Anda di halaman 1dari 31

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Fisiologi Sistem Imun dan Hematologi
1. Sistem Hematologi
Hematologi adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah,
organ pembentuk darah dan penyakitnya. Asal katanya dari bahasa Yunani yaitu
haima artinya darah. Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk
hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat
dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan
kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau
bakteri (Pearche, 2006).
Fungsi utama darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh
sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi,
mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan
penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai
penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.
Tabel 2.1
Bagian atau Komponen Darah
Bagian darah
Air
91%
Protein
3% (albumin, globulin, protombin dan fibrinogen)
Mineral
0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam fosfat,
magnesium, kalsium dan zat besi)
Bahan
0,1% (glukosa, lemak, asam urat, kreatinin, kolesterol dan
Organik
asam amino)
(Pearche, 2006).
Menurut Pearche (2006) komponen darah terdiri dari:
a. Sel Darah Merah (Eritrosit)

Berupa cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua sisinya, sehingga


dilihat dari samping namapak seperti dua buah bulan sabit yang saling
bertolak belakang. Berdiameter 8 mikron, dan mempunyai ukuran ketebalan
sebagai berikut: pada bagian yang paling tebal, tebalnya 2 mikron,
sedangkan pada bagian tengah tebalnya 1 mikron atau kurang. Volume ratarata sel darah merah adalah sebesar 83 mikron kubik. Dalam setiap
millimeter kubik darah terdapat 5.000.000 sel darah. Strukturnya terdiri atas
pembungkus luar atau stroma, berisi massa hemoglobin.
Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya terbentuk
dari asam amino. Mereka juga memerlukan zat besi, sehingga untuk
membentuk penggantinya diperlukan diet seimbang yang berisi zat besi.
Sel darah merah di bentuk di dalam sumsum tulang, terutama dari
tulang pendek, pipih dan tak beraturan, dari jaringan kanselus pada ujung
tulang pipa dan dari sumsum dalam batang iga-iga dan dari sternum. Di
dalam sumsum tulang terdapat banyak sel pluripoten hemopoietik stem yang
dapat membentuk berbagai jenis sel darah. Sel-sel ini akan terus menerus
direproduksikan selama hidup manusia, walaupun jumlahnya akan semakin
berkurang sesuai dengan bertambahnya usia. Rata-rata panjang hidup darah
merah kira-kira 115 hari. Sel menjadi usang, dan dihancurkan dalam sistema
retikulo-endotelia, terutama dalam limpa dan hati. Konsentrasi sel-sel darah
merah di dalam darah, pada pria normal jumlah rata-rata sel-sel darah merah
per millimeter kubik adalah 5.200.000 ( 300.000) dan pada wanita normal
jumlahnya 4.700.000 (300.000). Jumlah sel-sel darah merah ini bervariasi

pada kedua jenis kelamin dan pada perbedaan umur, pada ketinggian tempat
seseorang itu tinggal akan mempengaruhi jumlah sel darah merah.
b. Sel Darah Putih (Leukosit)
Sel darah putih ini bening dan tidak berwarna, bentuknya lebih besar
dari sel darah merah, tetapi jumlahnya lebih kecil. Leukosit merupakan unit
yang mobil/aktif dari sistem pertahanan tubuh. Sistem perthanan ini sebagian
dibentuk di dalam sumsum tulang (granulosit dan monosit dan sedikit
limfosit) dan sebagian lagi di salam jaringan limfe (limfosit dan sel-sel
plasma), tapi setelah dibentuk sel-sel ini kana diangkut didalam darah
menuju ke bermacam-macam bagian tubuh untuk dipergunakan. Granulosit
atau sel polimorfonuklear merupakan hampir 75% dari seluruh jumlah sel
darah putih. Mereka terbentuk dalam sumsum merah tulang. Sel ini berisi
sebuah nukleus yang berbelah banyak dan protoplasmanya berbulir. Karena
itu disebut sel berbulir atau granulosit. Kekurangan granulosit disebut
granulositopenia. Sedangkan tidak adanya granulosit disebut agranulositosis
yang timbul setelah makan obat tertentu, termasuk juga beberapa antibiotika.
Fungsi sel darah putih , granulosit dan monosit mempunyai peranan
penting dalam perlindungan badan terhadap mikroorganisme. Dengan
kemampuannya sebagai fagosit (fago-saya makan), mereka memakan
bakteri-bakteri hidup yang masuk ke peredaran darah. Dengan kekuatan
gerakan amuboidnya ia dapat bergerak bebas di dalam dan dapat keluar
pembuluh darah dan berjalan mengitari seluruh bagian tubuh. Dengan
demikian sel darah putih mempunyai fungsi :
1) Mengepung daerah yang terkena infeksi atau cedera
2) Menangkap organisme hidup dan menghancurkannya

3) Menyingkirkan bahan lain seperti kotoran-kotoran, serpihan kayu, benang


jahitan (catgut), dll dengan cara yang sama.
Dalam keadaan normal di dalam darah dapat ditemui 6 macam sel-sel
darah putih yakni:
1) Netrofil polimorfonuklir, fungsi utamanya melindungi terhadap benda
asing yang masuk tubuh khususnya kuman dan melenyapkan bahan
limbah. Sel-sel ini tertarik ketempat infeksi ke tempat infeksi oleh
substansi kimia yang dilepaskan oleh sel-sel cedera
2) Eosinofil polimorfonuklir, banyak diantaranya

bermigrasi

keluar

pembuluh darah menuju daerah tubuh yang terpapar misal, jar ikat
dibawah kulit, membran mukosa saluran nafas dan cerna, pelapis vagina
dan rahim. Fungsi eosinofil melindungi tubuh terhadap bahan asing
(parasit).
3) Basofil polimorfonuklir,

sel

ini

menggetahkan

histamin,

yang

menimbulkan vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas dinding


kapiler. Hal ini mempermudah fagosit dan substansi protektif lain spt zat
anti, tiba dicelah jaringan bersama sel mast mengumpul didaerah radang
yang menyembuh.
4) monosit, sel mononuklir besar asal sumsum tulang merah. Beredar
didalam darah, berfungsi terutama di jaringan sesudah berkembang
menjadi makrofag. Keduanya menghasilkan interleukin 1 yang bekerja
pada hipotalamus, menaikkan suhu badan pada infeksi dengan kuman,
merangsang pembentukan globulin oleh hati dan meningkatkan produksi
limfosit t aktif.
5) Limfosit, ada 2 jenis sel limfosit yaitu limfosit b dan limfosit t

6) Sel-sel plasma, sebagai tambahan dapat juga kita jumpai banyak sekali
platelet yang merupakan fragmen atau pecahan-pecahan dari macam
ketujuh sel darah putih yang dapat di jumpai dalam sumsum tulang yakni
megakariosit.
Konsentrasi bermacam-macam sel-sel darah putih dalam darah. Pada
manusia dewasa dapat di jumpai kira-kira 7.000 sel-sel darah putih per
millimeter kubik darah. Jumlah persentase bermacam-macam sel-sel darah
putih kira-kira sebagai berikut: Sel-sel darah putih dibentuk di dalam
sumsum tulang, terutama granulosit akan disimpan di dalam sumsum sampai
mereka diperlukan di dalam sistem sirkulasi. Kemudian bila kebutuhannya
meningkat, maka bermacam-macam faktor yang akan meneyebabkan
granulosit tersebut dilepaskan.
c. Sel Pembeku Darah (Trombosit)
Trombosit merupakan benda-benda kecil yang mati yang bentuk dan
ukurannya bermacam-macam, ada yang bulat ada juga yang berbentuk
lonjong, memilik warna putih. Pada orang dewasa terdapat 200.000-300.000
trombosit per millimeter kubik.
Fungsi trombosit adalah memegang peranan penting dalam
pembekuan darah. Jika banyaknya kurang dari normal, maka apabila
terdapat luka dan darah tidak segera membeku sehingga timbul pendarahan
yang terus menerus. Trombosit lebih dari 300.000 disebut trombositosis.
Trombosit yang kurang dari 200.000 disebut trombositopenia. Di dalam
plasma darah terdapat suatu zat yang turut membantu terjadinya peristiwa
pembekuan darah, yaitu Ca2+ dan fibrinogen. Fibrinogen mulai bekerja
apabila tubuh mendapat luka.

2. Sistem Imun
Sistem imun adalah serangkaian molekul, sel dan organ yang bekerja
sama dalam mempertahankan tubuh dari serangan luar yang dapat
mengakibatkan penyakit, seperti bakteri,jamur dan virus. Kesehatan tubuh
bergantung

pada

kemampuan

sistem

imun

untuk

mengenali

dan

menghancurkankan serangan ini. jadi kalo kelainan sistem imun berarti


kemampuan untuk mempertahankan kekebalan tubuh terganggu sehingga
mudah diserang penyakit (Pearche, 2006).

Gambar 2.1
Sistem Imun Tubuh Manusia

(Sumber: Biosirgis.net)
Organ yang terlibat dalam sistem kekebalan tubuh antara lain:
a. Nodus Limfe
Sistem limfatik ini merupakan suatu pertahanan tubuh manusia.
Sistem ini terdiri atas pembuluh limfa-tik yang terdifusi di seluruh tubuh,
nodus limfa yang terdapat di beberapa tempat tertentu pada pembuluh

limfatik, limfosit yang diproduksi oleh nodus limfa dan berpatroli di


sepanjang pembuluh limfatik, serta cairan getah bening tempat limfosit
berenang di dalamnya, yang bersirkulasi dalam pembuluh limfatik.
Cara kerja sistem ini adalah sebagai berikut: Cairan getah bening
dalam pembuluh limfatik menyebar di seluruh tubuh dan berkontak dengan
jaringan yang berada di sekitar pembuluh limfatik kapiler. Cairan getah
bening yang kembali ke pembuluh limfatik sesaat setelah melaku-kan kontak
ini membawa serta informasi mengenai jaringan tadi. Informasi ini
diteruskan ke nodus limfatik terdekat pada pembuluh limfatik. Jika pada
jaringan mulai merebak permusuhan, pengetahuan ini akan diteruskan ke
nodus limfa melalui cairan getah bening (Pearche, 2006).
b. Timus
Selama bertahun-tahun timus dianggap sebagai organ vestigial atau
organ yang belum berkembang sempurna dan oleh para ilmuwan evolusionis
dimanfaatkan sebagai bukti evolusi. Namun demikian, pada tahun-tahun
belakangan ini, telah terungkap bahwa organ ini merupakan sumber dari
sistem pertahanan kita.
c. Sumsum Tulang
Sumsum tulang janin di rahim ibunya tidak sepenuhnya mampu
memenuhi fungsinya memproduksi sel-sel darah. Sumsum tulang mam-pu
mengerjakan tugas ini hanya setelah lahir. Pada tahap ini, limpa akan
bermain dan memegang kendali. Merasakan bahwa tubuh mem-butuhkan sel
darah merah, trombosit, dan granulosit, maka limpa mulai memproduksi selsel ini selain memproduksi limfosit yang merupakan tugas utamanya
(Pearche.2006).
d. Limpa

Limpa terdiri dari dua bagian: pulp merah dan pulp putih. Limfosit
yang baru dibuat di pulp putih mula-mula dipindahkan ke pulp merah, lalu
mengikuti aliran darah. Kajian saksama mengenai tugas yang dilak-sanakan
organ berwarna merah tua di bagian atas abdomen ini menying-kapkan
gambaran luar biasa. Fungsinya yang sangat sulit dan rumitlah yang
membuatnya sangat menakjubkan (Pearche, 2006).
Mekanisme Pertahanan Tubuh
a. Non spesifik ( respon imun alamiah )
Dilihat dari caranya diperoleh, mekanisme pertahanan

non spesifik

disebut juga respons imun alamiah. Adapun pertahanan non spesifik tubuh
kita secara alamiah adalah:
1) kulit dengan kelenjarnya,
2) lapisan mukosa dengan enzimnya, serta
3) kelenjar lain dengan enzimnya seperti kelenjar air mata.
4) sel fagosit (sel makrofag, monosit, polimorfonuklear) dan
5) komplemen merupakan komponen mekanisme pertahanan non spesifik.
b. Mekanisme Pertahanan Spesifik (respons imun didapat )
Dilihat dari caranya diperoleh maka mekanisme pertahanan spesifik
disebut juga respons imun didapat.

Mekanisme Pertahanan Spesifik

(Imunitas Humoral dan Selular).


1) Imunitas humoral
Imunitas humoral adalah imunitas yang diperankan oleh sel
limfosit B dengan atau tanpa bantuan sel imunokompeten lainnya. Tugas
sel B akan dilaksanakan oleh imunoglobulin yang disekresi oleh sel
plasma. Terdapat lima kelas imunoglobulin yang kita kenal, yaitu IgM,
IgG, IgA, IgD, dan IgE.
a) Antibodi A (bahasa Inggris: Immunoglobulin A, IgA) adalah antibodi
yang memainkan peran penting dalam imunitas mukosis (en:mucosal

immune). IgA banyak ditemukan pada bagian sekresi tubuh (liur,


mukus, air mata, kolostrum dan susu) sebagai sIgA (en:secretoryIgA)
dalam perlindungan permukaan organ tubuh yang terpapar dengan
mencegah penempelan bakteri dan virus ke membran mukosa.
Kontribusi fragmen konstan sIgA dengan ikatan komponen mukus
memungkinkan pengikatan mikroba.
b) Antibodi D (bahasa Inggris: Immunoglobulin D, IgD) adalah sebuah
monomer dengan fragmen yang dapat mengikat 2 epitop. IgD
ditemukan pada permukaan pencerap sel B bersama dengan IgM atau
sIga, tempat IgD dapat mengendalikan aktivasi dan supresi sel B. IgD
berperan dalam mengendalikan produksi autoantibodi sel B. Rasio
serum IgD hanya sekitar 0,2%.
c) Antibodi E (bahasa Inggris: antibody E, immunoglobulin E, IgE)
adalah jenis antibodi yang hanya dapat ditemukan pada mamalia. IgE
memiliki peran yang besar pada alergi terutama pada hipersensitivitas
tipe 1. IgE juga tersirat dalam sistem kekebalan yang merespon cacing
parasit (helminth) seperti Schistosoma mansoni, Trichinella spiralis,
dan Fasciola hepatica,

serta terhadap parasit protozoa tertentu

sepertiPlasmodium falciparum, dan artropoda.


d) Antibodi G (bahasa Inggris: Immunoglobulin G, IgG) adalah antibodi
monomeris yang terbentuk dari dua rantai berat dan rantai ringan ,
yang saling mengikat dengan ikatan disulfida, dan mempunyai dua
fragmen antigen-binding. Populasi IgG paling tinggi dalam tubuh dan
terdistribusi cukup merata di dalam darah dan cairan tubuh dengan

rasio serum sekitar 75% pada manusia dan waktu paruh 7 hingga 23
hari bergantung pada sub-tipe.
e) Antibodi M (bahasa Inggris:

Immunoglobulin

M,

IgM,

macroglobulin) adalah antibodi dasar yang berada pada plasma B.


Dengan rasio serum 13%, IgM merupakan antibodi dengan ukuran
paling besar, berbentuk pentameris 10 area epitop pengikat, dan teredar
segera setelah tubuh terpapar antigen sebagai respon imunitas awal
(en:primary immune response) pada rentang waktu paruh sekitar 5
hari. Bentuk monomeris dari IgM dapat ditemukan pada permukaan
limfosit- B dan reseptor sel-B. IgM adalah antibodi pertama yang
tercetus pada 20 minggu pertama masa janin kehidupan seorang
manusia dan berkembang secara fitogenetik (en:phylogenetic).
Fragmen konstan IgM adalah bagian yangn menggerakkan lintasan
komplemen klasik.
B. Konsep Campak
1. Pengertian Campak
Campak adalah suatu penyakit akut menular, ditandai oleh 3 stadium:
stadium inkubasi sekitar 10-12 hari dengan sedikit jika ada tanda-tanda atau
gejala, yang kedua stadium prodromal dengan enantem (bercak koplik) pada
mukosa bukal dan faring, demam ringan sampai sedang, konjungtivitis ringan,
dan batuk semakin berat, yang ketiga stadium akhir dengan ruam makuler yang
muncul berturut-turut pada leher dan muka, tubuh, lengan, dan kaki dan disertai
oleh demam tinggi (Nelson, 2000).
Morbili adalah penyakit akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium
yaitu: stadium prodronal (kataral), stadium erupsi dan stadium konvalisensi,

yang di manifestasikan dengan demam, konjungtivitis, dan bercak koplek


(Mansjoer, Arif. 2001).
2. Epidemiologi Campak
Campak adalah endemik pada sebagian besar dunia. Dahulu, cenderung
terjadi secara irreguler, tampak pada musim semi dikota-kota besar dengan
interval 2-4 tahun ketika kelompok anak yang rentan terpajan. Campak sangat
menular, sekitar 90 % kontak keluarga yang rentan dengan penyakit. Campak
jarang subklinis. Sebelum penggunaan vaksin campak puncak insidens umur 510 tahun, kebanyakan orang dewasa imun. Sekarang di Amerika Serikat,
campak terjadi paling sering terjadi pada anak umur sekolah yang belum di
imunisasi, dan pada remaja dan orang dewasa muda yang telah di imunisasi
(Nelson, 2000).
Bayi mendapat imunitas transplasenta dari ibu yang telah menderita
campak atau imunisasi campak. Imunitas ini biasanya sempurna selama umur
4-6 bulan pertama dan menghilang pada frekuensi yang bervariasi. Kebanyakan
WUS di Amerika Serikat mempunyai imunitas campak dengan cara imunisasi
bukan karena sakit (Nelson, 2000).
3. Etiologi Campak
Campak adalah virus RNA dari famili paramixoviridae, genus morbili
virus. Hanya satu antigen yang diketahui. Selama masa prodromal dan selama
waktu singkat sesuadah ruam tampak, virus ditemukan dalam sekresi
nasofaring, darah dan urine. Virus terdapat tetap aktif selama sekurangkurangnya 34 jam dalam suhu kamar (Nelson, 2000).
Virus campak dapat di isolasi dalam biakan embrio manusia atau
jaringan ginjal kera rhesus. Perubahan sitopatik, tampak dalam 5-10 hari terdiri

dari sel raksasa multi nukleus dengan inklusi intranuklear. Antibodi dalam
sirkulasi dapat dideteksi bila ruam muncul. Penularan terhadap kontak rentan
sering terjadi sebelum didiagnosis kasus aslinya. Orang yang terinfeksi menjadi
menular pada hari ke sembilan dan sepuluh sesudah pemajanan (mulai fase
prodromal), pada beberapa keadaan seawal hari ketujuh (Nelson, 2000).
Penyakit Campak disebabkan oleh virus Campak yang termasuk
golongan paramyxovirus. Virus ini berbentuk bulat dengan tepi yang kasar dan
begaris tengah 140 mm, dibungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak
dan protein, didalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari
bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA), merupakan sruktur
heliks nukleoprotein yang berada dari myxovirus. Selubung luar sering
menunjukkan tonjolan pendek, sa tu protein yang berada di selubung luar
muncul sebagai hemaglutinin.
Gambar 2.2
Bentuk virus Morbili

(Sumber: Biosirgis.net)
4. Cara Penularan Campak
Virus Campak ditularkan dari orang ke orang, manusia merupakan satusatunya reservoir penyakit Campak . Virus Campak berada disekret nasoparing
dan di dalam darah minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat
setelah timbulnya ruam. Penularan terjadi melalui udara, kontak langsung

dengan sekresi hidung atau tenggorokan dan jarang terjadi oleh kontak dengan
benda-benda yang terkontaminasi dengan sekresi hidung dan tenggorokan.
Penularan dapat terjadi antara 1 2 hari sebelumnya timbulnya gejala
klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Penularan virus Campak sangat efektif
sehingga dengan virus yang sedikit sudah dapat menimbulkan infeksi pada
seseorang.
5. Manifestasi Klinis Campak
Masa inkubasi sekitar 10-12 hari, jika gejala-gejala prodromal pertama
dipilih sebagai waktu mulai, atau sekitar 14 hari jika munculnya ruam. Jarang
inkubasi dapat sependek 6-10 hari. Kenaikan ringan pada suhu dapat terjadi 910 hari dari hari infeksi dan kemudian menurun selama 24 jam. Menurut
Nelson (2000) dan Rudolph (2010)

manifestasi klinis yang muncul pada

penyakit morbili atau campak, antara lain:


a. Bercak koplik pada 2-3 hari, bercak koplik merupakan bintik putih keabuabuan, biasanya sebesar butir pasir dengan areola sedikit kemerahan, kadang
hemoragik. Bercak ini muncul dan menghilang dengan cepat, biasanya 12-18
jam.
b. Radang konjungtiva dan fotophobia, dapat mengesankan campak sebelum
bercak koplik. Terutama, garis melintang radang konjungtiva. Batas tegas
sepanjang tepi kelopak mata, mungkin membantu diagnostik pada stadium
prodromal.
c. Demam tinggi mendadak, kadang-kadang dengan kejang dan bahkan
pneumonia. Biasanya demam dan batuk semakin bertambah berat sampai
waktu ruam telah merata di seluruh tubuh. Suhu mendadak ketika ruam
muncul dan sering mencapai 40-41o C, disertai menggigil.

d. Pada kasus berat ruam sedikit hemoragik, deskuamasi seperti kulit padi dan
perubahan warna kecoklatan terjadi dan kemudian menghilang dalam 7-10
hari.
e. Limfonodi pada sudut rahang dan pada daerah servikal posterior biasanya
membesar, dan splenomegali ringan dapat di catat. Limfadenopati
mesenterika dapat menyebabkan nyeri perut.
f. Gejala-gejala saluran cerna seperti: diare dan muntah lebih sering pada bayi
dan anak-anak (terutama anak malnutrisi).
6. Patofisiologi Campak
Infeksi mulai saat orang yang rentan menghirup percikan mengandung
virus dari sekret nasofaring pasien campak.ditempat masuk kuman, terjadi
periode pendek perbanyakan virus lokal dan penyebaran terbatas, diikuti oleh
viremia primer singkat bertiter rendah, yang memberikan kesempatan kepada
agen untuk menyebar ke tempat lain, tempat virus secara aktif memperbanyak
diri dijaringan limfoid. Viremia sekunder yang memanjang terjadi, berkaitan
dengan awitan prodromal klinis dan perluasan virus. Sejak saat itu (kira-kira) 910 hari setelah terinfeksi sampai permulaan keluarnya ruam, virus dapat
dideteksi diseluruh tubuh, terutama di traktus respiratorius dan jaringan limfoid,
virus juga dapat ditemukan sekret nasofaring, urine, dan darah. Pasien paling
mungkin menularkan pada orang lain dalam periode 5-6 hari. Dengan mulainya
awitan ruam (kira-kira 14 hari setelah infeksi awal), perbanyakan virus
berkurang, dan pada 16 hari sulit menemukan virus, kecuali di urine, tempat
virus bisa menetap beberapa hari. Insiden bersamaan dengan munculnya
eksantema adalah deteksi antibodi campak yang beredar dalam serum yang
ditemukan pada hampir 100% pasien dihari kedua timbulnya ruam. Perbaikan

gejala klinis dimulai saat ini kecuali pada beberapa pasien, dimulai beberapa
hari kemudian karena pada penyakit sekunder yang disebabkan oleh bakteri
yang bermigrasi melintasi barisan sel epitel traktus respiratorius. Terjadi
sinusitis, otitis media, bronkopneumonia sekunder akibat hilangnya pertahanan
normal setempat (Rudolph, 2010).
7. WOC Campak
Virus Morbili atau
Rubella
Droplet
Infection
Eksudat yang serius, dropleferasi sel
mononukleus, polimorfonukleus
Reaksi inflamasi: Demam, suhu naik,
metabolisme
IWLorgan
naik
Penyebaran
kenaik,
berbagai
melalui hematogen
Saluran
Saluran
Kulit menonjol
sekitar sebasea
Pencernaan
pernafasan
Terdapat
bercak
Inflamasi
dan folikel
Terjadi
reaksi
koplik berwarna
pada saluran
rambut
alergi
disekitar
kelabu dikelilingi
nafas disatu
kelenjar sebasea
eritema pada
lobus/beber
Broncho
dan
folikel
mukosa bukalis,
apa lobus
Eritema
pneumonia
rambut
berhadapan
Anoreksiapada
Sekresi
membentuk
molar,
makula
papula di
Intakepalatum
tidak
mukus/
Rash,
ruam
pada
durum
dan
kulit normal
adekuat
sekret
MK:
MK:
balik telinga,
palatum mole
Ketidakseimbangan
Bersihan
leher, pipi, muka,
nutrisi kurang dari 8. Komplikasi
jalan nafas Campak
seluruh tubuh,
MK:
Gangguan
kebutuhan tubuh
Berbagai macam
komplikasi
deskuamasi
rasa
integritas kulit
gatal
campak. Yang paling sering terkena

Pada
Mata
Radang

MK:
Hipertermia
Saluran
Pendengaran
Terjadi proses
inflamasi di
sal. Tuba
eustachii
Adanya

Otak

Selaput
Otak
Terjadi
inflamasi
vitis
di Kerusa
selaput
MK:
eksudat di
otak
kan
Gangguan
sal.MK:
Tuba
pada
Persepsi
eustachii
Gangguan
selaput
Ensefal
Sensori:
Persepsi
otak
itis
Penglihatan
( Rudolph, 2010).
sensori:
Pendengaran
biasa ditemukan selama stadium akut
konjung
tiva
Konjungti

menurut Rudolph (2010) yaitu adalah

sebagai berikut :
a. Laringotrakeobronkitis, biasa menyebabkan sumbatan aliran udara sehingga
memerlukan trakeostomi , terutama pada anak berusia dibawah 3 tahun.
b. Keratokonjungtivitis asimtomatis jinak yang menyertai campak dapat
menetap selama 4 bulan, lesi dapat dilihat hanya dengan biomikroskop

Pada
Mata
Otak
kiri/
kanan
Kerus
akan
jaring
an
Hemi
otak
plegi,
(kana
afasia

lampu celah. Terjadi lesi kornea yang lebih berat pada pasien campak yang
kurang gizi.
Komplikasi yang paling umum adalah:
a. Ototis media
b. Pneumonia
c. Kejang
d. Ensefalitis
9. Penatalaksanaan Campak
Menurut MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) tahun 2011,
penatalaksanaan pada kasus campak dilakukan berdasarkan klasifikasi campak,
diantaranya yaitu:
a. Campak Dengan Komplikasi Berat
Campak dengan komplikasi berat adalah penyakit campak dengan
tanda dan gejala: ada tanda bahaya umum atau kekeruhan pada kornea mata
atau luka dimulut yang dalam atau luas. Tindakan atau pengobatan yang
dilakukan pada klasifikasi campak ini adalah:
1) Beri dosis pertama vitamin A
Tabel 2.3
Dosis Vitamin A
Umur
< 6 Bulan

Dosis
50.000 IU (1/2 Kapsul
Biru)
6 Bulan 11 Bulan
100.000 (Kapsul biru)
12 Bulan 59 Bulan
200.000 (Kapsul
merah)
(Sumber: MTBS, 2011)
Vitamin A untuk suplementasi rutin untuk Bulan Februari &
Agustus. Untuk pengobatan campak dengan komplikasi pada mata
diberikan sesuai umur di atas pada hari 1, 2 dan 15.
2) Beri dosis pertama antibiotik yang sesuai. Mengajarkan ibu cara
pemberian obat oral dirumah:

a) Tentukan obat dan dosis yang sesuai dengan berat badan atau umur
b)
c)
d)
e)

anak.
Jelaskan alasan pemberian obat
Peragakan cara membuat satu dosis
Perhatikan cara ibu menyiapkan sendiri 1 dosis
Mintalah ibu memberikan dosis pertama pada anak bila obat harus

diberikan di klinik
f) Terangkan dengan jelas cara memberi obat dan tuliskan pada label obat
g) Jelaskan bahwa semua obat harus diberikan sesuai anjuran walaupun
anak telah menunjukkan perbaikan
h) Cek pemahaman ibu
3) Jika ada kekeruhan pada kornea atau mata bernanah, bubuhi tetes atau
salep mata kloramfenikol atau tetrasiklin tanpa kortikosteroid
Bersihkan kedua mata 3 kali sehari:
a) Cucilah tangan
b) Mintalah anak untuk memejamkan mata
c) Gunakan kapas basah untuk membersihkan nanah
Berikan obat tetes/salep mata Kloremfenikol/Tetrasiklin 3 kali sehari:
a) Mintalah anak melihat ke atas. Tarik kelopak mata bawah perlahan ke
arah bawah
b) Teteskan obat tetes mata atau oleskan sejumlah kecil salep dibagian
dalam kelopak mata bawah
c) Cuci tangan kembali
d) Obati sampai kemerahan hilang. Jangan menggunakan salep atau tetes
mata yang mengandung kortikosteroid atau memberi sesuatu apapun
dimata.
4) Jika demam tinggi (> 38o C) beri dosis pertama paracetamol
5) Rujuk segera

b. Campak Dengan Komplikasi Pada Mata dan atau Mulut

Tanda dan gejala yang dapat muncul yaitu: mata bernanah atau luka
dimulut. Tindakan atau pengobatan yang dilakukan diantaranya:
1) Beri vitamin A dosis pengobatan
2) Jika mata bernanah, bubuhi tetes atau salep mata kloramfenikol atau
tetrasiklin tanpa kortikosteroid
3) Jika ada luka dimulut ajari cara mengobati dengan gentian violet
Obati luka dimulut 2 x sehari selama 5 hari:
1) Cucilah tangan
2) Basuhlah mulut anak yang di bungkus kain bersih yang telah dibasahi
larutan garam
3) Oleskan gentian violet 0,25% (jika yang tersedia 1% encerkan 4 kali)
4) Cucilah tangan kembali
4) Jika anak sangat kurus berikan vitamin A sesuai dosis
5) Kunjungan ulang 2 hari
c. Campak
Klasifikasi campak tanpa komplikasi tidak ada tanda gejala diatas.
Pengobatan atau tindakan adalah: Beri vitamin A satu dosis

Menurut Rudolph, dkk (2006) penatalaksanaan medis yang dapat di


lakukan yaitu : campak jelas menurunkan cadangan vitamin A, yang
menimbulkan tingginya insiden xeroftalmia dan ulkus kornea pada anak yang
kurang gizi, WHO menganjurkan supplement vitamin A dosis tinggi di semua
daerah dengan defisiensi vitamin A. supplement vitamin A juga telah
memperlihatkan

penurunan

frekuensi

dan

keparahan

pneumonia

dan

laringotrakeobronkitis akibat kerusakan virus campak pada epitel traktus


respiraturius bersilia. Pada bayi usia di bawah 1 tahun diberi vitamin A
sebanyak 100.000 IU dan untuk pasien lebih tua diberikan 200.000 IU. Dosis
ini diberikan segera setelah diketahui terserang campak. Dosis kedua diberikan

hari berikutnya, bila terlihat tanda kekurangan vitamin A dimata dan diulangi 1
sampai 4 minggu kemudian.
C. Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan
1. Pengertian Pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan peningkatan jumlah dan ukuran sel pada saat
membelah diri dan mensintesis protein baru, menghasilkan peningkatan
ukuran dan berat seluruh atau sebagian sel (Wong, 2009).
Pertumbuhan merupakan cakupan dari perubahan fisik yang terjadi
sejak periode prenatal sampai masa dewasa lanjut yang dapat berupa
kemajuan atau kemunduran (Perry & Potter, 2009).

2. Pengertian Perkembangan
Perkembangan merupakan bertambahnya kemampuan (skill) struktur
dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, dalam pola teraur dan dapat
diramalkan, sebagai hasil dari pematangan atau maturitas (Soetjiningsih,
2013).
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang
lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa
serta sosialisasi dan kemandirian (Kemenkes RI, 2010)
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Balita
Menurut Soetjiningsih (2013), adapun faktor-faktor
mempengaruhi tumbuh kembang diantaranya :

yang

a. Faktor genetik
Faktor genetik merupakan modal dasar dan mempunyai peran
utama dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Melalui
instruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur telah dibuahi, dapat
ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan.
b. Faktor lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menetukan tercapai
tidaknya potensi genetik. Faktor lingkungan secara garis besar yaitu
lingkungan pranatal, lingkungan perinatal dan lingkungan pascanatal.
Pada lingkungan pascanatal faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang
anak digolongkan menjadi :
1) Faktor biologis
a) Ras/suku bangsa
Pertumbuhan somatik dipengaruhi oleh ras/suku bangsa. Bangsa
kulit putih/ras Eropa mempunyai pertumbuhan somatik lebih tinggi
dari pada bangsa Asia.
b) Jenis Kelamin
Pertumbuhan fisik dan motorik antara laki-laki dan perempuan
berbeda. Anak laki-laki lebih aktif bila dibandingkan dengan anak
perempuan.
c) Umur
Umur yang paling rawan adalah balita, terutama pada umur satu
tahun pertama, karena pada masa itu anak sangat rentan terhadap
penyakit dan sering terjadi kurang gizi.
d) Gizi

Makanan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang


anak. Kebutuhan anak berbeda dengan orang dewasa, karena bagi
anak, selain untuk aktivitas sehari-hari juga untuk pertumbuhan.
e) Perawatan kesehatan
Perawatan kesehatan yang teratur tidak saja dilaksanakan kalau
anak sakit, melainkan juga mencakup pemeriksaan kesehatan,
imunisasi, skrinning dan deteksi dini gangguan tumbuh kembang,
stimulasi dini, dll.
f) Kerentanan penyakit
Balita sangat rentan terhadap penyakit, sehingga angka kematian
balita juga tinggi, terutama kematian bayi.
g) Kondisi kesehatan krronis
Kondisi kesehatan kronis adalah keadaan yang perlu perawatan
terus menerus, tidak hanya penyakit melainkan juga kelainan
perkembangan.
h) Fungsi metabolisme
Pada anak, terdapat perbedaan proses metabolisme yang mendasar
diantara berbagai jenjang umur, maka kebutuhan akan berbagai
nutrien harus sesuai dengan umur.
i) Hormon
Hormon-hormon yang mempengaruhi

tumbuh

kembang

diantaranya: growth hormon, tiroid, hormon seks, insulin, IGFs


(Insulin like growth factors).
2) Faktor lingkungan fisik
a) Cuaca, musim, keadaan geografis di suatu daerah
Musim kemarau yang panjang, banjir, gempa bumi, atau bencana
alam dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.
b) Sanitasi
Sanitasi lingkungan memiliki peran yang cukup dominan terhadap
kesehatan anak dan tumbuh kembangnya.
c) Keadaan rumah

Struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian, dll


akan menjamin kesehatan penghuninya.
d) Radiasi
Tumbuh kembang anak dapat terganggu akibat adanya radiasi yang
tinggi
3) Faktor psikososial
a) Stimulasi
Stimulasi dari lingkungan merupakan hal yang penting untuk
kembang anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan
teratur akan lebih cepat berkembang daripada yang tidak.
b) Motivasi belajar
Motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini dengan memberikan
lingkungan yang kondusif untuk belajar, misalnya perpustakaan,
buku-buku, dll.
c) Kelompok sebaya
Anak memerlukan teman sebaya untuk bersosialisasi dengan
lingkungan.
d) Stres
Stres akan memepengaruhi tumbuh kembang, misalnya; menarik
diri, rendah diri, gagap, nafsu makan menurun dan bahkan bunuh
diri.
e) Cinta dan kasih sayang
Anak memerlukan kasih sayang dan perlakuan yang adil dari orang
tuanya, agar kelak ia menjadi anak yang tidak sombong dan bisa
memberikan kasih sayangnya pula.
f) Kualitas interaksi anak orangtua
Interaksi timbal ballik antara anak dan orang tua akan
menimbulkan keakraban dalam keluarga.
4) Faktor keluarga dan adat istiadat
a) Pekerja/pendapatan keluarga
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh
kembang anak.

b) Pendidikan ayah/ibu
Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting
untuk tumbuh kembang anak. Karena dengan pendidikan yang
baik, orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama
tentang cara :
(1) Pengasuhan anak
Pengasuhan adalah sebuah proses, yang di dalamnya
terdapat hubungan yang unik antara orang tua dan anak. Secara
umum, pengasuhan dapat dideskripsikan sebagai aksi dan
interaksi orang tua dalam memberikan kebutuhan dasar anak
untuk menunjang perkembangan dan pertumbuhan anak.
Seorang anak, terutama bayi dan balita sangat
membutuhkan dukungan dalam pengasuhan dari orang tua dan
juga

dari

lingkungan

sekitarnya.

Seorang

anak

akan

mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal


jika terjalin hubungan dua arah dengan orang, benda, maupun
simbol yang ia temukan pertama kali di lingkungan sekitarnya.
(2) Menjaga kesehatan anak
Menjaga kesehatan anak sangatlah penting dalam
menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak. Cara yang
dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan anak seperti menjaga
pola makan anak, menjaga kebersihan anak, istirahat yang
cukup, cepat bertindak jika anak sakit.
(3) Mendidik anak
Mendidik didefinisikan sebagai

usaha

untuk

memberikan pengajaran anak tentang materi serta pengetahuan


yang akan dijumpai nanti setelah dia dewasa seperti mengajak,

memotivasi, mendukung, membantu, menginspirasi anak untuk


melakukan tindakan positif yang bermanfaat bagi dirinya.
c) Kepribadian ayah/ibu
Kepribadian ayah dan ibu yang terbuka mempunyai pengaruh yang
berbeda terhadap tumbuh kembang anak, begitupun sebaliknya.
d) Pola pengasuhan
Pola pengasuhan yang diterapkan dalam keluarga bermacammacam,

seperti

pola

pengasuhan

permisif,

otoriter,

atau

demokratis.
e) Adat dan istiadat, norma, tabu
Adat istiadat yang berlaku disetiap daerah akan berpengaruh pada
tumbuh kembang anak
f) Agama
Pengajaran agama harus sudah ditanamkan pada anak-anak sedini
mungkin karena agama akan menuntunnya ke arah kebaikan.
4. Gangguan Tumbuh Kembang Pada Balita
Menurut Kemenkes RI (2010), ada beberapa gangguan tumbuh
kembang yang sering ditemukan diantaranya :
a. Gangguan Bicara dan Bahasa
Kemampuan
berbahasa
merupakan

indikator

seluruh

perkembangan anak. Karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap


keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya, sebab melibatkan
kemampuan kognitif, motor psikologis, emosi dan lingkungan sekitar
anak. Kurangnya stimulasi akan menyebabkan gangguan berbicara dan
berbahasa anak bahkan gangguan ini dapat menetap.
b. Cerebral Palsy
Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak
progresif, yang disebabkan oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada

sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang sedang tumbuh/belum


selesai pertumbuhannya.
c. Sindrom Down
Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenal
dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi
akibat adanya jumlah kromosom 21 yang berlebih. Perkembangannya
lebih lambat dari anak yang normal. Beberapa faktor seperti kelainan
jantung kongenital, hipotonia yang berat, masalah biologis atau
lingkungan lainnya dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan
motorik dan keterampilan untuk menolong diri sendiri.
d. Perawakan Pendek
Perawakan pendek merupakan suatu terminologi mengenai tinggi
badan yang berada di bawah persentil 4 atau -2 SD pada kurva
pertumbuhan yang berlaku pada populasi tersebut. Penyebabnya dapat
karena variasi normal, gangguan gizi, kelainan kromosom, penyakit
sistemik atau karena kelainan endokrin.
e. Gangguan Autisme
Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang
gejalanya muncul sebelum berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi
seluruh aspek pekembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan
berat, yang ditemukan pada autisme mencakup bidang interaksi sosial,
komunikasi dan perilaku.

5. Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan Balita


Menurut Wong (2009), adapun tahapan

pertumbuhan

perkembangan balita sebagai berikut :


Tabel 2.1
Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan Balita
Usia
(bulan)
15-17

18-23

24-29

30-35

Fisik

Motorik Kasar

Motorik Halus

Pertumbuhan mantap
pada tinggi dan berat
badan, lingkar kepala
48 cm, berat badan
11 kg, tinggi badan
78,7 cm

Berjalan
tanpa
bantuan
(Biasanya sejak
usia 13 bulan),
memanjat tangga,
berlutut
tanpa
sokongan,
berhenti tiba-tiba
kehilangan
seimbangan

Secara
konstan
menjatuhkan objek ke
lantai,
membangun
menara dari dua kotak,
memegang dua kotak
dalam satu tangan,
melepaskan butir-butir
ke dalamleher botol
yang sempit, mencoretcoret secara spontan

Berlari-lari secara
kikuk,
sering
jatuh,
berjalan
naik
tangga
dengan
satu
tangan, menarik
dan mendorong
mainan
Lingkar kepala 49 Naik dan turun
sampai
50
cm, tangga
sendiri
lingkar
dada
> dengan dua kaki
lingkar
kepala, pada
setiap
diameter lateral dada langkah,
berlai
>
anteroposterior, dengan seimbang
terjadi peningkatan dengan langkah
tinggi
badan lebar, menangkap
biasanya 10-12,5 cm, objek tanpa jatuh
gigi geligi utama 16
gigi
Empat kali lipat berat Melompat dengan
badan lahir, gigi kedua
kaki,
geligi utama (20 melompat
dari
gigi) lengkap, dapat kursi,
berdiri

Membangun
menara
tiga
sampai
empat
kotak,
membalik
halaman dalam buku,
dua atau tiga lembar
sekaligus,
mengatur
sendok tanpa memutar

Anoreksia fisiologis
(penurunan
kebutuhan
pertumbuhan)

Membangun
menara
dengan enam sampai
tujuh kotak, menyusun
dua atau lebih kotak
menyerupai
kereta,
membalik halaman buku
satu
sekali
waktu,
memencet bel pintu,
dalam
menggambar
sering meniru tekanan
vertikal dan melingkar
Membangun
menara
delapan
kotak,
menambah lubang asap
pada kereta dari kotak,

dan

mengontrol usus dan


kandung kemih di
siang hari

36-47

Penambahan
berat
badan umumnya 1,8
sampai
2,7
kg
ratarata berat badan
14,6 kg, penambahan
tinggi umumnya 7,
cm dengan rata-rata
95
cm,
terlah
mencapai
kontrol
malam hari terhadap
usus dan kandung
kemih

48

Frekuensi nada dan


pernapasan menurun
sedikit demi sedikit,
kecepatan
pertumbuhan serupa
dengan
tahun
sebelumnya,
berat
badan rata-rata 16,7
kg, tinggi badan ratarata 103 cm, panjang
saat lahir dua kali
lipat.

(Wong, 2009).

sebentar pada satu


kaki, mengambil
dua langkah pada
ujung ibu jari kaki

koordinasi jari baik


(memegang
crayon
bukan
menggenggamnya),
menggerakan jari secara
mandiri, menggambar
(meniru tekanan vertikal
dan
horizontal,
membuat
dua/lebih
tekanan
untuk
menyilang
Mengendarai
Membangun
menara
sepeda roda tiga, dari 9 atau 10 kotak,
melompat
dari membangun jembatan
lantai
dasar, dengan
tiga
kotak,
berdiri pada satu memasukkan biji-bijian
kaki
untuk ke dalam botol berleher
beberapa
detik, sempit secara benar,
menaiki tangga menggambar
(meniru
dengan
kaki lingkaran,
meniru
bergantian,
silangan, menyebutkan
melompat
apa
yang
telah
panjang, mencoba digambarkan)
berdansa
Melompat
dan Menggunakan gunting
meloncat
pada dengan
baik
untuk
satu
kaki, memotong
gambar
menangkap bola mengikuti garis, dapat
dengan
tepat, memasang sepatu tetapi
melempar
bola tidak mampu mengikat
bergantian tangan, talinya,
menggambar
berjalan menuruni (menyalin bentuk kotak,
tangga
dengan menjiplak garis silang
kaki gantian
dan
permata,
menambahkan
tiga
bagian pada gambar
jari)

D. Asuhan Keperawatan Campak


1. Pengkajian Keperawatan
a) Identitas
Meliputi nama anak, umur, suku bangsa, no register, tanggal masuk
rumah sakit, diagnosa medis.
b) Keluhan utama
Anak masuk rumah sakit biasanya dengan keluhan adanya eritema
dibelakang telinga, di bagaian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan
bagian belakang bawah, badan panas, eritema ( titik merah ) dipalatum
durum dan palatum mole.
c) Riwayat kesehatan sekarang
Pada anak yang terinfeksi virus campak biasanya ditanyakan pada
orang tua atau anak tentang kapan timbulnya panas, batuk, konjungtivitis,
bercak koplik dan eritema serta upaya yang telah dilakukan untuk
mengatasinya.
d) Riwayat kesehatan dahulu
Anak belum pernah mendapatkan vaksinasi campak dan pernah kontak
dengan pasien campak.
e) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah anak belum mendapatkan vaksinasi campak.
f) Riwayat imunisasi
Imunisasi apa saja yang sudah didapatkan misalnya BCG, POLIO I,II,
III; DPT I, II, III; dan campak.
g) Riwayat nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori
untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat
badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n.
Status Gizi, klasifikasinya sebagai berikut :
a) Gizi buruk kurang dari 60%
b) Gizi kurang 60 % - <80 %
c) Gizi baik 80 % - 110 %
d) Obesitas lebih dari 120 %
h) Riwayat tumbuh kembang anak

1) Riwayat pertumbuhan
Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam
kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2
+ 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4
tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia pra sekolah
rata rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk
perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan
umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB
pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5
tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 7,5
cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.
2) Tahap perkembangan.
1. Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa
bersalah.Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika
anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah dan
menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang
menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
2. Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase
oedipal/ falik ( 3-5 tahun ). Biasanya senang bermain dengan anak
berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat
dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke
ayahnya ).
3. Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap
preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase
pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum
sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar dan
magical thinking.
4. Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai
melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi,
memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskan
peraturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.
5. Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh

kegiatan

keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar salah untuk
menghindari hukuman.
6. Perkembangan body image

yaitu

mengenal

kata

cantik,

jelek,pendek-tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin,


membandingkan ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.
7. Perkembangan sosial yaitu berada pada fase Individuation
Separation . Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama
pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi
perpisahan dari orang tua walaupun dengan sedikit atau tidak
protes.
8. Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari
2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata
menjadi kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti
binatang, bagian tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat menerima
atau memberikan perintah sederhana.
9. Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan
permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang
lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia
mempunyai lingkungan luar.
10. Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain
yang

mempunyai

permainan

yang

mirip.Berkaitan

dengan

pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat,


berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda tiga.
i) Pemeriksaan fisik (head to toe)
1. Status kesehatan umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, tinggi badan, berat badan, dan
tanda-tanda vital.
2. Kepala dan leher
a) Inspeksi : Kaji bentuk kepala, keadan rambut, kulit kepala,
konjungtivitis, fotofobia, adakah eritema dibelakang telinga, di
bagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang
bawah.
b) Palpasi : adakah pembesaran kelenjar getah bening di sudut
mandibula dan didaerah leher belakang,

3. Mulut
Inspeksi : Adakah bercak koplik di mukosa bukalis berhadapan
dengan molar bawah, enantema di palatum durum dan palatum mole,
perdarahan pada mulut dan traktus digestivus.
4. Toraks
a) Inspeksi : Bentuk dada anak, Adakah batuk, secret pada
nasofaring, perdarahan pada hidung. Pada penyakit campak,
gambaran penyakit secara klinis menyerupai influenza.
b) Auskultasi : Ronchi / bunyi tambahan pernapasan.
5. Abdomen
a) Inspeksi : Bentuk dari perut anak. Ruam pada kulit.
b) Auskultasi : Bising usus.
c) Perkusi : Perkusi abdomen hanya dilakukan bila terdapat tanda
abnormal, misalnya masa atau pembengkakan.
6. Kulit
a) Inspeksi : Eritema pada kulit, hiperpigmentasi, kulit bersisik.
b) Palpasi : Turgor kulit menurun
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko kekurangan volume cairan b/d evaporasi
b. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d akumulasi sekret
c. Hipertermia b/d proses inflamasi penyakit
d. Kerusakan integritas kulit b/d defisit imunologi
e. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake
yang tidak adekuat
f. Gangguan persepsi sensori b/d konjungitivitis