Anda di halaman 1dari 6

Nama

: M Arlan Sukma Gumilar

NIM

: 1127030049

Mata Kuliah : Pengantar Astrofisika


EVOLUSI BINTANG
Seperti manusia, bintang juga mengalami perubahan tahap kehidupan. Sebutannya
adalah evolusi. Mempelajari evolusi bintang sangat penting bagi manusia, terutama karena
kehidupan kita bergantung pada matahari. Matahari sebagai bintang terdekat harus kita kenali
sifat-sifatnya lebih jauh.
Dalam mempelajari evolusi bintang, kita tidak bisa mengikutinya sejak kelahiran
sampai akhir evolusinya. Usia manusia tidak akan cukup untuk mengamati bintang yang
memiliki usia hingga milyaran tahun. Jika demikian tentunya timbul pertanyaan, bagaimana
kita bisa menyimpulkan tahap-tahap evolusi sebuah bintang?.
Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan kembali menganalogikan bintang dengan
manusia. Jumlah manusia di bumi dan bintang di angkasa sangat banyak dengan usia yang
berbeda-beda. Kita bisa mengamati kondisi manusia dan bintang yang berada pada
usia/tahapan evolusi yang berbeda-beda. Ditambah dengan pemodelan, akhirnya kita bisa
menyusun teori evolusi bintang tanpa harus mengamati sebuah bintang sejak kelahiran hingga
akhir evolusinya.
Evolusi bintang adalah perubahan struktur secara perlahan-lahan yang dialami sebuah
bintang selama keberadaanya. Hal ini merupakan sebuah proses penuaan bintang. Keseluruhan
galaksi kita dan juga galaksi yang lain merupakan awan yang sebagian besar terdiri dari gas
hidrogen dan debu yang sangat luas. Debu kosmos dapat dilihat dengan memantulkan atau
menghalangi sinar dari bintang-bintang tetangganya. Debu atau gas cosmos ini dapat dideteksi
secara optik bila gas kosmos mengeluarkan cahaya atau melalui pengamatan radio bila keadaan
gas kosmos gelap. Gas kosmos dapat mengeluarkan cahaya bila gas ini memantulkan cahaya
dari bintang-bintang di dekatnya atau jika sinar ultraviolet dari bintang-bintang di dekatnya
sangat panas sehingga menyebabkan gas ini berflouresensi. Peristiwa ini terjadi jika sinar
ultraviolet dari bintang yang sangat panas mengeksitasi atom-atom dingin yang lain menaikkan
elektron-elektron ke tingkat orbit yang lebih tinggi, yang kemudian turun lagi menghasilkan
sinar fluorensi.
Kebanyakkan gas di ruang angkasa adalah gas hidrogen dingin dalam keadaan energy
terendah yang tak dapat dideteksi secara optic dari bumi. Gas hidrogen memancarkan
gelombang radio dengan panjang gelombang 21 cm. Panjang gelombang ini sekitar 400.000
kali panjang daripada gelombang cahaya pada deret Balmer. Pancaran energi rendah ini terjadi
bukan sebagai hasil lompatan orbit elektron tetapi elektron atom hidrogen dalam keadaan

energi terendah mengubah arah spinnya. Sehingga energi terjadi perubahan sangat kecil pada
energi total atom. Pengetahuan kita tentang penyebaran hidrogen dingin di ruang angkasa
semakin banyak dengan mempelajari pancaran radionya.
Awan gas dan debu yang sangat luas seperti ini bergerak melewati ruang angkasa,
materi-materi yang ada di dalamnya menjadi terdistribusi tidak merata dan membentuk
bulatan-bulatan kecil padat. Bulatan-bulatan kecil ini jika cukup kepadatannya, terjadi daya
tarik-menarik dan mulai mengkerut. Pada saat yang sama juga menarik lebih banyak materimateri ke dalamnya. Hasilnya berupa bola gas dan debu yang terus mengkerut, mengubah
energi potensial gravitasi menjadi energi panas dan terbentuknya protostar. Suhu dan tekanan
dalam protostar bertambah hingga penyerapan materi terhenti karena tekanan dorongan luar.
Keseimbangan terjadi dan terbentuk bintang yang stabil. Bintang yang baru terbentuk terus
memperoleh energi dari konstraksi gaya tarik menarik. Energi ini terbawa ke permukaan secara
konveksi. Karena suhu pusat bertambah besar, suatu saat tercapai suhu yang memungkinkan
terjadinya reaksi inti. Pada titik suhu ini, jika hidrogen bintang mulai berubah menjadi helium
maka bintang ini menjadi bintang deret utama (main sequence). Diperlukan berjuta-juta tahun
untuk mencapai peran ini. Sebagai perbandingan sebuah bintang matahari menempati deret
utama dalam beberapa milyar tahun. Dengan demikian evolusi bintang berubah menjadi
helium.
Besarnya massa yang terkandung dalam bintang baru membedakan tempatnya dalam
deret utama. Sebuah bintang yang paling berat akan menjadi bintang putih kebiru-biruan yang
panas, sementara bintang yang massanya paling ringan akan menjadi bintang merah yang
dingin. Perhitungan dan pengamatan menunjukkan bahwa perolehan energi sebuah bintang
sebanding dengan massanya pangkat tiga. Sebuah bintang massanya 2 kali massa matahari
akan mengahsilkan energi sekitar 8 kali energi matahari. Karena luas permukaan bintang
tersebut tidak sampai 8 kali lebih luas dari permukaan matahari, maka energi lebih banyak
dipancarkan tiap centimeter kuadrat sehingga suhu permukaan menjadi lebih tinggi (hukum
Stefan). Jika sebuah bintang yang saat pertama kali tersusun pada deret utama massanya sama
dengan 16 kali massa matahari, akan terjadi bintang.
Semakin besar massa sebuah bintang semakin besar pula penggunaan bahan bakarnya.
Semakin kecil massanya semakin sedikit pula penggunaan bahan bakarnya. Ini berarti semakin
besar massa bintang akan melampui setiap tahap evolusi lebih cepat. Bintang dengan massa
seperti matahari akan memadat kira-kira 50 juta tahun, bintang dengan massa 20 massa
matahari akan memadat hanya dalam waktu juta tahun. Hal ini dikarenakan massa bintang
yang lebih besar akan menghasilkan medan gravitasi yang lebih kuat, yaitu gas-gas yang masuk
lebih cepat. Sebuah bintang akan tetap berada pada deret utama hanya beberapa juta tahun,

namun matahari kita dan bintang-bintang yang serupa dengan matahari memerlukan sekitar
beberapa milyar tahun dalam perkembangannya.
Bintang yang massanya lebih kecil sinarnya lebih redup dan keberadaanya lebih dingin
sehingga berada pada deret utama lebih lama daripada bintang dengan massa lebih besar
bersinar terang dan keadaannya lebih panas. Sementara itu bintang-bintang yang berada pada
deret utama bahan bakar hidrogennya secara konstan terbakar berubah menjadi helium melalui
reaksi termonuklir. Proses ini sangat mendukung hidup bintang. Namun demikian, karena
hanya 7/10 dari gas secara nyata diubah menjadi energi dalam proses ini, maka massa bintang
relatif tetap.
Hidrogen dalam inti paling dalam sebuah bintang digunakan pertama kali untuk reaksi
nuklir karena suhunya sangat tinggi, sehingga hidrogen berkurang dan abu helium terkumpul.
Perhitungan menunjukkan bahwa perubahan komposisi ini menyebabkan struktur bintang
berubah, sehingga sinarnya bertambah terang dan permukaannya dalam deret utama sedikit
berkurang.
Dalam perhitungan menunjukkan bahwa jika 10% hidrogen dari bintang menjadi
helium dalam inti, lapisan-lapisan akan terbentuk dan kondisi berubah jika helium dalam inti
habis, secepatnya bintang akan berubah posisinya. Sekarang inti yang semuanya terdiri dari
helium mulai berkontraksi karena gravitasi dan karena keadaan seperti ini bintang itu tidak
mempunyai sumber energi untuk mensuplai panas dan tekanan. Pada saat yang sama hydrogen
disekitar inti dipanaskan dan mulai terbakar menjadi helium. Proses ini bagaikan lautan api
yang membakar sekeliling tepi bidang terbakar, secara konstan bergerak keluar. Selanjutnya
energi bintang berasal dari konstraksi inti dan pembakaran hidrogen pada tepi inti pusat ini.
Bagian luar bintang menjadi menggelembung dan mengembang sangat besar, sehingga
kerapatannya lebih kecil daripada inti yang memadat. Suhu permukaan bintang menurun
(karena jumlah energi percentimeter kaudarat menurun) dan bintang bersinar lebih merah.
Bintang ini akan keluar perlahan-lahan dari deret utama dan menjadi bintang merah
yang sangat besar (red giant). Sebuah bintang merah sangat besar atau super besar (super giant)
mempunyai suhu permukaan antara 30000 dan 70000 K. Cahayanya bisa mencapai 100 hingga
10.000 kali dibanding matahari. Ini dapat dicapai bila ukurannya 10 hingga 500 kali diameter
matahari . Jika sebuah bintang berubah menjadi bintang merah superbesar, seperti Antares
dengan massa 50 kali massa matahari, maka volume bintang itu akan menjadi 64 juta kali lebih
besar dari matahari. Tetapi karena mengembang, rata-rata kerapatannya hanya 1/10.000.000
dibanding matahari.

Sekitar 90 % hidup bintang sebelum menjadi bintang merah sangat besar (red giant)
waktunya dihabiskan pada deret utama. Selebihnya waktu yang relatif singkat digunakan
bintang bergerak dari deret utama ke red giant branch dan ini disebut Hertzprung gap.
Sementara bintang dalam bentuk bintang yang sangat besar, inti helium terus memadat
karena berat yang dimilikinya dan suhu pusat terus meningkat. Jika suhu mencapai sekitar 100
juta derajat, reaksi inti yang melibatkan helium mulai terjadi. Unsur-unsur yang lebih berat
terbentuk melalui proses inti dan bintang kemudian menghasilkan energinya. Tahap reaksi inti
yang sangat penting adalah pembentukkan inti karbon. Pada suhu yang sangat tinggi ini tiga
inti helium dapat bergabung membentuk karbon (proses triple alpa). Tahap selanjutnya dari
evolusi bintang adalah terbentukknya unsur-unsur yang lebih berat.
Tahap berikutnya cahaya dan akibatnya jejak evolusi menjadi komplek. Beberapa
hidrogen dari lapisan luar bergabung kembali dengan inti dan mungkin untuk sementara waktu
bintang itu kembali pada deret utama.
Selama hidupnya bintang kebanyakan bersinar dengan sinar konstan. Dalam usia
tuanya diluar tahap, bintang sangat besar (red giant) perhitungan menunjukkan bahwa bintang
bervariasi sinarnya sebagai akibat ketidakstabilan. Secara pasti terjadi dalam waktu yang lama
ketika suplai helium berkurang.
Bintang-bintang yang tidak stabil
Ada banyak bentuk bintang yang tidak umum, masing-masing merupakan akibat
ketidakstabilan selama garis edar evolusinya. Garis edar yang diberikan oleh bintang-bintang
disekitar tahap bintang merah sangat besar ini tidak menentu. Beberapa bintang pada tahap ini
secara periodik mengembang dan menyusut sehingga mengakibatkan pencahayaannya
berubah-ubah. Sebagai contoh adalah Cephelds yaitu sebuah bintang yang secara periodik
mengembang dan menyusut berubah-ubah bantuk maupun cahayanya. Selain itu, terdapat
bintang Lyrae yang ditemukan jauh dari galaxy dan dianggap berada di antara bintang- bintang
yang paling tua.
Pada tiap akhir evolusinya bintang ini mengeluarkan bagian-bagian massanya ke ruang
angkasa yang amsing-masing mangandung 4% hingga 1,0% massa aslinya. Salah satu yang
terkenal adalah cincin nebula dalam gugus bintang Lyrae.
Karena bintang-bintang yang tidak biasa itu pada dasarnya tidak stabil, pada tahap ini
mereka cenderung relative lebih cepat terpantau. Pada diagram H-R bintang-bintang ini
ditemukan dalam sebuah wilayah yang tidak ditempati oleh bintang-bintang.
Pertama kali bintang mencapai tahap bintang kerdil putih, energinya berasal dari
intinya. Karenanya tidak ada, energi yang dihasilkan dan perlahan-lahan menjadi dingin
kemudian mejadi gelap total. Periode pendinginan ini jauh lebih lama dibandingkan dengan

usia galaksi kita, oleh sebab itu tidak ada bintang kerdil hitam yang mungkin terdapat dalam
Bimasakti.
Ada banyak jenis bintang kerdil putih yang dikenal dan dipelajari. Bintang kerdil putih
yang terkenal adalah Sirius B. Masih banyak lagi jenis bintang kerdil, namun karena cahayanya
yang suram membuat sulit diamati.
Nova
Apabila sebuah bintang termasuk anggota sebuah sistem biner setelah dekat dengan
tahap akhir evolusinya akan dipengaruhi oleh bintang pasangannya. Jika dua bintang memiliki
massa yang lebih besar akan berkembang lebih cepat dan mencapai tahap bintang kerdil putih
lebih dulu. Ketika anggota yang kedua mengembang menjadi bintang merah besar, maka aliran
materi dari atmosfers bintang pasangaanya yang kerdil putih menyebabkan ketidakstabilan
permukaannya. Hal ini mengakibatkan perubahan energy dan semburan materi ke ruang
angkasa.
Pencahayaan bintang kerdil putih naik secara cepat puluhan ribu kali. Inilah yang
disebut Nova yang artinya bintang baru. Disebut demikian karena memang sebelumnya
Nova dan pasangannya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Setelah muncul, Nova akan
bersinar selama periode waktu yang singkat. Pada saat paling terang magnitude mutlaknya
adalah -6 sampai -9. Sebagai contoh Nova Hercules yaitu Nova yang dapat dilihat dengan mata
telanjang.
Supernova
Istilah super tidak menyatakan perbedaan antara bintang-bintang ini dengan nova.
Keduanya mudah meledak akan tetapi ledakannya dapat dibandingkan dengan perbedaan
antara letusan petasan kecil dari dentuman dinamit. Sebuah Supernova menyala terang ratusan
juta kali disbanding dengan aslinya dan mencapai magnitude -14 sampai 18 atau bahkan lebih
terang.
Supernova terakhir yang terlihat dalam galaksi kita adalah Tycho & ahd pada tahun
1972 dan bintang Kepler pada tahun 1604. Sejak itu tidak pernah terlihat lagi dalam galaksi
kita, akan tetapi melalui pengamatan supernova pada Observatorium Comlitos di New Mexico
banyak ditemukan supernova di galaksi lain.
Meskipun supernova hanya terlihat dalam periode waktu yang singkat, sisanya masih
selama berabad-abad. Nebula tudung (Veil Nebula) dalam gugus bintang Cygnus diyakini
sebagai sisa yang nampak antara letusan petasan kecil dan dentuman dinamit. Sebuah
Supernova menyala terang ratusan juta kali dibanding dengan aslinya dan mencapai magnitude
14 sampai 18 atau bahkan lebih terang.

Hampir 10 tahun sebelum penemuan pulsar pertama, fisikawan dan ahli Astronomi
telah menghipotesis keberadaan sebuah bintang neutron. Sebuah bintang yang partikelnya
tersusun padat sehingga muatan elektron dan protonnya terhenti bersama-sama. Akibatnya
massa keseluruhannya hanya tersusun dari neutron. Bintang neutron ini dapat terbentuk dari
Supernova. Terdapat bukti-bukti yang meyakinkan bahwa pulsar-pulsar adalah bintangbintang neutron. Perhitungan menunjukkan bintang neutron berputar dengan kecepatan yang
terus menerus berkurang.
Perhitungan juga menunjukkan bahwa bintang-bintang super padat ini memiliki medan
magnet jauh melebihi medan magnet benda lain. Matahari memiliki medan magnet sebesar 10
juta hingga 100 juta Gauss dan sebuah bintang neutron dapat memiliki medan magnet sebesar
milyaran Giuss. Sebagai perbandingan medan magnet bumi yang menggerakkan kompas
adalah hanya sekitar 1 Gauss.
Lubang hitam
Perhitungan menunjukkan bahwa pada kondisi tertentu, bintang-bintang yang
massanya besar pada akhir evolusinya mengalami keruntuhan pada pusatnya dan menjadi
bintang neutron yang dapat diamati sebagai pulsar. Bintang pun semakin mampat dan medan
gravitasi permukaan semakin besar. Dengan demikian kelengkungan ruang waktu disekitar
bintang pun makin besar. Maka ada materi atau cahaya yang keluar dari bintang tersebut
sehingga bintang ini menjadi lubang hitam (The Black Hole).
Tidak ada objek yang sanggup lepas dari pengaruh gravitasinya, termasuk cahaya
sekalipun. Makanya benda ini disebut lubang hitam, karena tidak memancarkan gelombang
elektromagnetik. Satu-satunya cara untuk mendeteksi keberadaan lubang hitam adalah dari
interaksi gravitasinya dengan benda-benda di sekitarnya. Pusat galaksi kita adalah salah satu
lokasi ditemukannya lubang hitam. Kesimpulan ini diambil karena bintang-bintang di pusat
galaksi bergerak dengan sangat cepat, dan kecepatannya itu hanya bisa ditimbulkan oleh gaya
gravitasi yang sangat kuat, yaitu oleh sebuah lubang hitam.
Hingga saat ini, pengamatan terhadap bintang-bintang masih terus dilakukan. Teori
evolusi bintang di atas bisa saja berubah kalau ada bukti-bukti baru. Tidak ada yang kekal
dalam sains, dan tidak ada kebenaran mutlak. Apa yang menjadi kebenaran saat ini bisa saja
terbantahkan di kemudian hari. Itulah uniknya sains: dinamis.
Sumber :

blog.unsri.ac.id/download2/39112.pdf
http://www.slideshare.net/marnitukan/evolusi-bintang