Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN ACARA V

PRAKTIKUM MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


MANAJEMEN PLAN

Oleh:
Carissa Paresky Arisagy
12 / 334991 / PN / 12981

Asisten :
Andi Ibrahim

LABORATORIUM MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
83

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rowo Jombor merupakan sebuah rawa yang terletak di tengah Desa Krakitan,
Kecamatan Bayat yang dikelilingi oleh pegunungan kapur. Rowo Jombor merupakan
salah satu rawa yang sangat luas di Kabupaten Klaten. Rowo tersebut memiliki peranan
penting bagi penduduk untuk irigasi, perikanan dan juga tempat wisata. Rowo Jombor
yang terletak di Desa Krakitan ini pada mulanya hanya dimanfaatkan sebagai sumber air
irigasi bagi lahan pertanian di wilayah Kecamatan Bayat dan Kecamatan Cawas, serta
sebagai tempat penangkapan ikan. Masyarakat sekitar rowo selanjutnya memanfaatkan
perairan rowo sebagai lahan budidaya ikan dalam karamba jaring tancap (selanjutnya
disebut jaring tancap) dan karamba jaring apung (selanjutnya disebut jaring apung) serta
kegiatan wisata kuliner warung apung. Di perairan Rowo Jombor terdapat 21 warung
apung, sedangkan masyarakat yang mengusahakan jaring tancap (sebelum adanya
larangan penggunaan jaring tancap pada tahun 2011) berjumlah 525 orang dan tergabung
dalam 13 kelompok petani karamba, namun sampai dengan bulan Agustus 2012
masyarakat Desa Krakitan yang telah mengusahakan budidaya ikan dengan jaring apung
berjumlah 66 orang (PPL Perikanan Kecamatan Bayat, 2013).
Tingginya tingkat pemanfaatan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan,
menyebabkan ekosistem perairan di Rowo Jombor mengalami perubahan. Perubahan
yang terjadi umumnya mengarah pada penurunan kualitas perairan. Apabila hal ini
dibiarkan secara terus-menurus dapat berakibat pada kerusakan yang serius. Penentuan
kebijakan yang tepat sangat diperlukan untuk memperbaiki masalah lingkungan tersebut.
Oleh karena itu perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai kebijakan apa yang perlu
diambil dalam pengelolaan Rowo Jombor.

B. Tujuan
Praktikum Manajemen Sumberdaya Perairan acara Manajemen Plan ini bertujuan untuk :

84

1. Melatih mahasiswa untuk menyampaikan pendapat, ide atau gagasannya dalam


bentuk tulisan
2. Melatih mahasiswa untuk membuat tulisan ilmiah
3. Melatih mahasiswa untuk melakukan kegiatan pengelolaan sumberdaya perairan
secara keseluruhan

C. Manfaat
Hasil praktikum ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa,
masyarakat dan pihak pengelola Rawa Jombor mengenai pemanfaatan sumberdaya Rawa
Jombor dan memberikan masukan mengenai perencanaan dan pengelolaan yang
berkelanjutan.

D. Waktu dan Tempat


Praktikum Lapangan Manajemen Sumberdaya Perairan dilaksanakan pada hari
Sabtu, 29 November 2014 sampai hari Minggu, 30 November 2014. Adapun lokasi
praktikum lapangan ini bertempat di Rowo Jombor, Klaten.

85

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Rowo Jombor

Gambar . Lokasi Rowo Jombor (Sumber : Google Maps)


Rowo Jombor merupakan sebuah rawa yang terletak di tengah Desa Krakitan,
Kecamatan Bayat yang dikelilingi oleh pegunungan kapur. Rowo Jombor merupakan
salah satu rawa yang sangat luas di Kabupaten Klaten. Secara geografis Rowo Jombor
terletak di antara garis lintang 7o 5011 dan bujur timur 110o 3142 (Nurroh, 2014).
Rowo tersebut memiliki peranan penting bagi penduduk untuk irigasi, perikanan dan
juga tempat wisata. Rawa ini merupakan dataran yang berbentuk cekung sehingga dapat
menampung air karena posisi lebih rendah dari perbukitan disekitarnya. Sehingga proses
sedimentasi langsung menuju lembah dari perbukitan yang bermuara ke Rowo Jombor.
Rowo ini dikelilingi oleeh bukit-bukit yang sebagian besar merupakan pegunungan
kapur. Rowo Jombor berjarak kurang lebih 8 km dari kota Klaten. Rowo ini memiliki
luas 198 ha dengan kedalaman meencapai 4,5 m dan meemiliki daya tampung air 4 juta
m3. Tanggul yang mengelilingi rowo ini sepanjang 7,5 km dengan lebar tanggul 12 m.
Topografi lahan rawa umumnya datar yang dicirikan oleh sifat hidrologi yang
dipengaruhi oleh diurnal pasang surut, yang dikenal sebagai lahan rawa pasang surut,
atau tergenang melebihi 3 bulan yang dikenal sebagai lahan rawa lebak (Widjaja Adhi,
1986).
Kendala yang bisanya terjadi di rawa antara lain (Irianto, 2011):

86

1. Umumnya mempunyai rejim air yang fluktuatif dan sulit diduga serta resiko
kebanjiran (flooding) di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.
Dengan kondisi biofisik yang demikian, maka pengembangan lahan rawa
lebak untuk usaha pertanian khususnya tanaman pangan, hortikultura,
peternakan dan perikanan dalam skala luas memerlukan pengelolaan lahan dan
air serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayahnya (spesifik
lokalita) agar diperoleh hasil yang optimal.
2. Kondisi sosial ekonomi masyarakat serta kelembagaan dan prasarana
pendukung yang umumnya belum memadai (kurang/belum berjalan) atau
bahkan belum ada. Terutama menyangkut kejelasan kepemilikan lahan,
keterbatasan tenaga (petani sambilan) dan modal kerja serta sarana produksi,
prasarana dan sarana irigasi dan perhubungan serta pasca panen (post
harvesting) dan pemasaran hasil pertanian.
3. Dijumpai adanya kemampuan pemerintah daerah dan petani yang belum
sepenuhnya memahami bagaimana karakteristik dari lahan rawa lebak dan
juga teknologi yang tersedia dan cocok dalam pengelolaan lahan dan air untuk
pertanian yang mempunyai kearifan lokal (local wisdom).
4. Adanya penanganan yang tidak serius dalam pengelolaan lahan rawa lebak
baik menyangkut dokumentasi, administrasi dan teknologi yang telah dan
pernah dilakukan oleh masyarakat lokal maupun pendatang dalam suatu area
tertentu, sehingga tidak adanya acuan yang dapat dipedomani dalam
pengembangan lahan rawa lebak pada lokasi lain.
5. Masih dijumpai penanganan pengelolaan rawa lebak secara sektoral tanpa
melibatkan dari berbagai unsur sehingga tidak terintegrasi atau kurangnya
dukungan dari sektor-sektor atau pihak-pihak terkait lainnya.
Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang baik agar kelestarian rawa terjaga. Banyak
faktor yang dapat mengancam kelestarian ekosistem suatu danau, baik sebagai akibat
alami, seperti gempa dan tanah longsor, maupun akibat antropogenik (aktivitas manusia).
Beberapa ancaman kerusakan ekosistem danau yang disebabkan aktivitas manusia antara
lain (Jayanti, 2009):

87

a. Sedimentasi yang berlebihan akibat erosi Daerah Aliran Sungai (DAS)


b. Pencemaran yang diakibatkan adanya buangan minyak, pupuk, pestisida atau
pencemaran bahan buangan padat
c. Pemanfaatan sumberdaya alam hayati yang berlebihan dan dengan cara-cara yang
merusak
d. Memasukkan spesies tumbuhan atau hewan baru yang dapat mengganggu
keseimbangan ekosistem dan memusnahkan spesies asli
e. Konversi lahan
f. Perubahan sistem hidrologi sebagai akibat pengubahan aliran sungai
Manajemen plan merupakan suatu proses pemetaan yang kemudian dilanjutkan dengan
proses pengelolaan. Sebelum melakukan proses pengelolaan dilakukan identifikasi dan
analisis mengenai berbagai isu pengelolaan atau pemanfaatan yang ada maupun yang
diperkirakan akan muncul dan kemudian meyusun srta melaksanakan kebijakan dan
program aksi untuk mengatasi isu yang berkembang (Sutardi ,2003).
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan
strategi (Rangkuti, 2002). Analisis ini didasarkan dengan memaksimalkan kekuatan
(strength), peluang (opportunities), namun secara bersamaan meminimalkan kelemahan
(weakness) dan ancaman (threat). Analisis SWOT membandingkan antara faktor
ekstrenal (peluang dan ancaman) dengan faktor internal (kekuatan dan kelemahan).
Kekuatan (strength) adalah unsur yang dimiliki kawasan wisata Danau Rowo Jombor
yang bisa membantu pengelola mencapai keberhasilan. Kelemahan (weakness) adalah
unsur yang dimiliki oleh kawasan wisata yang bisa menyebabkan kinerja pengelola
menjadi buruk atau menghambat untuk mencapai keberhasilan. Peluang (oppurtunity)
adalah unsur lingkungan yang berada di luar kendali pengelola yang menguntungkan
pengelola. Ancaman (threat) adalah unsur lingkungan yang berada di luar kendali
pengelola yang tidak menguntungkan dan dapat mengganggu/menghalangi suatu
kegiatan/usaha di kawasan wisata.

88

BAB III
METODOLOGI

A. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
1.
2.
3.
4.

Alat tulis (pulpen, pensil, kertas)


Komputer/Laptop
Kamera
Kuisioner

B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah data hasil wawancara penggiat
wisata, nelayan dan pembudidaya di perairan Rowo Jombor.

C. Cara Kerja
a. Masing-masing kelompok melakuan pengamatan terhadap wilayah dan sumberdaya
alam sekitar beserta factor biologi, sosial dan ekonominya.
b. Melakukan wawancara dan observasi untuk mendapatkan data primer maupun
sekunder mengenai keadaan dan kondisi Rawa Jombor
c. Menganalisis SWOT wilayah/sumberdaya
d. Menentukan manajemen pengelolaan wilayah/sumberdaya

yang

baik

dan

terintegrasi dengan seluruh komponen maupun aspek yang ada

BAB IV
PEMBAHASAN
89

A. Hasil
(terlampir)
B. Pembahasan

Gambar . Lokasi Rowo Jombor (Sumber : Google Maps)


Rowo Jombor merupakan sebuah rawa yang terletak di tengah Desa Krakitan,
Kecamatan Bayat yang dikelilingi oleh pegunungan kapur. Rowo Jombor merupakan
salah satu rawa yang sangat luas di Kabupaten Klaten. Secara geografis Rowo Jombor
terletak di antara garis lintang 7o 5011 dan bujur timur 110o 3142 (Nurroh, 2014).
Rowo tersebut memiliki peranan penting bagi penduduk untuk irigasi, perikanan dan
juga tempat wisata. Rawa ini merupakan dataran yang berbentuk cekung sehingga dapat
menampung air karena posisi lebih rendah dari perbukitan disekitarnya. Sehingga proses
sedimentasi langsung menuju lembah dari perbukitan yang bermuara ke Rowo Jombor.
Rowo ini dikelilingi oleeh bukit-bukit yang sebagian besar merupakan pegunungan
kapur. Rowo Jombor berjarak kurang lebih 8 km dari kota Klaten. Rowo ini memiliki
luas 198 ha dengan kedalaman meencapai 4,5 m dan meemiliki daya tampung air 4 juta
m3. Tanggul yang mengelilingi rowo ini sepanjang 7,5 km dengan lebar tanggul 12 m.

90

Rowo Jombor yang terletak di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten pada
mulanya hanya dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi bagi lahan pertanian di wilayah
Kecamatan Bayat dan Kecamatan Cawas, serta sebagai tempat penangkapan ikan.
Masyarakat sekitar rowo selanjutnya memanfaatkan perairan rowo sebagai lahan
budidaya ikan dalam karamba jaring tancap (selanjutnya disebut jaring tancap) dan
karamba jaring apung (selanjutnya disebut jaring apung) serta kegiatan wisata kuliner
warung apung. Di perairan Rowo Jombor terdapat 21 warung apung, sedangkan
masyarakat yang mengusahakan jaring tancap (sebelum adanya larangan penggunaan
jaring tancap pada tahun 2011) berjumlah 525 orang dan tergabung dalam 13 kelompok
petani karamba, namun sampai dengan bulan Agustus 2012 masyarakat Desa Krakitan
yang telah mengusahakan budidaya ikan dengan jaring apung berjumlah 66 orang (PPL
Perikanan Kecamatan Bayat, 2013).
Rowo Jombor merupakan salah satu kawasan wisata yang sangat potensial, namun perlu
didorong agar dapat dimanfaatkan secara optimal dengan didukung oleh rencana
pengembangan kawasan Rowo Jombor supaya menjadi lebih menarik minat dari
pengunjung. Kawasan wisata Rowo Jombor merupakan salah satu asset yang sangat
beharga milik kabupaten Klaten. Di samping itu, potensi perikanan dan pertaniannya pun
turut menambah nilai dari kawasan tersebut. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa
pengembangan kawasan Rowo Jombor ini, apabila dikelola secara serius akan
memberikan manfaat yang tinggi untuk kepentingan ekonomi, sosial dan bidang
kepariwisataan. Potensi tersebut dapat memberikan sumbangan bagi pertumbuhan
lapangan usaha dan kesempatan kerja yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan
kualitas kehidupan masyarakat..
Bentuk wisata di Rowo Jombor salah satunhya adalah Warung apung. Warung apung ini
ini memanfaatkan kawasan perairan Rowo Jombor pada bagian utara yang berdekatan
pada pintu masuk kearah kawasan Rowo Jombor. Di samping itu juga terdapat keramba
budidaya ikan, yang ada saat ini cukup banyak disepanjang keliling rawa dan terletak
dibelakang warung apung. Perairan ini selain dimanfaatkan sebagai lahan budidaya dan
warung apung juga berfungsi untuk perikanan tangkap serta wisata air (wisata rakit).

Tabel 1. Analisis SWOT

91

Peluang (Oppurtunity)
1. Pariwisata masih bisa
dikembangkan
2. Dukungan masyarakat
sekitar akan
pentingnya menjaga
lingkungan Rowo
Jombor
3. Dukungan pemerintah

Ancaman (Threat)
1. Pencemaran limbah
dari warung apung
2. Kurang koordinasi
antar lembaga
3. Penangkapan yang
tidak selektif dari
beberapa oknum
masyarakat

Kekuatan (Strength)
1. Potensi pariwisata
(pemandangan dan
warung apung)
2. Potensi sumberdaya
habitat
3. Potensi sumberdaya
ikan
4. Potensi sumberdaya
manusia (dapat
membuka lapangan
pekerjaan)
5. Potensi budaya dan
legenda (sejarah
wisata)
Strategi S-O
1. Memanfaatkan potensi
Rawa Jombor untuk
menarik wisatawan
2. Memanfaatkan
dukungan masyarakat
& pemerintah untuk
pengembangan objek
wisata Rawa jombor
3. Mengoptimalkan kerja
sama dengan pihakpihak terkait dalam
pengembangan

Kelemahan (Weakness)
1. Sumberdaya air tidak
terjaga kebersihannya
2. Sumberdaya hayati tidak
terawat
3. Prasarana pendukung
kurang memadai
4. Pengelolaan terhadap
perairan kurang optimal

Strategi W-O
1. Menggunakan lahan
sesuai daya dukung dan
kelestarian lingkungan
2. Pemanfaatan tumbuhan
air sebagai penyaring air
tercemar oleh berbagai
bahan polutan
3. Membenahi fasilitas
yang belum optimal &
membangun fasilitas
yang kurang
4. Instansi terkait
membantu usaha
masyarakat
Strategi S-T
Strategi W-T
1. Mengadakan koordinasi 1. Instansi terkait
dengan instansi terkait
melakukan pengontrolan
untuk mengurangi
dan pengawasan
pencemaran
terhadap sumberdaya air
2. Membangun SDM yang 2. Mengembangkan Rawa
peduli lingkungan
Jombor yang menunjang
terutama dalam
kegiatan wisata dengan
pembuangan limbah
melibatkan semua pihak
warung apung.

Unsur kekuatan (strenght) yang dimiliki kawasan wisata Rawa Jombor tersebut dapat
membantu

dalam

menganalisis

strategi

pengelolaan

sehingga

dapat

tercapai
92

keberhasilan. Adapun kekuatan yang dimiliki kawasan Rawa Jombor ini diantaranya
adalah keindahan panorama alamnya yang berupa hamparan air dan perbukitan batu
kapur disekitarnya, ditambah lagi indaahnya panorama sunrise dan sunset yang dapat
menambah daya tarik wisatawan. Adanya nilai budaya berupa kepercayaan dari leluhur
dan cerita legenda juga menambah daya tarik wisatawan untuk mengunjungi Rawa
Jombor. Seperti halnya acara-acara peringatan kepercayaan setempat seperti syawalan
dapat menambah jumlah wisatawan. Terlebih lagi potensi tersebut didukung pula oleh
akses transportasi menuju lokasi yang mudah karena jalan sudah aspal. Dari segi sosial,
masyarakat desa Rakitan juga mendukung pengembangan Rowo Jombor sebagi kawasan
ekowisata.
Di samping kelebihannya ternyata Rowo Jombor juga memiliki kelemahan. Kelemahan
(weakness) merupakan suatu unsur yang dapat menyebabkan kinerja pengelola menjadi
buruk atau menghambat untuk mencapai keberhasilan. Adapun kelemahan Rawa Jombor
meliputi kondisi lingkungan yang masih kurang terjaga kebersihanya terlihat dengan
banyak ditemukannya sampah plastik yang menggenang di tepian rowo, kemudian
banyak tumbuhan air yang membusuk di tepi perairan membuat di beberapa titik tertentu
tercium bau yang tidak sedap. Di samping itu, lokasi Rowo Jombor di jauh dari kota
membuat wisatawan sulit menjangkau lokasi sehingga Rowo Jombor hanya dijadikan
alternatif wisata yang terakhir. Kemudian adanya tanaman air Enceng gondok yang
melimpah sangat mengganggu. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya proses
eutrofikasi dan menyebabkan rusaknya ekosisten rawa.
Peluang (oppurtunity) merupakan unsur lingkungan yang berada di luar kendali
pengelola yang menguntungkan pengelola. Peluang yang dimiliki oleh kawasan wisata
Rawa Jombor ini meliputi keberadaan tanaman enceng gondok yang dianggap gulma
oleh masyarakat sekitar sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik,
disamping itu batang pun dapat dijadikan sebagai bahan baku kerajiran apabila telah
dikeringkan. Peluang lainnya adalah perairan Rawa Jombor ini memiliki beragam jenis
ikan yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata pemancingan.
Ancaman (threat) merupakan unsur lingkungan yang berada di luar kendali pengelola
yang tidak menguntungkan dan dapat mengganggu/menghalangi suatu kegiatan/usaha di
kawasan wisata. Berdasarkan analisis ancaman yang datang diantaranya meliputi
pencemaran limbah dari warung apung yang dilakukan beberapa oknum pengusaha
93

warung apung dapat mengakibatkan adanya pencemaran lingkungan yang serius, kurang
koordinasi antar lembaga antara lain Dinas Pariwisata Kabupaten Klaten, Dinas
Pekerjaan Umum Kabupaten Klaten, Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Klaten,dan
Pengelola DAS Bengawan Solo, adanya penangkapan yang tidak selektif yang dilakukan
oleh beberapa oknum masyarakat dapat mengancam kemelimpahan populasi ikan di
Rowo Jombor.
Berdasarkan analisis SWOT tersebut tampak bahwa sesungguhnya Rawa Jombor
memiliki potensi pariwisata yang tinggi. Namun kekuatan dan peluang yang dimiliki
oleh kawasan ini harus benar-benar dikelola secara arif dan bijaksana sehingga dapat
memberikan manfaat yang lebih bagi generasi yang akan datang. Perencanaan alternatif
yang dapat diberikan untuk meningkatkan nilai dari Rowo Jombor antara lain dimulai
dari membangun kesadaran masyarakat agar menumbuhkan rasa memiliki akan Rowo
Jombor sehingga masyarakat dapat membantu mengembangkan potensi yang ada.
Langkah berikutnya adalah dengan pembagian lahan (zonasi) berdasarkan pemanfaatan
agar tidak terjadi konflik antara pemangku kepentingan. Zonasi untuk budidaya karamba
jaring apung lebih baik ditempatkan di daerah yang dekat dengan saluran air masuk
karena kualitas airnya masih baik. Sedangkan untuk usaha warung apung sebaiknya pada
daerah yang dekat dengan pintu masuk dan fasilitas umum. Untuk mengurangi cemaran
pestisida pertanian sebaiknya dibuat saluran pertanian yang tidak lamgsung masuk ke
dalam perairan Rowo Jombor.
Untuk mengatasi masalah enceng gondok yang terlalu banyak dapat melakukan
peningkatan pengolahan enceng gondok maupun dengan pembersihan area rawa secara
berkala. Peningkatan pemanfaatan eceng gondok perlu dilakukan. Agar pemanfaatan
enceng gondok dapat berjalan tanpa merusak lingkungan perlu dilakukan sosialisasi dan
pendampingan secara berkala. Pendampingan dapat dilakukan oleh pemerintah daerah
dibantu dengan ahlinya.
Untuk menarik perhatian wisatawan penataan kawasan wisata juga perlu dilakukan.
Adannya sarana rekreasi seperti taman hiburan, tempat istirahat, kantor informasi, dan
warung yang lebih menarik sehingga dapat meningkatkan nilai jual Rowo Jombor. Usaha
budidaya juga dapat dibantu dengan adanya pusat penjualan berbagai macam
perlengkapan budidaya seperti pakan, obat, vitamin, jaring dan lain-lain. Pembudidaya
juga harus membentuk kelompok petani ikan agar kegiatan budidaya di Rowo Jombor
94

lebih intensif. Kelompok pembudidaya juga dapat saling membantu sesama petani ikan
yang kesulitan sehingga usaha budidaya dapat bertahan.

BAB V
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
1. Rowo Jombor memiliki potensi sumberdaya alam dan lingkungan yang masih bisa
untuk dikembangkan lebih baik lagi.
2. Permasalahan yang muncul adalah produktifitas tangkapan yang semakin menurun,
pelarangan bagan tancap mematikan usaha budidaya sebagian besar masyarakat,
serta kurang optimalnya bantuan dari pemerintah.
3. Strategi yang dapat dilaksanakan adalah membangun kesadaran masyarakat serta
meningkatkan pengelolaan sumberdaya perairan agar tetap lestari.

95

DAFTAR PUSTAKA

Irianto, E.W. 2011. Eutrofikasi Waduk dan Danau. Litbang. Jakarta.


Jayanti, I. 2009. Kajian Sumberdaya Danau Rawa Pening Untuk Pengembangan Wisata Bukit
Cinta, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
IPB. Bogor.
Nurroh, S. 2014. Studi Kasus: Kearifan Lokal (Local Wisdom) Masyarakat Suku Sunda
Dalam Pengelolaan Lingkungan yang Berkelanjutan. Critical Riview. UGM Press.
Yogyakarta.
PPL Perikanan Kecamatan Bayat. 2013.Daftar Rumah Tangga Perikanan Karamba dan
Nelayan Kecamatan Bayat Tahun 2013. DKP. Kalten.
Sutardi 2003. Pengelolaan Sistem Danau di Indonesia. Hlm 6 In: Karwur FF, Utami A, &
Notosoedarmo S. Prosiding Pekan Ilmiah Mahasiswa 2-7 Juni 2003 Keterlanjutan
Rawa Pening. Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga.
Wijaya Adhi, I.P.G. 1986. Pengelolaan lahan rawa pasang surut dan lebak. Jurnal Penelitian
dan Pengembangan Pertanian. V(1): 1-9.

96

97

ACC 5/12/14 | Andi


Ibrahim

Lampiran
Pertanyaan

Nelayan

PegiatPariwisata

BudidayaIkan

Responden

EkoPurwanto, Sur,
Surandal, Triwibowo, Eko,
Alim, Maryono, Robert,
Ardi, Sumbolhadi, Slamet,
CukSugiono, Adhi, , Giono

Suharno, SitiKaryawati, Rahmi,


Sarju, Ratni, Sungkono, Darmi,
Sriyati, Siwi, Nawan, Agus,
Endang, Misiyah, Dwi

Bambang, Slamet, Rofiudin, Sulis,


Galih, DulkaiDarmowiyono,
SukinoJunaidi, Ariyanto, Ismail,
Samino, Solikhin, Wagyo, Suripto,
Sungkono,

>5 tahun

1-5 Tahun

Lama Bekerja

>5 tahun

SistemPemba
gianLahan

Tidakada

Tidakada

Bebas

JumlahProdu
ktivitas
/Omset
(Rp/hari)

2-8 kg

60.000 600.000

1.000.000-4.000.000

Pembagian air
Masalah/kend
untukkegiatanpertanianda
ala
nperikanan, modal

Musim, Modal, Pengunjungsepi

Polusi air, Modal, AnginKencang

Solusi

60% air untukperikanan,


40% pertanian, usaha lain

Pinjam bank dandariusaha lain,


Pengelolaanwisata yang
lebihbaik

MemperkuatKeramba, Pinjam Bank

AlatTangkap

Pancing, jala, jaring, bubu


(telik)

KerambaJaringApung

System
penangkapan
danpanenbud
idaya

Jaring : sore pasangjaring,


malambarudiambil, Jala :
pagimenangkaplangsung,

panentiap 3 bulansekali

98

Alattangkap
yang dilarang
KomoditasUt
ama
Komoditas
lain yang
dimanfaatka
n
Alasanmemili
husaha

Setrum, bom, racun

KerambaTancap

Mujair, gabus, patin, nila,


betutu, gurame

Nila

Encenggondok, udang,
kuthuk

Nila, Lele, Gabus, Wader,


Mujair, Sepat, EncengGondok

Wader, Tombro, Lele, Betutu,


Encenggondok

Hiburan,
Memenuhikebutuhanseha
ri-hari

MemenuhiKebutuhanHidup,
Hiburan

MembantuekonomikeluargadanMena
mbahPenghasilan

Lama
pengerjaan
Modal (Rp)
Perizinan/Paj
ak

Setiaphari

SetiapHari

3 Bulan

50.000 2.000.000

5.000.000 20.000.000

2.000.000-10.000.000

Tidak Ada

Tidakada

Tidak Ada

Peranpemeri
ntah

Tebarbibit,
memperbaikijalan,
membuatpagar di
pinggirrawa

Ada,
namunkurangberkontribusi

Sosialisasi, Pengerukan,
PemberisahnEncenggondok

HarapanResp
onden

Ketersediaanstokikan,
dapatikan yang banyak,
bantuan modal
daripemerintah

Usaha
berkembangdanperanpemerint
ahdapatdirasakan

Bantuandaripemerintah,
peningkatankesejahteraan,
peningkatanproduksibudidaya,
ketersediaan air

PerairanRaw

Encenggondokdantanam

Semakinbanyakpengunjung,

Ketersediaan air selaluada,

99

aPening

an lain dibersihkan,
aturandipertegas,
jenisikanlebihbanyak

lebihberkembang, pengelolaan
yang lebihbaik

Pengelolaan yang lebihbaik,


Pembagianlahan agar adil

100