Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH INSTRUMENTASI DAN NAVIGASI PERIKANAN

PETA NAVIGASI

Dosen Pengampu :
Dr. Ir. Djumanto, M.Sc
Dr. Suwarman Partosuwiryo, A.Pi., M.M.

Disusun Oleh :
Carissa Paresky Arisagy (12981)

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya atas selesainya penulisan makalah kami yang berjudul Peta
Navigasi. Makalah ini kami susun dalam rangka memenuhi tugas ujian tengah semester
VI dari mata kuliah Instrumentasi dan Navigasi Perikanan.
Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua
pihak yang turut serta membantu dalam penyusunan makalah ini baik secara langsung
maupun tidak langsung. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Dalam penulisan makalah ini, kami merasa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan dan masih banyak kekurangan baik dari segi teknis penulisan maupun
materinya, untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat saya harapkan demi
penyempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, 6 April 2015

Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................

KATA PENGANTAR .................................................................................

ii

DAFTAR ISI ................................. ...........................................................

iii

ABSTRAK ...................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang .......................................................................................

Tujuan ....................................................................................................

Sistematika Penulisan ............................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Sejarah Penemuan Peta Navigasi ...........................................................

Perkembangan Peta Navigasi .................................................................

Penggunaan Peta Navigasi .....................................................................

Komponen Peta Navigasi .......................................................................

Pengoperasian ........................................................................................

11

Manfaat Peta Navigasi pada Perikanan .................................................

13

BAB IV PENUTUP
Kesimpulan ............................................................................................

15

Saran ......................................................................................................

15

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

16

iii

ABSTRAK

Ilmu pengetahuan saat ini mengalami perkembangan yang pesat, perkembangan


tersebut mulai dari perkembagan pola pikir manusia hingga manusia mampu menciptakan
suatu alat yang dapat digunakan untuk memudahkan kerja manusia dan mampu
menggantikan peran manusia. Hasil dari pemikiran manusia ini memungkinkan manusia
untuk menemukan terobosan baru dalam bidang ilmu pengetahuan, salah satu ilmu
pengetahuan yang diciptakan dari hasil pemikiran manusia adalah penemuan mengenai alat
navigasi. Perkembangan peta navigasi Indonesia sudah dimulai sejak abad 15 masehi,
ketika Laksamana Cheng Ho berlayar melalui Indonesia. Kemudian berlanjut pada masa
penjajahan belanda VOC hingga terbentuknya Berita Pelaut Indonesia (BPI). Peta navigasi
digunakan sebagai alat penentu posisi maupun arah baik di darat maupun di laut. Peta
Navigasi memiliki komponen penting yang meliputi isi peta, judul peta, skala peta dan
simbol arah, legenda atau keterangan, insert dan indeks peta, grid, nomor peta, serta
sumber peta. Dalam penggunaan peta navigasi ini, navigator harus mampu merekam dan
membaca gambar permukaan fisik bumi, serta menggunakan peralatan pedoman arah. Peta
navigasi dalam dunia perikanan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan eksplorasi serta
eksploitasi sumber daya laut.
Kata kunci : alat, laut, navigasi, peta

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan saat ini mengalami perkembangan yang pesat, perkembangan
tersebut mulai dari perkembagan pola pikir manusia hingga manusia mampu menciptakan
suatu alat yang dapat digunakan untuk memudahkan kerja manusia dan mampu
menggantikan peran manusia. Hasil dari pemikiran manusia ini memungkinkan manusia
untuk menemukan terobosan baru dalam bidang ilmu pengetahuan, salah satu ilmu
pengetahuan yang diciptakan dari hasil pemikiran manusia adalah penemuan mengenai alat
navigasi. Pengertian dari alat navigasi adalah sebuah alat yang digunakan untuk
menentukan arah dalam dunia maritim. Sejak dulu sebelum teknologi berkembang manusia
masih menggunakan alat-alat sederhana yang mereka ciptakan untuk mempermudah dan
membantu mereka dalam melakuakan suatu pekerjaan. Mnurut Sahari (2008), teknologi
sendiri diartikan sebagai istilah yang dapat dipandang sebagai produk dan proses nilai
tambah untuk meningkatkan dan mempermudah pelaksanaan hasil, maka manusia
menciptakan suatu instrument yakni teknologi. Teknologi sendiri berkembang secara
universal dalam artefak sejarah menunjukkan perkembangan teknologi yang intensif telah
terjadi ribuan tahun yang lalu, perkembangan sains dan teknologi sendiri mengikuti evolusi
struktur (Pribadi dan Yuni, 2004).
Manusia sudah mengenal keberadaan sistem navigasi dengan menggunakan
pedoman benda-benda angkasa alamiah yaitu bulan, bintang, dan matahari manusia pada
zaman dahulu tidak hanya menggunakan bintang, bulan dan matahari sebagai penunjuk
navigasi saja mereka juga menggunaknnya sebagai penunjuk waktu (William, 2008) Selain
itu seiring dengan perkembangan zaman maka alat navigasi dibedakan menjadi beberapa
tipe atau model yaitu, kompas, peta, radar dan GPS (Global Positioning System). Alat
navigasi tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk menunjukkan arah mata angin
maupun sebagai alat untuk menentukan koordinat suatu lokasi, sistem navigasi sudah
dipergunakan oleh bangsa Mesir Kuno sebagai alat untuk pelayaran dan kemudian
dikembangkan lagi oleh bangsa-bangsa lain. Di Indonesia sistem navigasi telah digunakan
sebagai alat bantu trasportasi, baik transportsi darat, udara, maupun air.

Teknologi dalam bidang navigasi telah banyak memberikan dampak positif bagi
perkembangan berbagai sektor di Indonesia. Tidak hanya pada perkembangan dunia
transportasi namun juga pada perkembangan dunia perikanan. Oleh karena itu dalam
makalah ini akan dikaji lebih lanjut mengenai perkembangan alat navigasi terutama peta
navigasi terhadap perkembangan perikanan.

B. Tujuan
1.

Mengetahui sejarah penemuan peta navigasi

2.

Mengetahui perkembangan peta navigasi

3.

Mengetahui penggunaan peta navigasi

4.

Mengetahui komponen peta navigasi

5.

Mengetahui pengoperasian peta navigasi

6.

Mengetahui manfaat peta navigasi pada perikanan

C. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan makalah Peta Navigasi ini, penulis menggunakan metode
kepustakaan untuk mendapatkan bahan materi yang menyeluruh. Kepustakaan yang
penulis gunakan tak hanya memakai beberapa buku dan jurnal untuk menjadi sumber
acuan. Akan tetapi, penulis juga mencari bahan dari internet baik berupa materi maupun
gambar yang dapat melengkapi pembahasan materi.
Kami membagi laporan ini menjadi beberapa bagian, antara lain pendahuluan,
materi pembahasan, penutup serta daftar pustaka. Bagian pendahuluan berisi latar
belakang, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan. Kemudian pembahasan berisi materi
bahasan terkait sejarah peta navigasi, perkembangan peta navigasi, penggunaan peta
navigasi, komponen peta navigasi, pengoperasian, dan manfaat peta navigasi pada
perikanan. Bagian penutup berisi kesimpulan dan saran. Sementara bagian terakhir yakni
daftar pustaka berisi referensi yang digunakan dalam penyususnan makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Peta Navigasi


Peta telah menjadi karya manusia berabad-abad silam, jauh sebelum manusia
dengan teknologi dirgantara dan antariksanya melayang tinggi ke ruang angkasa. Peta-peta
itu dihasilkan lewat serangkaian survei dan ekspedisi panjang di darat dan laut. Sejarah
mencatat peta tentang Indonesia pertama, adalah peta navigasi yang dibuat pada abad ke15 ketika Laksamana Cheng Ho dari Cina melakukan pelayaran di wilayah negeri ini
(Ikawati dan Dwi, 2009).

Gambar 2.1.
Kapal Tiongkok
Laksamana
Cheng Ho saat
melayari
Nusantara

Sesungguhnya peta telah dibuat beberapa ribu tahun sebelum masehi. Peta tertua
yang pernah ditemukan adalah lembaran tanah liat Babilon dari 2300 sebelum masehi.
Sedangkan konsep bola dunia telah dikenal baik oleh filsuf Yunani pada zaman Aristotle
(350 SM). Kartografi Yunani dan Roma mencapai puncaknya pada masa Yunani kuno dan
Roma melalui kartografer bernama Claudius Ptolemaeus (85-165 masehi), membuat peta
dunia yang mencakup wilayah 60 N sampai 30 S. Karya monumentalnya Guide to
4

Geography (Geographike hyphygesis) menjadi acuan dalam ilmu geografi sampai zaman
kebangkitan Eropa (renaissance). Pada zaman pertengahan berkembang peta-peta Eropa
yang didominasi dengan sudut pandang agama. Peta T-O merupakan peta dengan
Jerusalem berada di tengah dan orientasi timur berada di bagian atas peta. Sementara itu
kartografi berkembang lebih praktis dan realistis di daratan Arab dan Mediteran. Penemuan
peta cetak dimulai pada awal abad 15. Peta cetak pertama menggunakan batang kayu yang
diukir. Sedangkan cetakan dengan lembar tembaga dimulai abad 16 dan berkembang
dalam bentuk yang standar sampai diketemukan teknik fotografis.
Peta navigasi berkembang selama zaman explorasi yaitu abad 15 dan 16. Pembuat
peta waktu itu tertarik membuat peta navigasi untuk keperluan pelayaran. Peta navigasi
tersebut menggambarkan garis pantai, pulau, sungai, pelabuhan dan kenampakan lain yang
berkaitan dengan pelayaran. Beberapa peta diperlakukan sebagai peta yang mempunyai
nilai tinggi untuk kepentingan ekonomi, militer dan diplomatik. Sehingga peta tersebut
seringkali diklasifikasi sebagai rahasia. Salah satu contoh adalah peta navigasi dunia
Genoese yang dibuat sekitar 1457. Peta yang mencakup seluruh wilayah dunia terlihat
pada awal abad 16 seiring dengan pelayaran Columbus dan lainnya untuk menemukan
wilayah baru. Gerardus Mercator dari Flenders (Belgia) merupakan kartografer ternama
pada pertengahan abad 16, yang mengembangkan proyeksi silinder yang sampai saat ini
masih banyak digunakan untuk pemetaan navigasi dan peta global.
Pada pertengahan abad 17, Belanda membuat peta perairan Indonesia yang
kemudian menjadi standar, baik untuk orang Belanda sendiri maupun negara lain yang
menjadi saingan mereka. Pada Tahun 1823 pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Depo
Peta Laut, yang kemudian berkembang menjadi Bureau Hidrographic. Pada 1864 Bureau
Hidrographic dinyatakan sebagai Bureau Hidrographic Departement van Marine. Bureau
ini menerbitkan Bericht aan Zee verenden (B.A.Z.) yang kini menjadi Berita Pelaut
Indonesia (BPI). Pada akhir abad 18, pemerintah Kolonial Belanda menghasilkan peta
pelayaran pantai utara Jawa mulai dari Banten hingga Batavia dan peta pelayaran pulaupulau Timur Indonesia yang antara lain berisi informasi peringatan tanda bahaya untuk
navigasi laut.

Gambar 2.2. Peta-peta buatan VOC


Kegiatan survei rupa bumi dan pembuatan peta pada beberapa abad lalu baik untuk
peta navigasi maupun peta daratan hanya ditunjang dengan pengetahuan ilmu falak atau
kosmologi. Selain itu dibantu sarana yang sederhana, antara lain kompas dan teodolit. Pada
masa lalu Ilmu Geodesi digunakan untuk keperluan navigasi. Sedangkan kegiatan
pemetaan bumi sebagai bagian dari Ilmu Geodesi telah dilakukan pada masa Kerajaan
Mesir Kuno untuk mengatasi banjir Sungai Nil pada 2000 SM. Helmert dan Torge pada
tahun 1880 mendefinisikan Geodesi sebagai ilmu tentang pengukuran dan pemetaan
permukaan bumi yang juga mencakup permukaan dasar laut. Di laut, geodesi satelit
digunakan untuk navigasi dan penjejakan matra, laut, antara lain untuk penentuan posisi
untuk keperluan survei pemetaan laut, pengkoneksian antar stasiun pasut (unifikasi datum
tinggi), penentuan SST (Sea Surface Temperature), serta penentuan pola arus dan
gelombang.
Sebagai negeri rempah-rempah, Indonesia sejak dulu memang menjadi incaran para
pedagang dari mancanegara, termasuk VOC yang kemudian menjadi pembuka jalan bagi
upaya kolonisasi bangsa dari negeri kincir angin selama 3,5 abad. Selama masa itu Belanda
telah melaksanakan survei dan pemetaan ke berbagai wilayah di Indonesia. Empat abad
telah berlalu sejak Belanda menjajah negeri ini. Selama ini, berapa jumlah pulau yang pasti
di negeri ini belum juga diketahui. Upaya ke arah itu baru dirintis beberapa tahun terakhir
ini oleh Departemen Kelautan dan Perikanan dan melibatkan Badan Koordinasi Survei dan
Pemetaan Nusantara (BAKOSURTANAL). Sementara itu sejak beberapa tahun terakhir,
BAKOSURTANAL pun tengah merintis pembuatan peta berskala besar dengan akurasi
tinggi. Hal ini dimungkinkan dengan berkembangnya serangkaian teknologi pendukungnya
seperti teknologi penginderaan jauh, teknologi digital, teknologi GPS, dan teknik
pemrosesan data dengan sistem komputer dalam pembuatan peta.
6

B. Perkembangan Peta Navigasi


Perkembangan peta sebagai instrumen navigasi di dunia dapat dibagi menjadi 4
periode perkembangan, yakni periode awal, periode pertengahan, periode kejayaan, dan
periode modern
1.

Periode Awal

Pemetaan (Kartografi) merupakan ilmu dan seni dalam pembuatan peta. Pertama kali, peta
dibuat oleh bangsa Babilonia berupa lempengan berbentuk tablet dari tanah liat sekitar
2300 S.M. Pemetaan dijaman Yunani Kuno sangat maju pesat. Pada saat itu, Konsep dari
Aristoteles bahwa bumi berbentuk bola bundar telah dikenal oleh para ahli filsafat (sekitar
350 S.M.) dan mendapat kesepakatan dari semua ahli bumi. Pemetaan di Yunani dan Roma
mencapai kejayaannya oleh Ptolemaeus (Ptolemy, sekitar 85 165 M). Peta dunia yang
dihasilkannya menggambarkan dunia lama dengan pembagian Garis Lintang (Latitude)
sekitar 60 Lintang Utara (N) sampai dengan 30 Lintang Selatan (S). Dia menulis sebuah
karya besar Guide to Geography (Geographike Hyphygesis). Dengan meninggalkan
karangan yang dijadikan sebagai acuan ilmu Geografi yang mendunia sejak jaman
kebangkitannya
2.

Periode Pertengahan

Sepanjang periode pertengahan, Peta-peta wilayah Eropa didominasi dengan cara pandang
agama, yang dikenal dengan peta T-O. Pada bentuk beta seperti ini, Jerusalem dilukiskan
di tengah-tengah sebelah timur yang diorientasikan menuju bagian atas peta. Penjelajahan
Bangsa Viking pada abad 12 di Utara Atlantic, secara perlahan menyatukan pemahaman
mengenai bumi. Sementara itu, ilmu kartografi terus berkembang dengan lebih praktis dan
realistic di wilayah Arab, termasuk daerah Mediterania. Tentu saja, cara pembuatan peta
masih dilukis dengan tangan, dimana penyebarannya masih sangat dibatasi.
3.

Periode Kejayaan

Penemuan alat cetak pembuat peta semakin banyak tersedia pada abad 15. Peta pada
mulanya dicetak menggunakan papan kayu yang sudah diukir berupa peta. Percetakan
dengan menggunakan lempeng tembaga yang diukir muncul pada abad 16 dan tetap
menjadi standar pembuatan peta hingga teknik fotografis dikembangkan. Kemajuan utama
dalam pembuatan peta mendapat perhatian sepanjang masa eksplorasi pada abad 15 dan
7

16. Para Pembuat peta mendapat jawaban dari Navigation Chart yang menyajikan garis
pantai, pulau, sungai, pelabuhan dan simbol-simbol pelayaran. Termasuk garis-garis
kompas dan paduan navigasi lainnya. Peta-peta ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi,
digunakan untuk tujuan militer dan diplomatic hanya dimiliki oleh pemerintah sebagai
dokumen rahasia negara. Pertama kali Peta Dunia disajikan secara utuh pada awal abad 16,
meneruskan pelayaran dari Colombus dan yang lainnya untuk mencari dunia baru.
Gerardus Mercator dari Flandes (Belgia) menjadi ahli pembuat peta terkenal pada
pertengahan abad 16. Ia mengembangkan proyeksi silindris yang semakin luas digunakan
untuk Navigation Chart dan Peta Global. Berdasarkan pada proyeksi ini ia menerbitkan
sebuah peta pada tahun 1569. banyak proyeksi peta lain yang kemudian dikembangkan.
4.

Periode Modern

Peta terus berkembang pada abad 17, 18 dan 19 secara lebih akurat dan nyata dengan
menggunakan metode-metode yang ilmiah. Banyak Negara melakukan pemetaan sebagai
program nasional. Meskipun demikian, sebagian belahan dunia banyak yang tidak
diketahui walaupun menggunakan potret udara dengan melajutkan perjalanan Perang
Dunia II. Pemetaan Modern berdasarkan pada kombinasi penginderaan jauh (Remote
Sensing) dan pengecekan lapangan (Ground Observation).

Geographic Information

Systems (GIS) muncul pada periode 1970-80-an. GIS menggeser paradigma pembuatan
peta. Pemetaan secara tradisional (Berupa Kertas) menuju pemetaan yang menampilkan
gambar dan database secara bersamaan dengan menggunakan Informasi geografi. Pada
GIS, database, analisa dan tampilan secara fisik dan konseptual dipisahkan dengan
penanganan data geografinya. Sistem Informasi Geografis meliputi perangkat keras
computer (Hardware), perangkat lunak (Software), data digital, Pengguna, sistem kerja,
dan instansi pengumpul data, menyimpan, menganalisa dan menampilkan informasi
georeferensi mengenai bumi.
C. Penggunaan Peta Navigasi
Navigasi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata navis yang artinya
perahu atau kapal dan agake yang artinya mengarahkan, secara harafiah artinya
mengarahkan sebuah kapal dalam pelayaran. Menurut Aidi (2009) navigasi adalah suatu
teknik untuk menentukan kedudukan suatu tempat dan arah lintasan perjalanan secara tepat
baik di medan sebenarnya maupun pada peta. Sementara menurut Subagio (2003), peta
8

merupakan perlengkapan utama dalam penggambaran dua dimensi (pada bidang datar)
keseluruhan atau sebagian dari permukaan bumi yang diproyeksikan dengan perbandingan/
skala tertentu. Sehingga peta navigasi dapat diartikan sebagai gambaran proyeksi muka
bumi yang digunakan sebagai alat penentu posisi dan arah.
Peta navigasi merupakan salah satu teknik dan peralatan yang digunakan dalam
melakukan perjalanan atau aktivitas di laut. Laut merupakan tempat trasportasi yang sangat
popular pada masa abad pertengahan, yakni antara abad ke-15 sampai abad ke-16.
Penggunaan peta navigasi diperuntukan bagi para pelaut yang akan menuju suatu tempat
dengan menggunakan laut sebagai jalan trasportasi mereka, penggunaan peta navigasi
disini berperan sebagai alat penunjuk jalan dan dipakai untuk mengetahui medan yang
akan dilalui.
Aplikasi Navigasi memperlihatkan informasi kualitatif dan atau kuantitatif pada
unsur tertentu. Pada peta navigasi, keterangan disajikan dengan gambar memakai
pernyataan dan simbol-simbol yang mempunyai tema tertentu atau kumpulan dari tematema yang ada hubungannya antara satu dengan lainnya disertai dengan simbol petunjuk
arah. Maka dari itu peta navigasi ialah peta yang menunjukkan hubungan antara atribut
dengan petunjuk arah, baik dalam bentuk 2 dimensi gembar maupun dalam suatu sistem
informasi geografi yang disajikan dalam beberapa tema. Di mana tema tersebut
disesuaikan dengan tujuan pembuatan peta.

D. Komponen Peta Navigasi


Seiring dengan berjalannya waktu, peta navigasi selalu mengalami perkembangan.
Perkembangan ini dilakukan untuk mempermudah penggunaannya. Dalam peta apapun,
baik peta navigasi laut maupun peta navigasi darat harus memuat beberapa komponen
penting. Adapun komponen-komponen tersebut meliputi isi peta, judul peta, skala peta dan
simbol arah, legenda atau keterangan, insert dan indeks peta, grid, nomor peta, serta
sumber peta.
1.

Isi peta
Isi peta menunjukan isi dari makna ide penyusun peta yang akan disampaikan kepada
pengguna peta.
9

2.

Judul peta
Judul peta harus mencerminkan isi peta.

3.

Skala peta dan Simbol Arah


Sekala sangat penting dicantumkan untuk melihat tingkat ketelitian dan kedetailan
objek yang dipetakan. Misalnya sebuah belokan sungai akan tergambar jelas pada peta
1:10.000 dibandingkan dengan pada peta 1:50.000. Simbol arah dicantumkan dengan
tujuan untuk orientasi peta. Arah utara lazimnya mengarah pada bagian atas peta.
Kemudian berbagai tata letak tulisan mengikuti arah tadi, sehingga peta nyaman
dibaca dengan tidak membolak-balik peta. Lebih dari itu, arah juga penting sehingga si
pemakai dapat dengan mudah mencocokan objek di peta dengan objek sebenarnya di
lapangan.

4.

Legenda atau Keterangan


Agar pembaca peta dapat dengan mudah memahami isi peta, seluruh bagian dalam isi
peta harus dijelaskan dalam legenda atau keterangan.

5.

Insert dan Indeks peta


Peta yang dibaca harus diketahui dari bagian bumi sebelah mana area yang dipetakan
tersebut. Insert peta merupakan peta yang diperbersar dari bagian belahan bumi.
Sebagai contoh, kita mau memetakan pulau Jawa, pulau Jawa merupakan bagian dari
kepulauan Indonesia yang diinzet. Sedangkan indeks peta merupakan sistem tata letak
peta, dimana menunjukan letak peta yang bersangkutan terhadap peta yang lain di
sekitarnya.

6.

Grid
Dalam selembar peta sering terlihat dibubuhi semacam jaringan kotak-kotak atau grid
system.Tujuan grid adalah untuk memudahkan penunjukan lembar peta dari sekian
banyak lembar peta dan untuk memudahkan penunjukan letak sebuah titik di atas
lembar peta.

10

7.

Nomor peta
Penomoran peta penting untuk lembar peta dengan jumlah besar dan seluruh lembar
peta terangkai dalam satu bagian muka bumi.

8.

Sumber/Keterangan Riwayat Peta


Sumber ditekankan pada pemberian identitas peta, meliputi penyusun peta, percetakan,
sistem proyeksi peta, penyimpangan deklinasi magnetis, tanggal/tahun pengambilan
data dan tanggal pembuatan/pencetakan peta, dan lain sebagainya yang memperkuat
identitas penyusunan peta yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini juga dilakukan
untuk kepentingan keselamatan pelayaran.

E. Pengoperasian
Pada prinsipnya navigasi adalah cara menentukan arah dan posisi, yaitu arah yang
akan dituju dan posisi keberadaan navigator berada di medan sebenarnya yang
diproyeksikan pada peta. Kunci pemahaman navigasi hanya 2 macam, yaitu :
1.

Mampu merekam dan membaca gambar permukaan fisik bumi

2.

Mampu menggunakan peralatan pedoman arah.

Sehubungan dengan definisi dan pemakaiannya tersebut di atas, maka peta perlu
dibedakan sesuai dengan sifat pemakaiannya :
1.

Peta laut ( Nautical Chart )

11

2.

Peta Penerbangan ( Aeronautical Chart )

3.

Peta Cuaca ( Weather Chart )

4.

Peta Bintang ( Star Chart )

Peta navigasi laut adalah peta yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dipakai
untuk merencanakan suatu pelayaran baik di laut lepas pantai maupun diperairan umum
12

(Howell, 1986). Peta navigasi laut merupakan salah satu alat bantu bernavigasi untuk
keselamatan pelayaran. Teknologi navigasi termasuk membaca peta navigasi laut
merupakan salah satu pengetahuan / kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh para calon
jurumudi kapal penangkapan ikan. Yang terpenting adalah kemampuan membaca peta dan
menginterpretasikan / membayangkan keadaaan medan sebenarnya, yang meliputi
kemampuan membaca kontur, menentukan ketinggian tempat dengan pertolongan titik
triangulasi dan kemampuan mengenal tanda-tanda medan. Pengertian akan tanda medan ini
mutlak diperlukan, sebagai asumsi awal dalam menyusun perencanaan perjalanan.
Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta navigasi, yang perlu
dilakukan pertama kali adalah menentukan titik awal dan titik akhir pada peta. Sebelum
melakukan perjalanan, ada beberapa hal yang harus dicatat :
1. Koordinat titik awal (A)
2. Koordinat titik tujuan (B)
3. Sudut peta antara A B
4. Tanda medan apa saja yang akan dijumpai sepanjang lintasan A B
5. Berapa panjang lintasan antara A B dan berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan lintasan A -B.
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tempuh, diantaranya adalah kemiringan,
panjang lintasan, keadaan dan kondisi medan (misal hutan lebat, badai, semak berduri atau
gurun pasir), keadaan cuaca rata-rata, waktu pelaksanaan (yaitu pagi, siang atau malam),
serta kondisi fisik dan mental. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu
operasi adalah :
1. Kita harus tahu titik awal keberangkatan kita, balk di medan maupun di peta.
2. Gunakan tanda medan yang jelas, baik di medan maupun pada peta.
3. Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita, apakah sudah sesuai dengan
tanda medan yang kita gunakan sebagai patokan, atau belum.
4. Perkirakan berapa jarak lintasan. Misal medan datar 5 krn ditempuh selama 60
menit dan medan mendaki ditempuh selama 10 menit.
5. Lakukan orientasi dan resection, bila keadaannya memungkinkan.
6. Perhatikan dan selalu waspada terhadap adanya perubahan kondisi medan dan
perubahan arah perjalanan.
13

7. Panjang lintasan sebenarnya dapat dibuat dengan cara, membuat lintasan dengan
jalan membuat garis (skala vertikal dan horisontal) yang disesuaikan dengan skala
peta. Gambar garis lintasan tersebut memperlihatkan kemiringan lintasan juga
penampang dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur dengan mengalikannya
dengan skala peta, maka akan didapatkan panjang lintasan sebenarnya.
Dalam pengoperasian perta navigasi, kita juga perlu melakukan plotting. Plotting
merupakan proses membuat gambar atau membuat titik, membuat garis dan tanda-tanda
tertentu di peta. Plotting sangat berguna bagi kita dalam membaca peta. Misalnya Tim
Bum berada pada koordinat titik A (3986 : 6360) + 1400 m dpl. SMC memerintahkan Tim
Bum agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268) + 1301 mdpl. Maka langkah-langkah
yang harus dilakukan adalah :
1. Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan konektor. Pembacaan dimuali
dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y).
2. Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tank garis dari A ke T, kemudian
dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A T dari titik A ke arah
garis AT. Pembacaan sudut menggunakan Sistem Azimuth (0 -360) searah
putaran jarum Jam. Sudut ini berguna untuk mengorientasi arah dari A ke T.
3. Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T.
Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok-kelok mengikuti jalan
setapak, sungai ataupun punggungan. Harus dipaharni betul bentuk garis garis
kontur.

F. Manfaat Peta Navigasi pada Perikanan


Ketersediaan

peta

navigasi

sangat

berguna

dalam

mendukung kegiatan

pembangunan kelautan contohnya peta laut untuk kegiatan maritim. Kegiatan maritim
misalnya navigasi pelayaran, perikanan, riset dan rekayasa laut serta militer. Dalam dunia
perikanan peta navigasi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan eksplorasi serta eksploitasi
sumber daya laut. Di samping itu peta navigasi laut merupakan salah satu alat bantu
bernavigasi yang juga berfungsi untuk keselamatan pelayaran.

14

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perkembangan peta navigasi Indonesia sudah dimulai sejak abad 15 masehi, ketika
Laksamana Cheng Ho berlayar melalui Indonesia. Kemudian berlanjut pada masa
penjajahan belanda VOC hingga terbentuknya Berita Pelaut Indonesia (BPI). Peta navigasi
digunakan sebagai alat penentu posisi maupun arah baik di darat maupun di laut. Peta
Navigasi memiliki komponen penting yang meliputi isi peta, judul peta, skala peta dan
simbol arah, legenda atau keterangan, insert dan indeks peta, grid, nomor peta, serta
sumber peta. Dalam penggunaan peta navigasi ini, navigator harus mampu merekam dan
membaca gambar permukaan fisik bumi, serta menggunakan peralatan pedoman arah. Peta
navigasi dalam dunia perikanan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan eksplorasi serta
eksploitasi sumber daya laut.

B. Saran
Dalam rangka pembangunan sektor perikanan dan kelautan, pemerintah dibantu
oleh masyarakat juga perlu melakukan modernisasi dalam pengembangan peta navigasi
sebagai pendukung pertumbuhan ekonomi dari sektor perikanan serta pendukung kekuatan
militer kemaritiman. Dengan demikian Indonesia dapat menjadi negara yang maju, kuat
dan disegani oleh negara-negara lain di Dunia.

15

DAFTAR PUSTAKA

Aidi, L. 2009. Pengenalan Dasar Navigasi Darat. ASTACALA. Jakarta.


Howell, F.S. 1986. Navigation Primer for Fishermen 2nd Edition. Fishing News Books Ltd.
New York.
Ikawati, Y. dan Dwi R.S. 2009. Survei dan Pemetaan Nusantara. BAKOSURTANAL.
Jakarta.
Pribadi, B.A. dan Yuni K. 2004. Media Teknologi. Universitas Terbuka. Jakarta.
Sahari, B. 2008. Teknologi di Nusantara. Salemba Teknika. Jakarta.
Subagio. 2003. Pengetahuan Peta. ITB Press. Bandung.
William, C. 2008. Navigasi dan Penerapannya. Karisma. Tanggerang.

16

Anda mungkin juga menyukai