Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN ACARA IV

PRAKTIKUM MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


IDENTIFIKASI TUMBUHAN AIR

Oleh:
Carissa Paresky Arisagy
12 / 334991 / PN / 12981

Asisten :
Anis Nuarita

LABORATORIUM MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
62

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hidrofita atau tumbuhan air, merupakan tumbuhan yang hidup di perairan
maupun di tanah yang sangat basah. Sebagian maupun keseluruhan tubuh hidrofita
terendam di dalam air. Hidrofita dapat dijumpai di seluruh ekosistem perairan seperti,
daerah genangan air, rawa, lahan gambut, pinggiran danau, sungai, teluk, dan muara,
serta sepanjang garis pantai. Kelompok tumbuhan hidrofita meliputi tumbuhan lumut,
paku, tumbuhan monokotil (herba), dan tumbuhan dikotil (tumbuhan berkayu) (Tinner,
1991).
Dalam ekosistem perairan hidrofita memiliki banyak peran. Hidrofita berperan
antara lain sebagai sumber makanan dan sebagai produsen primer dalam rantai makanan.
Sebagai bagian dari suatu ekosistem perairan hidrofita memiliki fungsi menyedeiakan
oksigen, mengatur kadar nutrien, dan mengontrol kondisi air. Fungsi hidrofita sebagai
pengontrol kondisi air antara lain dapat mengatur atau memodifikasi arus air (Cronk dan
Fennesy, 2001).
Salah satu bentuk ekosistem perairan tempat hidup hidrofita ialah perairan danau.
Danau Rowo jombor sebagai perairan umum merupakan habitat yang dengan mudah
ditumbuhi oleh tumbuhan air. Untuk memanfaatkan tumbuhan air yang ada, perlu
diketahui jenis dari tumbuhan tersebut dan apakah tumbuhan tersebut menguntungkan
atau merugikan. Oleh sebab itu perlu dilakukan kegiatan identifikasi tumbuhan air.

B. Tujuan
Praktikum Manajemen Sumberdaya Perairan acara Identifikasi Tumbuhan Air ini
bertujuan untuk Mendeskripsikan tumbuhan air yang tumbuh di perairan tawar,
manfaatnya, dan kerugian yang ditimbulkan akibat keberadaannya.

63

C. Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah untuk mengenali karakter tumbuhan sehingga
persyaratan pertumbuhan, cara perkembangannya dapat digunakan untuk mengendalikan
pertumbuhannya dan meningkatkan manfaatnya.

D. Waktu dan Tempat


Praktikum Lapangan Manajemen Sumberdaya Perairan dilaksanakan pada
Hari

: Sabtu dan Minggu

Tanggal

: 29-30 November 2014

Lokasi

: Rowo Jombor, Klaten dan Waduk Sermo, Kulon Progo.

64

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Hidrofita, menurut Shukla dan Chandle (1996) didefinisikan sebagai tumbuhan air
(aquatic plant) yaitu, tanaman yang tumbuh di daerah basah atau daerah perairan. Sebagian
atau keseluruhan tubuh tumbuhan tersebut terendam dalam air. Sedangkan Cronk dan
Fennesy (2001) hidrofita didefinisikan sebagai tanaman lahan basah (wet land plant) yaitu
tumbuhan yang ditemukan tumbuh baik di dalam atau di atas permukaan air. Sehingga
pengertian tumbuhan air dan tumbuhan lahan basah memiliki makna yang sama untuk
mendefinisakan hidrofita. Akar hidrofita telah teradaptasi sehingga mampu tumbuh pada
substrat dengan kondisi anaerobik dalam jangka waktu yang lama.
Hidrofita dapat dijumpai hampir diseluruh ekosistem perairan. Hidrofita ditemukan di
daerah genangan air, rawa-rawa, lahan gambut, pinggiran danau, sungai, teluk/muara, dan
sepanjang garis pantai. Dengan kata lain hidrofita dapat ditemukan di mana saja ada lahan
basah dengan beraneka ragam jenis, bentuk, dan sifatnya. Lahan basah merupakan substrat
(tanah) yang tergenang air atau jenih air dan bersifat anaerobik. Hidrofita memiliki
kemampuan adaptasi untuk tumbuh di lingkungan perairan yang tergenang, bentuk
adaptasinya berupa toleransi ekologi.
Merujuk pada Cronk dan Fennesy (2001) bentuk pertumbuhan hidrofita berdasarkan
hubungan fisik dengan air, tanah, dan udara hidrofita dibagi menjadi 4 kelompok yaitu :
1. Tumbuhan mengapung bebas (free floating plant) yaitu tumbuhan yang seluruh organ
tubuhnya (daun, batang, akar, dan bunga) mengapung di atas permukaan air. Beberapa
kelompok hidrofita free floating plant antara lain suku Lemnaceae dan Pontediriaceae.
Daun tumbuhan air mengapung umumnya berukuran lebar dan terdapat di permukaan
air untuk menangkap cahaya matahari. Permukaan daunnya terdapat bulu-bulu kecil
untuk mencegah tergenang oleh air.
2. Tumbuhan tenggelam (submerged plant) yaitu tumbuhan yang selama fase hidupnya
terendam dalam air. Seluruh tubuh tumbuhan tersebut berada di bawah permukaan air
dan daunnya tidak atau jarang terpapar langsung di atas permukaan air. Beberapa
contoh

suku

kelompok

tumbuhan

submerged

yaitu

suku

Callitrichaceae,

Ceratophyllaceae, Hidrocaritaceae, Haloragaceae. Daun tumbuhan submerged


65

menerima sedikit cahaya matahari karena terletak di dalam air. Penetrasi cahaya
tergantung oleh kekeruhan air.
3. Tumbuhan berdaun mengambang (floating leaved plant) yaitu tumbuhan dengan akar
yang menempel di dasar substrat dan daun yang mengambang di atas permukaan.
Tumbuhan tersebut memiliki batang yang terendam di dalam air, panjang, dan lentur.
Pertumbuhan panjang tangkai daun dipengaruhi olehh ketinggian badan air. Tanaman
air floating leaved terdiri dari suku Nymphaceae, Nelumbonaceae.
4. Tumbuhan mencuat (emergent plant) yaitu tumbuhan yang akarnya tertanam dalam
subtrat dan terendam di bawah permukaan air. Sedangkan batang, daun, dan organ
reproduktif mencuat ke atas permukaan air (aerial). Hidrofita emergent antara lain
terdiri dari suku Poaceae, Cyperaceae, Juncaceae, Typhaceae, Convolvulaceae,
Alismataceae, Araceae, Asteracea, Lamiaceae, Polygonaceae, dan Sparganiaceae.
Tanaman air memiliki beberapa kegunaan bagi ekologi maupun manusia antara lain
sebagai penstabil lingkungan perairan, meningkatkan pengendapan, pembersih dan penjernih
air, pemasok oksigen, diversifikasi habitat, penyebar organisme, memiliki nilai estetika dan
nilai ekonomis, produser primer, dan penyerap nutrien.

66

BAB III
METODOLOGI

A. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

Alat tulis (pulpen, pensil, kertas)


Kamera
Kantong plastik
Refrigerator
Buku identifikasi tumbuhan air

B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tumbuhan air yang berasal dari Rowo
Jombor dan Waduk Sermo

C. Cara Kerja
1. Praktikan dibagi dalam 8 kelompok, 4 kelompok di Waduk Sermo dan 4 kelompok
lainnya di Rowo Jombor
2. Sampel tumbuhan air yang ditemukan diamati
3. Jenis tumbuhan air yang terambil diidentifikasi dan diderskripsikan
4. Manfaat dan kerugian yang ditimbulkan oleh keberadaan tumbuhan air serta cara
pengendaliannya diidentifikasi.

BAB IV
PEMBAHASAN

67

A. Hasil
Tabel 1. Tumbuhan air di Waduk Sermo dan Rowo Jombor
Lokasi

Pinggir
Gewar (Commelina diffusa)
Putri malu (Neptunia plena)
Kangkung air (Ipomoea aquatica)
Rumput gajah (Pennisetum
purpureum)
Lembayung (Anredera
cordifolia )
Eceng gondok (Eichornia
crassipes)

WadukSermo

Gabusan duri (Hydrolea spinosa)


Kremah air (Alternanthera
philoxeroides)
Kayuragi (Jusiaea linifolia)
Rumput pita (Vallisneria
americana)

RawaJombor

Tengah
Eceng gondok
(Eichorniacrassipes)
Teratai (Nymphaea
pubescens)
-

B. Pembahasan
1. Gewar (Commelina diffusa)
Kalsifikasi tumbuhan Gewar menurut Steenis (2003)
Kingdom
Sub division
Division
Class
Order
Family
Genus

:
:
:
:
:
:
:

Plantae
Spermatophyta
Magnoliophyta
Liliopsida
Commelinales
Commelinaceae
Commelina

Species

: Commelina diffusa

Gambar 1. Tumbuhan Gewor


(sumber : dokumentasi pribadi)

Akar Commelina diffusa termasuk kedalam system perakaran serabut. Akar aur-aur
tumbuh menjalar. Akara aur-aur memiliki banyak percabangan akar yang memiliki
banyak rambut-rambut halus atau bulu-bulu halus. Akar aur-aur tumbuh di tanah
yang lembab. Batang tumbuhan ini tumbuh menjalar, berbentuk bulat dan lunak.
Batang aur-aur tidak berambut, memiliki warna hijau muda bercorak ungu, buku68

bukunya mengeluarkan akar dan tunas cabang, bagian ujung batang tegak atau
melengkung dan tingginya 6-60 cm. Daunnya berbangun daun lanset, umumnya
berukuran panjang kurang dari enam kali lebarnya, permukaannya licin, pangkalnya
berbentuk bundar dan tidak simetris, ujungnya agak runcing, tepinya terasa kasar
bila diraba, ukuran panangnya 2,5-8 cm lebarnya 0,75-2,5 cm dan tidak bertangkai
(Utomo dkk, 2001).
Didistribusikan secara luas di Afrika tropis dan subtropis, Tengah, Selatan dan Asia
Tenggara, meluas ke Cina, Jepang, Filipina, Australia dan Mikronesia. Di belahan
bumi barat, ditemukan di Kuba, Jamaika, Brasil, dan Amerika Serikat. Daun dan
rimpang dimasak dan dimakan. Digunakan dalam pemantauan biologis adanya
sulfur dioksida sebagai udara-polutan. Berdasarkan tempat hidupnya, tumbuhan air
ini termasuk tumbuhan yang mencuat. Tumbuhan ini banyak ditemukan baik di
bagian pinggir Waduk Sermo karena tumbuhan ini membutuhkan substrat yang tidak
jauh dari permukaan untuk melekatkan akarnya.

2. Putri Malu (Neptunia plena)


Klasifikasi Putri Malu menurut Windler (1966)
Kingdom

: Plantae

Superdivisio : Spermatophyta
Divisio

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Fabales

Family

: Fabaceae

Genus

: Neptunia

Species

: Neptunia plena

Gambar 2. Tumbuhan Putri Malu


(sumber : dokumentasi Antonie)

Putri malu atau dalam bahasa latin Neptunia plena adalah tumbuhan dengan ciri
daun yang menutup dengan sendirinya saat disentuh dan membuka kembali setelah
beberapa lama. Tanaman berduri ini termasuk dalam klasifikasi tanaman berbiji
tertutup (Angiospermae) dan terdapat pada kelompok tumbuhan berkeping dua atau
dikotil.2,3,10. Tumbuhan berdaun majemuk menyirip dan daun bertepi rata ini
memiliki letak daun yang berhadapan serta termasuk dalam suku polong polongan.
69

Tumbuh di perairan dan cepat berkembang biak. Berdasarkan tempat hidupnya,


tumbuhan air ini termasuk tumbuhan yang mencuat. Tumbuhan ini banyak
ditemukan di bagian pinggir Waduk Sermo.

3. Kangkung Air (Ipomoea aquatica)


Klasifikasi kangkung air menurut Rukmana (1994) :
Kingdom

: Plantae

Sub division : Spermatophyta


Division

: Magnoliophyta

Class

: Magnoliopsida

Subclass

: Asteridae

Order

: Solanales

Family

: Convolvulaceae

Genus

: Ipomoea

Species

: Ipomoea aquatica

Gambar 3. Tumbuhan Kangkung Air


(sumber : USDA plants database)

Tanaman kangkung memiliki sistem perakaran tunggang dan cabang-cabangnya akar


menyebar kesemua arah, dapat menembus tanah sampai kedalaman 60 hingga 100
cm, dan melebar secara mendatar pada radius 150 cm atau lebih. Batang kangkung
bulat dan berlubang, berbuku-buku, banyak mengandung air (herbacious) dari bukubukunya mudah sekali keluar akar. Memiliki percabangan yang banyak dan setelah
tumbuh lama batangnya akan merayap (menjalar). Warna batangnya lebih hijau
pekat daripada warna daun (Sudirman, 2011).
Helai daun kangkung air ini berbentuk memanjang, ujung tumpul, pangkal berlekuk,
tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan licin, ukuran helai 5-7 x 2-5 cm
(Suratman et.al, 2000). Kangkung ini juga memiliki tangkai daun melekat pada
buku-buku batang dan di ketiak daunnya terdapat mata tunas yang dapat tumbuh
menjadi percabangan baru. Bentuk daun umumnya runcing ataupun tumpul,
permukaan daun sebelah atas berwarna hijau tua, dan permukaan daun bagian bawah
berwarna hijau muda. Bunganya menyerupai terompet dan daun mahkota bunga
berwarna putih atau merah lembayung.

70

Habitat alami kangkung air adalah di perairan yang tergenang. Kangkung biasanya
tumbuh liar (secara alami) di sawah, parit tepi sungai atau bahkan di parit.
Tumbuhan ini kebanyakan tumbuh di daerah tropis dan subtropis, beberapa tumbuh
di daerah sedang. Kangkung termasuk tumbuhan hidrofit yang sebagian tubuhnya di
atas permukaan air dan akarnya tertanam di dasar air, mempunyai rongga udara
dalam batang atau tangkai daun sehingga tidak tenggelam dalam air dan daun
muncul ke permukaan air. Kangkung termasuk suku Convolvulaceae, yang
merupakan tanaman yang tumbuh cepat dan memberikan hasil dalam waktu 4-6
minggu sejak dari benih.
Berdasarkan tempat hidupnya, tumbuhan air ini termasuk tumbuhan yang terapung.
Sesuai dengan pernyataan Wang et.al (2008), bahwa tanaman kangkung air tumbuh
dengan cara merambat dan dapat mengapung di atas air. Tumbuhan ini banyak
ditemukan baik di pinggiran maupun bagian pinggir Waduk Sermo karena tumbuhan
ini terapung-apung dan terbawa oleh arus sehingga persebarannya merata.

4. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)


Klasifikasi Rumput Gajah menurut Reksohadiprodjo (1985)
Kingdom

: Plantae

Sub. division : Spermatophyta


Division

: Magnoliophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Cyperales

Family

: Poaceae

Genus

: Pennisetum

Species

: Pennisetum purpureum

Gambar 4. Tumbuhan Rumput Gajah


(Plimer, 2011)
Pennisetum purpureum disebut juga Rumput Gajah (Indonesia). Rumput ini berasal
dari Afrika daerah tropik. Rumput ini dapat tumbuh setinggi 3-4,5 m. Berkembang
dengan rhizoma yang panjangnya dapat mencapai 1 m. Panjang daun16 90 cm dan
lebar daun 8 35 mm. Rata-rata kandungan zat gizi Rumput gajah (Pennisetum
purpureum) yaitu : protein kasar 9,66 %, BETN 41,34 %, serat kasar 30,86 %, lemak
2,24 %, abu 15,96 %, dan TDN 51 % (Hartadi dkk., 1986 dan Lubis, 1992).
71

Kandungan nutrien setiap ton bahan kering adalah N:10-30 kg; P:2-3 kg; K:30-50
kg; Ca:3-6 kg; Mg dan S:2-3 kg. Nilai gizi rumput gajah sebagai hijauan makanan
ternak ditentukan oleh zat-zat makanan yang terdapat di dalamnya dan
kecernaannya. Nilai gizi rumput gajah dipengaruhi oleh fase pertumbuhan pada saat
pemotongan atau penggembalaan (Mc Ilroy, 1977). Berdasarkan tempat hidupnya,
tumbuahan air ini termasuk tumbuhan yang mencuat. Tumbuhan ini banyak
ditemukan di pinggiran Waduk Sermo.

5. Eceng Gondok (Eichornia crassipes)


Klasifikasi eceng gondok menurut Rizk dan Pav (1991) :
Kingdom

: Plantae

Sub. division : Spermatophyta


Division

: Magnoliophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Liliales

Family

: Pontederiaceae

Genus

: Eichornia

Species

: Eichornia crassipes

Gambar 5. Tumbuhan Eceng Gondok


(sumber : dokumentasi pribadi)

Tipe daunnya bertangkai dan mempunyai permukaan daun yang licin. Bentuk
daunnya hampir bulat, lebar, dan tebal. Struktur akar tanaman ini merupakan akar
serabut. Tanaman ini memiliki rongga udara pada organ vegetatif pada batang dan
daun yang berfungsi sebagai ruang antar sel yang berperan dalam pertukaran udara.
Adaptasi yang lain, yaitu daun yang dimiliki umumnya lebar dan terapung untuk
mempermudah penguapan karena dalam lingkungan air yang berlebih. Kutikulanya
tipis, mempunyai epidermis seperti yang dimiliki tanaman lain namun fungsinya
untuk jalan keluar gas untuk memperoleh unsur-unsur atau zat-zat tertentu yang
terlarut dalam air.
Eceng gondok (Eichornia crassiper) merupakan tanaman yang beradaptasi pada
daerah yang tergenang air. Faktor-faktor yang mempengaruhi eceng gondok ialah
suhu, udara, dan konsentrasi serta komposisi garam-garam dalam air. Ciri struktural
yang paling mencolok pada daun-daun tumbuhan air ialah berkurangnya jumlah
72

jaringan penunjang dan pelindung, berkurangnya jumlah jaringan pembuluh,


khususnya xylem dan adanya rongga-rongga udara (Marianto, 2003).
Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air
yang lambat, danau, tempat penampungan air, dan sungai. Tumbuhan ini dapat
mentolerir perubahan yang ekstrim dari ketinggian air, laju air, dan perubahan
ketersediaan nutrien, pH, temperatur, dan racun-racun dalam air. Pertumbuhan eceng
gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang
tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat, dan potasium. Kandungan garam
dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada danaudanau di daerah pantai Afrika Barat, di mana eceng gondok akan bertambah
sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim
kemarau.
Eceng gondok dapat hidup mengapung bebas di atas permukaan air dan berakar di
dasar kolam atau rawa jika airnya dangkal. Kemampuan tanaman inilah yang banyak
di gunakan untuk mengolah air buangan karena dengan aktivitas tanaman ini mampu
mengolah air buangan domestik dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Eceng gondok
dapat menurunkan kadar BOD, partikel suspensi secara biokimiawi dan mampu
menyerap logam-logam berat seperti Cr, Pb, Hg, Cd, Cu, Fe, Mn, Zn dengan baik.
Kemampuan menyerap logam persatuan berat kering eceng gondok lebih tinggi pada
umur muda dari pada umur tua.
Berdasarkan tempat hidupnya, tumbuahan air ini termasuk tumbuhan yang
terapung. Tumbuhan ini banyak ditemukan baik di pinggiran maupun bagian tengah
Rowo jombor dan eceng gondok merupakan tumbuhan air yang paling mendominasi
di perairan Rowo jombor.

6. Teratai (Nymphaea pubescens)


Klasifikasi teratai menurut Fitrial (2009) :
Kingdom

: Plantae

Sub.divisi

: Spermatophyta

Divisi

: Magnoliophyta
73

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Nymphaeales

Family

: Nymphaeceae

Genus

: Nymphaea

Spesies

: Nymphae pubescens

Gambar 6. Tumbuhan Eceng Gondok

Tanaman ini tumbuh di permukaan air yang tenang, bunga dan daun terdapat di
permukaan daun, keluar dari tangkai yang berasal dari dalam rhizome yang berada
dalam lumpur pada dasar kolam, sungai atau rawa. Tangkai terdapat di tengah
tengah daun. Daun berbentuk bundar atau oval yang menyebar yang terpotong pada
jari jari menuju ke tangkai. Teratai

memiliki akar yang kuat, panjang dan

berumbi. Daunnya mengapung di atas air, bagian atas daun berwarna hijau tua,
sedangkan bagian bawahnya berwarna ungu kemerahan. Bentuk daun bundar dengan
diameter antara 9 12cm, bagian tepi daun melipat dan daunnya mempunyai tangkai
(Nuraini, 2007).
Permukaan daun tidak mengandung lapisan lilin sehingga air yang jatuh
kepermukaan tudak membentuk butiran air. Bunga terdapat pada tangkai yang
merupakan perpajangan dari rimpang. Diameter bunga antara 5 10 cm teratai
tterdiri dari 50 spesies yang tersebar di wilayah tropis hingga subtropics di seluruh
dunia daerah tropis berasal dari mesir. Teratai menjadi tanaman di hias karena bunga
nya yang indah, ke unikannya teratai tumbuh di air yang kotor dan kecoklatan akan
tetapi warna nya yang cemerlang.
Berdasarkan tempat hidupnya, tumbuhan air ini termasuk tumbuhan yang
mengapung. Tumbuhan ini banyak ditemukan baik di bagian tengah Rowo Jombor
karena tumbuhan ini mengapung-apung terkena gelombang.

7. Gabusan Duri (Hydrolea spinosa)


Klasifikasi gabusan duri menurut Ismuhajaroh (2010)
Kingdom

: Plantae

Sub. division : Spermatophyta


Division

: Magnoliophyta

Class

: Magnoliopsida
74

Subclass

: Asteridae

Order

: Solanales

Family

: Hydrophyllaceae

Genus

: Hydrolea

Species

: Hydrolea spinosa

Gambar 7. Tumbuhan gabusan duri


(sumber : dokumentasi Zavadil)

Tanaman tahunan, semak menjalar, daun rasa pahit, seringkali batang berambut,
berduri, bentuk silinder, daun berbulu tunggal bentuk langsat, bunga banci,
actinomorphic, hidup di daerah rawa, mempunyai bunga warna ungu dengan 5
corolla, stamen 5 terpisah dari corolla, Corolla dari dasar dengan panjang 10-12 mm,
styles 6-8 mm. Biji kecil jumlah takterhingga dengan endosperm kecil.
Tanaman Hydrolea spinosa merupakan salah satu tanaman yang tumbuh di habitat
rawa. Tanaman ini banyak ditemukan di daerah dengan ketinggian < 50 m di atas
permukaan laut (mdpl). Tanaman ini merupakan herba tahunan dengan batang tegak
berbentuk silinder atau sebagian batang merayap. Tinggi tanaman antara 0.6 1.3
meter. Batang berwarna hijau, berbulu halus berwarna putih dan berduri yang
terletak aksilar. Setiap sudut antara duri dan batang muncul tunas baru sehingga
sering bercabang. Helaian daun memanjang bentuk lanset dan bertepi rata, tulang
daun menyirip, berbau tak enak dan berasa pahit. Tangkai bunga tegak ujung
mengangguk, bunga berdiri sendiri, kelopak berbagi 5, hijau dan berbulu halus.
Tabung mahkota berbentuk corong, mahkota berwarna ungu. Buah buni berbentuk
memanjang. Buah duduk pada dasar bunga yang melebar ditambah sisa-sisa dari
kelopak (Tinner, 1991).
Di daerah Kalimantan, tanaman ini sering digunakan sebagai obat malaria, batuk
berdarah, obat luka dan bisul serta pengusir nyamuk. Bagian tanaman yang
digunakan yaitu daun dan batangnya. Berdasarkan tempat hidupnya, tumbuhan air
ini termasuk tumbuhan yang mencuat. Tumbuhan ini banyak ditemukan di bagian
pinggir Rawa Jombor karena tumbuhan ini melekat pada substrat yang lembut
seperti tanah gambut yang berada di bagian pinggir Rowo Jombor.

8. Kremah Air (Alternanthera philoxeroides)


Klasifikasi kremah air menurut Grubben (2004)
75

Kingdom

: Plantae

Superdivision

: Spermatophyta

Division

: Magnoliophyta

Class

: Magnoliopsida

Subclass

: Caryophyllidae

Order

: Caryophyllales

Family

: Amaranthaceae

Genus

: Alternanthera

Species

: Alternanthera philoxeroides

Gambar 8. Tumbuhan Kremah Air

Spesies ini merupakan tumbuhan tahunan, terkadang tumbuh semusim dengan tinggi
maksimum mencapai 1 m. Habitusnya tegak, memanjat, atau menjalar dengan
cabang yang lebar. Memiliki tudung akar yang kuat dan terkadang mengapung di air.
Daun tumbuh berlawanan arah dengan tangkai daun. Panjang daun dapat mencapai 5
cm. Bunga berwarna putih hingga merah mud dengan diameter kurang lebih 5 mm.
Buah dari tumbuhan ini berwarna cokelat (Grubben, 2004).
Tumbuhan ini berasal dari wilayah tropis Amerika, akan tetapi tumbuhan ini telah
menyebar di berbagai belahan dunia seperti wilayah tropis Afrika. Tumbuhan ini
sangat banyak ditemukan pada tempat-tempat dengan kelembaban udara konstan.
Tumbuhan ini dapat ditemui di pinggir jalan, taman, rawa, sawah, hingga
perkebunan teh pada ketinggian mencapai 1800 mdpl. Tumbuhan ini menyukai
tanah yang liat, sedikit basa, dan kaya nitrogen. Tumbuhan ini banyak dimanfaatkan
daunnya sebagai sayur olahan atau salad. Tumbuhan ini juga seringkali
dimanfaatkan sebagai obat berbagai penyakit sederhana seperti sakit perut, diar,
disentri, dan penurun demam (Grubben, 2004).
Berdasarkan tempat hidupnya, tumbuhan air ini termasuk tumbuhan yang mencuat.
Tumbuhan ini banyak ditemukan baik di bagian pinggir Rowo Jombor karena
tumbuhan ini melekat pada substrat yang lembut seperti tanah gambut yang berada
di bagian pinggir Rowo Jombor.

9. Kayu ragi (Jussiaea linifolia)


Klasifikasi Jussiaea linifolia menurut Cronquist et.al (1981)
76

Kingdom

: Plantae

Divisio

: Magnoliophyta

Class

: Magnoliopsida

Order

: Myrtales

Family

: Onagraceae

Genus

: Jussiaea

Species

: Jussiaea linifolia

Gambar 9. Tumbuhan Kayu Ragi

Jussiaea linifolia tumbuh seperti semak-semak dan tingginya jarang mencapai 30


meter. Daunnya sederhana dan kadang-kadang bergerigi di beberapa bagian.
Tumbuhan ini memiliki bungan sempurna dan hermaprodit. Tumbuhan ini juga
dibudidayakan di daerah Cina karena diyakini dapat digunakan sebgai bahan obat
karena mengandung asam gama linoleat (Shukla dan Chandel, 1996)
Berdasarkan tempat hidupnya, tumbuhan air ini termasuk tumbuhan yang mencuat.
Tumbuhan ini banyak ditemukan baik di bagian pinggir Rowo Jombor karena
tumbuhan ini melekat pada substrat yang lembut seperti tanah gambut yang berada
di bagian pinggir Rowo Jombor.

10. Lembayung
Klasifikasi Anredera cordifolia menurut Cronquist et.al (1981) :

Kingdom

: Plantae

Sup.division : Spermatophyta
Divisio

: Magnoliophyta

Class

: Magnoliopsida

Order

: Caryophyllales

Family

: Basellaceae

Genus

: Anredera

Species

: Anredera cordifolia

Gambar 10. Tumbuhan Lembayung


(sumber : USDA plants database)

77

Tanaman ini daunnya berbentuk bulat telur, dengan tepi daun yang rata, tulang daun
peninervis dan daun berwarna hijau (Rachmawati, 2008). Tanaman ini berdaun
tunggal, bertangkai sangat pendek, tersusun berseling, berwarna hijau, bentuk
jantung dengan panjang 5-10 cm dan lebar 3-7 cm, ujung runcing, pagkal berlekuk,
tepi rata dan permukaan licin (Manoi, 2009). Tanaman ini memiliki bunga majemuk
berbentuk tandan dengan mahkota bunga berwarna putih sampai krem berjumlah
lima helai tidak berlekatan dengan panjang helai sekitar 0,5-1 cm. Tanaman ini
dipercaya berkhasiat sebagai obat (Manoi, 2009). Anredera cordifolia termasuk
tanaman menjalar. Berdasarkan tempat hidupnya, tumbuhan air ini termasuk
tumbuhan yang mencuat. Tumbuhan ini banyak ditemukan baik di bagian pinggir
Rowo Jombor karena tumbuhan ini melekat pada substrat yang lembut seperti tanah
gambut yang berada di bagian pinggir Waduk Sermo.

11. Rumput Pita


Klasifikasi Anredera cordifolia menurut Cronquist et.al (1981)
Kingdom

: Plantae

Sup.division : Spermatophyta
Divisio

: Magnoliophyta

Class

: Liliopsida

Order

: Hydrocharitales

Family

: Hydrocharitaceae

Genus

: Vallisneria

Species

: Vallisneria americana

Gambar 11. Tumbuhan Rumput Pita

Vallisneria americana biasa disebut seledri liar, seledri air maupul eelgrass.
Tanaman ini tergolong dalam keluarga Hydrocharitaceae. Spesies ini merupakan
tumbuhan air tawar yang mampu mentolerir garam, dan tinggal di kondisi salinitas
yang bervariasi dari 0 o/oo 18 o/oo (Doering et.al, 1999). V. americana ini,
merupakan tanabaman berkar mendalam dengan daun kira-kira memiliki lebar
sekitar 1 inchi dan tinggi mencapai lebih dari 2 m. Berdasarkan tempat hidupnya,
tumbuhan air ini termasuk tumbuhan yang mencuat. Tumbuhan ini banyak
ditemukan baik di bagian pinggir Rowo Jombor karena tumbuhan ini melekat pada

78

substrat yang lembut seperti tanah gambut yang berada di bagian pinggir Rowo
Jombor.

BAB V
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
1. Tumbuhan air yang ditemukan di Rawa Jombor diantaranya adalah enceng gondok
(Eichornia crassipes), teratai (Nymphaea pubescens), gabusan duri (Hydrolea
79

spinosa), kremah air (Alternanthera philoxeroides), kayu ragi (Jusiaea linifolia), dan
rumut pita (Vallisneria americana). Tumbuhan air yang ditemukan di Waduk Sermo
diantaranya adalah gewar (Commelina diffusa), putri malu (Neptunia plena),
kangkung air (Ipomoea aquatica), rumput gajah (Pennisetum purpureum), dan
lembayung (Rinututa tabue).
2. Tumbuhan air memiliki fungsi utama secara ekologis yaitu sebagai produsen primer
dan tempat pemijahan ikan. Beberapa spesies juga bisa dimanfaatkan sebagai
penyerap polutan.
3. Kerugian yang ditimbulkan oleh tumbuhan air baik di Rawa Jombor dan Waduk
Sermo adalah sebagai gulma serta mengganggu transportasi air.

B. Saran
Ada baiknya pada praktikum selanjutnya dalam mengidentifikasi tanaman air
menggunakan buku kunci determinasi maupun teknik lain yang lebih akurat tidak hanya
mengacu pada ciri-ciri maupun gambar dari buku populer saja.

DAFTAR PUSTAKA

Cronk, J.K. & S.M. Fennessy. 2001. Wetland plants : Biology and Ecology. Lewis Publisher,
Florida.
Cronquist, A. 1981. An Integrated System of Classification of Flowering. Plants. Columbia
University Press. New York.

80

Doering, P. et.al. 1999. Effect of salinity on the growth of Vallisneria americana Michx. From
the Caloosahatchee estuary, Florida. Quarterly Journal of the Florida Academy of
Science. Florida. 62 (2): 89105.
Fitrial Y., 2009. Analisis Potensi Biji dan Umbi Teratai (Nymphaea pubescens) untuk Pangan
Fungsional Prebiotik dan Antibakteri Escherichia coli Enteropatogenik K 1.1. Tesis.
Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Grubben, G. J. H. 2004. Plant Resources of South -East Asia. Prosea. Bogor.
Lubis, A.U. 1992. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) di Indonesia. Pusat Penelitian
Perkebunan Marihat-Bandar Kuala. Pematang Siantar.
Ismuhajaroh, B.I. et.al. 2009. Pengaruh jumlah ruas dan komposisi media tanam terhadap
pertumbuhan setek jeruju (Hydrolea spinosa). Laporan kegiatan ekstraksi tanaman
obat khas lahan basah Kalimantan yang berkhasiat sebagai obat antimalaria dan
filariasis. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin.
Manoi, F. 2009. Binahong (Anredera cordifolia) Sebagai Obat. Jurnal Warta Penelitian Dan
Pengembangan Tanaman Industri. Jurnal Artikel Penelitian. 15(3) : 27 - 34
Marianto, L. 2003. Tanaman Air. Agro Medika Pustaka. Jakarta.
McIlroy, R. J. 1977. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Pradya Pramita. Jakarta.
Nuraini dan Nasution, S. 2007. Pengaruh Dosis Human Chorionoc Gonadotropin (HCG)
Terhadap Ovulasi dan Daya Tetas Telur Ikan Selais Danau (Kryptopterus limpok).
Proyek Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia Diretorat Jendral Pendidikan
Tinggi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. Pekanbaru.
Plimer, I. 2011. How to get expelled from school. A guide to climate change for pupils,
parents & punters. Connor Court Publishing. US. Page 189.
Rachmawati, I. K. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. CV Andi Offset. Yogyakarta.
Reksohadiprodjo, S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropika. BPFE.
Yogyakarta.
Rizk, E. dan Pav. 1991. Koleksi KebunRaya Bogor. Berkala Penelitian Hayati. 7A: 83-85.

81

Rukmana, Rahmat. 1994. Kangkung. Kanisius. Yogyakarta.


Shukla, R.S & P.S Chandel. 1996. Plant Ecology. S. Chand & Company Ltd. New Delhi.
Steenis, C.G. 2003. Flora : Ed. 9. Pradnya Paramitha. Jakarta.
Sudirman, S. 2011. Aktivitas Antioksidan dan Komponen Aktif Kangkung Air. [Skripsi].
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauta, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Suratman et.al. 2000. Analisis Keragaman Genus Ipomoea Berdasarkan Karakter Morfologi.
Jurnal Biodiversitas. FMIPA UNS. 1(2) : 72-79.
Tinner, R.W. 1991. The Concept of a Hydrophyte for Wet Land Identification. American
Institute of Biological Science.
Utomo, A. D., Asyari dan S. Nurdawai. 2001. Peranan Suaka Perikanan dalam Peningkatan
dengan Pola Pengembangan Daerah Aliran Sungai. Prosiding Seminar Perikanan
Perairan Umum. Balitbang.
Wang, W. et al. 2008. Preparation and characterization of Ti-doped MgO nanopowders by a
modified coprecipitation method. Journal of Alloys and Compounds. 461(1-2): 542546.
Windler, D.R. 1966. A revision of the Genus Neptunia (LEGUMINOSAE). Journal of
Botany. Australian. 14: 379420.

82