Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kesejahteraan masyarakat menurut United Nations Development Program (UNDP) diukur
dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM merupakan indikator komposit dari tiga
indikator sektor pembangunan: pen- didikan, kesehatan, dan ekonomi. IPM Indonesia tahun
2010 berada pada peringkat 108, sementara tahun 2011 turun ke peringkat 124. Fakta ini
menunjukkan makin merosotnya kualitas hidup manusia Indonesia. Konferensi Tingkat
Tinggi (KTT) Millenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sepakat untuk mengadopsi
Deklarasi Milenium. Tujuan Deklarasi disebut Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium
Development

Goals-MDGs),

menempatkan

manusia

sebagai

fokus

utama

pembangunan.Menurut Susilo,Indonesia berkali-kali masuk kategori negara yang lamban


dalam mencapai MDGs. Sumber kelambanan ditunjukkan dari masih tingginya angka
kematian ibu dan angka kematian balita, belum teratasinya laju penularan HIV/AIDS,
rendahnya pe- menuhan air bersih dan sanitasi yang buruk, belum adanya pengakuan inisiatif
masyarakat, pemerintah RI belum pernah mendorong rasa kepemilikan bersama MDGs
kepada rakyatnya, sangat kuat kesan bahwa pencapaian MDGs identik dengan pelaksanaan
program pemerintah. Menyimak kenyataan tersebut, sejak tahun 2006, Departemen
Kesehatan RI melakukan upaya terobosan yang memiliki daya ungkit bagi peningkatan
derajat kesehatan penduduk Indonesia dan untuk akselerasi pencapaian MDGs yaitu melalui
kebijakan program Desa Siaga. Desa Siaga adalah suatu kondisi masyarakat desa yang
memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan
mengatasi masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri.5
Masalah pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan pada program Desa Siaga adalah
sebagai berikut: Pertama, paradigma sehat sebagai paradigma pembangunan kesehatan telah
dirumuskan, namun belum dipahami dan diaplikasi semua pihak. Kedua, undang-undang RI
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menetapkan daerah (kabupaten/kota)
memegang kewenangan penuh dalam bidang kesehatan, namun kewenangan tersebut belum
berjalan optimal. Ketiga, revitalisasi puskesmas dan posyandu hanya diartikan dengan
pemenuhan fasilitas sarana. Keempat, dinas ke- sehatan kabupaten/kota lebih banyak
melakukan tugas- tugas administratif. Kelima, keterlibatan masyarakat bersifat semu yang
lebih berkonotasi kepatuhan daripada partisipasi dan bukan pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan mengemuka sejak dideklarasikannya Piagam
1

Ottawa. Piagam Ottawa menegaskan bahwa partisipasi masyarakat merupakan elemen utama
dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan. Selanjutnya, Konferensi Internasional
Promosi Kesehatan ke-7 di Nairobi, Kenya, menegaskan kembali pentingnya pemberdayaan
masyarakat bidang kesehatan dengan menyepakati perlunya: membangun kapasitas promosi
kesehatan, penguatan sistem kesehatan, kemitraan dan kerjasama lintas sektor, pemberdayaan masyarakat, serta sadar sehat dan perilaku se- hat.Pemberdayaan didefinisikan
sebagai suatu proses membuat orang mampu meningkatkan kontrol atas keputusan dan
tindakan yang memengaruhi kesehatan masyarakat, bertujuan untuk memobilisasi individu
dan kelompok rentan dengan memperkuat keterampilan dasar hidup dan meningkatkan
pengaruh pada hal-hal yang mendasari kondisi sosial dan ekonomi. Sementara itu, menurut
pemerintah RI dan United Nations International Childrens Emergency Funds, pemberdayaan
masyarakat adalah segala upaya fasilitas yang bersifat noninstruktif untuk meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidenti- fikasi masalah,
merencanakan, dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat dan
fasilitas

yang ada, baik dari instansi lintas sektor maupun LSM dan tokoh

masyarakat.Sepuluh model pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan diformulasikan


sebagai berikut. Pertama, model pengembangan lokal yaitupemberdayaan masyarakat sejalan
dengan model pengembangan lokal sebagai upaya pemecahan masalah masyarakat melalui
partisipasi masyarakat dengan pengembangan potensi dan sumber daya lokal. Kedua, model
promosi kesehatan dilakukan melalui empat pendekatan, yaitu persuasi (bujukan/
kepercayaan) kesehatan, konseling personal dalam kese- hatan, aksi legislatif, dan
pemberdayaan masyarakat. Ketiga, model promosi kesehatan perspektif multidisiplin
mempertimbangkan lima pendekatan meliputi medis, perilaku, pendidikan, pemberdayaan,
dan perubahan sosial.Keempat,model pelayanan kesehatan primer berbasis layanan
masyarakat menurut Ife, masyarakat harus bertanggung jawab dalam mengidentifikasi kebutuhan dan menetapkan prioritas, merencanakan dan memberikan layanan kesehatan, serta
memantau dan mengevaluasi layanan kesehatan.Kelima, model pem- berdayaan masyarakat
meliputi partisipasi, kepemim- pinan, keterampilan, sumber daya, nilai-nilai, sejarah,
jaringan, dan pengetahuan masyarakat.Keenam, model pengorganisasian masyarakat yaitu
hubungan antara pemberdayaan, kemitraan, partisipasi, responsitas budaya, dan kompetensi
komunitas. Ketujuh, model determinan sosial ekonomi terhadap kesehatan meliputi
pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan modal atau kekayaan yang berhubungan satu sama
lain dengan kesehatan.Kedelapan, model kesehatan dan ekosistem masyarakat interaksi
antara masyarakat, lingkungan, dan ekonomi dengan kesehatan.Kesembilan, model
2

determinan lingkungan kesehatan individual dan masyarakat determinan lingkungan


kesehatan individual meliputi lingkungan psikososial, lingkungan mikrofisik, lingku- ngan
ras/kelas/gender, lingkungan perilaku, dan lingku- ngan kerja.Sementara itu, determinan
lingkungan ke- sehatan masyarakat meliputi lingkungan politik/ekono- mi, lingkungan
makrofisik, tingkat keadilan sosial dan keadilan dalam masyarakat, serta perluasan kontrol
dan keeratan masyarakat. Kesembilan, model penanggulang- an penyakit berbasis keluarga
yaitu pemeliharaan kesehatan dilakukan secara swadaya dan mandiri oleh kelu- arga melalui
penumbuhan

kesadaran,

peningkatan

pengetahuan,dan

keterampilan

kesehatan.Kesepuluh,model pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD).

memelihara

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk menumbuhkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali,mengatasi,memelihara,
melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri.
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya fasilitas yang bersifat non instruktif guna
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi
masalah, merencanakan, dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi
setempat dan fasilitas yang ada, baik dari instansi lintas sektoral maupun LSM dan tokoh
masyarakat.
Di bidang kesehatan, pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk
menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam memelihara, dan
meningkatkan kesehatan.

B. Tujuan
1. Tumbuhnya kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman akan kesehatan bagi individu,
kelompok, atau masyarakat
2. Timbulnya kemauan dan kehendak ialah sebagai bentuk lanjutan dari kesadaran dan
pemahaman terhadap objek, dalam hal ini kesehatan
3. Timbulnya kemampuan masyarakat di bidang kesehatan yang berarti masyarakat, baik
secara individu maupun kelompok telah mampu mewujudkan kemauan atau niat
kesehatan mereka dalam bentuk tindakan atau perilaku sehat
C. Prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat
1.
2.
3.
4.
5.

Menumbuhkembangkan potensi masyarakat


Mengembangkan gotong royong masyarakat
Menggali konstribusi masyarakat
Menjalin kemitraan
Desentralisasi

D. Peran petugas atau sektor kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat


1. Memfasilitasi

masyarakat

terhadap

pemberdayaan
4

kegiatan-kegiatan

atau

program-program

2. Memotivasi masyarakat untuk bekerja sama atau bergotong-royong dalam


melaksanakan kegiatan-kegiatan atau program-program bersama untuk kepentingan
bersama dalam masyarakat tersebut
3. Mengalihkan pengetahuan, ketrampilan, dan teknologi kepada masyarakat
E. Sasaran
1.
2.
3.
4.
5.

Individu
Keluarga
Kelompok masyarakat
Organisasi masyarakat
Masyarakat umum

F. Ciri pemberdayaan masyarakat


1. Community leader: petugas kesehatan melakukan pendekatan kepada tokoh
masyarakat atau pemimpin terlebih dahulu. Misalnya Camat, lurah, kepala adat, ustad,
dan sebagainya.
2. Community organization: organisasi seperti PKK, karang taruna, majlis taklim,dan
lainnnya merupakan potensi yang dapat dijadikan mitra kerja dalam upaya
pemberdayaan masyarakat.
3. Community Fund: Dana sehat atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM) yang dikembangkan dengan prinsip gotong royong sebagai salah satu prinsip
pemberdayaan masyarakat.
4. Community material : setiap daerah memiliki potensi tersendiri yang dapat digunakan
untuk memfasilitasi pelayanan kesehatan. Misalnya, desa dekat kali pengahsil pasir
memiliki potensi untuk melakukan pengerasan jalan untuk memudahkan akses ke
puskesmas.
5. Community knowledge: pemberdayaan bertujuan meningkatkan pengetahuan
masyarakat dengan berbagai penyuluhan kesehatan yang menggunakan pendekatan
community based health education.
6. Community technology: teknologi sederhana di komunitas dapat digunakan untuk
pengembangan program kesehatan misalnya penyaringan air dengan pasir atau arang.
G. Penyelenggaraan
1. Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU)
Lima program prioritas: KB, KIA, Imunisasi, dan penanggulangan diare, perbaikan
Gizi. Kegiatan posyandu lebih dikenal dengan sistem lima meja:
a. Meja satu: pendaftaran
b. Meja dua: penimbangan
c. Meja tiga: pengisian kartu menuju sehat
d. Meja empat: penyuluhan kesehatan, pemberian oralit, vit A, dan Tablet Fe
5

e. Meja lima: pelayanan kesehatan yang meliputi imunisasi, pemeriksaan


kesehatan dan pengobatan serta pelayanan keluarga berencana.
2. Pondok Bersalin Desa (POLINDES)
Kegiatan POLINDES antara lain: melakukan pemeriksaan (ibu hamil, ibu nifas, ibu
menyusui, bayi dan balita), memberikan imunisasi, penyuluhan kesehatan masyarakat
terutama kesehatan ibu dan anak, serta pelatihan dan pembinaan kepada kader dan
masyarakat.
3. Pos Obat Desa (POD) atau Warung Obat Desa (WOD)
POD merupakan perwujudan peran serta masyarakat dalam pengobatan sederhana
terutama penyakit yang sering terjadi pada masyarakat setempat (penyakit rakyat atau
penyakit endemik).
4. Dana Sehat
a. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dilaksanakan pada 34 kabupaten dan telah
mencakup 12.366 sekolah
b. Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD), dilaksankan pada 96
kabupaten
c. Pondok Sehat, dilaksanakan pada 39 kabupaten atau kota
d. Organisasi atau Kelompok lainnya (seperti tukang becak, supir angkutan kota,dll.),
telah dilaksanakan pada 10 kabupaten atau kota.
5. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
Kebijakan LSM :
a. Meningkatkan peran serta masyarakat termasuk swasta pada semua tingkatan
b. Membina kepemimpinan yang berorientasi kesehatan dalam setiap organisasi
kemasyarakatan
c. Memberi kemampuan, kekuatan, dan kesempatan yang lebih besar kepada
organisasi kemasyarakatan untuk berkiprah dalam pembangunan kesehatan dengan
kemampuan sendiri
d. Meningkatkan kepedulian LSM terhadap upaya pemerataan pelayanan kesehatan
e. Masih merupakan tugas berat untuk melibatkan semua LSM untuk berkiprah dalam
bidang kesehatan
6. Upaya Kesehatan Tradisional
Tanaman Obat Keluarga (TOGA) adalah sebidang tanah dihalaman atau
ladang yang dimanfaatkan untuk menanam yang berkhasiat sebagai obat. TOGA
merupakan wujud partisipasi masyarakat dalam bidang peningkatan kesehatan dan
pengobatan sederhana dengan memanfaatkan obat tradisional. Fungsi utama TOGA
adalah menghasilkan tanaman yang dapat dipergunakan antara lain untuk menjaga
meningkatkan kesehatan dan mengobati gejala (keluhan) dari beberapa penyakit yang
ringan, serta untuk perbaikan gizi masyarakat, upaya pelestarian alam, dan memper
indah tanam dan pemandangan.
6

7. Pos Gizi (pos timbangan)


8. Pos KB desa (RW)
9. Pos Kesehatan Pesantren (POSKESTREN)
10. Saka Bhakti Husada (SBH)
11. Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK)
12. Kelompok Masyarakat Pemakai Air (POKMAIR)
13. Karang Taruna Husada
14. Pelayanan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu
H. Wujud peran serta masyarakat
1. Sumber daya masyarakat
Peran serta masyarakat dibidang kesehatan antara lain sebagai berikut:
a. Pemimpin masyarakat yang berwawasan kesehatan
b. Tokoh masyarakat yang berwawasan kesehatan, baik tokoh agama, politisi,
cendikiawan, artis atau seniman, budayawan, pelawak,dll.
c. Kader kesehatan, yang sekarang banyak sekali ragamnya misalnya: kader
Posyandu, kader lansia, kader kesehatan lingkungan, kader kesehatan gigi,
kader KB, dokter kecil, saka bakti husada, santri husada, taruna husada,dll.
2. Institusi/lembaga/organisasi masyarakat
Semua jenis institusi, lembaga atau kelompok masyarakat yang mempunyai
aktivitas masyarakat kesehatan. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut:
a. Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yaitu segala bentuk
kegiatan kesehatan yang bersifat dari, oleh, dan untuk masyarakat.
I. Sanksi Pemberdayaan Kesehatan
Pelayanan Kesehatan masyarakat dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan:
pasal 52 ayat (1) Mengatakan bahwa pelayanan kesehatan terdiri atas: pelayanan
kesehatan perseorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat.
Pasal 53 ayat (2) lebih tegas juga mengatakan bahwa pelayanan kesehatan masyarakat
ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit
suatu kelompok dan masyarakat, hal ini sangat jelas bahwa dalam keadaan
bagaimanapun teanga kesehatan harus mendahulukan pertolongan dan keselamatan
jiwa pasien.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam pemberdayaan masyarakat peran masyarakat sangat vital, karena masyarakat
yang menjadi pemeran utamanya, namun peran petugas kesehatan juga tidak bisa
dihilangkan. Dalam pemberdayaan masyarakat, petugas kesehatan memiliki peran penting
juga, yaitu memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-program
pemberdayaan

masyarakat

meliputi

pertemuan

dan

pengorganisasian

masyarakat,

memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan


pemberdayaan agar masyarakat mau berkonstribusi terhadap program tersebut, melakukan
pelatihan-pelatihan yang bersifat vocational.
Jenis-jenis pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah posyandu, Pos Obat Desa,
Polindes, dana sehat, LSM, upaya kesehatan tradisional, pos gizi, pos KB desa, pos kesehatan
pesantren, Sakabhakti Husada, Pos Upaya Kesehatan Kerja, Kelompok pemakai Air, Karang
taruna husada, pelayanan puskesmas,dan pelayanan puskesmas pembantu (Pustu) dsb.
B. Saran
1.

Bagi masyarakat, agar dapat berpartisipasi dalam mendukung program-program

kesehatan dalam sistem pemberdayaan masyarakat


2. Bagi pembaca, diharapkan agar makalah ini dapat menambah wawasan tentang
pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan

DAFTAR PUSTAKA
Hikmat, 2001. Masyarakat dalam Kesehatan.Agung Sentosa. Jakarta.
Nurbeti, M. 2009.Pemberdayaan masyarakat dalam konsep kepemimpinan yang mampu
menjembatani. Rineka Cipta, Jakarta.
Notoatmodjo, S. 2007, Promosi kesehatan & ilmu perilaku. Rineka Cipta, Jakarta.
Bagian Ilmu Kesmas FK Universitas Sebelas Maret Surakarta, **Prodi Penyuluhan
Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Bagian Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

10

Anda mungkin juga menyukai