Anda di halaman 1dari 14

DASAR-DASAR PERENCANAAN PAJAK

Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah Manajemen Pajak

Dosen Pengampu : Desy Lesama, S.E., M.Si, Ak., CA, BKP

Disusun Oleh :
1. Thomas (13106)
2. Novia Wijaya (131068)
3. Kezia Marchelina (131079)
PA

UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS


Palembang
2016

Dasar- Dasar Perencanaan Pajak


Bagi negara, pajak adalah salah satu sumber penerimaan penting yang akan digunakan
untuk membiayai pengeluaran negara, baik pengeluaran rutin maupun pengeluaran
pembangunan. Dari segi ekonomi, pajak merupakan pemindahan sumber daya dari sektor
privat (perusahaan) ke sektor publik. Pemindahan sumber daya tersebut akan mempengaruhi
daya beli atau kemampuan belanja, sehingga bagi perusahaan, pajak merupakan beban yang
akan mengurangi laba bersih.
Maka dari itu, banyak perusahaan yang berusaha melakukan minimalisasi beban pajak
yang mulai dari yang masih berada dalam bingkai peraturan perpajakan sampai dengan yang
melanggar peratuan perpajakan. Upaya meminimalkan pajak secara eufimisme sering disebut
dengan perencanaan pajak (tax planning). Umumnya, perencanaan pajak merujuk pada
proses merekayasa usaha dan transaksi Wajib Pajak supaya utang pajak berada dalam jumlah
yang minimal tetapi masih dalam bingkai peraturan perpajakan. Beberapa faktor yang
memotivasi Wajib Pajak untuk melakukan penghematan pajak dengan ilegal, antara lain :
a. Semakin besar jumlah pajak, maka semakin besar pula kecenderungan Wajib Pajak
untuk melakukan pelanggaran
b. Semakin kecil biaya untuk menyuap fiskus, semakin besar kecenderungan Wajib
Pajak untuk melakukan pelanggaran
c. Semakin kecil kemungkinan suatu

pelanggaran

terdeteksi,

semakin

besar

kecenderungan Wajib Pajak untuk melakukan pelanggaran


d. Semakin ringan sanksi yang dikenakan terhadap pelanggarann, semakin besar
kecenderungan Wajib Pajak untuk melakukan pelanggaran
Konsep Manajemen Strategis dan Perencanaan Strategis
Perencanaan merupakan proses penentuan tujuan organisasi (perusahaan) dan kemudian
menyajikan (mengartikulasikan) dengan jelas strategi-strategi (program), taktik-taktik (tata
cara pelaksanaan program), dan operasi (tindakan) yang diperlukan untuk mencapai tujuan
perusahaan secara menyeluruh. Perencanaan strategis dalam organisasi merupakan salah satu
aspek dari materi manajemen strategis yang selalu diperlukan oleh organisasi. Dari sebutan
semula perencanaan perusahaan berkembang menjadi strategi perusahaan, perencanaan
strategis, kebijakan bisnis, dan akhirnya menjadi manajemen strategis, yang berisi bagaimana
pemimpin puncak suatu organisasi menanggapi perubahan lingkungan yang sangat kompleks

dan dinamis tersebut. Agar dapat mencapai tujuan, setiap perusahaan melakukan dua fungsi
pokok, yaitu :
a. Fungsi bisnis, yang meliputi bidang pemasaran, produksi, keuangan, sumber daya
manusia, penelitian dan pengembangan, dan sebagainya
b. Fungsi manajerial, yang meliputi perencanaan, perorganisasian, penggerakan, dan
pengawasan
Studi tentang manajemen strategis menekankan pada pemantauan dan evaluasi kesempatankesempatan dan hambatan-hambatan lingkungan, di samping kekuatan-kekuatan dan
hambatan-hambatan lingkungan, di samping kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan
perusahaan. Studi tentang kebijakan bisnis dengan orientasi integratifnya lebih melihat ke
dalam dengan berfokus pada penggunaan kekayaan secara efisien, dan kemudian
menekankan formulasi dari pedoman umum yang akan menyelesaikan misi dan tujuan
perusahaan lebih baik. Suatu penelitian dalam manajemen strategis menyimpulkan bahwa
suatu pengetahuan tentang manajemen strategis sangat penting bagi keberhasilan perusahaan
secara efektif. Penggunaan perencanaan strategis yang berdasarkan pada faktor eksternal dan
internl merupakan kunci pokok kerberhasilan perusahaan.
Tujuan Perusahaan
Perusahaan seharusnya mempunyai tujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang
saham (pemilik perusahaan) dengan cara memaksimalkan nilai perusahaan. Tujuan ini tidka
hanya merupakan kepentingan bagi para pemegang saham semata, namun juga akan
memberikan manfaat yang terbaik bagi masyarakat di lingkungan perusahaan.
Untuk menciptakan kesejahteraan pemegang saham, perusahaan dituntut agar memanfaatkan
sumber daya yang terbatas dan beroperasi pada tingkat produktivitas yang optimal. Ada
empat faktor penyebab mengapa perusahaan mempunyai tujuan, hal ini penting untuk
manajemen strategis, yaitu :
a.
b.
c.
d.

Tujuan membantu mendefinisikan organisasi dalam lingkungannya


Tujuan membantu mengoordinasikan keputusan dalam pengambilan keputusan
Tujuan menyediakan norma untuk menilai pelaksanaan prestasi organisasi
Tujuan merupakan sasaran yang lebih nyata daripada pernyataan misi

Risiko dan Pengaruh Pajak Atas Perusahaan


A. Risiko perusahaan
Keputusan melakukan investasi tidak bisa dipisahkan dari risiko yang harus dipikul
atau ditanggung. Ketika perusahaan akan memulai investasi dalam suatu proyek, ia
harus memperhitungkan penghasilan setelah pajak atas investasi yang akan
dilakukannya. Diperolehnya penghasilan ataupun dideritanya kerugian berhubungan
dengan risiko yang dihadapi. Salah satu risiko ini misalnya pengenaan pajak yang
tiba-tiba akibat adanya berbagai koreksi yang dilakukan pada saat pemeriksaan.
Beberapa risiko yang mungkin timbul karena investasi, antara lain :
a. Risiko penghasilan
Risiko ini timbul karena adanya ketidakpastian penerimaan operasi dari biaya
saat ini, ketidakpastian atas harga keluaran (output) perusahaan dibandingkan
dengan biaya (input) pada masa yang akan datang
b. Risiko modal
Risiko ini timbul karena ketidakpastian ekonomi atas biaya depresiasi sebab
aset yang cepat usang atau berganti mode. Akbiatnya aset yang diinvestasikan
menjadi sudah kuno sehingga tidak mampu bersaing lagi.
c. Risiko keuangan
Risiko ini timbul karena ketidakpastian tingkat biaya bunga atas dana
pinjaman, akibatnya mungkin perusahaan tidak mampu membayar kembali
pinjaman dan bunganya
d. Risiko inflasi
Risiko ini timbul karena ketidakpastian tingkat inflasi pada masa yang akan
datang. Ini akan berpengaruh terhadap penghasilan dan biaya untuk mengganti
aset perubahan di masa yang akan datang
e. Risiko atas keputusan yang tidak dapat diubah
Risiko ini timbul karena pembelian aset atau biaya yang sudah dikeluarkan
tidak dapat digunakan untuk keperluan lainnya. Oleh karena itu, investor harus
benar-benar memperhitungkannya
f. Risiko politik
Risiko ini timbul karena adanya perubahan atas kebijakan pemerintah,
misalnya kebijakan pemerintah dalam bidang perpajakan yang disesuaikan
dengan kondisi perekonomian suatu negara maupun untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan
B. Pengaruh Pajak terhadap Perusahaan
Besar pajak dipengaruhi oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Secara
administratif pungutan pajak dapat dikelompokkan menjadi pajak langsung dan pajak
tidak langsung. Dari aliran sumber daya pajak dapat dipungut dari aliran masuknya
atau aliran keluarnya sumber daya. Pajak langsung dikenakan atas masuknya aliran

sumber daya yaitu penghasilan, sedangkan pajak tidak langsung dikenakan terhadap
keluarnya sumber daya seperti pengeluaran untuk mengkonsumsi barang dan jasa.
Beban pajak langsung umumnya ditanggung oleh orang atau badan yang menerima
atau memperoleh penghasilan, sedangkan pajak tidak langsung oleh masyarakat. Bagi
perusahaan, pajak yang dikenakan terhadap penghasilannya dapat dianggap sebagai
beban/ biaya. Asumsi pajak sebagai biaya akan mempengaruhi laba, sedangkan
asumsi pajak sebagai distribusi laba akan mempengaruhi tingkat pengembalian atas
investasi. Apa pun asumsinya, secara ekonomis pajak merupakan unsur pengurang
laba yang tersedia untuk dibagi atau diinvestasikan kembali oleh perusahaan. Pajak
yang dianggap sebagai biaya, dan tentu saja biaya harus diminimalkan guna
mengoptimalkan laba. Pengelolaan kewajiban pajak sering diasosiasikan dengan suatu
elemen dalam manajemen dalam suatu perusahaan yang disebut manajemen pajak.
Manajemen pajak juga dapat disebut sebagai strategi penghematan pajak. Selain
istilah manajemen pajak, terdapat juga istilah penyelidikan pajak, penghindaran pajak,
perencanaan pajak, peringanan pajak, pergeseran pajak, perlindungan pajak,
perpajakan lintas pajak, dan penyeludupan pajak. Penghindaran pajak dan
penyeludupan pajak memiliki perbedaan. Penghindaran pajak merujuk pada rekayasa
pajak yang masih tetap dalam bingkai ketentuan perpajakan, sedangkan penyeludupan
pajak berada di luar bingkai peraturan perpajakan. Perencanaan pajak, penyelidikan
pajak, dan perlindungan pajak merupakan eufimisme dari penghindaran pajak.
Pergeseran pajak biasanya terdapat dalam pajak konsumsi dengan menggeser beban
pajak ke depan atau menggeser beban pajak ke belakang. Manajemen pajak
merupakan bagian dari manajemen keuangan, maka dari itu tujuan manajemen pajak
harus sejalan dengan tujuan manajemen keuangan, yaitu memperoleh likuiditas dan
laba yang memadai.

Manajemen Pajak
Manajemen pajak adalah sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan dengan benar tetapi
jumlah pajak yang dapat dibayar dapat ditekan serendah mungkin untuk memperoleh laba
dan likuiditas yang diharapkan.
Tujuan manajemen pajak dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Menerapkan peraturan perpajakan secara benar
b. Usaha efisiensi untuk mencapai laba dan likuiditas yang seharusnya
Tujuan manajemen pajak dapat dicapai melalui fungsi-fungsi manajemen pajak yang terdiri
atas :
a. Perencanaan pajak
b. Pelaksanaan kewajiban perpajakan
c. Pengendalian pajak
A. Perencanaan pajak
Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak. Pada tahap ini
dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar dapat
diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan. Pada umumnya
penekanan perencanaan pajak adalah meminimumkan kewajiban pajak. Apabila
tujuan perencanaan pajak adalah merekayasa agar beban dapat serendah mungkin
dengan memanfaatkan peraturan yang ada tetapi berbeda dengan tujuan pembuat
undang-undang, maka perencanaan pajak ini sama dengan penghindaran pajak.
Penghindaran pajak dapat terjadi di dalam bunyi ketentuan atau tertulis di undangundang dan berada dalam jiwa dari undang-undang atau dapat juga terjadi dalam
bunyi ketentuan undang-undang tetapi berlawanan dengan jiwa undang-undang.
Komite urusan fiskal dari Organization for Economic Cooperation and Development
(OECD) menyebutkan ada tiga karakter penghindaran pajak, yaitu :
a. Adanya unsur artifisial di mana berbagai pengaturan seolah-olah terdapat di
dalamnya padahal tidak, dan ini dilakukan karena ketiadaan faktor pajak
b. Skema semacam ini sering memanfaatkan loopholes dari undang-undang atau
menerapkan ketentuan-ketentuan legal untuk berbagai tujuan, padahal bukan itu
yang sebetulnya dimaksudkan oleh pembuat undang-undang
c. Kerahasiaan juga sebagai bentuk dari skema ini di mana umumnya para
konsultasn menunjukkan alat atau cara untuk melakukan penghindaran pajak
dengan syarat Wajib Pajak menjaga serahasia mungkin

Perencanaan perpajakan pada umumnya selalu dimulai dengan meyakinkan apakah


suatu transaksi atau fenomenas terkena pajak. Kalau fenomena tersebut terkena pajak,
apakah dapat diupayakan untuk dikecualikan atau dikurangi jumlah pajaknya,
selanjutnya apakah pembayaran pajak dimaksud dapat ditunda pembayarannya, dan
lain sebagainya. Oleh karena itu, setiap Wajib Pajak akan membuat rencana
pengenaan pajak atas setiap tindakan secara seksama. Dengan demikian, bisa
dikatakan bahwa perencanaan pajak adalah proses pengambilan faktor pajak yang
relevan dan faktor nonpajak yang material untuk menentukan :
a.
b.
c.
d.

Apakah
Kapan
Bagaimana
Dengan siapa (pihak mana) dilakukan transaksi, operasi dan hubungan dagang
yang memungkinkan tercapainya beban pajak pada tax events yang serendah
mungkin dan sejalan dengan tercapainya tujuan perusahaan

ASPEK FORMAL DAN ADMINISTRATIF PERENCANAAN PAJAK


Kewajiban perpajakan bermula dari implementasi undang-undang perpajakan. Oleh
karena itu, ketidakpatuhan terhadap undang-undang dapat dikenakan sanksi, baik
sanksi administrasi maupun sanksi pidana. Sanksi administrasi maupun sanksi pidana
merupakan pemborosan sumber daya sehingga perlu dihindari melalui suatu
perncanaan pajak yang baik. Untuk dapat menyusun perencanaan pajak yang baik
diperlukan

pemahaman

tentang

perturan

perpajakan

dan

selaras

dengan

pengelompokan hukum pajak aspek formal administratif maupun aspek material


substantif perlu untuk dimengerti dan dipahami untuk dapat menghindari sanksi
administratif maupun pidana. Pungutan pajak melalui DJP berdasarkan undangundang yang berlaku adalah PPh, PPN, PBB, bea materai, dan BPHTB. Aspek
administratif dari kewajiban perpajakan meliputi kewajiban mendaftarkan diri untuk
memperoleh

NPWP

dan

Pengukuhan

Pengusaha

Kena

Pajak

(PKP),

menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan, membayar pajak, menyampaikan


SPT, di samping memotong atau memungut pajak. Kewajiban perpajakan berakhir
pada saat pelunasan oleh Wajib Pajak. Perpajakan membedakan antara assessment
dengan pembayaran pajak. Assessment yang berlaku saat ini adalah self assessment
yaitu kewajiban untuk menghitung sendiri, membayar sendiri, dan melaporkan
sendiri. Sedangkan sistem pembayaran yang berlaku dapat dilakukan oleh Wajib
Pajak (self assessment system) maupun melalui pemotongan oleh pihak ketiga.

ASPEK MATERIAL DALAM PERENCANAAN PAJAK


Pajak dikenakan terhadap objek pajak yang dapat berupa keadaan, perbuatan, maupun
peristiwa. Basis perhitungan pajak adalah objek pajak. Maka untuk mengoptimalkan
alokasi sumber dana, manajemen akan merencanakan pembayaran pajak yang tidak
lebih dan tidak kurang. Untuk itu objek pajak harus dilaporkan secara benar dan
lengkap. Pelaporan objek pajak yang benar dan lengkap harus bebas dari rekayasa
negatif.
PENGHINDARAN SANKSI PAJAK
Sanksi adiministratif dapat berupa denda, bungan maupun kenaikan. Sanksi tersebut
merupakan denda keuangan yang merupakan pemborosan dana. Sedangkan sanksi
pidana berupa penjara dan/atau denda keuangan. Walaupun perusahaan telah
memenuhi kewajiban perpajakan secara formal, tetapi jika substansi menunjukkan
lain

atau

motivasi

rekayasa

tidak

sesuai

dengan

jiwa

dari

ketentuan

perpajakan,administrasi pajak (fiskus) dapat menganggap bahwa Wajib Pajak kurang


patuh dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Setidak-tidaknya terdapat tiga hal
yang harus diperhatikan dalam suatu perencanaan pajak :
a. Tidak melanggar ketentuan perpajakan
b. Secara bisnis masuk akal
c. Bukti-bukti pendukung yang memadai
B. Pelaksanaan Kewajiban Perpajakan
Apabila pada tahap perencanaan pajak telah diketahui faktor-faktor yang akan
dimanfaatkan untuk melakukan penghematan pajak, maka langkah selanjutnya adalab
mengimplementasikannya baik secara formal maupun material. Harus dipastikan
bahwa pelaksanaan kewajiban perpajakan telah memenuhi peraturan perpajakan yang
berlaku. Untuk mencapai tujuan manajemen pajak ada dua hal yang perlu dikuasasi
dan dilaksanakan yaitu :
a. Memahami ketentuan peraturan perpajakan
b. Menyelenggarakan pembukuan yang memenuhi syarat
C. Pengendalian Pajak
Pengendalian pajak bertujuan untuk memastikan bahwa kewajiban pajak telah
dilaksanakan sesuai dengan yang telah direncanakan dan telah memenuhi persyaratan
formal maupun material. Hal terpenting dari pengendalian pajak adalah pemeriksaan

pembayaran pajak, maka dari itu pengendalian arus kas sangat penting dalam strategi
penghematan pajak.
Motivasi Dilakukan Perencanaan Pajak
Motivasi yang mendasari dilakukannya suatu perencanaan pajak umumnya bersumber dari
tiga unsur perpajakan, yaitu :
a. Kebijakan perpajakan
b. Undang-undang perpajakan
c. Administrasi perpajakan
A. Kebijakan Perpajakan
Kebijakan perpajakan merupakan alternatif dari berbagai sasaran yang hendak dituju
dalam sistem perpajakan. Dari berbagai aspek kebijakan pajak, terdapat faktor-faktor
yang mendorong dilakukannya suatu perencanaan pajak
JENIS PAJAK YANG DIPUNGUT
Dalam sistem perpajakan modern, terdapat berbagai jenis pajak yang harus menjadi
pertimbangan utama, baik berupa pajak langsung maupun pajak tidak langsung dan
cukai, seperti :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Pajak penghasilan badan dan orang pribadi


Pajak atas keuntungan modal
Withholding tax atas gaji, dividen, sewa, bunga, royalti dan lain-lain
Pajak atas impor, ekspor, serta bea masuk
Pajak atas undian/hadiah
Bea materai
Capital transfer taxes/transfer duties
Lisensi usaha dan pajak perdagangan lainnya

Terdapat berbagai kewajiban jenis pajak yang harus dibayar di mana masing-masing
jenis pajak tersebut mempunyai sifat perlakuan pajak sendiri-sendiri.Misal, bea masuk
dianggap sebagai biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan kena pajak atau bisa
minta di restitusi apabila kita melakukan ekspor barang.
SUBJEK PAJAK
Adanya perbedaan perlakuan perpajakan atas pembayaran dividen badan usaha
kepada pemegang saham perorangan dan kepada pemegang saham berbentuk badan
usaha menyebabkan timbulnya usaha untuk merencanakan pajak dengan baik agar

beban pajak rendah sehingga sumber daya perusahaan bisa dimanfaatkan untuk tujuan
yang lain.
OBJEK PAJAK
Adanya perlakuan perpajakan yang berbeda atas objek pajak yang secara ekonomis
hakikatnya sama, akan menimbulkan usaha perencanaan pajak agar beban pajaknya
rendah. Objek pajak merupakan basis perhitungan besarnya pajak
TARIF PAJAK
Adanya penerapan schedular taxation tarif yang diterapkan di Indonesia
mengakibatkan seorang perencana pajak berusaha sedapat mungkin agar dikenakan
tarif yang paling rendah.
PROSEDUR PEMBAYARAN PAJAK
Sistem self-assessment dan sistem pembayaran mengharuskan perencana pajak untuk
merencanakan pajaknya dengan baik.
B. Undang-Undang Perpajakan
Fakta membuktikan bahwa tidak ada undang-undang yang mengatur secara sempurna.
Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya selalu diikuti oleg ketentuan-ketentuan lain
(misal : Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan dan lain-lain). Tidak
jarang ketentuan yang baru dikeluarkan bertentangan dengan undang-undang yang
berlaku karena bersifat menyesuaikan, sehingga lahirlah celah bagi Wajib Pajak untuk
menganalisis kesempatan tersebut dengan cermat.

C. Administrasi Perpajakan
Secara umum motivasi

dilakukannya

perencanaan

pajak

adalah

untuk

memaksimalkan laba setelah pajak, karena pajak ikut mempengaruhi pengambilan


keputusan atas suatu tindakan dalam operasi perusahaan untuk memberikan perlakuan
yang berbeda atas objek yang secara ekonomi hakikatnya sama (karena pemerintah
mempunyai tujuan lain tertentu) dengan memanfaatkan :
a. Perbedaan tarif pajak
b. Perbedaan perlakuan atas objek pajak sebagai dasar pengenaan pajak
c. Loopholes, shelters, dan havens

Tahapan dalam Membuat Perencanaan Pajak


Dalam arus globalisasi dan tingkat persaingan yang semakin tinggi, seorang manajer dalam
membuat suatu perencanaan pajak sebagaimana strategi perencanaan perusahaan secara
keseluruhan harus memperhitungkan adanya kegiatan yang bersifat lokal maupun
internasional. Agar perencanaan pajak dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan, maka
rencana itu seharusnya dilakukan melalui berbagai urutan tahap-tahap berikut :
a.
b.
c.
d.
e.

Menganalisis informasi yang ada


Menbuat satu model atau lebih rencana kemungkinan besarnya pajak
Mengevaluasi pelaksanaan rencana pajak
Mencari kelemahan dan kemudian memperbaiki kembali rencana pajak
Memutakhirkan rencana pajak

A. Menganlisis Informasi yang ada


Hal ini merupakan tahap awal dan dilakukan dengan mempertimbangkan masingmasing elemen dari pajak, baik secara sendiri-sendiri maupun secara total pajak yang
harus dapat dirumuskan sebagai perencanaan pajak yang paling efisien. Seorang
manajer perpajakan harus memerhatikan faktor-faktor baik internal maupun eksternal,
yaitu :
a. Faktor yang relevan
b. Faktor pajak
c. Faktor non pajak lainnya

FAKTOR YANG RELEVAN


Manajer perusahaan dalam melakukan perencanaan pajak untuk perusahaannya
dituntut untuk benar-benar menguasai situasi yang dihadapi agar perencanaan pajak
dapat dilakukan secara tepat dan menyeluruh terhadap situasi maupun transaksitransaksi yang mempunyai dampak dalam perpajakan. Contohnya, ruang lingkup
kegiatan penjualan produksinya harus diidentifikasikan apakah suatu produk yang
akan dijual tergolong sebagai objek pengenaan pajak penjualan barang mewah atau
tidak.
FAKTOR-FAKTOR PAJAK
Dalam menganalisis setiap permasalahan yang dihadapi dalam penyususnan
perencanaan pajak tidak terlepas dari dua hal utama yang berkaitan dengan faktorfaktor :
a. Sistem perpajakan nasional yang dianut oleh negara
b. Sikap fiskus dalam menafsirkan peraturan perpajakan baik undang-undang
domestik maupun kebijakan perpajakan
Kedua hal utama sebelumnya akan diuraikan secara komprehensif sebagai berikut :

Jenis Pajak yang Ada


Pemerintah membuat suatu kebijakan perpajakan berbagai jenis pajak yang
disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapainya. Seorang manajer, dalam
merencanakan pajak harus mengetahui secara pasti apa saja kewajiban
perpajakan yang dihadapi baik pajak lokal maupun pajak luar negeri
seandainya perusahaan berhubungan dengan perusahaan di luar nageri,
misalnya ada Pajak Penghasilan (PPh) final selain PPh umum yang diatur

dalam UU Pajak Penghasilan.


Masalah Penafsiran atas Suatu Undang-Undang/Perjanjian
Masalah yang sering timbul dalam menentukan definisi dari suatu masalah
istilah, baik dalam konteks sistem legal yang dianut maupun dalam
hubungannya dengan sistem yang lain ataupun dalam suatu perjanjian adalah
masalah penafsiran atas suatu undang-undang atas perjanjian. Masalahmasalah perencanaan pajak internasional sering timbul terutama disebabkan
oleh pengenaan pajak berganda baik oleh negara domisili maupun negara
sumber, karena masing-masing negara menerapkan konsep perpajakan yang
berbeda. Perjanjian umumnya merumuskan istilah-istilah tertentu yang

digunakan, namun dalam hal tidak didefinisikan secara khusus, sebagai


rujukan tunduk pada ketentuan undang-undang lokal dari negara yang

bersangkutan.
Faktor Penghubung
Kewajiban perpajakan sangat bergantung pada keberadaan faktor penghubung
antara yurisdiksi perpajakan pada satu sisi dan Wajib Pajak atau peristiwa kena
pajak di sisi lain. Dalam hal Wajib Pajak perorangan yang menjadi faktor
penghubung utama adalah residen/domisili dan kewarganegaraan, sedangkan
dalam hal Wajib Pajak Badan yang menjadi faktor penghubung adalah
manajemen dan pengawasan, kepemilikan, tempat kedudukan manajemen dan
tempat didirikannya badan tersebut, serta faktor penghubung penting lainnya

adalah pusat kepentingan ekonomi maupun keberadaan bentuk usaha tetap.


Residen/Domisili dan Kebangsaan Pembayar Pajak
Dalam melakukan perencanaan pajak, banyak Wajib pajak yang
memanfaatkan faktor residen/domisili yaitu dengan cara sengaja memiliki atau
mempunyai residen lebih dari satu negara demi kepentingan pajak. Domisili
maupun kebangsaan juga menjadi bahan pertimbangan. Untuk menghindari
pembayaran pajak, banyak negara yang berusaha menciptakan suatu faktor
penghubung yang lebih luas, agar usaha pengurangan beban pajak oleh

seseorang bisa diminimalkan atau dicakup oleh undang-undang.


Bentuk Badan dari Pembayar Pajak
Perlakuan pajak terhadap bentuk badan Wajib Pajak, apakah perseroan,
perseorangan, persekutuan, perserikatan, atau bentuk badan lainnyaakan
berbeda. Perbedaan perlakuan pajak terhadap bentuk badan dapat berupa tarif
yang dikenakan, beban pajak, dan pengurangan-pengurangan yang diberikan.
Hal lain yang relevan juga seperti apakah subjek pajak merupakan perusahaan
tertutup, perusahaan go public, pedagang besar, pedagang ritel, importir, orang
yang sudah menikah, pensiun, kepala keluarga, yayasan, dan lain-lain akan

mempengaruhi kewajiban perpajakannya.


Sumber Penghasilan
Bagi negara yang menganut sistem perpajakan skeduler maka dasar
pertimbangan dikenakan pajak atau tidak adalah sumber penghasilan. Negara
yang menganut sistem ini akan mempunyai peraturan tersendiri, perhitungan
tersendiri, bahkan sistem adiminitrasi sendiri. Sudah menjadi peraturan umum
bahwa penghasilan dan kerugiandalam sistem ini tidak dapat dikompensasikan
satu dengan lainnya. Pertimbangan lainnya mencakup sumber geografi

maupun pihak penjual atau pihak prinsipal yang menjadi faktor penghubung
antara yuridiksi pajak dengan peristiwa kena pajak.