Anda di halaman 1dari 13

arah Perekonomian Indonesia

POSTED ON JUNE 7, 2012 BY HASMITAOKTIANI

0
A. SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA
Perekonomian Indonesia di Zaman Raja-Raja
Ciri yang menunjukan kejayaan perekonomian Indonesia adalah munculnya
imperium kerajaan. Letak Indonesia yang strategis juga menjadi faktor
utama terlaksananya perekonomian Indonesia. Letak Indonesia yang
dihimpit oleh dua benua, Asia dan Eropa, dan dua samudra, Pasifik dan
Hindia menjadi keberuntungan karena posisi tersebut menjadi tempat
pelayaran niaga antarbenua. Perdagangan dari peradaban-peradaban besar
seperti Cina, Romawi, dan Mesir membangkirkan semangat para penduduk
pribumi untuk berdagang. Pada saat itu, mulai diperkenalkannya uang
berupa koin dan emas untuk menunjang perekonomian. Perekonomian
Indonesia semakin melesat setekah ditemukannya komoditi yang memiliki
nilai besar seperti rempah-rempah.
Perekonomian Indonesia di Zaman Kolonial
Sebelum Indonesia merdeka ada 4 negara yang menjajah, diantaranya
yaiutu Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang. Dari negara-negara yang
pernah menjajah Indonesia, Belanda yang sangat banyak menanamkan
sistem perekonomian di Indonesia. Belanda yang saat itu menganut paham
Merkantilis. Belanda melimpahkan wewenang untuk mengatur Hindia
Belanda kepada VOC. Untuk mempermudah aksinya di Hindia Belanda, VOC
diberi hak Octrooi. Walaupun diberi hak itu, bukan berarti VOC mempunyai
hak seutuhnya terhadap perekonomian Hindia Belanda. Untuk menjamin hak
atas monopoli yang telah ditetapkan, VOC telah menguasai kota dagang dan
jalur pelayaran. VOC juga menetapkan peraturan-peraturan seperti
Verplichte leverentie (kewajiban menyerahkan hasil bumi pada VOC) dan
Contigenten (pajak hasil bumi) untuk mendukung monopoli tersebut.
Namun , pada tahun VOC bubar karena dianggap gagal dalam
mengeksplorasi kekayaan Hindia Belanda. Kegagalan itu nampak pada
definisit kas VOC. Karena kegagalan tersebut VOC akhirnya diambil alih oleh
Bataafsche Republiek. Tetapi, Bataafsche tidak dapat bertahan lama karena

dihadapkan oleh kekaucaun dalam keuangannya. Pada akhirnya, Inggris


mengambil alih pemerintahan Hindia-Belanda.
Inggris berusaha merubah pola pajak hasil bumi yang telah 2abad diterapkan
oleh Belanda, dengan menetapkan Landrent(pajak tanah). Dengan sistem
tersebut maka masyarakat pribumi akan memiliki uang untuk membeli
barang produk inggris atau yang diimpor dari India. Inilah imperialisme
modern yang menjadikan tanah jajahan tidak sekedar untuk dieksplorasi
kekayaan alamnya, tapi juga menjadi daerah pemasaran produk dari negara
penjajah.
Pada tahu 1836 atas inisiatif Van Den Bosch sistem tanam paksa
diberlakukan. Tujuannya adalah untuk memproduksi berbagai komoditi yang
ada permintaannya di pasaran dunia. Padahal sistem tersebut sangat
merugikan bagi masyarakat Indonesia karena sangat menguras tenaga dan
keringat mereka. Sistem ini diwajibkan bagi masyarakat menanam tanaman
dan menjual hasilnya ke pemerintah dan dibayar sesuai harga yang
ditetapkan pemerintah itu. Namun, dari sisi negatif tersebut terdapat pula
sisi positifnya yaitu masyarakat Indonesia bisa mengenal tata cara menanam
tanaman.
Pada tahun 1942 sampai dengan 1945 Jepang yang menduduki Indonesia.
Terjadi perombakan secara besar-besaran dalam struktur ekonomi pada
masa pemerintahan Jepang. Pada masa kedudukan Jepang terjadilah
bencana kekurangan pangan dan merosot tajamnya kesejahteraan
masyarakat. Selain itu ekspor dan impor macet, sehingga selain kelangkaan
panjang juga terjadi kelangkaan tekstil. Karena tekstil yang didapat adalah
dari impor negara lain ke indonesia. Padahal awalnya Jepang merupakan
harapan baru buat perekonomian Indonesai, namun nyatanya kemiskinan
dan kebodohan tetap merajalela.
Perekonomian Indonesia di Zaman Sebelum Kemerdekaan
A. MASA PASCA KEMERDEKAAN NDONESIA (1945-1950)
Kondisi perekonomian Indonesia pada masa ini sangatlah buruk, hal
itu disebabkan karena :

1. Inflasi
Inflasi ini dikarenakan adanya mata uang lebih dari satu yang
beredar di masyarakat yang tidak terkendali. Pada saat itu, pemerintah
menyatakan bahwa di Indonesia berlaku 3 mata uang, yaitu mata uang De
Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belada, dan mata uang
pendudukan Jepang. Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan yang
kertas baru, yaitu ORI ( Oeng Republik Indonesia) sebagai pengganti uang
Jepang. padahal berdasarkan teori moneter, banyaknya jumlah uang yang
beredar dapat mempengaruhi kenikan tingkat harga.
2. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945
untuk menutup pintu perdagangan luar negeri RI.
3. Kas Negara kosong
4. Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan
B. MASA DEMOKRASI LIBERAL (1950-1957)
Pada masa ini sistem ekonomi menggunakan prinsip-prinsip liberal.
Perekonomian diserahkan pada pasar sesuai teori-teori mazhab klasik yang
menyatakan laissez faire laissez passer. Padahal pengusaha pribumi masih
lemah dan belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi, terutama
pengusaha Cina. hal itu mengakibatkan memburuknya sistem perekonomian
Indonesia karena pengusaha dari pribumi kalah saing dengan pengusaha
dari nonpribumi. Padahal pada saat itu Indonesia masih baru merdeka.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi. Antara
lain :
a)
Gunting Syariffudin, yaitu pemotongan nilai uang (sanering) 20 Maret
1950.
b)
Program Benteng (kabinet Natsir), yaitu upaya menumbuhkan
wiraswasrawan pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing
dengan perusahaan asing
c)
Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15
Desember 1951 lewat UU no.24 tahun 1951 dengan fungsi sebagai bank
sentral dan bank sirkulasi.

d)
Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yaitu
penggalangan kerjasama antara penusaha cina dan pengusaha pribumi.
e)
Pembatalan sepihak atas hasil-asil KMB, termasuk pembubaran Uni
Indonesia-Belanda.
C.

MASA DEMOKRASI TERPIMPIN (1959-1967)


Pada masa ini Indonesia menjalan sistem demokrasi terpimpin dan
struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme dimana yang
mengendalikan sistem ekonomi adalah peran pemerintah sepenuhnya
secara dominan. Pada sistem ekonomi tersebut pemerintah yang
bertanggung jawab sepenuhnya kepada keadaan ekonomi. Pemerintah juga
mengambil beberapa keputusan namun keputusan tersebut belum mampu
memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia. Keputusan-keputusan yang
diambil pemerintah, antara lain :
1. Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai
uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50,
uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100, dan semua simpanan di
bank yang melebihi 25.000 dibekukan.
2. Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap
ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin.
3. Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang
senilai Rp 1000 menjadi Rp 1.
Keputusan-keputusan yang diambil pemerintah juga belum dapat
memperbaiki keadaan ekonomi di Indonesia. Seperti Devaluasi yang
dilakukan pada 13 Desember 1965, keputusan yang dilakukan pemerintah
untuk menekan angka inflasi malah berujung pada meningkatnya angka
inflasi. Kegagalan-kegagalan dalam tindakan moneter tersebut diperparah
karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya.
Pemilihan sistem demokrasi terpimpin ini bisa diartikan bahwa Indonsia
berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam poltik, ekonomi, maupun bidangbidang lainnya.
D.

MASA ORDE BARU

Masa orde baru merupakan sebutan masa pemerintahan presidan


Soeharto. Pada awal orde baru, stabilitsi ekonomi dan stabilitasi politik
menjadi prioritas utama. Program pemerintah berorientasi pada usaha
pengendalian inflasi, penyelamatan keuangan negara dn pengamanan
kebutuhan pokok rakyat. Pengendalian inflasi mutlak dibutuhkan, karena
pada tahun 1966 tingkat inflasi kurang lebih 650% per tahun. Pemerintah
pada masa orde baru berusaha menurunkan inflasi dan menstabilkan harga.
Pada masa orde baru ini, pemerintah memilih sistem ekonomi
campuran dalam kerangka sistem ekonomi demokrasi pancasila. Sistem
ekonomi campuran merupakan paktek dari salah satu teori Keynes tentang
campur tangan pemerintah dalam perekonomian secara terbatas. Sistem
campuran ini pemerintah dan swasta saling bekerja dan berinteraksi dalam
menyelesaikan masalah. Pemerintah turut serta dalam kegiatan transaksi
ekonomi. Kebijakan-kebijakan pemerintah mulai berkiblat pada teori-teori
keynesian. Kebijakan ekonominya diarahkan pada pembangunan di segala
bidang, tercermin dalam 8 jalur pemerataan : kebutuhan pokok, pendidikan
dan kesehatan, pembagian pendapatan. Kesempatan kerja, kesemptan
berusaha, pertisipasi wanita dan generasi muda, penyebaran pembangunan,
dan peradilan.
Seiring dengan berkembangnya perekonomian Indonesia terjadi juga
praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Selain itu, pembangunan di Indonesia
hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi tanpa diimbangi kehidupan
politik dan sosial yang adil. Selain itu, Indonesia juga mengalami krisis yang
merupakan akibat dari ekonomi global. Harga-harga naik, nilai rupiah
melemah sangat serta timbulnya kekacuan disegala bidang.
E.
ORDE REFORMASI
Pemerintahan presiden B.J. Habibie yang mengawali masa reformasi
belum memberikan perubahan yang cukup baik dalam bidang ekonomi.
Kebjakan-kebijakannya diutamakan untuk mengendalikan stabilitas politik.
Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid belum ada
tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkam negara dari
keterpurukan sedangkan banyak persoalan yang harus dihadapi dari masa
orde baru yaitu masalah KKN, pemulihan ekonomi, kinerja BUMN,
pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah. Dikarenakan

presiden terlibat skandal yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata


masyarakat akhirnya kedudukannya digantikan oleh presiden Megawati.
Masa Kepemimpinan Megawati Soekarno Putri
Masalah-masalah yang mendesak untuk dipecah adalah pemulihan ekonomi
dan penegakkan hokum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk
mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain :
1. Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada
pertemun Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar
negeri sebesar Rp 116.3 triliun.
2. Kebjakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan
Negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perushaaan
Negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi
beban Negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan
ekonomi Indonesia menjadi 4.1%. Namun, kenijakan ini memicu
banyak kontroversi, karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke
perusahaan asing.
Pada masa ini juga didirikannya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Dalam
pelaksanaannya KPK belum dalam memberikan bukti yang konkrit dalam
pemberantasan korupsi. Padahal korupsi sangat menganggu jalannya
pembangunan nasional dan banyak para investor yang ragu untuk
berinvestasi di Indonesia karena permasalahan ini.
Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono Hingga Saat Ini
Pada masa kepemimpinan SBY, beliau telah membuat kebijakan yang
kontroversi yaitu dengan naiknya harga BBM, hal ini dikarenakan naiknya
harga minyak dunia. Kenaikan BBM tersebut dilakukan untuk meningkatkan
pendapatan Negara. Kebiajakan untuk menaikan harga BBM dilakukan untuk
menyelamatkan pendapat nasional Indonesia. Kebijakan tersebut diikut
sertakan dengan keluarnya kebijakan pemerintah dengan memberikan BLT
(Bantuan Langsung Tunai) kepada masyarakat miskin dan masyarakat
berpenghasilan rendah. Namun, BLT tersebut tidak berjalan dengan lancer
karena tidak sampai ke tangan yang berhak dan menimbulkan permasalahan
social.

Dikit demi sedikit presiden juga mulai memberantas korupsi, karena korupsi
itu merugikan Negara dan juga mengambil hak rakyat. Hal tersebut sangat
mendapat respon positif dari masyarakat. Dalam penanganan masalah
korupsi ini presiden tidak memancang bulu siapa pun yang berbuat korupsi
dan apapun jabatannya yang melakukan tindak korupsi akan diadili sesuai
undang-undang yang berlaku.
Perekonomian Indonesia saat ini bisa dibilang menganut sistem
liberalis/kapitalis. Hal ini dapat dilihat karena pemerintah membebaskan
rakyatnya untuk beraktivitas, termasuk dalam kegiatan ekonomi. Namun,
pada akhirnya kaum pemodallah yang memegang kekuasaan penting dalam
kegiatan ekonomi ini, sehingga yang kaya semakin kaya sedangkan yang
miskin menjadi lebih miskin. Sistem perekonomian ini dirasakan belum
mampu membuat masyarakat sejahtera.
Dengan adanya masalah-masalah dalam perekonomian Indonesia
diharapkan pemerintah dapat lebih peka untuk mengatasi masalah ini agar
masyarakat semuany dapat hidup sejahtera. Selain itu, masalah KKN yang
semakin maraknya terjadi yang dapat menghancurkan negara ini bisa dapat
diatasi dengan baik. Seperti halnya mereka yang memakai uang negara,
seharusnya uang tersebut bisa saja digunakan untuk memberikan bantuan
kepada rakyat yang tidak mampu, karena dengan seperti itu pemerataan
kesejahteraan rakyat bisa saja terjadi.
B. Paradigma Perekonomian Indonesia
Pembangunan perekonomian Indonesia sesuai dengan Pancasila, berpijar
pada nilai moral yang ada di dalam pancasila. Secara khusus, sistem
ekonomi harus didasari pada moralitas ketuhanan (sila I Pancasila ) dan
kemanusiaan (sila II Pancasila). Sistem ekonomi yang mendasar pada
moralitas dan humanistis akan menghasilkan sistem ekonomi yang
berperikemanusiaan. Sistem ekonomi yang berparadigma pada pancasila
akan menghasilkan perekonomian yang maju karena menghargai hakikat
manusia, baik selaku makhluk individu, sosial, makhluk pribadi maupun
makhluk Tuhan.

Sistem ekonomi harus dikembangkan menjadi sistem dan pengembanga


ekonomi yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. Pembangunan
ekonomi yang berdasarkan pada pancasila merupakan sistem ekonomi yang
berasaskan kekeluargaan. Pembangunan ekonomi diharapkan mampu
menghindari dari bentuk-bentuk persaingan bebas, monopoli dan bentukbentuk lainnya yang berakibatkan orang lain menderita. Pengembangan
sistem ekonomi tidak dapat lepas dari nilai-nilai moral manusia.
C.
Pembangunan Ekonomi Menurut Rostow
Menurut Rostow pembangunan ekonomi atau proses transformasi suatu
masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern merupakan proses yang
multidimensional. Pembangunan bukan berarti hanya perubahan struktur
ekonomi suatu Negara tetapi juga ditujukan oleh peranan sektor pertanian
dan sektor industri.
Proses pembangunan ekonomi menurut W.W. Rostow dibedakan menjadi 5
yaitu :
1. Masyarakat Tradisional
Sistem ekonomi yang didominasi masyarakat tradisional adalah pertanian.
Produktivitas. kerja manusia lebih rendah bila dibandingkan tahapan
pertumbuhan berikutnya. Masyarakat ini dicirikan struktur hirarkis sehingga
mobilitas sosial dan vertikal rendah. Masyarakat tradisional belum
menguasai ilmu pengetahuna secara mendalam harena mereka pada saai itu
masih mempercayai kekuatan diluar manusia atau makhluk gaib. Masyarakat
tradisional cenderung bersifat statis karena susah untuk menerima hal-hal
yang baru, selain itu produksi yang dihasilkan cenderung dikonsumsi untuk
mereka sendiri. Biasanya orang tua dan anaknya memiliki pekerjaan yang
sama dan sederajat, tidak ada kemajuan.
Ciri-ciri masyarakat tradisional :
1. Fungsi produksi terbatas, cara produksi masih primitif dan tingkat
produktivitas msyarakat rendah
2. Struktur sosial bersifat hirarkis, yaitu kedudukan masyarakat tidak
berbeda dengan nenek moyang mereka.

3. Kegiatan politik dan pemerintahan di daerah-daerah berada di tanga


tuan tanah.
2. Pra-Kondisi Tinggal Landas
Tahapan ini didefinisikan sebagai suatu masa transisi dimana masyarakat
mempersiapkan dirinya untuk mencapai pertumbuhan atas kekuatan sendiri.
Menurut Rostow, pada tahap ini dan sesudahnya pertumbuhan ekonomi akan
terjadi secara otomatis. Selama tahap ini investasi menjadi lebih tinggi dan
hal itu memulai sebuah pembangunan yang dinamis. Sebuah prasyarat
untuk pra-kondisi tinggal landas adalah revolusi industri yangf berlangsung
dalam satu abad terakhir.
Pembangunan ekonomi menurut Rostow adalah suatu proses yang
menyebabkan perubahan karakterisktik pentign suatu masyarakat,
misalknya perubahan keadaan sistem politik, struktur sosial, sistem nilai
dalam masyarakat dan struktur ekonominya. Suatu masyarakat yang sudah
mencapai proses pertumbuhan yang demikian sifatnya, dimana
pertumbuhan ekonomi sudah sering terjadi, boleh dianggap sudah berada
pada tahap pra kondisi tinggal landas.
Kemajuan di sektor pertanian, pertambangan, dan prasarana harus terjadi
bersama-sama dengan proses peningkatan investasi. Pembangunan ekonomi
hanya dimungkinkan oleh adanya kenaikan produktivitas di sektor pertanian
dan perkembangan di sektor pertambangan. Kemajuan di sektor pertanian
mempunyai peranan penting dalam masa peralihan sebelum mencapai
tahap tinggal landas. Peranan sektor pertaian antara lian, kemajuan
pertanian menjamin penyediaan bahan makanan bagi penduduk di pedesaan
maupun diperkotaan. Hal ini menjamin penduduk agar tidak kelaparan dan
menghemat pengeluaran devisa agar tidak mengimpor beras. Kenaikan
produktivitas di sektor pertanian akan memperluas pasar industri barangbarang konsumsi, serta meningkatkan pendapatan agar para pekerja dapat
memiliki tabungan.
3. Tinggal Landas
Tahapan ini dicirikan dengan pertumbuhan ekonomi yang dinamis.
Karakterisktik utama dari pertumbuhan ekonomi ini adalah pertumbuhan
dari dalam yang berkelanjutan yang tidak membutuhkan dorongan dari luar.

Pada tahap ini telah tersingkirkan hambatan-hambatan yang menghalangi


pertumbuhan ekonomi, serta tabungan dan investasi yang efektif meningkat
5% menjadi 10% dari pendapatan nasional. Industri-industri mulai
berkembang dengan sangat pesat keuntungannya sebagai besar ditanamkan
di industri baru.
Pada awal tahap ini terjadi perubahan yang drastis dalam masyarakat seperti
revolusi politik, terciptanya kemajuan yang pesat dalam inovasi, atau berupa
terbukanya pasar baru. Sebagai akibat dari perubahan-perubahan tersebut
secara teratur akan tercipta inovasi-inovasi dan peningkatan investasi.
Investasi yang semakin tinggi akan mempercepat laju pertumbuhan
pendapatan nasional dan melebihi tingkat pertumbuhan peonduduk,
sehinggal tingkat p0endapatan perkapita semakin besar.
Rostow mengemukakan 3 ciri negara yang sudah mencapai tahap tinggal
landas untuk mengetahui apakah negara tersebut sudah mencapai masa
tinggal landas atau belum :
1. Berlakunya kenaikan dalam penanaman modal yang produktif dari 5%
atau kurang menjadi 10% dari Produk Nasional Netto atau NNP.
2. Berlakunya perkembangan satu atau beberapa sektor industri dengan
tingkat laju perkembangan yang tinggi.
3. Adanya atau segera terciptanya suatu ramgka dasar politik, sosial, dan
kelembagaan yang bisa menciptakan perkembangan sektor modern
dan eksternalitas ekonomi yang bisa menyebabkan pertumbuhan
ekonomi terus terjadi.
4. Menuju kedewasaan
Tahap menuju kedewasaan ini terjadi setelah negara tersebut lepas dari
masa tinggal landas. Pada tahap ini mulai bermunculan teknologi-teknologi
baru di sektor industri. Hal ini menunjukan bahwa keadaan ekonomi semakin
maju dan perkembangan ekonomi berjalan dengan baik. Biasanya tahapan
ini terjadi sekitar 60 tahun setelah meninggalkan masa tinggal landas.
5. Era Konsumsi Tinggi
Tahapan ini merupaka tahap terakhir dari Lima tahap model perkembangan
ekonomi menurut Rostow. Pada tahap ini sebagian masyarakat hidup secara

makmur. Perhatian masyarakat tertuju pada konsumsi dan kesejahteraannya


bukan masalah produksi. Selain itu, investasi untuk meningkatkan produksi
sudah tidak lagi menjadi tujuan utama.
D.

REPELITA

Repelita I (1969-1974)
Repelita I bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan infrastruktur
dengan penekanan pada bidang pertanian. Pemerintah telah menyusun
program-program untuk merealisasikan repelita I tersebut, yaitu :
1. Memberikan bibit unggul kepada petani dan melakukan percobaan
untuk menghasilkan bibit unggul yang tahan hama.
2. Memperbaiki infrastruktur yang digunakan oleh sektor pertanian.
3. Melakukan transmigrasi agar lahan yang berada di Kalimantan,
Sulawesi, Maluku dan Papua dapat diolah agar menjadi lahan yang
menghasilkan bagi perekonomian.
Repelita I ini menekankan pada bidang pertanian karena sebagian besar
penduduk Indonesia tinggal di pedesaan yang bermata pencarian dibidang
pertanian, selain itu Indonesia juga termasuk negara Agraris. Hal ini berarti
sumber pendapatan terbesar yaitu berasal dari sektor pertanian. Dengan
penekanan pada sektor pertanian juga memajukan pendapatan masyarkat
pedesaan.
Repelita II (1974-1979)
Target pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 7,5% per tahun. Prioritas
utamanya adalah sector pertanian yang merupakan dasar untuk memenuhi
kebutuhan pangan dalam negeri dan merupakan dasar tumbuhnya industri
yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku.
Repelita III (1979-1984)
Pertumbuhan ekonomi yang dialami pada saat repelita II sangat tinggi
namun itu lebih rendah dari yang ditargertkan sebesar 7,5%t. Namun,
sangat dirasakan kurang adanya keseimbangan pengembangan
perekonomian antara kota dan desa serta ke. Pada masa repelita ini
diharapkan pembangunan perekonomian dapat merata. Dalam

merealisasiakan tujuan tersebut dibuat kebijakan delapan jalur pemerataan


yang intinya adalah :
1. Pemerataan kebutuhan pokok rakyat, terutama pangan, sandang dan
papan.
2. Pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, pelayanan
kesehatan.
3. Pemerataan pembagian pendapatan.
4. Pemerataan perluasan kesempatan kerja
5. Pemerataan usaha
6. Pemerataan kesempatan berpartisispasi
7. Pemerataan pembangunan antar daerah
8. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.
Pertumbuhan perekonomian pada tahun ini dihambat oleh resesi dunia yang
belum juga berakhir. Pada tahun tahun akhir repelita III neraca pembayaran
Indonesia semakin buruk hal itu dikarenakan harga minya yang semakin
menurun. Pada akhir tahun repelita III nilai dolar menguat, nilai suku bunga
riil AS menguat yang mengakibatkan semakin besar beban hutan negaranegara berkembang.
Repelita IV (1984-1989)
Pada repelita IV ini lebih untuk peningkatan usaha-usaha untuk
mensejahterakan kerja , memperluas lapangan kerja, mertioratakan
pendapatan.Prioritas pada repelita ini bertujuan untuk memantapkan
swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan
mesin-mesin industri sendiri. Pada tahun 1984 Indonesia tidak lagi
mengimpor beras, sehingga devisa yang sebelumnya digunakan untuk
mengimpor beras dapat digunakan untuk pembangunan.
Repelita V (1989-1994)
Repelita ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahterakan taraf hidup
rakyat, kecerdasan dan kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat yang
makin merata dan adil. Selain itu, meletakkan landasan yang kuat untuk
tahap pemangunan berikutnya. Prioritas repelita ini yaitu menitikberatkan
pada bidang ekonomi pada sektor pertanian dan industri.

Sumber :
1. http://mrjoxfadh.blogspot.com/2011/07/teori-5-tahapan-pembangunanmenurut-w-w.html
2. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/03/sejarah-perekonomianindonesia-8/
3. http://alfin1991.blogspot.com/2011/05/pancasila-sebagai-paradigmapembangunan.html
4. http://www.anneahira.com/perekonomian-indonesia.htm
5. http://id.wikipedia.org/wiki/repelita
6. http://wahyubudiutami.blogspot.com/2011/05/repelita.html