Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN ACARA III

PRAKTIKUM MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


RASIO MANGSA PEMANGSA

Oleh:
Carissa Paresky Arisagy
12 / 334991 / PN / 12981

Asisten :
Ika Firawati

LABORATORIUM MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
47

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Makhluk hidup di bumi ini terdiri dari

bermacam-macam spesies yang

membentuk populasi dan hidup bersama. Makhluk hidup selalu bergantung kepada
makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain
yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasi atau individu-individu
dari populasi lain. Ada beberapa jenis hubungan yang dapat terjadi antar spesies. Salah
satu interaksi tersebut adalah predasi, yaitu hubungan antara mangsa (prey) dan
pemangsa (predator). Hubungan

ini sangat erat kaitannya karena tanpa mangsa,

pemangsa tidak dapat bertahan hidup karena tidak ada sumber makanan yang akan
dikonversi menjadi individu-individu baru yang akan memperkecil kemungkinan
terjadinya kepunahan. Sebaliknya pemangsa berfungsi sebagai pengontrol populasi
mangsa.
Keberadaan prey (mangsa) dan predator (pemangsa) saling mempengaruhi.
Keadaan yang seimbang antara populasi prey dan predator mampu menghasilkan biomas
yang tinggi, namun proporsi prey dan predator sangat dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan dan tingkat eksploitasi. Populasi pemangsa yang terlalu banyak
menyebabkan magsa akan dimangsa ketika ukurannya masih kecil atau terlalu muda,
sehingga produksinya rendah. Bila kelompok predator terlalu rendah, maka populasi
mangsa tumbuh tidak terkendali dan populasi mangsa yang terlalu banyak menyebabkan
terjadinya persaingan antar kelompok mangsa. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan
ikan mangsa menjadi kerdil dan padat.
Untuk menjaga keberlanjutan sumber daya ikan yang ada, harus dilakukan suatu
pengelolaan agar populasi tetap seimbang. Keadaan populasi tidak bisa hanya dilihat dari
sisi satu spesies namun harus dilihat secara keseluruhan. Salah satu cara yang bisa
dilakukan adalah menilai rasio mangsa pemangsa. Hasil analisis rasio mangsa pemangsa
berupa informasi apakah suatu populasi seimbang atau tidak. Selain itu dapat diketahui
juga jumlah ukuran ikan kecil yang merupakan stok ikan yang akan dipanen masa
mendatang.
48

B. Tujuan
Praktikum Manajemen Sumberdaya Perairan acara Rasio Mangsa Pemangsa ini
bertujuan untuk :
1. Mengetahui jenis ikan mangsa dan pemangsa dalam satu periaran
2. Menghitung proporsi ikan mangsa dan pemangsa, proporsi ikan ukuran kecil
terhadap pemangsa, dan presentase ikan layak panen terhadap keseluruhan populasi
ikan

C. Manfaat
Hasil dari praktikum ini diharapkan dapat memberikan informasi dan menambah
wawasan tentang kondisi ikan mangsa dan pemangsa yang ada di Rowo Jombor. Selain
itu diharapkan juga dapat memberikan informasi kepada masyarakat sebagai dasar
pengelolaan Rowo Jombor.

D. Waktu dan Tempat


Praktikum Lapangan Manajemen Sumberdaya Perairan dilaksanakan pada :
Hari

: Sabtu dan Minggu

Tanggal

: 29-30 November 2014

Lokasi

: Rowo Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa


Tengah serta Waduk Sermo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten
Kulon Progo, D.I. Yogyakarta.

BAB II
49

TINJAUAN PUSTAKA

Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Setiap
individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik
individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian
banyak ditemui di lingkungan. Salah satu interaksi yang terjadi adalah predasi. Predasi adalah
hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat karena tanpa
mangsa, predator tidak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol
populasi mangsa (Abdurahman, 2008).
Model ekosistem menyatakan hubungan antara mangsa, telur mangsa, mangsa dewasa
dan pemangsa. Populasi mangsa meliputi telur mangsa, telur mangsa yang menetas atau
anakan dan mangsa dewasa. Populasi mangsa bertambah karena kelahiran dan berkurang
akibat kematian. Sementara bertambahnya mangsa disebabkan kelahiran mangsa sebesar
jumlah telur mangsa yang bertahan hidup saat umur 0 tahun pada proses mangsa-pemangsa
(Rohma, 2002).
Tingkat populasi telur mangsa bertambah karena hasil reproduksi mangsa yang
mencapai dewasa lalu berkurang karena kematian yang merupakan tingkat kematian alamiah
dan karena faktor lingkungan dari populasi telur mangsa. Begitu juga pada populasi mangsa
yang sudah dewasa. Selanjutnya, tingkat populasi pemangsa bertambah dengan adanya
reproduksi sebagai hasil dari pemangsaan yang merupakan tingkat efisiensi reproduksi
pemangsa lalu berkurang karena kematian alamiah (Rohma, 2002).
Model yang mendiskripsi kan interaksi dua spesies yang terdiri dari prey dan predator
adalah model rantai makanan dua spesies. Kehadiran predator memberikan pengaruh pada
jumlah prey. Pada interaksi tiga spesies, kehadiran predator kedua berpengaruh pada jumlah
predator pertama dan prey sehingga dalam rantai makanan setiap komponennya saling
memberikan pengaruh. Model yang mendiskripsikan interaksi tiga spesies yang terdiri dari
prey, predator pertama, dan predator kedua adalah model rantai makanan tiga spesies. Untuk
itu dari model rantai makanan tiga spesies ini akan dicari solusi kesetimbangan dan dianalisis
perilaku dari sistem yang dapat ditentukan dengan menganalisis kestabilan dari solusi
kesetimbangan.

50

Suatu pemangsaan memiliki beberapa hubungan. Hubungan pertama adalah F/C


ratio. Ini merupakan rasio dari total berat mangsa dibandingkan dengan total berat pemangsa
di suatu populasi. Ikan karnivora atau piscivora (C) didefinisikan sebagai ikan yang memakan
ikan yang lebih kecil dan tidak dapat tumbuh normal sampai ukuran rerata dewasa jika tidak
memakan pakan jenis tersebut. Sisanya digolongkan bersama sebagai spesies forage (F).
Spesies F merupakan ikan yang sebagian atau seumur hidupnya memakan tanaman, plankton,
crustacean dan serangga (Swingle, 1950).
Hubungan selanjutnya adalah Y/C ratio. Rasio ini merupakan perbandingan antara
total berat ikan mangsa yang dapat dimangsa dengan total berat pemangsa. Nilai AT (total
avalability value) adalah persentase dari total berat ikan yang bisa dipanen dengan total berat
populasi (Swingle, 1950).

51

BAB III
METODOLOGI

A. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
1.
2.
3.
4.

Alat tulis (pulpen, pensil, kertas)


Alat pengukur panjang (penggaris)
Alat pengukur berat (timbangan)
Komputer/Laptop

B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1. Data panjang ikan hasil tangkapan di Rowo Jombor
2. Data berat ikan hasil tangkapan di Rowo Jombor

C. Cara Kerja
1. Sampel ikan tangkapan nelayan diambil
2. Dilakukan pengukuran terhadap panjang dan berat ikan yang tertangkap lalu dicatat
3. Jenis ikan yang tertangkap diidentifikasi
4. Dilakukan pengelompokkan ikan mangsa atau pemangsa
5. Nilai ratio F/C, ratio Y/c nilai AT dihitung, dengan rumus :
Total berat mangsa
F /C Ratio=
Total berat pemangsa

Y /C Ratio=

A T ( )=

Total berat mangsa yang bisadimangsa


Total berat pemangsa

Jumlah berat matang gonad prey+ jumlah matang gonad predator


100( )
Berat keseluruhan

6. Data dari masing-masing populasi diintepretasikan


BAB IV
PEMBAHASAN
52

A. Hasil
Rowo Jombor
Tabel 1. Panjang dan Berat Ikan Nila Hitam (Mangsa)
Ikan Nila Hitam
Panjang (cm)
Berat (gr)
8.5
12
12.8
42
14.7
60
16
117
16.5
90
17.3
89
18
130
18
101
19
154
19.5
159
20
138
20
137
20.4
183
20.7
181
20.8
179
21
175
21.6
196
21.8
189
22
210
22
193
22.4
179
23.3
245
24
242
24.4
247
40.3
553
8.5
12
12.8
42
14.7
60
16
117
16.5
90
17.3
89
18
130
18
101
Tabel 2. Panjang dan Berat Ikan Wader (Mangsa)
Ikan Wader
Panjang (cm)
Berat (gr)
53

5,3
5,5
5,5
5,6
5,7
5,7
5,9
5,9
5,9
6
6
6
6
6
6,1
6,2
6,3
6,3
6,4
6,5
6,5
6,5
6,7
6,9

9
19
29
19
29
1
19
1
2
29
29
2
29
29
29
29
29
19
1
39
2
29
39
29

Tabel 3. Panjang dan Berat Ikan Sepat (Mangsa)


Ikan Sepat
panjang (cm) berat (gr)
3.7
1
5.1
3
5.3
3
5.5
3
5.9
3
6
4
6
4
6.4
5
6.5
5

Tabel 4. Panjang dan Berat Ikan Nila Merah (Mangsa)


Ikan Nila Merah
Panjang (cm) Berat (gr)
3.7
1

54

Tabel 5. Panjang dan Berat Ikan Gabus (Pemangsa)


Ikan Gabus
Panjang (cm) Berat (gr)
40,3
553
Tabel 6. Hasil perhitungan F/C, Y/C, At :
Nilai
Keterangan
F/C =
8,54
Populasi tidak seimbang
Y/C =
1,04
Rasio yang diinginkan
At =
35,53
Presentase ikan kecil terlalu besar

Waduk Sermo
Tabel 7. Panjang dan Berat Ikan Nila (Mangsa)
Ikan Nila
No
Panjang (cm)
Berat (gr)
.
18,6
137
1
19,4
135
2
19,5
146
3
19,6
143
4
20,2
157
5
20,4
166
6
20,7
182
7
21
183
8
21,7
187
9
23,5
191
10
24
263
11
24,5
247
12
Tabel 8. Panjang dan Berat Ikan Red Devil Merah (Pemangsa)
Ikan Red Devil Merah
Panjang (cm)
Berat (gr)
No.
10,2
19
1
10,3
24
2
10,4
17
3
13,2
38
4
Tabel 9. Panjang dan Berat Ikan Red Devil Hitam (Pemangsa)
Ikan Red Devil Hitam
No
Panjang (cm)
Berat (gr)
.
4,2
2
1
55

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

4,3
4,8
5,5
5,5
5,8
5,8
6
6,2
6,3
6,6
6,7
6,7
7,2
7,8
9,6
11
13,9

2
2
3
4
3
4
4
4
4
5
5
5
7
7
13
25
38

Tabel 10. Hasil perhitungan F/C, Y/C, At

F/C
Y/C
At

Nilai
9,09
0
97,43

Keterangan
Populasi tidak seimbang
Kelompok pemangsa terlalu padat
Populasi pemangsa terlalu padat

B. Pembahasan
Rantai makanan merupakan lintasan konsumsi makanan yang terdiri dari
beberapa spesies organisme (Kimball, 1993). Bagian paling sederhana dari suatu rantai
makanan berupa interaksi dua spesies yaitu interaksi antara spesies mangsa (prey)
dengan pemangsa (predator). Model yang mendiskripsikan interaksi dua spesies yang
terdiri dari prey dan predator adalah model rantai makanan dua spesies. Kehadiran
predator memberikan pengaruh pada jumlah prey. Pada interaksi tiga spesies, kehadiran
predator kedua berpengaruh pada jumlah predator pertama dan prey sehingga dalam
rantai makanan setiap komponennya saling memberikan pengaruh.
Menurut Djumanto (2010), rasio berat biomas antara mangsa dan pemangsa
(Rasio F/C) yang ideal adalah 3-6, bila perbandingan 0,06-2,7 menunjukkan mangsa
hilang oleh pemangsa, dan bila nilai >10 menunjukkan bahwa semua populasi tidak
seimbang. Sedangkan rasio total berat mangsa yang bisa dimangsa dengan total berat
56

mangsa (rasio Y/C) yang ideal adalah 1-3, bila perbandingan 0,02-1 menunjukkan total
berat mangsa terlalu padat, dan bila nilainya 0,2-5,0 menunjukkan prey dan predator
masih seimbang. Terakhir adalah persentase berat ikan yang dapat dipanen terhadap
keseluruhan berat ikan (Nilai At) yang ideal atau seimbang antara 33-90, yang paling
diinginkan antara 60-88, populasi tidak seimbang bila antara 0-40. Nilai >85
menunjukkan predator terlalu padat, sementara <40 menunjukkan persentase ikan kecil
terlalu besar.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Rawa Jombor, ikan hasil
tangkapan terdiri atas 5 jenis dan dikelompokkan menjadi kelompok mangsa dan
pemangsa. Ikan mangsa yang tertangkap adalah ikan nila hitam (Oreochromis niloticus),
ikan wader (Rasbora caudimaculata), ikan sepat (Trichopodus trichopterus) dan ikan
nila merah (Oreochromis niloticus). Sedangkan ikan pemangsa yang tertangkap adalah
ikan gabus (Channa striata). Berdasarkan perhitungan nilai F/C yang merupakan rasio
dari total berat mangsa dibandingkan dengan total berat pemangsa adalah sebesar 8,54.
Hal tersebut menandakan keadaan populasi antara mangsa dan pemangsa di perairan
Rowo Jombor tidak seimbang. Kemudian nilai Y/C yang merupakan perbandingan antara
total berat ikan mangsa yang dapat dimangsa dengan total berat pemangsa adalah sebesar
1,04. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kelompok pemangsa terlalu padat dibandingkan
kelompok mangsanya. Sementara nilai At yang merupakan persentase dari total berat
ikan yang bisa dipanen (matang gonad) dengan total berat populasi adalah sebesar 35,53,
yang menandakan bahwa populasi ikan kecil di Rowo Jombor ini terlalu besar.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Waduk Sermo, ikan hasil
tangkapan terdiri atas 3 jenis dan dikelompokkan menjadi kelompok mangsa dan
pemangsa. Ikan mangsa yang tertangkap adalah ikan nila (Oreochromis niloticus).
Sedangkan

ikan

pemangsa

yang

tertangkap

adalah

ikan

red

devil

merah

(Cryptacanthodes aleutensis) dan ikan red devil hitam (Cryptocanthodes aleutensis).


Dari hasil perhitungan nilai F/C yang diperoleh adalah sebesar 9,09. Hal tersebut dapat
diartikan bahwa keadaan populasi antara mangsa da pemangsa tidak seimbang.
Kemudian nilai perbandingan antara total berat ikan mangsa yang dapat dimangsa
dengan total berat pemangsa (Y/C) yang diperoleh adalah 0. Hal tersebut berarti
kelompok pemangsa terlalu padat dibandingkan kelompok mangsanya. Lalu, persentase
dari total berat ikan yang bisa dipanen (matang gonad) dengan total berat populasi (At)

57

yang diperoleh adalah sebesar 97,43 yang artinya populasi pemangsa di Waduk sermo
terlalu padat.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan yang
signifikan antara rasio mangsa dan pemangsa jika ditinjau dari nilai F/C, Y/C, At baik di
Waduk Sermo maupun Rowo Jombor. Pada kedua perairan tersebut hubungan antara
ikan mangsa dan pemangsanya tidak seimbang, sebab pada Waduk Sermo kelompok
pemangsanya terlalu padat, sedangkan pada perairan Rowo Jombor populasi mangsa atau
ikan kecilnya yang teralu padat.
Populasi pemangsa yang terlalu banyak dapat menyebabkan produksi mangsa
menjadi menurun karena mangsa yang dimangsa relatif masih berada dalam ukuran yang
kecil sehingga tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh berkembang. Menurut
Djumanto (2010), jika kelompok pemangsa berada dalam jumlah sedikit, maka populasi
mangsa akan menjadi banyak dan dapat terjadi persaingan antar mangsa yang
menyebabkan pertumbuhan mangsa menjadi tidak optimal dan kepadatannya meningkat.
Nilai F/C ratio digunakan untuk melihat keseimbangan populasi di suatu habitat
dengan membandingkan berat biomas antara mangsa dan pemangsa. Nilai F/C ratio
digunakan untuk mengetahui suatu populasi dalam keadaan seimbang atau tidak dan
menyediakan standar untuk perbandingan dan analisis sampel dari populasi lainnya. Oleh
karena pengetahuan ini menambah pemahaman tentang kondisi populasi, tentunya juga
dapat digunakan untuk menentukan pengelolaan yang baik (Swingle, 1950).
Nilai F/C ratio belum dapat dengan pasti menentukan hubungan mangsa
pemangsa di suatu habitat karena dirasa kurang teliti karena hanya melihat dari berat
ikan mangsa maupun pemangsa. Oleh sebab itu digunakan juga ratio Y/C yang
merupakan perbandingan antara berat total kelompok mangsa ukuran kecil yang dapat
dimangsa oleh ukuran rata-rata dewasa pemangsa dan berat total pemangsa. Mangsa
yang dapat dimangsa memiliki ukuran 3 kali lenih kecil daripada berat pemangsa. Nilai
Y/C ratio yang diperoleh dari hasil praktikum sebesar 1,27. Hal tersebut menunjukan
ratio yang diinginkan berarti populasi spesies mangsa dan pemangsa seimbang. Nilai
Y/C yang diperoleh menggambarkan bahwa ketersediaan pakan dan nutrien bagi ikan
mangsa maupun pemangsa tercukupi sehingga kondisi populasinya seimbang dan tidak
terjadi dominansi dari salah satu jenis ikan.

58

Nilai Y/C ratio digunakan untuk menunjukkan tingkat keseimbangan suatu


populasi. Rasio ini sangat berguna dalam menentukan keseimbangan dalam populasi dan
menunjukkan tren masa depan dalam hubungan timbal balik spesies. Rasio ini
menekankan pentingnya ikan kecil dalam populasi yang mampu menghasilkan panen
ikan di tahun mendatang (Swingle, 1950). Nilai AT adalah presentase berat ikan mangsa
yang dapat dipanen atau ukuran panen terhadap keseluruhan berat populasi ikan. Ukuran
ikan matang gonad merupakan 60% ukuran ikan terpanjang yang tertangkap. Nilai AT
yang diperoleh adalah 88,97%. Populasi dikatakan seimbang apabila rentang nilai AT
berada pada 33 90 dan yang paling diinginkan terletak antara 60 85, jika nilai AT
berada pada rentang 0 40 berarti kondisi populasi mangsa tidak seimbang. Hasil
perhitungan adalah sebesar 88,97% sehingga nilai AT termasuk masih seimbang. Nilai AT
tersebut menandakan presentase ikan kecil dan ikan besar seimbang yang berarti ada
beberapa ikan kecil yang dapat tumbuh besar dan melakukan regenerasi keturunan. Hal
tersebut didukung dengan ketersedian pakan dan kondisi lingkungan yang baik. Nilai AT
merupakan indikator paling berguna dalam pengukuran keseimbangan dan efisiensi
populasi dalam pemanenan ikan. Nilai ini memberikan pengaruh tingkat panen suatu
populasi. Rentang nilai ini pada populasi seimbang juga membatasi metode yang
mungkin digunakan dalam stocking perairan baru (Swingle, 1950).

BAB V
KESIMPULAN

59

A. Kesimpulan
1. Proporsi ikan mangsa dan pemangsa yang ada di Rawa Jombor bernilai 7,54 yang
artinya terjadi ketidakseimbangan populasi dikarenakan jumlah pemangsa lebih
banyak. Proporsi ikan ukuran kecil terhadap pemangsa bernilai 1,54 yang
menunjukkan ketidakseimbangan populasi antara mangsa dan pemangsa. Presentase
ikan layak panen bernilai 98,20 yang menunjukkan ukuran ikan yang ada di Rowo
Jombor sudah layak panen. Secara umum kondisi populasi ikan di Rowo Jombor
tidak seimbang.
2. Proporsi ikan mangsa dan pemangsa yang ada di Waduk Sermo bernilai 9,09 yang
artinya terjadi ketidakseimbangan populasi dikarenakan jumlah pemangsa lebih
banyak. Proporsi ikan ukuran kecil terhadap pemangsa bernilai 0 yang menunjukkan
ketidakseimbangan populasi antara mangsa dan pemangsa. Presentase ikan layak
panen bernilai 97,43 artinya ukuran ikan yang ada di Waduk Sermo telah layak
panen. Secara umum kondisi populasi ikan di Waduk Sermo tidak seimbang.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, D. 2008. Biologi untuk Kelompok Pertanian dan Kesehatan. Grasindo.


Jakarta.
60

Djumanto. 2010. Petunjuk Praktikum Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Pertanian


Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Kimball, J.W. 1993. Biologi Edisi Kelima Jilid Tiga. Erlangga. Jakarta
Rohma. S. 2002. Predator and Prey. Kanisius. Yogyakarta.
Swingle, H. S. 1950. Relationships and Dynamics of Balanced and Unbalanced Fish
Populations. Buletin Agricultural Experiment Station of the Alabama Polytechnic
Institute 274.

61