Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Para ahli sejarah memperkirakan bahwa orang mesin

kuno mulai menggunakan pengelasan dengan tekanan pada


tahun 5500 SM (untuk membuat pipa tembaga dengan memalu
lembaran yang tepinya saling menutup). Winterton menyebutkan
bahwa benda seni orng mesir yang dibuat pada tahun 300 SM
terdiri dari bahan dasar tembaga dan emas hasil peleburan dan
pemukulan . Jenis pengelasan ini,yang disebut pengelasan tempa
(Forge Welding) merupakan usaha manusia yang pertama dalam
menyambung dua potong logam .
Zerner pada tahun 1885 memperkenalkan proses las busur
(Carbon Arc Welding) dengan menggunakan dua elektroda
karbon,dan N.G. Slavinoft pada tahun 1888 dirusia merupakan
orang pertama yang menggunakan proses nyala busur logam
dengan memakai elektroda telanjang (tanpa lapisan).
Busur nyala adalah pancaran arus listrik yang relatif besar
antara elektroda dan bahan dasar yang dialirkan melalui kolom
gas ion hasil pemanasan. Kolom gas ini disebut plasma . Pada
pengelasan busur nyala,peleburan terjadi akibat aliran bahan
yang melintasi busur dangan tanpa diberi tekanan. Proses lain
(jarang dipakai untuk struktur baja) menggunakan sumber
energy yang lain,dan beberapa proses ini menggunakan tekanan
tanpa diberi tekanan tanpa memandang ada atau tidak adanya
pencairan bahan . Dalam proses difusi,partikel seperti atom
disekitar permukaan saling bercmpur dan bahan dasar tidak
mencair .

Untuk

memperoleh

satu

sambungan

memuaskan,gabungan

dari

diperlukan,mulai

perencanaan

dari

banyak

las

keahlian
las

yang
individu

sampai

operasi

pengelasan.Para ahli struktur perlu memperhatikan fakor-faktor


yang

mempengaruhi

kualitas

dan

mulai

merencanakan

sambungan dengan mempertimbangkan hal tersebut .


Faktor

yang

mempengaruhi

kualitas

las

adalah

penyusutan . Jika las titik diberikan secara terus menerus pada


suatu plat,maka akan mengalami distorsi (perubahan geometri).
Distorsi

ini

akan

merencanakan

terjadi

jika

sambungan

tidak

maupun

berhati-hati

prosedur

dalam

pengelasan

Walaupun banyak teknik dapat digunakan untuk memperkecil


distorsi,salah satu yang paling umum ialah pertama las dibuat
terputus-putus secara berseling,setelah itu proses ini diulang
pada bagian yang belum dilas . Untuk struktur seperti gelagar
pelat,sekmen las pendek (walaupun biasanya bukan las terputusputus beraturan) dapat diberikan pada yang strategis agar
semua bagian terpegang dengan cukup kuat,kemudian garis las
menurus dibuat .
Teknik

dan

prosedur

pengelasan

yang

tidak

baik

menimbulkan cacat pad alas yang menyebabkan diskontinuitas


dalam las . Cacat yang umumnya dijumpai adalah peleburan tak
sempurna,penetrasi

kampuh

yang

tidak

memadai,porositas,peleburan berlebihan,masuknya terak dan


retak-retak .
Sambungan las pada umumnya tidak memerlukan lubanglubang pada batang kecuali untuk tujuan pemasangan . Karena
biasanya lubang-lubang diujung membatasi perencanaan batang
tarik yang dibuat,sambungan las umumnya akan menghasilkan

batang dengan penampang lintang yang lebih kecil. Sambungan


las kadang-kadang dapat mengurangi biaya-biaya konstruksi
dilapangan,karena
menanggulangi
pemasangan
memotong

batang-batang
kesalahan

kecil

Juga,batang

dan

dapat

untuk

pabrikasi

atau

dalam

mudah

menyambung

disesuaikan

diperpendek

kembali

dengan

dengan
las

yang

sesuai,serta diperpanjang dengan menggunakan potongan yang


sama penampang lintangnya .
Selain
pengelasan
dilakukan

itu,beberapa
.

Umumnya

dibengkel

lebih

yang

mempengaruhi

pengelasan
murah

yang

dari

biaya

dilakukan

pada

yang

pengelasan

dilapangan . Alasannya adalah tersedanya mesin las otomatis


dibengkel,lingkungan (cuaca) yang lebih baik,dan tersedianya
peralatan untuk memegang potongan yang akan disambung
dalam posisi yang lebih menguntungkan .

1.2. Tujuan
Adapun tujuan pengelasan dalam praktikum ini adalah :

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Untuk mengetahui jenis-jenis sambungan las


Untuk mengetahui jenis-jeis elektroda
Untuk mengetahui teknik dalam pengelasan
Untuk mengetahui bagian mesin las
Untuk mengetahui prosedur dalam keselamatan kerja
Untuk mengetahui hasil pengelasan

1.3. Manfaat
Adapun manfaat dari paraktikum pengelasan ini adalah :
1.
2.
3.
4.

Dapat melakukan pengelasan dengan baik dan benar


Dapat mengetahui bagian-bagian mesin las
Dapatmengetahui jenis elektroda yang di gunakan
Dapat mengetahui hasil pengelasan

BAB II
TEORI DASAR
2.1 PENGELASAN

Gambar 2.1 Proses pengelasan


Pengelasan (welding) adalah salah satu teknik
penyambungan dngan cara mencairkan sebagai logam induk dan
logam pengisi atau tanpa tekanan dan dengan tanpa logam penambah
dan menghasilkan sambungan yang kontinyu lingkuk terkait
pengelasan dalam kontruksi sangat luas meliputi perkapalan,
jembatan ,bejana tekan,pipa pusat ,pipa saluran dan salurannya.
Karena itu rancangan laas dan cara pengelasan harus betulbetul memperhtikan dan antara sifat-sifat las dengan kegunaan
kontruksi

serta

kegunaan

di

sektarnya.

Proses

pengelasan

kelihatannya sangtat sederhana, tetapi sebenarnya di dalam banyak


masalah-masalah

yang

harus

diatasi

di

mana

pemecahan

memerlukan bermacam macam pengetahuan karena itu du dalam


pengetahuan harus ikut serta mendampingi praktek secara lebih
terperinci dapat dikatakan bahwa perancangan kontruksi bangunan
dan mesin sambungan las.
Pengelasan dan pemotongan merupakan pengelasan
pengerjaan yang amat penting dalam teknologi produksi dengan

bahan bbaku logam. Dari pertaaama perkembangan nya sangat pesat


bayak teknologi baru ditemukan.
2.2 Jenis-jenis sambungan las
Secara umum jenis-jenis sambumgan las dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu
2.2.1 Las alur (kampuh) I
Sambungan ini dapat di buat dua kemungkinan, yaitu
sambungan tertutup dan sambungan terbuka.
Sambungan ini kuat untuk kondisi bebas statis, tetapi
tidak di sarankan untuk menerima beban tekuk.
Las alur I dengan sambungan tertutup
Sambungan tertutup jika sisi ke dua pelat
saling menyentu. Tebal pelat maksimum yang di
sarankan adalah 2 mm, sehingga pengelasan
cukup pada satu sisi.
Las I dengan sambungan terbuka
Sambungan ini terdapat celah antara pelat yang
akan di las. Lebar celah bergantung pada ketebalan
pelat. Sambungan ini kurang kuat di banding
sambungan tertutup. Tebal pelat yang biasa di
gunakan pada sambungan ini 3-6 mm.
2.2.2 Sambungan V-tunggal
Sambungan V-tunggal dapat juga di buat tertutup
dan terbuka. Sambungan ini lebih kuat dari pada
sambungan persegi dan dapat di pakai untuk menerima
gaya tekan yang besar, serta lebih tahan terhadap kondisi
beban statis.
2.2.3 Sambungan V-ganda
Sambungan ini lebih kuat dari pada sambungan Vtunggal, sangat baik untuk kondisi beban statis maupun
dinamis serta dapat menjaga perubahan bentuk
kelengkungan sekecil mungkin. Di pakai pada ketebalan
18 mm- 30 mm.

2.2.4 Sambungan V- miring tunggal dan ganda


Sambungan ini di pergunakan untuk beban tekanan
yang besar. Sambungan ini lebih baik dari pada
sambungan las pesegi, tetapi tidak lebih baik dari

sambungan V. di pakai pada ketebalan pelat 6 mm-20


mm.
2.3 Macam-Macam Pengelasan

Dalam ilmu pengetahuan terdapat banyak roses jenis pengelasan yang


berbeda-beda, berikyt ini macam-macam proses jenis pengelasan
2.3.1 Pengelasan tempa
Proses pengelasan tempa adalah pengelasan yang dilakukan
dengan cara memanaskan logam yang kemudian ditempelkan
sehingga terjadi penyambungan. Sebelum disambung keua ujung
dibentuk terlebih dahulu sedemikian sehingga bila disambungkan
kedua

akan

bersmbung

ditengah-tengah

terlebih

dahulu.

Penempatan kemudian dilakukan dimulai dari tengah menuju sisi.


Dengan demikian oksida-oksida atau kotoran-kotoranlainnya
tertekan keluar.jenis logam yang banyak digunakan dalam
pengelasan tempa adalah baja karbon rendah dan besi tempa
karena memiliki daerah suhu pengelasan yang besar.
2.3.2 pengelasan dengan gas
Pengelasan dengas adalah proses pengelasan digunakan
campuran gas sebagai sunber panas. Nyala gas yang banyak
digunakan adalah gas alam. Asetilen dan hidrogen yang dicampur
dengan oksigen.
Proses las asetilen ditunjukan pada gambar di bawah ini

Gambar 2.2 tabung asetilen untuk pengelasan oksi oksigen


2.3.3 Berdasarkan panas listrik
SMAW (shield metal arch welding) adalah las busur nyala api
listrik terlindung dengan mempergunakan busur nyala listrik
sebagai panas pencair logam jenis ini paling banyak di mana-mana
untuk semua keperluan pengerjaan pengelasan. Tegangan yang
hanya dipakai 23 sampai 45 voll.

Sedangkan untuk mencairka pengelasan dibutuhkan arus hingga


500 amper namun secara umum yang dipakai berkisar 80 sampai
200 amper.

Ganbar 2.3 SMAW (shield metal arch welding)


2.4 las busur listrik
Las busur listrik atau pada umumnya disebut las listrik
termasuk suatu proses penyambungan logam dengan mengunakan
tenaga listrik sebagai sumber panas. Jadi sumber panas pad alas
listrik di timbulkan oleh busur api arus listrik antara elektroda dan
benda kerja. Benda kerja merupakan bagian dari aliran arus listrik.
Elektroda mencair bersama-sama dngan benda kerja akibat dari
busur api arus listrik. Gerakan busur api sedangkan benda kerja
dan elektroda mencair, setelah dingin dapat menjadi satu bagian
yang sukar dipisahkan jenis sambungan dengan las listrik antara
lain
2.4.1 las listrik dengan elektroda karbon
Terdiri atas listrik dengan elektroda karbon tunggal dan
las listrik dengan elektroda karbon ganda, seperti terlihat pada
gambar di bawah ini

Gambar 2.4 las listrik dengan elektroda karbon


Las listrik dengn elektroda karbon, maka busur listrik yang
menjadi antara ujung elektroda karbon dan logam antara dua ujung
elektroda karbon akan memanaskan dan mencairkan logam yang
akan di las.
2.4.1 las listrik dengan elektroda karbon
Las listrik dengan elektroda karbon, las listrik TIG
(tungsten insert gas). Las listrik submarget dan listri misi.
a) Las listrik TIG (tungsten insert gas)
Las listrik TIG mengunakan elektroda walfran yang
merupakan bahan tambah busur listrik yang jadi antara ujung
elektroda walfran dan bahan dasar adalah merupakan sumber
untuk pengelasan. Titik cair dari elektroda walfran sedemikian
tingginya

sehingga tidak ikut mencair pada saat terjadi

busur listrik. Tangkai las dilengkapi dengan hasil keramik untuk


menyebur gas pelindung yang melindungi daerahlas dsri pengaruh
luas pada saat pengelasan.
Sebagai bahan tambah di pakai elektroda tanpa selaput
yang digerakan atau di dekatkan kebusur listrik yang terjadi antra
elektroda walfran dengan bahan dasar. Sebagai gas pelindung
dipakai argon. helium atau campuran dari kedua gas tersebut yang
pemakaiannya tergantung dari jenis logam yang akan di las.

10

Tangkaib las biasanya di anginkan dengan air yang dibulasi. Proses


las TIG di tunjukan pada gambar di bawah ini :

Gambar 2.5 proses las ITG


2.5. Las Titik
Las titik adalah pengelasan memakai metode
resistansilistrik dimana pelat lembaran dijepit dengan dua
elektroda. Ketika arus dialirkan maka terjadi sambungan las
pada posisi jepitan.skema las titik dapat dilihat pada gambar
di bawah ini:

2.1.2.1.Diagram Alat Las Titik

11

Siklus pengelasan titik dimulai ketika elektroda


menekan pelat dimana arus belum dialirkan. waktu proses
ini disebut waktu tekan. Setelah itu arus dialirkan ke
elektroda sehingga timbul panas pada pelat di posisi
elektroda sehingga terbentuk sambungan las. waktu proses
ini disebut waktu las.
Setelah itu arus dihentikan namun tekanan tetap ada
dan proses ini disebut waktu tenggang. Kemudian logam
dibiarkan mendingin sampai sambungan menjadi kuat dan
tekanan di hilangkan dan pelat siap dipindahkan untuk
selanjutnya proses pengelasan dimulai lagi untuk titik yang
baru.
Peralatan mesin las titik ada tiga jenis yaitu : mesin
las titik tunggal stasioner,mesin las titik tunggal yang dapat
dipindahlan dan mesin las titik ganda. mesin las stasioner
dapat dibagi lagi atas jenis : lengan ayun dan jenis tekanan
langsung.

Jenis

lengan

ayun

merupakan

jenis

yang

sederhana dan mempunyai kapasitas kecil.


2.6.Pengelasan Proyeksi
Pengelasan ini mirip dengan pengelasan titik hanya
bagian yang dilas dibuat proyeksi/tonjolan terlebih dahulu.
Ukuran tonjolan mempunyai diameter yang sama dengan
tebal pelat yang dilas dengan tinggi tonjolan lebih kurang
60% dari tebal pelat. Hasil pengelasan biasanya mempunyai
kualitas yang lebih baik dari pengelasan titik.seperti pada
skema di bawah ini:

12

2.1.2.2.Pengelasan Proyeksi
2.7. Las Kampuh
Las kampuh merupakan proses las untuk
menghasilkan lasan yang kontinyu pada pelat logam yang
ditumpuk. sambungan terjadi oleh panas yang ditimbulkan
oleh tahanan listrik. Arus mengalir melalui elektroda ke pelat
sama seperti pengelasan titik. metode ini sebenarnya
merupakan pengelasan titik yang kontinyu. seperti gambar
di

bawah

ini

13

2.1.2.3. Las Kampuh Tumpang


2.8. Las Tumpul
Pengelasan las tumpul bisa dilihat pada gambar
12. Dua batang logam saling tekan dan arus mengalir
melalui

sambungan

batang

logam

tersebut

dan

menimbulkan panas. Panas yang terjadi tidak sampai


mencairkan logam namun menimbulkan sambungan las
dimana

sambungannya

akan

menghasilkan

tonjolan.

Tonjolan bisa dihilangkan dengan pemesinan. Kedua logam


yang disambung sebaiknya mempunyai tahanan yang sama
agar terjadi pemanasan yang rata pada sambungan seperti
pada gambar di bawah ini:

2.1.2.4. Sketsa Pengelasan Tumpul


2.9. Las Busur
Pengelasan busur adalah pengelasan dengan
memanfaatkan busur listrik yang terjadi antara elektroda
dengan benda kerja. Elektroda dipanaskan sampai cair dan
diendapkan pada logam yang akan disambung sehingga
terbentuk sambungan las. Mula-mula elektroda kontak atau
bersinggungan dengan logam yang dilas sehingga terjadi

14

aliran arus listrik, kemudian elektroda diangkat sedikit


sehingga timbullah busur. Panas pada busur bisa mencapai
5.500 oC.
Las busur bisa menggunakan arus searah maupun
arus

bolak-balik.

Mesin

arus

searah

dapat

mencapai

kemampuan arus 1000 amper pada tegangan terbuka


antara 40 sampai 95 Volt. Pada waktu pengelasan tegangan
menjadi 18 sampai 40 Volt. Ada 2 jenis polaritas yang
digunakan yaitu polaritas langsung dan polaritas terbalik.
Pada polaritas langsung elektroda berhubungan dengan
terminal negatif sedangkan pada polaritas terbalik elektroda
berhubungan dengan terminal positif. Jenis bahan elektroda
yang banyak digunakan adalah elektroda jenis logam
walaupun ada juga jenis elektroda dari bahan karbon namun
sudah jarang digunakan. Elektroda berfungsi sebagai logam
pengisi pada logam yang dilas sehingga jenis bahan
elektroda harus disesuaikan dengan jenis logam yang dilas.
Untuk las biasa mutu lasan antara arus searah dengan arus
bolak-balik tidak jauh berbeda, namun polaritas sangat
berpengaruh terhadap mutu lasan.
Kecepatan pengelasan dan keserbagunaan mesin las seperti
pada skema di bawah ini :

2.1.3.1. Skema Nyala Busur

15

Ada beberapa jenis pengelasan busur listrik di antaranya


adalah :
a. Pengelasan Busur Hidrogen Atomik.
Proses pengelasan ini adalah dimana dua
elektroda tunsten dialirkan busur arus bolak-balik dan
hidrogen

dialirkan ke busur tersebut. Ketika hidrogen

mengenai busur, molekulnnya pecah menjadi atom yang


kemudian bergabung kembali menjadi molekul hidrogen
diluar busur. Reaksi ini diiringi oleh pelepasan panas yang
bisa

mencapai

suhu

6100

C.

Logam

lasan

dapat

ditambahkan Seperti skema dari pengelasan di bawah ini :

2.1.3.2. Las busur hidrogen atomik.

16

BAB III
METODE PERAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah
jumat,11 mei 2012

jam 08:00-selesai yang bertempat di

Laboratorium Teknologi Mekanik Fakultas Teknik Universitas


Haluoleo.
3.2. Alat dan Bahan
Adapun alat yang di gunakan adalah :
3.2.1. Alat
1. Mesin las listrik
Sebagai alat dasar pengelasan.

17

Mesin Las
2. Elektroda
Di gunakan sebagai alat penyambung antara logam satu
dengan yang lain :

Elektroda
3. Palu
Ada beberapa jenis palu seperti pada gambar di gunakan
untuk membersihkan kerak pengelasan di gunakan dengan cara
di pukulkan

18

palu
4 .Kaca mata las
Di gunakan sebagai pelindung mata dari cahaya yang di
timbulkan las.

Kaca mata las


5.Tang
Di gunakan untuk memegang benda kerja saat pengelasan

19

Tang
6. Sarung tangan
Di gunakan sebagai pelindung dari percikan api dan sebagai
pelindung panas

Sarung tangan
7. Sepatu

20

Di gunakan sebagai alat untuk melindungi kaki dari percikan


api akibat pengelasan

Sepatu

3.2.2. Bahan
Adapun bahan yang di gunakan dalam praktikum ini adalah :
1. Besi plat
Di gunakan sebagai bahan praktek pengelasan

21

Besi plat
2. Besi beton
Di gunakan sebagai bahan praktek pengelasan

Besi beton
3.3 Proses Pengerjaan
Adapun proses perjuangan adalah :
1. Pastikan alat dan bahan sudah lengkap dan siap di gunakan
2. Nyalakan mesin las listrik

22

3. Simpan benda yang akan di las di atas atau di sekitar mesin


las
3. Pastikan benda dengan benar dan di lanjutkan dengan
pengelasan titik terlebih dahulu untuk mengikat agar tidak
terjadi devormasi pada saat proses pengelasan berlangsung
4. Setelah di las titik, benda kerja di bersihkan terlebih dahulu
dari kerak dengan cara di palu agar saat pengelasan nanti
tiadak terjadi cacat
5. Dilanjutkan dengan pengelasan menyeluruh hingga selesai
6. Hasil las di dinginkan
7. Membersihkan kembali kerak yang menempel pada besi akibat
las
8. Hasil las di potong-potong agar dapat di pisahkan antara
logam induk,daerah las dan daerah las
9. Membuatkan catakan khusus untuk menempatkan potonganpotongan las
10.Setelah terbungkus lalu di amplas untuk mendapatkan
permukaan yang halus
11.Dilakukan pengujian kekasaran pada hasil pengelasan
12.Membersihkan lingkungan sekitar pengelasan dan menata
kembali peralatan setelah mengelas.

BAB IV
PEMBAHASAN

23

4.1. Pengertian dan Fungsi Mesin Las Titik


Las titik adalah pengelasan memakai metode resistansi listrik dimana pelat
lembaran dijepit dengan dua elektroda. Ketika arus dialirkan maka terjadi
sambungan las pada posisi jepitan. Siklus pengelasan titik dimulai ketika
elektroda menekan pelat dimana arus belum dialirkan. Waktu proses ini disebut
waktutekan. Setelah itu arus dialirkan ke elektroda sehingga timbul panas pada
pelat di posisi elektroda sehingga terbentuk sambungan las. Waktu proses ini
disebut waktu las. Setelah itu arus dihentikan namun tekanan tetap ada dan proses
ini disebut waktu tenggang. Kemudian logam dibiarkan mendingin sampai
sambungan menjadi kuat dan tekanan di hilangkan dan pelat siap dipindahkan
untuk selanjutnya proses pengelasan dimulai lagi untuk titik yang baru.
Mesin Las Titik secara umum hampir sama dengan mesin las listrik. Mesin
Las Titik berfungsi sebagai penyambung tetapi tdak menggunakan elektroda dan
digunakan untuk menitik pada plat-plat/body mobil.

4.2. Prinsip Kerja Mesin Las Titik


Mesin Las Titik yang yang diperbaiki ini mempunyai prinsip kerja dengan
menggunakan daya 4000 Watt. Sistem kerja Mesin Las titik sistem kerjanya
dengan menggunakan sistem manual tidak menggunakan timer. Sistem aliran
listrik, Mesin Las Titik menggunakan MCB 1 phasa dengan kuat arus 32 Ampere.
Mesin Las Titik ini menggunakan kabel berukuran 2 x 4, karena daya yang
digunakan cukup besar yaitu dengan daya 4000 Watt. Jika menggunakan kabel
yang berukuran lebih kecil, maka antara daya dengan kabel tidak sesuai, yang

24

memungkinkan akan berakibat terbakarnya kabel, atau juga bisa menyebabkan


sistem konsleting pada Mesin Las Titik.
4.3 LOKASI PANAS PADA LAS TITIK

Tahanan terbesar terdapat pada batas kontak permukaan antara kedua lembaran
benda kerja, yang tergantung kepada: - luas nya permukaan benda kerja

- besar nya gaya tekan elektroda

- ukuran elektroda.

Dari pengalaman dan teori Keseimbangan Energi; bila ke-2 logam induk
mempunyai tebal dan material yang sama, maka gumpalan las, akan tepat berada
di tengah-tengah. Namun bila bahan atau ketebalan benda berbeda, maka perlu
elektroda yang berbeda pula agar gumpalan las bisa tepat berada di tengah-tengah.
Jenis Mesin Las Titik ada 3 (tiga) macam, yakni:

25

1. Mesin Las Titik Tunggal Stasioner : - lengan ayun (sederhana): elektroda


atas bisa diangkat-turun kan untuk mengatur tekanan.- tekanan langsung
2.

Mesin Las Titik Tunggal Portable: dihubungkan ke transformator dengan


kabel yang panjang, agar mesin bisa bergerak bebas.

3.

Mesin Las Titik Majemuk: sekali operasi, mampu menghasilkan 2 atau


lebih titik-titik pengelasan (gumpalan las).

BAB V
PENUTUP

26

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari laporan praktikum proses produksi 1 tentang pengelasan
adalah :
1. Pengelasan adalah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara
mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa
logam penambah dan menghasilkan sambungan yang kontinyu.
2.

Jenis jenis las


Pengelasan tempa
Pengelasan dengan gas
Las resistanse listrik

3.

Jenis jenis sambungan las


Sambungan tumpu(buut ioint)
Sambungan sudut(corner ioint)
Sambungan tumpang(lap ioint)
Sambungan T(tee ioint)

4.

Faktor faktor yang mempengaruhi kualitas pengelasan adalah :


Tegangan sisa
Perubahan bentuk dalam pengelasan
Arus listrik

5. Las titik adalah pengelasan memakai metode resistansi listrik dimana pelat
lembaran dijepit dengan dua elektroda. Ketika arus dialirkan maka terjadi
sambungan las pada posisi jepitan. Siklus pengelasan titik dimulai ketika
elektroda menekan pelat dimana arus belum dialirkan.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan dalam laporan ini adalah sebagai
berikut :

27

1. Sebaiknya dalam melakukan praktikum harus mematuhi peraturan atau


tata tertib laboraturium.
2. Sebaiknya kerja sama dalam setiap kelompok ataupun kelompok lain
lebih di perbaiki atau dipererat
3. Jangan melakukan tindakan yang tidak diintruksi dari Dosen ataupun
Asisten dosen

28