Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN ACARA I

PRAKTIKUM MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


HISTOGRAM

Oleh:
Carissa Paresky Arisagy
12 / 334991 / PN / 12981

Asisten :
Andi Ibrahim

LABORATORIUM MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
1

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Suatu perairan merupakan suatu ekosistem yang kompleks dan merupakan habitat
dari berbagi jenis makhluk hidup, baik yang berukuran besar seperti ikan dan berbagai
jenis makhluk hidup yang berukuran kecil (Nugroho, 2006). Sebagai sebuah ekosistem,
perairan lentik akan memfasilitasi berbagai jenis organisme untuk hidup didalamnya,
baik permanen maupun temporal. Selain itu, perairan lentik juga dimanfaatkan oleh
manusia untuk berbagai macam kepentingan seperti untuk sumber air bersih, MCK,
minum, memandikan ternak, sumber air bagi tanaman pertanian, wisata, aktifitas
budidaya serta usaha penangkapan. Akivitas manusia tersebut dapat menyebabkan
ekosistem perairan dapat mengalami perubahan. Perubahan yang umumnya terjadi
biasanya mengarah pada penurunan kualitas perairan.
Penurunan kualitas perairan tersebut dapat berdampak pada penurunan stok.
Semakin berkembangnya alat tangkap juga menyababkan fluktuasi jumlah organisme
perairan. Jumlah organisme perairan ini perlu diketahui untuk menjaga agar
ketersediaanya dalam perairan tetap terjaga, sehingga ekosistem dalam perairan tersebut
tetap lestari.
Sumberdaya ikan di perairan umum akhir-akhir ini cenderung menurun, bahkan
lebih dari itu, dikhawatirkan beberapa jenis ikan terancam punah. Banyak alasan yang
dapat dikemukakan sehubungan dengan hal tersebut. Dalam kaitannya dengan
penangkapan ikan, sering terjadi orang melakukan penangkapan dengan bahan dan alat
yang membahayakan keberlanjutan populasi ikan. Bahan dan alat tersebut adalah racun,
bom dan setrum. Disamping itu juga didorong oleh keinginan meraih keuntungan yang
besar tanpa mempedulikan hari esok, banyak orang melakukan penangkapan yang
berlebihan termasuk menangkap anak-anak ikan.
Pada prinsipnya dasar dari pemanfaatan sumberdaya ikan dalam suatu perairan
adalah adanya keseimbangan antara tingkat kemampuan (daya dukung) perairan dengan
tingkat pemanfaatannya. Sumberdaya ikan bersifat renewable. Hal ini berarti jika
sumberdaya ikan diambil sebagian maka sisa ikan yang tertinggal memiliki kemampuan
untuk memperbaharui dirinya dengan berkembang biak. Oleh karena itu, untuk menjaga
2

keseimbangan antara daya dukung dan pemanfaatannya perlu adanya pengkajian stok
yakni dengan melakukan analisis data berdasarkan distribusi frekuensi ikan hasil
tangkapan.
Untuk mempermudah interpretasi data tersebut dapat menggunakan penyajian
data berupa tabel. Selain tabel, penyajian data yang cukup populer dan komunikatif
adalah dengan grafik. pada umumnya terdapat dua macam grafik, yaitu grafik garis
(polygon) dan grafik batang (histogram). Umumnya gambar histogram seperti barisan
batang-batang

persegi

panjang

yang

menunjukkan

jumlah

batang

menurut

pengelompokkan datanya. Untuk memudahkan analisis, kelompok data yang sekelas,


biasanya dipandang secara kelompok dan kelompok-kelompok data tersebut akan
bertebaran mulai dari kelas rendah sampai yang tinggi.
Penerapan penyajian data dalam bentuk histogram ini sangat bermanfaat pada
pengelolaan sumberdaya perikanan, terutama untuk mengetahui kondisi populasi suatu
spesies. Menyadari manfaat dan pentingnya penerapan penyajian data tersebut, maka
dirasa perlu untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai tabulasi data dan
penyajian data dalam bentuk histogram melalui praktikum Manajemen Sumberdaya
Perairan. Dengan demikian mahasiswa mampu melakukan tabulasi, menyajikan dan
menginterpretasikan data menjadi sebuah informasi awal yang sangat bermanfaat untuk
mengetahui kondisi populasi suatu spesies.

B. Tujuan
Praktikum Manajemen Sumberdaya Perairan acara Histogram ini bertujuan untuk :
1. Melakukan tabulasi data dan menyajikan data frekuensi panjang ke dalam bentuk
histogram.
2. Membuat berbagai bentuk grafik dan memberikan informasi seperlunya.

C. Manfaat
Manfaat dari Praktikum Manajemen Sumberdaya Perairan acara Histogram ini adalah :
1. Mampu melakukan tabulasi data frekuensi panjang.
3

2. Mampu membuat dan membaca informasi yang ditampilkan dalam grafik histogram.
3. Mengetahui kondisi populasi suatu spesies berdasarkan grafik histogram yang ada.

D. Waktu dan Tempat


Praktikum Lapangan Manajemen Sumberdaya Perairan dilaksanakan pada hari
Sabtu, 29 November 2014 sampai hari Minggu, 30 November 2014. Adapun lokasi
praktikum lapangan ini bertempat di Waduk Sermo, Kulon Progo serta Rowo Jombor,
Klaten.

II.

TINJAUAN PUSTAKA
4

A. Rowo Jombor

Gambar 2.1. Lokasi Rowo Jombor (Sumber : Google Maps)


Rowo Jombor merupakan sebuah rawa yang terletak di tengah Desa Krakitan,
Kecamatan Bayat yang dikelilingi oleh pegunungan kapur. Rowo Jombor merupakan
salah satu rawa yang sangat luas di Kabupaten Klaten. Secara geografis Rowo Jombor
terletak di antara garis lintang 7o 5011 dan bujur timur 110o 3142 (Nurroh, 2014).
Rowo tersebut memiliki peranan penting bagi penduduk untuk irigasi, perikanan dan
juga tempat wisata. Rawa ini merupakan dataran yang berbentuk cekung sehingga dapat
menampung air karena posisi lebih rendah dari perbukitan disekitarnya. Sehingga proses
sedimentasi langsung menuju lembah dari perbukitan yang bermuara ke Rowo Jombor.
Rowo ini dikelilingi oleeh bukit-bukit yang sebagian besar merupakan pegunungan
kapur. Rowo Jombor berjarak kurang lebih 8 km dari kota Klaten. Rowo ini memiliki
luas 198 ha dengan kedalaman meencapai 4,5 m dan meemiliki daya tampung air 4 juta
m3. Tanggul yang mengelilingi rowo ini sepanjang 7,5 km dengan lebar tanggul 12 m.

B. Waduk Sermo
Waduk Sermo terletak di Kabupaten Kulonprogo tepatnya di Kelurahan Hargo Wilis,
Kecamatan Kokap. Waduk tersebut dimanfaatkan sebagai sumber air bersih oleh
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan untuk air irigasi yang mengairi sawah di
daerah Wates dan sekitarnya. Waduk ini terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS)

Ngrancah yang dibentuk oleh lereng perbukitan yang agak curam pada elevasi antara 90
sampai 650 meter di atas permukaan laut (Beny dkk., 2009).

Gambar 2.2. Posisi waduk Sermo di Kecamatan Kokap


Menurut Sentosa (2010), Waduk Sermo secara geografis terletak pada koordinat
74834 LS dan 1100638 BT, secara administratif terletak di Desa Hargowilis,
Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
(DIY), kurang lebih 5 km di sebelah barat kota Wates. Waduk Sermo ini dibangun
dengan membendung Kali Ngrancah yang dapat menampung air 25 juta meter kubik.
Waduk yang mempunyai luas genangan kurang lebih 157 hektar ini, menjadi penyangga
air bagi pertanian di daerah hilir, sekaligus objek menjadi wisata yang menarik. Waduk
Sermo terdiri dari bendungan utama yang merupakan tipe urugan batu berzona dengan
inti kedap air. Waduk Sermo panjang 190 m, lebar 8 m, tinggi maksimum 58,60 m dan
volume urugan 568.000 m3.

C. Ikan Penghuni Waduk / Rawa


Ekosistem waduk/rawa terdiri atas unsur organisme dan lingkungan yang saling
berinteraksi antar keduanya. Menurut Tansley (2007), semua organisme dan
lingkungannya yang terdapat dilokasi tertentu merupakan unsur-unsur ekosistem. Salah
satu jenis organisme penyusun ekosistem perairan adalah ikan. Pada umumnya ekosistem
waduk/rawa dihuni oleh berbagai macam jenis ikan. Beberapa jenis ikan penghuni

perairan lentik diantaranya adalah ikan wader, ikan sepat, ikan gabus, ikan nila, ikan
gurame, ikan red devil, ikan mujair, ikan mas, dan lain sebagainya.

1. Ikan Wader
Klasifikasi ikan wader menurut Nelson (2006) :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Actinopterygii

Sub-kelas

: Neopterygii

Ordo

: Cypriniformes

Famili

: Cyprinidae

Genus

: Puntius

Spesies

: Puntius sp.

Gambar 2.3. Ikan Wader


Wader
Ikan wader ijo termasuk ke dalam famili Cyprinidae seperti ikan mas dan ikan
nilem. Bentuk badan agak panjang dan pipih dengan punggung meninggi, kepala
kecil, moncong meruncing, mulut kecil terletak pada ujung hidung, sungut sangat
kecil atau rudimenter. Di bawah garis rusuk terdapat sisik 5 buah dan 3-3 buah di
antara garis rusuk dan permulaan sirip perut. Garis rusuknya sempurna berjumlah
antara 29-31 buah. Badan berwarna keperakan agak gelap di bagian punggung. Pada
moncong terdapat tonjolan-tonjolan yang sangat kecil. Sirip punggung dan sirip ekor
berwarna abu-abu atau kekuningan, dan sirip ekor bercagak dalam dengan lobus
membulat, sirip dada berwarna kuning dan sirip dubur berwarna oranye terang. Sirip
dubur mempunyai 6 jari-jari bercabang (Kottelat et al., 1993).
Ikan wader ijo merupakan salah satu ikan asli Indonesia. Ikan wader ijo dalam
habitat aslinya adalah ikan yang berkembang biak di sungai, danau dan rowo rowo
dengan lokasi yang disukai adalah perairan dengan air yang jernih dan terdapat
aliran air, mengingat ikan ini memiliki sifat biologis yang membutuhkan banyak
oksigen dan hidup di perairan tawar dengan suhu tropis 22 28C, serta pH 7. Ikan
ini dapat ditemukan di dasar sungai mengalir pada kedalaman hingga lebih dari 15
m, rowo banjiran dan waduk. Ikan wader ijo adalah termasuk ikan herbivore atau
pemakan tumbuhan (Kotelat et al., 1993).
7

2. Ikan Nila
Klasifikasi ikan nila menurut Saanin (1968)
Filum

: Chordata

Subfilum

: Vertebrata

Kelas

: Osteichtyes

Subkelas

: Acanthopterygii

Ordo

: Percomorphi

Subordo

: Percoidea

Famili

: Cichlidae

Genus

: Oreochromis

Spesies

: Oreochromis niloticus

Gambar 2.4. Ikan Nila


Wader

Ikan nila memiliki ciri morfologis yaitu berjari-jari keras, sirip perut torasik, letak
mulut subterminal dan berbentuk meruncing. Selain itu, tanda lainnya yang dapat
dilihat dari ikan nila adalah warna tubuhnya hitam dan agak keputihan. Bagian tutup
insang berwarna putih, sedangkan pada nila lokal putih agak kehitaman bahkan
kuning. Sisik ikan nila berukuran besar, kasar dan tersusun rapi. Sepertiga sisik
belakang menutupi sisi bagian depan. Tubuhnya memiliki garis linea lateralis yang
terputus antara bagian atas dan bawahnya. Linea lateralis bagian atas memanjang
mulai dari tutup insang hingga belakang sirip punggung sampai pangkal sirip ekor.
Ukuran kepala relatif kecil dengan mulut berada di ujung kepala serta mempunyai
mata yang besar (Kottelat et al., 1993).
Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan lingkungan
sekitarnya. Ikan ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya,
sehingga bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau maupun dataran yang
tinggi dengan suhu yang rendah (Trewavas, 1982). Ikan nila mampu hidup pada
suhu 14-38C dengan suhu terbaik adalah 25-30C dan dengan nilai pH air antara
6-8,5.

3. Ikan Sepat
Klasifikasi ikan sepat menurut Hadiwiyoto (1993) :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Actinopterygii

Ordo

: Perciformes

Famili

: Luciocephalinae

Genus

: Trichopodus

Spesies

: Trichopodus trichopterus

Gambar 2.5. Ikan Sepat


Wader

Ikan Sepat Rowo (Trichogaster trichopterus) memiliki ciri-ciri bentuk tubuhnya


seperti ikan sepat siam yaitu tubuhnya pipih, kepalanya mirip dengan ikan gurami
muda yaitu lancip. Panjang tubuhnya tidak dapat lebih besar dari 15 cm, permulaan
sirip punggung terdapat di atas bagian yang lemah dari sirip dubur. Pada tubuhnya
ada dua bulatan hitam, satu di tengah-tengah dan satu di pangkal sirip ekor. Sirip
ekor terbagi ke adalan dua lekukan yang dangkal (Hadiwiyoto, 1993). Dan ikan
sepat Rowo memiliki permulaan sirip punggung atas yang lemah dari sirip
duburnya. A. XI X (XII). 33-38. bagian kepala dibelakang mata dua kali lebih dari
permulaan sirip punggung di atas bagian berjari-jari keras dari sirip dubur.

4. Ikan Gabus
Klasifikasi ikan gabus menurut Bloch (1793) :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Sub phylum : Vertebrata


Classis

: Teleostei

Sub Classis : Actinopterygii


Ordo

: Perciformes

Familia

: Channidae

Genus

: Channa

Spesies

: Channa striata

Gambar 2.6. Ikan Gabus

Ikan gabus merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang hidup di perairan
kawasan Asia. Ikan ini terkenal sebagai ikan air tawar bersifat karnivor yang biasa
memakan berbagai jenis ikan kecil, serangga serta hewan lain seperti cacing, berudu,
kodok, dan berbagai jenis crustacea. Habitat ikan ini dapat ditemukan di sungaisungai, rowo, dan danau. Panjang ikan ini dapat mencapai 100 cm (Pethiyagoda,
1991). Ikan gabus biasa dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi, tetapi oleh sebagian
kecil masyarakat juga digunakan untuk membantu pemberantasan keong-keong yang
menjadi hama pada lahan pertanian.
Ikan gabus biasa didapati di danau, rowo, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke
sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai
hewan air lain termasuk berudu dan kodok. Ikan ini sangat kaya akan albumin, salah
satu jenis protein penting. Albumin diperlukan tubuh manusia setiap hari, terutama
dalam proses penyembuhan luka-luka. Pemberian daging ikan gabus atau ekstrak
proteinnya telah dicobakan untuk meningkatkan kadar albumin dalam darah dan
membantu penyembuhan beberapa penyakit.
Ikan Gabus (Channa striata) memiliki bentuk tubuh hampir bulat panjang, makin
kebelakang makin menjadi gepeng. Punggungnya cembung, perutnya rata, sirip
punggung lebih panjang dari sirip dubur, sirip yang pertama disokong oleh 38-45
jari-jari lunak, sirip yang disebut belakangan disokong oleh 23-27 jari-jari sirip dada
lebar dengan ujung membulat disokong oleh 15-17 jari-jari lunak. Gurat sisi ada 5257 keping, panjang tubuhnya dapat mencapai 100 cm. (Djuhanda, 1981)

5. Ikan Red Devil


Klasifikasi ikan wader ijo menurut Axelrod (1975),
Phylum
Class
Ordo
Famili
Sub-Famili
Genus
Spesies

: Chordata
: Actinopterygii
: Perciformes
: Cichlidae
: Cichlasomatin
: Amphilophus
: Amphilophus citrinellus
Gambar 2.6. Ikan Gabus
10

Ikan ini berasal dari perairan tropis, itu akan membutuhkan suhu air 21-26 C (70
hingga 79 F) di akuarium. Nilai pH yang disukai adalah 7,0, tetapi ikan ini biasanya
dapat beradaptasi dengan kondisi air dari pH 6,0 sampai pH 8,0. Ini juga akan
mentolerir dH 6-25, tetapi berusaha untuk tetap dekat dengan 10 dH dianjurkan. Ikan
ini berasal dari Nikaragua dan Kosta Rika, tetapi telah diperkenalkan oleh manusia
untuk beberapa bagian lain dunia. Rentang aslinya ditemukan dari 15 LU sampai
8LS, dan 23-33C wilayah rumahnya termasuk drainase Sungai San Juan.
Sama dengan ikan Mujair, ikan ini termasuk kategori good parent. Dia akan
melindungi anak anaknya sampai ukuran remaja. Hanya saja bukan mouthbreeder
yang menjaga anak-anaknya dalam mulut seperti ikan mujair. Di habitat aslinya,ikan
ini memakan serangga-serangga kecil, larva dan cacing. Tubuh memanjang dan
lateral terkompresi cichlid red devil bisa tumbuh sampai 30 cm (12 inci) panjangnya
dan berakhir di sirip ekor berbentuk kipas. Sirip punggung yang runcing. Sama
seperti banyak jenis cichlid lain.

Red devil cichlid memiliki dahi cekung dan

jantannya mengembangkan benjolan kranial yang berbeda. Ikan ini memiliki mata
yang relatif kecil. Ikan Red Devil merupakan pemangsa oportunis yang akan
memakan berbagai macam makanan yang berbeda di alam liar. Ikan ini merupakan
tipe ikan predator (Courtenay and Williams, 2004).

D. Histogram
Histogram adalah grafik yang digambarkan berdasarkan data yang sudah disusun
dalam tabel distribusi frekuensi. Grafik tersebut berupa persegi panjang yang saling
berimpit pada salah satu sisinya. Menurut Aunuddin (2005), histogram dapat menyajikan
berbagai macam informasi yang terkait dengan data yang disajikan. Secara rinci
dijelaskan oleh Balittra (2002), bahwa histogram dapat digunakan untuk mengetahui
distribusi/ penyebaran data sehingga didapatkan informasi yang lebih banyak dari data
tersebut dan akan memudahkan untuk mendapatkan kesimpulan dari data tersebut.
Dengan kata lain, histogram merupakan gambaran secara grafik dari distribusi
frekuensi. Histogram atau histogram frekuensi ini terdiri dari himpunan siku empat yang
mempunyai :

11

1. Alas pada sumbu mendatar (sumbu-x) dengan pusat markah (titik tengah kelas) dan
panjang sama dengan ukuran selang kelas.
2. Luas sebanding terhadap frekuensi kelas.
3. Jika semua selang kelas mempunyai ukuran sama, tinggi segi empat sebanding
terhadap frekuensi kelas dan merupakan kebiasaan untuk mengambil tinggi secara
numerik sama dengan frekuensi kelas.
Fungsi atau kegunaan histogram dalam perikanan antara lain :
1. Diagram batang umumnya digunakan untuk menggambarkan perkembangan nilai
suatu objek penelitian dalam kurun waktu tertentu.
2. Histogram berguna untuk mengetahui komposisi sebaran ukuran ikan untuk
pengelolaan perikanan.
3. Mempermudah melihat dan menginterpretasikan data tangkapan ikan.
Sedangkan menurut Raharjo (2006) manfaat histogram dalam perikanan adalah
memberikan informasi mengenai data kondisi populasi ikan disuatu perairan pada kurun
waktu tertentu, informasi tentang data persebaran ikan diperairan, dan informasi
menganai potensi perikanan.

12

III.

METODOLOGI

A. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

Alat pengukur panjang (penggaris)


Alat pengukur berat (timbangan)
Alat tulis (pulpen, pensil, kertas)
Komputer/Laptop
Kamera

B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel ikan hasil tangkapan di Rowo
Jombor (nila hitam, nila merah, wader, sepat, gabus) dan Waduk Sermo (nila merah, red
devil)

C. Cara Kerja
1. Sampel ikan hasil tangkapan dari Waduk Sermo dan Rowo Jombor diambil.
2. Dilakukan pengukuran terhadap panjang dan berat ikan yang tertangkap, kemudian
dicatat.
3. Dilakukan tabulasi data kedalam kelompok ukuran tertentu sehingga dapat dibuat
suatu grafik dan dapat memudahkan dalam menganalisis informasi populasi ikan
pada masing-masing lokasi.
4. Histogram frekuensi panjang ikan pada masing-masing lokasi dibuat.
5. Berdasarkan grafik histogram tersebut diinterpretasikan informasi yang diperoleh
terkait populasi ikan di Waduk Sermo dan Rowo Jombor.
Rumus Perhitungan :
Jumlah data (n)
Rentang
= panjang total terbesar- panjang data terkecil
Banyak kelas = 1+3,3(log(n))
rentang
Jarak kelas
= banyak kelas
Panjang kelas = panjang terkecil+jarak kelas

13

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Distribusi Frekuensi Panjang
14

Histogram Panjang Wader ijo (Puntius brevis)


10
8
6
4

jumlah frekuensi

Jumlah Ikan

2
0

kelas panjang (cm)

Grafik 4.1. Histogram panjang ikan wader ijo (Puntius brevis) di Rowo Jombor
Berdasarkan grafik histogram ikan wader ijo (Puntius brevis) tersebut nampak
bahwa variasi panjang ikan wader ijo di perairan Rowo Jombor dihuni oleh ikan
dengan ukuran berkisar antara 5,3 7,08. Dalam rentang kurang lebih 2 terseebut
dibagi dalam 6 kelompok panjang yaitu antara 5,3 - 5,9 cm; 5,6 - 5,89 cm; 5,9 - 6,19
cm; 6,20 - 6,49 cm; 6,50 - 6,79 cm; 6,8 - 7,08 cm.

Histogram Panjang Nila hitam (Oreochromis niloticus)

jumlah frekuensi

16
14
12
10
8
6
4
2
0

Jumlah Ikan

kelas panjang (cm)

Grafik 4.2. Histogram panjang ikan nila hitam (Oreochromis niloticus) di Rowo
Jombor
Berdasarkan grafik histogram tersebut, tampak bahwa hasil tangkapan ikan nila
hitam di Rowo Jombor memiliki panjang yang berkisar antara 8,50 - 42,61 cm. Pada
rentang yang cukup lebar tersebut, ikan wader ijo dikelompokkan lagi ke dalam 6

15

kelompok panjang. Kelompok panjang tersebut teriri dari 8,50 - 14,17 cm; 14,18 19,85 cm; 19,90 - 25,57 cm; 25,58 - 31,25 cm; 31,26 - 36,93 cm; 36,94 - 42,61 cm.

Histogram Panjang Sepat (Trichopodus trichopterus)

jumlah frekuensi

5
4
3
2
1
0

Jumlah ikan

kelas panjang (cm)

Grafik 4.3. Histogram panjang ikan sepat (Trichopodus trichopterus) di Rowo


Jombor
Berdasarkan grafik histogram di atas, tampak bahwa sampel ikan sepat yang
tertangkap di Rowo Jombor memiliki panjang yang berkisar antara 3,7 hingga 7,09
cm. Pada rentang kurang lebih 4 cm tersebut, ikan sepat hasil tangkapan ini
dikelompokkan lagi menjadi 5 kelompok panjang. Kelompok panjang tersebut
terdiri dari 3,7 - 4,37 cm; 4,38 - 5,05 cm; 5,06 - 5,73 cm; 5,74 - 6,41 cm; dan 6,42 7,09 cm.

Histogram Panjang Ikan Nila


(Oreochromis niloticus)

Axis Title

5
4
3
2
1
0

kelas panjang(cm)

Grafik 4.4. Histogram panjang ikan nila (Orechromis niloticus) di Waduk Sermo
Dari histogram tersebut, tampak bahwa dari keseluruhan sampel ikan nila yang
tertangkap di Waduk Sermo memiliki panjang berkisar antara 18,6 - 24,95 cm. Pada
16

rentang kurang lebih mencapai 6 cm tersebut, ikan nila hasil tangkapan tersebut
dikelompokkan lagi menjadi 5 kelompok panjang. Kelompok panjang tersebut
terdiri dari 18,6 - 19,87 cm; 19,88 - 21,15 cm; 21,16 - 22,43 cm; 22,44 - 23,67 cm;
23,68 -24,95 cm.

Histogram Panjang Ikan Red Devil Merah (Criptacanthodes aleutensis)

Jumlah frekuensi

4
3
2
1
0

kelas panjang(cm)

Grafik 4.5. Histogram panjang ikan red devil merah (Criptacanthodes aleutensisus)
di Waduk Sermo
Berdasarkan histogram di atas, tampak bahwa sampel ikan red devil merah yang
tertangkap memiliki panjang yang berkisar antara 10,2 13,22 cm. Pada rentang
kurang lebih 3 cm tersebut, ikan red devil merah dikelompokkan lagi menjadi 3
kelompok panjang. Kelompok panjang tersebut meliputi 10,2 - 11,20 cm; 11,21 12,21 cm; dan 12,22 - 13,22 cm.

Histogram Panjang Ikan Red Devil Hitam (Cryptocanthodes aleutensis)


20
15
10
5
Jumlah frekuensi
0

kelas panjang(cm)

Grafik 4.6. Histogram panjang ikan red devil hitam (Criptocanthodes aleutensisus) di
Waduk Sermo

17

Berdasarkan grafik histogram tersebut, tampak bahwa ikan red devil hitam yang
tertangkap di Waduk Sermo memiliki panjang yang berkisar antara 4,2 hingga 12,99
cm. Pada rentang yang cukup panjang tersebut, ikan red devil hitam tersebut
dikelompokkan lagi menjadi 6 kelompok panjang. Kelompok panjang ikan ini terdiri
dari 4,2 - 7,99 cm; 7,1 - 8,99 cm; 8,10 - 9,99 cm; 9,10 - 10,99 cm; 10,10 - 11,99 cm;
dan 11,10 - 12,99 cm.

2. Komposisi Hasil Tangkapan

Hasil Tangkapan Berdasarkan Jenis Ikan

Sepat; 15%
Nila merah; 2%

Wader Ijo; 41%

Nila hitam; 42%

Grafik 4.7. Pie bar hasil tangkapan berdasarkan jenis ikan yang ditangkap di Rowo
Jombor
Berdasarkan grafik pie bar tersebut, tampak bahwa hasil tangkapan dominan di
Rowo Jombor yaitu ikan nila hitam dengan persentase sebesar 42%, lalu disusul oleh
ikan wader ijo dengan persentase sebesar 41%, kemudian ikan sepat sebesar 15%
dan yang terakhir ikan nila merah tertangkap pada presentase terkecil, yakni 2% dari
total hasil tangkapan.

18

Hasil Tangkapan Berdasarkan Jenis Ikan

Nila; 35%
Red Devil Hitam; 53%
Red Devil Merah; 12%

Grafik 4.8. Pie bar hasil tangkapan berdasarkan jenis ikan yang ditangkap di Waduk
Sermo
Berdasarkan grafik pie bar di atas, terlihat bahwa hasil tangkapan dominan di Waduk
Sermo adalah ikan red devil hitam dengan persentase sebesar 53%, kemudian
disusul ikan nila sebanyak 35% dan ikan red devil merah dengan persentase terkecil,
yakni sebesar 12 % dari total hasil tangkapan.

3. Komposisi Hasil Tangkapan Berdasarkan Alat Tangkap

Jumlah Hasil Tangkapan Berdasarkan Alat Tangkap

Bubu; 17%
Jaring Insang; 41%

Jala; 42%

19

Grafik 4.9. Pie bar hasil tangkapan berdasarkan alat tangkap di Rowo Jombor
Berdasarkan grafik pie bar tersebut, terlihat bahwa alat tangkap yang paling efektif
digunakan dalam usaha penangkapan di daerah Rowo Jombor adalah alat tangkap
jala. Penggunaan alat tangkap jala mendominasi hasil tangkapan di Rowo Jombor.
Dari keseluruhan hasil tangkapan di daerah Rowo Jombor, 42% diantaranya
ditangkap menggunakan alat tangkap jala, lalu 41% lainnya ditangkap dengan
menggunakan jaring insang atau gillnet, dan 17 % sisanya ditangkap dengan
menggunakan alat tangkap bubu.

Jumlah Hasil Tangkapan Berdasarkan Alat Tangkap

Pancing; 41%
Jala ; 59%

Grafik 4.10. Pie bar hasil tangkapan berdasarkan alat tangkap di Rowo Jombor
Berdasrkan Grafik pie bar tersebut tampak bahwa usaha penangkapan di Waduk
Sermo Kulon Progo dilakukan dengan menggunakan alat tangkap jala dan pancing.
Dari data tersebut, alat tangkap yang paling efektif digunakan dalam usaha
penangkapan di daerah Waduk Sermo adalah alat tangkap jala, dimana 59% dari
total hasil tangkapan ditangkap dengan menggunakan alat tangkap tersebut.
Sementara 41% sisanya ditangkap dengan menggunakan alat tangkap pancing.

B. Pembahasan
Rowo Jombor yang terletak di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten pada
mulanya hanya dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi bagi lahan pertanian di wilayah
Kecamatan Bayat dan Kecamatan Cawas, serta sebagai tempat penangkapan ikan.
20

Masyarakat sekitar rowo selanjutnya memanfaatkan perairan rowo sebagai lahan


budidaya ikan dalam karamba jaring tancap (selanjutnya disebut jaring tancap) dan
karamba jaring apung (selanjutnya disebut jaring apung) serta kegiatan wisata kuliner
warung apung. Di perairan Rowo Jombor terdapat 21 warung apung, sedangkan
masyarakat yang mengusahakan jaring tancap (sebelum adanya larangan penggunaan
jaring tancap pada tahun 2011) berjumlah 525 orang dan tergabung dalam 13 kelompok
petani karamba, namun sampai dengan bulan Agustus 2012 masyarakat Desa Krakitan
yang telah mengusahakan budidaya ikan dengan jaring apung berjumlah 66 orang (PPL
Perikanan Kecamatan Bayat, 2013).
Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat 5 jenis ikan yang diperoleh dari hasil tangkapan
di Rowo Jombor. Ikan hasil tangkapan tersebut meliputi ikan nila hitam, ikan nila merah,
ikan wader ijo, ikan sepat dan ikan gabus. Kondisi airnya masih bagus karena tidak ada
bahan pencemar di lingkungan rowo. Secara umum kondisi lingkungan perairan masih
baik, namun dengan adanya populasi enceng gondok yang berlebihan dapat mengganggu
kegiatan manusia seperti transportasi, merusak jaring yang ada di tengah rowo, dan
lainnya.
Waduk Sermo merupakan satu - satunya waduk yang terdapat di Yogyakarta, dimana
terletak di daerah Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Kelebihan
dari waduk ini adalah memiliki air yang jernih, bentuknya yang berkelok-kelok,
dikelilingi oleh perbukitan menerah dan kawasan hutan. Fungsi utama dibangunnya
waduk Sermo adalah sebagai tempat penyediaan air baku untuk pengairan. Disamping itu
juga mempunyai fungsi tambahan sebagai objek wisata dan penyediaan sarana air
minum.
Dewasa ini, waduk Sermo digunakan untuk tempat pembudidayaan ikan, dan adanya
kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar khususnya nelayan.
Penangkapan ikan menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh nelayan mengingat setiap
melakukan tangkapan hasil yang diperoleh banyak, dengan begitu perekonomian
masyarakat dapat tercukupi. Namun, penangkapan ikan di waduk, kurang didasarkan
pada perencanaan yang baik sehingga dikhawatirkan akan menurunkan jumlah ikan
khususnya ikan ikan endemik.
Berdasarkan grafik histogram yang diperoleh dapat diketahui bahwa ikan wader ijo pada
dari keenam kelompok didominasi oleh ikan wader ijo dengan ukuran antar 5,9 - 6,19
21

cm. Ikan wader ijo dengan ukuran kelas panjang tertinggi yakni dengan kisaran ukuran
6,8 7,08 cm menempati frekuensi terendah. Jenis ikan wader ijo pada periaran Rowo
Jombor ini didominasi oleh kelompok panjang 5,9-6,19 cm, sementara pada kelompok
panjang yang lebih tinggi populasinya sedikit. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya
aktifitas penangkapan yang intensif sehingga menyebabkan populasi ikan wader pada
kelompok panjang tersebut mengalami penurunan stok. Di samping itu, dominasi
tersebut dapat terjadi karena adanya kompetisi dari spesies lain penghuni Rowo Jombor.
Aktifitas penangkapan yang pada umumnya menggunakan jaring insang dengan ukuran
kecil juga dapat menyebabkan sedikitnya populasi ikan pada kelompok panjang yang
lebih kecil. Kegiatan penangkapan yang dilakukan hampir setiap hari di Rowo Jombor
ini juga tidak memberikan kesempatan pada ikan wader ijo untuk berkembang.
Berdasarkan data yang diperoleh ikan nila hitam yang mendominasi hasil tangkapan di
Rowo Jombor yaitu ikan nila hitam pada kelompok panjang 19,90 - 25,57 cm dengan
jumlah tangkapan sebersar 14 ekor. Akan tetapi pada kelompok panjang 25,58-31,25cm
dan 31,26-36,93cm tidak ada ikan yang tertangkap sama sekali. Ikan nila hasil tangkapan
di Rowo Jombor ini didominasi ikan dengan ukuran sedang hal tersebut dikarenakan stok
ikan nila di Rowo Jombor ini cukup tinggi. Keadaan tersebut didukung oleh kondisi
perairan yang sangat sesuai untuk pertumbuhan ikan nila. Hal tersebut juga dapat
dikarenakan pertumbuhan ikan nila yang baik dan regenerasi yang terus terjadi sehingga
keberadaan stok ikan nila di Rowo Jombor tetap terjaga. Hal lain yang mempengaruhi
yaitu kondisi lingkungan di Rowo Jombor yang sesuai untuk habitat ikan nila dan
ketersediaan makanan yang mampu mendukung keberlangsungan kehidupan ikan nila.
Ikan sepat yang mendominasi hasil tangkapan di Rowo Jombor yaitu ikan sepat dengan
kelompok panjang 5,74 - 6,41 cm, dengan hasil tangkapan sejumlah 4 ekor. Sementara,
ikan sepat pada kelompok panjang 5,74 - 6,41 cm tidak ada yang tertangkap. Dari hasil
pengamatan tersebut ikan sepat yang banyak ditangkap adalah ikan pada ukuran
konsumsi. Hal ini menandakan populasi ikan sepat di Rowo Jombor masih baik karena
masih banyak ikan dengan ukuran yang besar yang bisa ditangkap.
Ikan nila yang mendominasi hasil tangkapan di Waduk Sermo adalah ikan nila pada
kelompok panjang 18,6 - 19,87 cm dan 19,88 - 21,15 cm, dengan masing-masing
kelompok berjumlah 4 ekor. Ukuran tersebut mendominasi sebab, ukuran tersebut

22

tergolong ukuran konsumsi, yang menjadi target tangkapan para nelayan di Waduk
Sermo.
Ikan red devil merah hasil tangkapan di Wduk Sermo didominasi oleh ikan dengan
ukuran panjang yang berkisar antara 10,2 - 11,20 cm. Namun, pada ukuran 11,21 - 12,21
cm tidak ada ikan red devil merah yang tertangkap. Adanya dominansi kelas panjang
tersebut dapat disebabkan oleh ukuran maupun jenis alat tangkap yang digunakan.
Ikan red devil hitam hasil tangkapan di Waduk Sermo ini didominasi oleh ikan dengan
kelompok panjang 4,2 - 7,99 cm dengan jumlah tangkapan 14 ekor. Sedangkan pada
ukuran 7,10 - 8,99 cm dan 9,10 - 10,99 cm tidak ada ikan red devil hitam yang
tertangkap. Adanya dominansi kelas panjang tersebut dapat disebabkan oleh aktifitas
penangkapan yang pada umumnya menggunakan jaring insang maupun mata jaring yang
berukuran kecil, sehingga menyebabkan populasi ikan yang tertangkap mayoritas
berukuran kecil.
Berdasarkan grafik pie bar yang diperoleh, tampak bahwa hasil tangkapan dominan di
Rowo Jombor yaitu ikan nila hitam dengan persentase sebesar 42%, lalu disusul oleh
ikan wader ijo dengan persentase sebesar 41%, kemudian ikan sepat sebesar 15% dan
yang terakhir ikan nila merah tertangkap pada presentase terkecil, yakni 2% dari total
hasil tangkapan. Hasil tangkapan di Rowo Jombor didominasi ikan nila hitam
dikarenakan perairan rawa jombor merupakan habitat ideal bagi nila yang bersifat
omnivora, karena tersedia bahan makanan yang melimpah. Di samping itu, ikan nila
hitam juga merupakan komoditas yang diminati, karena nilai ekonomisnya yang tinggi.
Berdasarkan grafik pie bar yang diperoleh, terlihat bahwa alat tangkap yang paling
efektif digunakan dalam usaha penangkapan di daerah Rowo Jombor adalah alat tangkap
jala. Penggunaan alat tangkap jala mendominasi hasil tangkapan di Rowo Jombor. Dari
keseluruhan hasil tangkapan di daerah Rowo Jombor, 42% diantaranya ditangkap
menggunakan alat tangkap jala, lalu 41% lainnya ditangkap dengan menggunakan jaring
insang atau gillnet, dan 17 % sisanya ditangkap dengan menggunakan alat tangkap bubu.
Berdasarkan grafik pie bar yang diperoleh, terlihat bahwa hasil tangkapan dominan di
Waduk Sermo adalah ikan red devil hitam dengan persentase sebesar 53%, kemudian
disusul ikan nila sebanyak 35% dan ikan red devil merah dengan persentase terkecil,
yakni sebesar 12 % dari total hasil tangkapan. Jenis ikan yang mendominasi perairan
23

yaitu ikan Red Devil Hitam. Kemelimpahan ikan red devil tersebut menunjukkan bahwa
perkembangan ikan ini sangatlah pesat, sebab di perairan ini tidak ditemukan pula ikan
predator lain.
Berdasrkan Grafik pie bar tersebut tampak bahwa usaha penangkapan di Waduk Sermo
Kulon Progo dilakukan dengan menggunakan alat tangkap jala dan pancing. Dari data
tersebut, alat tangkap yang paling efektif digunakan dalam usaha penangkapan di daerah
Waduk Sermo adalah alat tangkap jala, dimana 59% dari total hasil tangkapan ditangkap
dengan menggunakan alat tangkap tersebut. Sementara 41% sisanya ditangkap dengan
menggunakan alat tangkap pancing.
Di perairan Rowo Jombor, jenis ikan yang paling mendominasi adalah ikan nila hitam.
Melimpahnya ikan nila hitam ini dikarenakan perairan Rawa Jombor kualitas airnya
masih baik serta perairannya pun tergolong ideal sebagai habitat bagi nila. Akan tetapi
ikan nila hitam termasuk komoditas yang banyak dicari, karena nilai jualnya yang cukup
tinggi. Sehingga tingkat eksploitasi ikan nila ini, semakin lama semakin meningkat. Hal
ini tentunya dapat menyebabkan penurunan populasi.
Berbeda dengan perairan Rowo Jombor, pada perairan Waduk Sermo jenis ikan yang
mendominasi perairan yaitu ikan red devil hitam. Melimpahnya ikan red devil ini
disebabkan oleh sifat perkembanganbiakan ikan ini sangat pesat. Hal ini juga didukung
oleh tidak adanya predator lain di perairan Waduk Sermo, oleh karena itu survival ratenya sangat tinggi.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa secara umum kondisi
perairan Rawa Jombor dan Waduk Sermo masih layak untuk kehidupan berbagai macam
jenis ikan. Hal ini terbukti dengan berbagai jenis ikan yang banyak ditemukan di tempat
tersebut. Akan tetapi, pada perairan Rowo Jombor produktivitasnya cenderung
mengalami penurunan, hal tersebut disebabkan oleh kegiatan penangkapan yang selama
ini berlangsung belum menerapkan konsep responsibility fisheries dan sustainability
fisheries. Apabila keadaan ini terus berlanjut maka akan mengancam populasi ikan di
Rowo Jombor ini. Oleh karena itu diperlukan adanya pengelolaan perairan yang lebih
intensif lagi bagi Rowo Jombor.

24

V.

KESIMPULAN

A. Kesimpulan
1. Populasi ikan di Rowo Jombor terdiri dari ikan wader ijo, ikan sepat, ikan nila
hitam, ikan nila merah, dan ikan gabus. Sedangkan populasi ikan di Waduk Sermo
terdiri dari ikan nila, ikan red devil hitam dan ikan red devil merah.
2. Rowo Jombor didominasi oleh populasi ikan Nila Hitam sedangkan Waduk Sermo
didominasi oleh populasi ikan Red Devil Merah.
3. Alat tangkap yang paling efektif digunakan baik di Rowo Jombor maupun di Waduk
Sermo adalah jala / jaring insang (gill net).

25

DAFTAR PUSTAKA

Aunuddin. 2005. Statistika : Rancangan dan Analisis Data. IPB Press. Bogor.
Axelrod, H.R. 1975. Encyclopedia of tropical fishes TFH. Publication Inc. Cornelison Av.
New York.
Balittra, 2002. Eksplorasi, karakterisasi, dan konservasi sumberdaya genetik tanaman di lahan
rawa. Laporan Hasil Penelitian T.A. 2002. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa,
Banjarbaru.
Beny, dkk. 2009. Kajian Pengendalian dan Pengelolaan Kawasan Waduk Sermo, Kulon
Progo. UGM Press. Yogyakarta.
Bloch. 1793. Fed Different Live Feed Organisms. Turkish Journal of Fisheries and Aquatic
Sciences 11: 543-548.
Courtenay and Williams. 2004. Early Clinical, Quality of Life, and Biochemical Changes of
Daily Hemodialysis. American Journal of Kidneys Diseases. Vol.43. No. 1.
Djuhanda. 1985. Dunia Ikan. Armico. Bandung.
Hadiwiyoto, S. 1993. Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan. Penerbit Liberty. Yogyakarta.
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari & S. Wiroatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of
Western Indonesia and Sulawesi. Edisi Dwi Bahasa Inggris-Indonesia. Periplus
Edition (HK) Ltd. Bekerjasama dengan Kantor Menteri KLH, Jakarta, Indonesia.
Nelson, J.S 2006. Fishes of the World. Fourth edition. John Wiley and Sons inc. New York.
Nugroho, A. 2006. Bioindikator Kualitas Air. Universitas Trisakti. Jakarta.
Nurroh, S. 2014. Identifikasi Potensi Sumberdaya Alam Berbasis Ekoregion. Final
Assignment of Environmental Management. UGM Press. Yogyakarta.
Pethiyagoda, L. 1991. Fish Taxonomy. Eureka. Italy.

26

PPL Perikanan Kecamatan Bayat. 2013.Daftar Rumah Tangga Perikanan Karamba dan
Nelayan Kecamatan Bayat Tahun 2013. DKP. Kalten.
Raharjo, S. 2006. Kerusakan Oksidatif Pada Makanan. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta.
Saanin. H. 1968. Taksonomi dan Kunci Determinasi Ikan. Bina Cipta. Jakarta.
Sentosa, A.A. 2010. Kajian Dinamika Populasi Ikan Wader Pari (Rasbora Lateristriata) di
Sungai Ngrancah, Kabupaten Kulon Progo. Prosiding Seminar Nasional Perikanan
dan Kelautan. UGM. Yogyakarta.
Tansley, D. P., Jome, L. M., Haase, R. F., & Martens, M. P. 2007. The effect ofmessage
framing on college students career decision making. Journal of Career Assessment,
15, 301-316.
Trewavas, E. 1982. Tilapias : Taxonomy and spesification. London.

27

Lampiran 1

Tabel

1.

tangkapan
(Puntius
Rowo

No

Spesies

Panjang (cm)

Berat (gr)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo
Wader ijo

6,7
6,5
5,5
6
5,3
6,9
5,9
5,7
6
6,3
6
5,9
6,5
6,4
5,7
5,9
6
6
6,1
6,5
6,3
5,6
6,2
5,5

39
39
19
29
9
29
19
29
29
29
2
1
2
1
1
2
29
29
29
29
19
19
29
29

data

hasil

ikan wader ijo


brevis)

di

Jombor

28

Tabel 2. Data hasil tangkapan ikan nila hitam (Oreochromis niloticus) di Rowo Jombor
No

Spesies

Panjang (cm)

Berat (gr)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam
Nila hitam

20,7
21
19
20,8
18
20,4
23,3
16
40,3
22,4
24
12,8
22
21,6
21,8
18
24,4
14,7
17,3
22
20
19,5
20
16,5
8,5

181
175
154
179
130
183
245
117
553
179
242
42
210
196
189
101
247
60
89
193
138
159
137
90
12

Tabel 3. Data hasil tangkapan ikan sepat (Trichopodus trichopterus) di Rowo Jombor
no

Spesies

panjang (cm)

berat (gr)

1
2
3
4
5
6
7

Sepat
Sepat
Sepat
Sepat
Sepat
Sepat
Sepat

6,4
6,5
6
5,9
6
5,5
5,1

5
5
4
3
4
3
3
29

8
9

Sepat
Sepat

5,3
3,7

3
1

Tabel 4. Non histogram data hasil tangkapan ikan nila merah (Oreochromis niloticus) dan
ikan gabus (Channastrita) di Rowo Jombor
No
1
2

Spesies
Nila merah
(Oreochromis niloticus)
Gabus (Channastrita)

panjang (cm)

berat (gr)

3,7

40,3

553

Tabel 5. Data hasil tangkapan berdasarkan jenis ikan yang diperoleh di Rowo Jombor
Jenis Ikan

Frekuensi

Wader Ijo
Nila hitam
Nila merah
Sepat

24
25
1
9

Tabel 6. Data hasil tangkapan berdasrkan jenis alat tangkap yang digunakan di Rowo
Jombor
Jenis Alat Tangkap

Hasil (Ekor Ikan)

Jaring Insang
Jala
Bubu

24
25
10

Tabel 7. Data hasil tangkapan ikan nila (Oreochromis niloticus) di Waduk Sermo
No

Jenis

Panjang (Cm)

Berat (gr)

1
2
3
4
5
6
7
8

Ikan Nila
Ikan Nila
Ikan Nila
Ikan Nila
Ikan Nila
Ikan Nila
Ikan Nila
Ikan Nila

23.5
19.5
24.5
20.7
18.6
24
21
19.6

191
146
247
182
137
263
183
143
30

9
10
11
12

Ikan Nila
Ikan Nila
Ikan Nila
Ikan Nila

19.4
20.4
20.2
21.7

135
166
157
187

Tabel 8. Data hasil tangkapan ikan red devil merah (Cryptocanthodes aleutensis) di
Waduk Sermo
No

Spesies

Panjang (cm)

Berat (gr)

1
2
3
4

Ikan Red Devil Merah


Ikan Red Devil Merah
Ikan Red Devil Merah
Ikan Red Devil Merah

10.2
10.3
10.4
13.2

19
24
17
38

\
Tabel 9. Data hasil tangkapan ikan red devil hitam (Criptacanthodes aleutensis) di
Waduk Sermo
No

Spesies

Panjang (cm)

Berat (gr)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Ikan Red Devil Hitam


Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam
Ikan Red Devil Hitam

11
6
13.9
7.2
5.5
6.3
6.7
6.2
6.7
5.8
6.6
5.8
7.8
4.8
5.5
9.6
4.3
4.2

25
4
38
7
3
4
5
4
5
3
5
4
7
2
4
13
2
2

Tabel 10. Data hasil tangkapan berdasarkan jenis ikan yang diperoleh di Waduk Sermo
Jenis Ikan
Nila

Frekuens
i
12
31

Red Devil Merah


Red Devil Hitam

4
18

Tabel 11. Data hasil tangkapan berdasrkan jenis alat tangkap yang digunakan di Waduk
Sermo
Jenis Alat Tangkap
Jala
Pancing

Hasil (ekor ikan)


20
14

32