Anda di halaman 1dari 16

PORTFOLIO KASUS BEDAH

Fraktur Klavikula

OLEH :
dr. Ivon Darmanto
PEMBIMBING :
dr. Ziadul Hunaini Sp.OT
PENDAMPING :
dr. Yuliawati Soetio
dr. Sofie Giantari

RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN


KABUPATEN PROBOLINGGO
2015

Nama Peserta: Ivon Darmanto


Nama Wahana : RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo
Topik : Fraktur klavikula Dextra
Pendamping :
Pembimbing :
dr. Yuliawaty Soetio & dr. Sofie Giantari
Tanggal Presentasi : 20 Agustus 2015

dr. Ziadul Hunaini Sp.OT


Tempat Presentasi : Ruang Pertemuan

Objektif Presentasi :
Keilmuan
Ketrampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak Remaja
Dewasa Lansia
Bumil
Bahan Bahasan :
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Cara Menbahas :
Diskusi
Presentasi dan Diskusi
Email Pos
Data Pasien :

Nama : Ny. M

Nama Klinik : RSUD Waluyo Jati

No. Registrasi : 264265


Telp : -

Terdaftar: -

Data utama untuk bahan diskusi :


1. Diagnosis / Gambaran Klinis :
Ny. M 36 tahun, mengalami kecelakaan mengendarai sepeda motor dan mengeluh
nyeri di bahu kanan dan nyeri saat digerakan
2. Riwayat Pengobatan : 3. Riwayat Kesehatan/Penyakit : 4. Riwayat Keluarga : 5. Lain Lain :
Daftar Pustaka :
1. Rasjad C. Trauma. In: Pengantar ilmu bedah ortopedi. 6th ed. Jakarta: Yarsif
Watampone, 2009, p. 355-356.
2. Pecci M, Kreher JB. Clavicle fracture. [Cited] January, 1st 2008. Available from: URL:
http://www.aafp.org/afp/2008/0101/p65.html. Accessed: July 29th, 2015.
3. Rubino LJ. Clavicle Fracture. [Cited] March, 7th 2012. Available from: URL:
http://emedicine.medscape.com/article/1260953-overview#a0199.

Accessed:

July

29th, 2015.
4. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Sistem muskuloskeletal. In: Buku ajar ilmu bedah. 2nd ed.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2004, p. 841.
5. Abbasi D. Clavicle Fractures. [Cited] November, 9th 2012. Available from: URL:
http://www.orthobullets.com/trauma/1011/clavicle-fractures Accessed: July 29th, 2015.
6. Wibowo DS, Paryana W. Anggota gerak atas. In: Anatomi Tubuh Manusia. Bandung:
Graha Ilmu Publishing, 2009, p.3-4.
7. Wright M. Clavicle Fracture. [Cited] April, 20th 2010. Available from: URL:
http://www.patient.co.uk/doctor/Fractured-Clavicle.htm Accessed: July 29th, 2015.
8. Appley, Dalam Buku Ajar Ortopedi dan fraktur Sistem Apley, Edisi 7, Editor : Edi
Nugroho 1999.
9. Amir Estephan,

MD.

Fracture,

clavicle

[Online].

2009.

Available

from

http://emedicine.medscape.com/article/824564-overview Accessed: July 29th, 2015.


10.Trurnble TE, Budoff JE, Cornwall R, editors. Hand, Elbow and Shoulder: Core
Knowledge in orthopaedics. I ed. Philadelphia: Mosby Elsevier; 2006. p.623-7.
Hasil Pembelajaran :
2

1. Mendiagnosis awal pasien dengan fraktur klavikula


2. Memberikan penanganan dan rujukan yang tepat
Catatan:
Subyektif
Tanggal 9 Juni 2015, pasien diantar ke UGD oleh penduduk setelah mengalami kecelakaan
motor, pasien terjatuh sendiri saat mengendarai motor di jalanan berpasir, motor jatuh ke
arah kanan, dan menimpa pasien.
Pasien mengenakan helm teropong dan tidak terlepas. Pasien sadar, sakit kepala, mual,
muntah, pingsan disangkal. Pasien mengeluh nyeri di daerah bahu kanan, dan nyeri bila
bahu tersebut digerakkan. Tidak ada luka di daerah bahu.
Riwayat patah tulang atau operasi sebelumnya disangkal.
Riwayat penyakit diabetes melitus disangkal, hipertensi disangkal, penyakit jantung paru
lainnya disangkal, alergi tidak ada.
Obyektif
Pemeriksaan Fisik:
a) Keadaan Umum :
pasien tampak sakit, keadaan gizi cukup, kesadaran compos mentis.
b) Tanda-tanda vital : HR: 110/70 mmHg; suhu 37,20 C; RR 20 x/ menit; nadi 84 x/menit,
c) BB : 55 kg; TB 153 cm BMI : 23.49 ( Normal )
d) Keadaan Tubuh

Kepala
: mesosefal
Kulit
: turgor baik, pucat (-), sianosis (-), ikterik (-)
Mata
: konjungtiva anemis (-/-), pupil isokor, reflek pupil (+/+), ikterik (-/-)
Hidung
: sekret (-/-)
Telinga
: discharge (-/-)
Mulut
: kering (-), sianosis (-)
Leher
: simetris, pembesaran kelenjar limfe (-)
Thoraks
o Paru-paru
Pemeriksaan
INSPEKSI
Bentuk
Pergerakan
PALPASI
Pergerakan
ICS
PERKUSI
Suara Ketok

AUSKULTASI
Suara Nafas

Depan
Kanan

Kiri

Belakang
Kanan

Kiri

Simetris
Simetris

+
+

+
+

+
+

+
+

Simetris
Simetris

+
+

+
+

+
+

+
+

Sonor
Sonor
Sonor
Sonor

Sonor
Sonor
Sonor
Sonor

Sonor
Sonor
Sonor
Sonor

Sonor
Sonor
Sonor
Sonor

Vesikuler
Vesikuler

Vesikuler
Vesikuler

Vesikuler
Vesikuler

Vesikuler
Vesikuler
3

Ronkhi

Wheezing

Vesikuler
Vesikuler
-

Vesikuler
Vesikuler
-

Vesikuler
Vesikuler
-

Vesikuler
Vesikuler
-

Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: ictus cordis tidak tampak


: ictus cordis tidak teraba
: batas atas jantung : ICS II linea parasternalis sinistra
batas pinggang jantung: ICS II midclavicularis sinistra
batas kanan bawah jantung : ICS IV linea sternalis
dextra
batas kiri jantung
: ICS V 2 cm medial linea
midclavicularis sinistra
Auskultasi : bunyi jantung I-II reguler, frekuensi 84 x/menit,
bising (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : permukaan cembung, dinding perut sejajar dinding dada
Auskultasi : bising usus (+) 11x/menit
Perkusi
: timpani
Palpasi
: nyeri tekan (-), defans muskular (-), hepar & lien sulit teraba

Sistema Genitalia : ulkus (-), sekret (-), tanda-tanda radang (-).


Ekstremitas
Akral dingin
- Oedem - - STATUS LOKALIS
Regio hemithorak dekstra
Look : Tampak asimetri bahu, tampak deformitas tulang clavicula dekstra 1/3
tengah, berupa angulasi, pemendekan (+), jejas di regio clavicula dekstra (-),
luka terbuka (-), oedem (+), hematom (-)
Feel : Teraba diskontinuitas tulang clavicula dekstra 1/3 tengah. Nyeri tekan (+).
Krepitasi (+) nyeri. Motorik dan Sensorik daerah distal dalam batas normal.
Pulsasi bag distal trauma (+)
Move : Terbatas karena nyeri. Gerakan pada articulatio glenohumeral: abduksi (+)
terbatas karena nyeri, adduksi (+), endorotasi (+), eksorotasi (+), flexi (+),
ekstensi (+).

Pemeriksaan penunjang
Thorax Foto 9 Juni 2015

Kesimpulan foto: fraktur klavikula dextra


Diagnosis :
Fraktur tertutup klavikula dextra 1/3 tengah
Planning terapi:
a) KIE mengenai penyakit dan penanganan yang diperlukan yaitu operasi
pembedahan open reduction internal fixation
b) Rawat Inap dengan terapi farmakologis sebagi berikut:
a. Injeksi ketorolac 3 x 30 mg
b. Injeksi Ceftriaxon 1 x 1 gram
c. Infus RL 20 tpm / 24 jam

FOLLOW UP PEMERIKSAAN POST OPERASI 10 Juni 2015


Anamnesis : nyeri post op (+), pusing (-), mual/muntah (-), BAK/BAB (-)
Px. Fisik :
Status Generalis : dalam batas normal
Kesan Umum : Baik, Compos mentis
Tanda vital :
- Tekanan darah
: 110/70 mmHg
- Nadi
: 80 x/menit
- Laju nafas
: 24 x/menit
- Suhu
: 37C
Status Lokalis : a/r bahu kanan :
a. Look : bengkak (+), deformitas (-)
b. Feel : nyeri tekan (+), pulsasi bag distal (+)
c. Move : passive movement e.c nyeri post operasi
Px. Penunjang : Hasil ORIF Shoulder Dextra

Penatalaksanaan :
d. Injeksi ketorolac 3 x 30 mg
e. Injeksi ceftriaxon 1 x 1 gram
f. Infus RL 20 tpm / 24 jam
g. Mobilisasi dengan Arm Sling

TINJAUAN PUSTAKA
FRAKTUR CLAVICULA
I.

PENDAHULUAN
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan
epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. Untuk mengetahui mengapa
dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita harus mengetahui keadaan fisik
tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah. Kebanyakan
fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan
membengkok, memutar dan tarikan.1

II. INSIDENS & EPIDEMIOLOGI


Terdapat 5-10% fraktur clavicula dari semua jenis fraktur. Fraktur ini
kebanyakan terjadi pada pria yang berusia kurang dari 25 tahun, namun juga lebih
sering terjadi pada pria yang lebih tua, yaitu >55 tahun dan pada wanita >75 tahun.2
III. ANATOMI
Os clavicula (tulang selangka) berhubungan dengan os sternum di sebelah
medial dan di lateral tulang ini berhubungan dengan os scapula pada acromion yang
dapat diraba sebagai tonjolan di bahu bagian lateral. Tulang ini termasuk jenis tulang
pipa yang pendek, walaupun bagian lateral tulang ini tampak pipih. Bentuknya seperti
huruf S terbalik, dengan bagian medial yang melengkung ke depan, dan bagian
lateral agak melengkung ke belakang. Permukaan atasnya relatif lebih halus
dibanding dengan permukaan inferior. Ujung medial atau ujung sternal mempunyai
facies articularis sternalis yang berhubungan dengan discus articularis sendi atau
articulatio sternoclavicularis.6

Gambar 1. Anatomi Clavicula


IV. ETIOLOGI
Fraktur dapat terjadi akibat trauma. Sebagian besar fraktur disebabkan oleh
kekuatan yang tiba tiba dan berlebihan, yang dapat berupa benturan, pemukulan,

penghancuran, penekukan atau terjatuh dengan posisi miring, pemuntiran, atau


penarikan.
Bila terkena kekuatan langsung (trauma langsung) tulang dapat patah pada
tempat yang terkena, jaringan lunak juga pasti rusak. Pemukulan biasanya
menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya; penghancuran
kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak
yang luas. Trauma langsung misalnya benturan pada lengan bawah menyebabkan
fraktur tulang radius dan ulna.
Bila terkena kekuatan tak langsung (trauma tidak langsung) tulang dapat
mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu;
kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada. Trauma tak langsung
misalnya jatuh bertumpu pada tangan menyebabkan fraktur tulang clavicula atau
radius distal.
Kekuatan dapat berupa :
1. Pemuntiran (rotasi), yang menyebabkan fraktur spiral
2. Penekukan (trauma angulasi atau langsung) yang menyebabkan fraktur
melintang
3. Penekukan dan Penekanan, yang mengakibatkan fraktur sebagian
melintang tetapi disertai fragmen kupu kupu berbentuk segitiga yang
terpisah
4.

Kombinasi

dari

pemuntiran,

penekukan

dan

penekanan

yang

menyebabkan fraktur obliq pendek


5. Penarikan dimana tendon atau ligamen benar benar menarik tulang
sampai terpisah4.
Menurut sejarah fraktur pada klavikula merupakan cedera yang sering terjadi
akibat jatuh dengan posisi lengan terputar / tertarik keluar (outstreched hand) dimana
trauma dilanjutkan dari pergelangan tangan sampai klavikula, namun baru-baru ini
telah diungkapkan bahwa sebenarnya mekanisme secara umum patah tulang
klavikula adalah hantaman langsung ke bahu atau adanya tekanan yang keras ke
bahu akibat jatuh atau terkena pukulan benda keras.3

Fraktur clavicula paling sering disebabkan oleh karena mekanisme kompresi


atau penekanan, paling sering karena suatu kekuatan yang melebihi kekuatan tulang
tersebut dimana arahnya dari lateral bahu apakah itu karena jatuh, kecelakaan
olahraga ataupun kecelakaan kendaraan bermotor.1
Pada daerah tengah tulang clavicula tidak di perkuat oleh otot ataupun
ligament-ligament seperti pada daerah distal dan proksimal clavicula. Clavicula
bagian tengah juga merupakan transition point antara bagian lateral dan bagian
medial. Hal ini yang menjelaskan kenapa pada daerah ini paling sering terjadi fraktur
dibandingkan daerah distal ataupun proksimal.1

Gambar 2. Fraktur Clavicula


V. KLASIFIKASI
Klasifikasi fraktur secara umum dibagi menjadi4,8:
1. Terbuka / tertutup
1)

Fraktur tertutup (closed): apabila tidak terdapat hubungan antara fragmen


tulang dengan dunia luar.

2)

Fraktur terbuka (open/compound): apabila terdapat hubungan antara fragmen


tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit.
Fraktur terbuka dibagi atas 3 derajat
a.

Derajat I:

Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk


Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif ringan
Kontaminasi minimal

b. Derajat II:

Luka < 1 cm

Luka > 1 cm

Kerusakan jaringan lunak tidak luas, flap/avulsi


Fraktur kominutif sedang
Kontaminasi sedang

c. Derajat III:
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan
neurovaskuler. Fraktur terbuka derajat III terbagi atas:
a)

Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat,


meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulsi; atau fraktur segmental /
sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa
melihat besarnya luka.

b)

Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar


atau terkontaminasi massif.

c)

Luka pada pembuluh darah arteri/ saraf perifer yang harus


diperbaiki tanpa melihat jaringan lunak.

2. Komplit / tidak komplit


a. Fraktur komplit: apabila garis patah yang melalui seluruh penampang tulang
atau melalui kedua korteks tulang seperti yang terlihat pada foto
b. Fraktur tidak komplit : apabila garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang, seperti:

Hairline fracture

Greenstick fracture

Buckle fracture

3. Garis patahnya
a.
Transversal
b.
Oblique
c.

Spiral

d.
Kompresi
e.

Avulsi

4. Jumlah garis patah


a. Fraktur kominutif: garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan
b. Fraktur segmental: garis patah lebih dari satu

tetapi tidak saling

berhubungan
c. Fraktur multiple: garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang
berlainan tempatnya
5. Bergeser/tidak bergeser

10

a. Fraktur undisplaced: garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak


bergeser.
b. Fraktur displaced: terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur.
Lokasi patah tulang pada klavikula diklasifikasikan menurut Dr. FL Allman tahun 1967
dan dimodifikasi oleh Neer pada tahun 1968, yang membagi patah tulang klavikula
menjadi 3 kelompok :5
\
Gambar 3.
Klasifikasi fraktur
klavikula

1.

Kelompok 1: patah tulang pada


sepertiga tengah tulang klavikula

(insidensi kejadian 75-80%).


Pada daerah ini tulang lemah dan tipis.
Umumnya terjadi pada pasien yang muda.
2. Kelompok 2: patah tulang klavikula pada sepertiga distal (15-25%)
Terbagi menjadi 3 tipe berdasarkan lokasi ligament coracoclavicular yakni :

conoid dan trapezoid.


Tipe 1

Patah tulang secara umum pada daerah distal tanpa adanya

Tipe 2 A

perpindahan tulang maupun gangguan ligament coracoclavicular.


Fraktur tidak stabil dan terjadi perpindahan tulang, dan ligament

Tipe 2 B

coracoclavicular masih melekat pada fragmen.


Terjadi gangguan ligament. Salah satunya terkoyak ataupun kedua-

Tipe 3

duanya.
Patah tulang yang pada bagian distal clavikula yang melibatkan AC

Tipe 4

joint.
Ligament tetap utuh melekat pada periosteum, sedangkan fragmen

Tipe 5

proksimal berpindah ke atas.


Patah tulang kalvikula terpecah menjadi beberapa fragmen.

11

3. Kelompok 3: patah tulang klavikula pada sepertiga proksimal (5%). Pada


kejadian ini biasanya berhubungan dengan cedera neurovaskuler.
VI.

DIAGNOSIS 1,4,7,8
1.

Anamnesis :
Riwayat trauma yang adekuat biasanya jatuh dengan posisi ekstremitas atas
terentang, jatuh ke arah bahu, trauma langsung pada clavicula. Pasien
merasakan rasa sakit bahu dan bertambah parah dengan gerakan lengan,
sehingga tangan tidak dapat digerakkan.

2.

Pemeriksaan fisik :
Pemeriksaan meliputi pemeriksaan generalis dan pemeriksaan lokalis.
Pada pemeriksaan lokalis meliputi :

Look : Pembengkakan, memar / hematom dan deformitas (penonjolan


yang abnormal: angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas,
tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan
luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka

12

Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian
distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi.
Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan
pembedahan. Dapat terdengar krepitasi di area fraktur.

Movement : Krepitasi dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi


lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan
sendi sendi di bagian distal cedera.

3.

Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan dengan sinar x harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu
anterior posterior dan lateral, kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera
pada lebih dari satu tingkat karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur
perlu juga diambil foto sinar x pada pelvis dan tulang belakang. Pencitraan
yang dilakukan harus cukup luas untuk bisa menilai juga kedua AC joint dan SC
joint. Bisa juga digunakan posisi oblique dengan arah dan penempatan yang
baik.

VII. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada fraktur clavicula ada dua pilihan yaitu dengan tindakan
bedah atau operative treatment dan tindakan non bedah atau konsevatif 5,10. Dengan
tujuan menempatkan ujung-ujung dari patah tulang supaya satu sama lain saling
berdekatan dan untuk menjaga agar mereka tetap menempel sebagaimana mestinya
sehingga tidak terjadi deformitas dan proses penyembuhan tulang yang mengalami
fraktur lebih cepat10.
Proses penyembuhan pada fraktur clavicula memerlukan waktu yang cukup
lama. Penanganan nonoperative dilakukan dengan pemasangan arm sling selama 6
minggu. Selama masa ini pasien harus membatasi pergerakan bahu, siku dan
tangan. Setelah sembuh, tulang yang mengalami fraktur biasanya kuat dan kembali
berfungsi. Pada beberapa patah tulang, dilakukan pembidaian untuk membatasi
pergerakan. atau mobilisasi pada tulang untuk mempercepat penyembuhan. Patah
tulang lainnya harus benar-benar tidak boleh digerakkan (immobilisasi)10.
Imobilisasi bisa dilakukan melalui :
a. Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.
b. Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar
tulang yang patah Modifikasi spika bahu (gips clavicula) atau balutan
berbentuk angka delapan atau strap clavicula dapat digunakan untuk
mereduksi fraktur ini, menarik bahu ke belakang, dan mempertahankan
dalam posisi ini. Bila dipergunakan strap clavicula, ketiak harus diberi
13

bantalan yang memadai untuk mencegah cedera kompresi terhadap pleksus


brakhialis dan arteri aksilaris. Peredaran darah dan saraf kedua lengan harus
dipantau.

Gambar 3. Pemasangan Gips


c. Penarikan (traksi) : menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota,
gerak pada tempatnya.
d. Fiksasi internal : dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan (plate)
atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang atau sering disebut open
reduction with internal fixation (ORIF).
e. Fiksasi eksternal : Immobilisasi lengan atau tungkai menyebabkan otot
menjadi lemah dan menciut. Karena itu sebagian besar penderita perlu
menjalani terapi fisik.
Tatalaksana berdasarkan tipe fraktur klavikula9:
A. Kelas A (fraktur sepertiga tengah) :
Imobilisasi fraktur midclavicular dengan Figure-of-Eight splint. Splint ini dipasang
setelah dilakukan close-reduction dengan menarik bahu ke atas dan belakang.
Keuntungan Figure-of-eight adalah pasien masih dapat menggunakan kedua
tangannya. Penyembuhan dapat terjadi selama 2 minggu untuk bayi dan 4-6
minggu untuk orang dewasa. Imobilisasi harus tetap dilakukan sampai hasil
radiografi ulangan menunjukkan pembentukan kalus dan penyembuhan di garis
fraktur.
B. Kelas B (fraktur sepertiga distal)
Tipe I (nondisplaced) dan tipe III ( articular surfaced involvement) diterapi secara
simtomatik dengan es, analgetik, dan sling. Mobilisasi dini bahu sangat penting
untuk mencegah artritis degeneratif dan mengurangi resiko adhesive capsulitis.
Untuk tipe II, IV, V (displaced) biasanya membutuhkan pembedahan.
C. Kelas C (fraktur sepertiga proximal)
Tipe ini berhubungan dengan cedera neurovaskuler perlu

dilakukan

pembedahan.

14

Terapi operatif 4,8

Tindakan debridement dan posisi terbuka

ORIF (Open Reduction Internal Fixation)


Indikasi ORIF :
o

Fraktur terbuka

Fraktur dengan cedera neurovaskuler

Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup*

Fraktur comminuted

Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan*

Tulang memendek karena fragmen fraktur tumpang tindih

Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil lebih baik dengan operasi

Terjadi Non Union (kegagalan penyambungan) / mal union (posisi penyatuan


tulang yang tidak semestinya)

VIII.

KOMPLIKASI

Komplikasi akut:7,8

Cedera neurovaskuler

Komplikasi lambat :7

Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu
semestinya, namun tidak kembali menjadi bentuk aslinya atau abnormal

(angulasi, perpendekan, atau rotasi).


Delayed union : Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih dari normal
Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 4 sampai 6 bulan
Kekakuan sendi / kontraktur
Post traumatik artritis terjadi pada fraktur yang melibatkan persendian, pada
kasus ini sendi AC atau sternoklavikular

IX. PROGNOSIS

15

Prognosis jangka pendek dan panjang sedikit banyak bergantung pada berat
ringannya trauma yang dialami, bagaimana penanganan yang tepat dan usia
penderita. Pada anak prognosis sangat baik karena proses penyembuhan sangat
cepat, sementara pada orang dewasa prognosis tergantung dari penanganan, jika
penanganan baik maka komplikasi dapat diminimalisir.7

16