Anda di halaman 1dari 8

PAPER

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Biomassa dan Biofuel
Proses Pretreatment Biomassa Berbasis Lignoselulosa Menggunakan Ionic Liquid
Dosen Pengampu : Dr. Megawati, S.T., M.T.

Disusun oleh:
1.
2.
3.
4.

Fitriyatun Nur Jannah


Fera Arinta
Desi Putri Nawangsari
Chandra Kurniawan

( 5213412006 )
( 5213412017 )
( 5213412032 )
( 5213412030 )

FAKULTAS TEKNIK
UNNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

I.

PENDAHULUAN
Ionic liquid adalah suatu cairan yang terdiri dari ion positif dan ion negatif.
Ionic liquid umumnya adalah garam-garam dari kation organik seperti
tetraalkilamonium, tetraalkilfosfonium, N-alkylpyridinium, 1,3-dialkilimidazolium
dan trialkilsulfonium (Sheldon, 2001; Welton, 1999). Sifat-sifat ionic liquid
tergantung pada kation dan anion yang menjadi penyusunnya. Hal ini memberikan
potensi yang luas dalam mendesain ionic liquid untuk keperluan tertentu.
Kelebihan ionic liquid antara lain; tak menguap, stabil terhadap panas hingga 300
C, larut dalam berbagai senyawa organik, inorganik, dan organometalik, sifat-sifat
seperti polaritas, hidrofilik atau lipofilik dapat disesuaikan. Ionic liquid dapat
digunakan sebagai solven dalam proses pretreatment biomassa. Penerapan ionic
liquid membuka cara-cara baru untuk pemanfaatan proses pretreatment yang
efisien bahan lignoselulosa.
Karekateristik dari ionic liquids antara lain meliputi: hampir tidak ada
tekanan uap, volatilitas rendah, non-flammability, non-combustibility, stabilitas
termal tinggi, umumnya berviskositas rendah, range suhu besar dalam wujud
larutan, laju reaksi tinggi serta konduktivitas ionik yang tinggi. Sifat-sifat ionic
liquid tergantung pada kation dan anion yang menjadi penyusunnya. Hal ini
memberikan potensi yang luas dalam mendesain ionic liquid untuk keperluan
tertentu.
Adanya ionic liquid menjadi perintis solvent jenis baru dan teknologi yang
lebih ramah lingkungan. Hal tersebut didasari oleh pemanfaatan ionic liquid
sebagai pengganti solven organik dengan sifat yang dapat direcovery dengan
kemungkinan mencapai 100% dan digunakan kembali setelah digunakan. Sehingga
akan mengurangi limbah dari solven tradisional. Lebih jauh lagi solven ionic liquid

mempunyai tingkat volatilitas yang rendah sehingga dapat menjadi solven yang
aman. Tekanan uap yang rendah mengurangi resiko bahaya, dan jelas menjadi
kelebihan dibandingkan solven volatile pada umumnya.
Ionic liquid juga diklasifikasikan sebagai garam yang memiliki titik leleh
<100 C. Jenis kation menentukan densitas, viskositas, dan sifat lipofilik atau
hidrofilik suatu ionic liquid. Semakin panjang rantai alkil, maka viskositas semakin
tinggi. Sementara itu, jenis anion menentukan sifat asam, basa atau netral dari suatu
ionic liquid. Anion seperti Cl, AlCl4, HSO4, BF4, PF6 menghasilkan ionic liquid
yang bersifat asam. Sedangkan anion seperti asetat memberikan ionic liquid yang
bersifat basa.
Ionic Liquid telah muncul sebagai pengganti solven organik dan dapat
diaplikasikan dalam berbagai area antara lain: dalam sintesis organik, katalis, alat
elektrokimia, dan solven pengekstrasi berbagai senyawa. Hingga kini tengah
dilakukan pengembangan aplikasi ionic liquid sebagai solven dalam proses
pretreatment biomassa berbahan lignoselulosa.
Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintesis,
baik berupa produk maupun hasil samping. Biomassa sebagai sumber energi
memiliki banyak kelebihan yaitu jumlahnya yang melimpah dan dapat diproduksi
terus menerus. Siklus karbonnya juga lebih cepat daripada energi fosil. Bagian dari
biomassa yang dapat dimanfaatkan adalah selulosa dan hemiselulosa. Selulosa dan
hemiselulosa dapat di fermentasi menjadi etanol. Namun seluosa dan hemiselulosa
banyak terdapat dalam lignin yang sangat mengganggu dan menghambat proses
fermentasi. Ini dikarenakan lignin memiliki dinding yang kuat sehingga mikroba
yang bertugas untuk mengubah dua zat tersebut untuk menjadi etanol mengalami
kesulitan.
Untuk itu, perlu menghilangkan lignin yang mengganggu dengan
dilakukannya pretreatment. Pretreatment ini dilakukan agar dinding lignin yang
kuat dapat dipecah sehingga selulosa dan hemiselulosanya dapat keluar untuk
difermentasi. Sehingga etanol sebagai produk fermentasi akan menjadi maksimal.
Kegunaan dari ionic liquid untuk memutuskan ikatan lignin dan hemiselulosa, serta
mengurangi kristalinitas selulosa. Teknologi ionic liquid pada proses biomassa
berfokus pada proses pemecahan biomassa lignoselulosa dengan jenis ionic liquid
yang berbeda. Pemecahan pada ionic liquid mendorong perubahan struktural dalam
biomassa yang diregenasi dengan mengurangi kristalinitas dan kandungan lignin.

Sehingga penemuan tersebut menetapkan ionic liquid sebagai alat dalam


melakukan pretreatment biomassa dan dapat digunakan secara menguntungkan
dengan karakteristik khususnya daripada proses pretreatment konvensional. Ionic
liquid dapat melarutkan selulosa dalam jumlah besar dengan temperatur sedang
(90-30 C dan tekanan ambient) dengan input energi yang rendah, dapat direcovery
hingga mendekati 100% dari ionic liquid awal yang digunakan, serta meninggalkan
residu yang minimum dalam proses anaerobic digestion.
II.

ISI
a. Mekanisme Pretreatment Ionic Liquid
Mekanisme dari pemutusan selulosa dengan Ionic Liquid melibatkan atomatom oksigen dan hidrogen dari gugus hidroksil selulosa, dimana membentuk
interaksi yang kompleks antara pendonor elektron dan penerima elektron dengan
Ionic Liquid. Selama proses interaksi antara gugus hidroksil selulosa dengan Ionic
Liquid, ikatan hidrogen dirusak, yang berakibat terbukanya ikatan-ikatan hidrogen
antar ikatan molekul pada selulosa, dan terputus. Selulosa yang telah dilarutkan
dengan cepat akan diendapkan dengan anti-solven seperti etanol, metanol, aseton
atau air.
Selulosa yang telah direcovery dari anti-solven diketahui memiliki derajat
polimerisasi dan polidispersity yang sama dengan selulosa awal, namun secara
signifikan baik secara makro maupun mikro struktur, menurunkan kristalinitas dan
meningkatkan porositas. Lebih jauh lagi beberapa Ionic Liquid sesuai dengan
proses sakarifikasi enzimatis dalam media equeous Ionic Liquid.

Lignosellulosic Biomassa

Pre-treatment

Precipitation and washing

Centrifugation / Filtering

Drying

Regenerated Biomassa

Ionic liquid

Anti solven

Skema 1.1. Diagram Alir Proses Umum Pretreatment dengan menggunakan Ionic
Liquid
b. Pengembangan Pretratment Ionic Liquid
Ionic Liquid berbasis kation yaitu alkyl-imidazolium and pyridinium
dengan berbagai macam anion telah dikembangkan untuk melarutkan dan
meningkatkan proses sakarifikasi enzimatis dari selulosa dan biomassa.
Penelitian dari potensi 1-buthyl-3-methylpyridinium chloride dalam proses
pretreatment biomassa berbasis lignoselulosa, yaitu baggase dan Eucalyptus,
dengan mengevaluasi besar yield recovery dari biomassa selama proses
pretreament, dengan karakteristik dari struktur biomassa yang dibentuk dan
daya cerna pada proses sakarifikasi enzimatisnya. (Uju et al, 2008). Proses
pretreatment yang telah dilakukan yaitu pada suhu 120C dengan waktu 10
menit. Sebagai perbandingan yang telah digunakan adalah 1-ethyl-3methylimidazolium acetate, karena senyawa Ionic Liquid tersebut merupakan
metode yang efektif untuk melarutkan selulosa.
Hasil yang didapatkan pada waktu pretreatment yang cepat, 1-buthyl-3methylpyridinium chloride menunjukkan bahwa potensi yang lebih besar dalam
meningkatkan kemampuan proses sakarifikasi enzimatis daripada 1-ethyl-3methylimidazolium acetate. Peningkatan kecepatan sakarifikasi enzimatis
tersebut disebabkan karena menurunnya derajat polimerisasi selulosa, karena
pretreatment oleh 1-buthyl-3-methylpyridinium chloride. Sehingga Ionic Liquid
dengan jenis pyridium berpotensi untuk meningkatkan efisiensi pretreatment
dari lignoselulosa biomassa.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Weerachanchai dkk (2012)
memberikan

pengaruh

dari

faktor

Ionic

Liquid

jenis

(1-Ethyl-3

methylimidazolium acetate, 1-Ethyl-3-methylimidazolium diethyl phosphate dan


1,3-dimethylimidazolium methyl sulfate) pada pretreatment biomassa. Dengan 2
jenis biomassa yang digunakan, yaitu sisa ampas sigkong dan jerami padi.
Diketahui bahwa, proses pretreatment dengan menggunakan ionic liquid dapat
meningkatkan sifat biomassa untuk proses biokonversi selanjutnya. Dari tipetipe Ionic Liquid yang digunakan, 1-Ethyl-3 methylimidazolium acetate paling

berpotensi untuk mengkonversi gula dan mengekstraksi lignin, dengan kondisi


operasi maksimal 120C selama 24 jam, dengan ukuran partikel <34 m.
Sementara

1-Ethyl-3-methylimidazolium

diethyl

phosphate

memberikan

konversi gula yang relatif tinggi pada limbah ampas singkong dan cukup baik
mengekstraksi lignin.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Uju dkk (2013) telah melakukan
perbandingan

metode

pretreatment

pada

kayu

lunak

berjenis

pinus

menggunakan peracetic acid (PAA) dengan ionic liquid serta campuran antara
keduanya. Didapatkan hasil Yield of Regenerated Biomass (YRB) antara 4090% tergantung dari proses pretreatment yanng digunakan. Untuk proses
pretreatment tunggal, pretreatment Ionic Liquid menghasilkan YRB lebih tinggi
dibandingkan pretreatment PAA (87% vs 63% ). Jika pretreatment
dikombinasikan, YRB yang dihasilkan serupa atau lebih rendah daripada
pretreatment ionic liquid tunggal. Dalam melakukan pretreatment dengan ionic
liquid, diperlukan perlakuan suhu dan waktu pretreatment yang tepat serta
berganting pada jenis dan mereka juga mengemukakan bahwa untuk
melarutkan biomassa dari jenis kayu lunak seluruhnya membutuhkan waktu
pretreatment yang lebih lama atau dengan suhu yang lebih tinggi dari jenis
biomassa lain.
c. Recycling Ionic Liquid
Proses pretreatment biomassa menggunakan ionic liquid yang telah di
recycle merupakan ionic liquid yang kurang ekonomis, karena ionic liquid lebih
mahal dibandingkan dengan agen pretreatment konvensional, seperti amonia
dan asam sulfat. Namun demikian, proses recovery ionic liquid masih dalam
tahap eksplorasi untuk mendapatkan hasil operasi dengan efisiensi tinggi.
Setelah selulosa teregenerasi dari larutan ionic liquid, anti-solven dapat
dievaporasi dan ionic liquid dapat kembali digunakan. Secara umum, setelah
proses regenerasi, larutan yang mengandung anti-solven dengan ionic liquid
terlarut dan senyawa biomassa yang larut (lignin, karbohidrat terlarut dengan
dengan berat molekul rendah, produk yang terdegradasi, dll) yang tidak
terendapkan dalam tahap regenerasi. Tergantung pada proses recovery ionic
liquid, senyawa tersebut dapat direcovery jika diaplikasikan tahap fraksinasi
lebih lanjut. Oleh karena itu proses recovery ionic liquid sangat bergantung
pada anti-solven yang digunakan, sebagaimana kondisi pretreatment yang

digunakan. Diketahui bahwa ionic liquid dapat digunakan kembali hingga 4-5
kali tanpa berpengaruh pada yield gula yang dihasilkan. Hasil recyccle ionic
liquid yang telah bebas dari kandungan regenerasi selulosa dihasilkan dari
proses akumulasi lignin yang terlarut.
Umumnya, cara paling mudah untuk merecovery ionic liquid adalah
dengan mengevaporasi antisolven setelah proses regenerasi, meskipun hasilnya
akan mengandung beberapa impuritas. Alternatif lain adalah dengan
kemampuan dari ionic liquid untuk membentuk sistem cai-cair dua fase dengan
penambahan larutan aqueous seperti fosfat, karbonat, dan sulfat. Inovatif lain,
telah diperkenalkan pemisahan fasa dalam proses regenerasi dengan
menambahkan campuran antisolven yang dibentuk oleh etanol dan aseton yang
akan membentuk larutan kuarterner yang mengandung ionic liquid -air-keton
alkohol.
III.

KESIMPULAN
Ionic liquid dapat digunakan sebagai solven dalam proses pretreatment biomassa.
Meskipun pada kenyataanya proses tersebut membutuhkan biaya operasi yang
sangat besar, karena harga ionic liquidnya mahal. Oleh karena itu dibutuhkan ionic
liquid dalam penggunaaan ionic liquid yang lebih efisien sehingga dapat
miminimalkan biaya. Namun demikian pretreatment dengan menggunakan ionic
liquid lebih efektif dan fraksinasi biomassa menghasilkan konversi yang lebih
murni dan yield yang dihasilkan tinggi. Penerapan ionic liquid membuka cara-cara
baru untuk pemanfaatan proses pretreatment yang efisien bahan lignoselulosa.
Ionic liquid berbasis kation alkyl-imidazolium and pyridinium dengan berbagai
macam anion telah dikembangkan untuk melarutkan dan meningkatkan proses
sakarifikasi enzimatis dari selulosa dan biomassa. Ionic liquid telah secara
signifikan dan terbukti efektif dalam memutuskan ikatan lignin dan hemiselulosa,
serta mengurangi kristalinitas selulosa. Ionic liquid memiliki sifat yang dapat
direcovery dengan kemungkinan mencapai 100% dan digunakan kembali. Metode
menggunakan ionic liquid membutuhkan peralatan dan energi biaya yang rendah.
Dengan demikian meskipun memiliki kekurangan secara ekonomi, sifat reuse Ionic
liquid serta dari segi proses/performa secara keseluruhan penggunaan Ionic liquid
merupakan suatu keuntungan.

DAFTAR PUSTAKA
Uju, Abe K, Uemura N, Oshima T, Goto M, Kamiya N. (2013). Peracetic AcidIonic
Liquid Pretreatment to Enhance Enzymatic Saccharification of Lignocellulosic
Biomass. Bioresource Technology 138 : 8794.
Weerachancai P, Leong SSJ, Chang MW, Ching CB, Lee JM. (2012). Improvement of
Biomass Properties by Pretreatment with Ionic Liquids for Bioconversion Process.
Bioresource Technology 111: 453459.
Melwita, Elda. 2011. Ionic Liquid Sebagai Katalisator Potensial Untuk Meningkatkan
Produksi Biofuel. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.
Palembang.
Dewi Ayu Novita, Tjioe Untung Lestianto. Teknologi Ionic Liquid dalam Proses
Pretreatment Biomassa Berbasis Lignoselulosa. Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro.