Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Masalah sumber daya timbul karena adanya ketidakseimbangan antara

sumber daya yang tersedia dengan kebutuhan manusia yang terus meningkat. Ada
empat masalah yang berkaitan dengan keberadaan sumber daya, yaitu masalah
kependudukan dengan lingkungan hidup, masalah produktivitas lahan dan
manusia, masalah kualitas lingkungan dan masalah penyebaran sumber daya.
Hukum kelangkaan merupakan landasan fundamental bagi keberadaan ekonomi
sumber daya manusia dan ekonomi sumber daya alam.
Ekonomi

sumber

daya

manusia

sebagai

cabang

khusus dari ilmu ekonomi pada dasarnya menjelaskan bagaimana memanfaatkan


sumber daya manusia yang terbatas dalam rangka menghasilkan berbagai barang
dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia seoptimal mungkin. Sejalan dengan
itu, ekonomi sumber daya alam juga merupakan cabang khusus dari ilmu ekonomi
yang kajiannya memfokuskan pada masalah pemanfaatan sumber daya alam yang
ada, baik pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang. Dalam membahas
fokus kajiannya, ekonomi sumber daya manusia tidak hanya menggunakan teori
ekonomi mikro tetapi juga teori ekonomi makro. Di lain pihak, ekonomi sumber
daya alam lebih banyak menggunakan pendekatan teori ekonomi mikro. Ekonomi
sumber daya manusia dan ekonomi sumber daya alam keduanya dapat
dikategorikan sebagai ilmu ekonomi terapan atau ilmu ekonomi normatif.
Salah satu aspek krusial dalam pemahaman terhadap sumber daya
alam adalah memahami juga kapansumber daya tersebut akan bukan hanya
konsep ketersediaannya yang harus kita pahami, melainkan juga konsep
pengukuran kelangkaan sumber daya alam. aspek kelangkaan ini menjadi sangat
penting karena dari sinilah kemudian muncul persoalan bagaimana mengelola
sumber daya alam yang optimal.
Dengan kekayaan bumi yang dimiliki oleh suatu Negara, dan dengan
semakin banyaknya penduduk suatu negaratersebut yang akan terus memakai

aatau menggunakan sumber daya yang ada maka dibutuhkan pengukuran yang
tepat agar tidak terjadi kelangkaan sumnerdaya alam di Negara tersebut. Ataupun
dengan memikirkan bagaiman mengganti sumberdaya yang sudah langka atau
akan habis dengan mencari penemuan penemuan baru agar tidak terjadi kesulitan
atau ketidaksejahteraan dalan masyarakat suatu Negara dikarenakan adanya
kelangkaan sumberdya alam.
Sumber daya alam (biasa disingkat SDA) adalah segala sesuatu yang
muncul secara alami yang dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan manusia
pada umumnya. Pada umumnya, sumber daya alam berdasarkan sifatnya dapat
digolongkan menjadi SDA yang dapat diperbaharui dan SDA tak dapat
diperbaharui. SDA yang dapat diperbaharui adalah kekayaan alam yang dapat
terus ada selama penggunaannya tidak dieksploitasi berlebihan.
B.

Rumusan Masalah
1.

Bagaimana pengukuran ekonomi terhadap kelangkaan ?

2.

Bagaimana peran SDA dalam pembangunan dan pertumbuhan


ekonomi ?

C.

Tujuan Pembuatan Makalah


1.

Sebagai tugas pada mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Alam dan
Lingkungan

2.

Untuk mengetahui tentang pengukuran ekonomi terhadap kelangkaan

3.

Untuk menambah pengetahuan tentang kelangkaan yang terjadi di


Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KELANGKAAN DAN MACAM-MACAM SUMBER DAYA
ALAM DALAM EKONOMI
Pengertian Kelangkaan (Scarcity) :Menurut Lipsey, kelangkaan dapat
diartikan sebagai suatu kondisi dimana jumlah kebutuhan manusia yang sangat
tidak terbatas sementara sumber daya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sangat
terbatas jumlahnya. Dengan singkat kata kelangkaan terjadi karena jumlah
kebutuhan lebih banyak dari jumlah barang dan jasa yang tersedia.
Sumber Daya Alam adalah sesuatu yang berguna dan mempunyai nilai
didalam kondisi dimana kita menemukannya. Sumber daya alam meliputi semua
yang terdapat dibumi baikyang hidup maupun benda mati yang dapat
dimanfaatkan bagi manusia, terbatas jumlahnya dan pengusahaannya memenuhi
kriteria kriteria ekonomi, social, teknologi dan lingkungan.
Dalam ekonomi sumber daya alam di bagi menjadi dua yaitu :
1) Sumber Daya Alam yang dapat diperbarui (renewable resources), dimana
sumber daya alam ini memiliki kemampuan untuk memperbarui baik
secara alami maupun harus dengan campur tangan manusia.
2) Sumber Daya Alam yang tidak dapat diperbarui (non renewable resources),
yaitu sumber daya alam yang tidak mempunyai kemampuan memperbarui
baik alami maupun oleh manusia. Misalnya berbagai macam tambang.
B. MENGUKUR KELANGKAAN SUMBERDAYA ALAM
Terdapat kelompok optimis dan kelompok pesimis mengenai persediaan
sumber daya alam. Dengan adanya dua kelompok pemikiran itu telah dirasakan
perlunya untuk meneliti lagi manakah diantara kedua kelompok pemikir itu yang
pendapatnya dapat diterima. Dengan kata lain kita perlu mengadakan pengukuran
tentang jumlah persediaan sumber daya alam. Namun demikian tidak mudah bagi

para ahli ekonomi untuk mengetahui apakah sumber daya alam yang ada itu masih
banyak jumlahnya dalam arti kuantita atau volume tertentu
Ahli geologi dengan ilmu dan alat yang mereka miliki lebih mampu dalam
mengukur kuantita atau volume batu bara yang tersedia dalam bumi. Demikian
pula ahli pertanahan lebih tau mengetahui tanah mana yang masih subur serta
berapa luasnya dan sebagainya. Namun demikian ahli ekonomi dengan peralatan
analisis yang mereka miliki juga harus dapat mengetahui masih banyak atau
tinggal sedikit sumber daya alam tertentu itu tersedia didalam bumi atau
dipermukaan bumi ini, walaupun tidak dapat menentukan volume atau jumlahnya
secar pasti dalam ukuran tertentu. Sering ahli ekonomi hanya mengatakan sumbr
daya alam itu langka atau tidak dan kelangkaa ini lebih bbrarti kelangkaan
ekonomi bukan kelangkaan fisik.
Dan arti dari langka itu yakni keadaan dimana jumlah barang yang
diminta lebih bnyak daripada jumlah barang yang ditawarkan atau yang tersedia.
Alam kaitanyya dengan sumber daya alam, persediaan itu diharapkan pada tingkat
konsumsi sumber daya alam pertahun untuk memperkirakan berapa lama lagi
jumlah persedian tersebut akan dapat dikonsumsi untuk menopang kehidupan
manusia.
Persedian sumer daya alam kita artikan sebagai volume sumberdaya alam
yang sudah diketahui dan dapat diambil dengan mendatangkan keuntungan pada
tingkat biaya produksi dan tingkat harga tertentu. Missal sejak Indonesia
baru merdeka sudah diketahui bahwa Indonesia memiliki pasir besi dipantai
selatan Jawa Tengah, namun statistic mengenai pasir besi belum sempurna dan
kita tidak mengetahui berapa persediaan pasir besi tersebut. Baru setelah tahun
1970-an dengan adanya nilai ekonomi karena Jepang sanggup membeli pasir besi
tersebut, maka pasir besi tersebut bernilai sebagai sumberdaya alam dan perlu
diperhitungkan ketersediaannya. Demikian pula batu dan pasir sebelum digunakan
sebagai bahan bngunan belum mempunyai nili dan jumlah yang ada belum
diketahui persediaaanya. Selanjutnya persediaan dapt ditingkatkan baik dengan
penemuan deposit baru ataupun dengan teknologi baru yang dapat mengubah
sumber daya alam yang tidak ekonomis menjadi sumber daya alam yang

ekonomis. Sayangnya memang sulit untuk mengetahui volume fisik, lokasi


maupun kualitas sumber daya alam secara tepat, sehingga sulit pula untuk
menentukan derajat kelangkaann sumber daya alam tersebut.
Untuk mengetahui lanka atau tidaknya sumber daya alam dibumi ini, para
ahli konomi menggunakan berbagai cara atau alat pengukur dalam bidang
ilmunya, yaitu dengan melihat harga barang sumber daya alam dan nilai sewa
ekonomis atau economic rent.
Sekali lagi yang dimaksud dengan persediaan sumber daya alam disini
adalah sumber daya alam yang sudah diketahui adanya secara geologis dan ia
sudah mempunyai nilai ekonomis.
C.

PENGUKURAN EKONOMI TERHADAP KELANGKAAN


Kebenaran dari seluruh alat pengukur masih perlu dikaji bagaimana

ketelitian dari alat ukur tersebut. Pendekatan dengan biaya produksi, maupun
scarcity rent harus dikaji ulang mengingat kondisi pasar yang ada, khususnya
apakah mekanisme pasar dapat bekerja secara sempurna, tidak ada eksternalitas,
dan tidak ada campur tangan pemerintah. Pendekatan baik secara fisik maupun
secara ekonomis sama-sama memiliki kelemahan. Pendekatan secara fisik tidak
memiliki kepastian mengenai besarnya persediaan. Sedangkan pendekatan secara
ekonomis memiliki kelemahan yaitu bila mekanisme pasar tidak dapat bekerja
secara sempurna. Oleh karena itu masih sulit untuk memastikan kondisi dari
sumber daya alam itu, apakah masih melimpah atau sudah langka adanya .
Pendekatan yang di gunakan dalam mengukur kelangkaan di bagi menjadi dua
yaitu :
1. Biaya Produksi
Ekonom klasik Ricardo dan Jevons melihat bahwa peningkatan biaya
produksi berhubungan dengan semakin berkurangnya persediaan sumber daya
alam. Memang barang sumber daya alam sudah terus menerus diambil dari bumi
ini. Barneett dan Morse telah meneliti pola perkembangan biaya produksi untuk
komoditi ekstraktif sepanjang sejarah perkembangan industri di Amerika Serikat.

Barnett dan Morse memulai studinya dengan melihat pada doktrin Klasik
tentang meningkatnya kelangkaan ekonomis akan sumber daya alam. Pada
umumnya orang percaya bahwa sumberdaya alam secara ekonomis memang
langka, dan berkembangnya waktu sumberdaya alam itu menjadi semakin langka,
dan ini akan menganggu kehidupan manusia dan pertumbuhan ekonomi. Namun
dalam studi Barnett dan Morse itu, dikemukakan bahwa teori klasik mengenai
meningkatnya kelangkaan sumberdaya alam itu tidak dapat diterima, kecuali
dalam hal yang sangat terbatas atau tertutup.
Barnett dan Morse membuat hipotesis tentang kelangkaan sumberdaya
alam yaitu bahwa sumberdaya alam itu semakin langka bila:
1)

Biaya

rill

persatuan

output

meningkat

terus

selama

periodepengambilan.
2)

Biaya komoditi yang diambil relatif lebih tinggi daripada biaya


produksi komoditi lain.

3)

Harga komoditi yang diambil relatif lebih tinggi dari pada harga
komoditi lain.

Beberapa Alasan Mengapa SDA tidak Makin Langka:


a)

Karena adanya barang subtitusi bagi sumber daya alam yang terus
menerus diambil dan semakin sedikit jumlahnya dengan sumberdaya
alam yang masih berlimpah adanya . sebagai contoh ialah
alumunium menggatikan copper, biji-bijian menggantikan daging,
plastic menggantikan kulit, dan serat sintatis menggantikan serat
alami. Dalam hal ini sumber daya yang berlimpah dimanfaatkan
untuk substitusi sumber daya yang langka semakin mudah proses
substitusisumber daya yang diperbaharuiatau sumber daya yang
tidak dapatdiperbaharuiyang melimpah, maka semakin kecil
dampaknya

terhadap

proses

terjadinya

kelangkaan

atau

berkurangnya ketersediaan sumber dayaserta kenaikan biaya. Missal


penggunaan bioenergi sbagai substitusi dari BBM.

b)

Karena adanya penemuan baru dengan dipakainya metode eksplorasi


baru, seperti metode geofisik, geokemis dan satelit.

c)

Karena adanya peningkatan dalam impor mineral dan metal dari


Negara lain. Dengan adanya perbaikan dibidang transportasi telah
memungkinkan daerah-daerah yang jauh dr lokasi sumberdaya alam
mampu bersaing secara ekonomis.

d)

Karena adanya peningkatan pengetahuan teknik yang berguna bagi


eksplorasi, pengambilan dan pengangkutan sumberdaya alam,
sehingga produksi dapat bersifat besar-besaran dan biaya produksi
satuan dpat ditekan .

e)

Adanya kemungkinan pemakiaian ulang (recycling) sebagai missal


konsumsi Amerika serikat yang berasal dari barang bekas adalah:
besi 37%, tembaga 20% alumunium 10%, nikel 35%. Daur ulang
adalah perubahan dan proses kembali dari bahan limbah atau residu
dari sector produksi dan konsumsi dari suatu system ekonomi ke
dalam barang-barang sekunder. Lalu produk ini masuk ke proses
produksi sebagai input dalam pabrik untuk barang perentara atau
barang akhir. Contohnya adlah tas yang terbuat dari plastic yang
sudah di buang atau sudah tidak dipakai lagi

Disamping itu Barnett dan Morse juga menyatakan bahwa dalam sejarah
Amerika Serikat, setiap generasi selalu meninggalkan warisan utuk generasi
berikkutnya yaitu keadaan tersedianya sumber daya alam dengan kemampuan
produksi yang semaki baik. Hal ini memnag dihasilkan oleh adanya akumulasi
pengetahuan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dapat
mengimbangi peningkatan biaya produksi karena semakin berkurangnya sumber
daya alam. Namun itu semua bukan karena kebetulan , tetapi karena adanya
desakan untuk kemajuan pengetahuan, campur tangan pemerintah, serta
perubahan mekanisme yang sifatnya menempel dalam sisitim perekonomian dan
masyarakat yang ada.

Sebenarnya Barnett dan Morse mengajukan dua macam hipotesis, yaitu


hipotesis kuat dan hipotesis lemah. Hipotesis kuat menyatakan bahwa biaya riil
per satuan barang-barang ekstraktif akan meningkat dengan berkembangnya
waktu karena adanya keterbatasan dalam jumlah maupun kualitas sumberdaya
alam. Sedangkan hipotesis lemah menyatakan bahwa meningkatnya kelangkaan
sumberdaya alam cenderung meningkatkan biaya produksi riil, tetapi peningkatan
ini lebih cepat daripada kekuatan yang akan menekan kenaikan biaya karena
adanya perubahan teknik dan kekuatan ekonomi lainnya.
2.

Harga Barang Sumberdaya Alam


Kelangkaan sumberdaya alam dapat dilihat dari harga barang sumberdaya

yang semakin meningkat maupun dilihat dari royalty atau Rent . Rent
adalah harga bayangan satu satuan barang sumberdaya dalam persediaan ( stock ).
Bila seseorang tertarik pada kelangkaan maka rent lebih tetap sebagai alat
pengukurannya. Namun bila seseorang berminat untuk mengetahui banyaknya
pengorbanan dalam memperoleh baran sumberdaya alam, maka harga lebih tepat
sebagai indikatornya karena harga sudah mencakup biaya produksi dan rent.
Selanjutnya karena rent sangat sulit untuk diamati maka harga lebih banyak
dipakai sebagai indikator baik untuk melihat kelangkaan maupun pengorbanan
guna menghasilkan barang sumberdaya alam.
Brown dan Field mengatakan bahwa semua cara yaitu biaya produksi per
satuan, harga barang sumberdaya alam dan nilai sewa ekonomis memiliki
kelemahannya sendiri sendiri dan mereka membagi hal hal tersebut, sebagai
berikut :
1. Biaya rata- rata atau biaya persatuan yang dipakai oleh Barnett dan Morse
dalam mengukur kelangkaan sumberdaya alam merupakan indikator
yang meragukan karena hal hal sebagai berikut :
a)

Dalam dunia yang berkembang terus, biaya rata rata tidak tepat
digunakan untuk mengukur kelangkaan yang semakin meningkat
karena tingkat teknologi berkembang terus.

b)

Bahwa biaya per satuan tidak memperhitungkan biaya biaya


pengambilan sumberdaya di masa datang sebagai akibat dari
meningkatnya kelangkaan itu sendiri.

c)

Biaya per satuan tidak dapat menjadi indeks pengukur yang tepat,
karena biaya pengambilan di masa datang tidak dapat
diperhitungkan di sini.

d)

Biaya

per

satuan

tidak

mencerminkan

keadaan

semakin

berkurangnya sumber daya alam.


e)

Biaya persatuan merupakan alat pengukur yang kurang tepat.

2. Harga barang sumberdaya relatif lebih baik dari pada biaya per satuan
sebagai pengukur kelangkaan sumberdaya alam karena :
a)

Harga rill barang sumberdaya lebih melihat kedepan dan


mencerminkan adanya biaya yang diharapkan di masa datang baik
untuk eksplorasi, penemuan, maupun pengambilan.

b)

Kemajuan teknologi mengalihkan tanda tanda kelangkaan


sumberdaya alam yang ditunjukkan oleh harga rill barang
sumberdaya.

c)

Harga rill tidak menunjukkan adanya kecenderungan semakin


langkanya

sumberdaya

alam

yang

memiliki

sumberdaya

pengganti ( subsitusi ).
d)

Harga rill sumberdaya dapat meningkat ataupun menurun, yang


berarti menunjukkan adanya kelangkaan atau berkurangnya
kelangkaan tergantung pada harga mana yang dipakai untuk
membuata angka indeks ( price deflator ). Oleh karena itu harga
barang sumberdaya alam juga merupakan alat pengukur yang
kurang jelas.

3. Nilai sewa dari sumberdaya alam ( economic rent ) atau nilai


sumberdaya alam ditempatnya ( in situ resources ), merupakan alat
pengukur yang ketiga terhadap kelangkaan sumberdaya alam. Nilai sewa
ini lebih tepat menggambarkan kelangkaan sumberdaya alam daripada
sumberdaya yang disebut sebelumnya. Nilai sewa ( economic rent )
semberdaya alam pada umumnya meningkat dalam beberapa puluh tahun
yang terakhir, tetapi biaya produksi dan harga barang justru menurun.

Namun ada beberapa keberatan terhadap alat pengukur ini, diantaranya yaitu :
a)

Sulit untuk mendapatkan data nilai sewa ekonomis dari sumberdaya


alam, karena nilai sewa semberdaya alam itu tidak praktis dalm jangka
pendek.

b)

Nilai sewa lebih memperkirakan kelangkaan sumberdaya alam yang


semakin meningkat dalam arti ekonomi, tetap berkurangnya
sumberdaya alam secara fisik belum tentu sejalan dengan kenaikan
nilai sewa semberdaya alam sebagai cermin dari kelangkaan
ekonomis.

c)

Sebagai sumberdaya alam diusahakan untuk memenuhi kepentingan


umum, sehingga harga pasar tidak mencerminkan penilaian yang
sesungguhnya terhadap sumberdaya alm itu.

d)

Tidak ada future market untuk sumberdaya alam, sehingga tingkat


harga dimasa yang akan datang hanya ditentukan oleh harapan saja
( expectation ).

e)

Semberdaya

alam

mempunyai

aspek

baran

publik,

yang

pengkonsumsiannya tidak harus mengeluarkan orang yang tidak


sanggup membayar ( exclusion principel tidak berlaku ), dan kalau
barang itu dikonsumsi tidak mengurangi yang tersedia untuk
dikonsumsi orang lain ( rivalry in consumption tidak berlaku ),
sehingga harga pasar kurang dapat mewakili.
Sebagai upaya selanjutnya, Brown dan Field mengajukan sebuah alat lagi
yaitu dengan melihat elastisitas subtitusi antara faktor faktor produksi
khususnya kapital dan tenaga kerja apabila terdapat kelangkaan sumberdaya
alam.jadi dengan melihat kemudahan bagi faktor produksi lain dalam
menggantikan sumberdaya alam yang relatif semakin langkah. Semakin
berkurangnya semberdaya alam sebenarnya tidak perlu ditakutkan asalkan ada
kemudahan untuk menggantikan sumberdaya yang semakin langkah itu dengan
sumberdaya lain yang lebih banyak jumlahnya. Jadi dalam hal ini sumberdaya
alam itu tidak langkah selama sudah dalam mencarikan penggantinya. Oleh
karena itu tampaknya ukuran kelangkaan itu dapat dilihat dari elastisitas

10

subsitusinya yang mencerminkan tanggapan dalam perubahan penggunaan


sumberdaya alam dan sumberdaya pengganti terhadap perubahan harga.
D.

PERANAN SDA DALAM PEMBANGUNAN


Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tersedianya sumberdaya alam

tidak sama dengan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tersedianya barang
sumberdaya

yang

yang

dipakai

dalam

proses

produksi.Semakin

cepat

pertumbuhan ekonomi akan emakin banyak barang sumberdaya yang diperlukan


dalam proses produksi yang pada gilirannya akan mengurangi tersediannya
sumberdaya alam yang ada di dalam bumi karena barang sumberdaya itu harus
diambil dari tempat persediaan (stock) sumberdaya alam.Jadi semakin
menggebunya pembngunan ekonomi di negara yang sedang berkembang termasuk
negara kita Indonesia karena merasa tertinggal dari Negara lain dan ingin
menghilangkan adanya kemiskinan di negara tersebut,maka akan berati semakin
banyak barang sumberdaya yang diambil dari dalam bumi dan semakin sedikitlah
jumlah persediaan sumberdaya alam tersebut.Dengan demikian dapat dikatakan
ada hubungan yang positif antara jumlah dan kuantitas barang sumberdaya dan
pertumbuhan ekonomi,tetapi sebaliknya ada hubungan yang negatif antara
pertumbuhan ekonomi dan tersedianya sumberdaya alam yang ada didalam
bumi.Disamping itu dengan pembangunan ekonomi yang cepat yang dibarengi
denagan pembangunan pabrik,akan tercipta pula pencemaran lingkungan yang
semakin membahayakan kehidupan manusia.
Dapat di jelaskan bahwa hubungan antara jumlah penduduk,pertumbuhan
ekonomi,barang sumber daya alam dan lingkungan,.Dengan berkembangnya
jumlah penduduk perekonomian harus lebih banyak menyediakan barang dan jasa
demi mempertahankan atau mempertinggi taaf hidup suatu bangsa.Namun
peningkatan produksi barang dan jasa akan menuntut lebih banyak produksi
barang sumber daya alam yang harus diambil dari persediannya.Akibatnya
sumber daya alam menjadi semakin menipis dismping itupencemaran lingkungan
semakin meningkat seiring laju pertumbuhan ekonomi.Jadi dengan pembangunan
ekonomi akan terjadi dua macam akibat yaitu di satu pihak memberikan dampak

11

positif bagi kehidupan manusia berupa semakin tersedianya barang dan jasa dalam
perekonomian dan dilain pihak terdapat dampak negative bagi kehidupan manusia
berupa pencemaran lingkungan dan menipisnya sumber daya alam.Oleh karena itu
pembangunan ekonomi haruslah bersifat pembangunan yang berwawasan
lingkungan atau pembangunan yang yang berkelanjuta dan tidak menguras SDA.
Konsep pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi merupakan
hal yang berbeda. Terjadinya pembangunan ekonomi selalu dibarengi dengan
pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan ekonomi belum tentu mencerminkan
terjadinya pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu
kriteria. Keberhasilan pembangunan ekonomi. Keterkaitan antara sumber daya
manusia dan alam dengan pembangunan ekonomi ditunjukkan oleh konsep fungsi
produksi. Dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi, pengembangan sumber
daya manusia mutlak diperlukan.
Melalui pendekatan terpadu pengembangan sumber daya manusia, peranan
sumber daya manusia dalam proses pembangunan ekonomi akan semakin penting.
Ada hubungan tertentu antara pertumbuhan ekonomi dengan sumber daya alam
dan dengan barang sumber daya alam. Hubungan negatif terjadi antara
pertumbuhan ekonomi dengan sumber daya alam, sedang hubungan positif terjadi
antara pertumbuhan ekonomi dengan barang sumber daya alam. Peranan sumber
daya alam dalam pembangunan ekonomi akan ditentukan oleh tingkat teknologi,
modal dan juga kualitas sumber daya manusianya itu sendiri. Memacu
pembangunan ekonomi berarti pula mengurangi persediaan sumber daya alam.
Karena itu diperlukan pengertian pemanfaatan sumber daya alam yang bijaksana
dan lestari, yang disertai pula dengan pengertian tentang pembangunan yang
berwawasan lingkungan.

12

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengukuran kelangkaan

melalui pendekatan secara fisik maupun secara ekonomis sama sama memiliki
kelemahan. Pendekatan secara fisik tidak memiliki kepastian mengenai besarnya
persediaan, sedangkan pendekatan secara ekonomis memiliki kelemahan yaitu
bila mekanisme pasar tidak dapat bekerja secara sempurna. Oleh karena itu masih
sulit untuk memastikan kondisi dari sumberdaya alam itu, apakah masih
melimpah atau sudah langkah adanya, walaupun kita mengetahui secara
pasti bahwa pengambilannya telah dilakukan secara terus menerus bahkan
dengan laju yang semakin meningkat.
Dapat disimpulkan juga bahwa ketelitian dari alat pengukur ini perlu dikaji
bagimana ketelitian dari alat pengukur tersebut. Pendekatan dengan biaya
produksi, maupun scarcity rent harus mengingat kondisi pasar yang ada;
khususnya apakah mekanisme pasar dapat bekerja secara sempurna, tidak ada
eksternalitas ( eksternality ), dan tidak ada campur tangan pemerintah.
Pentingya peranan sumber daya alam dalam pembangunan berkelanjutan, tanpa
menghindari kepunahan dari sumber daya alam itu sendiri.
Oleh karena itu perlu adanya pengelolaan dan pengendalian melalui berbagai
usaha antara lain:

Pengambilan sumber daya alam tidak boleh melebihi tingkat pertumbuhan.

Kapasitas lingkungan dalam menyerap pencemaran tidak boleh berkurang.

Melestarikan fungsi lingkungan baik sebagai sumber bahan mentah maupun

sebagai penampung limbah.

Menyatukan pemikiran ekonomi dengan ekologi.

Peran serta masyarakat setempat dalam pengelolaan sumber daya

lingkungan ditingkatkan melalui penyuluhan-penyuluhan.

13

B.

Saran
Semoga dengan tersusunya karya tulis ini dapat menambah wawasan dan

pengetahuan tentang, ekonomi sumberdaya alam dan mengetahui aspek aspek


kelangkaan sumberdaya alam. Selain itu agar dapat mengetahui betapa pentingnya
peranan sumberdaya alam terhadap ekonomi.

14

Daftar Pustaka

http://dickyhendramulyadi.blog.com/2012/02/20/mengukur-kelangkaan-sda-danklasifikasi-sda-dan-hubungannya-satu-sama-lain/
http://echasilver.blogspot.com/2013/06/ekonomi-sumber-daya-alam-aspekaspek.html
http://fans-fc.blogspot.com/2012/11/makalah-sumber-daya-alam-sda.html
http://hmjiespuinjkt.blogspot.com/2012/12/kelangkaan-sda-dan-pengukuranekonomi_19.html
http://mnurwahyudi30.wordpress.com/2014/03/12/kelangkaan-sumber-daya-alam/
http://speunand.blogspot.com/2011/10/mengukur-kelangkaan-sumberdayaalam.html

15