Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

UNIVERSITAS ANDALAS
KECELAKAAN LALU LINTAS
Oleh :
KELOMPOK 7
Sofia Ananda Putri

1411211007

Nadya Ulva Rizal

1411211010

Shintia Perdana

1411211018

Silvia Ayunanda Maristi

1411211021

Dhita Trisetya Ananda

1411211033

Randita Larasati

1411211035

M. Hidayat Nasution

1411211042

Melani Puspita efendri

1411211051

Irma Syafitri

1411211054

Widya Novi Susanti

1411211067

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2016
i

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Berkat


Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang
berjudul Kecelakaan Lalu Lintas, yang merupakan salah satu syarat untuk
memenuhi salah satu mata kuliah di Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas Padang yaitu Epidemiologi Penyakit
Tidak Menular.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada
dosen dalam mata kuliah Epidemiologi Penyakit Tidak Menular dan kepada
semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang.
Akhirnya, penulis berharap makalah ini dapat memberi manfaat dan
menambah pengetahuan bagi semua pihak.
Padang, 25 April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB 1 : PENDAHULUAN.....................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................1
1.3 Tujuan.............................................................................................................1
BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA............................................................................3
2.1 Definisi Kecelakaan Lalu Lintas....................................................................3
2.2 Epidemiologi Kecelakaan Lalu Lintas...........................................................4
2.3 Klasifikasi Kecelakaan lalu Lintas.................................................................6
2.4 Faktor Risiko Kecelakaan Lalu lintas............................................................7
2.5 Dampak Kecelakaan Lalu Lintas...................................................................9
2.6 Upaya Pencegahan Kecelakaan Lalu Lintas..................................................9
BAB 3 : KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................15
3.1 Kesimpulan..................................................................................................15
Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan
tidak disengaja yang melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan
lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda........15
3.2 Saran.............................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................16

ii

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit tidak menular (PTM) dan pengendalian faktor risikonya
berhubungan erat dengan determinan kualitas hidup, yaitu tingkat pendidikan dan
sosial ekonomi. Memasuki abad ke-21 pola penyakit di Indonesia menunjukkan
perubahan pada transisi epidemiologi, yaitu dari pola penyakit dan kematian yang
semula didominasi oleh penyakit infeksi bergeser ke penyebab kematian karena
penyakit non infeksi (Non Communicable Disease). (Yusherman, 2008)
Jumlah orang yang berpergian secara internasional meningkat setiap
tahunnya. Berdasarkan data statistik dari World Tourism Organization, turis
pendatang internasional pada tahun 2006 melampaui 840 juta orang. Pada tahun
2006, mayoritas turis internasional (sekitar 410 juta orang) mempunyai tujuan
untuk berwisata, rekreasi dan liburan (51%). Sedangkan untuk keperluan bisnis
ialah 13% (131 juta orang) dan 27% (225 juta orang) berpergian dengan tujuan
lain seperti mengunjungi keluarga, urusan ibadah, dan urusan kesehatan. Sisanya
sebanyak 8% mempunyai tujuan yang tidak dapat diklasifikasikan. (WHO, 2008)
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apakah definisi dari kecelakaan lalu lintas ?


Apakah epidemiologi dari kecelakaan lalu lintas ?
Apa saja klasifikasi kecelakaan lalu lintas ?
Apa saja faktor risiko dari kecelakan lalu lintas ?
Apakah dampak dari kecelakaan lalu lintas ?
Bagaimana cara mencegah kecelakaan lalu lintas ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Untuk mengetahui definisi dari kecelakaan lalu lintas


Untuk mengetahui epidemiologi dari kecelakaan lalu lintas
Untuk mengetahui klasifikasi kecelakaan lalu lintas
Untuk mengetahui faktor risiko dari kecelakan lalu lintas
Untuk mengetahui dampak dari kecelakaan lalu lintas
Untuk mengetahui cara mencegah kecelakaan lalu lintas

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kecelakaan Lalu Lintas


Kecelakaan tidak terjadi kebetulan, melainkan ada sebabnya. Oleh karena
ada penyebabnya, sebab kecelakaan harus dianalisis dan ditemukan, agar tindakan
korektif kepada penyebab itu dapat dilakukan serta dengan upaya preventif lebih
lanjut kecelakaan dapat dicegah. Kecelakaan merupakan tindakan tidak
direncanakan dan tidak terkendali, ketika aksi dan reaksi objek, bahan, atau
radiasi menyebabkan cedera atau kemungkinan cedera (Heinrich, 1980). Menurut
D.A. Colling (1990) yang dikutip oleh Bhaswata (2009) kecelakaan dapat
diartikan sebagai tiap kejadian yang tidak direncanakan dan terkontrol yang dapat
disebabkan oleh manusia, situasi, faktor lingkungan, ataupun kombinasikombinasi dari hal-hal tersebut yang mengganggu proses kerja dan dapat
menimbulkan cedera ataupun tidak, kesakitan, kematian, kerusakaan property
ataupun kejadian yang tidak diinginkan lainnya.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan, mengungkapkan kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa
di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja yang melibatkan kendaraan dengan
atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau
kerugian harta benda. Kecelakaan lalu lintas adalah kejadian pada lalu lintas jalan
yang sedikitnya melibatkan satu kendaraan yang menyebabkan cedera atau
kerusakan atau kerugian pada pemiliknya (korban) (WHO, 1984). Menurut F.D.
Hobbs (1995) yang dikutip Kartika (2009) mengungkapkan kecelakaan lalu lintas
merupakan kejadian yang sulit diprediksi kapan dan dimana terjadinya.
Kecelakaan tidak hanya trauma, cedera, ataupun kecacatan tetapi juga kematian.
Kasus kecelakaan sulit diminimalisasi dan cenderung meningkat seiring
pertambahan panjang jalan dan banyaknya pergerakan dari kendaraan.
Dari beberapa definisi kecelakaan lalu lintas dapat disimpulkan bahwa
kecelakaan lalu lintas merupakan suatu peristiwa pada lalu lintas jalan yang tidak
diduga dan tidak diinginkan yang sulit diprediksi kapan dan dimana terjadinya,
sedikitnya melibatkan satu kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang

menyebabkan cedera, trauma, kecacatan, kematian dan/atau kerugian harta benda


pada pemiliknya (korban).
2.2 Epidemiologi Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat yang mempengaruhi semua sektor kehidupan. Pada tahun 2002
diperkirakan sebanyak 1,18 juta orang meninggal karena kecelakaan. Angka
kecelakaan ini merupakan 2,1% dari kematian global, dan merupakan indikator
penting dalam status kesehatan. (Yusherman, 2008)
Pada tahun 1990, kecelakaan lalu lintas menduduki peringkat 9 (WHA)
penyebab utama faktor resiko, penyakit dan kematian dan meliputi 2,6% dari
kehilangan kualitas hidup secara global. Selain itu pada tahun 2020 diperkirakan
angka kecelakaan lalu lintas menduduki urutan ke-3 di atas masalah kesehatan
lain seperti malaria, TB paru, dan HIV/AIDS berdasarkan proyeksi penyakit
secara global. (Yusherman, 2008)
Pada tahun 2002, 90% dari kematian global karena kecelakaan lalu lintas
terjadi di negara-negara dengan penghasilan rendah sampai sedang. Cedera karena
kecelakaan lalu lintas secara tidak seimbang menimpa golongan miskin di negaranegara tersebut, dengan sebagian besar korban ialah pemakai jalan yang rentan
seperti pejalan kaki, pengendara sepeda, anak-anak, dan penumpang. (Yusherman,
2008)
Masalah dan beban karena kecelakaan lalu lintas bervariasi menurut
wilayah secara geografi. Lebih dari separuh kematian karena kecelakaan lalu
lintas jalan terjadi di Asia Tenggara dan wilayah Pasifik Barat dan angka tertinggi
kecelakaan terjadi di wilayah Afrika. (Yusherman, 2008) Risiko kecelakaan lalu
lintas bervariasi menurut tingkat ekonomi negara. Di negara-negara dengan
tingkat ekonomi tinggi, mayoritas korban kecelakaan lalu lintas adalah pengemudi
dan penumpang, sedangkan di negara dengan tingkat ekonomi rendah sampai
sedang, sebagaian besar kematian terjadi pada pejalan kaki, pengendara sepeda
motor, dan pemakai kendaraan umum. Di Indonesia, sebagian besar (70%) korban
kecelakaan lalu lintas adalah pengendara sepeda motor dengan golongan umur 1555 tahun dan berpenghasilan rendah, dan cedera kepala merupakan urutan pertama

dari semua jenis cedera yang dialami korban kecelakaan. Proporsi disabilitas
(ketidakmampuan) dan angka kematian karena kecelakaan masih cukup tinggi
yaitu sebesar 25% dan upaya untuk mengendalikannya dapat dilakukan melalui
tatalaksana penanganan korban kecelakaan di tempat kejadian kecelakaan maupun
setelah sampai di sarana pelayanan kesehatan. (Yusherman, 2008)
Dampak ekonomi karena kecelakaan lalu lintas meliputi biaya perawatan
kesehatan yang lama, kehilangan pencari nafkah, kehilangan pendapatan karena
kecacatan yang secara bersama menyebabkan keluarga korban menjadi miskin
dan hal ini biasanya terjadi di negara-negara yang tingkat ekonominya rendah
sampai sedang. Secara ekonomi kerugian karena kecelakaan lalu lintas tersebut
sekitar 1-2,5% dari pendapatan domestik bruto. Sedangkan di Indonesia, kerugian
ekonomi karena kecelakaan pada tahun 2002 diperkirakan sebesar 2,91%.
(Yusherman, 2008)
Data Kepolisian RI tahun 2009 menyebutkan, sepanjang tahun itu terjadi
sedikitnya 57.726 kasus kecelakaan di jalan raya. Artinya, dalam setiap 9,1 menit
sekali terjadi satu kasus kecelakaan.(Departemen Perhubungan, 2010)
Jika dihitung dari pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia tahun itu,
kerugian ekonominya mencapai lebih dari Rp 81 triliun. Jumlah tersebut meliputi
perhitungan potensi kehilangan pendapatan para korban kecelakaan, perbaikan
fasilitas infrastruktur yang rusak akibat kecelakaan, rusaknya sarana transportasi
yang terlibat kecelakaan, serta unsur lainnya. (Departemen Perhubungan, 2010)
Badan kesehatan dunia WHO mencatat, hingga saat ini lebih dari 1,2 juta
nyawa hilang di jalan raya dalam setahun, dan sebanyak 50 juta orang lainnya
menderita luka berat. Dari seluruh kasus kecelakaan yang ada, 90% di antaranya
terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kerugian materiil yang
ditimbulkan mencapai sekitar 3 % dari PDB tiap-tiap negara. (Departemen
Perhubungan, 2010)
Kondisi inilah yang memicu PBB untuk mengeluarkan resolusi dengan
membentuk Global Road Safety Partnership (GRSP) di bawah pengawasan WHO
pada tahun 2006, dengan tujuan utama menekan angka kecelakaan dan tingkat
fatalitas yang ditimbulkan terhadap korban-korbannya. PBB meminta negaranegara anggotanya untuk membuat kebijakan-kebijakan strategis baik jangka

pendek maupun jangka panjang untuk meminimalisasi jumlah maupun akibat


yang ditimbulkan dari kecelakaan jalan raya. (Departemen Perhubungan, 2010)
Kemudian di Indonesia diterjemahkan dengan membentuk suatu kelompok
partnership yang namanya juga Global Road Safety Partnership (GRSP)
Indonesia atau dengan falsafahnya yang dikenal sebagai Gotong Royong
Selamatkan Pengguna Jalan. (Departemen Perhubungan, 2010), (Departemen
Komunikasi dan Informatika, 2008)
Sebagai gambaran, angka korban tewas akibat peristiwa kecelakaan lalulintas di Jawa Barat setahun terakhir ini mencapai 15.965 orang, luka berat
sebanyak 43.458 orang, dan yang mengalami luka ringan tercatat sebanyak 24.355
orang.(Nanang Sutisna, 2010)
Kecelakaan lalu lintas dapat terjadi kapan saja. Namun terdapat saat-saat
dimana jumlah dapat meningkat seperti pada saat menjelang Idul fitri dimana
terjadi arus mudik besar-besaran. Seperti yang disebutkan Posko Mudik Lebaran
Departemen Perhubungan pada seluruh akses jalan tol di Pulau Jawa Tahun 2009,
mencatat jumlah kecelakaan yang meningkat 54% dari rentang waktu yang sama
pada tahun lalu.(Kompas, 2009)
Sekitar 70% kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di jalan raya di Indonesia
disebabkan oleh para pengendara sepeda motor, kata pakar transportasi, Djoko
Setyowarno.(Antara News, 2008)
2.3 Klasifikasi Kecelakaan lalu Lintas
Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas
dan Angkutan Jalan pada pasal 229, karakteristik kecelakaan lalu lintas
dapat dibagi kedalam 3 (tiga) golongan, yaitu:
1) Kecelakaan Lalu Lintas ringan, yaitu kecelakaan yang mengakibatkan
kerusakan kendaraan dan/atau barang.
2) Kecelakaan Lalu Lintas sedang, yaitu kecelakaan yang mengakibatkan
luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang.
3) Kecelakaan Lalu Lintas berat, yaitu kecelakaan yang mengakibatkan
korban meninggal dunia atau luka berat.

2.4 Faktor Risiko Kecelakaan Lalu lintas


Dari seluruh kecelakaan yang terjadi di jalan raya, faktor kelalaian manusia
(human error) memiliki kontribusi paling tinggi. Yaitu mencapai antara 80-90%
dibandingkan faktor ketidaklaikan sarana kendaraan yang berkisar antara 5-10%,
maupun akibat kerusakan infrastruktur jalan (10-20 persen).(Departemen
Perhubungan, 2010)
Ada beberapa faktor utama penyebab terjadinya kecelakaan yaitu manusia,
kendaraan, jalanan dan lingkungan (lingkungan fisik dan ekonomi).
1.

Faktor manusia: pejalanan kaki, penumpang sampai pengemudi.


Faktor manusia ini menyangkut disiplin berlalu lintas.
a. Faktor pengemudi: dianggap sebagai salah satu faktor utama yang menentukan
KLL. Faktor pengemudi ditemukan memberikan kontribusi 75-80% terhadap
KLL. Faktor manusia yang berada di belakang kemudi ini memegang peranan

penting. Karakteristik pengemudi berkaitan dengan:


Keterampilan mengemudi
Gangguan kesehatan (mabuk, ngantuk, letih)
SIM: tidak semua pengemudi tidak memiliki SIM. Jika ada pemeriksaan
tilang, maka tidak jarang alasan tilang berhubungan dengan ketidaklengkapan
administrasi, termasuk izin mengemudi.
Secara khusus faktor-faktor pengemudi yang perna diteliti (al. Oleh Boediharto
dkk) adalah:
1) Perilaku pengemudi: ngebut, tidak disiplin/melanggar rambu
2) Kecakapan mengemudi: pengemudi baru/ pengemudi
3)
4)
5)
6)

belum

berpengalaman melalui jalanan


Mengantuk pada waktu mengemudi
Mabuk pada waktu mengemudi
Umur pada waktu mengemudi
Umur pengemudi 20 tahun atau kurang dan 55 tahum atau lebih

Besar resiko KLL Bermotor (Hanlon, 309):


Pemakain alkohol: 4,80%
Bermotot kencang: 4,40%
Tidak menggunakan sabuk pengaman: 0,60%
KLL dapat mengakibatkan berbagai cedera sampai kematian seperti: cedera
kepala, fraktura, pecah limpa. Cedera kepala merupakan bentuk cedera yang

paling sering dan berbaha dan menjadi penyebab utama kematian. Keadaan ini
umumnya terjadi pada pengemudi motor.
b. Faktor penumpang: misalnya jumlah muatan (baik penumpangnya maupun
barangnya) yang berlebihan. Secara psikologis ada juga kemungkinan penumpang
mengganggu pengemudi.
c. Faktor pemakai jalanan: pemakai jalan di Indonesia bukan saja terjadi dari
kendaraan. Di sana ada pejalan kaki atau pengendara sepeda. Selain itu jalan raja
dapat menjadi tempat numpang pedagang kaki lima, peminta-minta dan
semacamnya. Hal ini membuat semakin sempitnya keadaan dijalan. Jalan umu
juga dipakai juga sebagai sarana perparkiran.
2. Faktor kendaraan
Jenis-jenis kendaraan: jalan raya penuh dengan berbagai jenis kendaraan, berupa:
a) Kendaraan tidak bermotor: sepeda, becak, gerobak, delman
b) Kendaraan bermotor: sepeda motor, roda tiga/bemo, mobil, bus, truk.
Di antara jenis kendaraan, KLL paling sering kendaraan sepeda motor. Dan juga
jika kondisi motor tidaklah dalam keadaaan yang baik maka dapat memperbesar
resiko terjadinya suatu kecelakaan.
3. Faktor jalanan: keadaan fisik jalanan, rambu-rambu jalanan.
a) Kelayakan jalan: antara lain dilihat dari ketersediaan rambu-rambu lalu
lintas.
b) Sarana jalanan:
- Panjang jalan yang tersedia dengan jumlah kendaraan yang sangat banyak. Di
kota-kota besar tampak kemacetan terjadi dimana-mana, memancing terjadinya
kecelakaan. Dan sebaliknya jalan raya yang mulus memancing pengemudi untuk
berugal-ugalan di jalan sehingga dapat memancing terjadinya kecelakaan.
- Keadaan fisik jalanan: pengerjaan jalan yang fisiknya kurang memadai, misalnya
berlubang-lubang dapat memicu terjadinya kecelakaan.
Keadaan jalan yang berkaitan dengan kemungkunan KLL berupa:
- Struktur: datar/mendaki/menurun; lurus/berkelok-kelok
- Kondisi: baik/berlobang-lobang
- Luas: lorong, jalan tol
- Status: jalan desa, jalan provinsi/Negara
4. Faktor lingkungan: cuaca dan geografik, dapat diduga dengan adanya adanya kabut,
hujan, jalan licin akan membawa resiko KLL.

2.5 Dampak Kecelakaan Lalu Lintas


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1993 tentang
Prasarana Jalan Raya dan Lalu Lintas, dampak kecelakaan lalu lintas dapat
diklasifikasi berdasarkan kondisi korban menjadi tiga, yaitu:
a. Meninggal dunia adalah korban kecelakaan yang dipastikan meninggal
dunia sebagai akibat kecelakaan lalu lintas dalam jangka waktu paling
lama 30 hari setelah kecelakaan tersebut.
b. Luka berat adalah korban kecelakaan yang karena luka-lukanya
menderita cacat tetap atau harus dirawat inap di rumah sakit dalam
jangka waktu lebih dari 30 hari sejak terjadi kecelakaan. Suatu kejadian
digolongkan sebagai cacat tetap jika sesuatu anggota badan hilang atau
tidak dapat digunakan sama sekali dan tidak dapat sembuh atau pulih
untuk selama-lamanya.
c. Luka ringan adalah korban kecelakaan yang mengalami luka-luka yang
tidak memerlukan rawat inap atau harus dirawat inap di rumah sakit
dari 30 hari.
2.6 Upaya Pencegahan Kecelakaan Lalu Lintas
Untuk mengurangi risiko terjadi kecelakaan, tidak mungkin dilakukan
dengan cara mengurangi keinginan untuk melakukan perjalanan. Sesuatu yang
mungkin adalah mengurangi lama dan intensitas kemungkinan para pengguna
jalan raya terkena risiko kecelakaan.
Tiga aspek yang harus diketahui oleh pengendara kendaraan bermotor;
a.

bahaya apa saja yang mengacam tiap saat dari segala arah di jalan raya,

yang bisa membahayakan pengendara/pengemudi.


b.

cara mengoperasikan kendaraan dengan baik dan benar, dan fungsi

operasional peralatan kendali kendaraan.


c.

membaca dan menginterpretasikan secara cepat dan tepat situasi kondisi

dan peristiwa di jalan raya.


Jadi untuk menghindari kecelakaan lalu lintas, sebaiknya:
a. Jangan paksakan mengemudikan kendaraan bila secara fisik dan atau psikis
tidak nyaman.

b.

Jangan paksakan mengemudikan kendaraan bila kendaraan kurang beres.

c. Hindari jalan yang rawan kecelakaan atau mengundang bahaya, kecuali anda
sesangat mahir dalam prediksi dan penanganan resiko alias manajemen
resiko.
d. Jangan mengendarai kendaraan dalam cuaca yang tidak mendukung.
Pengemudi kendaraan bermotor pada waktu mengemudi kendaraan bermotor
dijalan, wajib:
a. Mampu mengemudikan kendaraannya dengan wajar secara normal, tidak
sembrono atau ugal-ugalan.
b. Mengutamakan keselamatan pejalan kaki, penunggang sepeda, dan
pengendara kendaraan lainnya.
c. Memiliki SIM dan STNK, sebagai tanda bukti lulus uji atau tanda bukti
lain yang sah dalam hal ini dilakukan pemeriksaan.
d. Mematuhi peraturan lalu lintas dan ketentuan tentang rambu-rambu lalu
lintas, mempergunakan helm bagi pengemudi dan penumpang kendaraan
bermotor roda 2 (dua) atau kendaraan roda empat atau lebih yang tidak
dilengkapi dengan rumah-rumah.
e. Mengenakan sabuk keselamatan (safety belt) bagi pengemudi dan
penumpang kendaraan roda 4 (empat) atau lebih.
Kemampuan Fisik, Stamina Pengendara
Ada beberapa hal penting yang didapat dari kursus mengemudi secara
aman. Misalnya, agar tetap berada dalam kondisi fit atau siap-siaga, seorang
pengendara harus beristirahat setelah melajukan kendaraannya dengan kelajuan
diatas 80 km/jam selama dua jam tanpa jeda. Jika ia tidak mau beristirahat dan
terus melajukan kendaraannya diatas 80 km/jam, maka bisa dipastikan kondisi
fisiknya akan menurun. Jika keadaannya baik-baik saja, maka pengendara itu bisa
selamat sampai ke tujuan. Namun, jika tiba-tiba terjadi keadaan darurat, dapat
dipastikan bahwa ia tidak bisa bereaksi secara benar karena staminanya sudah
menurun.
Jarak Aman Antar Kendaraan Bermotor
Karena sulitnya menemukan jarak aman ideal saat berkendaraan didalam
kota, jika memang kendaraan yang kita kendarai kelajuannya diatas batas jarak

aman, misalnya kelajuan 80 km/jam dan jarak dengan kendaraan di depan kurang
dari 5 m, atau kendaraan kita lebih laju dari yang berada di depan, maka
sebaiknya kita memberikan isyarat berupa lampu atau klakson kepada pengendara
di depan kalau kita ingin mendahuluinya.
Helm dan Kecelakaan lalu lintas
Helm (helmet) adalah salah satu alat proteksi cidera kepala yang
kemungkinan besar terjadi pada pengemudi kendaraan bermotor. Jumlah sepeda
motor adalah mendominasi 75%, jumlah kendaraan di jalanan. Dan karena itu,
pengendara motor menjadi korban terbanyak kecelakaan dijalanan. Misalnya 55%
(1986) kecelakaan di Bali melibatkan pengendara motor. Dan dari mereka yang
cidera, 80% merupakan trauma kepala. Dan dari mereka yang trauma kepala, 90%
meninggal dunia. Peraturan wajib helm ini ditetapkan dalam peraturan SK
Menteri Perhubungan No.188/Aj. 403/PHB/86. Helm dianggap dapat memberikan
proteksi sebesar 29% terhadap cidera kepala. Pemakaian helm dapat menurunkan
cidera kepala dan kematian.
Kecelakaan lalu lintas adalah sesuatu yang sangat sering terjadi di sekitar kita.
Kecelakaan tidak hanya dapat terjadi akibat kelalaian kita saja, namun bisa juga
karena kelalaian orang lain yang sama-sama menggunakan jalanan umum yang
sama dengan kita.

Itulah sebabnya mengapa kita harus berusaha mencegah

terjadinya kecelakaan yang mungkin disebabkan oleh kelalaian diri kita serta
mengajak orang lain untuk turut serta menciptakan kondisi berlalu lintas yang
aman demi kebaikan bersama.
Beberapa Upaya / Cara Untuk Mengurangi Resiko Kecelakaan Lalu Lintas Mobil
& Sepeda Motor :
1. Berdoa sebelum melakukan bepergian ke mana-mana
2. Melakukan

pengecekan

kendaraan

sebelum

digunakan

3. Melakukan service rutin secara berkala di bengkel terpercaya


4. Tidak menggunakan suku cadang yang tidak jelas kualitasnya
5. Tidak mengendarai kendaraan pada saat mengantuk atau kurang kesadaran
6. Membawa kendaraan tidak dengan kecepatan tinggi
7. Selalu mentaati segala rambu lalu lintas yang berlaku selama perjalanan

10

8. Menjadi orang yang sabar tingkat tinggi selama di perjalanan


9. Tidak mengambil resiko apa pun saat berkendara
10. Menahan diri untuk menggunakan handphone dan alat komunikasi lainnya
11. Tidak melakukan aktivitas lain selain mengemudi dengan baik dan benar
12. Mengalah kepada orang yang ugal-ugalan di jalan umum
13. Menunda kepergian ketika sedang dalam kondisi yang tidak mendukung
14. Tidak mengatakan kata-kata kasar dan kotor pada pengguna jalan lain
15. Berhati-hati dan waspada ketika melewati jalan yang jarang dilewati
16. Mengutamakan sepeda motor ketika bermobil di jalan padat merayap
17. Selalu memakai sabuk pengaman dan helm sebelum menjalankan
kendaraan
18. Menambah fasilitas keamanan pada kendaraan yang digunakan
19. Memasang segitiga merah saat kendaraan berhenti di pinggir jalan
20. Segera menepi ketika kendaraan mengalami masalah teknis
Tanpa terciptanya suasana tertib berlalu lintas yang baik antar sesama
pengguna jalan, mustahil untuk mengurangi angka terjadinya kecelakaan lalu
lintas di jalan raya secara signifikan.

Langkah-langkah kegiatan untuk

mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas adalah : (Yusherman, 2008)


A.

Faktor Manusia
Teori perubahan perilaku menyatakan bahwa perubahan dapat terjadi apabila
terjadi motivasi untuk berubah. Salah satu cara untuk menimbulkan motivasi pada
seseorang ialah dengan melibatkannya ke dalam suatu aktivitas. Aktivitas
demikian disebut sebagai keadaan anteseden. Keadaan ini dapat memberi
stimulasi, sehingga terjadi partisipasi. Partisipasi selanjutnya menimbulkan
interaksi antar anggota masyarakat sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan pada
dirinya sehingga timbul kesadaran tentang keadaan dirinya tersebut, atau terjadi
realisasi.
Kesadaran atau realisasi inilah yang kemudian menimbulkan keinginan
ataupun dorongan untuk berubah, yakni merubah keadaannya yang jelek menjadi
baik; keadaan inilah yang menunjukkan motif pada diri seseorang telah terbentuk.
Atas dasar perubahan inilah akan terjadi perubahan perilaku. Dengan demikian

11

usaha kesehatan lingkungan pun perlu didukung oleh usaha pendidikan kesehatan.
(Bank Dunia, 1989;Juli Soemirat Slamet, 2006; WHO, 1985)
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi faktor resiko
kecelakaan lalu lintas dari faktor manusia, yaitu :
1) Melakukan advokasi baik perorangan maupun kelompok
2) Melakukan pelatihan baik terhadap lintas program dan lintas sektor
maupun terhadap masyarakat
3) Studi banding
4) Melakukan kegiatan reward dan punishment, dengan cara melakukan
identifikasi lokasi rawan kecelakaan dan waktu pelaksanaan, kemudian
melaksanakan operasi patuh lalu lintas. Pemberian sanksi bagi pengendara
yang

melanggar

peraturan

lalu

lintas,

sebaliknya

memberikan

pengahargaan bagi pengendara yang mematuhi peraturan lalu lintas,


secara acak
5) Kegiatan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD)
6) Kegiatan pemeriksaan kesehatan. (Yusherman, 2008)
B.
1)

Faktor Kendaraan
Kegiatan pemeriksaan rutin kondisi kendaraan sebelum pemakaian, seperti

melakukan pemeriksaan ban, rem, lampu, bahan bakar, mesin dan radiator
2)
Pemakaian kendaraan sesuai dengan peruntukannya, seperti melakukan
pembatasan kapasitas angkut dan melakukan kesesuaian angkutan
3)
Kesesuaian antara kendaraan dan pengemudi, seperti melakukan pemeriksaan
kesehatan, melakukan peningkatan sistem pemberian Surat Izin Mengemudi
4)

(SIM), dan melakukan/menerapkan sertifikasi pengemudi angkutan umum


Pemeliharaan kendaraan secara rutin, seperti melakukan pemeliharaan secara

5)

berkala
Uji kelayakan dan keamanan kendaraan, dengan cara melakukan pemeriksaan
kelengkapan fasilitas keselamatan dan kelayakan secara berkala

C.
1)
2)

Faktor risiko lingkungan


Mendesain jalan dan jembatan sesuai dengan peruntukannya
Pemeriksaan dan pemeliharaan jalan dan jembatan yang aman untuk berkendara

12

3)

Pemasangan dan pengaturan penempatan rambu-rambu lalu lintas dan marka

4)

jala sesuai dengan standar keselamatan


Menginformasikan kondisi cuaca dan jalanan yang tiba-tiba berubah secara
ekstrim oleh petugas pemakai jalan, dengan cara menginventariassi karakteristik
alam (cuaca, daerah patahan, suhu, dan lain-lain), melakukan penyesuaian disain
dengan meninggikan faktor keamanan, dan melakukan pemantauan secara berkala

13

BAB 3 : KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga
dan tidak disengaja yang melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan
lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda.
Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat yang mempengaruhi semua sektor kehidupan. Pada tahun 2002
diperkirakan sebanyak 1,18 juta orang meninggal karena kecelakaan. Angka
kecelakaan ini merupakan 2,1% dari kematian global, dan merupakan indikator
penting dalam status kesehatan. (Yusherman, 2008)
3.2 Saran
Semoga melalui makalah ini pembaca dapat memahami dan menyadari arti
penting keselamatan saat mengendarai kendaraan. Oleh karena itu, pengemudi
harus memperhatikan beberapa hal sebelum berkendara agar tidak terjadi
kecelakaan.

14

DAFTAR PUSTAKA
Bustan. M.N. 2000. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34939/4/Chapter%20II.pdf
diakses pada tanggal 12 April 2016
http://milikyusry.blogspot.co.id/2013/10/epidemiologi-kecelakaan-lalu-lintas.html
diakses pada tanggal 12 April 2016
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34773/5/Chapter%20I.pdf diakses
pada tanggal 12 April 2016
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/122547-S%205441-Kecelakaan%20lalu-tinjauan
%20literatur.pdf diakses pada tanggal 12 April 2016
nasional-m@polarhome.com diakses pada tanggal 12 April 2016
detik.com diakses pada tanggal 12 April 2016
http://www.sinarharapan.co.id/feature/otomotif/2005/0331/oto1.jpg diakses pada
tanggal 12 April 2016
http://bankdata.depkes.go.id/Profil/Indo98/Contens/5Image58.gif diakses pada
tanggal 12 April 2016
http://www.suarapembaruan.com/images/12masi diakses pada tanggal 12 April
2016
https://www.academia.edu/11548417/PENCEGAHAN_KECELAKAAN_LALU_
LINTAS diakses pada tanggal 12 April 2016
http://www.organisasi.org/1970/01/cara-mengurangi-resiko-kecelakaan-di-jalanraya-umum.html diakses pada tanggal 12 April 2016

15