Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK IRIGASI DAN DRAINASE


PENGUKURAN KADAR LENGAS TANAH

Oleh:
Denisa Liana
A1H013044

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air mempunyai fungsi yang penting dalam tanah. Antara lain pada proses
pelapukan mineral dan bahan organik tanah, yaitu reaksi yang mempersiapkan
hara larut bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu, air juga berfungsi sebagai media
gerak hara ke akar-akar tanaman. Akan tetapi, jika air terlalu banyak tersedia,
hara-hara dapat tercuci dari daerah-daerah perakaran atau bila evaporasi tinggi,
garam-garam terlarut mungkin terangkat kelapisan tanah atas. Air yang berlebihan
juga membatasi pergerakan udara dalam tanah serta menghalangi akar tanaman
untuk memperoleh O2, sehingga dapat mengakibatkan tanaman mati.
Begitu pentingnya air bagi tanaman di dalam tanah, sehingga kita dituntut
untuk mengatahui kadar air pada suatu lahan, agar tanaman yang ditanam pada
tanah tersebut dapat tumbuh, berkembang dan berproduksi secara optimal. Hal ini
sangat diperlukan oleh manusia, terutama oleh para petani. Kita harus mengetahui
kadar air pada suatu lahan tersebut agar dapat mengoptimalkan tanaman yang kita
tanam dengan cara mengetahui jumlah air dan waktu yang diperluka untuk
melakukan suatu irigasi pada tanah lahan tersebut. Oleh karena itu, kita
memerlukan menggunakan suatu alat bantu untuk mengukur besarnya kadar air
tanah.
B. Tujuan

1. Mengetahui cara kalibrasi dengan Soil Moisture Sensor


2. Mengukur kelembapan tanah
3. Mengetahui tekstur tanah

II. TINJAUAN PUSTAKA

Banyaknya kandungan air tanah berhubungan erat dengan besarnya


tegangan air (moisture tension) dalam tanah tersebut. Kemampuan tanah dapat
menahan air antara lain dipengaruhi oleh tekstur tanah. Tanah-tanah yang
bertekstur kasar mempunyai daya menahan air yang lebih kecil dari pada tanah
yang bertekstur halus. Pasir umumnya lebih mudah kering dari pada tanah-tanah
bertekstur berlempung atau liat. (Hardjowigeno, S., 1992).
Menurut Islami dan Utomo (1995), status air tanah dalam hubungannya
dengan tanah secara keseluruhan dapat dinyatakan dalam kandungan air massa
(W) atau kandungan air volume (). Cara yang paling sederhana untuk
menentukan kandungan air tanah adalah dengan menimbang sejumlah sampel
tanah (biasanya sekitar 10-20 gram) dalam keadaan lembab atau basah (Tb),
kemudian contoh tanah tersebut dikeringkan dalam oven pada suhu

105 C

selama 4-24 jam. Selanjutnya tanah kering ditimbang (Tk), dan kandungan air
massa (W), diperoleh dengan:

Tb Tk
= Tk x 100 %

Cara penentuan kandungan air semacam ini disebut cara gravimetri, dan
merupakan cara penentuan kadar air secara langsung dan digunakan sebagai
kalibrasi. Dengan cara gravimetri, walaupun sangat sederhana, asal dikerjakan
secara benar dan teliti, hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan. Selain

cara tersebut diatas, yang merupakan cara penentuan kadar air tanah tidak
langsung antara lain neutron probe dan cara tensiometer.
Kadar lengas tanah sering disebut sebagai kandungan air (moisture) yang
terdapat dalam pori tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas tanah dapat
berupa persen berat atau persen volume. Berkaitan dengan istilah air dalam tanah,
secara umum dikenal 3 jenis, yaitu:
1. Lengas tanah (soil moisture), adalah air dalam bentuk campuran gas (uap air)
2.

dan cairan;
Air tanah (soil water), yaitu air dalam bentuk cair dalam tanah, sampai

lapisan kedap air,


3. Air tanah dalam (ground water), yaitu lapisan air tanah kontinu yang berada
ditanah bagian dalam.
Lengas tanah atau kelembaban tanah merupakan air yang terikat secara
adsorbtif pada permukaan butir-butir tanah. Menurut Daniel et al. (1979)
penyerapan air oleh perakaran tergantung pada persediaan kelembaban air dalam
tanah. Kapasitas simpanan tanah tergantung pada tekstur, kedalaman dan struktur
tanah. Ketersediaan lengas tanah tergantung pada potensial air, distribusi akar dan
suhu.
Menurut Hardjowigeno, (1992) menyatakan bahwa banyaknya kandungan
air tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air (moisture tension) dalam
tanah tersebut. Kemampuan tanah dapat menahan air antara lain dipengaruhi oleh
tekstur tanah. Tanah-tanah yang bertekstur kasar mempunyai daya menahan air
yang lebih kecil dari pada tanah yang bertekstur halus. Pasir umumnya lebih
mudah kering dari pada tanah-tanah bertekstur berlempung atau liat.

Menurut Hansen (1979), sifat-sifat listrik dari tahanan (penghantar),


penguat (capacitance), dan kekuatan listrik dapat digunakan untuk menunjukan
kadar kelembaban. Perubahan kelembaban mempengaruhi semua sifat listrik
tersebut. Blok yang porus yang berisi elemen listrik dimasukan kedalam tanah.
Multimeter merupakan alat pengukur serbaguna antara lain dapat digunakan untuk
mengukur tahanan, tegangan dan arus listrik. Karena, multimeter tidak dapat
menunjukan lengas tanah secara langsung, maka perlu dilakukan kalibrasi
terhadap gypsum block terlebih dahulu sehingga diperoleh persamaan kalibrasi
dari hasil regresi linear dari masing-masing gypsum tersebut, karena kadar
kelembaban blok berubah, sifat-sifat listrik juga berubah.
Lengas tanah tersedia bagi akar dalam dua cara, yaitu : akar tumbuh ke
dalam tanah atau lengas bergerak ke akar. Aktivitas akar tidak diketahui dengan
baik karena seluruh informasi terbenam dalam tanah dan sangat sedikit usaha
untuk menggalinya kecuali untuk mengukur panjang, kedalaman dan volume
tanah yang ditempati.

III.

METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Ring sampel
2. Oven
3. Pipet
4. Gelas ukur
5. Laptop
6. Penggaris
7. Botol bekas
8. Arduino
9. Soil Moisture Sensor
10. Tanah
11. Air
12. Tisu

B. Prosedur Kerja
Prosedur Kerja
1. Menyiapkan enam jenis tanah secukupnya
2. Mengoven 105oC selama 24 jam
3. Memasukan tanah ke dalam botol plastik untuk penguran tekstur tanah,
tambahkan air dengan perbandingan 1:1
4. Mengamati tinggi pasir, debu dan liat, catat hasilnya.

Tabel 1. Data Hasil Pengukuran Tekstur Tanah Tekstur Tanah Lama Waktu Tinggi
Pasir 20 Menit Debu 30 Menit Liat 2 Hari.
Tekstur
tanah

Lama waktu
Hari ke 0

Tinggi

Lama waktu
Hari ke 2

5. Menimbang ring sampel


6. Memasukkan tanah ke dalam 3 ring sampel tanah, beri label a, b dan c
dengan tiga perlakuan
a. Ring sampel a tanpa air
b. Ring sampel b tambahkan air 30 ml
c. Ring sampel c tambahkan air 60 ml, ratakan dengan cara dikocok
kemudian timbang.
7. Menimbang tanah+ring sampel
8. Menancapkan Soil Moisture Sensor, kalibrasi
9. Menimbang tanah+ring sampel
10. Mengoven 105oC selama 24 jam
11. Menimbang tanah+ring sampel
MawalMakhir
12. Mengukur kadar air Ka
x 100%
makhir
Tabel 2. Data Hasil Pengamatan Kadar Air dan Resistensi Tanah
Jenis tanah
A
B
C

Massa awal

Massa akhir

Ka (%)

Resistensi

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel 1. Data Hasil Pengukuran Tekstur Tanah Tekstur Tanah Lama Waktu Tinggi
Pasir 20 Menit Debu 30 Menit Liat 2 Hari.

Lama waktu
Hari ke 0
20 menit
30 menit
2 hari

Tekstur tanah
Pasir
Debu
Liat

Tinggi
6,8 cm
4,2 cm
2,3

Lama waktu
Hari ke 2
3,4 cm
3,8 cm
2,3 cm

Tabel 2. Data Hasil Pengamatan Kadar Air dan Resistensi Tanah


Jenis tanah
A
B
C

Massa awal
56,21
48,6
40,79

Perhitungan:
Jenis Tanah

:A

Massa akhir
27,47
35,12
38,07

Ka

MawalMakhir
makhir

Ka

56,2127,47
27,47

Ka (%)
104,62 %
38,38%
7,14%

x 100%
x 100%

=104,62 %
B Ka

48,635,12
35,12

x 100%

=38,38%
C Ka

38,077,14
38,07

=7,14%

x 100%

Resistensi
0 mV
416mV
826 mV

Hubungan antara Resistensi dengan Kadar Air Bahan


900
800
700
600

Resistensi

500
400
300
200
100
0
104.62

38.380000000000003

7.14

Gambar 1.Grafik Resistensi Tanah

B. Pembahasan
Lengas tanah adalah air yang terikat oleh berbagai gaya, misalnya gaya
ikat matrik, osmosis dan kapiler. Gaya ikat matrik berasal dari tarikan antar
partikel tanah dan meningkat sesuai dengan peningkatan permukaan jenis partikel
tanah dan kerapatan muatan elektrostatik partikel tanah. Gaya osmosis
dipengaruhi oleh zat terlarut dalam air maka meningkat dengan semakin pekatnya
larutan, sedang gaya kapiler dibangkitkan oleh pori-pori tanah berkaitan dengan
tegangan. (Sosiawan, 2010).
Lengas tanah adalah air yang terdapat dalam tanah dan terikat oleh
berbagai kakas (matrik, osmosis, dan kapiler). Kakas ini meningkat sejajar dengan
peningkatan permukaan jenis arah dan kerapatan muatan elektrostatik arah
tanah. Tegangan lengas tanah juga menentukan beberapa banyak air yang terdapat

diserap tubuh. Bagian lengas tanah yang tumbuh mampu menyerap dinamakan
ketersediaan (Purwodidodo, 2006)
Kapasitas lapang adalah persentase kelembaban yang ditahan oleh tanah
sesudah terjadinya drainase dan kecepatan gerakan air ke bawah menjadi sangat
lambat. Keadaan ini terjadi 2 3 hari sesudah hujan jatuh yaitu bila tanah cukup
mudah ditembus oleh air, textur dan struktur tanahnya uniform dan pori-pori tanah
belum semua terisi oleh air dan temperatur yang cukup tinggi. Kelembaban pada
saat ini berada di antara 5 40%. Selama air di dalam tanah masih lebih tinggi
daripada kapasitas lapang maka tanah akan tetap lembab, ini disebabkan air
kapiler selalu dapat mengganti kehilangan air karena proses evaporasi. Bila
kelembaban tanah turun sampai di bawah kapasitas lapang maka air menjadi tidak
mobile. Akar-akar akan membentuk cabang-cabang lebih banyak, pemanjangan
lebih cepat untuk mendapatkan suatu air bagi konsumsinya. (sirdjaj,1999)
Menurut Kartasapoetra dan Sujedja (1991) Kapasitas lapang, yaitu air yang
dapat ditahan oleh tanah setelah air gravitasi turun semua. Kondisi kapasitas
lapang terjadi jika tanah dijenuhi air atau setelah hujan lebat tanah dibiarkan
selama 48 jam, sehingga air gravitasi sudah turun semua. Pada kondisi kapsitas
lapang, tanah mengandung air yang optimum bagi tanaman karena pori makro
berisi udara sedangkan pori mikro seluruhnya berisi air. Kandungan air pada
kapasitas lapang ditahan dengan tegangan 1/3 atm atau pada pF 2,54.
Tekstur tanah adalah salah satu sifat tanah yang menunjukan komposisi
partikel penyusun tanah yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi tanah
fraksi pasir, debu dan liat. Tekstur tanah sangat menentukan tingkat pertumbuhan

tanaman dan penyerapan air serta mineral. Dalam menetapkan tekstur tanah
terdapat dua metode, yaitu menurut metode perasaan dilapangan atau uji
kualitatif. Metode ini dimulai dengan masa tanah kering atau lembab yang
dibasahi secukupnya kemudian dipijat diantara ibu jari dan telunjuk sehingga
membentuk bola lembab. Hal yang dirasakan adalah kasar atau licin kemudian
ditentukan tekstur berdasarkan tabel. Metode lain yang digunakan adalah metode
kuantitatif. Pada metode ini terdapat tiga tahapan yaitu analisis ukuran partikel,
yaitu menghilangkan bahan-bahan pengikat tanah. (Purwodidodo,2006)
Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena
terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang
terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nasional). dari ketiga jenis fraksi
tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 - 0.05
mm, debu dengan ukuran 0.05 - 0.002 mm dan liat dengan ukuran < 0.002 mm
(penggolongan berdasarkan USDA). keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh
terhadap keadaan sifat-sifat tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas
tanah, porositas dan lain-lain.
Beberapa metode lain yang dapat digunakan untuk menetapkan kadar lengas
tanah selain menggunakan bisa menggunakan metode metode sebagai berikut :
1. Melihat Rupa dan Rasa Tanah
Cara ini dapat digunakan sebagai petunjuk untuk memperkirakan
berapa besar kadar air tanah yang tersedia dan yang telah diambil dari tanah
dan dengan demikian jumlah air yang dibutuhkan pada saat pemberiaan air
irigasi dapat diketahui.

2. Metode Gravimetri
Metode gravimetri merupakan cara yang paling umum dipakai.
Prinsipnya dalah mengambil sejumlah tanah basahemudian dikeringkan
dalam oven pada suhu 100 - 110 C untuk waktu tertentu. Air yang hilang
merupakan jumlah air yang terdapat daam tanah basah. Cara gravimetris juga
digunakan sebagai kalibrasi cara pengukuran lain yang merupakan cara tidak
langsung, antara lain cara neutron probe dan cara tensiometer. Menurut Islami
et, al. (1995) menyatakan bahwa masalah utama yang perlu diperhatikan
dalam pengukuran kandungan air secara gravimetris adalah untuk
mendapatkan contoh tanah yang representatif.
3. Metode Daya Hantar Listrik (Resistance Method)
Kenyataannya bahwa bahan porous seperti gypsum, nilon, dan
fiberglas memiliki tahanan listrik yang berhubungan dengan kandungan
airnya. Jika blok bahan tersebut dihubungkan dengan elektroda, dan
kemudian ditempatkan tanah basah di atasnya, maka blok bahan tersebut akan
menyerap air sampai mencapai kesetimbangan. Tahanan listrik blok
ditentukan oleh kandungan air. Hubungan antara pembacaan tahanan dan
kandungan air dapat ditentukan melalui kalibrasi. Akurasi pembacaan
kelengasan dalam kisaran 1-15 bars.
4. Metode Tegangan (Tensiometer)
Tensiometer lapangan mengukur tegangan dimana air diikat/dipegang
oleh matriks tanah. Kisaran kemampuannya untuk mengukur kelengasan
tanah antara 0 0.8 bar.

Ada pula yang disebut tension plate untuk kondisi di laboratorium.


Tanah ditempatkan pada piring porus kemudian dilakukan penghisapan
(suction). Kisaran ukurannya 0-1 bar. Pressure membrane, menggunakan
piring porous yang tahan sampai tekanan 100 bars.
5. Metode Radioaktif Neutron (Neutron Probe)
Metode pengukur kelembaban neutron.

Neutron diemisikan oleh

sumber neutron (missal: radium, atau americium-beryllium) pada kecepatan


sangat tinggi (fast neutron). Jika neutron ini bertabrakan dengan atom
berukuran kecil seperti H yang dikandung air, arah dan gerakannya berubah
dan mereka kehilangan energi. Neutron yang diperlambat diukur dihitung
oleh tabung detector dan scalar. Pembacaan, berkaitan dengan kandungan air
tanah.
Didalam bidang keteknikan pertanian, pemahaman tentang kadar lengas dan
tekstur tanah sangat penting karena lewat proses pengaturan lengas ini akan
dikontrol juga serapan hara dan pernapasan akar-akar tanaman. Dari kadar lengas
juga dapat diketahui kapasitas lengas maksimum suatu tanah, , sehingga dapat
diketahui

daya

simpan

lengasnya

demi

menunjang

pertumbuhan

dan

perkembangan tanaman serta keberhasilan dalam pembudidayaan Manfaatnya


adalah dapat digunakan untuk menduga kehilangan air selama pengairan dan daya
simpan lengas juga dapat diketahui. Selain itu juga mengetahui kebutuhan air
untuk persawahan dan proses irigasi, mengetahui kemampuan jenis tanah
mengenai daya simpan air , dan perhitungan Nilai Perbandingan Dispersi (NPD).

Arduino adalah kit elektronik atau papan rangkaian elektronikopen


source yang di dalamnya terdapat komponen utama yaitu sebuah chip
mikrokontroler dengan jenis AVR dari perusahaan Atmel. Mikrokontroler itu
sendiri adalah chip atau IC (integrated circuit) yang bisa diprogram menggunakan
komputer. Tujuan menanamkan program pada mikrokontroler adalah agar
rangkaian elektronik dapat membaca input, memproses input tersebut dan
kemudian menghasilkan output sesuai yang diinginkan. Jadi mikrokontroler
bertugas sebagai otak yang mengendalikan input, proses dan output sebuah
rangkaian elektronik.
Kelebihan Arduino:
a.

Tidak perlu perangkat chip programmer karena di dalamnya sudah ada


bootloader yang akan menangani upload program dari komputer.

b.

Sudah memiliki sarana komunikasi USB, sehingga pengguna Laptop yang


tidak memiliki port serial/RS323 bisa menggunakan nya.

c.

Bahasa pemrograman relatif mudah karena software Arduino dilengkapi


dengan kumpulan library yang cukup lengkap.

d.

Memiliki modul siap pakai (shield) yang bisa ditancapkan pada board
Arduino. Misalnya shield GPS, Ethernet, SD Card, dll.

Gambar 2. Papan Arduino Uno


Soil Moisture Sensor merupakan sensor yang dapat mendeteksi kelembaban
tanah. Sensor ini terdapat dua probe untuk melewatkan arus memalui tanah,
kemudian membaca resistansi untuk mengetahui tingkat kelembaban. Semaki
banyak air membuat tanah lebih mudah menghantarkan listrik, sedangkan tanah
yang kering sangat sulit mengantarkan listrik. Pengukuran kadar air tanah penting
untuk dapat mengetahui jumlah air yang tersedia di dalam tanah serta kemampuan
penyimpanan air oleh tanah. Kedua hal tersebut penting dalam pelaksanaan
pemberian air irigasi yang berlebih, melebihi kemampuan tanah dalam
menyimpan air akan memperbesar jumlah air yang terbuang, mengganggu
keseimbangan aerasi tanah dan pada daerah air tanah dangkal dapat menyebabkan
kenaikan air tanah sehingga mengurangi daerah perakaran efektif dan keadaan ini
akan merugikan pertumbuhan tanaman.
Prinsip kerja Soil Moisture Sensor adalah memberikan nilai keluaran berupa
besaran listrik sebagai akibat adanya air yang berada di antara lempeng kapasitor
sensor tersebut. Untuk mendapatkan hasil pembacaan sensor kelembaban tanah,
sensor dihubungkan dengan mikrokontroller Arduino dengan dimasukkan perintah
program di dalamnya. Lakukan kalibrasi terlebih dahulu dengan membuat grafik

hubungan antara pembacaan nilai pada sensor dengan persentase kandungan air yang
sebenarnya, agar dapat diperoleh persamaan yang dapat dimasukkan pada perintah
program (Eva, Ramadhan, Septiana, dan Saputro, 2013).

Gambar 3. Soil Moisture Sensor

Prosedur kerja pada praktikum kali ini dilakukan selama 4 hari , yaitu dari
hari senin sampai dengan hari kamis , pertama-tama menyiapkan enam jenis tanah
secukupnya lalu mengoven 105oC selama 24 jam hal ini dilakukan pada hari
pertama saat praktikum yaitu hari senin.
Memasukan tanah yang telah dioven selama 24 jam ke dalam botol plastik
untuk penguran tekstur tanah, tambahkan airdengan perbandingan 1:1 kemudian
mengamati tinggi pasir, debu dan liat. Kemudian menimbang ring sampel ,lalu
masukkan tanah ke dalam 3 ring sampel tanah, beri label a, b dan c dengan tiga
perlakuan yaitu, ring sampel a tanpa air, ring sampel b tambahkan air 10 ml, dan
ring sampel c tambahkan air 30 ml.lalu menimbang tanah+ring sampel tersebut
untuk mendapatkan masa awal, kemudian menancapkan Soil Moisture Sensor,

kalibrasi kemudian menimbang tanah+ring sampel dan mengoven dengan suhu


105oC selama 24 jam. Hal ini dilakukan pada hari ke dua yaitu hari selasa.
Setelah 24 jam dioven lalu tahan tersebut ditimbang bersama dengan ringnya.
Kemudian catat untuk mendapatkan masa akhir. Guna untuk mengetahui kadar air.
Hal tersebut dilakukan pada hari rabu. Kemudian pada hari kamis kami masih
melakukan pengamatan untuk mengukur dan mengetahui tinggi dari masingmasing tekstur tanah, seperti pasir, debu dan liat.
Tabel 1. Data Hasil Pengukuran Tekstur Tanah Tekstur Tanah Lama Waktu Tinggi
Pasir 20 Menit Debu 30 Menit Liat 2 Hari.
Lama waktu
Hari ke 0
20 menit
30 menit
2 hari

Tekstur tanah
Pasir
Debu
Liat

Tinggi
6,8 cm
4,2 cm
2,3

Lama waktu
Hari ke 2
3,4 cm
3,8 cm
2,3 cm

Data dibawah ini merupakan presentase tekstur tanah selama 2 hari :


tinggi tekstur tanah
tinggi tekstur tanahkeseluruhan

Debu

6,8
13,3

x 100%

= 50 %
4,2
13,3

Pasir Ka

x 100%

= 30 %
Liat Ka

2,3
13,3

x 100%

= 17 %

x 100%

Dari data yang didapat setelah dihitung presentasenya maka terdapat


faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan dari masing-masing tekstur tanah
tersebut, faktor yang mempengaruhinya adalah lamanya waktu yang dapat
menentukan tinggi dari masing-masing tekstur tanah tersebut, keadaan air,
keadaan ruang tanah, keadaan suhu, dataran atau tempat, keadaan tanah itu
sendiri, jenis tanah yang digunakan serta organisme hidup yang terdapat
didalamnya.

Hubungan antara Resistensi dengan Kadar Air Bahan


900
800
700
600

Resistensi

500
400
300
200
100
0
104.62

38.380000000000003

7.14

Gambar 3.Grafik Resistensi Tanah dengan kadar air tanah


Dari gambar grafik diatas dapat dilihat bahwa semakin tinggi nilai
resistansi / hambatannya jumlah kadar air dalam tanah semakin sedikit, itu artinya
kadar air yang terdapat dalam tanah tersebut semakin banyak. Dari data yang di
peroleh saat praktikum nilai kadar air dengan perlakuan tanpa air yaitu 1,04 %,
dengan perlakuan 10 ml air 0,38 % dan perlakuan 30 ml air yaitu 0,7% dengan
masing-masing nilai resistensi yaitu 0 , 416 dan 826 (mv).

Bila dilihat dari hasil yang didapat pada kelompok kami, maka kami dapat
membandingkan antara hasil yang diperoleh dari kelompok lain yaitu pada
pengukuran resistensi ada salah satu kelompok dengan nilai resistensinya benarbenar nol, itu artinya kadar air yang terkandung pada tanah tersebut memang
benar-benar kering yang dilakukan pada proses pengovenan selama 24 jam. Tetapi
untuk tanah yang dicampur air 10 ml dan 30 ml kadar air yang didapat tidak jauh
beda dengan hasil kelompok kami yaitu masuk dalam kategori basa.

Gambar 2. Diaram Program


Dari keterangan di atas, terlihat bahwa proses pengukuran kelembaban tanah
dapat dilakukan secara otomatis oleh program. Sistem akan mengecek apakah
nilai kelembaban tanah berada pada range 0 sampai <300, jika iya maka nilai

tersebut masuk pada kategori Kering yang ditampilkan pada serial monitor
arduino dan jika tidak, sistem akan mengecek kembali apakah nilai kelembaban
tanah berada pada range 300 sampai <700. Jika iya maka nilai tersebut masuk
pada kategori Lembab, jika tidak maka nilai tersebut masuk pada kategori
Basah yang terlihat pada serial monitor arduino. (Jurnal Mengukur Kelembaban
Tanah Dengan Kadar Air Yang Bervariasi Menggunakan Soil Moisture Sensor
Fc-28 Bersasis Arduino Uno).
Kendala yang kami alami saat praktikum yaitu keterbatasan alat, sulit
untuk mengatur jadwal yang terpaksa kami harus bertukar dengan sift. Selain itu
juga kendala yang kami alami yaitu pada saat pengambilan tanah banyak sekali
binatang yang terdapat pada tanah yang akan kami gunakan untuk praktikum,tetap
sebagian besar praktikum sudah berjalan dengan baik tidak terlalu banyak
kendala.

ber

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Soil Moisture Sensor memberikan nilai keluaran berupa besaran listrik
saebagai akibat adanya air yang berada diantara lempeng kapasitor sensor
tersebut.
2. Mengukur kelembaban tanah kita menggunakan software arduino dengan
aplikasi soil moisture sensor yang dapat mengasilkan atau mengetahui nilai
resistensi dari sample tanah yang kita gunakan pada saat praktikum yaitu
untuk nilai resistensi 0 (mv) pada tanah yang tidak diberi air, nilai resistensi
416 (mv) pada tanah yang diberi air 10 ml dan nilai resistensi 825(mv) pada
tanah yang diberi air 30 ml. Dari masing-masing nilai tersebut dapat
dikategori Kering, Lembab dan Basah sesuai dengan range yang telah
ditentukan yang terlihat pada serial monitor pada arduino.

3. Pada tekstur tanah pasir selama pengamatan 2 hari maka di dapat nilai 50 %,
debu 30 %, dan liat 17 %.

B. Saran
Sebaiknya diusahakan praktikum dilaksanakan tidak terlalu sore namun
praktikum sejauh ini sudah berjalan cukup baik dan kondusif. Memang
pembagian shift sangat membantu proses berjalannya praktikum dengan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
Univercity Press, Yogyakarta.
Chris. 2004. Rancangan dan Uji Coba Otomatisasi Irigasi Curah. Jawa Barat:
Universitas Agrikultur Bogor
Gardner. 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana, Jakarta.
Hansen, V.E, O.W, dkk. 1979. Dasar-Dasar dan Praktek Irigasi. Erlangga,
Jakarta.
Notohadiprabowo. 2006. Rancang Bangun Sistem Penyiraman Tanaman secara
Otomatis
Menggunakan
Soil
Moisture
Sensor
SEN0057
BerbasisMikrokontroler Atmega328p. Sumatera Utara: Untad.
Poerwowidodo. 1992. Metode Selidik Tanah. Usaha Nasional, Surabaya.
Skinner, A. 1997. Resurrecting The Gypsum Block for Soil Moisture
Measurement. Measurement Engineering Australia, in Australian
Viticuluture.
Sosiawan, 2010. Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. IKIP Semarang Press,
Malang.
Sunyoto. 2013. Alat Pengukur Kelembaban Tanah Berbasis Mikrokontroler PIC
16F84. Bandung: Universitas Kristen Maranatha.

Tim penyusun. 2016. Pedoman Praktikum Teknik Irigasi dan Drainase. Fakultas
Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.