini tidak akan dibayarkan
apabila kegiatan tersebut belum dilaksanakan sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

III. PEKERJAAN DEWATERING


1. Pembuatan dan pembongkaran kisdam
Kami akan bertanggung jawab terhadap pekerjaan pengeringan dilokasi pekerjaan
guna menjamin mutu, kemudahan dan kelancaran pelaksanaan pekerjaan dengan
membuat bangunan sementara yang berupa tanggul, bangunan / saluran pengelak,
bangunan pengamanan, penyediaan pompa air, dan lainnya untuk memindahkan
aliran air sehingga tidak menggenangi lokasi pekerjaan dan membongkar /
membersihkannya bila pekerjaan telah selesai dikerjakan.
Pekerjaan tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Pembuatan kistdam H > 0,50 m : untuk pembuatan kisdam pada pekerjaan di
saluran / bangunan / pekerjaan sejenis dengan tinggi muka air lebih besar 0,50 m
2. Pembongkaran kistdam : untuk pembongkaran kisdam pada pekerjaan di
saluran / bangunan / pekerjaan sejenis dengan tinggi muka air lebih besar 0,50 m
termasuk pembersihannya

Segala biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan kisdam ini sudah termasuk biaya
pengurasan / pengeringan, kecuali bila sudah disediakan secara tersendiri dalam
Daftar Kuantitas dan Harga, maka harga satuan tersebut dianggap sudah termasuk
dalam harga satuan dalam overhead pada analisa harga satuan pekerjaan.
2. Pengeringan atau Coffering dan Dewatering.
Pada bagian-bagian tertentu dari jenis pekerjaan yang dilaksanakan, areal
pekerjaan kadang-kadang suatu saat tidak bisa bebas sama sekali dari adanya air.
Pada keadaan ini, kami akan mengeringkan atau membebaskan areal pekerjaan
yang akan dipakai sebagai kedudukan Konstruksi dari genangan air atau pengaruh
air, karena bisa menyebabkan turunnya kwalitas pekerjaan akibat pengaruh air
tersebut.
Sebelum membuat suatu konstruksi penahan rembesan (kist dam) kami akan
membuat gambar rencana terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan Direksi
Pekerjaan.
Setelah pekerjaan konstruksi utama selesai dikerjakan, kami akan membongkar dan
membersihkan material kist dam sehingga tidak mengganggu aliran sungai.
Pada prinsipnya, selama masa pelaksanaan pekerjaan, semua lokasi yang akan
dipakai sebagai kedudukan bangunan harus dijaga agar tetap kering, bebas dari
genangan ataupun rembesan air.
Pekerjaan pengeringan yang dimaksud disini adalah, termasuk sistem drainase
lingkungan pekerjaan, sehingga tidak menimbulkan akibat sampingan negatif
terutama pada masyarakat dan lingkungan setempat.
Pekerjaan tersebut terbagi sebagai berikut :
1. Dewatering : untuk pekerjaan khusus pengeringan
2. Pembuatan coffering dan pengerigan : untuk membuat coffering dengan alat
berat termasuk pemompaan / pengeringannya pada pekerjaan di persungaian, dll
yang sejenis
3. Pembongkaran coffering : untuk membongkar pekerjaan tersebut pada point (2)
di atas termsuk pembersihannya
Perhitungan volume dan pembayaran untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut diatas,
diperhitungkan dalam satuan (unit) m3, sedangkan harga satuan pekerjaan yang
ditawarkan, sudah harus meliputi upah tenaga, bahan material yang dipakai,
peralatan yang dipergunakan.

IV. PEKERJAAN TANAH


RUANG LINGKUP

Pedoman ini menetapkan ketentuan dan persyaratan, metode kerja pelaksanaan,


pengendalian mutu serta pengukuran dan pembayaran.
Pedoman ini mencakup kegiatan penggalian, penanganan, pembuangan atau
penumpukan tanah atau batu atau bahan lain dari sumber bahan yang diperlukan
untuk penyelesaian dari pekerjaan dalam Kontrak ini untuk pekerjaan galian.
Pedoman ini mencakup kegiatan pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan
pemadatan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk pembuatan timbunan,
untuk penimbunan kembali galian pipa atau struktur dan untuk timbunan umum
yang diperlukan untuk membentuk dimensi timbunan sesuai dengan garis,
kelandaian, dan elevasi penampang melintang yang disyaratkan atau disetujui
untuk penyelesaian dari pekerjaan dalam Kontrak ini untuk pekerjaan timbunan.

2. ACUAN NORMATIF
Standar Nasional Indonesia (SNI) :
- SNI 03-1742-1989 : Metode Pengujian Kepadatan Ringan untuk Tanah
- SNI 03-1743-1989 : Metode Pengujian Kepadatan Berat Untuk Tanah.
- SNI 03-1966-1989 : Metode Pengujian Batas Plastis.
- SNI 03-1965-1990 : Metode Pengujian Kadar Air Tanah.
- SNI 03-1967-1990 : Metode Pengujian Batas Cair dengan Alat Casagrande.
- SNI 03-1976-1990 : Metode Koreksi untuk Pengujian Pemadatan Tanah yang
mengandung Butir Kasar
- SNI 03-2636-1992 : Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Tanah Untuk
Bangunan Sederhana
- SNI 03-2832-1992 : Metode Pengujian untuk Mendapatkan Kepadatan Tanah
Maksimum
- SNI 03-2828-1992 : Metode Pengujian Kepadatan Lapangan dengan Alat Konus
Pasir
- SNI 03-3422-1994 : Metode Pengujian Batas Susut Tanah
- SNI 03-3423-1994 : Metode Pengujian Analisis Ukuran Butir Tanah dengan Alat
Hidrometer.
- SNI 03-3422-1994 : Metode Pengujian Batas Susut Tanah

- SNI 03-3637-1994 : Metode Pengujian Berat Isi Tanah Berbutir Halus dengan
Cetakan Benda Uji

3. KETENTUAN, PERSYARATAN DAN PELAKSANAAN


3.1. Penebasan dan Pembersihan Semak Belukar
(1) Lingkup Pekerjaan
Yang dimaksud dengan pekerjaan ini adalah pekerjaan pembersihan dan
pembongkaran tanah dari pangkal/tunggul batang pohon, gelondongan kayu,
belukar dan tanaman lain serta bahan non-organik yang berupa pagar, bangunan,
fondasi, puing dan kotoran lainnya sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar
kerja atau dalam batas wilayah garis sempadan daerah/lokasi pekerjaan.
Sebelumnya kami minta persetujuan Pengguna Jasa sebelum pekerjaan ini
dilaksanakan terutama batas daerah yang akan ditebas dan dibersihkan, dan
pohon, bangunan dan obyek lainnya yang tidak boleh diganggu/dirusak serta
metoda kerja yang harus menjaga keutuhan tanaman dan bangunan diluar batas
daerah kerja. Bila metoda tebas-bakar dipilih kami.
dalam pelaksanaan pekerjaan, maka pengendalian, keamanan, dan penilaian atas
aspek lingkungan harus diperhatikan.
Untuk keperluan pengukuran dan pembayaran pekerjaan penebasan dan
pembersihan semak belukar diklasifikasikan sebagai berikut :

Tipe-A : semak belukar atau tanah pertanian sawah, tanaman pangan lain dan
buah-buahan,
Tipe-B : hutan ringan atau hutan sekunder termasuk perkebunan karet atau kelapa
sawit termasuk tanaman sela,
Tipe-C : hutan rimba atau hutan lebat yang masih asli,
Tipe-D : rumput, semak dan belukar untuk normalisasi saluran / sungai

Penjelasan berkaitan dengan hal diatas akan diberikan oleh Pengguna Jasa
berdasarkan kondisi lokasi pekerjaan.
Bila lahan dalam batas wilayah garis sempadan didominasi tanaman yang tingginya
kurang dari 2,0 m atau tanaman dengan diameter batas setinggi dada (DSD) kurang
dari 10 cm, maka pembukaan dan pembersihan lahan didaerah tersebut tidak dapat
dikategorikan sebagai pekerjaan penebasan dan pembersihan semak belukar
dalam Spesifikasi Teknik ini, tetapi sebagai pekerjaan stripping sesuai dengan
ketentuan dalam pengupasan tanah organik: lapisan rumput, tanah bagian atas,

akar-akaran dan bahan non-organik yaitu sisa bangunan, fondasi dan lain-lain serta
mengeluarkannya dari lokasi pekerjaan.
(2) Pengukuran dan Pembayaran
Pengukuran pekerjaan ini dilaksanakan dalam satuan luas meter persegi yang
diukur dalam batas wilayah garis sempadan dan pembayaran untuk pekerjaan ini
dilakukan berdasarkan harga satuan yang ditawarkan Penyedia Jasa dalam Daftar
Kuantitas dan Harga.

3.2. Pengupasan Tanah Lapis Atas (Stripping)


(1) Lingkup Pekerjaan
Yang dimaksud dengan pekerjaan pengupasan tanah lapis atas (stripping) adalah
pengupasan tanah lapis atas yang banyak mengandung bahan organik: rumput,
akar-akaran maupun bahan non-organik: sisa bangunan fondasi dan lain-lain dan
membuang material hasil kupasan tersebut dari lokasi pekerjaan saluran dan
bangunan dan lokasi pengambilan tanah bahan timbun (borrow-areat) atau lokasi
lain sesuai dengan gambar kerja atau printah Pengguna Jasa.
Pengupasan lapisan tanah bagian atas dilaksanakan setebal 20 cm atau sesuai
dengan gambar kerja kecuali bila ditentukan lain oleh Pengguna Jasa. Kami sebelum
melaksanakan pekerjaan ini terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan
Pengguna Jasa tentang batas wilayah yang tanah lapisan atasnya akan dikupas dan
lokasi pembuangan material hasil kupasan.
Klasifikasi pekerjaan sebagaimana tersebut di atas adalah sebagai berikut :
Tipe-A : dilaksanakan secara manual
Tipe-B : dilaksanakan secara mekanis/dengan alat berat
(2) Pengukuran dan Pembayaran
Prestasi kerja untuk pekerjaan ini diukur dalam satuan m-persegi (m2) yang
dihitung dari elevasi permukaan tanah asli sampai elevasi batas kupasan sesuai
dengan gambar kerja yang telah disepakati.
Pembayaran pekerjaan pengupasan lapisan tanah bagian atas ini dilakukan
berdasarkan harga satuan yang ditawarkan kami dalam Daftar Kuantitas dan Harga
kecuali dilokasi borrow-pit pengupasan tanah lapisan atas tidak dibayar.

3.3. Galian
(1) Umum

Pekerjaan galian yang dimaksud adalah galian tanah endapan, tanah biasa dan
galian batu termasuk pekerjaan lainnya yang berkaitan misalnya upaya
perlakuannya, jalan akses dan bangunan penunjang (separator, relokasi, bangunan
pengaman dan lain-lain) yang diperlukan serta pengangkutan material hasil galian
kelokasi yang disepakati untuk tempat pembuangan akhir atau penimbunan
sementara (stock piling) sebelum dimanfaatkan lebih lanjut.
Kami akan menyerahkan hasil uji laboratorium tanah yang akan digali, metoda kerja
pekerjaan galian termasuk peralatan yang digunakan, pengangkutan ke lokasi
pembuangan akhir atau penampungan sementara sebelum pemanfaatan untuk
bahan timbun, paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum pelaksanaan pekerjaan
galian.
Kami juga akan melaksanakan pekerjaan pengukuran dan pematokan bersama
Pengguna Jasa sesudah pekerjaan penebasan dan pembersihan semak belukar
selesai dikerjakan atau waktu yang lain sesuai dengan perintah Pengguna Jasa yang
hasilnya berupa gambar hasil pengukuran yang menunjukkan elevasi muka tanah,
tampang memanjang dan melintang harus diserahkan kepada Pengguna Jasa untuk
mendapatkan persetujuan.
Gambar-gambar hasil pengukuran pra-konstruksi diatas untuk selanjutnya
dipergunakan sebagai acuan dan dasar perhitungan kuantitas pekerjaan galian.
Sebisa mungkin kami juga akan mencegah dari kerusakan dan melindungi tanah
dibawah elevasi galian pekerjaan permanen: saluran dan bangunan agar tetap
dalam keadaan yang baik, kerusakan tanah pada tanah pondasi tersebut yang
disebabkan oleh kesalahan kami maka kami akan segera diperbaiki dengan
biayanya sendiri.
Kami sesegera mungkin akan memberitahu Pengguna Jasa bila pekerjaan galian
telah selesai dikerjakan untuk dilakukan pemeriksaan guna persetujuan sebelum
pekerjaan lanjutan/bangunan irigasi atau pengecoran beton dilaksanakan.
Penggunaan stockpiling dan pembuangan tanah hasil galian harus sesuai dengan
spesifikasi teknis ini
(2) Klasifikasi Galian
Pekerjaan galian diklasifikasikan sebagai pekerjaan galian tanah dan pekerjaan
galian batu sebagai berikut :
(a) Galian Tanah
Pekerjaan galian tanah yang dimaksud adalah galian tanah, sedimen/ endapan,
pasir, kerikil, kerakal, atau batu yang dapat digali dengan mudah tanpa
menggunakan alat khusus (ripper) atau peledakan termasuk upaya
penanganannya, pembentukan/perapian lubang galian agar sesuai dengan lokasi,
jalur, elevasi, kelandaian dan dimensi seperti yang telah ditetapkan dalam gambar
atau petunjuk/perintah Pengguna Jasa, serta pengangkutan material hasil galian ke
lokasi pembuangan akhir atau lokasi penampungan sementara sebelum
dipergunakan sebagai tanah bahan timbun.

Galian tanah diklasifikasikan dalam 5 (lima) tipe galian sesuai dengan kondisi dan
lokasi daerah penggalian sebagai berikut :
Tipe-A : galian untuk saluran, sungai, embung, jalan, drainasi dan galian tanah biasa
lainnya yang berada diatas permukaan air.
Tipe-B : galian tanah endapan / sedimen untuk normalisasi saluran/sungai/embung.
Tipe-C : galian tanah keras/cadas untuk fondasi bangunan Air dan bangunan
pelengkapnya serta pekerjaan sejenis.
Tipe-D : galian dibawah permukaan air pada sungai dan saluran pembuang alam /
buatan tanpa upaya pengeringan / pemompaan.
Tipe-E : galian dasar sungai untuk pembangunan bangunan Air antara lain :
Bendung, Ground Sill, Check Dam, Konsolidasi Dam, Revetment / Perkuatan tebing
Sungai, tanggul sungai, embung dan fasilitas lainnya, dimana tanah dilokasi galian
mengandung banyak kerikil, kerakal dan batu.
Semua tipe pekerjaan galian tersebut termasuk penanganannya dilokasi
pembuangan akhir/sementara, penghamparan dan pemadatan, perapihan dan
fasilitas drainasi;
(i) Galian Bangunan: Galian Tipe-C
Dimensi galian untuk bangunan air dan bangunan pelengkap yang diperhitungkan
dalam pembayaran pekerjaan tersebut dibatasi sesuai dengan ketentuan dibawah
ini, kecuali apabila karena suatu sebab ditentukan lain oleh Pengguna Jasa

Bangunan di lokasi tanah biasa Kemiringan atau


Dimensi Kondisi Galian
- Tebing/talud galian yang terbuka untuk sementara 1:1,0
1:0,5 - pasir dan kerikil
- bukan pasir & kerikil
- Tebing/talud galian yang terbuka secara permanen 1:1,0 - 1:1,5
1:2,0 - diatas muka air
- dibawah muka air
- Jarak horizontal batas galian dari tepi luar fondasi bangunan 0,5 m - Lebar berm pada setiap 3,0 m kedalaman galian 0,5 m -

Profil galian : dasar dan tebing yang telah selesai digali harus dirapikan dan
dipadatkan dan diperiksa Pengguna Jasa untuk mendapat persetujuan sebelum

bangunan diatasnya, konstruksi beton atau pasangan batu dilaksanakan, demikian


pula bila sewaktu-waktu tebing galian longsor akibat kegiatan peralatan berat atau
sebab lain karena kelalaian Penyedia Jasa.
Bila dalam metoda kerja galian diperlukan penimbunan sementara tanah hasil
galian (stock-piling) sebelum tanah tersebut diangkut kelokasi penimbunan
permanen sebagai tanggul atau bangunan permanen lainnya sehingga berakibat 2
(dua) kali kerja atau double-handling, maka biaya yang dikeluarkan oleh Penyedia
Jasa untuk kegiatan tersebut, dianggap sudah termasuk dalam harga satuan
pekerjaan galian atau timbunan.
(ii) Galian Borrow Area
Tanah yang baik untuk pekerjaan timbunan Tipe-B dan Tipe-C harus diambil dari
borrow-area yang disetujui Pengguna Jasa, dan kami berkewajiban membayar
segala pengeluaran biaya untuk pengadaan tanah bahan timbun tersebut termasuk
biaya pembelian/ganti rugi kepada pemilik tanah, pajak galian Tipe-C, royalti,
perijinan dan pengeluaran lainnya.
Kami akan menyerahkan hasil uji laboratorium untuk tanah dilokasi borrow-area
yang diusulkan kepada Pengguna Jasa guna mendapatkan persetujuan paling
lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum kegiatan galian borrow-area dilaksanakan.
Kegiatan galian borrow-area boleh dilakukan hanya bila telah mendapatkan
persetujuan Pengguna Jasa dan sesudah pekerjaan penebasan dan pembersihan
semak belukar dan pekerjaan pengupasan tanah lapis atas, telah selesai
dilaksanakan sehingga dijamin bahwa tanah bahan timbun benar-benar sudah
bersih dan bebas dari bahan organik.

(b) Galian Batu


(i) Galian Tipe-F, Galian Batu Lunak
Galian Tipe-F, galian batu lunak adalah galian batu yang dapat dilaksanakan dengan
menggunakan peralatan bantu tertentu misalnya ripping dozer, pick hammer, giant
breaker, excavator dan bulldozer tanpa menggunakan metoda kerja
peledakan/blasting.
Pekerjaan galian Tipe-F, sudah termasuk pengangkutan batu hasil galian ke lokasi
pembuangan yang disediakan oleh kami dan disetujui Pengguna Jasa.
(ii) Galian Tipe-G, Galian Batu Keras
Galian Tipe-G, galian batu keras adalah galian batu yang berada dilokasi pekerjaan
berupa lapisan batuan masif, padat, dan kokoh atau berupa batuan lepas dengan
volume masing-masing lebih dari 1,0 meter kubik dengan diameter lebih dari 0,30
m yang tidak dapat dipisahkan tanpa peledakan atau dengan bulldozer dan
peralatan berat lainnya. Batuan seperti ini dapat disebut juga sebagai sound-rock
yang karena keras dan susunan teksturnya tidak dapat dipecah dengan hand pickhammer.

Klasifikasi batu tersebut diatas akan diputuskan oleh Pengguna Jasa berdasarkan
kondisi di lapangan, antara lain bila perlu dilakukan uji-coba produktivitas peralatan.
Pekerjaan galian batu Tipe-G, dianggap sudah termasuk biaya untuk pengangkutan
batu hasil galian ke lokasi pembuangan yang disediakan kami dan disetujui
Pengguna Jasa.
Galian tersebut di atas diklasifikasikan sebagai berikut :
- Galian Type G.1 : (batu keras) dengan alat berat
- Galian Type G.2 : (batu keras) dengan peledakan

(3) Pemanfaatan, Penampungan Sementara (Stock piling) dan Pembuangan Tanah


Hasil Galian (Use, Stockpilling and Disposal of Excavated Materials)
(a) Pemanfaatan dan Pembuangan Tanah Hasil Galian
(i) apabila tanah hasil galian Tipe-A, Tipe-D dan Tipe-E memenuhi syarat sebagai
bahan timbunan sesuai dengan ketentuan dalam Spesifikasi ini, maka tanah hasil
galian tersebut harus dimanfaatkan untuk bangunan permanen seperti tanggul,
timbunan jalan, saluran dan bangunan.
Bila berdasarkan hasil uji laboratorium tanah hasil galian terdiri dari 2 (dua) jenis
tanah yang memenuhi dan tidak memenuhi spesifikasi sebagai tanah bahan
timbun, kami akan berupaya agar kedua jenis tanah tersebut tidak bercampur bila
tanah yang memenuhi spesifikasi akan dipergunakan dalam konstruksi sesuai
dengan perintah.
Tanah hasil galian yang memenuhi syarat pada umumnya sebagai berikut :
Diameter butiran (partikel) maksimum 100 mm
Plasticity Index (PI), lebih besar dari 15%.
Tanah hasil galian yang tidak memenuhi syarat untuk bahan timbun :
Tanah lapis atas yang mengandung banyak bahan organik.
Plasticity Index (PI) kurang dari 15%.
Liquid Limit (LL) lebih dari 50%
Diameter butiran lebih dari 100 mm
Batu lunak dan batu keras.
Persetujuan Pengguna Jasa terhadap pemanfaatan tanah hasil galian untuk
keperluan pekerjaan permanen, tanggul, urugan kembali dan lainnya akan diberikan
berdasarkan hasil uji laboratorium tanah galian yang dikerjakan dan diserahkan oleh
kami, tidak hanya persyaratan diatas.

Bila tanah yang sudah disepakati sebagai bahan timbun terlalu basah dengan
kandungan air melampaui kadar air optimum hasil uji laboratorium (Standard
Proctor Test), maka tanah tersebut harus ditampung untuk sementara waktu
dilokasi yang telah kami sediakan dan disetujui Pengguna Jasa yang dilengkapi
dengan fasilitas drainasi, guna mendapat perlakuan khusus: penghamparan,
pengeringan dan lain-lain untuk menurunkan kadar airnya sampai memenuhi
persyaratan sebagai tanah bahan timbunan.
Kelebihan tanah hasil galian harus dibuang ke lokasi pembuangan yang telah kami
sediakan dan telah disetujui Pengguna Jasa. Penimbunan tanah buangan paling
tinggi 2,0 m dan tidak diperbolehkan mengganggu lingkungan disekitarnya.
Bila dianggap perlu kami akan menutup timbunan hasil buangan dengan tanah
yang baik bila menurut Pengguna Jasa timbunan hasil galian tersebut berdampak
negatif terhadap lingkungan disekitarnya, (ii) Hasil galian tanah endapan Tipe-B dari
pekerjaan normalisasi saluran / sungai harus dibuang di lokasi yang disediakan
Penyedia Jasa diluar daerah kerja sesuai dengan ketentuan seperti yang diuraikan
diatas.
(b) Pembuangan Batu Hasil Galian
Batu lunak hasil galian Tipe-F dan batu keras hasil galian Tipe-G dibuang keluar
daerah kerja dilokasi yang telah kami sediakan, kecuali bila ditentukan lain oleh
Pengguna Jasa .
Penimbunan batu hasil galian tersebut harus dibatasi paling tinggi 2,0 m dan tidak
diperbolehkan mengganggu pekerjaan dan tidak berdampak negatif terhadap
lingkungan disekitarnya dengan biaya menjadi tanggung jawab sepenuhnya
Penyedia Jasa.
(c) Pemilahan dan Pembuangan Tanah Borrow Area
Lokasi borrow area dan pemanfaatan tanahnya sebagai tanah bahan timbunan
harus mendapat persetujuan Pengguna Jasa sebelum galian borrow area
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan bila berdasarkan hasil uji laboratorium
tanah borrow area ternyata terdiri dari tanah yang memenuhi syarat dan tanah
yang tidak memenuhi syarat sebagai bahan untuk timbunan maka kami akan
melaksanakan pemilahan pada waktu penggalian tanah borrow area sehingga tanah
yang akan dimanfaatkan untuk timbunan/pekerjaan permanen tidak terkontaminasi
dan membuang tanah yang tidak memenuhi syarat sebagai bahan timbunan di
lokasi yang telah kami sediakan sesuai dengan ketentuan

(4) Pengukuran dan Pembayaran untuk Galian


(a) Galian Tanah
(i) Pekerjaan galian tanah Tipe-A, Tipe-D, dan Tipe-E diukur dalam satuan meter
kubik (m3) galian tanah dan kupasan tanah lapisan atas, sesuai dengan dimensi

dan kemiringan yang ditunjukkan dalam gambar kerja dan telah diselesaikan
dengan rapi.
Pembayaran untuk pekerjaan galian tanah Tipe-A, Tipe-D dan Tipe-E dilaksanakan
sesuai dengan harga satuan dalam Daftar Kuantitas dan Harga yang sudah
termasuk biaya untuk pekerja, peralatan, bahan bangunan dan semua pekerjaan
penunjang dan upaya lain untuk kelancaran pelaksanaan yang diperlukan untuk
pekerjaan galian, pengangkutan hasil galian ke lokasi pembuangan atau lokasi
penampungan sementara (stock-pile), perapian tebing galian, jalan akses
sementara, pengeringan/pemompaan dan lain-lain.
Yang termasuk dalam pembayaran Galian Tipe-A, Tipe-D dan Tipe-E adalah sebagai
berikut :
(1) Galian Tipe-A :
Galian Type-A.1 terdiri :
- biaya menggali tanah biasa dengan kedalaman kurang dari 1 m secara manual
- ongkos mengangkut untuk bahan timbunan / dibuang disekitarnya dengan jarak <
30 m dan
- perapihan
Galian Type-A.2 terdiri :
- biaya menggali tanah biasa dengan kedalaman < 1 m secara manual
- ongkos mengangkut untuk bahan timbunan / dibuang disekitarnya dengan jarak >
30 m 50 m dan
- perapihan
Galian Type-A.3 terdiri :
- biaya menggali tanah biasa dengan kedalaman >1 m3 m secara manual
- ongkos mengangkut untuk bahan timbunan / dibuang disekitarnya dengan jarak <
30 m dan
- perapihan
Galian Type-A.4 terdiri :
- biaya menggali tanah biasa dengan kedalaman >1 m3 m secara manual
- ongkos mengangkut untuk bahan timbunan / dibuang disekitarnya dengan jarak >
30 m 50 m dan
- perapihan
Galian Type-A.5 terdiri :
- Biaya menggali tanah biasa dengan alat berat

- Membuang / membawa sebagai bahan timbunan sesuai yang ditentukan oleh


Direksi Pekerjaan
- biaya alat dan penunjangnya antara lain Excavator, Bulldozer, dll yang sejenis
sesuai kebutuhan dilapangan
- perapihan
(2) Galian Tipe-D terdiri :
- Biaya menggali tanah/endapan didalam air tanpa adanya pengeringan dengan alat
berat
- Membuang / membawa sebagai bahan timbunan sesuai yang ditentukan oleh
Direksi Pekerjaan
- biaya alat dan penunjangnya antara lain Excavator, Ponton, Bulldozer, dll yang
sejenis sesuai kebutuhan dilapangan
- perapihan
(3) Galian Tipe-E :
Galian Type-E.1 terdiri :
- biaya menggali tanah keras / cadas dengan kedalaman kurang dari 1 m secara
manual
- ongkos mengangkut untuk dibuang disekitarnya dengan jarak < 30 m dan
- perapihan
Galian Type-E.2 terdiri :
- biaya menggali tanah keras / cadas dengan kedalaman < 1m secara manual
- ongkos mengangkut untuk dibuang disekitarnya dengan jarak > 30 m 50 m dan
- perapihan
Galian Type-E.3 terdiri :
- biaya menggali tanah keras / cadas dengan kedalaman > 1m3m secara manual
- ongkos mengangkut untuk dibuang disekitarnya dengan jarak < 30 m dan
- Perapihan
Galian Type-E.4 terdiri :
- biaya menggali tanah keras / cadas dengan kedalaman > 1m3m secara manual
- ongkos mengangkut untuk dibuang disekitarnya dengan jarak > 30 m-50 m dan
- Perapihan
Galian Type-E.5 terdiri :

- Biaya menggali tanah keras / cadas dengan alat berat


- Membuang pada lokasi sesuai yang ditentukan oleh Direksi Pekerjaan
- biaya alat dan penunjangnya antara lain Excavator, Bulldozer, dll yang sejenis
sesuai kebutuhan dilapangan
- perapihan
(ii) Pekerjaan galian tanah Tipe-B diukur dalam satuan meter kubik (m3) galian
tanah endapan (sedimen) pekerjaan sungai / saluran yang diperhitungkan
berdasarkan hasil pengukuran (setting-out survey), gambar kerja dan pekerjaan
yang telah diselesaikan dengan rapi.
Pembayaran pekerjaan galian Tipe-B dilaksanakan berdasarkan harga satuan dalam
Daftar Kuantitas dan Harga yang sudah termasuk semua biaya untuk pekerja,
peralatan, bahan dan pekerjaan penunjang dan upaya lain yang diperlukan untuk
kelancaran pekerjaan galian, angkutan dan pembuangan tanah hasil galian
termasuk landasan kerja untuk alat berat di atas tanah lembek, jalan akses
sementara, relokasi saluran/bangunan pengelak, partisi, pengeringan/pemompaan
dan lain-lain.
Yang dimaksud dalam Pembayaran Galian Tipe-B adalah sebagai berikut :
Galian Type-B.1 terdiri :
- biaya menggali tanah endapan / sedimen dengan kedalaman kurang dari 1 m
secara manual
- ongkos mengangkut untuk membuang disekitarnya dengan jarak < 30 m dan
- perapihan
Galian Type-B.2 terdiri :
- biaya menggali tanah endapan / sedimen dengan kedalaman < 1m secara manual
- ongkos mengangkut untuk dibuang disekitarnya dengan jarak > 30 m 50 m dan
- perapihan
Galian Type-B.3 terdiri :
- biaya menggali tanah endapan / sedimen dengan kedalaman >1m3 m secara
manual
- ongkos mengangkut untuk dibuang disekitarnya dengan jarak < 30 m dan
- Perapihan
Galian Type-B.4 terdiri :
- biaya menggali tanah endapan / sedimen dengan kedalaman >1m3 m secara
manual

- ongkos mengangkut untuk dibuang disekitarnya dengan jarak > 30 m-50 m dan
- Perapihan
Galian Type-B.5 terdiri :
- Biaya menggali tanah endapan / sedimen dengan alat berat
- Membuang pada lokasi sesuai yang ditentukan oleh Direksi Pekerjaan
- biaya alat dan penunjangnya antara lain Excavator, Bulldozer, dll yang sejenis
sesuai kebutuhan dilapangan
- perapihan
(b) Galian Bangunan, Galian Tipe-C
Galian bangunan sebagai salah satu jenis pekerjaan dalam Daftar Kuantitas dan
Harga, diukur dalam satuan meter kubik (m3) yang diperhitungkan dari permukaan
tanah asli atau permukaan tanah yang telah dikupas lapisan atasnya sampai ke
garis dan elevasi galian yang ditunjukkan dalam gambar kerja atau sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan dalam spesifikasi ini.
Pembayaran pekerjaan galian bangunan/galian Tipe-C dilaksanakan berdasarkan
harga satuan pekerjaan ini dalam Daftar Kuantitas dan Harga, tetapi bila tidak ada
jenis pekerjaan galian bangunan/galian Tipe-C dalam Daftar Kuantitas dan Harga,
maka harga untuk pekerjaan ini dianggap sudah termasuk dalam harga satuan
pekerjaan tanah dalam Daftar Kuantitas dan Harga.
Harga satuan pekerjaan ini sudah termasuk semua biaya untuk pekerja, peralatan,
bahan, pengukuran, angkutan dan pembuangan, perapian dan pencegahan dari
longsoran tebing, perapian, penampungan sementara dan pemanfaatannya sebagai
bahan untuk timbunan tanah dan pekerjaan lainnya kecuali bila ditetapkan secara
terpisah dalam Daftar Kuantitas dan Harga ialah jalan akses sementara, relokasi
saluran dan pengamanannya, pengeringan, pekerjaan partisi dan lain-lain.
Yang dimaksud dalam Pembayaran Galian Tipe-C adalah sebagai berikut :
Galian Type-C.1 terdiri :
- biaya menggali tanah keras / cadas dengan kedalaman kurang dari 1m secara
manual
- ongkos mengangkut untuk dibuang disekitarnya dengan jarak < 30 m dan
- perapihan
Galian Type-C.2 terdiri :
- biaya menggali tanah keras / cadas dengan kedalaman < 1 m secara manual
- ongkos mengangkut untuk dibuang disekitarnya dengan jarak > 30 m 50 m dan
- perapihan

Galian Type-C.3 terdiri :


- biaya menggali tanah keras / cadas dengan kedalaman >1 m3 m secara manual
- ongkos mengangkut untuk dibuang disekitarnya dengan jarak < 30 m dan
- Perapihan
Galian Type-C.4 terdiri :
- biaya menggali tanah keras / cadas dengan kedalaman >1 m3 m secara manual
- ongkos mengangkut untuk dibuang disekitarnya dengan jarak > 30 m-50 m dan
- Perapihan
Galian Type-C.5 terdiri :
- Biaya menggali tanah keras / cadas dengan alat berat
- Membuang pada lokasi sesuai yang ditentukan oleh Direksi Pekerjaan
- biaya alat dan penunjangnya antara lain Excavator, Bulldozer, dll yang sejenis
sesuai kebutuhan dilapangan
- perapihan
(c) Galian Batu
Galian batu lunak dan galian batu keras diukur dalam satuan meter kubik (m3) yang
diperhitungkan mulai dari permukaan batu sampai ke garis dan elevasi galian yang
sudah dirapikan sesuai dengan gambar kerja. Penetapan tentang jenis galian batu
weathered rock dan galian batu sound rock sesuai ketentuan dalam spesifikasi ini,
garis batas antara kedua jenis galian batu ditetapkan oleh Pengguna Jasa.
Pembayaran untuk galian batu lunak dan galian batu keras akan dilakukan sesuai
dengan harga satuan jenis pekerjaan tersebut dalam Daftar Kuantitas dan Harga.
Harga tersebut dianggap sudah termasuk semua biaya untuk pekerja, peralatan,
bahan, pengukuran, galian, angkutan dan pembuangan, perapian dan pencegahan
longsoran tebing galian dan upaya lainnya kecuali bila sudah ditetapkan dalam
Daftar Kuantitas dan Harga misalnya jalan akses sementara, relokasi saluran dan
bangunan pengelak/pengaman, pengeringan/pemompaan, partisi dan lain-lain.
Harga satuan pekerjaan galian batu keras sudah termasuk biaya untuk peledakan
batu dan upaya lainnya yang diperlukan kelancaran pelaksanaan.
Yang dimaksud dalam Pembayaran Galain Type F dan G adalah sebagai berikut :
Galian Type-F terdiri :
- Biaya menggali batu lunak dengan alat berat
- Mengangkut / memmbuang pada lokasi sesuai yang ditentukan oleh Direksi
Pekerjaan

- biaya alat dan penunjangnya antara lain Excavator, wheel loader, giant breaker dll
yang sejenis sesuai kebutuhan dilapangan
- perapihan
Galian Type-G.1 terdiri :
- Biaya menggali batu keras dengan alat berat
- Mengangkut / memmbuang pada lokasi sesuai yang ditentukan oleh Direksi
Pekerjaan
- biaya alat dan penunjangnya antara lain Excavator, Bulldozer, wheel loader pick
hammer, giant breaker dll yang sejenis sesuai kebutuhan dilapangan
- perapihan
Galian Type-G.2 terdiri :
- Biaya menggali batu keras dengan peledkan / blasting
- Mengangkut / memmbuang pada lokasi sesuai yang ditentukan oleh Direksi
Pekerjaan
- biaya alat, bahan dan penunjangnya antara lain Explosive dinamite, detonator,
Excavator, Bulldozer, dump truck, dll yang sejenis sesuai kebutuhan dilapangan
- perapihan
(d) Galian Borrow-area
Galian tanah borrow area diukur dalam satuan meter kubik (m3) untuk tanah
timbunan yang dipadatkan sebagai pekerjaan timbunan (permanen) Tipe-B dan
Tipe-C, sesuai dengan ketentuan dalam spesifikasi ini.
Pembayaran untuk galian tanah borrow-area sudah termasuk dalam harga satuan
pekerjaan timbunan Tipe-B dan Tipe-C.

3.4. Timbunan Tanah


(1) Jenis Timbunan
Pekerjaan timbunan tanah adalah semua jenis pekerjaan timbunan tanah yang
dilaksanakan untuk terwujudnya konstruksi permanen : saluran, jalan inspeksi,
pekerjaan timbunan bagian dari bangunan konstruksi yang tanahnya berasal dari
pekerjaan galian atau borrow-area dan berdasarkan hasil uji laboratorium
memenuhi syarat dan spesifikasi teknik serta sudah mendapat persetujuan
Pengguna Jasa sebelum pekerjaan timbunan dilaksanakan.
Kami akan menyampaikan metoda kerja pekerjaan timbunan kepada Pengguna Jasa
termasuk semua kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan tersebut
untuk mendapatkan persetujuan sebelum dilaksanakan.

Pekerjaan timbunan harus dilaksanakan sesuai dengan jalur, dimensi, elevasi dan
kemiringan timbunan yang ditetapkan dalam gambar kerja yang telah disepakati.
Kecuali bila ada ketentuan lain, Penyedia Jasa harus menambah timbunan
tambahan (extra filling), lima persen (5%).
(a) Jenis Timbunan Berdasarkan Jarak Angkut
Tipe-A : pekerjaan timbunan dengan tanah yang berasal dari pekerjaan galian
disekitarnya.
Tipe-B : pekerjaan timbunan dengan tanah yang berasal dari borrow-pit atau dari
pekerjaan galian dengan jarak angkut sesuai dengan yang ditentukan dalam Daftar
Kuantitas dan Harga. Kecuali bila ada ketentuan lain, pada umumnya semua jenis
pekerjaan timbunan termasuk kategori Tipe-B ini.
Tipe-C : pekerjaan timbunan di lokasi dengan tanah fondasi yang lembek dan muka
air tanah yang tinggi, tanah untuk bahan timbunan berasal dari borrow-area dengan
jarak angkut sesuai dengan yang ditentukan dalam Daftar Kuantitas dan Harga.
Timbunan Tipe-C hanya diterapkan dibagian pekerjaan seperti yang ditunjukkan
dalam gambar kerja atau atas perintah Pengguna Jasa .
(b) Jenis/Kelompok Pekerjaan Timbunan Berdasarkan Pemadatan
(i) Pemadatan Ringan (Tipe-A1, B1, C1)
Pekerjaan timbunan tanah untuk mengganti tanah yang asli, sebagai bangunan
penyangga beban (counter-weight) dan pekerjaan timbunan lainnya sesuai dengan
perintah Pengguna Jasa .
Tingkat kepadatan untuk pekerjaan timbunan dengan pemadatan ringan harus tidak
boleh kurang dari 85% kepadatan kering maksimum (85% MDD, maximum dry
density).
Pekerjaan timbunan dengan pemadatan ringan terdiri dari 3 (tiga) golongan :
- Tipe-A1, menggunakan tanah dari hasil pekerjaan galian
- Tipe-B1, menggunakan tanah dari borrow-area
- Tipe-C1, menggunakan tanah dari luar

(ii) Pemadatan Biasa/Normal (Tipe-A2, B2, C2) :


Pekerjaan timbunan tanah untuk saluran, tanggul, jalan, timbunan untuk bangunan
irigasi dan bangunan pelengkap dan konstruksi permanen lainnya yang
diperintahkan Pengguna Jasa .
Tingkat kepadatan untuk kelompok pekerjaan timbunan dengan pemadatan biasa
harus tidak boleh kurang dari 95% kepadatan kering maksimum (95% MDD,
maximum dry density) sesuai dengan ketentuan dalam ASTM D-698 atau SNI.

Kelompok pekerjaan timbunan dengan pemadatan biasa terdiri dari 4 (empat)


golongan ialah :
- Tipe-A2, menggunakan tanah dari hasil pekerjaan galian
- Tipe-B2, menggunakan tanah dari borrow-area
- Tipe-C2, menggunakan tanah dari luar
- Tipe-D, pemadatan menggunakan alat berat

(2) Penghamparan, Perlakuan dan Pemadatan


(a) Uji Coba Timbunan
Sebelum pekerjaan timbunan untuk konstruksi yang permanen akan dilaksanakan,
terlebih dahulu mengerjakan uji coba pelaksanaan pekerjaan timbunan dilapangan
menggunakan tanah bahan timbunan, peralatan, tenaga kerja dan metoda kerja
yang sudah mendapat persetujuan Pengguna Jasa sebelumnya.
Uji coba timbunan ini dimaksudkan guna memilih metoda kerja untuk pekerjaan
timbunan yang efisien berdasarkan jumlah peralatan yang dipergunakan, tebal
lapisan yang dipadatkan, jumlah lintasan alat pemadat serta tingkat kepadatan
yang dicapai yang harus memenuhi Spesifikasi Teknik ini.
Metoda kerja yang disetujui oleh Pengguna Jasa tidak dapat dipakai alasan bagi
Penyedia Jasa untuk lepas tanggung jawab terhadap tingkat kepadatan dan kinerja
pekerjaan timbunan.
Apabila karena suatu sebab perlu dilakukan perubahan metoda kerja atau tanah
bahan timbunan dari lokasi borrow pit lainnya, Penyedia Jasa wajib melakukan uji
coba timbunan ulang.
Bila uji coba timbunan tersebut dilaksanakan dilokasi tanggul, saluran, jalan atau
pekerjaan permanen lainnya, maka hasil uji coba tersebut dapat dibayar sebagai
bagian dari pekerjaan timbunan bila menurut pertimbangan Pengguna Jasa telah
memenuhi persyaratan. Sebaliknya bila hasil tes kepadatan uji coba timbunan tidak
memenuhi ketentuan dalam Spesifikasi ini, maka timbunan hasil uji coba tersebut
harus dibongkar oleh Penyedia Jasa dari lokasi pekerjaan.
(b) Fondasi Timbunan
(i) Tipe-A, dan Tipe-B
Sebelum timbunan tanah dilaksanakan, permukaan tanah fondasinya harus terlebih
dulu dikupas sesuai dengan ketentuan. Spesifikasi Teknik ini. Selanjutnya
permukaan tanah yang telah dibersihkan dari humus dan bahan organik lainnya,
dicangkul/dibajak sedalam tidak kurang dari 15 cm merata pada seluruh
permukaan, sebelum lapis pertama (1) tanah bahan timbunan dihamparkan.

Biaya yang dikeluarkan oleh Penyedia Jasa untuk pekerjaan diatas dianggap sudah
termasuk dalam harga satuan pekerjaan timbunan yang ditawarkannya dalam
Daftar Kuantitas dan Harga.
(ii) Tipe-C
Untuk pekerjaan timbunan dengan tanah fondasi yang lembek dan muka air tanah
yang tinggi, sesudah perlakuan terhadap permukaan tanah fondasi selesai
dikerjakan seperti yang dijelaskan spesifikasi teknis ini maka upaya pengeringan
dengan pompa air perlu dilaksanakan paling tidak 2 (dua) jam sebelum pekerjaan
timbunan dikerjakan.
Selama pekerjaan timbunan dikerjakan, tinggi muka air tanah harus tetap dijaga
paling sedikit 30 cm dibawah permukaan timbunan, dan
bila permukaan tanah timbunan tergenang maka permukaan tanah tersebut harus
dikupas setebal paling sedikit 5 cm atau sesuai dengan perintah Pengguna Jasa dan
kemudian dicangkul/dibajak sedalam 15 cm seperti yang telah diuraikan.
(c) Penghamparan, Pengendalian Kadar Air, dan Pemadatan Tanah
(i) Penyedia Jasa wajib menyerahkan metoda kerja termasuk peralatan yang
dipergunakan kepada Pengguna Jasa untuk mendapatkan persetujuan sebelum
timbunan tanah dikerjakan. Sebelum timbunan lapisan pertama dihampar
dipermukaan tanah fondasi, perlakuan terhadap permukaan tanah fondasi seperti
diuraikan harus terlebih dahulu diselesaikan.
Permukaan tanah asli atau timbunan lama harus dibuat bertangga sesuai dengan
yang ditunjukkan dalam gambar kerja atau perintah Pengguna Jasa sebelum
penghamparan tanah bahan timbunan dikerjakan.
Untuk lereng timbunan lama yang akan digali dengan bertangga, terlebih dahulu
permukaan lereng tersebut harus dikupas dan dibersihkan dari bahan organik,
setelah selesai baru kemudian dibuat bertangga, sehingga tanggul yang baru dapat
sepenuhnya menyatu dengan tanggul/timbunan yang lama.
Penghamparan tanah bahan timbunan secara mendatar dengan tebal tidak boleh
lebih dari 30 cm atau harus sesuai dengan hasil uji coba timbunan tanah yang
berbentuk bongkah-bongkah harus dipecah-pecah sebelum dipadatkan. Tidak
diperkenankan memperlebar timbunan tanah dengan cara mencurahkan tanah
lepas dari atas timbunan lama.

(ii) Kadar air tanah bahan timbunan harus dijaga agar disekitar kadar air optimum
dengan toleransi + 3% sampai -5% dari kadar air optimum hasil uji laboratorium
atau ketentuan lain atas perintah Pengguna Jasa berdasarkan soil-properties tanah
tersebut.
Pemadatan harus dikerjakan hingga tingkat kepadatan timbunan mencapai 95%
kepadatan kering maksimum untuk pemadatan biasa/normal dan 85% untuk
pemadatan ringan sesuai dengan ketentuan

Untuk lereng timbunan yang akan diperkuat dengan lapisan/talud beton, sebelum
talud beton dipasang/dicor, lereng timbunan terlebih dahulu harus dirapikan dan
dipadatkan dengan tamping-rammer atau alat lain yang disetujui Pengguna Jasa
sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan dalam gambar kerja.
(3) Pengukuran
(a) Pengukuran
Pengukuran untuk pembayaran pekerjaan timbunan Tipe-A1, A2, B1, B2, C1, C2 dan
D dilakukan dalam satuan meter-kubik (m3) timbunan padat yang diukur
berdasarkan tampang memanjang, tampang melintang, elevasi, kemiringan, dan
jarak sesuai dengan gambar kerja yang telah disepakati dan hasil pengukuran
prestasi kerja yang terakhir termasuk timbunan Tipe-D, dengan memperhatikan
settlement dan subsidence tanah fondasi yang masih berlanjut.

3.5. Timbunan/Urugan Kembali


Pekerjaan urugan kembali harus dikerjakan sesuai dengan gambar kerja yang
disepakati atau atas perintah Pengguna Jasa, berdasarkan tujuannya urugan
kembali digolongkan dalam 2 (dua) tipe, ialah :
Tipe-A : urugan kembali tanpa pengendalian pemadatan yang ketat, dimaksudkan
untuk saluran pengelak sementara dan lokasi lain yang ditetapkan Pengguna Jasa .
Tipe-B : urugan kembali untuk bangunan :bendung, saluran irigasi,drainasi, sungai
dan di lokasi lain sesuai dengan perintah Pengguna Jasa dengan pemadatan
biasa/normal seperti yang diuraikan dalam spesifikasi ini.
Kami akan menyampaikan metoda kerja, bahan dan peralatan yang direncanakan
akan digunakan, kepada Pengguna Jasa untuk mendapatkan persetujuan sebelum
pekerjaan urugan/timbunan tanah kembali dilaksanakan :
Tipe-A : tanah bahan timbunan berasal dari tanah hasil pekerjaan galian dilokasi
bangunan atau lokasi lain sesuai persetujuan Pengguna Jasa .
Tipe-B.1 : - tanah bahan timbunan harus berasal dari tanah hasil pekerjaan galian
atau dari borrow-pit yang memenuhi syarat sebagai tanah bahan timbun
berdasarkan hasil uji laboratorium dan atas persetujuan/perintah Pengguna Jasa .
- dikerjakan paling sedikit 14 (empat belas) hari sesudah pekerjaan beton untuk
struktur selesai dilaksanakan.
- dikerjakan lapis demi lapis dengan tebal lapisan berdasarkan hasil uji coba yang
tergantung dari material/ tanah bahan timbunan, peralatan yang dipergunakan dan
jumlah lintasannya.
- pada umumnya tebal lapisan urugan kembali yang telah dipadatkan tidak boleh
lebih dari 30 cm.

- kadar air tanah bahan timbunan berkisar antara + 3% sampai -5% dari kadar air
optimum berdasarkan hasil uji laboratorium dengan tingkat kepadatan 95%
kepadatan kering maksimum sesuai dengan kriteria ASTM D-968.
- pemadatan dengan menggunakan Baby roller / stamper atau Alat Pemadat yang
disetujui Pengguna Jasa .
Tipe-B.2 : sesuai Tipe-B.1 proses penimbunan dengan excavator dan pemadatan
dengan alat berat lainnya.
Pengukuran untuk pekerjaan timbunan / urugan kembali Tipe-A dilakukan dalam
satuan meter kubik (m3) yaitu volume yang diukur mulai dari garis batas pekerjaan
galian dan dinding/permukaan paling luar bangunan atau elevasi yang telah
ditetapkan yang tidak melampaui elevasi permukaan tanah asli atau berdasarkan
data hasil pengukuran sebelum dan segera setelah pekerjaan urugan kembali
selesai dikerjakan diatas fondasi tanah lembek dimana settlement dan land
subsidence masih terus berlanjut atau sesuai perintah Pengguna Jasa .
Kecuali bila ditetapkan lain oleh Pengguna Jasa , biaya untuk urugan kembali TipeB.1 dan B.2 sudah termasuk dalam harga Lump Sum dalam Daftar Kuantitas dan
Harga. Tapi bila berdasarkan perintah Pengguna Jasa , pembayaran pekerjaan
urugan kembali Tipe-B.1 dan B.2 harus dilakukan berdasarkan harga satuan maka
pembayarannya dilakukan berdasarkan volume pekerjaan tersebut yang diperoleh
dari data pengukuran sebelum dan sesudah selesainya pekerjaan yang memuaskan
Pengguna Jasa .
Pembayaran pekerjaan urugan kembali dilakukan berdasarkan harga yang
tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga yang sudah termasuk biaya untuk :
galian, angkutan, re-handling, penghamparan, pengendalian kadar air, pemadatan,
perapian dan biaya lain termasuk, upah, bahan, peralatan serta pekerjaan
penunjang yang diuraikan dalam Sub-bagian A.
Pembayaran tersebut diatas adalah :
- Timbunan tanah Tipe-A : dari hasil galian (Manual)
- Timbunan tanah Tipe-B1: dari hasil galian (Mekanis)
- Timbunan tanah Tipe-B2: dari hasil galian dengan alat berat

CATATAN :
- Yang dimaksud dengan Manual adalah proses pemadatan yang dilaksanakan
secara manual dengan menggunakan tenaga manusia dengan alat pemadat
timbris, dll, sejenis
- Yang dimaksud dengan Mekanis adalah proses pemadatan yang dilaksanakan
secara mekanis yaitu dengan menggunakan peralatan antara lain : baby roller,
stamper, dll.

- Sedangkan yang dimaksud Alat Berat adalah proses pemadatan dengan alat berat
antara lain dengan menggunakan peralatan : Excavator, Bulldozer, wheel loader,
compaction roller, dll sejenis

3.6 Perkerasan Jalan


Pada umumnya jalan yang akan dibangun atau ditingkatkan adalah jalan inspeksi,
kecuali bila diperlukan jalan penghubung dan jalan akses/masuk ke lokasi
pekerjaan. Konstruksi perkerasan jalan, tampang melintang sesuai dengan yang
diperlihatkan dalam gambar lelang.
Spesifikasi teknik pekerjaan perkerasan jalan diuraikan/ditentukan dalam Pekerjaan
Batu spesifikasi ini.

3.7. Pengangkutan Tanah Bahan Timbunan dan Sisa Galian


Penyedia Jasa wajib menyerahkan metoda kerja untuk pengangkutan tanah bahan
timbunan dari lokasi borrow-pit dan/atau galian serta pembuangan sisa galian
dan/atau tanah yang tidak memenuhi syarat sebagai bahan timbunan ke lokasi
pembuangan yang
disediakan oleh Penyedia Jasa, paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum
dikerjakan kepada PPK untuk mendapatkan persetujuan.
Metoda kerja tersebut dilampiri dengan peta rencana pemindahan tanah secara
mekanis (earth moving work plan) dilengkapi jalur/lintasan jalan untuk transportasi
tanah.
Harga satuan untuk pekerjaan galian dan timbunan yang tercantum dalam Daftar
Kuantitas dan Harga, sudah termasuk biaya untuk angkutan.

3.8. Toleransi Pekerjaan Tanah


Dimensi, elevasi dan kemiringan pekerjaan tanah setelah selesai dirapikan dapat
diberi toleransi seperti daftar dibawah ini kecuali bila ditetapkan lain oleh Pengguna
Jasa .
(a) Saluran irigasi dan drainasi termasuk bangunan pelengkapnya:
- permukaan dasar : - 5 cm, + 0 cm
- lebar dasar : - 0 cm, + 5 cm
- lebar puncak : - 0 cm, + 5 cm
- jalur : 5 cm
- kemiringan memanjang : 0,1%

(b) Jalan
- permukaan jalan : - 0 cm, + 5 cm
- lebar jalan : - 0 cm, + 10 cm
- jalur : 5 cm
(c) Galian bangunan
- dasar galian : + 0 cm, - 5 cm

3.9. Uji Laboratorium untuk Bahan dan Pekerjaan Selesai


Uji laboratorium untuk bahan timbunan dan urugan sebelum pelaksanaan pekerjaan
dan untuk pengendalian mutu selama pelaksanaan pekerjaan harus dilaksanakan
menggunakan laboratoriumnya di lapangan atau laboratorium lain yang disetujui
Pengguna Jasa dengan disaksikan/diawasi oleh Pengguna Jasa .
Kami akan melaksanakan uji SPT (Standard Cone Penetration Test) pada dasar
galian untuk memastikan kesesuaian tanah sebagai fondasi sebelum dilakukan
pengecoran beton.
Hasil uji laboratorium untuk semua bahan bangunan yang akan dipergunakan untuk
pekerjaan harus disampaikan oleh kami kepada Pengguna Jasa untuk dikaji dan
disetujui.
Uji laboratorium yang akan dikerjakan Penyedia Jasa, metoda baku untuk uji
laboratorium yang akan digunakan dan frekuensi uji laboratorium untuk bahan
bangunan selama pelaksanaan sampai selesainya pekerjaan harus secara rinci
sesuai ketentuan dalam SNI atau sesuai perintah Pengguna Jasa (JIS equivalent)
atau mengikuti tabel sebagai berikut :
Uji laboratorium untuk pekerjaan tanah

Uji Laboratorium Metoda Baku Nilai yang


disyaratkan Frekuensi Uji Laboratorium
Specific Gravity ASTM C127
ASTM C 128
ASTM D 854 - 1. Sebelum tanah bahan timbunan digunakan
2. Sesudah kejadian:
(i) setiap 50.000 m3 atau
(ii) sekali setiap bulan
(iii) perubahan lokasi borrow-pit

(iv) setiap ada perubahan tanah bahan timbunan


Natural Moisture Content JIS 1203 or ASTM ZD 2216-51 Liquid Limit ASTM D423 Plasticity Index - > sekitar 15%
Moisture/Density Relationship ASTM D2216 Unconfined Compression Test JIS 1216 Permeability Test Sesuai petunjuk Engineer
California Bearing Ratio (CBR) AASHTO T193 Untuk perkerasan jalan 30% minimum
1. Setiap 10 km panjang subgrade atau setiap seksi/bagian panjang jalan.
2. Perkerasan Jalan:
(i) untuk setiap sumber material baru
(ii) paling sedikit sekali sebulan.
Cone Penetration Test AASHTO T206 - Pada setiap dasar galian untuk bangunan
Field Density Test ASTM D1556
> 95% MDD
* 2 kali sehari (pagi, sore) pada setiap lokasi pekerjaan, atau
* setiap 250 m pekerjaan rehabilitasi saluran, atau
* sesuai perintah PPK
Field Moisture Test ASTM D2216 OMC + 3%, -5%

V. PEKERJAAN PASANGAN BATU


1. RUANG LINGKUP
Pedoman ini menetapkan ketentuan dan persyaratan, metode pelaksanaan
pekerjaan, pengendalian mutu serta pengukuran dan pembayaran untuk pekerjaan
pasangan batu dan adukan semen.
Pedoman ini mencakup pekerjaan pasangan batu yang meliputi bronjong, pasangan
batu Kali, pasangan batu kosong, plesteran dan siaran serta pekerjaan adukan
semen. Pedoman ini mencakup pekerjaan penyediaan baik batu yang diisikan ke
dalam bronjong kawat (gabion) maupun pasangan batu kosong pada landasan yang
disetujui sesuai dengan detail yang ditunjukkan dalam pada Gambar sebagaimana
yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
2. ACUAN NORMATIF
Standar Nasional Indonesia (SNI)

- SNI 15-0302-1989 : Semen Pozolan Kapur


- SNI 15-2049-1994 : Semen Portland
- SNI 15-0129-1994 : Semen Portland Putih
- SNI 15-0302-1999 : Semen Portland Pozolan - SNI 03-2417-1991 : Metode
Pengujian Keausan Agregat Dengan Mesin Abrasi Los Angeles
- SNI 03-3046-1992 : Kawat Bronjong dan Bronjong Berlapis PVC (Polivinil Chlorida)
- SNI 15-3758-1995 : Semen Aduk Pasangan
- SNI 03-0090-1999 : Spesifikasi Bronjong Kawat
- SNI 03-6817-2002 : Metode Pengujian Mutu Air Untuk digunakan dalam Beton
- SNI 03-6882-2002 : Spesifikasi Mortar Untuk Pekerjaan Pasangan
American Standard Test Method
- ASTM C 91 : Masonry cement
- ASTM C 207 : Hydrated Lime
- ASTM C 270 : Mortar for Unit Masonry
- ASTM C 476 : Mortar and Grout for Reinforcement of Masonry

3. ISTILAH DAN DIFINISI


Agregat halus : adalah agregat yang mempunyai diameter butir di atas 0,25 mm
sampai 4 mm yang biasa disebut pasir
Agregat kasar : adalah agregat yang mempunyai diameter butir di atas 4 mm
sampai 31,5 mm yang biasa disebut kerikil.
Semen Portland : adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menggiling
terak semen portland yang terutama, terdiri dari Kalsium Silikat Hidrat yang bersifat
hidrolis dan digiling bersama-sama dengan bahan tambahan satu atau lebih bentuk
kristal senyawa Kalsium Sulfat.
Batu alam : adalah suatu gabungan daripada hablur mineral yang bersatu dan
memadat, sehingga memiliki derajat kekerasan tertentu, yang berbentuk secara
alamiah melalui proses pelelehan, pembekuan, pengendapan dan perubahan
alamiah.
Batu candi : adalah batu kasar (granit, andesit dan sejenis) yang dibentuk secara
khusus untuk dipergunakan sebagai lapisan tahan gerusan
Batu pecah : adalah hasil pecahan batu alam dalam bentuk butiran asli atau dibelah
menjadi ukuran butiran yang cukup besar untuk dipergunakan dalam pembuatan
bangunan dasar

Bronjong : adalah suatu konstruksi yang tersusun dari batuan pecah dan di ikat oleh
anyaman kawat
Pasangan batu kosong : adalah suatu konstruksi yang disusun dengan bahan
material yang berupa batu kosong yang berfungsi untuk melindungi bahaya
gerusan.
Pasangan batu belah : adalah suatu konstruksi yang disusun dengan bahan material
yang berupa batu kali, pasir dan semen Portland
Plesteran : adalah suatu konstruksi yang berfungsi sebagai penutup / pengikat
ujung pasangan batu
Siaran : adalah sutau konstruksi yang berfungsi untuk menutup / mengikat /
memperkuat antara batu muka
4. PERSYARATAN BAHAN
4.1. Batu
a. Batu harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan harus dari jenis
yang diketahui awet.
Bila perlu, batu harus dibentuk untuk menghilangkan bagian yang tipis atau lemah.
b. Batu yang digunakan adalah batu belah atau batu bulat, batu kali yang dipecah
salah satu sisinya tidak rapuh tidak keropos, tidak berpori.
c. Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan saling
mengunci bila dipasang bersama-sama.
d. Untuk batu dari hasil galian, harus dibersihkan dari lapisan tanah yang
menyelimuti agar permukaan batu bersih.
e. Ukuran batu berkisar antara diameter 15-30 cm. Batu bulat atau batu kali hanya
boleh digunakan setelah salah satu sisinya dipecah atau sesuai persetujuan Direksi
dan digunakan bersama-sama dengan batu belah.
Batu pecah yang mempunyai diameter < 10 cm hanya boleh dipergunakan sebagai
batuan pengisi/pengunci.
4.2. Pasir
a. Pasir yang dimaksud disini lebih diutamakan pasir alam (pasir pasang) yang
diambil dari sungai atau sumber lain yang telah disetujui oleh Direksi.
b. Tempat penimbunan penyimpanan harus bersih dari sampah organik, sampah
kimia, bebas dari banjir serta tidak terkontaminasi dengan bahan lainnya, seperti air
laut/garam dan lain-lainnya yang akan menurunkan mutu pasangan batu.
4.3. Material Cement
a. Bahan material cement yang dipakai adalah jenis PC yang ada dipasaran dan
harus memenuhi standart.

b. Bahan material cement yang telah mengeras karena pengaruh cuaca, air atau
bahan organic lainnya tidak boleh dipakai
c. Dalam menyimpan material di gudang lapangan, tempat penyimpanan harus
kering dan diberi alas minimum 30 cm diatas permukaan tanah dan tinggi
tumpukan maksimum 3 m.
4.4. Air
Air yang dipergunakan harus bersih tidak mengandung Lumpur, minyak, bahan
organic atau bahan kimia.

5. PELAKSANAAN PEKERJAAN
5.1. Pasangan Batu Belah 1 PC : 4 PS
a. Spesifikasi teknis untuk pasangan batu belah 1 PC : 4 PS sama dengan spesifikasi
pasangan batu belah 1 PC : 3 PS akan tetapi perbandingan campuran spesi adalah 1
PC (Portland Cement) : 4 PS (Pasir) dengan kebutuhan Semen (PC) sebanyak = 163
kg dan Pasir sebanyak = 0,52 m3.
b. Perhitungan dan Pembayaran :
Volume Pekerjaan dihitung sesuai dan berdasarkan gambar pelaksanaan yan telah
disetujui oleh Pengguna Jasa, dan diperhitungkan dalam satuan ( Unit ) M 3
Harga satuan yang ditawarkan oleh Penyedia Jasa sudah harus meliputi Upah
tenaga,bahan material yang dipakai, peralatan yang digunakan, Biaya umum dan
keuntungan.
5.2. Siaran 1 PC : 2 PS
a. Sebelum pekerjaan siaran dimulai semua bidang sambungan diantara batu muka
harus dikorek sebelum ditutup dengan adukan. Permukaan harus dibersihkan
b. Adukan spesi untuk siaran harus memakai adukan 1 PC (Portland Cement) : 2 PS
(Pasir) dengan kebutuhan Semen (PC) sebesar = 6,35 kg dan Pasir sebanyak =
0,012 m3 dan diaduk secara merata dengan air.
c. Pekerjaan Siaran dapat dibagi atas :
i. Siaran Tenggelam (masuk kedalam 1 cm).
ii. Siaran rata (rata dengan muka batu dengan tebal 1 cm)
iii. Siaran Timbul (timbul dengan tebal 1 cm dari muka batu)
d. Perhitungan dan Pembayaran :
Volume Pekerjaan dihitung sesuai dan berdasarkan gambar pelaksanaan yan telah
disetujui oleh Pengguna Jasa, dan diperhitungkan dalam satuan ( Unit ) M 2.

Harga satuan yang ditawarkan oleh Penyedia Jasa sudah harus meliputi Upah
tenaga,bahan material yang dipakai, peralatan yang digunakan, Biaya Umum dan
keuntungan.
5.3. Plesteran 1 PC : 3 PS
a. Bila diperintahkan, dinding dan lantai baik lama maupun baru terbuat dari
pasangan bata/batu kali harus diplester dengan adukan 1 PC (Portland Cement) : 3
PS (Pasir) dengan kebutuhan Semen (PC) sebanyak = 7,75 kg dan Pasir sebanyak =
0,023 m3 dan diaduk secara merata dengan air, guna mencapai campuran yang
homogen maka diwajibkan untuk memakai mixer / molen.
b. Pekerjaan Plesteran dikerjakan 1 lapis sampai jumlah ketebalan 1,5 cm dan
dihaluskan dengan air semen. Apabila tidak diperintahkan lain pasangan harus
diplester pada bagian atas dari dinding, bagian tepi pasangan pada sorongan / pipa
saluran, dan selebar 0,10 m dibawah tepi atas dinding dan pasangan sorongan /
pipa saluran.
c. Untuk menghindari retak-retak rambut pada permukaan plesteran yang sudah
selesai karena sust pengerasan, maka permukaan plesteran yang sudah selesai
harus dibasahi dengan air selama 7 hari berturut-turut.
d. Perhitungan dan Pembayaran :
Volume Pekerjaan dihitung sesuai dan berdasarkan gambar pelaksanaan yan telah
disetujui oleh Pengguna Jasa, dan diperhitungkan dalam satuan ( Unit ) M 2.
Harga satuan yang ditawarkan oleh Penyedia Jasa sudah harus meliputi Upah
tenaga,bahan material yang dipakai, peralatan yang digunakan, Biaya Umum dan
keuntungan.
5.4. Drain Hole pipa PVC diameter 2
a. Bila diperintahkan Direksi / ditunjuk dalam gambar disain maka pasangan baru
harus dipasangan drain hole dengan bahan antara lain pipa PVC, ijuk kerikil
bergradasi baik.
b. PVC diameter 2 harus lebih panjang 20 cm sampai dengan 25 cm dari pasangan
bagian belakang dan diujungnya harus dibungkus dengan ijuk setebal 5 cm dan
dikelilingi / diselimuti kerikil setebal 15 cm secara penuh.
c. Cara pemasangan harus selang seling dengan jarak horisontal 2 m dan vertikal 1
m atau ditentukan lain oleh direksi.
5.5. Bronjong Kawat Galvanis diameter 3 (pabrikasi)
a. Spesifikasi teknis untuk bronjong kawat galvanis 3 mm pabrikasi sama dengan
spesifikasi bronjong kawat galvanis 3 mm dengan anyaman tangan akan tetapi
dalam penganyaman harus dilaksanakan oleh mesin bukan manusia.
b. Perhitungan dan Pembayaran :

Volume Pekerjaan dihitung sesuai dan berdasarkan gambar pelaksanaan yan telah
disetujui oleh Pengguna Jasa, dan diperhitungkan dalam satuan ( Unit ) buah
Harga satuan yang ditawarkan oleh Penyedia Jasa sudah harus meliputi Upah
tenaga,bahan material yang dipakai, peralatan yang digunakan, Biaya umum dan
keuntungan.
c. Batu isi untuk bronjong harus berdiameter 200 mm sampai dengan 400 mm
dimana sekurang-kurangnya 25 % harus berdiameter lebih besar dari 250 mm dan
untuk batu kecil hanya untuk pengisi bagian rongga.
d. Dalam pengisian batu perlu diperhatikan utamanya untuk semua sisi permukaan
dimana batu yang dipakai adalah batu yang mempunyai permukaan yang rata dan
ditopang bagian belakangnya dengan batu pengisi sesuai dengan demensi
bronjong.
e. Perhitungan dan Pembayaran :
Volume Pekerjaan dihitung sesuai dan berdasarkan gambar pelaksanaan yan telah
disetujui oleh Pengguna Jasa, dan diperhitungkan dalam satuan ( Unit ) M 3.
Harga satuan yang ditawarkan oleh Penyedia Jasa sudah harus meliputi Upah
tenaga,bahan material yang dipakai, peralatan yang digunakan, Biaya Umum dan
keuntungan.

Gambar Bronjong

VI. PEKERJAAN BETON


1. RUANG LINGKUP
Pedoman ini menetapkan ketentuan dan persyaratan, metode kerja pelaksanaan,
pengendalian mutu serta pengukuran dan pembayaran dalam pelaksanaan
pekerjaan beton. Pedoman ini mencakup kegiatan pelaksanaan seluruh bangunan
beton bertulang, beton tanpa tulangan, beton pracetak, beton untuk bangunan baja
komposit dan waterstop. Pedoman ini mencakup penyiapan tempat kerja untuk
pengecoran beton, pengadaan penutup beton, lantai kerja dan pemeliharaan
pondasi seperti pemompaan atau tindakan lain untuk mempertahankan agar
pondasi tetap kering.
2. ACUAN NORMATIF
Standar Nasional Indonesia (SNI) :
- SNI 03-1968-1990 : Metode Pengujian tentang Analisis Saringan Agregat Halus dan
Kasar
- SNI 03-1969-1990 : Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat
Kasar
- SNI 03-1972-1990 : Metode Pengujian Slump Beton
- SNI 03-1973-1990 : Metoda Pengujian Berat Isi Beton
- SNI 03-1974-1990 : Metode Pengujian Kuat Tekan Beton.
- SNI 03-2417-1991 : Metode Pengujian Keausan Agregat dengan Mesin Los Angeles.
- SNI 03-2458-1991 : Metode Pengambilan Contoh Untuk Campuran Beton Segar.
- SNI 03-2460-1991 : Spesifikasi Abu Terbang sebagai Bahan Tambahan untuk
Campuran Beton
- SNI 03-2461-1991 : Spesifikasi Agregat Ringan untuk Beton Struktur
- SNI 03-2491-1991 : Metode Pengujian Kuat Tarik Belah Beton
- SNI 03-2492-1991 : Metode Pengambilan dan Pengujian Beton Inti
- SNI 03-2493-1991 : Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di
Laboratorium
- SNI 03-2495-1991 : Spesifikasi Bahan Tambahan untuk Beton
- SNI 03-2530-1991 : Metode Pengujian Kehalusan Semen Portland
- SNI 03-2531-1991 : Metode Pengujian Berat Jenis Semen Portland

- SNI 03-2816-1992 : Metode Pengujian Kotoran Organik Dalam Pasir untuk


Campuran Mortar dan Beton
- SNI 03-2823-1992 : Metode Pengujian Kuat Lentur Beton Memakai Gelagar
Sederhana Dengan Sistem Beban Titik di Tengah
- SNI 03-2834-1992 : Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal
- SNI 03-2854-1992 : Spesifikasi Kadar Ion Klorida dalam Beton
- SNI 03-2914-1992 : Spesifikasi Beton Bertulang Kedap Air
- SNI 03-2915-1992 : Spesifikasi Beton Tahan Sulfat
- SNI 03-3402-1994 : Metode Pengujian Berat Isi Beton Ringan Struktural
- SNI 03-3407-1994 : Metode Pengujian Sifat Kekekalan Bentuk Agregat Terhadap
Natrium Sulfat dan Magnesium Sulfat.
- SNI 03-3418-1994 : Metode Pengujian Kandungan Udara Pada Beton Segar
- SNI 03-3419-1994 : Metode Pengujian Abrasi Beton di Laboratorium
- SNI 03-3421-1994 : Metode Pengujian Kuat Tekan Beton Isolasi Ringan di Lapangan
- SNI 03-3449-1994 : Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan
dengan Agregat Ringan
- SNI 03-3976-1995 : Tata Cara Pengadukan Pengecoran Beton
- SNI 03-4141-1996 : Metode Pengujian Gumpalan Lempung dan Butir-butir Mudah
Pecah dalam Agregat
- SNI 03-4142-1996 : Metode Pengujian Jumlah bahan Dalam Agregat Yang Lolos
No.200 (0,075 mm).
- SNI 03-4154-1996 : Metode Pengujian Kuat Lentur Beton Dengan Balok Uji
Sederhana Yang dibebani Terpusat Langsung
- SNI 03-4155-1996 : Metode Pengujian Kuat Tekan Beton dengan Benda Uji Patahan
Balok Bekas Uji Lentur
- SNI 03-4156-1996 : Metode Pengujian Bliding dari Beton Segar
- SNI 03-4169-1996 : Metode Pengujian Modulus Elastisitas Statis Dan Rasio Poison
Beton dengan Kompresor Ekstensometer
- SNI 03-4430-1997 : Metode Pengujian Kuat Tekan Elemen Struktur Beton Dengan
Alat Palu Beton Tipe n dan nr
- SNI 03-4431-1997 : Metode Pengujian Kuat Lentur Beton Normal Dengan Dua Titik
Pembebanan
- SNI 03-4433-1997 : Spesifikasi Beton Siap Pakai

- SNI 03-4805-1998 : Metode Pengujian Kadar Semen Portland Dalam Beton Keras
Yang Memakai Semen Hidrolik
- SNI 03-4806-1998 : Metode Pengujian Kadar Semen Portland dalam Beton Segar
dengan Titrasi Volumetri
- SNI 03-4807-1998 : Metode Pengujian untuk Menentukan Suhu Beton Segar Semen
Portland
- SNI 03-4807-1998 : Metode Pengujian untuk Menentukan Suhu Beton Segar Semen
Volumetri
- SNI 03-4809-1998 : Metode Pengujian untuk membandingkan berbagai Beton
Berdasarkan Kuat Lekat Yang Timbul Terhadap Tulangan
- SNI 03-4810-1998 : Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di
Lapangan
- SNI 03-4811-1998 : Metode Pengujian Rangkak Pada Beton Yang Tertekan
- SNI 03-4812-1998 : Metode Pengujian Kuat Tarik Beton Secara Langsung
- SNI 03-4817-1998 : Spesifikasi Lembaran Bahan Penutup untuk Perawatan Beton
- SNI 03-4820-1998 : Tata Cara Penggunaan Peralatan Untuk Penentuan Perubahan
Panjang, Pasta, Mortar Dan Beton Semen Yang Sudah Mengeras
- SNI 03-6369-2000 : Tata Cara Pembuatan Kaping Untuk Benda Uji Silinder Beton
- SNI 03-6429-2000 : Metode Pengujian Kuat Tekan Beton Silinder Dengan Cetakan
Silinder Di Dalam Tempat Cetakan
- SNI 06-6430-2000 : Metode Pengujian Ekspansi dan Bliding
- SNI 06-6430.1-2000 : Metode Pengujian Kuat Tekan Graut untuk Beton dengan
Agregat Praletak di Laboratorium
- SNI 03-6430.2-2000 : Metode Pengujian Waktu Pengikatan Graut Untuk Beton
dengan Agregat Praletak di Laboratorium
- SNI 03-6451-2000 : Metode Pengujian Kuat Lentur Adukan Semen Hidraulik
- SNI 03-6477-2000 : Metode Penentuan 10 % Kehalusan untuk Agregat
- SNI 03-6805-2002 : Metode Pengujian untuk Mengukur Nilai Kuat Tekan Beton pada
Umur Awal dan Memproyeksikan Kekuatan Pada Umur Berikutnya
- SNI 03-6806-2002 : Tata Cara Perhitungan Beton Tidak Bertulang Struktural
- SNI 03-6807-2002 : Metode Pengujian Kemampuan Mempertahankan Air pada
Campuran Graut untuk Beton Agregat Praletak di Laboratorium
- SNI 03-6808-2002 : Metode Pengujian Kekentalan Graut Untuk Beton Agregat
Praletak (Metode Pengujian Corong Alir)

- SNI 03-6809-2002 : Tata Cara Estimasi Kekuatan Beton dengan Metode Maturity
- SNI 03-6810-2002 : Metode Pengujian Kadar Bahan Padat Total dan Bahan
Anorganik dalam Air Untuk Campuran Beton
- SNI 03-6811-2002 : Spesifikasi Bahan Pencampur Untuk Beton Semprot
- SNI 03-6812-2002 : Spesifikasi Anyaman Kawat Baja Polos Yang Dilas Untuk
Tulangan Beton
- SNI 03-6814-2002 : Tata Cara Pelaksanaan Sambungan Mekanis untuk Tulangan
Beton
- SNI 03-6815-2002 : Tata Cara Mengevaluasi Hasil Uji Kekuatan Beton
- SNI 03-6816-2002 : Tata Cara Pendetailan Penulangan Beton
- SNI 03-6817-2002 : Metode Pengujian Mutu Air Untuk Digunakan Dalam Beton
- SNI 03-2461-2002 : Spesifikasi Agregat Ringan untuk Beton Ringan Struktur
- SNI 03-6817-2002 : Metode Pengujian Mutu Air untuk digunakan dalam Beton
- SNI 03-6717-2002 : Tata Cara Penyiapan Benda Uji Dari Contoh Agregat
- SNI 03-6889-2002 : Tata Cara Pengambilan Contoh Agregat
3. ISTILAH DAN DEFINISI
3.1. Agregat halus adalah agregat yang mempunyai diameter butir di atas 0,25 mm
sampai 4 mm.
3.2. Agregat kasar adalah agregat yang mempunyai diameter butir di atas 4 mm
sampai 31.5 mm
3.3. Benda uji beton inti adalah benda uji beton berbentuk silinder hasil pengeboran
beton pada bangunan yang sudah dilaksanakan.
3.4. Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidrualik yang lain,
agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan campuran
tambahan membentuk masa padat
3.5. Beton ringan adalah beton yang berat izin maksimum 1,9 ton/m3
3.6. Beton segar adalah campuran beton yang telah selesai diaduk sampai
beberapa saat karakteristiknya tidak berubah (masih plastis dan belum terjadi
pengikatan).
3.7. Beton siklop adalah beton yang terdiri dari campuran mutu beton fc=14,5 Mpa
dengan batu-batu pecah ukuran maksimum 25 cm.
3.8. Construction joint adalah sambungan konstruksi beton
3.9. Fly ash adalah residu halus yang dihasilkan dari sisa proses pembakaran batu
bara.

3.10. Form in place merupakan salah satu metode perawatan beton dengan tetap
mempertahankan cetakan sebagai dinding penahan pada tempatnya selama waktu
yang diperlukan beton dalam masa perawatan.
3.11. Kaping adalah pemberian lapisan perata pada permukaan bidang tekan benda
uji.
3.12. Kuat tekan beton adalah besarnya beban per satuan luas, yang menyebabkan
benda uji beton hancur bila dibebani dengan gaya tekan tertentu yang dihasilkan
oleh mesin tekan.
3.13. Pozzolan adalah bahan yang mengandung silika atau silika dan alumunium
yang bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida pada temperatur biasa
membentuk senyawa bersifat cementitious.
3.14. Segregasi adalah terpisahnya antara pasta semen dan agregat dalam suatu
adukan.
3.15. Silica fume adalah bahan pozzolanic yang sangat halus yang mengandung
silica amorf yang dihasilkan dari elemen silica atau senyawa ferro-silica.
3.16. Slump beton adalah besaran kekentalan (viscosity) / plastisitas dan kohesif
daro beton segar.
3.17. Superplasticizer adalah bahan tambah yang mengurangi air dalam campuran
dengan cukup banyak dan sangat berbeda

4. KETENTUAN DAN PERSYARATAN


Ketentuan dan persyaratan umum yang perlu diperhatikan dalam pedoman
spesifikasi teknis pekerjaan beton, bekisting dan waterstop harus memuat :
4.1. Toleransi
1) Bangunan Beton
a) Batas penyimpangan pada gambar-gambar plat, balok mendatar dan pengganti
pagar.
Terlihat : 1 cm setiap 3 m
Tertimbun : 5 cm setiap 3 m
b) Penyimpangan dalam dimensi potongan melintang dari kolom, pilar, lantai,
dinding, balok dan sebagainya.
Minus : 1 cm
Plus : 5 cm
c) Penyimpangan pada plat jembatan
Minus : 1 cm

Plus : 2 cm
d) Dasar Pondasi
Penyimpangan ukuran-ukuran dalam perencanaan
Minus : 1 cm
Plus : 5 cm
e) Salah penempatan atau penyimpangan 2% dari lebar dasar pondasi, terhadap
rencana tidak lebih dari 5 cm.
f) Pengurangan ketebalan : 5%
g) Penyimpangan lokasi dan ukuran pada lantai dan dinding yang terbuka : 5 cm
h) Penyimpangan dari garis unting pada sisi dinding tembok untuk pintu dan
bangunan-bangunan air yang serupa : 0,1%
i) Penempatan tulangan baja
Penyimpangan untuk beton pelindung : 10%
Penyimpangan dari tempat yang seharusnya : 2 cm
j) Perletakan beton pra cetak
Penyimpangan terhadap trase yang seharusnya dibangun 1% dari panjang beton
pra cetak yang ada, dan tidak lebih dari 5 cm
Penyimpangan terhadap elevasi rencana adalah 1% dari panjang beton pra cetak
yang ada, dan tidak lebih dari 5 cm.
Penyimpangan garis unting setiap beton pra cetak yang ditempatkan vertical tidak
boleh lebih dari 1 cm setiap 3 m.
4.2. Persyaratan Bahan
1) Bangunan Beton
a) Semen
(1) Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus jenis semen portland yang
memenuhi SNI 15-2049-1994. Apabila menggunakan bahan tambahan yang dapat
menghasilkan gelembung udara, maka gelembung udara yang dihasilkan tidak
boleh lebih dari 5 %, dan harus mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
(2) Dalam satu campuran, hanya satu merk semen portland yang boleh digunakan,
kecuali disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Jika di dalam satu proyek digunakan lebih
dari satu merk semen, maka Penyedia Jasa harus mengajukan kembali rancangan
campuran beton sesuai dengan merk semen yang digunakan.
b) Air

Air yang digunakan untuk campuran, perawatan, atau pemakaian lainnya harus
bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, basa,
gula atau organis. Air yang diusulkan dapat digunakan jika kuat tekan mortar
dengan air tersebut pada umur 7 hari dan 28 hari Memenuhi karakteristik kuat
tekan yang ditentukan
c) Agregat
(1) Ketentuan Agradasi Agregat
- Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi ketentuan yang diberikan, tetapi
bahan yang tidak memenuhi ketentuan gradasi tersebut harus diuji dan harus
memenuhi sifat-sifat campuran yang disyaratkan.
- Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga ukuran agregat terbesar
tidak lebih dari jarak bersih minimum antara
baja tulangan atau antara baja tulangan dengan acuan, atau celah-celah lainnya di
mana beton harus dicor.
(2) Sifat-sifat Agregat
- Agregat yang digunakan harus bersih, keras, kuat yang diperoleh dari pemecahan
batu atau koral, atau dari pengayakan dan pencucian (jika perlu) kerikil dan pasir
sungai.
- Agregat harus bebas dari bahan organik seperti yang ditunjukkan oleh pengujian
SNI 03-2816-1992 dan harus memenuhi sifat-sifat lainnya bila contoh-contoh
diambil dan diuji sesuai dengan prosedur yang berhubungan.
d) Batu untuk Beton Siklop
Batu untuk beton siklop harus keras, awet, bebas dari retak, rongga dan tidak rusak
oleh pengaruh cuaca. Batu harus bersudut runcing, bebas dari kotoran, minyak dan
bahan-bahan lain yang mempengaruhi ikatan dengan beton. Ukuran batu yang
digunakan untuk beton siklop tidak boleh lebih besar dari 25 cm.
e) Bahan Tambah
Bahan tambah yang digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan kinerja beton
dapat berupa bahan kimia atau bahan limbah yang berupa serbuk halus sebagai
bahan pengisi pori dalam campuran beton dengan persetujuan Direksi.
f) Bahan Kimia
Bahan tambah yang berupa bahan kimia ditambahkan dalam campuran beton
dalam jumlah tidak lebih dari 5% berat semen selama proses pengadukan atau
selama pelaksanaan pengadukan tambahan dalam pengecoran beton. Bahan
tambah yang digunakan harus sesuai dengan standar spesifikasi yang ditentukan
dalam SNI 03-2495-1991. Bahan tambah dapat diklasifikasikan sesuai dengan
penggunaannya sebagai berikut :
- Tipe A - bahan pengurang kadar air

Tipe A berfungsi untuk mengurangi air dalam campuran, dan pengunaannya


bertujuan untuk mengurangi water-cement rasio dalam campuran sesuai dengan
workability yang diinginkan, atau untuk meningkatkan workability ada angka watercement rasio yang telah ditetapkan.
- Tipe B - bahan untuk memperlambat waktu pengikatan
Tipe B berfungsi untuk memperlambat waktu pengikatan pasta semen, sehingga
akan memperlambat pengerasan dari beton. Bahan tambah jenis ini digunakan jika
iklim di tempat pengecoran terlalu panas, dimana waktu pengikatan pasta semen
dalam keadaan normal menjadi sangat pendek dikarenakan suhu yang tinggi.
- Tipe C - bahan untuk mempercepat waktu pengikatan
Tipe C berfungsi untuk mempercepat waktu pengikatan pasta semen, yang akan
mempercepat pengerasan dari beton sehingga mempercepat kekuatan beton, dan
dapat digunakan dalam pabrik pembuatan beton precast (dimana perlu pelepasan
bekisting secepatnya), atau pekerjaan perbaikan yang sangat penting
- Tipe D - campuran bahan pengurang kadar air dan bahan memperlambat waktu
pengikatan.
Bahan tambah ini untuk menambah workability, dimana beton mempunyai
kekuatan tinggi dapat dibuat workabel tanpa mengurangi density, ketahanan dan
kekuatannya. Perlambatan waktu pengikatan sangat berguna untuk waktu
pengangkutan adukan beton yang lama ke tempat pengecoran, pengecoran dalam
kondisai yang sangat panas dan menghindari cold joint.
- Tipe E - campuran bahan pengurang kadar air dan bahan mempercepat waktu
pengikatan.
Bahan tambah ini untuk menambah workability dan memberikan kekuatan awal
yang tinggi, atau memberikan kekuatan awal yang lebih tinggi pada workability
yang sama. Bahan tambah ini digunakan pada precast karena memungkinkan
pelepasan bekisting lebih awal dan dipakai untuk pekerjaan perbaikan dimana
kekuatan awal sangat diperlukan.
- Tipe F - bahan pengurang kadar air dengan tingkat angka tinggi atau
superplasticizer.
Tipe F atau Superplasticizer adalah bahan tambah yang mengurangi air dalam
campuran dengan cukup banyak dan sangat berbeda dengan Tipe A, D atau E.
Penggunaan bahan ini digunakan membuat beton alir (flow concrete) untuk
menjangkau tempat yang tak terjangkau oleh pengetar dan beton pompa (pumping
concrete) pada jenis bangunan yang rumit.
- Tipe G - campuran bahan pengurang kadar air dengan tingkat angka tinggi tau
superplasticizer dan bahan memperlambat waktu pengikatan. Bahan tambah ini
merupakan campuran dari Tipe F dan Tipe B, tetapi slump loss-nya lebih kecil bila
dibandingkan dengan beton yang menggunakan superplasticizer.
2) Mineral

Bahan tambah yang berupa mineral atau bahan limbah seperti Fly Ash, Pozzolan,
silica fume yang ditambahkan ke dalam campuran beton. Bahan tambah yang
digunakan harus sesuai atas persetujuan Direksi
3) Pekerjaan Waterstop
a) Waterstop yang dipergunakan harus terbuat dari bahan polyvinychlorida dalam
bentuk ukuran tertentu pada lokasi seperti yang diberikan pada gambar atau
petunjuk Direksi Pekerjaan.
b) Waterstop harus diproduksi dengan proses pencampuran dari suatu campuran
plastik elastis dan bahan dasar polyvinychlorida (PVC) 100% didapat, homogen dan
tidak berlubang-lubang atau cacat lainnya.
4.3. Persyaratan Kerja
1) Pengajuan Kesiapan Kerja
a) Penyedia Jasa harus mengirimkan contoh dari semua bahan yang akan digunakan
dan dilengkapi dengan data pengujian yang memenuhi seluruh sifat bahan sesuai
dengan Pasal ini.
b) Penyedia Jasa harus mengirimkan rancangan campuran untuk masing-masing
mutu beton yang akan digunakan, 30 hari sebelum pekerjaan pengecoran beton
dimulai.
c) Penyedia Jasa harus menyerahkan secara tertulis seluruh hasil pengujian
pengendalian mutu sesuai dengan ketentuan kepada Direksi Pekerjaan sehingga
data tersebut selalu tersedia apabila diperlukan.
d) Pengujian kuat tekan beton yang harus dilaksanakan pada umur 3 hari, 7 hari, 14
hari, dan 28 hari setelah tanggal pencampuran
e) Penyedia Jasa harus mengirimkan gambar detail dan perhitungan terinci untuk
seluruh perancah yang akan digunakan, dan harus memperoleh persetujuan dari
Direksi Pekerjaan sebelum setiap pekerjaan perancah dimulai.
f) Penyedia Jasa harus memberitahu Direksi Pekerjaan secara tertulis mengenai
rencana pelaksanaan pencampuran atau pengecoran setiap jenis beton untuk
mendapatkan persetujuannya paling sedikit 24 jam sebelum tanggal pelaksanaan,
seperti yang disyaratkan disertai dengan metode pengecoran, kapasitas peralatan
yang digunakan, tanggung jawab personil dan jadwal pelaksanaannya
2) Penyimpanan dan Perlindungan Bahan
a) Untuk penyimpanan semen, Penyedia Jasa harus menyediakan tempat yang
terlindung dari perubahan cuaca dan diletakkan di atas lantai kayu dengan
ketinggian tidak urang dari 30 cm dari permukaan tanah serta ditutup dengan
lembaran plastik (polyethylene) selama penyimpanan dan tidak lebih dari 3 bulan
sejak disimpan dalam tempat penyimpanan di lokasi pekerjaan. Semen tidak boleh
ditumpuk melebihi melebihi 8 sak ke arah atas.

b) Penyedia Jasa harus menjaga kondisi tempat kerja terutama tempat


penyimpanan agregat, agar terlindung dan tidak langsung terkena sinar matahari
dan hujan pepanjang waktu pengecoran.
c) Penyimpanan agregat harus dilakukan sedemikian rupa sehingga jenis agregat
atau ukuran yang berbeda tidak tercampur.
3) Kondisi Tempat Kerja
Setiap pelaksanaan pengecoran beton harus terlindung dari sinar matahari secara
langsung.
Sebagai tambahan, Penyedia Jasa tidak boleh melakukan pengecoran jika :
- Tingkat penguapan melampaui 1,0 mm/jam.
- Selama turun hujan atau bila udara penuh debu atau tercemar.
4) Pencampuran dan Penakaran
a) Rancangan Campuran
Proporsi bahan dan berat penakaran harus berdasarkan hasil tes campuran
b) Campuran Percobaan
Penyedia Jasa harus membuat dan menguji campuran percobaan dengan rancangan
campuran serta bahan yang diusulkan dengan disaksikan oleh Direksi Pekerjaan,
yang menggunakan jenis instalasi dan peralatan sebagaimana yang akan digunakan
dalam pelaksanaan pekerjaan.
5) Permukaan Tampak
a) Semua permukaan beton yang telah selesai harus terlihat padat bersih dan tidak
keropos.
b) Semua permukaan yang tampak harus rata atau bulat.
c) Pekerjaan plesteran pada permukaan beton tidak diijinkan dan setiap beton yang
kelihatan cacat harus dibongkar hingga kedalaman tertentu dan diganti atau
diperbaiki dengan cara seperti yang diinginkan oleh Direksi Pekerjaan atas biaya
Penyedia Jasa.
6) Blockout
a) Blockout harus dibuat jika akan memasang bagianbagian bangunan dari
pekerjaan besi. Permukaan dimana beton block (blockout) akan dibuat, dikasarkan,
dibersihkan, dan dijaga agar tetap lembab untuk paling sedikit 4 jam. Sesudah
permukaan demikian disetujui Direksi Pekerjaan, maka pekerjaan logam dan lainnya
seperti tersebut diatas, dapat dilaksanakan. Penyedia Jasa dapat memasang
tulangan (jika diperlukan) dan adukan beton dengan 500 kg semen atau lebih per
meter kubik, atau beton dari tipe yang sama.

b) Pada saat pengisian beton blockout, haruslah dilakukan berhatihati, harus


bersatu dengan beton lama, mempunyai ikatan yang baik dengan beton lama dan
semua pekerjaan besinya.
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN
Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis
pekerjaan beton, bekisting dan waterstop harus memuat :
5.1. Pekerjaan Beton
1) Pembetonan
a) Penyiapan tempat kerja
(i) Penyedia Jasa harus membongkar bangunan lama yang akan diganti dengan
beton yang baru atau yang harus dibongkar untuk dapat memungkinkan
pelaksanaan pekerjaan beton yang baru. Pembongkaran tersebut harus
dilaksanakan sesuai dengan persyaratan dalam dari Spesifikasi ini.
(ii) Penyedia Jasa harus menggali atau menimbun kembali pondasi atau formasi
untuk pekerjaan beton sesuai dengan garis yang ditunjukkan dalam Gambar Kerja
atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan sesuai dengan
ketentuan dalam Spesifikasi ini, dan harus membersihkan serta menggaru tempat
di sekeliling pekerjaan beton yang cukup luas sehingga dapat menjamin dicapainya
seluruh sudut pekerjaan.
Jika diperlukan harus disediakan jalan kerja yang stabil untuk menjamin dapat
diperiksanya seluruh sudut pekerjaan dengan mudah dan aman
(iii) Seluruh dasar pondasi, pondasi dan galian untuk pekerjaan beton harus dijaga
agar senantiasa kering. Beton tidak boleh dicor di atas tanah yang berlumpur,
bersampah atau di dalam air. Apabila beton akan dicor di dalam air, maka harus
dilakukan dengan cara dan peralatan khusus untuk menutup kebocoran seperti
pada dasar sumuran atau cofferdam dan atas persetujuan Direksi Pekerjaan.
(iv) Sebelum pengecoran beton dimulai, seluruh acuan, tulangan dan benda lain
yang harus berada di dalam beton (seperti pipa atau selongsong) harus sudah
dipasang dan diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat pengecoran.
(v) Bila disyaratkan atau diperlukan oleh Direksi Pekerjaan, maka bahan lantai kerja
untuk pekerjaan beton harus dihampar sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi ini.
(vi) Direksi Pekerjaan akan memeriksa seluruh galian yang disiapkan untuk pondasi
sebelum menyetujui pemasangan acuan, baja tulangan atau pengecoran beton.
(vii) Jika dijumpai kondisi tanah dasar pondasi yang tidak memenuhi ketentuan,
maka Penyedia Jasa dapat diperintahkan untuk mengubah dimensi atau kedalaman
pondasi dan/atau menggali dan mengganti bahan di tempat yang lunak,
memadatkan tanah pondasi atau melakukan tindakan stabilisasi lainnya
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

(viii) Penyedia Jasa harus memastikan lokasi pengecoran bebas dari resiko terkena
air hujan dengan memasang tenda seperlunya. Direksi Pekerjaan berhak menunda
pengecoran sebelum tenda terpasang dengan benar. Penyedia Jasa juga harus
memastikan lokasi pengecoran bebas dari resiko terkena air pasang atau muka air
tanah dengan penanganan seperlunya.
b) Cetakan Beton
(i). Jika disetujui oleh Direksi Pekerjaan, maka acuan dari tanah harus dibentuk dari
galian, dan sisi-sisi samping serta dasarnya harus dipangkas secara manual sesuai
dimensi yang diperlukan. Seluruh kotoran tanah yang lepas harus dibuang sebelum
pengecoran beton
(ii). Cetakan harus digunakan, dimana perlu untuk membatasi dan membentuk
beton sesuai dengan keinginan. Cetakan dapat dibuat
dari kayu, besi atau bahan lainnya yang cukup kuat sesuai dengan ukuranukuran
yang ada di dalam gambar.
(iii) Cetakan harus diperkuat dan ditopang agar mampu menahan berat sendiri
adukan beton, penggetaran beton, beban konstruksi, angin dan tekanan lainnya
dengan tidak berubah bentuk.
(iv). Penyedia Jasa harus menyerahkan satu set yang lengkap, gambar cetakan
sesuai dengan ketentuan diatas, untuk mendapatkan persetujuan Direksi Pekerjaan,
sebelum memulai pekerjaan, walaupun demikian penyerahan tersebut kepada
Direksi Pekerjaan untuk disetujui, tidak mengurangi tanggung jawab Kontraktor bagi
keberhasilannya.
(v). Permukaan cetakan beton yang berhubungan dengan beton harus bebas dari
sampah, paku, aluralur, belahan, atau cacatcacat lainnya. Mengisi celahcelah
sambungan cetakan beton harus berhatihati dan dilaksanakan sedemikian rupa
agar sanggup mengembang dibawah pengaruh kelembaban beton tanpa
menimbulkan perubahan bentuk cetakan, celahcelah harus diisi secukupnya untuk
mencegah hilangnya air semen. Bagaimanapun penggunaan kertas dengan tegas
dilarang.
(vi). Pembuatan lubang bagian dalam cetakan untuk pemeriksaan, pembuangan air
dapat dilakukan untuk itu cetakan dapat dibuat sedemikian rupa hingga dapat
dengan mudah ditutup sebelum pengecoran dimulai.
(vii). Sebelum pengecoran beton semua bautbaut harus dipasang pada posisinya,
semua yang diperlukan dan alatalat lain untuk menutup lubang harus dipasang
pada cetakan. Tidak diperbolehkan membuat lubang didalam beton tanpa
persetujuan Direksi Pekerjaan
(viii). Penggunaan kawat yang diikat untuk menyangga cetakan tidak diijinkan
dilakukan pada dinding beton yang akan tampak.
(ix). Lubangbekas ikatan kawat harus ditutup dengan beton setelah cetakan
dibongkar

(x). Jika batangan logam digunakan untuk menyangga cetakan ujungnya tidak boleh
kurang dari 3 cm dari permukaan beton yang terbentuk. Semua permukaan cetakan
yang menempel dengan beton harus dilumasi dengan oli untuk memastikan bahwa
cetakan dapat dibuka dengan mudah.
(xi). Pelumas harus diterapkan pada cetakan sebelum tulangan dipasang dan harus
berhatihati mencegah pelumas jangan sampai mengenai besi tulangan. Sebelum
pengecoran dan pembesian semua celahcelah cetakan yang telah diisi harus
dibersihkan dan dikeringkan. Bila cetakan beton dibuat dan siap untuk pengecoran
maka harus diperiksa oleh Direksi Pekerjaan. Tidak diperkenankan mengecor bila
cetakan belum disetujui Direksi Pekerjaan.
(xii). Penyedia Jasa harus memberitahukan kepada Direksi Pekerjaan sekurang
kurangnya 24 (dua puluh empat) jam sebelum cetakan siap untuk diperiksa.
c) Pencampuran Beton
(i) Perbandingan Campuran
. Beton harus mengandung semen, agregat bergradasi baik, air dan bahan additive
bila diperlukan, dicampurkan bersama sama dan digunakan untuk menghasilkan
kekuatan yang diharapkan.
(ii). Beton diklasifikasikan berdasarkan tekanan pada 7 hari dan umur 28 hari
dengan ukuran maksimum agregat dan dibuat mengikuti tabel di bawah ini :
Tabel 1 Klasifikasi Beton berdasarkan Besarnya Tekanan

Tipe Campuran Beton Kuat


Tekan umur 7 hari
(kg/cm2) Kuat
Tekan umur 28 hari
(kg/cm2) Ukuran agregat maksimum (mm) Nilai factor air semen maksimum (%)
Perkiraan kebutuhan semen (kg/m3)
AR fc = 26,4 MPa (K-300)
A fc = 19,3 Mpa (K-225)
B fc = 14,5 Mpa (K-175)
C fc = 9,8MPa (K-125)
D fc = 7,4 MPa (K-100) 195

147
114
62
65 300
225
175
125
100 20
40 (20)
40
40
40 50
50
50
57
60 400
330 (350)
310
250
200

Tabel 2 Klasifikasi Jenis Beton

Tipe Uraian
AR

C
D Beton bertulang untuk melapis permukaan lantai bendung, mercu dan tembok
bendung.
Beton, pipa beton pra cetak, tiang beton pra cetak dan sebagainya.
Beton bertulang untuk bangunan lainnya dan linning beton.
Beton tumbuk.
Beton tumbuk untuk lantai kerja dan pengisi.

(iii). Proporsi campuran untuk masingmasing klas beton diatas akan diberikan oleh
Direksi, berdasarkan hasilhasil test percobaan campuran yang dikerjakan Penyedia
Jasa.
(iv). Penyedia Jasa dapat merubah proporsi dari waktu ke waktu untuk mendapatkan
kepadatan maksimum dari beton, kemudahan pengerjaan, kekentalan dan kekuatan
dengan faktor air semen yang sekecil mungkin dengan persetujuan Direksi tidak
ada tambahan biaya atas perubahan tersebut.
(v). Kandungan air di dalam beton akan diatur oleh Direksi, dalam batas yang
ditetapkan untuk mendapatkan faktor air semen pada beton dengan kekentalan
yang benar. Tidak diperkenankan penambahan air untuk mengatasi mengerasnya
beton sebelum ditempatkan. Keseragaman kekentalan beton pada setiap adukan
adalah perlu. Slump dari pada adukan beton harus mengikuti tabel di bawah ini,
setelah beton diendapkan.

Tabel 3 Nilai Slump Beton

Tipe Campuran Tipe Konstruksi Besaran Nilai Slum


AR

D Mercu lantai dan tembok bendung.


Unit beton pra cetak
Plat dan balok jembatan Klas I dan Klas II.
Plat, dinding, balok dari tembok dan dermaga.
Talud pada transisi.
Konstruksi massal.
Trotoar, gorong-gorong
pondasi 7,5 2,5

12,5 5,0

15,0 7,5

12,5 5,0
5,0 2,5
7,5 2,5
7,5 5,0
9,0 2,5
d) Penakaran
(i). Penyedia Jasa harus menyediakan alat penakar yang disetujui Direksi
Pekerjaan dan harus memelihara serta mengoperasikan peralatan seperti yang
diperlukan agar secara tepat mengontrol dan menentukan jumlah dari masing
masing bahan yang dicampurkan, sesuai dengan petunjuk Direksi Pekerjaan.
(ii). Peralatan harus mampu memproduksi beton sebanyak 1 (satu) hingga 5 (lima)
meter kubik atau lebih per jam secara keseluruhan dengan mencampurkan agregat,
semen, bahan additive (bila perlu), dan air menjadi suatu campuran yang merata
tanpa pemisahanpemisahan. Juga mampu mengimbangi perubahanperubahan
kadar air dari agregat, serta merubah berat materialmaterial yang ikut tercakup.
(iii). Jumlah masingmasing bahan yang membentuk beton tersebut dapat
ditentukan dengan timbangan kecuali jumlah air yang diukur dengan takaran.
Meskipun demikian material beton dapat juga diukur secara volume, bilamana
disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

(iv). Penyedia Jasa juga harus menyediakan penguji berat yang standar dan
peralatan lain yang diperlukan untuk mengecek operasi dan tiaptiap skala
pengukuran pengaduk tersebut, serta melakukan pengujian periodik terhadap
perubahan harga pengukuran dalam pekerjaanpekerjaan adukan.
e) Mesin Pengaduk Beton
(i). Material beton harus dimasukkan dalam pengaduk yang berpenakar dalam
waktu yang tidak lebih dari satu setengah menit, kecuali sejumlah air yang
diperlukan sudah ada dalam alat pengaduk tersebut.
(ii). Seluruh air pencampur harus diberikan sebelum seperempat waktu
pencampuran terlampaui. Waktu pencampuran adukan yang volumenya lebih besar
dari 0,75 m3 harus ditambah seperempat menit pada setiap penambahan 0,5 m3 .
(iii). Alat pencampur beton tidak boleh dibebani volume yang melebihi kapasitas
maksimum, atau dioperasikan melebihi kecepatan yang dianjurkan pabrik
pembuatnya. Alat tersebut dapat menghasilkan beton dengan kekentalan dan
warna yang merata secara menerus dan disetujui Direksi Pekerjaan.
(iv). Semua peralatan pencampur harus selalu dibersihkan sebelum melakukan
pekerjaan. Pencampuran pertama setelah pembersihan, tidak boleh digunakan
dalam pekerjaan. Blades penumbuk yang ada dalam alat pencampur perlu diganti
bila telah aus menjadi 2 cm.
f) Truk Pencampur
(i). Material beton juga dicampur di dalam truk pencampur. Drumdrum yang ada
pada truk pencampur harus berputar dengan kecepatan yang dianjurkan oleh Pabrik
(ii). Operasi pencampuran dapat dimulai dalam waktu 30 menit setelah bahan
bahan pencampur tersebut berada di dalam pencampur, setelah itu beton dapat
diangkut menuju tempat pekerjaan dan satu jam setelah penambahan air
pengecoran harus selesai.
(iii). Pada saat cuaca panas atau pada kondisi adukan beton yang cepat mengeras,
waktu pencampuran harus kurang dari 1 jam, sesuai dengan petunjuk Direksi
Pekerjaan
g) Mencampur Beton dengan Tenaga Manusia
(i). Pekerjaan mencampur beton dengan manual tidak diijinkan kecuali jika situasi
tidak memungkinkan untuk menggunakan mesin pencampur setelah mendapat
persetujuan Direksi Pekerjaan.
(ii). Dalam keadaan seperti itu, beton harus diaduk dengan tangan, sedekat
mungkin ke lokasi dimana beton akan ditempatkan. Harus dilakukan dibak
pengaduk yang bersih dan kedap air. Jika bak dibuat dari kayu, maka selasela kayu
harus ditutup agar tidak ada kehilangan air dari adukan
(iii). Semua agregat dan semen harus diadukaduk dalam keadaan kering sekurang
kurangnya 3 kali. Kemudian air ditambahkan berangsur-angsur dipuncak adukan,

selanjutnya agregat kembali diaduk dalam keadaan basah, sekurangkurangnya 3


(tiga) kali sebelum adukan diangkat ketempat pengecoran
2) Pengecoran
a) Pelaksanaan Pengecoran
(i). Penyedia Jasa harus memberitahukan Direksi Pekerjaan secara tertulis paling
sedikit 24 jam sebelum memulai pengecoran beton, atau meneruskan pengecoran
beton jika pengecoran beton telah ditunda lebih dari 6 jam (final setting).
(ii) Pemberitahuan harus meliputi lokasi, kondisi pekerjaan, mutu beton dan tanggal
serta waktu pencampuran beton. Direksi Pekerjaan akan memberi tanda terima atas
pemberitahuan tersebut dan akan memeriksa acuan, tulangan dan mengeluarkan
persetujuan tertulis untuk memulai pelaksanaan pekerjaan seperti yang
direncanakan. Penyedia Jasa tidak boleh melaksanakan pengecoran beton tanpa
persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan.
(iii) Walaupun persetujuan untuk memulai pengecoran sudah diterbitkan,
pengecoran beton tidak boleh dilaksanakan jika Direksi Pekerjaan atau wakilnya
tidak hadir untuk menyaksikan operasi pencampuran dan pengecoran secara
keseluruhan
(iv). Segera sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan air
atau diolesi pelumas di sisi dalamnya yang tidak meninggalkan bekas.
(v). Pengecoran beton harus dibuat sedemikian rupa hingga penempatan dan
penanganannya mudah dilakukan tanpa adanya pemisahan butiran.
(vi). Adukan beton dicor lapis demi lapis dengan ketebalan tertentu, berurutan
mulai dari bawah. Agar lapisan yang baru dapat menyatu dengan lapisan
dibawahnya, adukan beton digetar dari lapisan bawah dengan alat penggetar
(vibrator).
(vii). Tidak diperkenankan melakukan pengecoran bila persiapan besi tulangan dan
bagian bagian yang ditanam, cetakan dan perancah belum diperiksa dan disetujui
Direksi Pekerjaan secara tertulis.
(viii). Dalam pengecoran beton bertulang, harus dijaga jangan sampai terjadi
pemisahan butiran. Apabila bentuk tulangan pada dasar cetakan cukup rapat, dicor
terlebih dahulu lapisan selimut beton setebal 3 cm, dengan spesi yang sama
dengan yang dibutuhkan oleh beton diatasnya.
(ix) Jika pengecoran permukaan telah mencapai ketinggian lebih dari yang
ditentukan oleh Direksi, kelebihan ini harus segera dibuang. Semua pengecoran
harus selesai dalam waktu 60 menit telah keluar dari mesin pengaduk, kecuali jika
ditentukan lain oleh Direksi.
(x). Beton jangan dicor di dalam atau pada aliran kecuali jika ditentukan atau
disetujui sebelumnya. Air yang mengumpul selama pengecoran harus segera
dibuang. Beton jangan dicor diatas beton lain yang baru saja dicor selama lebih dari
30 menit, kecuali jika ada konstruksi sambungan yang akan ditentukan kemudian

(xi). Jika pelaksanaan pengecoran dihentikan, lokasi sambungan harus ditempatkan


pada posisi yang benar secara vertikal maupun horizontal, dengan permukaan
dibuat kasar atau bergerigi untuk menahan gesekan dan membentuk ikatan
sambungan beton berikutnya, seperti yang diinginkan oleh Direksi Pekerjaan . (xii).
Sebelum pengecoran berakhir, permukaan beton harus dibuat kasar atau
disambungkan untuk menyingkap agregat. Permukaan beton harus tetap lembab
dan dilindungi dengan mortel semen (perbandingan berat) 1 : 2 setebal 1 cm.
(xiii) Beton harus dicor pada posisi dan urutan urutan seperti yang ditunjukkan
dalam gambar, atau atas petunjuk Direksi Pekerjaan. Beton yang dicor ditempatkan
langsung pada cetakannya sedemikian rupa untuk menghindari pemisahan butiran
dan penggeseran tulangan beton, acuan, atau bagian bagian yang tertanam, serta
membentuk lapisan lapisan yang tidak lebih tebal dari 40 cm padat.
(xiv) Pengecoran harus secara menerus hingga mencapai sambungan ditentukan
pada gambar atau menurut petunjuk Direksi Pekerjaan.
(xv) Beton tidak boleh diangkut dengan peluncur atau dijatuhkan kereta dorong
lebih tinggi dari 1,5 m kecuali jika diijinkan oleh Direksi Pekerjaan untuk
menjatuhkan ketempat penampungan sementara dan kemudian diambil lagi
dengan sekop sebelum dicorkan.
(xvi) Pengecoran beton tumbuk/lantai kerja dikerjakan pada urutan sebelumnya
atau mengikuti petunjuk Direksi dan harus dikerjakan secara menerus sampai
dengan selesai. Bila perlu Penyedia Jasa harus bekerja lembur untuk mencapai
target tersebut.
b) Pemadatan
(i). Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari luar
acuan yang telah disetujui. Jika diperlukan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan,
penggetaran harus disertai penusukan secara manual dengan alat yang cocok
untuk menjamin kepadatan yang tepat dan memadai. Alat penggetar tidak boleh
digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam
acuan.
(ii). Pemadatan harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan semua sudut, di
antara dan sekitar besi tulangan benar-benar terisi tanpa menggeser tulangan
sehingga setiap rongga dan gelembung udara terisi.
(iii). Lama penggetaran harus dibatasi, agar tidak terjadi segregasi pada hasil
pemadatan yang diperlukan.
(iv). Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan sekurangkurangnya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg, dan boleh
diletakkan di atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran yang merata.
(v). Posisi alat penggetar mekanis yang digunakan untuk memadatkan beton di
dalam acuan harus vertikal sedemikian hingga dapat melakukan penetrasi sampai
kedalaman 10 cm dari dasar beton yang baru dicor sehingga menghasilkan
kepadatan yang menyeluruh pada bagian tersebut. Apabila alat penggetar tersebut

akan digunakan pada posisi yang lain maka, alat tersebut harus ditarik secara
perlahan dan dimasukkan kembali pada posisi lain dengan jarak tidak lebih dari 45
cm. Alat penggetar tidak boleh berada pada suatu titik lebih dari 15 detik atau
permukaan beton sudah mengkilap.
(vi). Jumlah minimum alat penggetar mekanis
(vii). Apabila kecepatan pengecoran 20 m3 /jam, maka harus digunakan alat
penggetar yang mempunyai dimensi lebih besar dari 7,5 cm.
(viii). Dalam segala hal, pemadatan beton harus sudah selesai sebelum terjadi
waktu ikat awal (initial setting).
3) Sambungan Pelaksanaan (Construction Joint)
a) Jadwal pengecoran beton yang berkaitan harus disiapkan untuk setiap jenis
bangunan yang diusulkan beserta lokasi sambungan pelaksanaan seperti yang
ditunjukkan pada Gambar Rencana untuk disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Sambungan pelaksanaan tidak boleh ditempatkan pada pertemuan elemen-elemen
bangunan kecuali ditentukan demikian. b) Sambungan pelaksanaan pada tembok
sayap tidak diijinkan. Semua sambungan konstruksi harus tegak lurus terhadap
sumbu memanjang dan pada umumnya harus diletakkan pada titik dengan gaya
geser minimum.
c) Jika sambungan vertikal diperlukan, baja tulangan harus menerus melewati
sambungan sedemikian rupa sehingga membuat bangunan tetap monolit.
d) Pada sambungan pelaksanaan harus disediakan lidah alur dengan ke dalaman
paling sedikit 4 cm untuk dinding, pelat serta antara dasar pondasi dan dinding.
Untuk pelaksanaan pengecoran pelat yang terletak di atas permukaan dengan cara
manual, sambungan konstruksi harus diletakkan sedemikian rupa sehingga pelatpelat mempunyai luas maksimum 40 m2.
e) Penyedia Jasa harus menyediakan pekerja dan bahan-bahan yang diperlukan
untuk kemungkinan adanya sambungan pelaksanaan tambahan jika pekerjaan
terpaksa mendadak harus dihentikan akibat hujan atau terhentinya pemasokan
beton atau penghentian pekerjaan oleh Direksi Pekerjaan.
f) Atas persetujuan Direksi Pekerjaan, bonding agent yang dapat digunakan untuk
pelekatan pada sambungan pelaksanaan dan cara pelaksanaannya harus sesuai
dengan petunjuk pabrik pembuatnya
g) Pada lingkungan air asin atau korosif, sambungan pelaksanaan tidak
diperkenankan berada pada 75 cm di bawah muka air terendah atau 75 cm di atas
muka air tertinggi kecuali ditentukan lain dalam Gambar Kerja.
4) Beton Siklop
a) Batu-batu ini diletakkan dengan hati-hati dan tidak boleh dijatuhkan dari tempat
yang tinggi atau ditempatkan secara berlebihan yang dikhawatirkan akan merusak
bentuk cetakan atau pasangan-pasangan lain yang berdekatan

b) Semua batu-batu pecah harus cukup dibasahi sebelum ditempatkan. Volume


total batu pecah tidak boleh melebihi sepertiga dari total volume pekerjaan beton
siklop.
c) Untuk dinding penahan tanah dan pilar yang lebih tebal dari 60 cm, tiap bat
harus dilindungi dengan adukan beton setebal 15 cm; jarak antar batu pecah
maksimum 30 cm dan jarak terhadap permukaan minimum 15 cm. Permukaan
bagian atas dilindungi dengan beton penutup (caping).
5) Lining Beton
a) Lining beton harus dilaksanakan ditempat yang telah ditunjukkan pada Gambar
atau ditentukan lain oleh Direksi.
b) Beton yang digunakan harus dicor ditempat itu juga dan harus sesuai dengan
ketentuan.
c) Lining harus dilaksanakan setelah penggalian saluran dan tanggul selesai
dilakukan, pada saat perapian sedang dikerjakan.
d) Pelaksanaan lining dibuat mengikuti Gambar atau petunjuk Direksi, dilaksanakan
sesuai dengan gambargambar detail yang ada terutama yang telah disetujui
Direksi Pekerjaan.
e) Sambungan lining harus diisi bitumen (aspal pasir) sesuai gambar atau petunjuk
Direksi Pekerjaan.
6) Pekerjaan Pondasi Beton
a) Sebelum menempatkan beton pada pondasi, Penyedia Jasa harus membersihkan
semua kotoran yang ada termasuk minyak, serpihan tanah, reruntuhan, plastik, sisa
kertas dan genangan air yang ada sesuai dengan permintaan Direksi Pekerjaan.
b) Selama pengecoran Penyedia Jasa harus menjaga permukaan yang dicor bersih
dari genangan air.
c) Pengecoran beton belum boleh dilaksanakan sebelum Direksi Pekerjaan
memeriksa dan menyetujui persiapan pekerjaan pondasi tersebut d) Lapisan lantai
kerja beton dapat dicor setelah pekerjaan persiapannya disetujui oleh Direksi
Pekerjaan. Ketebalan lapisan lantai kerja beton harus dibuat sesuai dengan gambar
atau atas petunjuk Direksi Pekerjaan.
e) Jika tidak ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan, sebelum melakukan pengecoran,
permukaan tanah atau kerikil harus disiram air semen setelah bersih.
f) Jika permukaan tersebut berupa cadas, permukaannya dibersihkan dan dibuat
bergerigi agar terbentuk ikatan yang kuat, baru adukan semen ditempatkan
diatasnya.
g) Adukan semen tersebut harus mempunyai perbandingan semenpasir yang sama
dengan perbandingan semen pasir yang digunakan untuk beton.

h) Adukan semen tidak diperlukan pada pondasi, jika lantai kerja beton atau
proteksi pondasi dibuat dengan cara lain.
7) Pengerjaan Akhir
a) Pembongkaran Cetakan akhir
- Acuan tidak boleh dibongkar dari bidang vertikal, dinding, kolom yang tipis dan
bangunan yang sejenis lebih awal 30 jam setelah pengecoran beton tanpa
mengabaikan perawatan. Acuan yang ditopang oleh perancah di bawah pelat,
balok, gelegar, atau bangunan busur, tidak boleh dibongkar hingga pengujian kuat
tekan beton menunjukkan paling sedikit 85 % dari kekuatan rancangan beton.
- Untuk memungkinkan pengerjaan akhir, acuan yang digunakan untuk pekerjaan
yang diberi hiasan, tiang sandaran, tembok pengarah (parapet), dan permukaan
vertikal yang terekspos harus dibongkar dalam waktu paling sedikit 9 jam setelah
pengecoran dan tidak lebih dari 30 jam, tergantung pada keadaan cuaca dan tanpa
mengabaikan perawatan.
b) Permukaan (Pengerjaan Akhir Biasa)
- Kecuali diperintahkan lain, permukaan beton harus dikerjakan segera setelah
pembongkaran acuan. Seluruh perangkat kawat atau logam yang telah digunakan
untuk memegang acuan, dan acuan yang melewati badan beton, harus dibuang
atau dipotong kembali paling sedikit 2,5 cm di bawah permukaan beton. Tonjolan
mortar dan ketidakrataan lainnya yang disebabkan oleh sambungan cetakan harus
dibersihkan.
- Direksi Pekerjaan harus memeriksa permukaan beton segera setelah
pembongkaran acuan dan dapat memerintahkan penambalan atas kekurang
sempurnaan minor yang tidak akan mempengaruhi bangunan atau fungsi lain dari
pekerjaan beton. Penambalan harus meliputi pengisian lubang-lubang kecil dan
lekukan dengan adukan semen.
- Jika Direksi Pekerjaan menyetujui pengisian lubang besar akibat keropos,
pekerjaan harus dipahat sampai ke bagian yang utuh (sound), membentuk
permukaan yang tegak lurus terhadap permukaan beton.
Lubang harus dibasahi dengan air dan adukan pasta (semen dan air, tanpa pasir)
harus dioleskan pada permukaan lubang. Selanjutnya lubang harus diisi dengan
adukan yang kental yang terdiri dari satu bagian semen dan dua bagian pasir dan
dipadatkan. Adukan tersebut harus dibuat dan didiamkan sekira 30 menit sebelum
dipakai agar dicapai penyusutan awal, kecuali digunakan jenis semen tidak susut
(non shrinkage cement).
c) Permukaan (Pekerjaan Akhir Khusus)
Permukaan yang terekspos harus diselesaikan dengan pekerjaan akhir berikut ini,
atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan :

- Bagian atas pelat, kerb, dan permukaan horisontal lainnya sebagaimana yang
diperintahkan Direksi Pekerjaan, harus digaru dengan mistar bersudut untuk
memberikan bentuk serta ketinggian
yang diperlukan segera setelah pengecoran beton dan harus diselesaikan secara
manual sampai rata dengan menggerakkan perata kayu secara memanjang dan
melintang, atau dengan cara lain yang sesuai sebelum beton mulai mengeras.
- Perataan permukaan horisontal tidak boleh menjadi licin, seperti untuk trotoar,
harus sedikit kasar tetapi merata dengan penyapuan, atau cara lain sebagaimana
yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, sebelum beton mulai mengeras.
- Permukaan yang tidak horisontal yang telah ditambal atau yang masih belum rata
harus digosok dengan batu gurinda yang agak kasar (medium), dengan
menempatkan sedikit adukan semen pada permukaannya. Adukan harus terdiri dari
semen dan pasir halus yang dicampur sesuai dengan proporsi yang digunakan
untuk pengerjaan akhir beton. Penggosokan harus dilaksanakan sampai seluruh
tanda bekas acuan, ketidakrataan, tonjolan hilang, dan seluruh rongga terisi, serta
diperoleh permukaan yang rata. Pasta yang dihasilkan dari penggosokan ini harus
dibiarkan tertinggal di tempat.
d) Perawatan Beton
(1) Perawatan dengan Pembasahan
(i). Segera setelah pengecoran, beton harus dilindungi dari pengeringan dini,
temperatur yang terlalu panas, dan gangguan mekanis. Beton harus dijaga agar
kehilangan kadar air yang terjadi seminimal mungkin dan diperoleh temperatur
yang relatif tetap dalam waktu yang ditentukan untuk menjamin hidrasi yang
sebagaimana mestinya pada semen dan pengerasan beton.
(ii). Pekerjaan perawatan harus segera dimulai setelah beton mulai mengeras
(sebelum terjadi retak susut basah) dengan menyelimutinya dengan bahan yang
dapat menyerap air. Lembaran bahan penyerap air ini yang harus dibuat jenuh
dalam waktu paling sedikit 7 hari. Semua bahan perawatan atau lembaran bahan
penyerap air harus menempel pada permukaan yang dirawat.
(iii). Jika acuan kayu tidak dibongkar maka acuan tersebut harus dipertahankan
dalam kondisi basah sampai acuan dibongkar, untuk mencegah terbukanya
sambungan-sambungan dan pengeringan beton.
(iv). Permukaan beton yang digunakan langsung sebagai lapis aus harus dirawat
setelah permukaannya mulai mengeras (sebelum terjadi retak susut basah) dengan
ditutupi oleh lapisan pasir lembab setebal 5 cm paling sedikit selama 21 hari.
(v). Beton semen yang mempunyai sifat kekuatan awal yang tinggi, harus dibasahi
sampai kuat tekannya mencapai 70 % dari kekuatan rancangan beton berumur 28
hari.
(2) Perawatan dengan Uap

(i). Beton yang dirawat dengan uap untuk mendapatkan kekuatan awal yang tinggi,
tidak diperkenankan menggunakan bahan tambahan kecuali atas persetujuan
Direksi Pekerjaan.
(ii). Perawatan dengan uap harus dikerjakan secara menerus sampai waktu dimana
beton telah mencapai 70 % dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari.
Perawatan dengan uap untuk beton harus mengikuti ketentuan di bawah ini :
- Tekanan uap pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi
tekanan luar.
- Temperatur pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi 380 C
selama 2 jam sesudah pengecoran selesai, dan kemudian temperatur dinaikkan
berangsur-angsur sehingga mencapai 650 C dengan
kenaikan temperatur maksimum 140 C / jam secara bertahap.
- Perbedaan temperatur pada dua tempat di dalam ruangan uap tidak boleh
melebihi 5,50C.
- Penurunan temperatur selama pendinginan dilaksanakan secara bertahap dan
tidak boleh lebih dari 110 C per jam.
- Perbedaan temperatur beton pada saat dikeluarkan dari ruang penguapan tidak
boleh lebih dari 110C dibanding udara luar.
- Selama perawatan dengan uap, ruangan harus selalu jenuh dengan uap air.
- Semua bagian bangunanal yang mendapat perawatan dengan uap harus dibasahi
selama 4 hari sesudah selesai perawatan uap tersebut.
(iii). Penyedia Jasa harus membuktikan bahwa peralatannya bekerja dengan baik
dan temperatur di dalam ruangan perawatan dapat diatur sesuai dengan ketentuan
dan tidak tergantung dari cuaca luar.
(iv). Pipa uap harus ditempatkan sedemikian rupa atau balok harus dilindungi
secukupnya agar beton tidak terkena langsung semburan uap, yang akan
menyebabkan perbedaan temperatur pada bagian-bagian beton.
(3) Perawatan dengan Cara Lain
(i). Membran cair
Perawatan membran dilakukan ketika seluruh permukaan beton segera esudah air
meningggalkan permukaan (kering), terlebih dahulu setelah beton dibuka
cetakannya dan finishing dilakukan. Jika seandainya hujan turun maka harus dibuat
pelindung sebelum lapisan membran cukup kering, atau seandainya lapisan
membran rusak maka harus dilakukan pelapisan ulang lagi.
(ii). Selimut kedap air
Metode ini dilakukan dengan menyelimuti permukaan beton dengan bahan
lembaran kedap air yang bertujuan mencegah kehilangan kelembaban ari

permukaan beton. Beton harus basah pada saat lembaran kedap air ini dipasang.
Lembaran bahan ini aman untuk tidak terbang/pindah tertiup angin dan apabila ada
kerusakan/sobek harus segera diperbaiki selama periode perawatan berlangsung.
(iii) Form-In-Place
Perawatan yang dilakukan dengan tetap mempertahankan cetakan sebagai dinding
penahan pada tempatnya selama waktu yang diperlukan beton dalam masa
perawatan
6. PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis
pekerjaan beton, bekisting dan waterstop harus memuat :
6.1. Penerimaan bahan
Bahan yang diterima (air, semen, agregat dan bahan tambah bila diperlukan) harus
diperiksa oleh pengawas penerimaan bahan dengan mengecek/memeriksa bukti
tertulis yang menunjukkan bahwa bahan-bahan yang telah diterima harus sesuai
dengan ketentuan persyaratan bahan pada Pekerjaan Beton dan Bekisting.
6.2. Pengawasan
Direksi pekerja harus menempatkan seorang personal khusus yang mempunyai
keahlian untuk melakukan pengawasan pekerjaan sesuai dengan persyaratan kerja
6.3. Perencanaan Campuran
1) Ketentuan Sifat-sifat Campuran
a) Campuran beton yang tidak memenuhi ketentuan kelecakan (misalnya
dinyatakan dengan nilai slump) seperti yang diusulkan tidak boleh digunakan
pada pekerjaan, terkecuali bila Direksi Pekerjaan dalam beberapa hal menyetujui
penggunaannya secara terbatas. Kelecakan (workability) dan tekstur campuran
harus sedemikian rupa sehingga beton dapat dicor pada pekerjaan tanpa
membentuk rongga, celah, gelembung udara atau gelembung air, dan sedemikian
rupa sehingga pada saat pembongkaran acuan diperoleh permukaan yang rata,
halus dan padat.
b) Seluruh beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi kuat tekan
yang disyaratkan, atau yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan, bila pengambilan
contoh, perawatan dan pengujian sesuai dengan SNI 03-1974-1990, SNI 03-48101998, SNI 03-2493-1991, SNI 03-2458-1991.
c) Jika pengujian beton umur 7 hari menghasilkan kuat tekan beton di bawah
kekuatan yang disyaratkan, maka Penyedia Jasa tidak diperkenankan mengecor
beton lebih lanjut, sampai penyebab dari hasil yang rendah tersebut diketahui
dengan pasti dan diambil tindakan-tindakan yang menjamin bahwa produksi beton
berikutnya memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam Spesifikasi.

Kuat tekan beton umur 28 hari yang tidak memenuhi ketentuan yang disyaratkan
harus dipandang sebagai pekerjaan yang tidak dapat diterima dan pekerjaan
tersebut harus diperbaiki sebagaimana disyaratkan di atas. Kekuatan beton
dianggap lebih kecil dari yang disyaratkan jika hasil pengujian serangkaian benda
uji dari suatu bagian pekerjaan yang dilaksanakan lebih kecil dari kuat tekan beton
karakteristik yang diperoleh dari rumus yang diuraikan.
d) Direksi Pekerjaan dapat pula menghentikan pekerjaan dan/atau memerintahkan
Penyedia Jasa untuk mengambil tindakan perbaikan dalam meningkatkan mutu
campuran atas dasar hasil pengujian kuat tekan beton umur 3 hari. Dalam keadaan
demikian, Penyedia Jasa harus segera menghentikan pengecoran beton yang
diragukan tetapi dapat memilih menunggu sampai hasil pengujian kuat tekan beton
umur 7 hari diperoleh, sebelum menerapkan tindakan perbaikan, pada waktu
tersebut Direksi Pekerjaan akan menelaah kedua hasil pengujian umur 3 hari dan 7
hari, dan dapat segera memerintahkan tindakan perbaikan yang dipandang perlu.
e) Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan dapat
mencakup pembongkaran dan penggantian seluruh beton. Tindakan tersebut tidak
boleh berdasarkan pada hasil pengujian kuat tekan beton umur 3 hari saja, kecuali
bila Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan sepakat dengan perbaikan tersebut.
2) Penyesuaian Campuran
a) Penyesuaian Sifat Mudah Dikerjakan (Kelecakan atau Workability)
Jika sifat kelecakan pada beton dengan proporsi yang semula dirancang sulit
diperoleh, maka Penyedia Jasa boleh melakukan perubahan rancangan agregat,
dengan syarat dalam hal apapun kadar semen yang semula dirancang tidak
berubah, juga rasio air/semen yang telah ditentukan berdasarkan pengujian yang
menghasilkan kuat tekan yang memenuhi tidak dinaikkan. Pengadukan kembali
beton yang telah dicampur dengan cara menambah air atau oleh cara lain tidak
diijinkan. Bahan tambahan untuk meningkatkan sifat kelecakan hanya diijinkan bila
telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
b) Penyesuaian Kekuatan
Jika beton tidak mencapai kekuatan yang disyaratkan, maka kadar semen dapat
ditingkatkan atau dapat digunakan bahan tambahan dengan syarat disetujui oleh
Direksi Pekerjaan.
c) Penyesuaian Untuk Bahan-bahan Baru
Perubahan sumber atau karakteristik bahan tidak boleh dilakukan tanpa
pemberitahuan tertulis kepada Direksi Pekerjaan. Bahan baru tidak boleh digunakan
sampai Direksi Pekerjaan menerima bahan tersebut secara tertulis dan menetapkan
proporsi baru berdasarkan atas hasil pengujian campuran percobaan baru yang
dilakukan oleh Penyedia Jasa
d) Bahan Tambahan (admixture)

Bila perlu menggunakan bahan tambahan, maka Penyedia Jasa harus mendapat
persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Jenis dan takaran bahan tambahan yang akan
digunakan untuk tujuan tertentu harus dibuktikan kebenarannya melalui pengujian
campuran di laboratorium. Ketentuan mengenai bahan tambahan ini harus
mengacu pada SNI 03-2495-1991.
Bila akan digunakan bahan tambahan berupa butiran yang sangat halus, sebagian
besar berupa mineral yang bersifat cementious seperti abu terbang (fly ash),
mikrosilika (silicafume), atau abu slag besi (iron furnace slag), yang umumnya
ditambahkan pada semen sebagai bahan utama beton, maka penggunaan bahan
tersebut harus berdasarkan hasil pengujian laboratorium yang menyatakan bahwa
hasil kuat tekan yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan yang diinginkan pada
Gambar Rencana dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Dalam hal penggunaan bahan tambahan dalam campuran beton, maka bahan
tersebut ditambahkan pada saat pengadukan beton. Bahan tambahan ini hanya
boleh digunakan untuk meningkatkan kinerja beton segar (fresh concrete).

Penggunaan bahan tambahan ini dilakukan dalam hal-hal sebagai berikut :


- Meningkatkan kinerja kelecakan adukan beton tanpa menambah air;
- Mengurangi penggunaan air dalam campuran beton tanpa mengurangi kelecakan
- Mempercepat pengikatan hidrasi semen atau pengerasan beton;
- Memperlambat pengikatan hidrasi semen atau pengerasan beton;
- Meningkatkan kinerja kemudahan pemompaan beton;
- Mengurangi kecepatan terjadinya slump loss;
- Mengurangi susut beton atau memberikan sedikit pengembangan volume beton
(ekspansi)
- Mengurangi terjadinya bleeding;
- Mengurangi terjadinya segregasi.

Untuk tujuan peningkatan kinerja beton sesudah mengeras, bahan tambahan


campuran beton bisa digunakan untuk keperluan-keperluan sebagai berikut :
- Meningkatkan kekuatan pada beton muda
- Mengurangi atau memperlambat panas hidrasi pada proses pengerasan beton,
terutama untuk beton dengan kekuatan awal yang tinggi.
- Meningkatkan kinerja pengecoran beton di dalam air atau di laut
- Meningkatkan keawetan jangka panjang beton

- Meningkatkan kekedapan beton (mengurangi permeabilitas beton)


- Mengendalikan ekspansi beton akibat reaksi alkali agregat
- Meningkatkan daya lekat antara beton baru dan beton lama
- Meningkatkan daya lekat antara beton dan baja tulangan
- Meningkatkan ketahanan beton terhadap abrasi dan tumbukan

Walaupun demikian, penggunaan aditif dan admixture perlu dilakukan secara hatihati dan dengan takaran yang tepat sesuai manual
penggunaannya, serta dengan proses pengadukan yang baik, agar pengaruh
penambahannya pada kinerja beton bisa dicapai secara merata pada semua bagian
beton. Dalam hal ini perlu dimengerti bahwa dosis yang berlebih akan dapat
mengakibatkan menurunnya kinerja beton, atau dalam hal yang lebih parah, dapat
menimbulkan kerusakan pada beton.

3) Pelaksanaan Pencampuran
a) Penakaran Agregat
(i). Seluruh komponen bahan beton harus ditakar menurut berat, untuk mutu beton
fc < 19,3 MPa diijinkan ditakar menurut volume sesuai SNI 03-3976-1995. Bila
digunakan semen kemasan dalam zak, kuantitas penakaran harus sedemikian
sehingga kuantitas semen yang digunakan adalah setara dengan satu satuan atau
kebulatan dari jumlah zak semen. Agregat harus ditimbang beratnya secara
terpisah. Ukuran setiap penakaran tidak boleh melebihi kapasitas alat pencampur
(ii). Penakaran agregat harus dilakukan dalam kondisi jenuh kering permukaan
(SSD-saturated surface dry). Apabila hal tersebut tidak dilakukan maka harus
dilakukan koreksi penakaran sesuai dengan kondisi agregat di lapangan. Untuk
mendapatkan kondisi agregat yang jenuh kering permukaan dapat dilakukan
dengan cara menyemprot tumpukan agregat dengan air secara berkala paling
sedikit 12 jam sebelum penakaran untuk menjamin kondisi jenuh kering permukaan
(iii) Penyedia Jasa harus dapat menunjukkan sertifikat kalibrasi yang masih berlaku
untuk seluruh peralatan yang digunakan untuk keperluan penakaran bahan-bahan
beton termasuk saringan agregat pada perangkat ready mix
b) Pencampuran
(i). Beton harus dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis dari jenis
dan ukuran yang disetujui sehingga dapat menjamin distribusi yang merata dari
seluruh bahan.

(ii). Pencampur harus dilengkapi dengan tangki air yang memadai dan alat ukur
yang akurat untuk mengukur dan mengendalikan jumlah air yang digunakan dalam
setiap penakaran.
(iii). Cara pencampuran bahan beton dilakukan sebagai berikut, pertama masukkan
sebagian air, kemudian seluruh agregat sehingga mencapai kondisi yang cukup
basah, dan selanjutnya masukkan seluruh semen yang sudah ditakar hingga
tercampur dengan agregat secara merata. Terakhir masukkan sisa air untuk
menyempurnakan campuran.
(iv). Waktu pencampuran harus diukur mulai pada saat air dimasukkan ke dalam
campuran bahan kering. Seluruh sisa air yang diperlukan harus sudah dimasukkan
sekira seperempat waktu pencampuran tercapai. Waktu pencampuran untuk mesin
berkapasitas m3 atau kurang harus sekira 1,5 menit; untuk mesin yang lebih
besar waktu harus ditingkatkan 15 detik untuk tiap penambahan 0,5 m3
(v). Bila tidak mungkin menggunakan mesin pencampur, Direksi Pekerjaan dapat
menyetujui pencampuran beton dengan cara manual dan harus dilakukan sedekat
mungkin dengan tempat pengecoran. Penggunaan pencampuran beton dengan
cara manual harus dibatasi hanya pada beton non-bangunanal.

4) Pengujian Campuran
a) Pengujian Untuk Kelecakan (Workability)
Satu pengujian "slump", atau lebih sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan, harus dilaksanakan pada setiap pencampuran beton yang dihasilkan,
dan pengujian harus dianggap belum dikerjakan kecuali disaksikan oleh Direksi
Pekerjaan atau wakilnya. Nilai slump pada setiap campuran tidak boleh berada
diluar rentang nilai slump ( 2 cm) yang disyaratkan
b) Pengujian Kuat Tekan
(i). Penyedia Jasa harus membuat sejumlah set benda uji (3 buah benda uji per set)
untuk pengujian kuat tekan berdasarkan jumlah beton yang dicorkan untuk setiap
kuat tekan beton dan untuk setiap jenis komponen bangunan yang dicor terpisah
pada tiap hari pengecoran.
(ii). Untuk keperluan pengujian kuat tekan beton, Penyedia Jasa harus menyediakan
benda uji beton berupa silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm, dan
harus dirawat sesuai dengan SNI 03-4810-1998. Benda uji tersebut harus dicetak
bersamaan dan diambil dari contoh yang sama dengan benda uji silinder yang akan
dirawat di laboratorium.
(iii) Jumlah set benda uji yang dibuat berdasarkan jumlah kuantitas pengecoran atau
komponen bangunan yang dicor secara terpisah dan diambil jumlah terbanyak
diantara keduanya.

(iv). Pengambilan benda uji untuk pengecoran yang didapat dari pencampuran
secara manual, setiap 10 meter kubik beton harus dibuat 1 set benda uji dan untuk
setiap komponen bangunan yang dicor terpisah minimal diambil 3 set benda uji.
(v). Jumlah benda uji yang harus dibuat untuk pengecoran hasil produksi ready mix,
diambil pada setiap pengiriman (1 set untuk setiap truk). 1set = 3 buah benda uji
(vi). Setiap set pengujian minimum tersebut harus diuji untuk kuat tekan beton
umur 28 hari.
(vii). Apabila dalam pengujian kuat tekan benda uji tersebut terdapat perbedaan
nilai kuat tekan yang > 5% antara dua buah benda uji dalam set tersebut, maka
benda uji ketiga dalam set tersebut harus diuji kuat tekannya. Hasil kuat tekan yang
digunakan dalam perhitungan statistik adalah hasil dari 2 buah benda uji yang
berdekatan nilainya.
(viii). Kekuatan beton diterima dengan memuaskan bila fc karakteristik dari benda
uji lebih besar atau sama dengan fc rencana. fc karakteristik dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
fc= fcm k.S , di mana S menyatakan nilai deviasi standar dari hasil uji tekan, dan
k adalah konstanta yang tergantung pada jumlah hasil kuat tekan dari benda uji
(k=1,64 untuk jumlah hasil kuat tekan benda uji lebih besar atau sama dengan dari
30

(ix). Nilai hasil uji tekan satupun tidak boleh mempunyai nilai di bawah 0,85 fc.
(x). Jika salah satu dari kedua syarat tersebut di atas tidak dipenuhi, maka harus
diambil langkah untuk meningkatkan rata-rata dari hasil uji kuat tekan berikutnya,
dan langkah-langkah lain untuk memastikan bahwa kapasitas daya dukung dari
bangunan tidak membahayakan.
(xi). Jika dari hasil perhitungan dengan kuat tekan menunjukkan bahwa kapasitas
daya dukung bangunan berkurang, maka diperlukan suatu uji bor (core drilling)
pada daerah yang diragukan berdasarkan aturan pengujian yang berlaku. Dalam hal
ini harus diambil paling tidak 3 (tiga) buah benda uji bor inti pada daerah yang tidak

membahayakan bangunan untuk setiap hasil uji tekan yang meragukan atau
terindikasi bermutu rendah seperti disebutkan di atas.
(xii). Beton di dalam daerah yang diwakili oleh hasil uji bor inti bisa dianggap secara
bangunan antara lain cukup baik bila rata-rata kuat tekan dari ketiga benda uji bor
inti tersebut tidak kurang dari 0,85 fc,

dan tidak satupun dari benda uji bor inti yang mempunyai kekuatan kurang dari
0,75 fc. Dalam hal ini, perbedaan umur beton saat pengujian kuat tekan benda uji
bor inti terhadap umur beton yang disyaratkan untuk penetapan kuat tekan beton
(yaitu 28 hari, atau lebih bila disyaratkan), perlu diperhitungkan dan dilakukan
koreksi dalam menetapkan kuat tekan beton yang dihasilkan.
c) Pengujian Tambahan
Penyedia Jasa harus melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan untuk
menentukan mutu bahan atau campuran atau pekerjaan beton akhir, sebagaimana
yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Pengujian tambahan tersebut meliputi :
(i). Pengujian yang tidak merusak menggunakan alat seperti Impact Echo, Ultrasonic
Penetration Velocity atau perangkat penguji lainnya (hasil pengujian tidak boleh
digunakan sebagai dasar penerimaan);
(ii). Pengujian pembebanan bangunan atau bagian bangunan yang dipertanyakan;
(iii). Pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton;
(iv). Pengujian lainnya sebagaimana ditentukan oleh Direksi Pekerjaan.

5) Perbaikan Atas Pekerjaan Beton Yang Tidak Memenuhi Ketentuan


a). Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi kriteria toleransi yang
disyaratkan,atau yang tidak memiliki permukaan akhir yang memenuhi
ketentuan,atau yang tidak memenuhi sifat-sifat campuran yang disyaratkan, harus
mengikuti petunjuk yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan antara lain
b) Perubahan proporsi campuran beton untuk sisa pekerjaan yang belum dikerjakan;
c). Penanganan pada bagian bangunan yang hasil pengujiannya gagal;
d) Perkuatan, pembongkaran atau penggantian sebagian atau menyeluruh pada
bagian pekerjaan yang memerlukan penanganan khusus.
e). Jika terjadi perbedaan pendapat dalam hal mutu pekerjaan beton atau adanya
keraguan dari data pengujian yang ada, Direksi Pekerjaan dapat meminta Penyedia
Jasa melakukan pengujian tambahan yang diperlukan untuk menjamin bahwa mutu
pekerjaan yang telah dilaksanakan dapat dinilai dengan adil dengan meminta pihak
ketiga untuk melaksanakannya.

f). Perbaikan atas pekerjaan beton yang retak atau bergeser sesuai dengan
ketentuan dari Spesifikasi ini. Penyedia Jasa harus mengajukan detail rencana
perbaikan untuk mendapatkan persetujuan Direksi Pekerjaan sebelum memulai
pekerjaan.

7. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


Pengukuran dan pembayaran yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi
teknis pekerjaan beton harus memuat :
7.1. Pengukuran
1) Pekerjaan Beton
a) Cara Pengukuran
(i). Beton akan diukur dengan jumlah meter kubik pekerjaan beton yang digunakan
dan diterima sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan pada Gambar Kerja atau
yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan dengan batas toleransi yang diijinkan dan
dibayar ukuran minimal yang masih masuk dalam toleransi. Tidak ada pengurangan
yang akan dilakukan untuk volume yang ditempati oleh pipa dengan garis tengah
kurang dari 20 cm atau oleh benda lainnya yang tertanam seperti "water stop", baja
tulangan, selongsong pipa (conduit) atau lubang sulingan (weephole).
(ii). Tidak ada pengukuran tambahan atau yang lainnya yang akan dilakukan untuk
acuan, perancah untuk balok dan lantai pemompaan, penyelesaian akhir
permukaan, penyediaan pipa sulingan, pekerjaan pelengkap lainnya untuk
penyelesaian pekerjaan beton, dan biaya dari pekerjaan tersebut telah dianggap
termasuk dalam harga penawaran untuk Pekerjaan Beton.
(iii). Kuantitas bahan untuk lantai kerja, bahan drainase porous, baja tulangan dan
mata pembayaran lainnya yang berhubungan dengan bangunan yang telah selesai
dan diterima akan diukur untuk dibayarkan seperti disyaratkan pada Bagian lain
dalam Spesifikasi ini.
(iv). Beton yang telah dicor dan diterima harus diukur dan dibayar sebagai beton
bangunan atau beton tidak bertulang. Beton Bangunan harus beton yang
disyaratkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebagai fc=21,7 MPa (K-250) atau
lebih tinggi dan Beton Tak Bertulang harus beton yang disyaratkan atau disetujui
untuk fc=14,5 MPa (K-175) atau fc=9,8 Mpa (K-125). Jika beton dengan mutu
(kekuatan) yang lebih tinggi diperkenankan untuk digunakan di lokasi untuk mutu
(kekuatan) beton yang lebih rendah, maka volumenya harus diukur sebagai beton
dengan mutu (kekuatan) yang lebih rendah.
b) Pengukuran Untuk Pekerjaan Beton Yang Diperbaiki
(i). Jika pekerjaan telah diperbaiki, kuantitas yang akan diukur untuk pembayaran
harus sejumlah yang harus dibayar bila mana pekerjaan semula telah memenuhi
ketentuan.

(ii). Tidak ada pembayaran tambahan akan dilakukan untuk tiap peningkatan kadar
semen atau setiap bahan tambah (admixture), juga tidak untuk tiap pengujian atau
pekerjaan tambahan atau bahan pelengkap lainnya yang diperlukan untuk
mencapai mutu yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.
2) Pekerjaan Waterstop
Pengukuran pembayaran pekerjaan waterstop dibuat berdasarkan meter panjang
terpasang, sesuai as waterstop seperti terlihat pada gambar.

7.2. Dasar Pembayaran


Kuantitas yang diterima dari berbagai mutu beton yang ditentukan sebagaimana
yang disyaratkan di atas, akan dibayar pada Harga Kontrak untuk Mata Pembayaran
dan menggunakan satuan pengukuran yang ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas
Harga dan pembayaran harus merupakan kompensasi penuh untuk seluruh
penyediaan dan pemasangan seluruh bahan yang tidak dibayar dalam Mata
Pembayaran lain, termasuk "water stop", lubang sulingan, acuan, perancah untuk
pencampuran, pengecoran, pekerjaan akhir dan perawatan beton, dan untuk semua
biaya lainnya yang perlu dan lazim untuk penyelesaian pekerjaan yang
sebagaimana mestinya.
LAMPIRAN
Tabel A Jumlah pengambilan contoh beton segar

No.
Macam Pengujian Volume Contoh
(Liter)
1
2
3
4
5
6
7 Slum
Berat Jenis
Kadar Udara
Uji Kuat Tekan ( 3 contoh )

Uji Kuat Lentur ( 3 contoh )


Uji Kuat Tarik ( 3 contoh )
Uji Modulus Elastis ( 3 contoh ) 8
6
9
28
28
28
28

Tabel B. Ketentuan Agradasi Agregat


Ukuran Ayakan Persen Berat Yang Lolos Untuk Agregat
Inchi

8. BESI TULANGAN
8.1. Umum
Besi tulangan untuk pekerjaan konstruksi beton dapat berupa besi polos dan besi
ulir yang memenuhi ketentuan standar JIS atau ASTM A615, Grade 60 atau SII 037684, dengan karakteristik sebagai berikut:
Property Besi Ulir Besi Polos
Tensile strength (kg/mm2) 45-57 45-57
Yield point (kg/mm2) 30 atau lebih 30 atau lebih
Elongation (%) 16 atau lebih 18 atau lebih
Penyedia Jasa harus mendapat persetujuan Pengguna Jasa untuk pengadaan besi
tulangan yang akan dipergunakan dan menyerahkan sertifikat produksi pabrik
setiap pengirimannya ke lokasi pekerjaan. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri harus
melakukan uji material bila diminta Pengguna Jasa dengan prosedur baku uji yang
disetujui Pengguna Jasa
Tampang melintang besi tulangan yang dikirim ke lokasi kerja harus sama pada
seluruh panjangnya dengan yang disetujui Pengguna Jasa
Dua besi tulangan dengan diameter yang sama yang diambil secara random dari
besi tulangan yang dikirim ke lokasi kerja harus tidak boleh berbeda lebih dari 2%

(dua persen) dari diameter yang disyaratkan. Besi tulangan harus bersih dari karat,
oli, kotoran dan tidak cacat.
8.2 Gambar Pembesian
Penyedia Jasa wajib menyerahkan gambar pembesian berikut dengan daftar besi
dan pembengkokannya kepada Pengguna Jasa untuk mendapat persetujuan
sebelum pemasangannya di lokasi pekerjaan.
8.3 Pemasangan Besi Tulangan
Besi tulangan harus dipotong, ditekuk dan dibentuk sesuai dengan ukuran/dimensi
yang ditunjukkan pada gambar pembesian yang telah disepakati. Besi tulangan
harus dipasang pada lokasi dan posisi yang tepat sesuai dengan gambar dan diikat
kuat pada cetakan beton.
Besi tulangan harus menyatu dengan kuat antara satu dengan yang lain sebagai
suatu rangkaian/anyaman yang kokoh yang tidak mudah berubah bentuk dan diikat
dengan kuat pada cetakan dengan posisi yang tepat dan tidak mudah bergeser
selama proses penuangan dan pemadatan beton.
Semua ujung-ujung kawat pengikat harus ditekuk ke arah dalam adukan beton,
tidak diijinkan mencuat keluar permukaan beton.
Batu tahu untuk membentuk selimut beton, dibuat dari beton pra-cetak dengan
kuat desak tidak kurang dari tipe beton yang akan dituang, dengan tebal sesuai
dengan desain tebal selimut beton diikat kuat pada cetakan dengan kawat dan
disiram air sesaat sebelum beton dituang.
Sebelum penuangan beton dilaksanakan, seluruh besi tulangan harus dibersihkan
dari material lepas, debu, lumpur, kerak, oli atau sisa beton hasil pengecoran
sebelumnya yang menempel/mengeras dan bahan lainnya yang dapat melemahkan
ikatan dengan beton.
Penyedia Jasa wajib memberikan waktu tidak kurang dari 24 jam sebelum
pelaksanaan penuangan beton, kepada Pengguna Jasa untuk melakukan
pemeriksaan kesiapan pelaksanaan secara menyeluruh dan memberi persetujuan
bila semuanya sesuai dengan ketentuan dalam spesifikasi.
8.4. Penyambungan Besi Tulangan
Semua besi tulangan harus dipasang dengan susunan dan panjang seperti pada
gambar kecuali bila ditentukan dan disetujui berbeda oleh Pengguna Jasa

Kecuali yang sudah ditetapkan dalam gambar penyambungan besi tulangan lainnya
tidak diperkenankan tanpa persetujuan Pengguna Jasa Penyambungan harus
dilakukan dengan overlap sepanjang mungkin.
Panjang overlap antara 2 (dua) besi tulangan yang disambung harus sesuai dengan
gambar. Bila tidak ditunjukkan dalam gambar, panjang overlap harus tidak kurang

dari 30 (tiga puluh) diameter besi tulangan. Untuk penyambungan dengan cara
overlap, besi tulangan harus dipasang dan diikat dengan kawat sedemikian
sehingga tebal selimut beton tetap memenuhi ketentuan.
8.5. Selimut Beton
Semua besi tulangan harus dipasang dengan tebal selimut beton sesuai dengan
ketentuan dalam gambar, atau atas perintah Pengguna Jasa

8.6. Pengukuran Pembayaran Besi Tulangan


Kecuali untuk beton pracetak, besi tulangan diukur dalam satuan berat ton untuk
setiap jenis/tipe besi tulangan bulat-polos atau bulat-ulir, berdasarkan berat yang
dihitung untuk besi tulangan dengan ukuran diameter dan panjang yang
ditunjukkan dalam daftar dan gambar pembesian/penulangan yang disetujui
Pengguna Jasa
Untuk menghitung berat besi tulangan setiap tipe besi sebagai dasar pembayaran,
ketentuan berat dalam SNI 07-2052-1990 yang setara dengan JIS G3112 harus
diikuti sbb:

Besi Bulat-Ulir
Diameter (mm) D10 D13 D16 D19 D22 D25 D29 D32
Berat (kg/m) 0,617 1,04 1,58 2,23 2,98 3,85 5,19 6,31

Besi Bulat-Polos
Diameter (mm) 8 10 12 16 19 22 25 28 32
Berat (kg/m) 0,395 0,617 0,888 1,58 2,23 2,98 3,85 4,83 6,31

Bila diameter besi tulangan dalam gambar tidak ada dalam daftar diatas, Pengguna
Jasa akan menetapkan berat besi tulangan yang dipasang di lokasi pekerjaan
berdasarkan ketentuan dalam standar SNI atau JIS.
Besi tulangan yang diperlukan untuk pemasangan, penyetelan, penjepit, pengikat
dan keperluan lainnya untuk penempatan besi tulangan pada cetakan, tidak
diperhitungkan dalam pembayaran. Besi tulangan untuk overlap sambungan akan
diperhitungkan dalam pembayaran.

Pembayaran untuk pekerjaan besi tulangan dilakukan berdasarkan harga satuan


yang ditawarkan/dicantumkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga untuk masingmasing tipe besi bulat-ulir dan besi bulat-polos. Harga satuan tersebut sudah
termasuk biaya dan ongkos untuk pekerja, peralatan, material, alat penyediaan,
pemasangan dan penyetelan besi tulangan dan semua pekerjaan pendukung yang
disebut dalam Spesifikasi ini.
VII. PEKERJAAN PINTU AIR
1. RUANG LINGKUP
Pedoman Pedoman ini menetapkan ketentuan dan persyaratan, metode
pelaksanaan pekerjaan, pengendalian mutu serta pengukuran dan pembayaran
pelaksanaan pekerjaan pintu.
Pedoman ini mencakup perencanaan, pengadaan, pengujian, finishing, pengecatan,
pengiriman ke lokasi pekerjaan, penyetelan yang ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan.
2. ACUAN NORMATIF
Standar Nasional Indonesia (SNI)
- SNI 03-3399-1994 : Metode Pengujian Kuat Tarik Kayu Di Laboratorium
- SNI 03-3400-1994 : Metode Pengujian Kuat Geser Kayu Di Laboratorium
- SNI 03-3527-1994 : Mutu Kayu Bangunan
- SNI 03-3958-1995 : Metode Pengujian Kuat Tekan Kayu Di Laboratorium
- SNI 03-3959-1991 : Metode Pengujian Kuat Lentur Kayu Di Laboratorium
- SNI 03-3960-1995 : Metode Pengujian Modulus Elastisitas Lentur Kayu di
laboratorium
- SNI 03-3972-1995 : Metode Pengujian Modulus Elastisitas Lentur Kayu Konstruksi
berukuran structural
- SNI 03-3973-1995 : Metode Pengujian Modulus Elastisitas Tekan dan Kuat Tekan
Sejajar Serat Kayu Konstruksi Berukuran Struktural
- SNI 03-3974-1995 : Metode Pengujian Modulus Geser Kayu Konstruksi Berukuran
structural
- SNI 03-3975-1995 : Metode Pengujian Kuat Lentur Kayu Konstruksi Berukuran
structural
- SNI 03-6861.1-2002 : Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A (Bahan Bangunan
Bukan Logam)
- SNI 03-6861.2-2002 : Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian B (Bahan Bangunan
Dari Besi / Baja
- SNI 03-6861.3-2002 : Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian C (Bahan Bangunan
Dari Logam Bukan Besi

3. ISTILAH DAN DIFINISI

Pintu Air Type A* : adalah pintu air dengan daun pintu dari bahan plat dan alat putar
transmisi doble stang, digunakan untuk pintu lebar antara > 2,00 m s/d 3,00 m, dan
atau ditentukan sesuai dengan gambar disain
Pintu Air Type A : adalah pintu air dengan daun pintu dari bahan kayu dan alat putar
transmisi doble stang, digunakan untuk pintu lebar antara > 2,00 m s/d 3,00 m, dan
atau ditentukan sesuai dengan gambar disain
Pintu Air Type B* : adalah pintu air dengan daun pintu dari bahan plat dan alat putar
transmisi satu stang, digunakan untuk pintu lebar antara > 1,00 m s/d 2,00 m, dan
atau ditentukan sesuai dengan gambar disain
Pintu Air Type B : adalah pintu air dengan daun pintu dari bahan kayu dan alat putar
transmisi satu stang, digunakan untuk pintu lebar antara > 1,00 m s/d 2,00 m, dan
atau ditentukan sesuai dengan gambar disain
Pintu Air Type C2 : adalah pintu air dengan daun pintu dari bahan plat dan alat putar
biasa satu stang, digunakan untuk pintu lebar antara > 0,70 m s/d 1,00 m, dan atau
ditentukan sesuai dengan gambar disain
Pintu Air Type C3 : adalah pintu air dengan daun pintu dari bahan plat dan alat putar
biasa satu stang, digunakan untuk pintu lebar antara > 0,50 m s/d 0,70 m, dan atau
ditentukan sesuai dengan gambar disain
Pintu Air Type C5 : adalah pintu air angkat dengan daun pintu dari bahan plat,
digunakan untuk pintu lebar antara 0,30 m s/d 0,50 m, dan atau ditentukan sesuai
dengan gambar disain
4. PERSYARATAN BAHAN
4.1. Baja konstruksi (plat dan profil) harus baik, baru, dari pabrik yang resmi dan
setaraf dengan S.t.(DIN 17100 1966).
4.2. Tangki dan ulir untuk gate/pintu harus setaraf dengan S.t. 60 (DIN 17100 1966).
4.3. Besi tuang harus bebas cacat/retak; perbaikan retak retak dengan las atau
lainnya tidak diperkenankan.
4.4. Baut, keling dan washers harus dari pabrik resmi dan harus setaraf U.st. 36 1
(DIN 1711 1968). Baut dan keling yang tersentuh air harus digalvanisir.
4.5. Las harus dikerjakan dengan halus, rapi, penuh dan bersih, kelihatan jelek atau
las yang tidak sempurna dan sebagainya akan ditolak.
4.6. Kawat las yang dipakai adalah "Unimatic" 6000 (AC DC) dengan kekuatan tarik
4.760 kg/cm2 atau type yang sama.

4.7. Pipa besi untuk sandaran harus ukuran standar pipa dengan "heavy duty
galvanized coating".
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN
5.1. Spesifikasi untuk Bangunan Pintu dan Pintu Sorong.
Bangunan Pintu.
a. Pintu harus dibuat dengan konstruksi las yang sempurna. Daun pintu untuk
bagian (sisi) hulu harus dipotong tepat ukuran. Palang sisi dan horizontal harus
diklem kuat pada permukaan plat sedemikian hingga pada waktu selesai mengelas
jarak antara plat dan batang tidak lebih dari 1 mm.
Bagian batang/palang yang dilas pada daun pintu, las harus menerus didua sisi,
sedemikian hingga tidak ada air yang bocor diantara bagian bagian tersebut.
b. Pintu harus diserahkan komplit dengan segala kelengkapannya, plat dinding,
rangka, ambang, tangki ulir gear dan material lain yang dibutuhkan. Semua bagian
daripada pintu harus cocok dengan gambar disain.
c. Setelah pemasangan rangka, semua harus ditambat kuat pada bangunan dengan
baut berjangkar, dan semua rongga yang ada antara rangka dan bangunan harus
diisi mortar 1 PC : 3 PS sampai Direksi menganggap cukup.
d. Semua pembuatan konstruksi harus sedemikian sehingga pintu bebas dari
puntiran, bengkok dan deformasi lain menurut anggapan Direksi.

e. Pemakaian karet atau bahan lain untuk seals guna perapat pada pintu pintu
harus sesuai dengan yang diijinkan yang mempunyai effectivitas, keawetan sesuai
cuaca Indonesia dan terendam dalam air secara kontinu, dan keterbukaan pada
sinar matahari dimungkinkan pemakaian bahan karet sintetik atau plastik yang
memenuhi persyaratan.
Bahan perapat diatas harus sedemikian sehingga mudah dipasang atau diganti, dan
baut baut dipakai harus tahan terhadap korosi.
f. Semua bagian harus dibuat secara presisi sesuai standar Industri untuk
memudahkan perakitan, pemasangan dan pemindahan. Semua dimensi yang ada
digambar adalah minimum. Dalam pembuatan harus dilebihi (ukurannya)
secukupnya, sedemikian hingga tidak ada dimensi yang kurang.
Pintu Sorong.
a. Pintu sorong dapat dioperasikan dan harus diserahkan lengkap termasuk tangkai,
dan kunci, gear, serta kopling dan lain-lain.

Tarikan yang dibutuhkan tidak boleh lebih keras dari 10 kg untuk membuka atau
menutup pintu dan las roda setang harus pada elevasi 0.90 m diatas bangunan atau
platform dimana operator akan berdiri.
b. Tangkai ulir dan gear harus dibuat presisi sangat tepat.
Gear harus dari besi tulang atau selubung/rangka las dilengkapi tutup untuk
pemberian pelumas dari gear.
c. Pintu sorong harus seluruhnya shop assembled (rakitan pabrik) ukuran plat dan
profil pintu harus sesuai dengan gambar.
5.2. Spesifikasi Teknik Umum.
Penyiapan bahan bahan.
a. Semua kegiatan, sedapat mungkin dilakukan didalam / sekitar wilayah (proyek).
b. Mutu dan penyelesaian harus sesuai dengan kenyataan praktek dalam pekerjaan
konstruksi baja modern. Bahan pada pekerjaan besi harus dijaga bersih dan
terlindung dari pengaruh cuaca sejauh memungkinkan dalam praktek.
Lubang baut harus betul betul bulat.
Ukuran dari lubang baut harus tidak lebih dari 2 mm lebih besar dari diameter
nominal (ditetapkan) dari baut dan harus menciptakan putaran yang pas dengan
baut.
Jika mungkin, mesin dengan "a fixed drilling line" harus digunakan. Lubang lubang
pada dasar plat untuk baut lebih besar 0.25 mm. Gerigi gerigi pada permukaan luar
harus dihilangkan.
c. Panjang uliran baut harus sedemikian sehingga seluruh diameter tangkai berada
dalam daerah geser (shearzone).
Baut harus menonjol paling tidak satu panjang uliran dengan minimum 3 mm dan
maksimum 10 mm setelah penggeseran dari mur. Dibawah mur pada baut jangkar
dan dibawah semua kepala baut dan mur, harus dilengkapi "heavy duty washer".
Jika baut digunakan dalam permukaan yang miring, harus menggunakan "bevelled
washer". Kepala dari mur harus diputar benar, dengan kunci inggris yang cocok dan
dengan panjang tidak kurang dari 0.30 m.
d. Untuk dratsatng harus doble drat
e. Sebelum dimulainya pengelasan, Penyedia Jasa harus membuat dan
menyerahkan kepada Direksi untuk disetujui, program lengkap yang menunjukkan :
Type pengelasan.
Klasifikasi bahan untuk pengelasan, termasuk ukuran ukuran yang diperlukan untuk
mewujudkan dimensi spesifikasi setelah pengelasan. Sesudah pengelasan, semua
ceceran las harus dibersihkan dan semua lubang, pori dan berkas berkas terbakar
harus diperbaiki.

- Diameter kawat las dan aliran listrik yang dipakai harus memenuhi ketentuan
dibawah ini.

Pemasangan.
a. Penyedia Jasa harus memasang semua bagian dari pekerjaan seperti pada
gambar disain yang disetujui atau atas petunjuk Direksi ditempat pekerjaan,
termasuk semua alat alat pelengkap seperti baut jangkar, penahan, seal (penguat)
dan sebagainya.
b. Semua bagian yang ditanam harus ditumpu kuat (rigid) dan diteliti/tepat sebelum
dan selama pemasangan.
Dinding plat, sandaran dan ambang harus diperkuat seperti ditunjukkan dalam
gambar atau atas petunjuk Direksi.
c. Pada penyelesaian pekerjaan semua bagian harus dibersihkan dan dirapikan oleh
Penyedia Jasa
Penyedia Jasa harus memindahkan semua kelebihan bahan bahan dari tempat
pekerjaan atau seperti ditunjukkan Direksi.
Semua gear reducer tertutup harus diisi secukupnya dengan minyak pelumas,
sesuai syarat dari pembuat/pabrik.
Gear Reducer terbuka harus diberi gemuk kwalitas baik pada giginya (graphite
grease). Semua pelumas dan zat pencuci harus disediakan Penyedia Jasa tanpa
tambahan biaya.
d. Penyedia Jasa harus menyediakan persediaan pelumas yang cukup untuk jangka
waktu pemeliharaan untuk semua bagian pekerjaan dari Kontrak ini
Test dan Garansi.
a. Pada saat penyelesaian pekerjaan, peralatan harus siap untuk ditest, dihadapan
Direksi sebelum penyerahannya untuk membuktikan bisa dioperasikan dengan
memuaskan.
Jika ada bagian dari pekerjaan gagal dioperasikan sesuai ketentuan Direksi,
beberapa perubahan harus dikerjakan oleh Penyedia Jasa sesuai ketentuan Direksi
tanpa pembayaran ekstra.
b. Pada saat penyerahan pekerjaan, Penyedia Jasa harus melaksanakan
pemeliharaan selama jangka waktu masa pemeliharaan untuk semua pekerjaan,
meliputi perbaikan dari semua kekurangan dan kerusakan yang mungkin terjadi
dalam jangka waktu tersebut tanpa biaya tambahan.
Pengecatan
a. Bahan-bahan.

i. Semua cat harus disediakan dalam keadaan segel pabrik (factory scaled)
kaleng/cap pabriknya akan ditentukan oleh Direksi.
ii. Cat yang telah melampui batas kadaluwarsa seperti tertulis pada kalengnya tidak
boleh dipakai, dan harus segera disingkirkan dari tempat pekerjaan.
b. Pelaksanaan Pengecatan Pekerjaan Baja.
Sebelum pengecatan dilaksanakan permukaan harus dibersihkan dan dikerjakan
atau dicat sebagai berikut :
i. Pengecatan harus dikerjakan dengan mesin, dalam pelaksanaan pengecatan lapis
demi lapis sampai dengan ketebalan yang ditentukan dimulai dari cat meni lalu cat
anti karat dan terakhir dilapis cat bron untuk bagian atas konstruksi.
ii. Yang bersentuhan dengan pekerjaan baja lainnya ketika pemasangan di
lapangan, dua lapis cat dasar, kecuali ditentukan lain
iii Yang akan bersentuhan dengan beton, aspal, termakadam atau bitumen penahan
air, tidak perlu pengerjaan apa-apa atau pengecatan.
c. Pengecetan Daun Pintu/Schot balk (balok sekat).
i. Sebelum pengecatan dimulai terlebih dahulu bidang-bidang permukaan yang akan
dicat, dibersihkan dari kotoran-kotoran tanah dan lumpur dan sebagainya.
ii. Semua bidang permukaan kayu diketam licin.
iii. Pengecatan permukaan Daun Pintu / Papan balok sekat dicat 4x kecuali
ditentukan lain oleh Direksi.
Pemeriksaan dan Perakitan
a. Pemeriksaan Bahan & Mutu.
Direksi atau pejabat yang bertugas mengadakan pemeriksaan terhadap bahan
bahan, mutu pekerjaan Pabrik, percobaan perakitan di pabrik, harus melakukan
pemeriksaan pemeriksaan
Pemeriksaan ini meliputi :
a. Pemeriksaan baja atau bahan lain yang dipakai untuk memastikan bahwa bahan
diatas sesuai dengan standar. Laporan percobaan kimia dan fisika yang dilakukan
pemeriksaan terhadap bahan yang dipakai harus ditunjukkan pemeriksaan.
b. Memeriksa ukuran
c. Memeriksa pekerjaan las dan mengujinya bila diperlukan
d. Memeriksa pembersihan dan pengecatan dari pekerjaan baja
e. Percobaan perakitan dan menguji hasilnya
f. Memeriksa cara pengepakan untuk pengiriman

Pengerjaan di Lapangan
Penyedia Jasa harus melakukan pekerjaan baja selengkapnya dan menyediakan
perancah sementara serta persiapan yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan.
Sebelum pelaksanaan dimulai dilapangan Penyedia Jasa harus menyampaikan
kepada Direksi untuk mendapat persetujuan, cara yang diusulkan untuk
pelaksanaan pekerjaan baja serta melaksanakan pengaturan dan pencegahan
terhadap kecelakaan seperti yang ditunjukkan oleh Direksi.

Permukaan yang Bersentuhan.


Kecuali ditentukan lain, jika logam dipasang permanen pada permukaan logam lain
permukaan logam yang bersentuhan harus dicat dengan dua lapis cat bitumen,
segera sebelum pemasangan.
Aluminium tidak boleh dipasang pada beton basah atau pasangan batu, atau
dipasang tetap pada beton yang masih muda. Bila perlu untuk menghubungkan
aluminium dengan baja atau besi tulang, kedua permukaan harus dipisahkan
dengan bahan pemisah yang disetujui tebalnya tidak kurang dari 1,5 mm.
Bila aluminium batang atau bangunan baja dipasang dalam pasangan batu, bata
atau beton, permukaan yang bersentuhan harus dicat lebih dahulu dan bahan
sambungan harus diberi seng.

Pemasangan Bagian bagian.


Untuk pemasangan bagian bagian pekerjaan baja yang tercantum dalam pekerjaan
beton atau pasangan batu yang permanen maka bagian bagian diatas angkur, plat
perletakan dan lain lain harus lebih dahulu dari pada bagian lain.
5.3. Perhitungan dan Pembayaran :
Volume Pekerjaan dihitung sesuai dan berdasarkan gambar pelaksanaan yan telah
disetujui oleh Pengguna Jasa, dan diperhitungkan dalam satuan ( Unit ) Buah.
Harga satuan yang ditawarkan oleh Penyedia Jasa sudah harus meliputi Upah
tenaga,bahan material yang dipakai, peralatan yang digunakan, BiayaUmum dan
keuntungan.
VIII. PEKERJAAN PERKERASAN JALAN
1. RUANG LINGKUP
Pedoman ini menetapkan ketentuan dan persyaratan, metode pelaksanaan
pekerjaan, pengendalian mutu serta pengukuran dan pembayaran pelaksanaan
pekerjaan perkerasan jalan.

Pedoman ini mencakup pengadaan, pemrosesan, pengangkutan, penghamparan


pasir dan pemadatan lapisan batu belah, batu pecah, penetrasi di lokasi pekerjaan
yang ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan.
2. ACUAN NORMATIF
Standar Nasional Indonesia (SNI)
- SNI 03-2417-1991 : Metode Pengujian Keausan Agregat Dengan Mesin Abrasi Los
Angeles
3. ISTILAH DAN DIFINISI
Agregat halus : adalah agregat yang mempunyai diameter butir di atas 0,25 mm
sampai 4 mm yang biasa disebut pasir
Agregat kasar : adalah agregat yang mempunyai diameter butir di atas 4 mm
sampai 31,5 mm yang biasa disebut kerikil.
Batu alam : adalah suatu gabungan daripada hablur mineral yang bersatu dan
memadat, sehingga memiliki derajat kekerasan tertentu, yang berbentuk secara
alamiah melalui proses pelelehan, pembekuan, pengendapan dan perubahan
alamiah.
Batu pecah : adalah hasil pecahan batu alam dalam bentuk butiran asli atau dibelah
menjadi ukuran butiran yang cukup besar untuk dipergunakan dalam pembuatan
bangunan dasar
Pasir Batu : adalah agregat kasar yang terdiri dari unsure batu, pasir dan tanah.

4. PERSYARATAN BAHAN
4.1. Batu
a. Batu harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan harus dari jenis
yang diketahui awet.
Bila perlu, batu harus dibentuk untuk menghilangkan bagian yang tipis atau lemah.
b. Batu yang digunakan adalah batu belah atau batu bulat, batu kali yang dipecah
salah satu sisinya tidak rapuh tidak keropos, tidak berpori.
c. Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan saling
mengunci bila dipasang bersama-sama.
d. Untuk batu dari hasil galian, harus dibersihkan dari lapisan tanah yang
menyelimuti agar permukaan batu bersih.
e. Ukuran batu berkisar antara diameter 15-30 cm. Batu bulat atau batu kali hanya
boleh digunakan setelah salah satu sisinya dipecah atau sesuai persetujuan Direksi
dan digunakan bersama-sama dengan batu belah.

Batu pecah yang mempunyai diameter < 10 cm hanya boleh dipergunakan sebagai
batuan pengisi/pengunci.
4.2. Pasir
a. Pasir yang dimaksud disini lebih diutamakan pasir alam (pasir pasang) yang
diambil dari sungai atau sumber lain yang telah disetujui oleh Direksi.
b. Tempat penimbunan penyimpanan harus bersih dari sampah organik, sampah
kimia, bebas dari banjir serta tidak terkontaminasi dengan bahan lainnya, seperti air
laut/garam dan lain-lainnya yang akan menurunkan mutu pasangan batu.

4.3. Kerikil
a. Kerikil harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan harus dari jenis
yang diketahui awet.
b. Kerikil yang digunakan adalah batu belah atau batu bulat, batu kali yang dipecah
salah satu sisinya tidak rapuh tidak keropos, tidak berpori.
c. Kerikil harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan saling
mengunci bila dipasang bersama-sama.

5. PELAKSANAAN PEKERJAAN
5.1. Pelapisan pasir Sub Base Jalan t = 10 cm
a. Lapiran pasir merupakan lapisan kerja dari pasir setebal = 10 cm yang diratakan
diatas badan jalan.
b. Sebelum lapisan pasir dihamparkan maka muka tanah harus digaruk setebal 15
cm dan dibuang kemudian tubuh jalan dipadatkan kembali sebelum konstruksi jalan
dipasang.
c. Pemadatan dilakukan dengan mesin gilas (10 ton/m lebar roda) sebanyak 4
lintasan atau sesuai perintah Direksi sampai permukaan badan jalan halus dan rata.

5.2. Perkerasan onderlaag / batu belah t = 15 cm


a. Sebelum onderlaag dipasang maka terlebih dahulu memasang batu tepi dengan
lebar 20 cm dipasang berdiri.
b. Setelah itu batu onderlaag dipasang berdiri diantara batu tepi.
c. Kemudian dilakukan pemadatan dengan mesin gilas (10 ton/m lebar roda)
sebanyak 4 lintasan atau sesuai perintah Direksi sampai permukaan jalan jadi rata.

5.3. Pelapisan Steenslaag / batu pecah t = 6 cm


a. Setelah onderlaag dipadatkan sesuai dengan perintah Direksi maka
penghamparan berikutnya berupa lapisan steenslaag dapat dilakukan.
b. Penghamparan dilakukan bertahap mulai dari batu pecah 4/6 cm, 3/5 cm dan 2/3
cm dengan pemadatan sehingga mencapai ketebalan = 6 cm
c. Pemadatan dilakukan sampai lapisan onderlaag tidak ada lobang-lobang

5.4. Perhitungan dan Pembayaran :


Volume Pekerjaan Perkerasan jalan peritemnya dihitung sesuai dan berdasarkan
gambar pelaksanaan yan telah disetujui oleh Pengguna Jasa, dan diperhitungkan
dalam satuan ( Unit ) m2.
Harga satuan yang ditawarkan oleh Penyedia Jasa sudah harus meliputi Upah
tenaga,bahan material yang dipakai, peralatan yang digunakan, Biaya Umum dan
keuntungan.

IX. PEKERJAAN PIPANISASI


1. RUANG LINGKUP
Pedoman Pedoman ini menetapkan ketentuan dan persyaratan, metode
pelaksanaan pekerjaan, pengendalian mutu serta pengukuran dan pembayaran
pelaksanaan pekerjaan pipanisasi beserta assesorisnya.
Pedoman ini mencakup pengadaan, pengujian, finishing, pengecatan, pengiriman ke
lokasi pekerjaan, penyetelan yang ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan.
2. ACUAN NORMATIF
Standar Nasional Indonesia (SNI)
3. ISTILAH DAN DIFINISI
----4. PERSYARATAN BAHAN
----5. PELAKSANAAN PEKERJAAN
5.1. Pengadaan dan Pemasangan Tiang Pagar (galvanis)
a. Bahan yang digunakan adalah Pipa galvanis diameter 3.
b. Tinggi tiang adalah sesuai gambar desain.
c. Demensi umpak sesuai gambar disain dari bahan campuran beton.

d. Perhitungan dan Pembayaran :


Volume Pekerjaan dihitung sesuai dan berdasarkan gambar pelaksanaan yan telah
disetujui oleh Pengguna Jasa, dan diperhitungkan dalam satuan (m).
Harga satuan yang ditawarkan oleh Penyedia Jasa sudah harus meliputi Upah
tenaga, bahan material yang dipakai, peralatan yang digunakan, Biaya Umum dan
keuntungan.

X. PEKERJAAN LAIN-LAIN
1. RUANG LINGKUP
Pedoman Pedoman ini menetapkan ketentuan dan persyaratan, metode
pelaksanaan pekerjaan, pengendalian mutu serta pengukuran dan pembayaran
pelaksanaan pekerjaan lain-lain.
Pedoman ini mencakup pengadaan, pengujian, finishing, pengecatan, pengiriman ke
lokasi pekerjaan, penyetelan yang ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan.
2. ACUAN NORMATIF
Standar Nasional Indonesia (SNI)
3. ISTILAH DAN DIFINISI
----4. PERSYARATAN BAHAN
----PELAKSANAAN PEKERJAAN
5.1. Pengadaan dan Pemasangan Nomenklatur 40 x 60 cm (marmer).
a. Bahan yang digunakan adalah marmer dengan ukuran sesuai dengan disain atau
ditentukan oleh Direksi, sedangkan ukuran 40 x 60 x 1,5 cm.
b. Untuk menulis huruf harus dipahat dan dicat warna biru atau sesuai dengan
perintah Direksi dan permukaan dalam kondisi rata.
c. Dalam pemasangannya harus tenggelam / rata dengan permukaan dan diberi
spesi 1 PC : 2 PS sebagai bahan perekat.
d. Perhitungan dan Pembayaran :
Volume Pekerjaan dihitung sesuai dan berdasarkan gambar pelaksanaan yan telah
disetujui oleh Pengguna Jasa, dan diperhitungkan dalam satuan ( Unit ) Buah.
Harga satuan yang ditawarkan oleh Penyedia Jasa sudah harus meliputi Upah
tenaga,bahan material yang dipakai, peralatan yang digunakan, Biaya Umum dan
keuntungan.

5.2. Drain Hole Pipa PVC diameter 2


Ketentuan Umum
Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan/material PVC dan pemasangan pada
dinding penguat (retaining walls), dinding-dinding pasangan batu, pasangan beton
dan bangunan lain termasuk pemasangan gravel filter dan lapisan ijuk seperti
tertera pada gambar rencana atau yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
Pipa tersebut terbuat dari Polyvinyle Cloride (PVC) berkualitas baik, tidak pecah dan
berdiameter tidak kurang 2 inch, dengan panjang sesuai ketebalan konstruksi atau
gambar yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

5.3. Gebalan Rumput


a. Persyaratan Bahan / Material
Untuk melindungi rawan rusak lereng/tebing oleh riak/gelombang atau arus air
(erosi), gebalan rumput dikerjakan/diadakan sebagaimana tertera pada gambar
atau sesuai dengan yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
Lempengan gebalan rumput yang dipergunakan untuk pelindung tebing harus
segar, padat dan berakar kuat serta panjang potongan lempengan gebalan rumput
tidak kurang dari 10 cm.
b. Metoda Kerja
Pekerjaan gebalan rumput terdiri dari pekerjaan persiapan, pemotongan,
pengangkutan dan menata lempengan gebalan rumput pada tempatnya, serta
memelihara lereng/tebing sedemikian rupa agar supaya rumput dapat tumbuh
normal dan serentak.
Direksi Pekerjaan akan memeriksa lempengan gebalan rumput. Perlu dijaga agar
jangan terjadi kehilangan tanah humus pada lempengan gebalan rumput selama
pemotongan dan pengangkut. Transplating (memindahkan tanaman) rumput
dilaksanakan selama 24 jam, setelah pemotongan dan ditaruh pada tempat
sementara atas persetujuan Direksi Pekerjaan.
Dalam proses penempatan sementara dan pengangkutan dikerjakan sedemikian
rupa sehingga dua muka tanah dari dua lempengan disetangkup (tanah dengan
tanah saling ditempelkan). Lempengan lempengan gebalan rumput harus dijaga
kelembabannya dan terlindung dari terik sinar matahari. Bila bidang rumput yang
akan dipotong dalam keadaan kering maka harus dibasahi secara cukup, jangan
diterima gebalan rumput yang berkualitas rendah maupun yang dalam keadaan
jelek serta terdapat gulma (rumput yang tidak diinginkan).
Semua bidang yang akan ditutupi dengan gebalan rumput dihaluskan, diratakan
sehingga menjadi permukaan yang seragam dan diolah (digemburkan dengan

kedalaman 3 cm. Lempengan gebalan rumput diletakkan berjajar satu sama lain,
kemudian dipadatkan secukupnya dan diperkuat dengan tusuk bambu dengan
maksud agar tidak mudah rusak karena tertimpa air hujan. Rongga antar gebalan
rumput tidak boleh kurang dari 15 cm dan disusun zig-zag.
Penyedia Jasa bertanggung jawab tentang pemeliharaan dan perawatan areal
gebalan rumput sampai rumput tumbuh normal dan serentak, serta lebih lanjut
sampai diterbitkannya berita acara oleh Direksi Pekerjaan yang menyatakan bahwa
seluruh pekerjaan sudah selesai dikerjakan.
Penyedia Jasa harus memperbaiki atas beban biaya sendiri apabila menurut
pendapat Direksi Pekerjaan ada areal yang rusak, rumput mengering atau tidak
berakar pada bidang tebing, tumbuh jenis tumbuhan yang tidak dikehendaki
(gulma) atau tampak tak teratur dan berpemandangan jelek.
c. Perhitungan dan Pembayaran.
Volume pekerjaan dihitung sesuai dan berdasarkan gambar pelaksanaan bangunan
jadi, yang telah disetujui oleh Pengguna Jasa, dan diperhitungkan dalam satuan
(unit) m2 yang telah ditanam.
Harga satuan pekerjaan yang ditawarkan oleh Penyedia Jasa sudah harus meliputi
upah tenaga, bahan material yang dipakai, peralatan yang dipergunakan,
overhead dan keuntungan Penyedia Jasa pada analisa harga satuan pekerjaan.
5.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN LAPISAN GEOTEKTIL
a. Lapisan geotektil yang akan digunakan dengan tebal tidak kurang dari 2,2 mm
dan berat 250 gram/m2 dan diletakkan pada dasar galian sebelum penempatan
batu bronjong. Permukaan lapisan geotektil harus datar.
b. Perhitungan dan Pembayaran
Volume pekerjaan dihitung sesuai dan berdasarkan gambar pelaksanaan bangunan
jadi yang telah diseyujui oleh Pengguna Jasa, dan diperhitungkan dalam satuan
(unit) m2 yang telah ditanam.
Harga satuan pekerjaan yang ditawarkan oleh Penyedia Jasa sudah harus meliputi
upah tenaga, bahan material yang dipakai, peralatan yang dipergunakan,
Overhead dan keuntungan Penyedia Jasa pada analisa harga satuan pekerjaan.
5.5. PEKERJAAN PENGHIJAUAN
1. Pendahuluan
Program pengembangan Penghijauan di sekitar sumber-sumber mata air bertujuan
untuk memaksimalkan usaha usaha pelestarian Sumber Daya Air.
Dibagian lereng lereng / tebing tebing di sekitar sumber-sumber mata air.
Maksud dan tujuan diadakannya penghijauan tersebut adalah untuk melestarikan
Sumber-sumber Mata Air yang ada disamping juga untuk sarana penelitian berbagai
jenis tanaman dataran tinggi serta untuk sarana pariwisata.

Mengingat lahan lahan kritis di kawasan sekitar sumber-sumber dan sekitarnya


dari tahun ke tahun tampaknya makin bertambah kritis serta beberapa tempat ada
daerah kawasan yang gundul sama sekali, sehingga bila waktu hujan sering terjadi
limpasan air yang berlebihan, yang mengakibatkan banjir bandang.
Untuk mengantisipasi terjadinya banjir bandang di tahun tahun yang akan datang,
maka dalam tahun ini akan digiatkan gerakan penghijauan di kawasan sekitar
sumber-sumber mata air di wilyah Kota Batu, spesifikasi teknis antara lain seperti
dibawah ini.
2. Luasan Yang Akan Dihijaukan.
Luasan yang akan dihijaukan 0,125 ha atau 50 (lima puluh) batang.
3. Jenis Tanaman / Pohon
Jenis jenis tanaman / pohon yang akan ditanam di sekitar sumber-sumber mata air
baik jumlah maupun jenisnya akan ditentukan oleh tenaga ahli. Mengingat di sekitar
sumber-sumber mata air slope lahan juga bervariasi, termasuk tingkat kekritisannya
juga bervariasi, maka agar tanaman dapat tetap bertahan hidup dan subur akan
disesuaikan kondisinya dimasing masing luasan kawasan yang ada, maupun
tingkat kelerengan/slope yang ada.
4. Waktu Penanaman.
Waktu / jadwal penanaman pohon pohon baik di sekitar kawasan sumber-sumber
mata air akan diarahkan / ditentukan oleh tenaga ahli.
5. Pembibitan.
Pembibitan jenis jenis pohon yang akan ditanam hendaknya dekat lokasi rencana
penghijauan, sehingga memudahkan transportasi maupun pemeliharaannya.
Pembibitan yang didatangkan dari luar daerah maupun dari luar negeri dapat
dimungkinkan atas pengarahan seorang ahli.
6. Pemupukan.
Pemupukan dan penyiraman selama pembibitan maupun selama masa tumbuh
akan diawasi oleh tenaga ahli, dimana kesesuaian pupuk untuk berbagai jenis
tanaman mungkin berbeda, tergantung jenis pohonnya.
7. Pemeliharaan.
Adalah merupakan keharusan dan merupakan kewajiban kontraktor untuk
memelihara tanaman yang telah ditanam sesuai aturan yang yang berlaku, untuk
berbagai jenis tanaman tentunya akan bervariasi, baik penyiangannya,
pemupukannya, penyiramannya dan lain sebagainya.
8. Ketentuan Ketentuan.
- Bibit bibit yang ditanam dapat bervariasi, namun tinggi pohon diharapkan
mendekati sama pada kelompok jenis pohon tertentu yang sama. Tinggi pohon

ditentukan minimal 1 m untuk jenis jenis pohon akasia, cempaka, kemiri, suren,
kayu putih, dammar dan sejenisnya, namun dapat dengan tinggi 0,5 m untuk jenis
pakis pakisan.
- Pemupukan juga dapat bervariasi tergantung jenis tanamannya. Keperluan untuk
pupuk kandang maupun pupuk organik akan ditentukan oleh tenaga ahli.
Sket penanaman, pemeliharaan dan lain lain seperti terlampir.