Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

KANKER OVARIUM
Disusun untuk memenuhi tugas Profesi Departemen Medikal

Disusun oleh:
DINA MUKMILAH MAHARIKA 140070300011242

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Kanker ovarium merupakan tumor dengan histiogenesis yang beraneka ragam, dapat
berasal dari ketiga (3) dermoblast (ektodermal, endodermal, mesodermal) dengan sifat-sifat
histiologis maupun biologis yang beraneka ragam (Smeltzer & Bare, 2002).
Terdapat pada usia peri menopause kira-kira 60%, dalam masa reproduksi 30% dan
10% terpadat pada usia yang jauh lebih muda. Tumor ini dapat jinak (benigna), tidak jelas jinak
tapi juga tidak jelas / pasti ganas (borderline malignancy atau carcinoma of low maligna
potensial) dan jelas ganas (true malignant) (Priyanto, 2007).
Kanker ovarium sebagian besar berbentuk kista berisi cairan maupun padat. Kanker
ovarium disebut sebagai silent killer. Karena ovarium terletak di bagian dalam sehingga tidak
mudah terdeteksi 70-80% kanker ovarium baru ditemukan pada stadium lanjut dan telah
menyebar (metastasis) kemana-mana (Wiknjosastro, 1999).
2. Epidemiologi
Kanker ovarium merupakan keganasan ketiga terbanyak pada saluran genitalia
wanita.Kanker ovarium sangat sukar terdiagnosa pada stadium awal, sehingga sebagian besar
kasus baru ditemukan pada stadium yang telah lanjut (Ari, 2008). Kanker ovarium jarang terjadi
pada wanita dengan usia di bawah 40 tahun, sebagian besar terjadi pada wanita umur 40
sampai 65 tahun. Angka kejadian kanker ovarium lebih dari 16 kasus per 100.000 wanita umur
40 sampai 44 tahun meningkat menjadi 57 kasus per 100.000 wanita umur 70 sampai 74 tahun.
World Health Organization (WHO) pada tahun 2002 melaporkan bahwa kanker ovarium di
Indonesia menempati urutan ke empat terbanyak dengan angka insiden mencapai 15 kasus per
100.000 wanita setelah kanker payudara, korpus uteri, dan kolorektal (Fauzan, 2009).
Di Amerika serikat, sekitar 1 dari 70 wanita terkena kanker ovarium, dimana kanker
ovarium merupakan 4% dari semua kanker pada wanita dengan jumlah kasus baru dan angka
mortalitas kanker ovarium meningkat setiap tahunnya, dimana pada tahun 2002 diperoleh
sebanyak 23.300 kasus, dengan angka kematian sebesar 56,29% dari kasus tersebut, tahun
2003 meningkat menjadi 25.400 kasus, dengan angka kematian sebesar 59,66% dari kasus,
dan tahun 2007 menjadi 22.430 kasus baru dengan angka kematian meningkat mencapai
68,12%. (American Cancer Society, 2010).

Sedangkan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, pada tahun 2005 diperoleh
angka kejadian kanker ovarium sebesar 35% dari seluruh kanker ginekologis di RSUP Sanglah
dengan angka harapan hidup selama lima tahunnya hanya sebesar 15% (Karyana, 2005).
3. Klasifikasi
Klasifikasi kanker ovarium belum ada keseragamannya, namun tidak ada perbedaan
sifat fundamental. Menurut International Federation of Ginecologic and Obstetrics (FIGO),
kanker ovarium dibagi dalam 3 kelompok besar sesuai dengan jaringan asal tumor dan
kemudian

masing-masing

kelompok

terdiri

dari

berbagai

spesifikasi

sesuai

dengan

histopatologi:
a. Kanker Berasal dari Epitel Permukaan
Kanker yang berasal dari epitel permukaan merupakan golongan terbanyak dan
sebagian besar 85 % kanker ovarium berasal dari golongan ini. Lebih dari 80% kanker
ovarium epitel ditemukan pada wanita pascamenopause di mana pada usia 62 tahun
adalah usia kanker ovarium epitel paling sering ditemui.
Jenis-jenis kanker ovarium epitel permukaan :
1) Karsinoma Serosa
Karsinoma ini merupakan keganasan epitel ovarium yang tersering ditemukan.
Mudah tersebar di kavum abdomen dan pelvis, irisan penampang tumor sebagai kistik
solid. Tumor jenis ini di bawah mikroskop menurut diferensiasi sel kanker dibagi menjadi
diferensiasi baik (benigna) yang memiliki percabangan papilar rapat, terlihat mitosis, sel
nampak anaplastik berat, terdapat invasi intersisial jelas, badan psamoma relatif banyak.
Pada kanker diferensiasi sedang (borderline) dan buruk (maligna) memiliki lebih banyak
area padat, papil sedikit atau tidak ada, dan badan psamoma tidak mudah ditemukan.
2) Karsinoma Musinosa
Karsinoma jenis ini lebih jarang ditemukan dibanding karsinoma serosa. Sebagian
besar tumor multilokular, padat dan sebagian kistik, di dalam kista berisi musin gelatinosa,
jarang sekali tumbuh papila eksofitik, area solid berwarna putih susu atau merah jambu,
struktur rapat dan konsistensi rapuh. Tumor jenis ini di bawah mikroskop dibagi menjadi
tiga gradasi, di mana yang berdiferensiasi baik dan sedang memiliki struktur grandular
jelas, percabangan papila epitel rapat, terdapat dinding bersama grandular, atipia inti sel

jelas, terdapat invasi intersisial. Pada kanker diferensiasi buruk struktur grandular tidak
jelas, mitosis atipikal bertambah banyak, produksi musin dari sel sangat sedikit.
3) Karsinoma Endometroid
Kira-kira 20% kanker ovarium terdiri dari karsinoma endometroid. Sebagian besar
tumor berbentuk solid dan di sekitarnya dijumpai kista. Arsitek histopatologi mirip dengan
karsinoma endometrium dan sering disertai metaplasia sel skuamos. Lebih dari 30 %
karsinoma endometroid dijumpai bersama-sama dengan adenokarsinoma endometrium.
Endometroid borderline dan endometroid adenofibroma jarang dijumpai.
4) Karsinoma Sel Jernih ( Clear Cell Carcinoma )
Tumor ini berasal dari duktus muleri. Pada umumnya berbentuk solid, sebagian
ada juga berbentuk kistik, warna putih kekuning-kuningan. Arsitek histopatologi terdiri dari
kelenjar solid dengan bagian papiler. Sitoplasma sel jernih dan sering dijumpai hopnail
appearance yaitu inti yang terletak di ujung sel epitel kelenjar atau tubulus.
5) Tumor Brenner
Tumor ini diduga berasal dari folikel. Biasanya solid dan berukuran 5-10 cm dan
hampir bersifat jinak. Tumor ini sering dijumpai insidentil pada waktu dilakukan
histerektomi.
b. Kanker Berasal dari Sel Germinal Ovarium (Germ Cell)
Tumor ini lebih banyak pada wanita umur di bawah 30 tahun. Di antaranya :
1) Disgerminoma
Adalah tumor ganas sel germinal yang paling sering ditemukan, ukuran diameter
5-15 cm, berlobus-lobus, solid, potongan tumor berwarna abu-abu putih sampai abu-abu
cokelat dengan potongan mirip ikan tongkol. Kelompok sel yang satu dengan yang lain
dipisahkan oleh jaringan ikat tipis dengan infiltrasi sel radang limfosit. Gambaran
histopatologi mirip dengan seminoma testis pada laki-laki. Neoplasma ini sensitif terhadap
radiasi. Tumor marker untuk disgerminoma adalah serum Lactic Dehydrogenase (LDH)
dan Placental Alkaline Phosphatase (PLAP).

2) Tumor Sinus endodermal


Berasal dari tumor sakus vitelinus/yock sac dari embrio. Usia rata-rata penderita
tumor sinus endodermal adalah 18 tahun. Berupa jaringan kekuning-kuningan dengan
area perdarahan, nekrosis, degenerasi gelatin dan kistik. Khas untuk tumor sinus
endodermal ini adalah keluhan nyeri perut dan pelvis yang dialami oleh 75% penderita.
Tumor marker untuk tomor sinus endodermal adalah alfa fetoprotein (AFP).
3) Teratoma Immatur
Angka kejadian mendekati tumor sinus endodermal. Massa tumor sangat besar
dan unilateral, penampang irisan bersifat padat dan kistik, berwarna-warni, komponen
jaringan

kompleks,

jaringan

embrional

belum

berdiferensiasi

umumnya

berupa

neuroepitel. Tumor ini mempunyai angka rekurensi dan metastasis tinggi, tapi tumor
rekuren dapat bertransformasi dan immatur ke arah matur, regularitasnya condong
menyerupai pertumbuhan embrio normal. Tumor marker untuk teratoma immatur adalah
alfa fetoprotein (AFP) dan chorionic gonadotropin (HCG).
4) Teratokarsinoma
Sangat ganas, sering disertai sel germinal lain, AFP dan HCG serum dapat positif.
Massa tumor relatif besar, berkapsul, sering ditemukan nekrosis berdarah. Di bawah
mikroskop tampak sel primordial poligonal membentuk lempeng, pita dan sarang,
displasia menonjol, mitosis banyak ditemukan, nukleus tampak vakuolasi, intrasel tampak
butiran glasial PAS positif.
c. Kanker Berasal dari Stroma Korda Seks Ovarium (Sex Cord Stromal)
Tumor yang berasal dari sex cord stromal adalah tumor yang tumbuh dari satu
jenis. Kira-kira 10% dari tumor ganas ovarium berasal dari kelompok ini. Pada penderita
tumor sel granulosa, umur muda atau pubertas terdapat keluhan perdarahan pervagina,
pertumbuhan seks sekunder antara lain payudara membesar dengan kolostrum,
pertumbuhan rambut pada ketiak dan pubis yang disebut pubertas prekoks.

1) Tumor Sel Granulosa-teka


Kira-kira 60% dari tumor ini terjangkit pada wanita post menopause, selebihnya
pada anak-anak dan dewasa. Tumor ini dikenal juga sebagai feminizing tumor,
memproduksi estrogen yang membuat penderita cepat menjadi wanita. Arsitektur
histopatologinya bervariasi yaitu populasi sel padat. Neoplasma ini dikategorikan low
malignant. Pada endometrium sering dijumpai karsinoma.
2) Androblastoma
Tumor ini memproduksi hormon androgen yang dapat merubah bentuk penderita
menjadi kelaki-lakian atau disebut juga masculinizing tumor. Penyakit ini jarang dijumpai.
3) Ginandroblatoma
Merupakan peralihan antara tumor sel granulosa dan arrhenoblastoma dan sangat
jarang.
4) Fibroma
Fibroma kadang-kadang sulit dibedakan dengan tekoma. Sering disertai dengan
asites dan hidrotoraks yang dikenal sebagai sindroma Meigh.
4. Etiologi
Walaupun penyebab pasti kanker ovarium masih belum ditemukan, beberapa teori telah
dikemukakan oleh para ahli dalam rangka mengungkap patogenesis terjadinya kanker ovarium,
antara lain:
a. Teori incessant ovulation
Teori Incessant ovulationdikemukakan oleh Fatala (1972) yang mengatakan bahwa
mekanisme terjadinya kanker ovarium adalah akibat dari ovulasi yang terus menerus
serta adanya trauma berulang pada ovarium selama proses ovulasi, mengakibatkan epitel
ovarium mudah terpajan atau terpapar oleh berbagai faktor resko sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya kelainan atau abnormalitas genetik. Kerusakan sel epitel
ovarium pada waktu terjadinya ovulasi membutuhkan waktu untuk pemulihan, bila waktu
istirahat berkurang maka proses pemulihan ini akan terganggu sehingga dapat terjadi
perubahan ke arah keganasan.(Rasjidi, 2010)

Berdasarkan teori tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin dini usia seorang
wanita mengalami menstruasi, akan makin lambat mencapai menopause, dan tidak
pernah hamil atau memiliki keturunan merupakan berbagai kondisi yang dapat
meningkatkan frekuensi ovulasi akan meningkatkan risiko terjadinya kanker ovarium.
Sedangkan berbagai kondisi yang menekan frekuensi ovulasi, seperti kehamilan dan
menyusui justru menurunkan risiko terjadinya kanker ovarium (Busman, 2008).
Terjadinya ovulasi dan bertambahnya umur seorang wanita meyebabkan
terperangkapnya fragmen epitel permukaan ovarium pada cleft (invaginasi pada
permukaan) dan badan inklusi pada kortek ovarium. Beberapa penelitian telah
membuktikan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi metaplasia dan neoplasma
pada daerah-daerah ovarium yang mengalami invaginasi dan terbentuknya badan inklusi
(Busman, 2008).
b. Teori inflamasi
Teori ini berdasarkan pada penelitian bahwa angka insiden kanker ovarium
meningkat pada wanita yang mengalami infeksi atau radang pada panggul.Menurut teori
ini, berbagai karsinogen dapat mencapai ovarium melalui saluran genitalia.Walaupun
adanya proteksi terhadap risiko kanker ovarium melalui ligasi tuba dan histerektomi
mendukung teori ini, namun peranan signifikan faktor reproduksi lainnya tdak dapat
dijelaskan dengan teori ini (Busman, 2008).
c. Teori gonadotropin
Teori ini berdasarkan data epidemiologis dan data dari hewan percobaan.Pada
rodentia ditemukan adanya penurunan estrogen dan peningkatan sekresi gonadotropin
hipofisis dapat mengakibatkan perkembangan tumor ovarium.Pada hewan tersebut,
adanya penurunan estrogen dan peningkatan sekresi gonadotropin hipofisis dapat
mengakibatkan perkembangan tumor ovarium. Ovarium yang terpapar bahan karsinogen,
seperti Dimethylbenzanthrene (DMBA) akan berkembang menjadi tumor setelah
ditransplantasikan pada tikus yang telah menjalani ooforektomi, namun hal tersebut tidak
ditemukan pada tikus yang sebelumnya dilakukan pengangkatan kelenjar pituitary (Choi,
2007).

d. Teori Androgen
Berdasarkan penelitian Risch (1988) pada hewan percobaan ditemukan bahwa
adanya reseptor androgen pada sel epitel ovarium babi dapat memacu pertumbuhan sel
ovarium menjadi kista, papiloma ataupun adenoma. Pada kanker ovarium ditemukan
adanya kadar androgen yang meningkat (Rasjidi, 2010).
Teori androgen didasarkan pada bukti bahwa epitel ovarium mengandung reseptor
androgen. Epitel ovarium terpapar oleh androgen yang berasal dari ovarium itu sendiri.
Kista

inklusi

yang

berada

di

dekat

folikel

yang

sedang

berkembang

dipicu

pertumbuhannya oleh androgen dengan kadar tinggi (Fleming dkk,2006). Dalam


beberapa penelitian ditemukan bahwa kadar androgen pada dalam darah penderita
kanker ovarium cukup tinggi.Jadi, berdasarkan hipotesis ini menurunnya risiko terjadinya
kanker ovarium pada wanita yang memakai pil kontrasepsi dapat dijelaskan yaitu dengan
terjadinya penekanan kadar androgen (Busman,2008).
e. Teori Progesteron
Percobaan pada hewan didapatkan penurunan angka insiden kanker ovarium
setelah diberikan makanan yang mengandung pil kontrasepsi, penurunan insiden ini lebih
banyak dengan pemberian makanan yang mengandung progesterone saja. Pemberian pil
yang hanya berisikan estrogen pada wanita pasca menopause akan meningkatkan resiko
terjadinya kanker ovarium, sedangkan pemberian pil kombinasi dengan progesterone
akan menurunkan resikonya, sama halnya dengan pil yang hanya mengandung
progesterone yang dapat menekan ovulasi sehingga menurunkan resiko kanker ovarium
(Busman, 2008).
5. Faktor Resiko
Penyebab dari kanker ovarium sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun,
beberapa penulis telah melaporkan adanya hubungan antara kejadian kanker ovarium dengan
faktor lingkungan termasuk paparan dengan makanan,virus,dan bahan-bahan industri (Look,
2001).

a. Usia
Etiologi kanker ovarium belum diketahui secara jelas. Namun, telah diketahui
bahwa meningkatnya usia merupakan faktor terkuat yang memperbesar risiko kanker
ovarium. Tumor ganas ovarium dapat terjadi pada semua umur. Sebagian kanker ovarium
menyerang wanita lanjut usia dan paruh baya, dengan tingkat kejadian tertinggi
dilaporkan di Amerika Utara dan Eropa Utara, dan terendah di Jepang dan di negara
berkembang (Greenlee et al., 2000).
Survey Epidemiology End Result periode tahun 2004-2008 menyebutkan, nilai
tengah usia pasien saat didiagnosis tumor ovarium adalah 63 tahun. Sekitar 1.2 %
didiagnosis di bawah usia 20 tahun, terus meningkat sebanyak 3.5 % antara usia 20 dan
34 tahun, 7.3 % antara 35 dan 44 tahun, 19.1 % antara 45 dan 54 tahun, dan mencapai
23.1 % antar 55 dan 64 tahun. Insidensi menurun menjadi 19.7 % antara 65 dan 74
tahun, 18.2 % antara 75 dan 84 tahun dan hanya 8 % di atas usia 85 tahun (SEER, 2011).
Peningkatan angka kejad ian kanker ovarium pada usia menopause dapat
dikaitkan dengan penurunan oosit atau sel germinal, penurunan tingkat sirkulasi estrogen,
atau peningkatan yang signifikan dalam produksi kelenjar pituitari terhadap hormon
gonadotropic Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Ovulasi,
faktor pertumbuhan, sitokin, dan agen lingkungan dapat berperan dalam inisiasi dan
perkembangan kanker ovarium (Vanderhyden et al., 2003).
b. Faktor homonal
1) Kontrasepsi Oral
Kontrasepsi oral adalah faktor pelindung terhadap kanker ovarium. Sebuah
reanalisis dari 45 studi terpisah yang dilakukan di 21 negara menunjukkan bahwa
semakin lama seorang wanita telah menggunakan kontrasepsi oral, semakin besar
pengurangan risikonya (Beral et al., 2007).
Berbagai penelitian telah mempelajari pengaruh jumlah dan jenis kontrasepsi oral
dalam mengurangi risiko kanker ovarium. Salah satu penelitian yang digunakan dalam
analisis Harvard, Cancer and Study Hormone Steroid (CASH), menemukan bahwa
penurunan risiko kanker ovarium adalah sama tanpa memandang jenis atau jumlah
esterogen atau progestin dalam pil. Adapun sebuah analisis lebih baru dari studi CASH
menunjukkan bahwa kontrasepsi oral dengan konsentrasi progestin yang tinggi
mengurangi risiko kanker ovarium lebih dibanding olahan dengan kadar progestin rendah

(Schilkraut et al., 2002).


2) Terapi Pengganti Hormon
Berbagai peninjauan sistematis yang menggunakan desain kasus-kontrol dan
kohort telah diterbitkan dan dipercobakan secara acak untuk mempelajari efek estrogen
maupun kombinasi estrogen-progestin sebagai terapi penggantian hormon terhadap risiko
kanker ovarium. Telah dilaporkan bahwa penggunaan lima tahun estrogen sebagai terapi
pengganti hormon meningkatkan risiko kanker ovarium sebesar 22 %. Peningkatan yang
signifikan jika dibandingkan dengan penggunaan kombinasi esterogen-progesteron, yakni
10 % (Pearce et al., 2009).
Berdasarkan studi terhadap wanita pengguna terapi pengganti hormon di Inggris,
risiko kanker ovarium meningkat setara dengan durasi penggunaan dan mencapai angka
yang signifikan setelah penggunaan tujuh tahun atau lebih (Beral et al., 2007). Studi
epidemiologi pada Juni 2011 memperkirakan sekitar 50 kasus kanker ovarium di Inggris
pada tahun 2010 terkait dengan terapi pengganti hormon, setara dengan sekitar 1 % dari
seluruh kasus keganasan ovarium di negara tersebut (Parkin, 2011).
c. Kehamilan
Penelitian yang diterbitkan di British Journal of Cancer 1, menyebutkan bahwa
kehamilan dan memiliki lebih dari satu anak mampu menurunkan risiko kanker ovarium.
Perempuan yang pernah hamil memiliki 29 persen risiko lebih rendah mengalami kanker
ovarium dibandingkan dengan perempuan yang belum pernah hamil. Kejadian kanker
ovarium pada wanita yang belum pernah hamil adalah 34 per 100.000 per tahun, risiko ini
turun menjadi sekitar 24 per 100.000 per tahun pada wanita yang pernah mengalami
kehamilan (Konstantinos, 2011).
d. Pemakaian Talk
Penggunaan bedak talk secara berkala pada daerah genitalia meningkatkan risiko
kanker ovarium. Pada tahun 2003, analisis pada 16 individu menunjukkan peningkatan
risiko kanker ovarium sebesar 33 % pada penggunaan bedak talk di daerah genitalia
(Huncharek et al., 2003).
Penggunaan bedak talk baik di daerah perineum maupun non perineum,
menunjukkan risiko jangka panjang (lebih dari 20 tahun) dengan penggunaan berkala
setiap hari dibandingkan wanita yang tidak pernah menggunakan bedak talk (Wu et al.,

2009).
Sebelum pertengahan 1970-an diketahui adanya kontaminasi serat abses pada
bedak talk dan pada tahun 1975 telah dirumuskan pedoman untuk mencegah kontaminasi
ini. Penelitian sebelumnya tahun 1975, menunjukkan adanya peningkatan risiko kanker
ovarium pada penggunaan bedak talk. Akan tetapi penelitian yang dilakukan setelah
tahun 1975 tidak menunjukkan hal ini (Wu et al., 2009).
f.

Riwayat Keluarga
Risiko kanker ovarium meningkat pada wanita dengan riwayat keluarga penderita
kanker ovarium. Wanita yang memiliki saudara derajat 1 (ibu atau saudara kandung)
dengan diagnosis kanker ovarium memiliki risiko meningkat tiga sampai empat kali lipat
terkena penyakit ini dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki riwayat keluarga,
meskipun hanya sekitar 10 % kasus kanker ovarium terjadi pada wanita dengan riwayat
keluarga (Granstrom et al., 2008).
Pada karsinoma ovarium ditemukan dua gen yang bertanggung jawab pada 2/3
familial atau 5 % secara keseluruhan yaitu gen BRCA1 yang berlokasi pada kromosom 17
(17q21) dan gen BRCA2 yang berlokasi pada kromosom 13q-12-13 (Kumar et al., 2005).
Perkiraan risiko kenker ovarium pada populasi umum adalah sebesar 1.4 % (14
dari 1000). Angka ini meningkat menjadi 15 sampai 40 persen (150 - 400 dari 1000) pada
wanita dengan mutasi gen BRCA1 dan BRCa2 (Bethesda, 2009; Granstrom et al., 2008).

6. Patofisiologi

Tumor ganas ovarium diperkirakan sekitar 15-25% dari semua tumor ovarium. Dapat
ditemukan pada semua golongan umur, tetapi lebih sering pada usia 50 tahun ke atas, pada
masa reproduksi kira-kira separuh dari itu dan pada usia lebih muda jarang ditemukan. Faktor
predisposisi ialah tumor ovarium jinak. Pertumbuhan tumor diikuti oleh infiltrasi, jaringan sekitar
yang menyebabkan berbagai keluhan samar-samar. Kecenderungan untuk melakukan
implantasi dirongga perut merupakan ciri khas suatu tumor ganas ovarium yang menghasilkan
asites (Brunner dan Suddarth, 2002).
Banyak tumor ovarium tidak menunjukkan tanda dan gejala, terutama tumor ovarium
kecil. Sebagian tanda dan gejala akibat dari pertumbuhan, aktivitas hormonal dan komplikasi
tumor-tumor tersebut.
a. Akibat Pertumbuhan
Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan pembesaran perut,
tekanan terhadap alat sekitarnya, disebabkan oleh besarnya tumor atau posisinya dalam
perut. Selain gangguan miksi, tekanan tumor dapat mengakibatkan konstipasi, edema,
tumor yang besar dapat mengakibatkan tidak nafsu makan dan rasa sakit.
b. Akibat aktivitas hormonal
Pada umumnya tumor ovarium tidak menganggu pola haid kecuali jika tumor itu sendiri
mengeluarkan hormon.
c. Akibat Komplikasi
1) Perdarahan ke dalam kista : Perdarahan biasanya sedikit, kalau tidak sekonyongkonyong dalam jumlah banyak akan terjadi distensi dan menimbulkan nyeri perut.
2) Torsi : Torsi atau putaran tangkai menyebabkan tarikan melalui ligamentum
infundibulo pelvikum terhadap peritonium parietal dan menimbulkan rasa sakit.
3) Infeksi pada tumor
Infeksi pada tumor dapat terjadi bila di dekat tumor ada tumor kuman patogen seperti
appendicitis, divertikalitis, atau salpingitis akut d. Robekan dinding kista Robekan
pada kista disertai hemoragi yang timbul secara akut, maka perdarahan dapat sampai
ke rongga peritonium dan menimbulkan rasa nyeri terus menerus.

4) Perubahan keganasan

Dapat terjadi pada beberapa kista jinak, sehingga setelah tumor diangkat perlu
dilakukan pemeriksaan mikroskopis yang seksama terhadap kemungkinan perubahan
keganasan (Wiknjosastro,1999). Tumor ganas merupakan kumpulan tumor dan
histiogenesis yang beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga (3) dermoblast
(ektodermal, endodermal, mesodermal) dengan sifat histiologis maupun biologis yang
beraneka ragam, kira-kira 60% terdapat pada usia peri menopause 30% dalam masa
reproduksi dan 10% usia jauh lebih muda. Tumor ovarium yang ganas, menyebar
secara limfogen ke kelenjar para aorta, medistinal dan supraclavikular. Untuk
selanjutnya menyebar ke alat-alat yang jauh terutama paru-paru, hati dan otak,
obstruksi usus dan ureter merupakan masalah yang sering menyertai penderita tumor
ganas ovarium (Harahap, 2003).
7. Pathway
(Terlampir)
8. Manifestasi Klinis
Biasanya, keluhan utama yang dirasakan oleh penderita kanker ini adalah sakit di
bagian abdominal (perut bawah) yang disertai dengan rasa kembung, sulit buang air besar,
sering buang air kecil dan sakit kepala.
Kalau kanker ovarium ini sudah masuk dalam stadium lanjut, gejalanya pun bertambah,
seperti : Rasa tidak nyaman di bagian perut bawah selama menstruasi (akibat darah haid yang
terlalu deras keluar atau gumpalan darah haid), rasa kejang di perut, pendarahan lewat vagina
yang tidak normal, serta nyeri di seputar kaki.
Lebih lanjut, perempuan dengan tumor stromal akan mengalami gejala berikut akibat
dari pengaruh hormon estrogen dan progesteron, seperti terjadi pendarahan padahal sudah
menopause, terlalu cepat mendapat menstruasi, payudara cepat membesar pada remaja,
menstruasi terhenti dan adanya pertumbuhan rambut di muka dan tubuh.
Tanda paling penting adanya kanker ovarium adalah ditemukannya massa tumor di
pelvis. Bila tumor tersebut padat, bentuknya irreguler dan terfiksir ke dinding panggul,
keganasan perlu dicurigai. Bila di bagian atas abdomen ditemukan juga massa dan disertai
asites, keganasan hampir dapat dipastikan.

9. Pemeriksaan Diagnostik

Tindakan awal yang dilakukan untuk mendiagnosis tumor ovarium adalah anamnesis
dan pemeriksaan fisik ginekologi meliputi pemeriksaan pelvik dan rectal. Pemeriksaan
bimanual, perabaan uterus dan ovarium dilakukan untuk mengetahui bentuk, ukuran, lokasi,
konsistensi dan mobilitas dari masa tumor (Djuanda et al., 2001).
Jika ditemukan tumor pada pemeriksaan maka setelah diteliti sifat-sifatnya (besar
lokalisasi, permukaan, konsistensi, apakah dapat digerakkan atau tidak) langkah selanjutnya
adalah menentukan jenisnya bersifat neoplastik atau non neoplastik (Sutoto, 2007).
Tumor oleh karena radang umumnya menunjukkan gejala peradangan genital dan
dalam pemeriksaan tidak dapat digerakkan akibat adanya perlekatan. Kista non neoplastik
umumnya tidak membesar dan dapat menghilang dengan sendirinya. Adapun jika tumor itu
bersifat neoplastik, timbul persoalan apakah tumor itu jinak atau ganas. Diagnosis pasti
keganasan ovarium memerlukan tindakan laparostomi eksploratif. Akan tetapi, pemeriksaan
dan analisis yang tajam dapat membantu pembuatan diferensial diagnosis sebelum dilakukan
operasi. (Berek, 2005; Sutoto, 2007).
Metode-metode yang selanjutnya dapat menolong dalam pembuatan diagnosis yang
tepat antara lain,
a. Laparoskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal
dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan sifat- sifat tumor itu.
b. USG
Pemakaian

USG

transvaginal

(transvaginal

color

flow

doppler)

dapat

meningkatkan ketajaman diagnosis karena mampu menjabarkan morfologi tumor ovarium


dengan baik. Kriteria morfologi tumor yang diperiksa melipurti volume tumor, struktur
dinding dan septum tumor (Azis, 2006).
Sistem kerja USG transvaginal color doppler berdasarkan kepada analisis
gelombang suara doppler (Resistance Index atau RI, Pulsality Index atau PI, dan Velocity)
pembuluh darah pada tumor. Keganasan dicurigai jika resistance index kurang dari 0,4
(Busmar, 2008; Helm dan William, 2008).

c. Foto Rontgen

Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya,


pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi dalam tumor.
d. Tumor Markers
CA 125 adalah antigen yang dihasilkan oleh epitel coelom dan epitel amnion. Pada
orang dewasa CA 125 dihasilkan oleh epitel coelom dan epitel saluran muller. Pemukaan
epitel ovarium fetus dan dewasa tidak menghasilkan CA 125, kecuali kista inklusi,
permukaan epitel ovarium yang mengalami metaplasia dan pertumbuhan papiler.
Kadar normal yang disepakati untuk CA 125 adalah 35 U/ml. Pemeriksaan kadar
CA 125 memiliki spesifisitas dan positive predicate value yang rendah. Hal ini karena
pada kanker lain dan keadaan non neoplasma kadar CA 125 juga dapat meningkat
(Menon dan Jacobs, 2005).
10. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan kanker ovarium sangat ditentukan oleh stadium, derajat diferensiasi,
fertilitas, dan keadaan umum penderita. Pengobatan utama adalah operasi pengangkatan
tumor primer dan metastasisnya, dan bila perlu diberikan terapi adjuvant seperti kemoterapi,
radioterapi (intraperitoneal radiocolloid atau whole abdominal radiation), imunoterapi/terapi
biologi, dan terapi hormon.
a. Penatalaksanaan operatif kanker ovarium stadium 1
Pengobatan utama untuk kanker ovarium stadium I adalah operasi yang terdiri
atas histerektomi totalis prabdominalis, salpingooforektomi bilateralis, apendektomi, dan
surgical staging. Surgical staging adalah suatu tindakan bedah laparotomi eksplorasi yang
dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perluasan suatu kanker ovarium dengan
melakukan evaluasi daerah-daerah yang potensial akan dikenai perluasaan atau
penyebaran kanker ovarium. Temuan pada surgical staging akan menentukan stadium
penyakit dan pengobatan adjuvant yang perlu diberikan.

1) Sitologi

Jika pada surgical staging ditemukan cairan peritoneum atau asites, cairan
tersebut harus diambil untuk pemeriksaan sitologi. Sebaliknya, jika cairan peritoneum
atau asites tidak ada, harus dilakukan pembilasan kavum abdomen dan cairan bilasan
tersebut diambil sebagian untuk pemeriksaan sitologi. Penelitian pada kasus-kasus
kanker ovarium stadium IA ditemukan hasil sitologi positif pada 36% kasus, sedangkan
pada kasus-kasus stadium lanjut, sitologi positif ditemukan pada 45% kasus.
2) Apendektomi
Tindakan apendektomi yang rutin masih controversial. Metastasis ke apendiks
jarang terjadi pada kasus kanker ovarium stadium awal (<4%). Pada kanker ovarium
epithelial jenis musinosum, ditemukan metastasis pada 8% kasus. Oleh karena itu,
apendektomi harus dilakukan secara rutin pada kasus kanker ovarium epithelial jenis
musinosum.
3) Limfadenektomi
Limfadenektomi merupakan suatu tindakan dalam surgical staging. Ada dua
jenis tindakan limfadenektomi, yaitu:
1. Limfadenektomi

selektif

(sampling

lymphadenectomy/selective

lymphadenectomy) yaitu tindakan yang hanya mengangkat kelenjar getah


bening yang membesar saja.
2. Limfadenektomi sistematis (systematic lymphadenectomy) yaitu mengangkat
semua kelenjar getah bening pelvis dan para-aorta.
b. Penatalaksanaan kanker ovarium stadium lanjut (II, III, IV)
Pendekatan terapi pada stadium lanjut ini mirip dengan penatalaksanaan kasus
stadium I dengan sedikit modifikasi bergantung pada penyebaran metastasis dan
keadaan

umum

penderita.

Tindakan

operasi

pengangkatan

tumor

primer

dan

metastasisnya di omentum, usus, dan peritoneum disebut operasi debulking atau


operasi sitoreduksi. Tindakan operasi ini tidak kuratif sehingga diperlukan terapi adjuvant
untuk mencapai kesembuhan.

1) Operasi sitoreduksi
Ada dua teknik operasi sitoreduksi, yaitu :

a. Sitoreduksi konvensional
Sitoreduksi konvensional ini adalah sitoreduksi yang biasa dilakukan, yaitu
operasi yang bertujuan membuang massa tumor sebanyak mungkin dengan
menggunakan alat-alat operasi yang lazim seperti pisau, gunting, dan jarum
jahit.
b. Sitoreduksi teknik baru
Sitoreduksi teknik baru sangat berbeda dengan sitoreduksi konvensional yang
memakai pisau, gunting, dan jarum jahit. Dengan teknik baru tersebut dapat
dilakukan sitoreduksi dari massa tumor yang berukuran beberapa milimeter
sampai hilang sama sekali.
Alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Argon beam coagulator, di mana alat electrosurgical ini mengalirkan arus listrik
ke jaringan dengan menggunakan berkas gas argon. Keuntungan penggunaan
alat ini adalah distribusi energi yang dihasilkan merata terhadap jaringan dan
lebih sedikit mengakibatkan trauma panas dan nekrosis jaringan.
b. Cavitron ultrasonic surgical aspirator (CUSA), di mana alat ini menggabungkan
tiga mekanisme kerja dalam satu hand-set, yaitu: alat fragmentasi jaringan
(vibrating tip), alat irrigator untuk daerah yang difragmentasi dan alat aspirator
jaringan yang difragmentasi. CUSA bekerja sebagai akustik fibrator dengan
frekuensi 23.000 HZ, yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik.
c. Teknik laser.
2) Kemoterapi
Keganasan ovarium tidak dapat disembuhkan tuntas hanya dengan operasi,
kemoterapi anti kanker merupakan tindakan penting yang tidak boleh absent dalam
prinsip terapi gabungan terhadap kanker ovarium, lebih efektif untuk pasien yang
sudah berhasil menjalani operasi sitoreduksi.

3) Radioterapi

Sebagai pengobatan lanjutan umumnya digunakan pada tingkat klinik T1 dan


T2 (FIGO: tingkat I dan II), yang diberikan kepada panggul saja atau seluruh rongga
perut. Juga radioterapi dapat diberikan kepada penyakit yang tingkatnya agak lanjut,
tetapi akhir-akhir ini banyak diberikan bersama khemoterapi, baik sebelum atau
sesudahnya sebagai adjuvans, radio-sensitizer maupun radio-enhancer.
Di banyak senter, radioterapi dianggap tidak lagi mempunyai tempat dalam
penanganan tumor ganas ovarium. Pada tingkat klinik T3 dan T4 (FIGO: tingkat III dan
IV) dilakukan debulking dilanjutkan dengan khemoterapi. Radiasi untuk membunuh selsel tumor yang tersisa, hanya efektif pada jenis tumor yang peka terhadap sinar
(radiosensitif) seperti disgerminoma dan tumor sel granulosa.
11. Komplikasi
1) Perdarahan
Perdarahan ke dalam kista dapat terjadi berangsur-angsur sehingga menyebabkan
perbesaran kista dengan gejala klinis yang minimal. Jika perdarahan terjadi dalam
jumlah besar dan mendadak akan terjadi distensi cepat kista yang menimbulkan nyeri
perut mendadak (Sutoto, 2007).
2) Putaran tungkai
Putaran tungkai dapat terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm atau lebih
akan tetapi belum terlalu besar sehingga terbatas gerakannya. Kehamilan juga dapat
mempermudah terjadinya torsi karena uterus yang membesar dapat mengubah letak
tumor. Putaran tangkai dapat menyebabkan gangguan sirkulasi, vena yang tertekan
menyebabkan terjadinya bendungan darah dalam tumor yang jika berjalan terus dapat
menyebabkan nekrosis. Rasa sakit dapat timbul jika terjadi tarikan peritoneum parietale
oleh ligamentum infundibulopelvikum (Sutoto, 2007).
3) Infeksi
Infeksi pada tumor dapat berasal dari pathogen infeksi di sekitarnya seperti apendisitis,
diverticu litis, atau silpingitis akuta. Kista dermoid cenderung mengalami peradangan
disusul pernanahan (Sutoto, 2007).
4) Sindroma meigs
Empat puluh persen kasus fibroma ovarii ditemukan dengan sindroma meigs yaitu asites

dan hidrotoraks. Keadaan ini dapat ditemukan pada beberapa tumor neoplastik jinak
lain. Dengan pengangkatan tumor, sindrom juga menghilang. Cairan di rongga toraks
berasal dari cairan di rongga perut. Sindroma meigs harus dibedakan dengan asites
dengan atau tanpa hidrotoraks yang ditemukan pada tumor ganas. Dalam hal yang
terakhir ditemukan sel-sel tumor ganas dalam sedimen cairan (Sutoto, 2007). Pada
keganasan ovarium, gejala awal sering kali tidak khas, oleh karena itu lebih dari 70 %
perderita kanker ovarium ditemukan sudah dalam stadium lanjut (Busmar, 2008).
12. Asuhan keperawatan
Yaitu suatu kegiatan mengumpulkan dan mengorganisasikan data yang dikumpulkan
dari berbagai sumber dan merupakan dasar untuk tindakan dan keputusan yang diambil pada
tahap-tahap selanjutnya. Adapun pengkajiannya meliputi :
1. Aktivitas dan Istirahat
Gejala : Kelemahan / keletihan
Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari,adanya factor-faktor
yang memepengaruhi tidur misal, nyeri, ansietas, berkeringat malam.
2. Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, nyeri dada pada pengeragan kerja.
Tanda : Perubahan pada TD.
3. Integritas ego
Gejala : Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stress
(missal,

merokok,

minum

alcohol,

religius/spiritual).
Tanda : Menyangkal, menarik diri, marah.

4. Eliminasi

menunda

mencari

pengobatan,

keyakinan

Gejala : Perubahan pada pola defekasi missal, darah pada feses, nyeri pada defekasi.
Perubahan pada eliminasi urinarius masal, nyeri atau rasa terbakar pada saat berkemih,
hematuria, sering berkemih.
Tanda : Perubahan pada bising usus, disensi abdomen.
5. Makanan / cairan
Gejala : Kebiasaan diet buruk (missal, rendah serat, tinggi lemak, aditif bahan pengawet).
Anoreksia, mual/muntah.
Perubahan pada berat badan,penurunan berat badan,berkurangnya masa otot.
Tanda : Perubahan pada kelembaban/turgor kulit, edema.
6. Neurosensori
Gejala : Pusing, sinkope.
7. Nyeri / kenyamanan
Gejala : Tidak ada nyeri/derajat bervariasi missal, ketidaknyamanan ringan sampai nyeri
berat.
8. Pernafasan
Gejala : Merokok (Tembakau, hidup dengan seseorang yang merokok, pemajanan asbes).
9. Keamanan
Gejala : Pemajana pada kimia toksik, karsinogen.
Tanda : Demam, ruam kulit, ulserasi.
10. Seksualitas
Gejala : Masalah seksual misalnya, dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat
kepuasan. Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun Multigravida, pasangan seks multiple,
aktivitas seksual dini, herpes genital.
11. Interaksi sosial

Gejala : Ketidakeadekuatan/kelemahan system pendukung.


Riwayat perkawinan ( berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan/bantuan) Masalah
tentang fungsi / tanggung jawab peran.
(Doenges, 2001)
13. Fokus Intervensi dan Rasional
1. Nyeri b/d proses penyakit (kompresi / destruksi, jaringan saraf, infiltrasi saraf, obstruksi
jaringan saraf, inflamasi)
Tujuan : Nyeri hilang atau nyeri berkurang dengan k.
KH

:
1. Klien mengatakan nyeri hilang atau berkurang
2. Klien tampak rileks tidak menahan nyeri
3. Klien mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan

Intervensi :
a. Kaji skala nyeri misal : lokasi, durasi, frekuensi dan intensitas
b. Dorong penggunaan ketrampilan manajemen nyeri
c. Berikan tindakan kenyamanan dasar, misal : gosok punggung dan aktivitas
hiburan
d. Evaluasi penghilangan nyeri / kontrol e. Evaluasi sadarai terapi tertentu, misal :
pembedahan, radiasi, kemoterapi
e. Kolaborasi : Kembangkan rencana manajemen nyeri dengan pasien dan dokter
berikan analgetik
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d status hipermetabolik, konsekuensi
kemoterapi, radiasi, pembedahan, distress emosional, keletihan
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan
KH :
1. BB stabil, tidak terdapat tanda malnutrisi
2. Pengungkapan pemohonan pengaruh individual pada masukan adekuat
3. Berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makan,
peningkatan nafsu makan

Intervensi :
a.
b.
c.
b.

Pantau masukan makanan setiap hari


Ukur BB, TB, dan ketebalan kulit trisep
Dorong klien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient dengan
masukan cairan adekuat, dorong penggunaan supplement dan makan

c.
d.
e.
f.

sedikit tapi sering


Kontrol faktor lingkungan, hindari terlalu manis, berlemak atau pedas
Dorong komunikasi terbuka mengenai masalah anoreksia
Kolaborasi : tinjau ulang pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi

3. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan sekunder dan imunosupresi,
malunutrisi, proses penyakit kronis
Tujuan : Tidak terjadi infeksi atau infeksi terhindar dengan
KH :
1. Mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam intervensi untuk mencegah /
mengurangi resiko infeksi
2. Tetap tidak demam dan mencapai pemulihan tepat pada waktunya
Intervensi :
a. Tingkatkan prosedur mencuci tangan yang baik, batasi pengunjung yang
b.
c.
d.
e.
f.

mengalami infeksi tempatkan pada isolasi sesuai indikasi


Tekankan hygiene personal
Pantau suhu
Kaji adanya tanda-tanda infeksi
Tingkatkan istirahat adekuat / periode latihan
Kolaborasi : Laboratorium : Jumlah granulosit dan trombosit sesuai batas

normal
g. Dapatkan kultur sesuai indikasi
h. Berikan antibiotik
(Carpenito, 2000)

DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. 2010. Cancer Facts and Figures 2010. [OnlineAvailable
at:http://documents.cancer.org/acs/groups/cid/documents/

webcontent/003130-pdf.pdf

[Accessed: 9th May 2016].


Beral, V. 2007. Ovarian Cancer and Hormone Replacement Therapy in The Million Women
Study. Lancet Medical Journal. 369 (9574), 1703-1710.
Berek, J.S., Natarajan, S. 2007. Ovarian and fallopian Tube and Primary Peritoneal Cancer In:
Berek JS.editor. Berek and Novaks Gynecology. 14th ed. Lippincott William & Wilkins.
Philladelphia. pp.1457 1458.

Busman, B. 2008. Kanker Ovarium, dalam: Aziz, M.F., Andriono, Siafuddin, A.B, editors. Buku
Acuan Nasional Onkologi dan Ginekologi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Choi, J.H., Wong, A.S.T., Huang, H.F., Leung, P.C. 2007. Gonadotropins and Ovarian Cancer,
Endocrine Reviews, 28 (4), 440-461.
Fauzan, R. 2009. Gambaran faktor penggunaan kontrasepsi terhadap angka kejadian kanker
ovarium di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta berdasarkan pemeriksaan
histopatologik tahun 2003-2007 (tesis). Jakarta: Universitas Indonesia.
Karyana, K. 2005. Profil Kanker Ovarium di Rumah Sakit Sanglah Denpasar periode Januari
2002 sampai Desember 2004 (tesis). Denpasar: Universitas Udayana.
Rasjidi, I. 2010. Epidemiologi Kanker pada Wanita. 1st ed. Sagung Seto Jakarta.
Schildkraut, J. 1997, Relationship Between lifetime Ovulatory Cycles and Overexpression of
Mutant p53 in Epithelial Ovarian Cancer. Journal of the National Cancer Institute, vol 89,
No 13.
Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2). Jakarta: EGC.