Anda di halaman 1dari 9

Penetapan Plastisitas Tanah

251

21. PENETAPAN PLASTISITAS TANAH


S. Sutono, Maswar, dan Yusrial

1. PENDAHULUAN
Plastisitas adalah kemampuan butir-butir tanah halus untuk
mengalami perubahan bentuk tanpa terjadi perubahan volume atau
pecah. Tidak semua jenis tanah mempunyai sifat plastis. Tanah yang
didominasi oleh mineral pasir kuarsa dan pasir lainnya tidak mempunyai
sifat plastis walaupun ukuran partikelnya halus dan berapapun banyaknya
air ditambahkan. Semua mineral liat, mempunyai sifat plastis dan dapat
digulung mejadi benang/ulir tipis pada kadar air tertentu tanpa menjadi
hancur. Pada kenyataannya, semua tanah berbutir halus mengandung
sejumlah liat, maka kebanyakan tanah tersebut adalah plastis. Dalam hal
ini, tingkat plastisitas dapat juga dikatakan sebagai suatu indeks umum
untuk menggambarkan kandungan liat dari suatu tanah.
Tanah mengandung sedikit liat dikatakan agak plastis, sedangkan
tanah banyak mengandung liat disebut sangat plastis. Dalam praktek,
perbedaan plastisitas ditentukan oleh keadaan fisik tanah melalui
perubahan kadar air. Batas antara perbedaan kondisi plastis berdasarkan
kadar air tersebut disebut batas konsistensi atau batas atterberg. Jadi,
konsistensi tanah diartikan sebagai kondisi fisik dari butiran halus tanah
pada kondisi kadar air tertentu.
Penetapan plastisitas tanah khususnya diarahkan untuk
mengetahui berat atau ringannya pengolahan tanah, terutama jika
dilakukan menggunakan mesin pengolah tanah, seperti traktor.
2. PRINSIP ANALISIS
Apabila kumpulan butiran tanah halus dalam kondisi kering
diperlakukan dengan penambahan kadar air, maka air akan menyelimuti
butiran tersebut, dan secara berurutan kondisinya akan berubah dari
padat menjadi semiplastis, kemudian menjadi plastis, dan selanjutnya
menjadi cair. Dengan mengamati secara visual terhadap contoh tanah
yang mengandung butiran halus tersebut diperlakukan, akan dapat
disimpulkan bahwa tanah tersebut plastis atau tidak. Jadi, sebenarnya

Sutono et al.

252

tujuan dari penentuan plastisitas tanah adalah untuk menentukan dua


kondisi sifat tanah utama, yaitu batas cair dan batas plastis.
Pada awal abad 19, seorang ahli tanah asal Swedia, yaitu
atterberg melakukan satu pengujian untuk menentukan konsistensi butirbutir tanah halus, yang membagi butir tanah halus ke dalam empat
kondisi, yaitu padat, semiplastis, plastis, dan cair. Atterberg juga
mengelompokkan sifat kondisi tanah yang dipengaruhi oleh kadar air ke
dalam tiga kategori yaitu batas cair, batas plastis, dan batas mengkerut.
Indeks yang berubah-ubah ini telah disepakati untuk mendefinisikan
plastisitas tanah, yaitu batas cair (Bc), batas plastis (Bp), dan indeks
plastisitas (IP). Batas ini menyatakan secara kuantitatif pengaruh
perbedaan kadar air terhadap konsistensi dari butiran tanah halus, seperti
yang diperlihatkan pada Gambar 1. Pengelompokan tanah berdasarkan
pada grafik plastisitas ini dikembangkan oleh casagrande.

Volume tanah

Kondisi
padat

Kondisi
semiplastis

Kondisi
cair

Kondisi
plastis

Indek
plastisitas

Batas
kerut

Batas
plastis

Batas
cair

Kadar air (%)

Gambar 1. Hubungan antara kondisi tanah dan batas atterberg


Batas cair (Bc) adalah kadar air saat tanah berubah dari kondisi
cair menjadi bahan yang plastis, atau kadar air yang sesuai dengan batas
yang disepakati antara kondisi cair dan plastis dari kekentalan atau
konsistensi suatu tanah. Di atas nilai tersebut, tanah dianggap menjadi
cairan dan bersifat seperti mengalir dengan bebas di bawah pengaruh
beratnya sendiri. Di bawah nilai ini, tanah berubah bentuk karena
pengaruh tekanan tanpa menjadi hancur, dan tanah memperlihatkan
suatu keadaan plastis.

Penetapan Plastisitas Tanah

253

Batas plastis (Bp) adalah kadar air saat perubahan kondisi tanah
dari plastis menjadi semiplastis. Batas ini dicapai ketika tanah tidak lagi
lentur dan menjadi hancur di bawah tekanan. Antara batas cair dan batas
plastis disebut range of plasticity. Perbedaan kuantitatif kadar air antara
dua batas ini disebut indeks plastisitas (IP). Ini menggambarkan cakupan
kadar air ketika tanah dalam kondisi plastis.
Batas mengkerut (Bm) adalah kadar air ketika terjadi penurunan
atau peningkatan kadar air tanah antara kondisi padat dan semiplastis
tidak menjadi penyebab perubahan volume tanah. Kondisi padat dicapai
ketika contoh tanah sedang mengering, pada akhirnya mencapai suatu
batas atau volume minimum. Di luar titik ini, pengeringan lebih lanjut tidak
lagi mengurangi volume, tetapi bisa menyebabkan pecah.
Sejak awal dikembangkannya pada tahun 1950-an dan 1960-an
oleh Drucker dan Prager, teori plastisitas telah menjadi suatu kerangka
kerja untuk modeling sifat ketidak elastisan tanah. Saat ini, telah
mendapat perhatian dan dukungan yang lebih luas (Drucker et al., 1957;
Roscoe dan Burland, 1968; Lade, 1977; Desai, 1980). Sebagai contoh,
model hubungan liat (cam-clay) oleh Roscoe dan Schofield (1963) telah
berkembang luas menjadi suatu model konstitutif tentang hubungan yang
relatif sederhana dan memiliki parameter yang sedikit untuk
mendeskripsikan sifat-sifat mekanik utama dari liat.
Angka atterberg oleh American Society for Testing Material
(ASTM) juga telah dijadikan dasar dalam pembuatan gaya kohesif tanah
untuk pengembangan mesin-mesin pengolah tanah. Di sisi lain, angka
atterberg telah digunakan sebagai dasar pembuatan klasifikasi gaya
kohesif tanah untuk mekanisasi pertanian, dan juga banyak dimanfaatkan
untuk interpretasi ketahanan geser tanah, bearing capacity, pemampatan,
dan potensi mengembang.
3. PENETAPAN BATAS CAIR (BC)
Jika kadar air tanah melampau batas plastis, maka tanah akan
mencapai batas cair. Batas cair dapat ditetapkan menggunakan metode
casagrande atau drop cone penetrometer.

254

Sutono et al.

3.1. Metode Casagrande


3.1.1. Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah:
1. Perangkat ketuk untuk menetapkan
batas cair dan pembuat alur
2. Spatula
3. Timbangan dengan sensitivitas 0,01 g
4. Botol semprot
5. Oven
6. Lempeng kaca
7. Cawan aluminium

3.1.2. Prosedur
1. Butiran tanah kering udara berukuran < 2 mm ditimbang kira-kira
sebanyak 100 g, kemudian dicampur dengan air destilasi 15-20 ml,
diaduk merata sehingga berbentuk pasta.
2. Masukkan pasta tanah ke dalam mangkuk pada perangkat ketuk,
permukaan tanah diratakan agar ketebalan pasta sekitar 13 mm,
kemudian buatlah alur tegak lurus dengan permukaan mangkuk
menggunakan alat pembuat alur agar pasta tanah terbagi dua sama
besar.
3. Putar engkol perangkat ketuk dengan kecepatan 2 ketuk per detik
sampai alur tertutup menjadi selebar 13 mm. Catat jumlah putaran (N)
untuk mencapai penutupan alur menjadi 13 mm.
4. Ambil pasta tanah yang telah diketuk, kemudian ditimbang 10 g,
masukan ke dalam cawan aluminium, selanjutnya masukkan ke
o
dalam oven dengan suhu 105 C untuk mengetahui kandungan airnya
5. Bersihkan mangkuk pada perangkat ketuk dan keringkan, setelah
kering pekerjaan selanjutnya dapat diteruskan untuk contoh tanah
berikutnya.
6. Ulangi pekerjaan 1 - 5, sehingga diperoleh jumlah N yang sama.
Perbedaan jumlah N disebabkan tidak sempurnanya dalam
pembuatan adonan (pencampuran air dengan tanah). Jumlah ketukan
(N) sekitar 25, sebaiknya jumlah ketukan tidak lebih dari 35 dan tidak
kurang dari 15.

Penetapan Plastisitas Tanah

255

3.1.3. Perhitungan
1. Hitung persentase kadar air secara gravimetri (m) yang dinyatakan
-1
dalam kadar air tanah berdasarkan bobot kering tanah (% kg kg ).
Gunakan perhitungan kadar air pada Bab 2.
2. Buat kurva aliran dengan kadar air tanah sebagai absis secara linear
dan jumlah ketukan (N) sebagai ordinat secara semilogaritma.
3. Tentukan kadar air dengan N = 25 dari kurva aliran tersebut dan
dicatat sebagai batas cair (Bc).
3.2. Metode Casagrande satu nilai
Peralatan yang digunakan sama dengan metode casagrande
(3.1), dengan prosedur sama 1 - 5. Dalam metode ini, jumlah ketukan
berkisar antara 20 dan 30. Laboratorium Fisika Tanah, Balai Penelitian
Tanah Bogor menetapkan jumlah ketukan 25 untuk metode ini.
3.2.1. Perhitungan
1. Hitung persentase kadar air menggunakan perhitungan seperti pada
3.1.3.
2. Hitung batas cair menggunakan rumus:
Bc

= m (

N
25

0 , 12

Bc = Batas cair, m = kadar air tanah (gravimetrik), N = jumlah ketukan


3. Hasil perhitungan dicatat sebagai batas cair.
4. PENETAPAN BATAS PLASTIS (Bp)
Batas plastis dari gaya kohesif tanah adalah kandungan air tanah
minimum yang ditetapkan secara gravimetrik, dinyatakan dalam persen,
merupakan kadar air tanah pada batas perubahan dari agak padat
menjadi plastis pada tanah dalam bentuk benang remah setebal 3,2 mm.
Ketika benang tanah dilengkungkan menjadi patah, menunjukkan tandatanda tanah dalam keadaan remah. Tanah tanpa drainase mempunyai
gaya kohesif tanah dengan konsistensi setara 170 kPa. Batas plastis
ditetapkan dengan metode casagrande.

Sutono et al.

256
4.1. Peralatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Cawan aluminium
Spatula
Lempeng kaca
Botol semprot dan air bebas ion
Timbangan dengan sensitivitas 0,01 g
Oven untuk mengeringkan contoh tanah

4.2. Prosedur
1. Contoh tanah kering udara berukuran <2 mm, sebanyak 15 g
diletakkan di atas lempeng kaca, kemudian dicampur dengan air dan
diaduk secara merata.
2. Setelah air dan tanah tercampur rata, gosok tanah menggunakan
telapak tangan untuk membentuk benang tanah setebal 3,2 mm
sampai menunjukkan tanda-tanda remah.
3. Benang tanah sebanyak 8 g dipotong-potong menjadi beberapa
bagian, dimasukkan ke dalam cawan aluminium untuk ditetapkan
kadar airnya.
4. Ulangi pekerjaan 1 - 3 sebanyak tiga kali, agar diperoleh nilai ratarata kadar air tanah, sehingga diperoleh nilai batas plastis (Bp).
4.3. Perhitungan
1. Hitung persentase
memperoleh Bp.

kadar

air

dengan

prosedur

3.1.3.

untuk

2. Indeks plastisitas dihitung menggunakan persamaan.


IP = Bc - Bp
dimana: IP = indeks plastisitas, Bc = batas cair, Bp = batas plastis
3. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan indeks plastisitas, kecuali
jika (1) Bc dan Bp tidak dapat ditetapkan perbedaannya; (2) tekstur
tanah sangat berpasir, sehingga Bp tidak dapat ditetapkan; dan (3)
Bp > Bc dikatakan tanah tersebut tidak plastis (NP).

Penetapan Plastisitas Tanah

257

4.4. Catatan
1. Dari penetapan angka-angka atterberg, dapat dihitung indeks
likuiditas, IL, yang menunjukkan nilai konsistensi plastis sebagai
berikut:

IL =

m Bp
IP

dimana: IL = indeks cair (likuiditas), m = kadar air tanah (gravimetrik),


Bp = batas plastis, IP = indeks plastisitas
2. Juga dapat dihitung derajat plastisitas dari fraksi liat dengan
persamaan sebagai berikut:

A =

IP
% liat

dimana: A = derajat plastisitas fraksi liat, IP = indeks plastisitas, % liat


= total fraksi liat
3. Plastisitas tanah dapat digolongkan ke dalam kelas indeks plastisitas,
sebagai berikut:
Indeks plastisitas

Kelas

20 30

Tinggi

10 20
< 10

Sedang
Rendah

5. PENETAPAN BATAS KERUT (Bk)


Untuk mengetahui kemampuan mengembang dan mengkerutnya
suatu tanah perlu ditetapkan batas kerut (Bk).
5.1. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penetapan batas kerut tanah
adalah:
1. Cawan petri
2. Lempeng kaca
3. Bejana tempat air raksa

Sutono et al.

258
4.
5.
6.
7.

Cawan aluminium
Pipet (seperti untuk meneteskan obat tetes mata)
Timbangan
Desikator (dessicator).

5.2. Prosedur
1. Tanah kering yang berada di dalam desikator dikeluarkan dan segera
ditimbang.
2. Masukkan air raksa ke dalam bejana sampai penuh dan meluap,
bagian dinding luarnya dibersihkan dari sisa-sisa air raksa, kemudian
tempatkan di atas bejana lainnya yang ukurannya lebih besar.
3. Siapkan gumpalan tanah di atas lempeng kaca yang terikat erat
dengan garpu agar tidak jatuh ketika diletakkan ke dalam bejana
berisi air raksa.
4. Tutup bejana air raksa dengan lempeng kaca bertanah, permukaan
bejana rapat dengan permukaan kaca bertanah sampai tidak ada
udara dapat masuk ke dalam bejana air raksa. Tempatkan bagian
yang ada tanahnya di sebelah bawah. Air raksa yang meluap akan
ditampung dalam bejana yang lebih besar.
5. Air raksa yang meluap dan masuk ke dalam bejana yang lebih besar
ditimbang untuk diketahui bobotnya.
5.3. Perhitungan
1. Hitung volume gumpalan tanah kering menggunakan persamaan:
gHg
V=
13,55
dimana:V = volume tanah, gHg = bobot air raksa yang meluap
2. Batas kerut dihitung menggunakan persamaan:
a*v
Bk =

Ga
-

Gt

dimana: Bk = batas kerut; a = bobot air; t = bobot tanah kering; v =


volume tanah; Ga = berat jenis air pada suhu saat penetapan; dan Gt
berat jenis butiran tanah (PD)

Penetapan Plastisitas Tanah

259

6. DAFTAR PUSTAKA
Drucker, D. C, R. E. Gibson, and D. J. Henkel. 1957. Soil mechanics and
work hardening theories of plasticity. Trans. ASCE. 122:
338346.
Desai, C. S. 1980. A general basis for yield, failure and potential functions
in plasticity. Int. J. Num. Anal. Meth. Geom. 4: 361375.
Lade, P. V. 1977. Elasto-plastic stress-strain theory for cohesionless soil
with curved yield surfaces. Int.J. Sol. Struct. 13: 1.019
1.035.
Roscoe, K. H., and J. B. Burland. 1968. On the generalized behaviour of
wet clay. Engineering Plasticity 48: 535609.
Roscoe, K. H., and A. N. Schofield. 1963. Mechanical behaviour of an
idealised wet clay. Vol. 1: 4754. In Proc. European Conf.
on Soil Mechanics and Foundation Engineering,
Wiesbaden.