Anda di halaman 1dari 21

BAB I

LAPORAN KASUS
1.1 IDENTITAS
Nama
: An. MR
Umur
: 3th 2bulan
Alamat
: Rungkut Asri Tengah
Jenis kelamin : Laki-laki
No DMK
: 713298
Tanggal MRS : 17 April 2016
Tanggal periksa : 18 April 2016
Nama orang tua
: Tn. MA (Ayah)
Ny. SD (Ibu)
Pekerjaan orang tua
: Ayah sebagai karyawan swasta
Ibu sebagai ibu rumah tangga
Pendidikan terakhir orang tua : Ayah SMA
Ibu SMA
1.2 ANAMNESIS
a. KU
: Sesak
b. RPS
Pasien datang bersama Ibunya ke UGD RSU Haji Surabaya dengan
keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Sesak terus-menerus, terutama
setelah aktivitas, menjadi lebih berat dan sedikit membaik dengan
duduk. Sesak juga disertai mengi terutama saat malam hari. Selain itu
pasien juga mengeluh batuk dengan dahak sedikit berwarna putih dan
tidak berbau.. Keluhan lain disangkal seperti demam (-), mual-muntah
(-), diare (-), kejang (-), menangis saat kencing (-), nyeri atau keluar
cairan dari telinga (-), mimisan/perdarahan (-), penurunan BB (-).
Makan mulai berkurang dari biasanya, minum seperti biasa (tidak
tampak haus), BAB dan BAK seperti biasa. Pasien tidak membaik
setelah di lakukan nebul di IGD RSU haji. Ayah merokok.
c. RPD
- Asma (+) sejak usia 2th. Sering kambuh + seminggu sekali
- Riwayat alergi (+) Makanan (seafood) dan debu
d. RPK
- Riwayat Alergi (+)
- Ibu Pasien ada riwayat Asma (+)
e. Riwayat Kehamilan
1

Ibu rutin kontrol kehamilan (ANC), Ibu menderita Asma sewaktu


hamil, tidak minum jamu-jamuan hanya minum vitamin kehamilan
dari puskesmas, tidak pernah mengalami trauma.
f. Riwayat Kelahiran
Lahir Normal, cukup bulan, BBL 3500 gram, spontan menangis,
asfiksia (-), sianosis (-) ditolong oleh dokter
g. Riwayat Imunisasi
- Lengkap Sesuai jadwal puskesmas
h. Riwayat Tumbuh Kembang
- Mulai mengangkat kepala usia 3 bulan
- Mulai telungkup sendiri usia 5 bulan
- Duduk sendiri usia 6 bulan
- Merangkak usia 7 bulan
- Bicara mama usia 8 bulan
i. Riwayat gizi
- ASI diberikan sejak lahir sampai usia 12 bulan
- Pada usia 6 bulan ASI + bubur halus instan.
- Pada usia 7 bulan s.d. Sekarang ASI + MPASI
j. Riwayat kepribadian
Baik.
k. Riwayat sosial
Pasien sehari-hari diasuh oleh ibunya dirumah. Makanan dirumah
dibuat di dapur pribadi dengan peralatan yang telah dicuci dan
menggunakan kompor gas. Air dirumah menggunakan air sumur bor.
Dalam memasak juga memakai air dari sumber yang sama. Keluarga
tinggal di daerah perumahan
1.3 PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum/ Kesadaran : Tampak sakit sedang / CM, GCS 456
Status Gizi : Baik
Vital Sign
:
Nadi
: 130 x/menit
- TD : 100/70 mmHg
RR
: 30 x/menit
t axila
: 36,6 C
BB
: 15 Kg
K/L
Anemis (-), iketrus (-), cyanosis (-), dispnea (+)
Mata cowong: -/ Pernapasan cuping hidung (-)
2

Lidah kotor (-)


Faring hiperemi (-)
Pembesaran KGB (-)
Thoraks
: Normochest, simetris, retraksi (-/-)
Pulmo : Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing +/+
Cor
: S1 S2 Normal, mumur (-), gallop (-)
Abdomen
:
Inspeksi
: Flat, simetris
Palpasi
: Supel, distensi (-), Hepar/Lien/Renal kesan
tidak teraba, turgor baik
Perkusi
: meteorismus (-)
Auskultasi
: Bising usus (+) normal
Extremitas
:
CRT < 2 detik
Akral hangat : +/+
+/+
Oedem
: -/-/Status neurologis

Meningeal Sign : Pupil : bulat isokor d = 3mm/3mm


Reflek fisiologis dbN
Reflek patologis (-)
Klonus : Motorik & Sensoris: sulit dievaluasi

1.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan laboratorium:
Darah lengkap
Hb
: 12,6 g/dL
Leukosit : 13.000/mm3
Hematokrit: 33.2 %
Trombosit : 380.000/mm3
EO
BASO
NEUT
LYMPH
MONO

: 7,1
: 0,8
: 67,6
: 19,2
: 12,8

1.5 RESUME
- An. MR, Laki-laki, 3th 2bln
- Sesak 1 hari SMRS, terutama saat aktivitas
- Batuk berdahak terutama malam hari
- Nafsu makan berkurang
- Tidak membaik dengan nebul (ventolin)
- Riw. Alergi dan Asma pada pasien
- Riw. Alergi (+), Riw. Asma (+) pada keluarga
- Takikardi.
- Dyspneu
- wheezing +/+, saat ekspirasi
- Eosinofil meningkat.
1.6 DAFTAR MASALAH
- Sesak
- Batuk
- Nafsu makan berkurang
1.7 DIAGNOSIS KERJA
Asma persinten sedang (Status Asmatikus)
1.8 PENATALAKSANAAN
Planning Diagnosis:
Foto thorax,
BGA
Planning Terapi:
- MRS
- Infus D5 1/2 NS 1250 cc/24 jam
- O2 4-6 liter / mnt sampai pasien stabil
- Aminofilin 90 mg iv dlm 20mnt, maintenance 15 mg/jam
- Dexametason 3 x 4,5 mg iv 3-5 hari
- Nebulizer Combivent 2 cc + 3 cc PZ tiap 6 jam
Planning Monitoring:
- Keluhan pasien (Sesak, Batuk, Nafsu makan)
- Vital Sign
- Input dan output cairan
Planing Edukasi:
- Memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga pasien mengenai
-

penyakit yang diderita pasien


Memberikan penjelasan tentang terapi dan pemeriksaan yang akan
dilakukan

Memberikan edukasi pada pasien untuk membatasi aktifitas selama

sakit
Memberikan edukasi mengenai asupan kalori dan cairan yang

adekuat
- Memberikan penjelasan mengenai prognosis pasien
Prognosis
dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan
banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan
hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa
mengi, sesak napas,dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam atau dini
hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas,
bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan.3
2.2 EPIDEMIOLOGI
Prevalensi total asma di dunia diperkirakan 7,2% (6% pada dewasa dan 10%
pada anak). Prevalensi pada anak menderita asma meningkat 8-10 kali di negara
berkembang dibanding negara maju. Prevalensi tersebut sangat bervariasi. Di
5

Indonesia, prevalensi asma pada anak berusia 6-7 tahun sebesar 3% dan untuk usia1314 tahun sebesar 5,2%. Berdasarkan laporan National Center for Health Statistics
(NCHS), prevalensi serangan asma pada anak usia 0-17 tahun adalah 57 per 1000
anak (jumlah anak 4,2 juta) dan pada dewasa > 18 tahun adalah 38 per 1000 (jumlah
dewasa 7,8 juta). Sebelum masa pubertas, prevalensi asma pada laki-laki 3 kali lebih
banyak dibanding perempuan, selama masa remaja prevalensinya hampir sama
danpada dewasa laki-laki lebih banyak menderita asma dibanding wanita. Secara
global, morbiditas dan mortalitas asma meningkat pada 2 dekade terakhir.
Peningkatan ini dapat dihubungkan dengan peningkatan urbanisasi. WHO
memperkirakan terdapat sekitar 250.000 kematian akibat asma. Berdasarkan laporan
NCHS terdapat 4487 kematian akibat asma atau 1,6 per 100 ribu. Sedangkan,laporan
dari CDC menyatakan terdapat 187 pasien asma yang meninggal pada usia0-17 tahun
atau 0.3 kematian per 100,000 anak. Namun secara umum kematian pada anak akibat
asma jarang.3
2.3 ETIOLOGI
Penyebab asma masih belum jelas. Diduga yang memegang peranan utama
ialah reaksi berlebihan dari trakea dan bronkus (hiperreaktivitas bromkus).
Hipersensitivitas bronkus itu belum diketahui dengan jelas penyebabnya. 2
Serangan asma bervariasi mulai dari ringan sampai berat dan mengancam kehidupan.
Berbagai faktor dapat mempengaruhi terjadinya serangan asma, kejadian asma, berat
ringannya penyakit serta kematian akibat asma seperti olahraga (exercise), alergen,
infeksi, perubahan suhu udara yang mendadak, atau pajanan terhadap iritan
respiratorik seperti asap rokok, dan lain-lain. Selain itu berbagai faktor turut
mempengaruhi tinggi rendahnya prevalens asma di suatu tempat, misalnya usia, jenis
kelamin, ras, sosio-ekonomi dan faktor lingkungan.8
2.4 KLASIFIKASI
Tujuan penanganan asma adalah untuk mengontrol manifestasi klinis asma
untuk periode yang lama. Bila gejala asma mampu dikontrol, pasien dapat mencegah

serangan, menghindari gejala baik siang maupun malam, dan menjaga kesehatan
fisik. 10
Asesmen pada kontrol asma meliputi kontrol manifestasi klinis dan kontrol
faktor resiko eksaserbasi, faal paru, dan efek samping terapi asma. Secara umum,
asma yang terkontrol akan mengurangi risiko eksaserbasi. 10
Tabel 2.1 klasifikasi asma berdasarkan level kontrol10
Karakteristik
Gejala harian

Tingkatan Asma Terkontrol


Terkontrol
Terkontrol

Tidak Terkontrol

Tidak ada (2 kali

Sebagian
Lebih dari 2 kali

3 atau lebih gejala

atau kurang

seminggu

dalam kategori

Pembatasan

perminggu)
Tidak ada

Sewaktu-waktu

aktivitas
Gejala nokturnal/

Tidak ada

dalam seminggu
Sewaktu-waktu

gangguan tidur

asma terkontrol

dalam seminggu

(terbangun)
Kebutuhan akan

Tidak ada (2 kali

Lebih dari dua kali

reliever atau terapi

atau kurang dalam

seminggu

rescue
Fungsi Paru (PEF

seminggu)
Normal

< 80 % (perkiraan

atau FEV1)

sebagian. Muncul
sewaktu-waktu
dalam seminggu

atau dari kondisi


terbaik bila

Eksaserbasi

Tidak ada

diukur)
Sekali atau lebih

Sekali dalam

dalam setahun

seminggu

Untuk asma pada anak usia 5 tahun dan dibawahnya, tidak bisa dilakukan
pemeriksaan fungsi faal paru, sehingga pada karakteristik fungsi paru pada tabel di
atas tidak perlu dicantumkan11

Pembagian lain derajat penyakit asma oleh Pedoman Nasional Asma Anak
(PNAA), klasifikasi ini pada tahun 2015 membagi asma menjadi 4 derajat penyakit.
Berikut tabel perbandingan klasifikasi asma oleh PNAA tahun 2004 dan tahun 2015.
Tabel 2.2 perbandingan klasifikasi asma oleh Pedoman Nasional Asma Anak
PNAA 2004
Asma episodik jarang
Asma epiodik sering

PNAA 2015
Asma intermiten
Asma persisten ringan

Asma persisten

Asma persisten sedang


Asma persisten berat

Tabel 2.3 klasifikasi asma oleh Pedoman Nasional Asma Anak 2015
Derajat
Intermiten
Persisten ringan
Persisten sedang
Persisten berat

Keterangan
Serangan <6x/tahun, jarak antar serangan >6 minggu
Serangan >1x/bulan, <1x/minggu
Serangan >1x/minggu, tidak setiap hari
Gejala asma hampir setiap hari

Selain klasifikasi seperti diatas, Global Initiative for Asthma (GINA) juga
membuat klasifikasi berdasarkan derajat keparahan saat terjadi eksaserbasi asma atau
saat serangan asma. Klasifikasi tersebut dibedakan menjadi: mild, moderate, severe,
dan respiratory arrest imminent.10 jika terdapat keraguan antara derajat penyakit yang
satu dengan yang lainnya maka tatalaksana diberikan sesuai derajat yang lebih berat.5
Tabel 2.4 Derajat keparahan eksaserbasi asma10
Parameter
klinis, fungsi
faal paru,
laboratorium
Sesak

Posisi

Ringan

Sedang

Berat

Berjalan
Bayi:
Menangis
keras

Berbicara
Bayi:
-tangis pendek
dan lemah
-kesulitan
menetek/makan
Lebih suka duduk

Istirahat
Bayi:
Tidak mau
makan/minum

Bisa

Ancaman henti
napas

Duduk
8

berbaring
Bicara
Kesadaran
Sianosis
Wheezing

Penggunaan
otot bantu
respiratorik
Retraksi

Frekuensi
napas

Frekuensi
nadi

Pulsus
paradoksus
PEFR atau
FEV1
Pra
bronkodilator
Pasca
bronkodilator
SaO2
PaO2

Kalimat
Mungkin
irritable
Tidak ada
Sedang,
sering
hanya
pada akhir
ekspirasi
Biasanya
tidak

bertopang
lengan
Penggal kalimat
Kata-kata
Biasanya irritable Biasanya
irritable
Tidak ada
Ada
Nyaring
Sangat
sepanjang
nyaring,
ekspirasi=inspirasi terdengar
tanpa
stetoskop
Biasanya ya
Ya

Dangkal,
retraksi
interkostal

Sedang, ditambah
retraksi
suprasternal

>60%

40-60%

<40%

>80 %

60-80%

>95 %
Normal

91-95 %
>60 mmHg

<69%
respon<2jam
<90 %
<60 mmHg

Kebingungan
Nyata
Sulit/ tidak
terdengar

Gerakan
paradok
torakoabdominal
Dangkal/hilang

Dalam,
ditambah
napas cuping
hidung
Takipneu
Takipneu
Takipneu
Bradipneu
Pedoman nilai baku frekuensi napas pada anak sadar:
Usia
< 2 bulan
< 60 x/ mnt
2-12 bulan
< 50 x/ mnt
1-5 tahun
< 40 x/ mnt
6-8 tahun
< 30 x/ mnt
Normal
Takikardi
Takikardi
Bradikardi
Pedoman nilai baku frekuensi nadi pada anak
Usia
2-12 bulan
< 160 x/ mnt
1-5 tahun
< 120 x/ mnt
6-8 tahun
< 110 x/ mnt
Tidak ada Ada
Ada
Tidak ada,
(< 10
(10-20 mmHg)
(> 20 mmHg) tanda
mmHg)
kelelahan otot
respiratorik

PaCO2

(biasanya
tdk perlu
diperiksa)
<45
mmHg

<45 mmHg

>45 mmHg

2.5 PATOGENESIS
2.5.1 Obstruksi saluran respiratori
Penyempitan saluran nafas yang terjadi pada pasien asma dapat disebabkan oleh
banyak faktor. Penyebab utamanya adalah kontraksi otot polos bronkial yang dipicu
oleh mediator agonis yang dikeluarkan oleh sel inflamasi. Akibatnya terjadi
hiperplasia kronik dari otot polos, pembuluh darah, serta terjadi deposisi matriks pada
saluran nafas. Selain itu, dapat pula terjadi hipersekresi mukus dan pengendapan
protein plasma yang keluar dari mikrovaskularisasi bronkial dan debris seluler.8

Gambar 2.1. Bronkus normal dan bronkus asmatik


2.5.2 Hiperaktivitas saluran respiratori

10

Saluran respiratori dikatakan hiperreaktif atau hiperresponsif jika pada


pemberian histamin dan metakolin dengan konsentrasi kurang 8g% didapatkan
penurunan Forced Expiration Volume (FEV1) 20% yang merupakan kharakteristik
asma, dan juga dapat dijumpai pada penyakit yang lainnya seperti Chronic
Obstruction Pulmonary Disease (COPD), fibrosis kistik dan rhinitis alergi. Stimulus
seperti olahraga, udara dingin, ataupun adenosin, tidak memiliki pengaruh langsung
terhadap otot polos saluran nafas (tidak seperti histamin dan metakolin). Stimulus
tersebut akan merangsang sel mast, ujung serabut dan sel lain yang terdapat disaluran
nafas untuk mengeluarkan mediatornya. 8
2.5.3 Otot polos saluran respiratori
Pada penderita asma ditemukan pemendekan dari panjang otot bronkus.
Kelainan ini disebabkan oleh perubahan pada aparatus kontraktil pada bagian
elastisitas jaringan otot polos atau pada matriks ektraselularnya. Peningkatan
kontraktilitas otot pada pasien asma berhubungan dengan peningkatan kecepatan
pemendekan otot. Sebagai tambahan, terdapat bukti bahwa perubahan pda struktur
filamen kontraktilitas atau plastisitas dari sel otot polos dapat menjadi etiologi
hiperaktivitas saluran nafas yang terjadi secara kronik. 8
2.5.4 Hipersekresi mukus
Hiperplasia kelenjar submukosa dan sel goblet sering kali ditemukan pada
saluran nafas pasien asma dan penampakan remodeling saluran nafas merupakan
karakteristik asma kronis. Obstruksi yang luas akibat penumpukan mukus saluran
nafas hampir selalu ditemukan pada asma yang fatal dan menjadi penyebab ostruksi
saluran nafas yang persisiten pada serangan asma berat yang tidak mengalami
perbaikan dengan bronkodilator. 8
2.6 DIAGNOSIS
2.6.1 Anamnesis
Anamnesis harus dilakukan dengan cermat agar didapatkan riwayat penyakit
yang tepat mengenai gejala sulit bernafas, mengi, atau dada terasa berat yang bersifat
episodik dan berkaitan dengan musim, serta riwayat asma atau penyakit atopi pada

11

anggota keluarga. Beberapa pertanyaan yang diajukan dalam pertimbangan diagnosis


asma (consider diagnosis of asthma ) : 8
- Apakah anak mengalami serangan mengi atau serangan mengi berulang ?
- Apakah anak sering terganggu oleh batuk pada malam hari ?
- Apakah anak mengalami mengi atau batuk setelah aktivitas ?
- Apakah anak mengalami gejala mengi, dada terasa berat, atau batuk setelah
-

terpajan allergen atau polutan ?


Apakah jika mengalami pilek, anak membutuhkan > 10 hari untuk sembuh?
Apakah gejala klinis membaik setelah pemberian pengobatan antiasma ?
Setelah menetapkan seorang anak benar benar mengalami mengi atau batuk

yang hebat, langkah berikutnya adalah mengidentifikasi pola dan derajat gejala.
2.6.2 Pemeriksaan Fisik
Gejala dan serangan asma pada anak tergantung pada derajat serangannya. Pada
serangan ringan anak masih aktif, dapat berbicara lancar, tidak dijumpai adanya
retraksi baik di sela iga maupun epigastrium. Frekuensi nafas masih dalam batas
normal. Pada serangan sedang dan berat dapat dijumpai adanya wheezing terutama
pada saat ekspirasi, retraksi, dan peningkatan frekuensi nafas dan denyut nadi bahkan
dapat dijumpai sianosis. Berbagai tanda atau manifestasi alergi, seperti dermatitis
atopi dapat ditemukan. 8
Dasar penyakit ini adalah hiperaktivitas bronkus akibat adanya inflamasi kronik
saluran respiratorik. Akibatnya timbul hipersekresi lendir, udem dinding bronkus dan
konstriksi otot polos bronkus. Ketiga mekanisme patologi diatas mengakibatkan
timbulnya gejala batuk, pada auskultasi dapat terdengar ronkhi basah kasar dan
mengi. Pada saat serangan dapat dijumpai anak yang sesak dengan komponen
ekspiratori yang lebih menonjol. 8
2.6.3 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendukung
menegakkan diagnosa adalah : 8

Uji fungsi paru dengan spironometri atau peak flow meter. Dignosis asma
ditegakkan bila didapatkan:
Variasi pada PFR (peak flow meter =puncak arus ekspirasi) atau
FEV1(forced expiratory volume 1second = volume ekspirasi paksa pada
detik 1) 15%

12

Peningkatan 15% pada PFR atau FEV1 setelah pemberian inhalasi


bronkus
Penurunan 20% pada PFR atau FEV 1 setelah provokasi bronkus
(tidak akurat pada anak usia di bawah 5 tahun)
Pemeriksaan IgE dan eosinofil total yang meningkat
Analisa gas darah
Foto toraks untuk melihat gambaran emfisematous atau komplikasi pada saat
serangan. Foto sinus paranasal perlu dipertimbangkan pada anak > 5 tahun
dengan asma persisten atau sulit diatasi.

Gambar 2.2 alur diagnosis asma

13

2.7 PENATALAKSANAAN
Tatalaksana asma mencakup edukasi terhadap pasien dan atau keluarganya
tentang penyakit penyakit asma dan penghindaran terhadap faktor pencetus serta
medikamentosa. Medikamentosa yang dapat digunakan dapat dibagi dalam 2
kelompok besar, yaitu obat pereda (reliever) dan obat pengendali (controller). Tata
laksana asma dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu pada saat serangan asma
(asma akut) dan di luar serangan asma (asma kronis). 8
Reliever, sering disebut obat serangan, digunakan untuk meredakan serangan
atau gejala asma jika sedang timbul. Bila serangan sudah teratasi dan sudah tidak ada
gejala lagi, maka obat ini tidak digunakan lagi. 8
Controller, sering disebut obat pencegah, digunakan untuk mengatasi masalah
dasar asma, yaitu inflamasi respiratorik kronik (peradangan saluran napas menahun).
Dengan demikian pemakaian obat ini terus-menerus dalam jangka waktu relatif lama,
tergantung

derajat

penyakit

asma,

dan

responnya

terhadap

pengobatan/penanggulangan. Controller diberikan pada Asma Episodik Sering dan


Asma Persisten. 8
2.7.1 Tatalaksana Di Klinik Atau Unit Gawat Darurat
Tatalaksana awal terhadap pasien (digunakan juga sebagai penentu derajat)
adalah pemberian agonis dengan penambahan garam fisiologis secara nebulisasi.
Nebulisasi serupa dapat diulang dua kali dengan selang 20 menit. Pada pemberian
ketiga nebulisasi ditambahkan dengan obat antikolinergik. 8
1. Serangan asma ringan: jika dengan sekali nebulisasi pasien menunjukkan
respon yang baik. Pasien diobservasi selama 1-2 jam, jika tetap baik
dipulangkan dengan dibekali obat agonis (hirupan atau oral) yang diberikan
tiap 4-6 jam. Jika ada faktor pencetus virus ditambahkan steroid oral jangka
pendek hanya selama 3-5 hari. Pasien dianjurkan kontrol ke klinik rawat
jalan dalam waktu 24-48 jam untuk reevaluasi tatalaksana. Jika dengan sekali
nebulisasi tidak berespon termasuk tatalaksana serangan asma sedang

14

2. Serangan asma sedang: jika dengan pemberian nebulisasi dua kali, pasien
hanya menunjukkan respon parsial, kemungkinan derajat serangannya
sedang. Untuk itu nilai derajatnya sesuai pedoman. Jika memang
serangannya termasuk serangan sedang, inhalasi langsung dengan B2-agonis
dan ipratropium bromide, pasien perlu diobservasi dan ditangani di Ruang
Rawat Sehari. Pada serangan asma sedang diberikan steroid sistemik (oral)
metilprednisolom dengan dosis 0.5-1 mg/kgBB/hari selama 3-5 hari (atau
bisa juga prednison). Selain itu untuk observasi sebaiknya langsung dipasang
jalur parenteral.
3. Serangan asma berat: jika diulang nebulisasi tiga kali berturut-turut pasien
tidak menunjukkan respon (gejala dan tanda serangan masih ada penilaian
ulang sesuai pedoman) maka pasien harus dirawat di ruang rawat inap. Bila
sejak awal dinilai sebagai serangan berat, maka nebulisasi pertama kali
langsung agonis dengan antikolinergik. Oksigen 2-4 L/menit diberikan
sejak awal termasuk saat nebulisasi. Pasang jalur perenteral dan lakukan foto
thoraks. Kalo ada tanda henti nafas langsung di rawat di ruang rawat intensif
(langsung dibuat foto thoraks untuk deteksi pneumothorax dan atau
pneumediastinum)
Pada serangan asma akut yang berat ;
Berikan oksigen
Nebulasi agonis +antikolinergik dengan oksigen 4 6x pemberian
Koreksi asidosis,dehidrasi dan gangguan elekrolit bila ada
Berikan steroid iv secara bolus tiap 6-8 jam
Berikan Aminophylline iv:
Bila terjadi perbaikan klinis , nebulasi di teruskan tiap 6 jam hingga 24 jam ,
dan pemberian steroid dan Aminophylline dapat per oral
Bila dalam 24 jam pasin tetap stabil maka dapat dipulangkan dengan dibekali
obat agonis (hirup atau oral) yang diberikan tiap 4 -6 jam selama 24-48 jam.
Selain itu steroid oral dilanjutkan hingga pasien kontrol ke klinik rawat jalan
dalam 24-48 jam untuk reevaluasi tatalaksana.
2.7.2 Tatalaksana di Ruang Rawat Sehari
15

1.

Oksigen sejak dari UGD diteruskan

2.

Nebulisasi agonis + antikholinergik bila perlu setiap 2 jam (setelah di UGD


nebulisasi 2 kali dalam 1 jam dan berespon parsial )

3.

Steroid oral (metilprednisolon atau prednison) 3-5 hari bila respon baik dalam
8-12 jam dipulangkan dan dibekali dengan obat seperti serangan asma ringan,
jika memburuk dalam 12 jam dialih ke Ruang Rawat Inap dengan tatalaksana
serangan asma berat. 8

2.7.3 Tatalaksana di Ruang Rawat Inap


1.

Pemberian oksigen diteruskan

2.

Jika dehidrasi dan asidosis diberi cairan intravena dan dikoreksi asidosinya

3.

Sterois IV diberikan secara bolus, tiap 6-8 jam (0,5-1 mg.kgBB/hari)

4.

Nebulisasi agonis + antilkholinergik dengan oksigen dilanjutkan tiap 1-2 jam,


jika dalam 4-6 kali pemberian terjadi perbaikan jarak dapat dilebarkan menjadi
tiap 4-6 jam

5.

Aminofilin IV :

Jika pasien belum mendapat aminofilin, 6-8 mg/kgBB dilarutkan dalam


dextrosa atau garam fisiologis sebanyak 20 ml, diberikan dalam 20-30 menit

Jika telah mendapat aminofilin (kurang dari 8 jam) dosis diberikan


separuhnya

6.

Sebaiknya diukur dan dipertahankan 10-20 mcg/ml

Selanjutnya aminofilin dosis rumatan 0,5-1 mg/kgBB/jam

Jika ada perbaikan nebulisasi diteruskan tiap 6 jam hingga 24 jam, steroid dan
aminofilin diganti peroral

7.

Jika dalam 24 jam tetap stabil dapat dipulangkan dan dibekali agonis (hirupan
atau oral) tiap 4-6 jam selama 24-48 jam. Steroid oral dilanjutkan sampai pasien
kontrol ke Klinik Rawat Jalan dalam 24-48 jam. 8

2.7.4 Tatalaksana Status Asmatikus


1.

oksigen diteruskan 4-6 liter per menit

16

2.

periksa gas darah dan pasang IVFD cairan 3:1 ( glukosa 10% : NaCl 0,9 %)
ditambah KCl 5 meq/kolf
-

koreksi kekurangan cairan

koreksi peyimpangan asam basa

koreksi peyimpangan elektrolit

3.

Theophylin diteruskan jika sudah diberikan dan dievaluasi

4.

Berikan kortikosteroid per i.v

5.

Pengenceran lendir dengan obat mukolitik perlu dipertimbangkan karena biasanya


pada keadaan ini terdapat banyak lendir yang banyak dan lengket diseluruh
cabang bronkus.

6.

Cek lab ( foto rontgen thorak dan EKG). 8

2.7.5 Kriteria Pasien di ICU


1.

tidak ada respon sama sekali terhadap tatalaksana awal di UGD dan/ perburukan
asma yang cepat

2.

ada kebingungan, disorientasi, tanda ancaman henti nafas, hilangnya kesadaran

3.

tidak ada perubahan dengan tatalaksana baku di ruang rawat inap

ancaman henti nafas: hipoksemia tetap terjadi walaupun sudah diberi oksigen (kadar
PaO2 < 60 mmHG dan/ PaCO2 > 45 mmHg). 8
2.8 KOMPLIKASI
Bila serangan asma sering terjadi dan berlangsung lama, maka akan terjadi
emfisema dan mengakibatkan perubahan bentuk thoraks yaitu thoraks membungkuk
kedepan dan memanjang. Pada foto rontgen thoraks terlihat diafragma letaknya
rendah, gambaran jantung menyempit, corakan hilus kiri kanan bertambah. Pada
asma kronis dan berat dapat terjadi bentuk dada burung dara dan tampak sulkus
horrison. 8
Bila sekret banyak dan kental, salah satu bronkus dapat tersumbat sehingga dapat
terjadi atelektasis pada lobus segmen yang sesuai. Mediastinum tertarik kearah
atelektasis. Bila atelektasis berlangsung lama dapat berubah menjadi bronkiektasis,
dan bila ada infeksi akan terjadi bronkopneumonia. Serangan asma yang terus
17

menerus dan berlangsung beberapa hari serta berat dan tidak dapat diatasi dengan
obat obatan disebut status asmatikus. Bila tidak ditolong dengan semestinya dapat
menyebabkan kematian, kegagalan pernafasan dan kegagalan jantung. 8
2.9 PROGNOSIS
Pada kasus asma, prognosis penyakit sangat tergantung terhadap intesitas
tejdinya serangan dimana intesitas serangan ini dapat dikurangi dengan cara
menghindari faktor pencetus ataupun pengendalian aktifitas sehari hari. Penanganan
pada kasus asma saat serangan merupakan faktor penting penentuan prognosis. 8
Beberapa studi kohort menemukan bahwa banyak bayi dengan mengi tidak berlanjut
menjadi asma pada masa anak dan remajanya. Proporsi kelompok tersebut berkisar
antara 45 hingga 85%, tergantung besarnya sampel studi, tipe studi kohort, dan
lamanya pemantauan. Peningkatan IgE serum dan uji kulit yang positif khususnya
terhadap tungau debu rumah pada bayi, dapat memperkirakan mengi persisten pada
masa anak. Adanya dermatitis atopik merupakan prediktor terjadinya asma berat.9

18

BAB III
PEMBAHASAN
Berdasarkan anamnesis, didapatkan pasien laki-laki usia 3th 2bln datang
dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Sesak terus-menerus, terutama setelah
aktivias, menjadi lebih berat dan sedikit membaik dengan duduk. Sesak juga disertai
mengi terutama saat malam hari. Selain itu pasien juga mengeluh batuk dengan dahak
sedikit berwarna putih dan tidak berbau.. Keluhan lain Makan mulai berkurang dari
biasanya, minum seperti biasa (tidak tampak haus), BAB dan BAK seperti biasa.
Pasien tidak membaik setelah di lakukan nebul di IGD RSU haji, riwayat alrgi makan
seafood dan mengidap asma sejak umur 2tahun,sering kambuh + seminggu sekali
keluarga memiliki riwayat alergi dan asma pada ibu pasien Hal ini sesuai dengan
teori bahwa gejala asma adalah ditandai dengan mengi, sesak napas, dada terasa
berat dan batuk-batuk terutama malam atau dini hari 4,8
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan dispneu, takikardi dan wheezing. Hal
ini sesuai dengan teori bahwa Gejala dan serangan asma pada anak tergantung pada
derajat serangannya. Pada serangan ringan anak masih aktif, dapat berbicara lancar,
tidak dijumpai adanya retraksi baik di sela iga maupun epigastrium. Frekuensi nafas
masih dalam batas normal. Pada serangan sedang dan berat dapat dijumpai adanya
wheezing terutama pada saat ekspirasi, retraksi, dan peningkatan frekuensi nafas dan
denyut nadi bahkan dapat dijumpai sianosis. Berbagai tanda atau manifestasi alergi,
seperti dermatitis atopi dapat ditemukan.8 Dasar penyakit ini adalah hiperaktivitas
bronkus akibat adanya inflamasi kronik saluran respiratorik. Akibatnya timbul
hipersekresi lendir, udem dinding bronkus dan konstriksi otot polos bronkus. Ketiga
mekanisme patologi diatas mengakibatkan timbulnya gejala batuk, pada auskultasi
dapat terdengar ronkhi basah kasar dan mengi. Pada saat serangan dapat dijumpai
anak yang sesak dengan komponen ekspiratori yang lebih menonjol. 8

19

Berdasarkan pemeriksaan laboratoris didapatkan peningkatan eosinofil.


Hal ini sesuai dengan teori bahwa pemeriksaaan pada asma akan dijumpai
peningkatan eosinfil,4
Sehingga, berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang dapat disimpulkan diagnosis sebagai asma dengan diagnosis banding
bronkiolitis. Berdasarkan diagnosis tersebut sehingga dapat direncanakan BGA dan
anti dan foto thorax.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik serta laboratorium
mengindikasikan pasien menglami asma persisten sedang yang ditandai dengan sesak
beruralang yang membaik saat duduk, tidak ada sianosis, takikardi, peningkatan
eosinofil dan sering kambuh + seminggu sekali. Status asmatikus pada pasien ini
adalah saat asma yang berulang dan saat pemberian nebul di IGD tidak memberikan
respon.
Pengobatan yang diberikan adalah Infus, O2, Aminofilin (Xantin),
Dexametason (kortikosteroid), Nebulizer Combivent hal ini sesuai dengan terapi
status asmatikus yaitu oksigen diteruskan 4-6 liter per menit periksa gas darah dan
pasang IVFD cairan 3:1 ( glukosa 10% : NaCl 0,9 %) ditambah KCl 5 meq/kolf,
Theophylin diteruskan jika sudah diberikan dan dievaluasi, Berikan kortikosteroid
per i.v, Pengenceran lendir dengan obat mukolitik perlu dipertimbangkan karena
biasanya pada keadaan ini terdapat banyak lendir yang banyak dan lengket diseluruh
cabang bronkus, Cek lab ( foto rontgen thorax). 8

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Supriyanto, Bambang. Diagnosis dan penatalaksanaan terkini asma pada anak.
Majalah Kedokteran Indonesia, Volume: 55, Nomor: 3, Maret 2005.
2. Rusepno Hassan, Husein Alatas, Pulmonologi Anak dalam Buku Kuliah Ilmu
Kesehatan Anak FKUI, Buku 3, Bab 35, Infomedia, Jakarta, 1997
3. Wim M. van Aalderen. Review Article: Childhood Asthma: Diagnosis and
Treatment. Scientifica Volume 2012, Article ID 674204
4. WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO dan
Depkes RI, Jakarta. 2009
5. Lenfant C, Khaltaev N. Global Initiative for Asthma. NHLBI/WHO Workshop
Report 2002.
6. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan
Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta; 2005
7. Behrman, Richard E. Robert M Kliegman. Nelson Esensi Pediatri edisi 4. Alih
bahasa. Samik Wahab. Jakarta: EGC, 2010
8. Rahajoe N. Asma. dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB,
penyunting. Buku Ajar Respirologi Anak. edisi pertama. Jakarta : Badan
Penerbit IDAI ; 2010.
9. Konsensus Nasional Asma Anak. Sari Pediatri, Unit Kerja Koordinasi
Pulmonologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia. Vol. 2, No. 1, Juni 2000, 50-56
10. Global Initiative For Asthma. Pocket Guide for Asthma Management and
Pervention (for adult and children older 5 years). Updated 2011
11. Global Initiative For Asthma. Pocket Guide for Asthma Management and
Prevention in Children 5 Years and Younger. Updated 2009

21