Anda di halaman 1dari 10

Pengaruh Pertumbuhan Leguminoceae

Terhadap Bakteri Rhizobium


Disusun guna memenuhi tugas matakuliah Fisiologi tumbuhan
Dosen Pengampu : Lussana Rosita dewi, M.Pd

Add caption

NAMA
KELAS
NPM

Di susun Oleh :
: ENDAH INDRIYATI
: 5B BIOLOGI
: 10320042
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKADAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2013/2014

I.

Tujuan

Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan Leguminoceae terhadapbakteri rhizobium.


II.

Dasar Teori
Bakteri Rhizobium adalah organotrof, aerob, tidak berspora, pleomorf, gram negatif

dan berbentuk batang. Bakteri rhizobium mudah tumbuh dalam medium pembiakan organik
khususnya yang mengandung ragi atau kentang. Rhizobium menginfeksi akar leguminoceae
melalui ujung-ujung bulu akar yang tidak berselulose, karena bakteri Rhizobium tidak dapat
menghidrolisis selulose. Tumbuhan legum diklasifikasikan menadi 3 subfamili besar dari
famili Leguminoseae: Caesalinodiae, Mimosoideae dan Papilionoideae. Tidak semua legum
memiliki bintil dalam sistem perakarannya dan diketahui pula bahwa beberapa bentuk pohon
tidak memiliki bintil sama sekali. Sastrahidayat, Ika Rochdjatun. 1991
Rhizobium yang tumbuh dalam bintil akar leguminoceae mengambil nitrogen
langsung dari udara dengan aktifitas bersama sel tanaman dan bakteri, nitrogen itu disusun
menjadi senyawaan nitrogen seperti asam-asam amino dan polipeptida yang ditemukan dalam
tumbuh-tumbuhan, bakteri dan tanak disekitarnya. Baik bakteri maupun legum tidak dapat
menambat nitrogen secara mandiri, bila Rhizobium tidak ada dan nitrogen tidak terdapat
dalam tanah legumtersebutakanmati. Bakteri Rhizobium hidup dengan menginfeksi akar
tanaman legum dan berasosiasi dengan tanaman tersebut, dengan menambat nitrogen.
Bakteri-bakteri yang termasuk dalam genus Rhizobium hidup bebas dalam tanah dan dalam
perakaran tumbuh-tumbuhan legum maupun bukan legum. Walaupun demikian, bakteri
Rhizobium dapat bersimbiosis hanya dengan tumbuh-tumbuhan bukan legum, dengan
menginfeksi akarnya dan membentuk bintil akar didalamnya. Semangun, Haryono. 2004

Proses reduksi N2 menjadi NH4+ dinamakan penambatan nitrogen, biasanya


dilakukan oleh mikroorganisme prokariot :
Sianobakteri (ada yang hidup bebas di tanah atau di air) bersimbiosis dengan lumut,
pakis, lumut hati
Aktinomycetes genus frankia ,bersimbiosis dengan pohon besar atau semak: genus
alnus, myrica, shepherdia, coriaria, hippophae, eleagnus, ceaonothus, dan cauarina
Rhizobium , bradyrhizobium, azorhizobium bersibiosis dengan akar kacang.
proses ini dapat berlangsung pada suhu dingin da pada berbagai nilai pH.

Keuntungan memanfaatkan bakteri rhizobium :


1. Tidak mempunyai bahaya atau efek sampingan
2. Efisiensi penggunaan yang dapat ditingkatkan

sehingga bahaya pencemaran lingkungan

dapat dihindari
3. Harganya yang relatif murah
4. Teknologinya yang sederhana
Anonymous,2009
Rhizobium adalah basil yang gram negatif yang merupakan penghuni biasa didalam
tanah. Rhizobium adalah bakteri yang bersifat aerob, bentuk batang, koloninya berwarna
putih berbentuk sirkular, merupakan penambat nitrogen yang hidup di dalam tanah dan
berasosiasi simbiotik dengan sel akar legume leguminoceae atau disebut juga facebeae
merupakan tanaman berbunga yang dikenal sebagai keluarga kacang kacangan. Bakteri ini
masuk melalui bulu-bulu akar tanaman berbuah polongan dan menyebabkan jaraingan agar
tumbuh berlebih-lebihan hingga menjadi kutil-kutil. Bakteri ini hidup dalam sel-sel akar dan
memperoleh makanannya dari sel-sel tersebut. Biasanya beberapa spesies Actinomycetes
kedapatan bersama-sama dengan Rhizobium sp. dalam satu sel. Salisbury, F. B., dan Ross,
C. W., 1995
Morfologi Rhizobium dikenal

sebagai

bakteroid.

Rhizobium menginfeksi

akar

leguminoceae melalui ujung-ujung bulu akar yang tidak berselulose, karena bakteri
Rhizobium tidak dapat menghidrolisis selulose. Rhizobium yang tumbuh dalam bintil akar
leguminoceae mengambil nitrogen langsung dari udara dengan aktifitas bersama sel tanaman
dan bakteri, nitrogen itu disusun menjadi senyawaan nitrogen seperti asam-asam amino dan
polipeptida yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan, bakteri dan tanak disekitarnya. Baik
bakteri maupun legum tidak dapat menambat nitrogen secara mandiri, bila Rhizobium tidak
ada

dan

nitrogen

tidak

terdapat

dalam

tanah

legum

tersebut

akan

mati.

Bakteri Rhizobium hidup dengan menginfeksi akar tanaman legum dan berasosiasi dengan
tanaman tersebut, dengan menambat nitrogen.
Salisbury, F. B., dan Ross, C. W., 1995
Mekanisme Pembentukan Bintil Akar
Simbiosis Rhizobium dengan tanaman legum dicirikan oleh pembentukan bintil akar
pada tanaman inang. Pembentukan bintil akar diawali dengan sekresi produk metabolisme
tanaman ke daerah perakaran (nod factors) yang menstimulasi pertumbuhan bakteri, berupa
liposakarida (Burdas, 2002). Eksudat akar yang dihasilkan tanaman legum tersebut

memberikan efek yang menguntungkan untuk pembelahan

Rhizobium di tanah.

Dwidjoseputro, D., 1992


Nodulasi dan fiksasi nitrogen tergantung pada kerjasama dari faktor-faktor yang
berbeda yaitu kehadiran strain Rhizobium yang efektif pada sel akar, peningkatan jumlah sel
Rhizobium di rizosfer, infeksi akar oleh bakteri, pertumbuhan, dan aktivitas Rhizobium itu
sendiri (Mulder & Woldendorp, 1969). Pelekatan Rhizobium pada rambut akar juga dapat
terjadi karena pada permukaan sel Rhizobium terdapat suatu protein pelekat yang disebut
rikodesin. Senyawa ini adalah suatu protein pengikat kalsium yang berfungsi dalam
pengikatan kompleks kalsium pada permukaan rambut akar (Yuwono, 2006). Menurut
Yuwono (2006), secara umum pembentukan bintil akar pada tanaman legum terjadi melalui
beberapa tahapan:
1.

Pengenalan pasangan sesuai antara tanaman dengan bakteri yang diikuti oleh

pelekatan bakteri Rhizobium pada permukaan rambut akar tanaman.


2.
Invasi rambut akar oleh bakteri melalui pembentukan benang-benang infeksi
(infection thread).
3.
Perjalanan bakteri ke akar utama melalui benang-benang infeksi.
4.
Pembentukan sel-sel bakteri yang mengalami deformasi, yang disebut
sebagai bakteroid, di dalam sel akar tanaman.
5.
Pembelahan sel tanaman dan bakteri sehingga terbentuk bintil akar.
Campbell, N. A, J. B. Reece and L. E. Mitchell
Mekanisme Penambatan Nitrogen pada Bintil Akar
Peran utama Rhizobium adalah memfiksasi nitrogen dengan adanya aktivitas
nitrogenase. Tinggi rendahnya aktivitas nitrogenase menentukan banyak sedikitnya pasokan
ammonium yang diberikan Rhizobium kepada tanaman (Martani & Margino, 2005). Aktivitas
nitrogenase Rhizobium ditentukan oleh 2 jenis enzim yaitu enzim dinitrogenase reduktase dan
dinitrogenase. Dinitrogenase reduktase dengan kofaktor protein Fe berperan sebagai
penerima elektron untuk selanjutnya diteruskan ke protein MoFe, sedangkan enzim
dinitrogenase yang memiliki protein MoFe berperan dalam pengikatan N 2(Hughes, 1996
dalam Martani & Margino, 2005). Richards (1964) menyederhanakan reaksi penambatan
nitrogen pada bintil akar legum dalam persamaan sebagai berikut:
N2 + 8 H+ + 8 e- + 16 Mg-ATP 2NH3 + H2 +16 Mg-ADP + 16 Pi
Menurut Djafaruddin. 2004, kemampuan Rhizobium dalam menambat nitrogen dari
udara dipengaruhi oleh besarnya bintil akar dan jumlah bintil akar. Semakin besar bintil akar
atau semakin banyak bintil akar yang terbentuk, semakin besar nitrogen yang ditambat.
Semakin aktif nitrogenase semakin banyak pasokan nitrogen bagi tanaman, sehingga dapat

memperbaiki pertumbuhan tanaman (Martani & Margino, 2005). Jumlah N 2yang dapat
difiksasi oleh tanaman legum sangat bervariasi, tergantung pada jenis tanaman legum,
kultivar, jenis bakteri dan tempat tumbuh bakteri tersebut dan terutama pH tanah. Hartman,
H. T. dan D. E. Kester. 1975
Efisiensi dan efektivitas dari suatu strain Rhizobium pada bintil akar dapat diamati
dari warna kemerahan yang tampak pada bintil akar (Richards, 1987). meninggalkan
sejumlah nitrogen untuk tanaman berikutnya. Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan
nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%. Tanggapan tanaman
untuk memfiksasi nitrogen dari udara tergantung pada kondisi medium tumbuh dan
efektivitas populasi asli (Sutanto, 2002 dalam Rahmawati, 2005).
Pemanfaatan Rhizobium sebagai Biofertilizer
Lahan yang ditanami dengan tanaman legum terkadang masih membutuhkan
inokulasi tambahan Rhizobium. Bagaimanapun juga, inokulasi pada tanaman tidak selalu
dapat berkompetisi dengan baik dengan mikroba alami tanah atau terhadap kondisi tanah
yang kurang mendukung pertumbuhan dari strain yang ditambahkan . Kehadiran mikroba
alami yang yang tidak efektif dalam jumlah yang besar dapat mengganggu keberhasilan
praktek inokulasi. Pada kondisi yang kurang menguntungkan seperti yang terjadi di daerah
bertanah masam di Sumatera jumlah dari Rhizobium alami lebih rendah atau tidak ada sama
sekali . Secara umum inokulasi dilakukan dengan memberikan biakan Rhizobium ke dalam
tanah agar bakteri berasosiasi dengan tanaman mengikat N 2 bebas dari udara. Latunra, A. I.,
2010
Seringkali tanah-tanah bekas tanaman legum baik yang diberi inokulasi maupun tanpa
tambahan inokulasi dapat digunakan sebagai sumber inokulan . Praktik pemberian kultur
Rhizobium yang disiapkan secara artifisial ke biji legum sebelum menyebarkannya dapat juga
dianggap sebagai inokulasi legum . Inokulan padat dari material seperti kompos, arang dan
vermiculite sudah banyak digunakan sebagai medium pembawa dalam inokulasi legum.
Beberapa medium pembawa memiliki kapasitas memegang kelembaban yang tinggi,
menyediakan nutrisi untuk pertumbuhan Rhizobium dan mendukung daya tahan Rhizobium
selama pendistribusian inokulan kepada petani dan setelah inokulasi pada biji. Lambers, H.,
Chapin III S. F., And Pons L.T., 2008
Dalam penyiapan inokulasi legum, umumnya digunakan tanah gambut yang digiling
halus dan dinetralkan sebagai medium pembawa. Gambut dapat diartikan sebagai tanah

organik yang tertimbun secara alami dalam keadaan basah berlebihan, bersifat tidak mampat
dan atau hanya sedikit mengalami perombakan . Tanah gambut sebagai pembawa memiliki
keuntungan-keuntungan dibandingkan agar atau tanah. Selain memiliki kapasitas memegang
kelembaban yang tinggi dan kandungan materi organik yang tinggi yang sangat penting untuk
kehidupan naungan kultur bakteri yang lebih baik, tanah gambut meningkatkan kelestarian
sel-sel Rhizobium pada kulit biji, terutama di dalam kondisi tanah yang kering. Kompos
Tandan Kosong Sawit (TKS) merupakan kompos yang terbuat dari tandan kosong kelapa
sawit yang dicacah kemudian disiram dengan limbah kelapa sawit cair dan dibiarkan untuk
beberapa waktu.
Proses

pengomposannya

sendiri

bersifat

aerobik

dan

tanpa

memerlukan

mikroorganisme tambahan dari luar . Kompos masak memiliki perbandingan C/N sebesar 15
dengan standar rasio C/N yang efektif berkisar antara 30: 1 hingga 40:1. Kandungan hara
kompos juga dapat diperkaya dengan unsur-unsur tertentu sesuai dengan kebutuhan tanaman
dan diharapkan dapat meningkatkan daya hidup Rhizobium. Gardner, F. P., R. B. Pearce
dan R. L. Mitchell. 1991
III.

IV.

Alat dan Bahan


Alat

Bahan

1. Pemanas

1. Aquades

2. Kaki Tiga

2. Tanah

3. Beaker Glass

3. Biji kacang Tanah

4. Pengaduk

4. Polybag

5. Timbangan

5. Rhizobium

Cara kerja
Menyiapkan tanah secukupnya dan menyiapkan 3 buah Polybag
Polybag I

1. Menyiapkan tanah secukupnya dan kemudian memanaskan selama 5 menit lalu


2.
3.
4.
5.

mendinginkannya
Menimbang Rhizobium 3 gram
Memanaskan air aquades 100 ml, lalu mendinginkannya
Mencampurkan Rhizobium yang sudah ditimbang tadi ke aquades yang sudah didinginkan
Merendam kacang tanah 5 menit ke dalam air aquades yang telah dicampur Rhizobium

6. Menganbil kacang yang direndam, kemudian menanam ke dalan polybag yang telah
disiapkan
Polybag II
1. Menyiapkan tanah secukupnya, kemudian memanaskan selama 5 menit, lalu
mendinginkannya
2. Menimbang Rhizobium 3 gram
3. Mencampurkan Rhizobium ke dalam tanah
4. Menyiapkan kacang tanah, kemudian menanam ke dalam polybag yang telah di isi tanah
yang bercampur Rhizobium
Polybag III
1.
2.

Menyiapkan tanah secukupnya, kemudian memasukkan tanah ke polybag tanpa pemanasan


Menyiapkan kacang tanah, kemudian menanam ke dalam polybag.

V.

Hasil Pengamatan
Perlakuan
Jumlah Bintil Akar
Minggu
Minggu
Ke-I
Ke-II
Polybag I
Polybag II
Polybag III
-

VI.

Minggu
Ke-III
+++
++++
++

Pertumbuhan Tanaman
Minggu
Minggu KeKe-I
II
8
10
10
13
4
6

Minggu
Ke-III
11
14
8

Pembahasan
Pada praktikum kali ini berupa pemberian bakteri Rhizobium pada pertumbuhan
Leguminoceae. Mulai munculnya bintil akar pada minggu ke tiga ,bintil akar pada polybag II
lebih banyak dibanding pada polyback I dan III karena penambahan Rhizobium langsung
dicampurkan kedalam tanah, dibandingkan dengan polybag I yang kacangnya di masukkan
kedalam campuran Rhizobium dan aquades yang sebelumnya aquades tersebut sudah di
panaskan terlebih dahulu, sehingga kerja dari Rhizobium tersebut tidak maksimal. Pada
polybag III bintil muncul sedikit dan pertumbuhan tanaman juga kurang maksimal, karena
pada polybag III tidak terdapat bakteri Rhizobium dimana bakteri ini berfungsi untuk
mengikat nitrogen dari udara, karena kacang tidak mendapat unsur nitrogen dari bakteri ini
Dwidjoseputro, D., 1992

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa biji kacang
tanah akan tumbuh dengan adanya penambahan bakteri Rhizobium tanaman akan tumbuh
dengan baik. Pada tanaman kacang ini akan terbentuk suatu bintil akar dimana pembentukan
bintil akar dimulai dari bakteri Rhizobium yang menginfeksi bulu akar atau sel epidermis
yang rusak. Kemudian setelah terinfeksi oleh bakteri bulu akar akan mengeriting dan
mengelilingi bakteri. Salisbury, F. B., dan Ross, C. W., 1995
Benang infeksi ini terdiri dari membran plasma lurus dan memanjang dari sel yang
terserang bersamaan dengan pembentukan selulosa baru di sebelah dalam membran ini.
Bakteri tersebut membelah dengan cepat didalam benang yang menjalar masuk dan
menembus diantara sel korteks. Di sel korteks sebelah dalam, bakteri dilepas kedalam
sitoplasma dan merangsang beberapa sel untuk membelah. Pembelahan ini menyebabkan
proliferasi jaringan sehingga membentuk suatu bintil akar.
Pada tanah yang telah mengandung bakteri rizobium, bintil akar mulai terbentuk
sekitar 15-20 hari setelah tanam. Bakteri rizobium mengikat nitrogen dari udara yang
kemudian dapat digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, rizobium juga
memerlukan makanan yang berasal dari tanaman kacang tanah untuk pertumbuhannya
Gardner, F. P., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991.
Hubungan antara bakteri dengan tanaman, dapat bersifat epifit, artinya apabila bakteri
hidup pada filosfer, exudat, luka-luka dan bagian-bagian tanaman tanpa merugikan tanaman
yang bersangkutan. Apabila bakteri hidup di daerah perakaran (rhyzosphere) maka akan
terjadi hubungan yang bersifat sinergisme. Telah diketemukan bahwa pada daerah rizosfer
terdapat bakteri yang lebih banyak daripada di tempat lain. Hal ini akibat substansi-substansi
yang dikeluarkan oleh tanaman dapat menarik atau merangsang pertumbuhan bakteri. Bakteri
Rhizobium spp. yang hidup dalam bintil-bintil akar pada tanaman kacang tanah, melakukan
hubungan yang bersifat simbiosis dengan tanaman kacang tanah, dengan membantu mengikat
nitrogen dari udara dan mendapat karbohidrat dari tanaman. Akan tetapi, bakteri dapat pula
bersifat parasit. Bahkan parasitisme yang ditimbulkan bakteri dapat bersifat pathogen apabila
menimbulkan penyakit bagi tanaman. Semangun, Haryono. 2004
Bakteri sangatlah penting dan mematikan terutama di daerah yang beriklim basah
seperti daerah tropis. Sebagian besar bakteri penyebab penyakit bagi tumbuhan adalah
berbentuk batang (rob-shaped). Kecuali bagi beberapa bakteri seperti Streptomyces scabies
yang menyebabkan penyakit scab (kudis) pada kentang. Kebanyakan dari spesies bakteri
dapat hidup sebagai saprofit, sebagian ada bersama bahan organic di tanah atau di luar tubuh
tumbuhan. Campbell, N. A, J. B. Reece and L. E. Mitchell. 1999

VII.

Kesimpulan
Bakteri Rhizobium merupakan bakteri yang berbentuk pendek, gram negatif,

mempunyai koloni dengan bentuk permukaan halus berlendir, yang mempunyai kemampuan
mengikat nitrogen dari udara.
Bakteri Rhizobium dan tanaman Leguminaceae akan bekerjasama membentuk
hubungan simbiosis mutualisme dimana dalam bekerjasama kedua belah pihak (bakteri dan
tanaman saling menguntungkan).
Bintil akar pada tanaman kacang terbentuk karena bulu akar terinfeksi oleh bakteri sehingga
akan terjadi poliferasi pada jaringan yang akhirnya terbentuklah bintil akar yang dewasa.
Secara umum, tumbuhan menyerap nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3-), nitrit (NO2-),
dan amonia (atau ion amonium, NH4+) dari cairan tanah. Bakteri bintil akar membantu
tumbuhan untuk mengikat nitrogen bebas (N2, diazo) di udara lalu mereduksi menjadi
amonia, untuk kemudian diasimilasi menjadi asam amino (penyusun protein), nukleotida
(penyusun DNA dan RNA), dan senyawa-senyawa lain seperti vitamin, flavon, dan
fitohormon.
Keuntungan memanfaatkan bakteri rhizobium :
1. Tidak mempunyai bahaya atau efek sampingan
2. Efisiensi penggunaan yang dapat ditingkatkan sehingga bahaya pencemaran
lingkungan dapat dihindari
3. Harganya yang relatif murah
4. Teknologinya yang sederhana

VIII.

Daftar Pustaka

Dwidjoseputro, D., 1992, Pengantar Fisiologi Tumbuhan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Salisbury, F. B., dan Ross, C. W., 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, ITB Press, Bandung.

Gardner, F. P., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press,
Jakarta.
Campbell, N. A, J. B. Reece and L. E. Mitchell. 1999. Biologi. Erlangga, Jakarta.
Lambers, H., Chapin III S. F., And Pons L.T., 2008, Plant Physiology Ecology 2rd Edition,
Philadelphia press.
Latunra, A. I., 2010, Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan, Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Semangun, Haryono. 2004. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan Indonesia. Cetakan ketiga.
Gadjah Mada Universuty Press, Yogyakarta.
Djafaruddin. 2004. Dasar-Dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Bumi Aksara, Jakarta.