Anda di halaman 1dari 27

PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK CURAH

I.

Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa mampu:
Membuat biodiesel dari minyak curah
Menganalisa kualitas produk ( biodiesel) yang dihasilkan dari

minyak curah
Membedakan proses esterifikasi dan transesterifikasi pada
pembuatan biodiesel

II.

Alat dan Bahan


2.1. Alat yang digunakan:

Gelas kimia
Erlenmeyer
Corong pisah
Spatula
Hot plate
Neraca analitik
Pipet tetes
Pipet ukur
Bola karet
Gelas ukur
Stirrer
Viscometer
Piknometer
Flash point tester

2.2. Bahan yang digunakan:

Minyak curah
Methanol
NaOH
Indicator PP
Aquadest

III.

Hcl
KOH

Dasar Teori
Biodiesel adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari sumberdaya
hayati yang berupa minyak lemak nabati atau lemak hewani. Senyawa
utamanya adalah ester. Ester mempunyai rumus bangun sebagai berikut :

Gambar 1 Rumus bangun ester


Biodiesel dapat dibuat dari transesterifikasi asam lemak. Asam lemak dari
minyak lemak nabati direaksikan dengan alkohol menghasilkan ester dan
produk samping berupa gliserin yang juga bernilai ekonomis cukup tinggi.
Biodiesel telah banyak digunakan sebagai bahan bakar pengganti solar.
Bahan baku biodiesel yang dikembangkan bergantung pada sumber daya alam
yang dimiliki suatu negara, minyak kanola di Jerman dan Austria, minyak
kedelei di Amerika Serikat, minyak sawit di Malaysia, dan minyak kelapa di
Filipina Indonesia mempunyai banyak sekali tanaman penghasil minyak
lemak nabati, diantaranya adalah kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, jarak,
nyamplung, dan lain-lain. Beberapa tanaman yang potensial untuk bahan baku
biodiesel dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Beberapa tanaman penghasil minyak di Indonesia

Nama latin

Elaeis guineensis

Nama

Nama

lain

Indonesia

(daerah)

Kelapa sawit

Sawit, kelapa sawit

Ricinus communis

Jarak (kastroli)

Kaliki,

jarag

(Lampung)
Jatropha curcas

Jarak pagar

Ceiba pentandra

Kapok

Randu

(Sunda,

Jawa)
Chalopyllum

Nyamplung

nyamplung

Bidaro

Bidaro

inophyllum
Ximena americana

(Sumber : Pusat Penelitian Energi ITB)


Agar dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti solar, biodiesel harus
mempunyai kemiripan sifat fisik dan kimia dengan minyak solar. Salah satu
sifat fisik yang penting adalah viskositas. Sebenarnya, minyak lemak nabati
sendiri dapat dijadikan bahan bakar, namun, viskositasnya terlalu tinggi
sehingga tidak memenuhi persyaratan untuk dijadikan bahan bakar mesin
diesel. Perbandingan sifat fisik dan kimia biodiesel dengan minyak solar
disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 perbandingan sifat fisik dan kimia biodiesel dan solar

Sifat fisik /

Biodiesel

Solar

Ester

Hidrokarbon

kimia
Komposisi

alkil
Densitas,

0,8624

0,8750

5,55

4,6

172

98

62,4

53

Energi yang

40,1

45,3 MJ/kg

dihasilkan

MJ/kg

g/ml
Viskositas,
cSt
Titik
kilat, oC
Angka
setana

(Sumber : Internasional Biodiesel, 2001)


Dibandingkan dengan minyak solar, biodiesel mempunyai beberapa
keunggulan. Keunggulan utamanya adalah emisi pembakarannya yang ramah
lingkungan karena mudah diserap kembali oleh tumbuhan dan tidak
mengandung SOx. Perbandingan emisi pembakaran biodiesel dengan minyak
solar disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3 perbandingan emisi pembakaran biodiesel dengan solar

Senyawa emisi

Biodiesel

Solar

SO2, ppm

78

NO, ppm

37

64

NO2, ppm

CO, ppm

10

40

Partikulat,

0,25

5,6

Benzen, mg/Nm3

0,3

5,01

Toluen, mg/Nm3

0,57

2,31

Xilen, mg/Nm3

0,73

1,57

mg/Nm3

Etil

benzen,

0,3

0,73

mg/Nm3
(Sumber : Internasional Biodiesel, 2001)
Selain itu, beberapa keunggulan biodiesel yang lain adalah :

Lebih aman dalam penyimpanan karena titik kilatnya lebih tinggi

Bahan bakunya terbaharukan

Angka setana tinggi

Trigliserida
Minyak atau lemak adalah substansi yang bersifat non soluble di air
(hidrofobik) terbuat dari satu mol gliserol dan tiga mol asam lemak. Minyak
atau lemak juga biasa dikenal sebagai trigliserida (Sonntag, 1979). Struktur
kimia trigliserida disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2 Rumus bangun trigliserida


R1, R2, dan R3 merupakan rantai hidrokarbon yang berupa asam lemak
dengan jumlah atom C lebih besar dari sepuluh. Senyawa inilah yang akan
dikonversi menjadi ester melalui reaksi transesterifikasi.
Indonesia memiliki banyak sekali tumbuhan penghasil minyak lemak
nabati bahan baku produksi biodiesel. Kekayaan alam ini masih belum banyak
dikembangkan.

Asam Lemak Bebas


Selain mengandug trigliserida, minyak lemak nabati juga mengandung
asam lemak bebas (free fatty acid), fosfolipid, sterol, air, odorants, dan
pengotor-pengotor lainnya. Di antara kandungan-kandungan tersebut yang
perlu diperhatikan ialah asam lemak bebas.
Asam lemak bebas merupakan pengotor yang tidak boleh ada dalam reaksi
transesterifikasi. Asam lemak bebas bereaksi dengan basa (katalis reaksi
transesterifikasi) membentuk sabun dan air. Selain itu, reaksi transesterifikasi
menghasilkan produk samping berupa gliserin. Sabun sulit dipisahkan dari
gliserin, sehingga adanya asam lemak bebas dalam reaksi transesterifikasi
dapat menyebabkan kesulitan dalam pemisahan produk.
Alkohol
Alkohol digunakan sebagai reaktan dalam reaksi esterifikasi maupun
transesterifikasi. Alkohol yang sering digunakan adalah metanol, etanol,
propanol, dan isopropanol. Dalam skala industri, metanol lebih banyak
digunakan karena harganya lebih murah daripada alkohol yang lain.
Alkohol diumpankan dalam reaksi esterifikasi maupun transesterifikasi
dalam jumlah berlebih untuk mendapatkan konversi maksimum. Pemakaian
alkohol yang berlebih tentu saja menambah biaya produksi pembuatan
biodiesel, oleh karena itu alkohol sisa di daur ulang.
Katalis
Seperti reaksi kimia pada umumnya, pada reaksi esterifikasi dan
transesterifikasi ditambahkan katalis untuk mempercepat laju reaksi dan
meningkatkan perolehan.
(i) Katalis Reaksi Esterifikasi

Reaksi esterifikasi berjalan baik jika dalam suasana asam. Katalis yang
sering digunakan untuk reaksi ini adalah asam mineral kuat, garam, gel silika,
dan resin penukar kation.
Asam mineral yang banyak dipakai adalah asam klorida, asam sulfat, dan
asam fosfat. Asam klorida banyak dipakai untuk skala laboratorium, namun
jarang dipakai untuk skala industri karena sangat korosif. Asam fosfat jarang
digunakan sebagai katalis karena memberikan laju reaksi yang relatif lambat.
Asam sulfat paling banyak digunakan dalam industri karena memberikan
konversi tinggi dan laju reaksi yang relatif cepat.
Selain asam mineral, katalis yang sering dipakai adalah resin penukar
kation. Keunggulan katalis ini adalah fasanya yang padat sehingga
pemisahannya lebih mudah dan dapat dipakai berulang. Selain itu, ester yang
terbentuk tidak perlu dinetralkan. Namun, resin penukar kation merupakan
katalis yang mahal dibandingkan dengan asam mineral.

(ii) Katalis Reaksi Transesterifikasi


Katalis yang sering digunakan untuk reaksi transesterifikasi yaitu alkali,
asam, atau enzim. Penggunaan enzim masih belum umum dibandingkan alkali
dan basa karena harganya mahal dan belum banyak penelitian yang membahas
kinerja katalis ini.
Alkali yang sering digunakan yaitu natrium metoksida (NaOCH3), natrium
hidroksida (NaOH), kalium hidroksida (KOH), kalium metoksida, natrium
amida, natrium hidrida, kalium amida, dan kalium hidrida (Sprules and Price,
1950). Natium hidroksida dan natrium metoksida merupakan katalis yang
paling banyak digunakan. Natrium metoksida lebih efektif dibandingkan
natrium hidroksida (Fredman et. al., 1984; Hartman, 1956) tetapi harganya
lebih mahal dan beracun. Untuk perbandingan molar alkohol dan asam lemak
6:1, perolehan ester untuk NaOH 1% dan NaOCH 3 0,5% hampir sama setelah

direaksikan selama 60 menit Namun, pada perbandingan molar alkohol dan


asam lemak 3:1, katalis natrium metoksida menunjukkan hasil yang lebih baik
(Fredman et. al., 1984).
Kalium hidroksida (KOH) mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan
dengan katalis lainnya. Pada akhir proses, KOH yang tersisa dapat dinetralkan
dengan asam fosfat menjadi pupuk (K3PO4) sehingga proses produksi
biodiesel dengan katalis KOH tidak menghasilkan limbah cair yang berbahaya
bagi lingkungan. Selain itu, KOH dapat dibuat dari abu pembakaran limbah
padat pembuatan minyak nabati.
Asam yang dapat digunakan diantaranya asam sulfat (H2SO4), asam fosfat,
asam klorida, dan asam organik. Katalis asam yang paling banyak banyak
dipakai adalah asam sulfat.
Pada kondisi operasi yang sama, katalis alkali jauh lebih cepat daripada
katalis asam (Fredman et. al., 1984). Alkali dapat memberikan perolehan yang
tinggi untuk waktu reaksi sekitar 1 jam sedangkan asam baru memberikan
perolehan ester yang tinggi setelah bereaksi selama 3-48 jam. Pada alkali
perolehan ester akan memuaskan untuk perbandingan molar alkohol dan asam
lemak 6:1 sedangkan pada asam baru memberikan perolehan ester yang
memuaskan untuk perbandingan molar alkohol dan asam lemak 30:1. Tetapi,
katalis alkali tidak mengizinkan adanya kandungan asam lemak bebas dalam
jumlah besar pada reaktan karena akan terjadi reaksi penyabunan. Oleh karena
itu, untuk minyak nabati yang banyak mengandung asam lemak bebas dan air
maka penggunaan katalis asam patut dipertimbangkan.
Reaksi Pembuatan Biodiesel
Ester dapat dibuat dari minyak lemak nabati dengan reaksi esterifikasi atau
transesterifikasi atau gabungan keduanya.
(i) Reaksi Esterifikasi

Reaksi esterifikasi merupakan reaksi antara asam lemak bebas dengan alkohol
membentuk ester dan air. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi endoterm,
sehingga memerlukan pasokan kalor dari luar. Temperatur untuk pemanasan
tidak terlalu tinggi yaitu 55-60 oC (Kac, 2001). Secara umum reaksi
esterifikasi adalah sebagai berikut :

Asam lemak bebas


ester alkil
Reaksi

esterifikasi

alkohol

air
dapat

dilakukan

sebelum

atau

transesterifikasi. Reaksi esterifikasi biasanya dilakukan

sesudah

reaksi

sebelum reaksi

transesterifikasi jika minyak yang diumpankan mengandung asam lemak


bebas tinggi (>0.5%). Dengan reaksi esterifikasi, kandungan asam lemak
bebas dapat dihilangkan dan diperoleh tambahan ester.
(ii) Reaksi Transesterifikasi
Reaksi Transesterifikasi sering disebut reaksi alkoholisis, yaitu reaksi antara
trigliserida dengan alkohol menghasilkan ester dan gliserin. Alkohol yang
sering digunakan adalah metanol, etanol, dan isopropanol. Berikut ini adalah
tahap-tahap reaksi transesterifikasi :

trigliserida

alkohol

digliserida

ester

digliserida

alkohol

monogliserida

alkohol

monogliserida

gliserin

ester

ester

Secara keseluruhan reaksi transesterifikasi adalah sebagai berikut :

Trigliserida

3 (alkohol)

gliserin

3 (ester)

Trigliserida bereaksi dengan alkohol membentuk ester dan gliserin. Kedua


produk reaksi ini membentuk dua fasa yang mudah dipisahkan. Fasa gliserin
terletak dibawah dan fasa ester alkil diatas. Ester dapat dimurnikan lebih lanjut
untuk memperoleh biodiesel yang sesuai dengan standard yang telah
ditetapkan,

sedangkan

gliserin

dimurnikan

sebagai

produk

samping

pembuatan biodiesel. Gliserin merupakan senyawaan penting dalam industri.


Gliserin banyak digunakan sebagai pelarut, bahan kosmetik, sabun cair, dan
lain-lain.
Pengotor
Pengotor yang ada dalam biodiesel diantaranya gliserin, air, dan alkohol sisa.
Pemisahan pengotor dilakukan untuk mendapatkan biodiesel yang memenuhi
kriteria untuk dijadikan bahan bakar.
(i) Gliserin
Gliserin dan ester membentuk dua fasa yang tidak saling larut. Gliserin yang
berada di lapisan bawah karena densitasnya lebih besar dari ester. Pemisahan
gliserin dari ester dapat dilakukan dengan cara dekantasi.
Gliserin merupakan produk samping proses pembuatan biodiesel yang
bernilai ekonomis tinggi yang dapat dijual dalam keadaan mentah (crude
glycerin) atau gliserin yang telah dimurnikan. Pemurnian gliserin akan lebih
sulit jika terbentuk sabun hasil reaksi asam lemak bebas dengan basa.
(ii) Air
Salah satu produk samping reaksi esterifikasi adalah air. Air harus dihilangkan
sebelum reaksi transesterifikasi. Pemisahan air ini dapat dilakukan dengan
penguapan atau menggunakan absorber. Pemisahan air dengan penguapan
lebih banyak dilakukan dalam industri biodiesel karena lebih murah.
Air menjadi sulit dipisahkan jika terdapat sabun hasil reaksi asam lemak
bebas dengan basa. Air akan berikatan dengan sabun dan gliserin sehingga
pemisahannya menjadi sulit.
Rute-Rute Proses Pembuatan Biodiesel
Pembuatan biodiesel dengan bahan baku minyak berasam lemak bebas tinggi
akan menimbulkan banyak rute karena diperlukan satu reaksi atau lebih dan

pemisahannya. berikut ini gambaran singkat mengenai rute-rute pembuatan


biodiesel.
(i) Rute I (transesterifikasi esterifikasi )
Pada rute ini, pembuatan ester alkil dari minyak nabati dilakukan dengan dua
reaksi, transesterifikasi dan esterifikasi.
Asam lemak bebas dalam minyak lemak nabati direaksikan dengan basa
membentuk sabun. Semua asam lemak bebas dikonversi menjadi sabun,
sehingga minyak nabati yang masuk reaktor transesterifikasi bebas asam
lemak bebas. Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan satu tahap atau dua
tahap, pada reaksi dua tahap dilakukan pemisahan gliserin di tengah-tengah
reaksi, hal ini dilakukan agar kesetimbangan reaksi bergeser ke kanan,
sehingga konversi yang diperoleh lebih tinggi.
Hasil yang diperoleh dari keluaran reaktor transesterifikasi adalah ester,
gliserin, sabun, dan pengotor. Ester dipisahkan dari produk dan sabun diubah
kembali menjadi asam lemak bebas dengan pengasaman. Asam lemak dapat
diubah menjadi ester alkil dengan reaksi esterifikasi.
Asam lemak bebas bereaksi dengan alkohol menjadi ester dan air. Pada reaksi
ini digunakan katalis asam, dapat berupa katalis homogen (cair) atau
heterogen (padat). Katalis padat dapat memudahkan dalam proses pemisahan
produk karena dapat disaring untuk kemudian dipakai kembali. Selain
menghasilkan ester, reaksi esterifikasi juga menghasilkan produk samping
berupa air.
Ester hasil reaksi esterifikasi masih bercampur dengan pengotor-pengotor
sehingga harus dimurnikan. Pengotor paling banyak adalah gliserin. Gliserin
mempunyai massa jenis yang lebih besar daripada ester sehingga fasa gliserin
berada di bawah, pemisahannya dapat dilakukan dengan dekantasi. Gliserin
dapat dimurnikan lebih lanjut dan menjadi produk samping yang bernilai

ekonomi cukup tinggi. Biodiesel hasil reaksi esterifikasi dicampurkan kembali


dengan biodiesel hasil reaksi transesterifikasi.
Biodiesel yang dihasilkan masih berupa produk mentah sehingga perlu
dimurnikan. Pemurniannya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan
pencucian menggunakan air atau pemurnian dengan penukar ion (penukar
anion untuk mengikat asam dan penukar kation untuk mengikat basa yang
tersisa

dari

reaksi

transesterifikasi).

Pencucian

dilakukan

untuk

menghilangkan garam, alkohol, dan pengotor yang larut dalam air.


Rute ini tidak sesuai untuk memproduksi biodiesel dari minyak lemak
nabati yang mengandung asam lemak bebas tinggi karena memerlukan bahan
baku berupa asam dan basa relatif lebih banyak.
(ii) Rute II (esterifikasi transesterifikasi)
Seperti pada rute I, Rute ini juga menggunakan dua reaksi, yaitu esterifikasi
dan transesterifikasi, namun pada rute ini reaksi esterifikasi dilakukan sebelum
reaksi tranesterifikasi. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan asam lemak
bebas sekaligus menambah perolehan biodiesel. Reaksi esterifikasi dapat
dilakukan dengan katalis homogen maupun heterogen. Esterifikasi dengan
katalis homogen menghasilkan produk yang bersifat asam sehingga sebelum
reaksi transesterifikasi, kelebihan asam ini harus dinetralkan terlebih dahulu.
Penetralan dapat dilakukan dengan penambahan basa atau menggunakan resin
penukar anion. Penetralan menggunakan basa menghasilkan garam yang dapat
menjadi pengotor, hal ini tidak terjadi pada penetralan menggunakan penukar
ion.
Reaksi esterifikasi menghasilkan produk samping berupa air. Air harus
dipisahkan sebelum reaksi transesterifikasi. Pemisahan ini dapat dilakukan
dengan penguapan atau menggunakan absorber.
Umpan masuk reaktor transesterifikasi berupa trigliserida, ester, dan pengotor.
Trigliserida direaksikan dengan metanol menghasilkan ester dan gliserin.

Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan dua tahap untuk mendapatkan


konversi tinggi. Pada reaksi dua tahap, pemisahan gliserin dilakukan diantara
kedua reaksi. Pemisahan gliserin ini berguna untuk menggeser kesetimbangan
ke kanan sehingga konversinnya menjadi lebih tinggi.
Reaksi transesterifikasi menghasilkan produk samping berupa gliserin. Ester
dan gliserin tidak saling larut sehingga dapat dipisahkan dengan dekantasi.
Fasa ester dimurnikan lebih lanjut untuk mendapatkan biodiesel yang sesuai
dengan standard mutu yang disyaratkan. Fasa ester masih mengandung
pengotor-pengotor, seperti : sisa katalis, garam, metanol, dan pengotor
lainnya. Pemurnian fasa ester alkil dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
pencucian dengan air atau menggunakan penukar ion.
(iii) Rute III (esterifikasi dengan metanol superkritik)
Metanol superkritik adalah metanol yang berada pada kondisi diatas
temperatur dan tekanan kritiknya, yaitu 350 oC dan 30 MPa. Esterifikasi
dengan metanol superkritik mempunyai beberapa keunggulan yaitu waktu
yang diperlukan untuk mencapai konversi yang diinginkan jauh lebih kecil
daripada dengan cara konvensional dan proses pemisahan produknya lebih
mudah karena tidak menggunakan katalis, sehingga tidak ada pengotor berupa
katalis sisa. Namun, esterifikasi ini juga mampunyai kelemahan yaitu kondisi
operasi harus pada temperatur dan tekanan tinggi.
IV.

Langkah Kerja
4.1. Tes FFA (Asam Lemak Bebas)
1. Apabila asam lemak bebas lebih besar dari 5% proses esterifikasi
dengan katalis asam pekat dan dilanjutkan dengan proses
trnsesterifikasi
2. Apabila asam lemak bebas kurang dari 5% maka langsung
dilakukan proses transesterifikasi
Tahapan pengujian FFA
1. Menambahkan 5 gr sampel ke dalam 50 ml methanol 95% lalu
menambahkan 3 tetes indicator pp.
2. Mentitrasi sampel dengan NaOH 0,1 N.

3. Setelah berubah warna menjadi merah muda, lalu mencatat volume


NaOH.
4. Nilai FFA dapat dihitung dengan rumus
gr
25,6
V N
mol
% FFA =
m
Dimana, V = Volume NaOH
N = Konsentrasi NaOH
M = massa sampel
4.2. Pembuatan Biodiesel
1. Menimbang massa bimoli 500 ml (437,79 gr).
2. Membuat KOH dengan massa 4,37 gr dan menambahkan 20 ml
methanol.
3. Membuat variasi methanol 9%, 11,5%, 13% dan 15%.
4. Memanaskan dan mengaduk minyak dengan stirrer lalu
mencampurkan perlahan KOH ke dalam minyak dan mencampur
lagi methanol 9%.

5. Menjaga suhu pengadukan 35C


6. Melakukan pengadukan selama 1 jam
7. Biodiesel telah terbentuk.
4.3. Pemisahan Biodiesel
1. Membilas biodiesel dengan air panas, lalu dikeluarkan air panas
yang berada dibawah.
2. Lalu melakukan proses pemisahan dengan menggunakan metode
elektrolistik yaitu dengan memakai lempengan plat yang dialirkan
listrik
3. Akan terbentuk 2 lapisan yaitu gliserol dan biodiesel dimana
biodiesel berada dibagian atas sedangkan gliserol berada dibawah.
4. Mengeluarkan gliserol dari biodiesel
5. Menimbang massa gliserol
4.4. Pengujian Viskositas dengan Alat Falling Ball Viscometer
1. Memasukkan biodiesel pada alat Falling Ball Viscometer dengan
hati-hati hingga melebihi batas titik awal + 1 cm untuk sampel 1.
2. Kemudian memasukkan bola besi dengan cara memiringkan alat
tersebut dan menutup rapat hingga tidak ada biodiesel yang
menetes keluar.

3. Lalu memutar alat 180 dan menjalankan stopwatch tepat saat


bola bergerak dari titik awal.
4. Mengulang langkah 1-3 untuk sampel 2,3 dan 4.
4.5. Pengujian Densitas
1. Menimbang gelas kimia kosong pada suhu 18C
2. Menimbang gelas kimia dan aquadest pada suhu 18C
3. Menimbang sampel biodiesel 1 dan gelas kimia pada suhu 18C
4. Mengulang langkah 1-3 untuk sampel 2,3 dan 4.

4.6. Pengujian Flash Point


1. Menghububgkan selang gas dan alat flash point meter.
2. Mengangkat bejana pada alat flash point
3. Mengisi bahan baku pada bejana
4. Meletakka kembali bejana pada flash point dan menutup bejana
5.
6.
7.
8.

tersebut dengan memutar knop pada tutup bejana.


Menghidupkan pemanas pada flash point.
Menyalakan api pembakar.
Menunggu hingga sampai batas titik nyala bahan bakar tersebut.
Setelah sampai pada titik nyala bahan bakar ( biodiesel) tersebut

maka membuka tutup bejana tersebut.


9. Kemudian mendekatkan api pembakaran ke bahan bakar
(biodiesel)
10. Mengamati titik nyalanya.
V.

Data Pengamatan
5.1. Tes FFA
No.
1.
2.

Volume Titran ( NaOH)


5 ml
6 ml

Massa NaOH
= 2 gr
Normalitas NaOH
= 0,1 N
Massa minyak (Bimoli)
= 437,79 gr
Volume minyak ( Bimoli)
= 500 ml
Massa KOH
= 4,37 gr
Volume CH3OH ( Metanol) = 20 ml

5.2. Volume Variasi Metanol (CH3OH )

% FFA
0,256
0,298

No.
1.
2.
3.
4.

% Metanol
9
11,5
13
15

Volume Metanol ( ml)


39,4011
50,345
56,912
65,66

5.3. Parameter Penguji


Sampel

Flash Point

1.

2.

3.

85C

4.

VI.

Perhitungan
6.1. Menghitung massa NaOH
gr
= N BE V
= 0,1

ek
gr
40 0,5 liter
l
ek

= 2 gram
6.2. Menghitung % FFA
1. % FFA
25,6 0,005 liter 0,1
100
% FFA =
5
=0,256 %
2. % FFA
% FFA =

25,6 0,006 liter 0,1


100
5

=0,298 %
6.3. Menghitung massa

Viskositas
20 detik 53
20 detik 58
19 detik 97
20 detik 11
22 detik 50
20 detik 87
22 detik 03
21 detik 71
17 detik 99
18 detik 05
17 detik 51
17 detik 86
16 detik 53
16 detik 34
16 detik 42
16 detik 25

KOH
m 0,089
b 0,089
s
-

mol KOH =

CH3OH
0,089
0,089
-

5 gr
gr
56,11
mol

CH3OK
0,089
0,089

= 0,089

gram CH3OK = 0,089 32= 2,848


m
= V
V=

m
V

2,848
0,792

= 3,59 ml

6.4. Menghitung Variasi Metanol


1. 9%
0,09 437, 79 = 39,4011 gr
2. 11,5 %
0,115 437, 79 = 50,345 gr

3. 13%
0,13 437, 79 = 56,912 gr
4. 15%
0,15 437, 79 = 65,66 gr
6.4. Menghitung spgr, , massa biodiesel
1.

sampel 1 (9%)
Massa biodiesel

H2O
0,089
0,089

= ( massa biodiesel + massa Erlenmeyer) ( massa


erlenmeyer)
=117,58 gr 95,95gr
= 21, 63 gr
biodiesel =

massa biodiesel
volume biodiesel
21,63 gr
50 ml

= 0,4326

Spgr

gr
ml

biodiesel
aquadest

gr
ml
gr
1,0096
ml
0,4326

= 0,4284
2.

sampel 2 (11,5%)
Massa biodiesel
= ( massa biodiesel + massa Erlenmeyer) ( massa
erlenmeyer)
=171,18 gr 128,13 gr
= 43,05 gr

biodiesel =

massa biodiesel
volume biodiesel
43,05 gr
50 ml

= 0,861

Spgr

gr
ml

biodiesel
aquadest

gr
ml
gr
1,0096
ml
0,861

= 0,8528
3.

sampel 3 (13%)
Massa biodiesel
= ( massa biodiesel + massa Erlenmeyer) ( massa
erlenmeyer)
=134,55 gr 95,95 gr
= 38,6 gr
biodiesel =

massa biodiesel
volume biodiesel
38,6 gr
50 ml

= 0,772

gr
ml

Spgr

biodiesel
aquadest

gr
ml
gr
1,0096
ml
0,772

= 0,765
4.

sampel 4 (15%)
Massa biodiesel
= ( massa biodiesel + massa Erlenmeyer) ( massa
erlenmeyer)
=122,94 gr 95,95 gr
= 26,99 gr
biodiesel =

massa biodiesel
volume biodiesel
26,99 gr
50 ml

= 0,5398

Spgr

gr
ml

biodiesel
aquadest

gr
ml
gr
1,0096
ml
0,5398

= 0,5346
Mencari

m
V

aquadest

50,48 gr
50 ml

= 1,0096

gr
ml

massa air = (178,61-128,13) gr = 50,48 gr


6.6. Menghitung Viskositas
Sampel 1
Dik:

t0

= 19,75 sekon
biodiesel

= 0,4326

bola

gr
ml

= 8,02

K
Ditanya :

gr
ml

= 0,01336
?

Jawab:

= K ( bola - biodiesel

= 0,01336 (8,02

gr
ml

= 0,01336 7,5874

= 2,0020

gr
ml

.sekon

) t0

- 0,4326
gr
ml

gr
19,75 sekon
ml )

19,75 sekon

Sampel 2
Dik:

t0

= 21,25 sekon
gr
ml

biodiesel = 0,861

bola

= 8,02

K
Ditanya :

gr
ml

= 0,01336
?

Jawab:

= K ( bola - biodiesel ) t0

= 0,01336 (8,02

gr
ml

- 0,861
gr
ml

= 0,01336 7,159

= 2,0324

gr
ml

gr
21,25 sekon
ml )

21,25 sekon

.sekon

Sampel 3
Dik:

t0

= 17,25 sekon
biodiesel = 0,772

bola

gr
ml

= 8,02

gr
ml

K
Ditanya :

= 0,01336
?

Jawab:

= K ( bola - biodiesel ) t0

= 0,01336 (8,02

gr
ml

- 0,772
gr
ml

= 0,01336 7,248

= 1,6703

gr
ml

gr
17,25 sekon
ml )

17,25 sekon

.sekon

Sampel 4
Dik:

t0

= 16 sekon
biodiesel = 0,5398

bola
K
Ditanya :

gr
ml

= 8,02

gr
ml

= 0,01336
?

Jawab:

= K ( bola - biodiesel ) t0

= 0,01336 (8,02

gr
ml

= 0,01336 7,4802

= 1,5989
VII.

gr
ml

- 0,5398
gr
ml

gr
16 sekon
ml )

16 sekon

.sekon

Analisa
Dari percobaan pembuatan biodiesel dapat dianalisa bahwa bahan
utama dari bahan bakunya yakni minyak goring ( bimoli) dengan bantuan
katalis KOH dan methanol. Selain produk utama yang dihasilkan yaitu
biodiesel, produk samping ( side product) adalah gliserol.
Pada percobaan ini menggunakan 4 sampel dengan variasi
methanol yang berbeda yakni 9,5%, 11,5%, 13% dan 15%. Pemisahan
lapisan biodiesel dan gliserol menggunakan metode elektrolisis dimana
terdapat dua buah lempeng logam yang berkutub positif dan negative.
Listrik yang dialirkan dapat melisis atau memecah sehingga akan terpisah
antara lapisan biodiesel dan gliserol. Pemisahan pun lebih cepat.
Setelah mendapatkan biodiesel yang kita ingin, selanjutnya
dilakukan uji karakteristik biodiesel, seperti flash point, viskositas,
densitas dan uji bakar. Pada pengujian flash point yang bertujuan untuk
mengetahui titik nyala agar dapat dijaga dalam penyimpanan yang baik.
Nilai titik nyala yang tertinggi didapatkan dari variasi methanol 11,5%
yakni 95C. Pada uji densitas, biodiesel yang memiliki spgr yang terbesar
yakni variasi 11,5%, 0,0528 dan 9%, 0,4284. Ini menunjukkan bahwa
variasi methanol 11,5% sangat identik dengan biodiesel teoritis. Dan
terakhir uji viskositas atau pengujian kekentalan aliran, semakin kecil nilai
viskositas maka semakin baik kualitasnya. Produk yang memiliki kualitas
yang baik berdasarkan parameter viskositas adalah biodiesel yang
memiliki variasi 15%. Penggunaan methanol dapat mempengaruhi
parameter-parameter pengujian. Semakin banyak methanol maka semakin
cair biodiesel yang akan terbentuk.

VIII.

Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulan
bahwa variasi penggunaan methanol sangat berpengaruh terhadap nilai
parameter pengujian standar. Pemisahan dengan menggunakan metode
elektrolisis lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional seperti
menggunakan corong pisah.

IX.

Daftar Pustaka
Laboratorium Teknologi Biomassa, Kasie. 2015. Penuntun Praktikum
Teknologi Biomassa. Palembang: Politeknik Negeri Sriwijaya