Anda di halaman 1dari 23

A.

LATAR BELAKANG
Periode post partum adalah waktu mengenai penyembuhan perubahan besar
yang berjangka pada periode dari puncak pengalaman melahirkan untuk menerima
kebahagiaan dan kehidupan tanggung jawab dalam keluarga. (Cuningham
1998:388).
Perawatan post partum yang terintegrasi dengan baik mempunyai peranan
penting yang digunakan dalam membangun

transisi ini dan mengenalkan

keluarganya pada kehidupan baru mereka bersama-sama.


Selama masa post partum sejumlah perubahan fisiologis dan psikologis terjadi
yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Organ-organ kembali ke kondisi tidak hamil


Perubahan fisiologi lain yang terjadi selama kehamilan dikembalikan
Laktasi terbentuk
Dasar hubungan bayi dan orang tuanya disiapkan
Ibu pulih dari ketegangan pada waktu kehamilan dan persalinan

Walaupun tubuh harus mengalami perubahan seperti pemeliharaan setelah


melahirkan anak, asuhan kebidanan sangat memperhatikan hal ini. Karena masih
banyak ibu-ibu maupun yang belum mengerti apa yang seharusnya diperbuat, baik
terhadap diri sendiri maupun terhadap bayinya.

LAPORAN PENDAHULUAN
PADA IBU DENGAN POST PARTUM (MASA NIFAS)

A. DEFINISI
Masa nifas (Puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan
selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Lamanya berlangsung
selama 6-8 minggu (Mochtar_Rustam, 1998 : 115).
Puerperium (masa nifas) adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk
pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu atau 42 hari. Kejadian
yang terpenting dalam nifas adalah involusi dan laktasi (Manuaba, 1998: 190).
Menurut WHO menyatakan bahwa, pasca partus-post natal, mulai sejak 1 jam
setelah plasenta lahir sampai minggu ke-6 atau berlangsung selama 42 hari
(Manuaba, 2001).
Masa puerparium (nifas) adalah masa setelah partus selesai dan berakhir kirakira 6-8 minggu. Akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kambali seperti
sebelumnya pada kehamilan dalam waktu 3 bulan (Ilmu Kebidanan, 2007).
B. Etiologi
Partus normal adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang telah
cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau
jalan lain, dengan bantuan.
1. Partus dibagi menjadi 4 kala :
a. Kala I, kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai
pembukaan lengkap. Pada permulaan his, kala pembukaan berlangsung tidak
begitu kuat sehingga parturien masih dapat berjalan-jalan. Lamanya kala I
untuk primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8
jam.
b. Kala II, gejala utama kala II adalah His semakin kuat dengan interval 2
sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 100 detik. Menjelang akhir kala I
ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak.
Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan
mengejan. Kedua kekuatan, His dan mengejan lebih mendorong kepala bayi
sehingga kepala membuka pintu. Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh
putar paksi luar. Setelah putar paksi luar berlangsung kepala dipegang di
bawah dagu di tarik ke bawah untuk melahirkan bahu belakang. Setelah
kedua bahu lahir ketiak di ikat untuk melahirkan sisa badan bayi yang diikuti
dengan sisa air ketuban.

c. Kala III, setelah kala II kontraksi uterus berhenti 5 sampai 10 menit. Dengan
lahirnya bayi, sudah dimulai pelepasan plasenta. Lepasnya plasenta dapat
ditandai dengan uterus menjadi bundar, uterus terdorong ke atas, tali pusat
bertambah panjang dan terjadi perdarahan.
d. Kala IV, dimaksudkan untuk melakukan observasi karena perdarahan post
partum paling sering terjadi pada 2 jam pertama, observasi yang dilakukan
yaitu tingkat kesadaran penderita, pemeriksaan tanda-tanda vital, kontraksi
uterus, terjadinya perdarahan. Perdarah dianggap masih normal bila
jumlahnya tidak melebihi 400 sampai 500 cc (Manuaba, 1989).
2. Faktor penyebab ruptur perineum diantaranya adalah faktor ibu, factor janin, dan
faktor persalinan pervaginam.
a. Faktor Ibu
1) Paritas
Menurut panduan Pusdiknakes 2003, paritas adalah jumlah kehamilan
yang mampu menghasilkan janin hidup di luar rahim (lebih dari 28
minggu). Paritas menunjukkan jumlah kehamilan terdahulu yang telah
mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan, tanpa mengingat jumlah
anaknya (Oxorn, 2003). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia paritas
adalah keadaan kelahiran atau partus Pada primipara robekan Perineum
hampir selalu terjadi dan tidak jarang berulang pada persalinan
berikutnya (Sarwono, 2005).
2) Meneran
Secara fisiologis ibu akan merasakan dorongan untuk meneran bila
pembukaan sudah lengkap dan reflek ferguson telah terjadi. Ibu harus
didukung untuk meneran dengan benar pada saat ia merasakan dorongan
dan memang ingin mengejang (Jhonson, 2004). Ibu mungkin merasa
dapat meneran secara lebih efektif pada posisi tertentu (JHPIEGO,
2005).
b. Faktor Janin
1) Berat Badan Bayi Baru lahir
Makrosomia adalah berat janin pada waktu lahir lebih dari 4000 gram
(Rayburn, 2001). Makrosomia disertai dengan meningkatnya resiko
trauma persalinan melalui vagina seperti distosia bahu, kerusakan fleksus

brakialis, patah tulang klavikula, dan kerusakan jaringan lunak pada ibu
seperti laserasi jalan lahir dan robekan pada perineum (Rayburn, 2001).
2) Presentasi
Menurut kamus kedokteran, presentasi adalah letak hubungan sumbu
memanjang

janin

dengan

sumbu

memanjang

panggul

ibu

(Dorland,1998).
a) Presentasi Muka
Presentasi muka atau presentasi dahi letak janin memanjang, sikap
extensi sempurna dengan diameter pada waktu masuk panggul atau
diameter submentobregmatika sebesar 9,5 cm. Bagian terendahnya
adalah bagian antara glabella dan dagu, sedang pada presentasi dahi
bagian terendahnya antara glabella dan bregma (Oxorn, 2003).
b) Presentasi Dahi
Presentasi dahi adalah sikap ekstensi sebagian (pertengahan), hal ini
berlawanan dengan presentasi muka yang ekstensinya sempurna.
Bagian terendahnya adalah daerah diantara margo orbitalis dengan
bregma dengan penunjukknya adalah dahi. Diameter bagian terendah
adalah diameter verticomentalis sebesar 13,5 cm merupakan diameter
antero posterior kepala janin yang terpanjang (Oxorn, 2003).
c) Presentasi Bokong
Presentasi bokong memiliki letak memanjang dengan kelainan dalam
polaritas.

Panggul

janin

merupakan

kutub

bawah

dengan

penunjuknya adalah sacrum. Berdasarkan posisi janin, presentas


bokong dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu presentasi
bokong sempurna, presentasi bokong murni, presentasi bokong kaki,
dan presentasi bokong lutut (Oxorn, 2003).
c. Faktor Persalinan Pervaginam
1) Vakum ekstrasi
Vakum ekstrasi adalah suatu tindakan bantuan persalinan, janin
dilahirkan dengan ekstrasi menggunakan tekanan negative dengan alat
vacum yang dipasang di kepalanya (Mansjoer, 2002).
2) Ekstrasi Cunam/Forsep
Ekstrasi Cunam/Forsep adalah suatu persalinan buatan, janin dilahirkan
dengan cunam yang dipasang di kepala janin (Mansjoer, 2002).
Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu karena tindakan ekstrasi forsep
antara lain ruptur uteri, robekan portio, vagina, ruptur perineum, syok,
perdarahan, post partum, pecahnya varices vagina (Oxorn, 2003)

3) Embriotomi
Adalah prosedur penyelesaian persalinan dengan jalan melakukan
pengurangan volume atau merubah struktur organ tertentu pada bayi
dengan tujuan untuk memberi peluang yang lebih besar untuk
melahirkan keseluruhan tubuh bayi tersebut (Syaifudin, 2002).
4) Persalinan Presipitatus
Persalinan presipitatus adalah persalinan yang berlangsung sangat cepat
berlangsung kurang dari 3 jam, dapat disebabkan oleh abnormalitas
kontraksi uterus dan rahim yang terlau kuat,
atau pada keadaan yang sangat jarang dijumpai, tidak adanya
rasa nyeri pada saat his sehingga ibu tidak menyadari adanya
proses persalinan yang sangat kuat (Cunningham, 2005)
C. Manifestasi klinis
Periode post partum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ
reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Periode ini kadang-kadang
disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan (Bobak, 2004).
1. Sistem reproduksi
a. Proses involusi
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan,
proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot
polos uterus. Uterus, pada waktu hamil penuh baratnya 11 kali berat sebelum
hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 gr 1 minggu setelah melahirkan dan
350 gr dua minggu setelah lahir. Seminggu setelah melahirkan uterus berada
di dalam panggul. Pada minggu keenam, beratnya menjadi 50- 60gr. Pada
masa pasca partum penurunan kadar hormone menyebapkan terjadinya
autolisis, perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Selsel tambahan yang terbentuk selama masa hamil menetap. Inilah penyebap
ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil.
b. Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah
bayi lahir, hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat
dan mengatur kontraksi uterus, mengopresi pembuluh darah dan membantu
hemostasis. Salama 1-2 jam pertama pasca partum intensitas kontraksi
uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Untuk mempertahankan

kontraksi uterus, suntikan oksitosin secara intravena atau intramuskuler


diberikan segera setelah plasenta lahir.
c. Tempat plasenta
Segera setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, kontraksi vaskular dan
trombus menurunkan tempat plasenta ke suatu area yang meninggi dan
bernodul tidak teratur. Pertumbuhan endometrium ke atas menyebabkan
pelepasan jaringan nekrotik dan mencegah pembentukan jaringan parut
yang menjadi karakteristik penyembuha luka. Regenerasi endometrum,
selesai pada akhir minggu ketiga masa pasca partum, kecuali pada bekas
tempat plasenta.
d. Lochea
Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir, mula-mula berwarna merah,
kemudian menjadi merah tua atau merah coklat. Lochea rubra terutama
mengandung darah dan debris desidua dan debris trofoblastik. Aliran
menyembur menjadi merah setelah 2-4 hari. Lochea serosa terdiri dari darah
lama, serum, leukosit dan denrus jaringan. Sekitar 10 hari setelah bayi lahir,
cairan berwarna kuning atau putih. Lochea alba mengandung leukosit,
desidua, sel epitel, mukus, serum dan bakteri. Lochea alba bisa bertahan 2-6
minggu setelah bayi lahir.
e. Serviks
Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan.18 jam pasca
partum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan
kembali ke bentuk semula. Serviks setinggi segmen bawah uterus tetap
edematosa, tipis, dan rapuh selama beberapa hari setelah ibu melahirkan.
f. Vagina dan perineum
Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap ke
ukuran sebelum hamil, 6-8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali
terlihat pada sekitar minggu keempat, walaupun tidak akan semenonjol pada
wanita multipara.
2. Sistem endokrin
a. Hormon plasenta
Penurunan hormon human plasental lactogen, esterogen dan kortisol, serta
placental enzyme insulinase membalik efek diabetagenik kehamilan.
Sehingga kadar gula darah menurun secara yang bermakna pada masa
puerperium. Kadar esterogen dan progesteron menurun secara mencolok
setelah plasenta keluar, penurunan kadar esterogen berkaitan dengan

pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstra seluler berlebih yang


terakumulasi selama masa hamil.
b. Hormon hipofisis
Waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak
menyusui berbeda. Kadar prolaktin serum yang tinggi pada wanita menyusui
tampaknya berperan dalam menekan ovulasi. Karena kadar follikelstimulating hormone terbukti sama pada wanita menyusui dan tidak
menyusui di simpulkan ovarium tidak berespon terhadap stimulasi FSH
ketika kadar prolaktin meningkat (Bowes, 1991).
3. Abdomen
Apabila wanita berdiri di hari pertama setelah melahirkan, abdomenya akan
menonjol dan membuat wanita tersebut tampak seperti masih hamil. Diperlukan
sekitar 6 minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hami.
4. Sistem urinarius
Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita
melahirkan. Diperlukan kira-kira dua smpai 8 minggu supaya hipotonia pada
kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali ke keadaan sebelum
hamil (Cunningham, dkk ; 1993).
5. Sistem cerna
a. Nafsu makan
Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anestesia, dan keletihan, ibu
merasa sangat lapar
b. Mortilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selam
waktu yang singkat setelah bayi lahir.
c. Defekasi
Buang air besar secara spontan bias tertunda selama dua sampai tiga hari
setelah ibu melahirkan.
6. Payu dara
Konsentrasi hormon yang menstimulasai perkembangan payu dara selama
wanita hamil (esterogen, progesteron, human chorionic gonadotropin, prolaktin,
krotison, dan insulin) menurun dengan cepat setelah bayi lahir.
a. Ibu tidak menyusui
Kadar prolaktin akan menurun dengan cepat pada wanita yang tidak
menyusui. Pada jaringan payudara beberapa wanita, saat palpasi dailakukan
pada hari kedua dan ketiga. Pada hari ketiga atau keempat pasca partum bisa

terjadi pembengkakan. Payudara teregang keras, nyeri bila ditekan, dan


hangat jika di raba.
b. Ibu yang menyusui
Sebelum laktasi dimulai, payudara teraba lunak dan suatu cairan kekuningan,
yakni kolostrum. Setelah laktasi dimula, payudara teraba hangat dan keras
ketika disentuh. Rasa nyeri akan menetap selama sekitar 48 jam. Susu putih
kebiruan dapat dikeluarkan dari puting susu.
7. Sistem Perkemihan
a. Uretra dan kandung kemih
Trauma bisa terjadi pada uretra dan kandung kemih selama proses
melahirkan, yakni sewaktu bayi melewati jalan lahir. Dinding kandung
kemih dapat mengalami hiperemis dan edema, seringkali diserti daerahdaerah kecil hemoragi.
8. Sistem Integumentasi
Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah
bayi lahir. Kulit yang meregang pada payudara,abdomen, paha, dan panggul
mungkin memudar tetapi tidak hilang seluruhnya.
D. Patofisiologi
1. Adaptasi Fisiologi
a. Infolusi uterus
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan,
proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot
polos uterus. Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di garis
tengah, kira-kira 2 cm di bawah umbilicus dengan bagian fundus bersandar
pada promontorium sakralis. Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus mencapai
kurang lebih 1 cm di atas umbilikus. Fundus turun kira-kira 1 smpai 2 cm
setiap 24 jam Pada hari pasca partum keenam fundus normal akan berada di
pertengahan antara umbilikus dan simpisis pubis.
Uterus, pada waktu hamil penuh baratnya 11 kali berat sebelum hamil,
berinvolusi menjadi kira-kira 500 gr 1 minggu setelah melahirkan dan 350 gr
2 minggu setelah lahir. Satu minggu setelah melahirkan uterus berada di
dalam panggul. Pada minggu keenam, beratnya menjadi 50-60 gr.
Peningkatan

esterogen

dan

progesteron

bertabggung

jawab

untuk

pertumbuhan masif uterus selama hamil. Pada masa pasca partum penurunan
kadar hormone menyebapkan terjadinya autolisis, perusakan secara langsung

jaringan hipertrofi yang berlebihan. Sel-sel tambahan yang terbentuk selama


masa hamil menetap. Inilah penyebap ukuran uterus sedikit lebih besar
setelah hamil.
b. Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi
lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin
yang sangat besar. homeostasis pasca partum dicapai terutama akibat
kompresi pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit
dan pembentukan bekuan. Hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar
hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengopresi pembuluh
darah dan membantu hemostasis. Salama 1-2 jam pertama pasca partum
intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Untuk
mempertahankan kontraksi uterus, suntikan oksitosin secara intravena atau
intramuskuler

diberikan

segera

setelah

plasenta

lahir.

Ibu

yang

merencanakan menyusui bayinya, dianjurkan membiarkan bayinya di


payudara segera setelah lahir karena isapan bayi pada payudara merangsang
pelepasan oksitosin.
2. Adaptasi psikologis
Menurut Hamilton, 1995 adaptasi psikologis ibu post partum dibagi menjadi 3
fase yaitu :
a. Fase taking in/ ketergantungan
Fase ini dimuai hari pertama dan hari kedua setelah melahirkan dimana ibu
membutuhkan perlindungandan pelayanan.
b. Fase taking hold / ketergantungan tidak ketergantungan
Fase ini dimulai pada hari ketiga setelah melahirkan dan berakhir pada
minggu keempat sampai kelima. Sampai hari ketiga ibu siap untuk menerima
peran barunya dan belajar tentang semua hal-hal baru. Selama fase ini sistem
pendukung menjadi sangat bernilai bagi ibu muda yang membutuhkan
sumber informasi dan penyembuhan fisik sehingga ia dapat istirahat dengan
baik
c. Fase letting go / saling ketergantungan
Dimulai sekitar minggu kelima sampai keenam setelah kelahiran. Sistem
keluarga telah menyesuaiakan diri dengan anggotanya yang baru. Tubuh
pasian telah sembuh, perasan rutinnya telah kembali
dan kegiatan hubungan seksualnya telah dilakukan kembali.

E. Pathway

F. KOMPLIKASI
1. Perdarahan
Perdarahan adalah penyebab kematian terbanyak pada wanita selama periode
post partum. Perdarahan post partum adalah : kehilangan darah lebih dari 500 cc
setelah kelahiran kriteria perdarahan didasarkan pada satu atau lebih tanda-tanda
sebagai berikut:
a. Kehilangan darah lebih dai 500 cc
b. Sistolik atau diastolik tekanan darah menurun sekitar 30 mmHg
c. Hb turun sampai 3 gram % (novak, 1998).
Perdarahan post partum dapat diklasifikasi menurut kapan terjadinya perdarahan
dini terjadi 24 jam setelah melahirkan. Perdarahan lanjut lebih dari 24 jam

setelah melahirkan, syok hemoragik dapat berkembang cepat dan menadi kasus
lainnya, tiga penyebap utama perdarahan antara lain :
a. Atonia uteri : pada atonia uteri uterus tidak mengadakan kontraksi dengan
baik dan ini merupakan sebap utama dari perdarahan post partum. Uterus
yang sangat teregang (hidramnion, kehamilan ganda, dengan kehamilan
dengan janin besar), partus lama dan pemberian narkosis merupakan
predisposisi untuk terjadinya atonia uteri.
b. Laserasi jalan lahir : perlukan serviks, vagina dan perineum dapat
menimbulkan perdarahan yang banyak bila tidak direparasi dengan segera.
c. Retensio plasenta, hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta
disebapkan oleh gangguan kontraksi uterus.retensio plasenta adalah :
tertahannya atau belum lahirnya plasenta atau 30 menit selelah bayi lahir.
d. Lain-lain
1) Sisa plasenta atau selaput janin yang menghalangi kontraksi uterus
sehingga masih ada pembuluh darah yang tetap terbuka
2) Ruptur uteri, robeknya otot uterus yang utuh atau bekas jaringan parut
pada uterus setelah jalan lahir hidup.
3) Inversio uteri (Wikenjosastro, 2000)

2. Infeksi puerperalis
Didefinisikan sebagai; inveksi saluran reproduksi selama masa post partum.
Insiden infeksi puerperalis ini 1 % - 8 %, ditandai adanya kenaikan suhu > 38 0
dalam 2 hari selama 10 hari pertama post partum. Penyebap klasik adalah :
streptococus dan staphylococus aureus dan organisasi lainnya
3. Endometritis
Adalah infeksi dalam uterus paling banyak disebapkan oleh infeksi puerperalis.
Bakteri vagina, pembedahan caesaria, ruptur membrane memiliki resiko tinggi
terjadinya endometritis (Novak, 1999).
4. Mastitis
Yaitu infeksi pada payudara. Bakteri masuk melalui fisura atau pecahnya puting
susu akibat kesalahan tehnik menyusui, di awali dengan pembengkakan, mastitis
umumnya di awali pada bulan pertamapost partum (Novak, 1999)
5. Infeksi saluran kemih
Insiden mencapai 2-4 % wanita post partum, pembedahan meningkatkan resiko
infeksi saluran kemih. Organisme terbanyak adalah Entamoba coli dan
bakterigram negatif lainnya.
6. Tromboplebitis dan thrombosis

Semasa hamil dan masa awal post partum, faktor koagulasi dan meningkatnya
status vena menyebapkan relaksasi sistem vaskuler, akibatnya terjadi
tromboplebitis (pembentukan trombus di pembuluh darah dihasilkan dari
dinding pembuluh darah) dan thrombosis (pembentukan trombus) tromboplebitis
superficial terjadi 1 kasus dari 500 750 kelahiran pada 3 hari pertama post
partum.
7. Emboli
Yaitu : partikel berbahaya karena masuk ke pembuluh darah kecil menyebapkan
kematian terbanyak di Amerika (Novak. 1999).
8. Post partum depresi
Kasus ini kejadinya berangsur-angsur, berkembang lambat sampai beberapa
minggu, terjadi pada tahun pertama. Ibu bingung dan merasa takut pada dirinya.
Tandanya antara lain, kurang konsentrasi, kesepian tidak aman, perasaan obsepsi
cemas, kehilangan kontrol, dan lainnya. Wanita juga mengeluh bingung, nyeri
kepala, ganguan makan, dysmenor, kesulitan menyusui, tidak tertarik pada sex,
kehilanagan semangat (Novak, 1999)
G. Tanda Tanda Bahaya Post Partum
Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim
baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir
(Depkes RI, 2004). Tanda-tanda yang mengancam terjadinya robekan perineum
antara lain :
1. Kulit perineum mulai melebar dan tegang.
2. Kulit perineum berwarna pucat dan mengkilap.
3. Ada perdarahan keluar dari lubang vulva, merupakan indikasi robekan pada
mukosa vagina
H. Pemeriksaan penunjang
1. Darah lengkap ( Hb, Ht, Leukosit, trombosit )
2. Urine lengkap
I. Penatalaksanaan Medis
1. Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi perdarahan)
2. 6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan miring kanan kiri
3. Hari ke- 1-2 : memberikan KIE kebersihan diri, cara menyusui yang benar dan
perawatan payudara, perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas,
pemberian informasi tentang senam nifas.
4. Hari ke- 2 : mulai latihan duduk
5. Hari ke- 3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


PADA IBU DENGAN POST PARTUM
A. PENGKAJIAN
1. Keluhan utama
Sakit perut, pendarahan, nyeri pada luka jaritan, takut bergerak.
2. Riwayat kehamilan
Umur kehamilan serta riwayat penyakit menyertai.
3. Riwayat persalinan
a. Tempat persalinan
b. Normal/terdapat komplikasi
c. Keadaan bayi
d. Keadaan ibU
4. Riwayat nifas yang lalu
a. Pengeluaran ASI lancer atau tidak
b. BB bayi
c. Riwayat ber KB atau tidak
5. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
1) Pemeriksaan TTV
2) Pengkajian tanda-tanda anemia
3) Pengkajian tanda-tanda edema atau tromboflebitis
4) Pemeriksaan reflek
5) Kaji adanya varises
6) Kaji CVAT ( cortical vertebra area tenderness )
b. Payudara
1) Pengkajian daerah areola ( pecah, pendek, rata )
2) Kaji adanya abses
3) Kaji adanya nyeri tekan
4) Observasi adanya pembengkakanatau ASI terhenti
5) Kaji pengeluaran ASI

c. Abdomen atau uterus


1) Observasi posisi uterus atau tiggi fundus uteri
2) Kaji adnanya kontraksi uterus
3) Observasi ukuran kandung kemih
d. Vulva atau perineum
1) Observasi pengeluaran lokhea
2) Observasi penjahitan lacerasi atau luka episiotomy
3) Kaji adanya pembengkakan

4) Kaji adnya luka


5) Kaji adanya hemoroid
6. Pemeriksaan psiko social
a. Respon + persepsi keluarga
b. Status psikologis ayah, respon keluarga terhadap bayi
7. Pemeriksaan penunjang
a. Darah lengkap : Hb, WBC, PLT
b. Elektrolit sesuai indikasi
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan trauma mekanis, edema atau pembesaran
jaringan atau distensi efek-efek hormonal.
2. Ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan,
pengalaman sebelumnya, tingkat dukungan, karakteristik payudara.
3. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan biokimia efek anastesi,
profil darah abnormal.
4. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan,
penurunan Hb, prosedur infasive, pecah ketuban, malnutrisi.
5. Perubahan eliminasi urin berhubunagn dengan efek hormonal, trauma
mekanis, edema jaringan, efek anastesi ditandai dengan distensi kantong
kemih, perubahan-perubahan jumlah/ frekuensi berkemih.
6. Risiko kekurangan volume cairan berhubunag dengan penurunan masukan
atau penggantian tidak adekuat, kehil;angan cairan berlebih ( muntah,
hemoragik, peningkatan pengeluaran urin).
7. Konstipasi behubungan dengan penurunan tonus otot, efek progesterone,
dehidrasi, nyeri perineal ditandai dengan perubahan bising usus, veses
kurang dari biasanya.
8. Defisiensi pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai perawatan diri dan
bayi berhubungan dengan kurang pemahaman, salah interpretasi tidak tahu
sumber-sumber.
C. INTERVENSI
No

Diagnosa

Noc

Nic

akut NOC:

Nyeri

berhubungan dengan
trauma

mekanis,

edema

atau

pembesaran jaringan

NIC:
Pain Mangement:
1. Lakukan pengkajian

1. Pain Level
2. Pain Control

secara komprehensif (PQRST)

3. Comfort level
Kriteria Hasil:
1. Mampu mengontrol nyeri

atau distensi efek-

(tahu

efek hormonal.

nyeri,mampu menggunakan

penyebab

teknik
untuk

non

farmakologi

mengurangi

nyeri,

mencari bantuan)
2. Melaporakn

bahwa

nyeri
dengan

manajemen

mengenali

nyeri

terapeutik untuk mengetahui


pengalaman nyeri pasien
4. Pilih dan lakukan penanganan
nyeri

(Farmakologi

non

Analgesic Administration
1. Tentukan PQRST

sebelum

pemberian obat
pilihan

analgesic

tergantung tipe dan beratnya


nyeri

(PQRST)
4. Merasakan

rasa

nyaman

3. Evaluasi efektifitas analgesic


tanda dan gejala

setalah nyeri berkurang

3. Gunakan teknik komunikasi

2. Tentukan

nyeri
3. Mampu

2. Monitor vital sign

farmakologi dan interpersonal)

berkurang
menggunaka

nyeri

Ketidakefektifan

NOC
NIC
1. Breastfeding ineffective
Breastfeding Assistence
pemberian
ASI
2. Bretahing
pattern
1. Evaluasi pola menghisap/
berhubungan dengan
ineffective
menelan bayi
tingkat pengetahuan,
3. Breasfeeding interrupted
2. Tentukan keinginan dan
pengalaman
sebelumnya, tingkat

Kriteria hasil:

motivasi

1. Kementapan

pemberian

dukungan,

ASI: Bayi: perlekatan bayi

karakteristik

yang sesuai pada dan

payudara.

proses

menghisap

dari

ibu

untuk

mrnyusui
3. Kaji kemampuan bayi untuk
latch on dan menghisap
secara efektif
4. Pantau
integritas

kulit

payudara

ibu

untuk

memperoleh

nutrisi

selama 3 minggu pertama

putting ibu
5. Pantau berat badan dan pola
eliminasi bayi

Breast
examination
pemberian ASI
2. Kemantapan pemberian suppression
ASI:IBU: kemantapan ibu
untuk

membuat

bayi

Lactation

1. Sediakan informasi tentang


laktasi

dan

teknik

melekat dengan tepat dan

memompa

menyusui dari payudara

manual atau dengan pompa

ibu

elektrik)

cara

mengumpulkan

dan

menyimpan ASI
2. Ajarkan
orang

tua

untuk

memperoleh

nutrisi selama 3 minggu


pertama pemberian ASI.
3. Pemeliharaan pemberian
ASI:

keberlangsungan

pemberian

ASI

untuk

menyediakan nutrisi bagi


bayi/toddler
4. Penyapihan
ASI:

pemberian
Diskontinuitas

ASI: tigkat pemahaman


yang ditunjukan mengenai
makanan

dan

pemberian

bayi

melalui

proses pemberian ASI.


6. Ibu mengenali isyarat
lapar dari bayi dengan
segera
7. Ibu
kepuasan

mengindikasikan
terhadap

pemberian ASI
8. Ibu tidak mengalami nyeri
tekan pada putting
9. Mengenali
tanda-tanda

(secara

mempersiapkan,
menyimpan,
menghangatkan
kemungkinan

progresi pemberian ASI


5. Pengetahuan pemberian

laktasi

ASI

dan
pemberian

tambahan susu formula


Lactation Counseling
1. Sediakan infromasi tentang
keuntungan dan kerugian
peberian ASI
2. Demonstrasikan

latihan

menghisap jika perlu


3. Diskusikan
metode
alternative
makan bayi

pemberian

penurunan suplai ASI


cedera NOC
NIC
1. Risiko Kontrol
Manajemen lingkungan
berhubungan dengan
1. Sediakan lingkungan yang
Kriteria Hasil
biokimia
efek
aman untuk pasien
1. Klien terbebas dari cedera
anastesi, profil darah
2. Identifikasi
kebutuhan
2. Klien mampu menjelaskan
abnormal
keamanan
pasien,
sesuai
cara/metode untuk mencegah
dengan kondisi fisik dan fungsi
injury/cedera
3. Klien mampu menjelaskan
kognitif pasien dan riwayat
Risiko

factor risiko dari lingkungan


personal
4. Mampu memodifikasi gaya
hidup untuk mencegah injury
5. Menggunakan
fasilitas
kesehatan yang ada
6. Mampu
mengenali
perubahan status kesehatan

penyakit terdahulu pasien


3. Menghindarkan
lingkungan
yang berbahaya
4. Memasang side rail tempat
tidur
5. Menyediakan

tempat

tidur

yang nyaman dan bersih


6. Menganjurkan keluarga untuk
menemani pasien
7. Memindahkan barang-barang
yang dapat membahayakan
8. Berikan penjelasan pada pasien
dan keluarga atau pengunjung
adanya
kesehatan

Risiko

tinggi NOC
1. Immune Status
terhadap
infeksi
2. Knowledge:
berhubungan dengan
control
trauma
jaringan,
3. Risk control
penurunan

Hb,

prosedur

infasive,

pecah

ketuban,

malnutrisi.

perubahan
dan

status
penyebab

penyakit.
NIC
Infection control (control infeksi)
Infection
1. Bersihkan
lingkungan
setelah dipakai pasien lain
2. Pertahankan teknik isolasi
3. Gunakan
baju,
sarung
tangan sebagai lat pelindung
4. Pertahankan
lingkungan
aseptic selama pemsangan
alat
5. Monitor tanda gejala infeksi
sistemik dan local
6. Monitor
kerentanan

terhadap infeksi
7. Pertahankan teknik asepsis
pada pasien yang berisiko
8. Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
5

Gangguan eliminasi NOC


NIC
1. Urinary elimination
urie
berhubunagn
Urinary retention care
2. Urinary continuence
dengan
efek
1. Lakukan penilaian kemih
Kriteria hasil
hormonal,
trauma
yang komprehensif berfokus
1. Kandung kemih kosong
mekanis,
edema
pada
inkontinensia
secara penuh
jaringan,
efek
2. Tidak ada residu urine
(misalnya, output urin, pola
anastesi

ditandai

dengan

distensi

kantong

kemih,

perubahanperubahan

jumlah/

>100-200 cc
3. Intake
cairan

berkemih, fungsi kognitif


dalam

rentang normal
4. Bebas dari ISK
5. Tidak ada spasme bladder
6. Balance cairan seimbang

dan

masalah

kencing

raeksisten)
2. Merangsang reflex kandung
kemih

kemih

dengan

menerapkan dingin untuk

frekuensi berkemih.

perut, membelai tinggi batin


atau air.
3. Sediakan waktu yang cukup
untuk

pengosongan

kandung kemih (10 menit)


4. Memantau asupan dan
keluaran
5. Memantau tingka distensi
kandung

kemih

dengan

palpasi dan perkusi


6

Risiko

kekurangan NOC:

volume

cairan

berhubunag dengan
penurunan masukan
atau

penggantian

tidak
kehil;angan

adekuat,
cairan

berlebih ( muntah,

1. Fluid Balance
2. Hydration
3. Nutrisional Status: Food
and Fluid intake

NIC
Fluid management
1. Pertahankan catatan intake
dan output yang akurat
2. Monitor
status
hidrasi
(kelembaban

membrane

mukosa,

nadi

adekuat,

tekanan

darah

ortostatik)

jika diperlukan

hemoragik,
peningkatan
pengeluaran urin).

Kriteria Hasil :
1. Mempertahankan urine
output sesuai dengan usia
dan BB, BJ, urine normal,
HT normal.

3. Monitor vital sign


4. Monitor
masukan
makanan/cairan dan hitung
intake kalori harian
5. Monitor status nutrisi
Hypopolemia Management :

2. Tekanan darah, nadi, suhu

1. Monitor respon pasien

tubuh dalam batas normal.

terhadap penambahan

3. Tidak ada tanda-tanda


dehidrasi, elastisitas
turgor kulit baik,
membrane mukosa

cairan.
2. Monitor BB
3. Dorong pasien untuk
menambah intake oral

lembab, tidak ada rasa


haus yang berlebihan

4. Monitor adanya tanda


gagal ginjal

Konstipasi

NOC
NIC
1. Bowel Elimination
Constipation/Impaction
behubungan dengan
2. Hydration
Management
penurunan
tonus
Kriteria Hasil:
1. Monitor tanda dan gejala
otot,
efek
1. Mempertahankan bentuk
konstipasi
progesterone,
2. Monitor bising usus
feses lunak setiap 1-3 hari
3. Monitor feses : frekuensi,
dehidrasi,
nyeri
2. Bebas
dari
konsistensi dan volume
perineal
ditandai
ketidaknyamanan
dan
4. Identifikasi factor penyebab
dengan perubahan
konstipasi
dan knstribusi konstipasi
3. Mengidentifikasi indicator
bising usus, veses
5. Dukung intake cairan
untuk
mencegah
6. Kolaborasi
pemberian
kurang
dari
konstipasi
laksatif
biasanya.
4. Feses lunak dan berbentuk
7. Pantau tanda-tanda dan
gejala konstipasi
8. Anjurkan pasien/keluarga
mencatat warna, volume,
ferkuensi, dan konstipasi
tinja
9. Ajarkan pasien/ keluarga

tentang

kerangka

waktu

untuk resolusi sembelit

Defisiensi

NOC
1. Knowledge:

pengetahuan
(kebutuhan belajar)
mengenai perawatan
diri

dan

bayi

berhubungan dengan
kurang pemahaman,
salah

interpretasi

tidak tahu sumbersumber.

NIC
disease Teaching: Disease Process
1. Berikan penilaian tentang

process
2. Konowledge:

health

behavior

tentang

Kriteria hasil:
1. Pasien

dan

menyatakan

keluarga
pemahaman

tentang penyakit kondisi,


prognosis, dan program
pengobatan
2. Pasien
dan
mampu

keluarga
menjelaskan

prosedur yang dijelaskan


secara benar
3. Pasien
dan
mampu
kembali

tingkat pengetahuan pasien

keluarga
menjelaskan

apa

yang

proses

penyakit

yang spesifik
2. Gambarkan tanda dan gejala
yang biasa muncul dengan
cara tepat
3. Hindari
jaminan

yang

kosong
4. Sediakan bagi keluarga atau
SO

informasi

tentang

kemajuan pasien dengn cara


yang tepat
5. Diskusikan pilihan terapi
atau penanganan
6. Dukung
pasien

untuk

mengeksplorasi

atau

dijelaskan perawat/ tim

mendapatkan

second

kesehatan lainnya.

opinion dengan cara yang


tepat atau diindikasikan

D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Impementasi yang dilakukan sesuai dengan masalah yan ada berdasarkan
perencanaan yang telah dibuat ( Doenges, 2001)

E. EVALUASI
Evaluasi dilakukan dengan dua cara yaitu evaluasi formatif dsan sumatif:
1. Evaluasi formatif : evaluasi yang dilakukan berdasarkan respon pasien terhadap
tidakakan yang dilakukan.
2. Evaluasi sumatif: evaluasi yang dilakukan dengan mengetahui secara
keseluruhan apakah tujuan tercapai atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Adaptasi maternal pada periode. Available at:


http://kesehatanbyteguh.blogspot.com/2012/01/adaptasi-maternal-padaperiode.html. Opened at: 10 mei 2016, 09.00 wib.
Anonim. 2012. Asuhan keperawatan Post partum. Available at:
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-norhimawat-6281-2babii.pdf. Opened at: 10 mei 2016, 09.10 wib.
Bobak, 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4. Jakarta : EGC
Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana
AsuhanKeperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002.Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Yoga. 2013. Askep post partum. Available at:
http://yogasrondeng.blogspot.com/2013/09/askep-post-partum-nifas.html.
opened at: 10 mei 2016, 08.40 wib.

Anda mungkin juga menyukai