Anda di halaman 1dari 21

TUGAS PRA KK CO-NERS

SOP PERAWATAN WSD


( WATER SEAL DRAINAGE )

DI SUSUN
OLEH :
MISWANTO
Dosen MK : Ns. Hikayati, M.Kep

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN AJARAN 2015 / 2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Asuhan

Keperawatan dengan WSD ( Water Seal Drainage ) . Penulisan makalah ini


merupakan salah satu tugas PRA-KK di Universitas Sriwijaya.
Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang
membantu dalam penyelesaian makalah ini. Kami sadar dalam penulisan makalah ini
kami merasa masih banyak kekurangan, baik pada penulisan maupun materi,
mengingat kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran sangat kami
harapkan demi penyempurnaan makalah kami.
Semoga isi dari makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi
yang membacanya. Amin ya robbal alamin.

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................
KATA PENGANTAR.......................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN

1
2
3

A. Latar Belakang......................................................................................
B. Rumusan Masalah.................................................................................
C. Tujuan Makalah....................................................................................

4
4
5

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian WSD ( Water Seal Drainage ).............................................
B. Tujuan Pemasangan WSD ( Water Seal Drainage )..............................
C. Jenis-jenis WSD ( Water Seal Drainage ) Beserta Keuntungan dan

Kerugiannya..........................................................................................
9
D. Persiapan Pemasangan WSD ( Water Seal Drainage ).......................... 11
E. Asuhan Keperawatan WSD ( Water Seal Drainage )............................ 14
F. SOP PERAWATAN WSD..
25
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ..

25

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

26

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
WSD (Water Seal Drainage) atau yang disebut juga dengan Chest-Tube
(pipa dada) adalah suatu usaha untuk memasukkan kateter ke dalam rongga
pleura dengan maksud untuk mengeluarkan cairan yang terdapat di dalam rongga

pleura, seperti misalnya pus pada empisema atau untuk mengeluarkan udara yang
terdapat di dalam rongga pleura, misalnya pneumotoraks. Bedanya tindakan
WSD dengan tindakan punksi atau thorakosintesis adalah pemasangan kateter /
selang pada WSD berlangsung lebih lama dan dihubungkan dengan suatu botol
penampung.
Pemasangan WSD ini dengan indikasi sebagai berikut ;
- Pneumothorak , Hemothoraks , Efusi pleura , Empiema
- Dengan tujuan pemasangan yaitu :
Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura,
Untuk mengembalikan tekanan negatif pada rongga pleura,
Untuk mengembangkan kembali paru yang kolaps dan kolaps sebagian,
Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.
B. Rumusan Masalah
Ada pun rumusan masalah yang di jelaskan pada makalah ini, sebagai
berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Apa definisi dari Water Seal Drainage ( WSD ) ?


Apa Indikasi pemasangan WSD ?
Apa tujuan dari pemasangan WSD ?
Bagaimana penatalaksanaannya ?
Apa Asuhan Keperawatan yang diberikan ?

C. Tujuan Penelitian
1.
2.
3.
4.
5.

Tujuan yang di inginkan dalam pembuatan makalah ini, sebagai berikut:


Untuk mengetahui pengertian/definisi WSD.
Untuk mengetahui indikasi pemasangan WSD.
Untuk mengetahui tujuan pemasangan WSD.
Untuk mengetahui penatalaksanaan klien dengan WSD.
Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan seperti apa yang akan diberikan pada
klien dengan WSD.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian WSD
WSD (Water Seal Drainage) merupakan tindakan invasif yang dialakukan
untuk mengeluarkan udara, cairan (darah, pus) dari rongga pleura, rongga thoraks,
dan mediastinum dengan menggunakan pipa penghubung (wilikpedia).
Indikasi pemasangan WSD :
1. Hemotoraks, efusi pleura.
2. Pneumotoraks ( > 25 % ).
3. Profilaksis pada pasien trauma dada yang akan dirujuk.
4. Flail chest yang membutuhkan pemasangan ventilator.
5. Bedah paru
karena ruptur pleura udara dapat masuk ke dalam rongga pleura.
reseksi segmental msalnya pada tumor, TBC.

lobectomy, misal pada tumor, abses, TBC.


B. Prinsip Prinsip Dasar
Mekanisme pernafasan normal bekerja atas prinsip tekanan negative; yaitu,
tekanan dalam rongga dada adalah lebih rendah dari tekanan atmosfer, sehingga
menyebabkan udara untuk bergerak ke dalam paru selama inspirasi. Bila mana
dada di buka untuk alasan apa saja, terjadi kehilangan tekanan negative, yang
dapat mengakibatkan kolaps paru. Penumpukan udara, cairan, atau substansi lain
dalam dada dapat mengganggu fungsi kardio pulmonal dan bahkan menyebabkan
paru kolaps. Substansi patologi yang terkumpul dalam spasium pleura termasuk
fibrin, atau bekuan darah; cairan (cairan serosa, darah, pus, kilus; dan gas-gas
(udara dari paru, pohon trakeo bronkeal, atau esophagus).
Tindakan

pembedahan

pada

dada

hampir

selalu

menyebabkan

pneumotoraks. Udara dan cairan yang terkumpul dalam rongga intrapleura dapat
membatasi ekspansi paru dan mengurangi pertukaran gas. Setelah tindakan
operasi, perlu mengevakuasi dan mempertahankan tekanan negative dalam
ruangan pleura. Dengan demikian selama dan segera setelah pembedahan toraks,
kateter dada diletakkan secara strategis pada ruangan pleura, dijahit pada kulit
dan dihubungkan dengan alat drainase untuk mengeluarkan sisa udara atau cairan
dari ruangan pleura maupun mediastinum.
WSD merupakan pipa khusus yang dimasukkan ke rongga pleura dengan
perantaraan trokar atau klem penjepit bedah.
Tindakan WSD (Water Seal Drainage) atau yang disebut juga dengan
Chest-Tube (pipa dada) adalah suatu usaha untuk memasukkan kateter ke
dalam rongga pleura dengan maksud untuk mengeluarkan cairan yang terdapat di
dalam rongga pleura.
Penyulit pemasangan WSD adalah perdarahan dan infeksi atau super
infeksi. Oleh karena itu pada pemasangan WSD harus diperhatikan anatomi
pembuluh darah interkostalis dan harus diperhatikan sterilitas.
Tempat pemasangan WSD :

1. Bagian apeks paru ( apikal ).


2. Anterolateral interkosta ke 1- 2 untuk mengeluarkan udara bagian basal.
3. Posterolateral interkosta ke 8 9 untuk mengeluarkan cairan (darah, pus).
C. Tujuan Pemasangan WSD
Tujuan dilakukan pemasangan WSD pada pasien, antara lain :
1. Memungkinkan cairan ( darah, pus, efusi pleura ) keluar dari rongga pleura.
2. Memungkinkan udara keluar dari rongga pleura.
3. Mencegah udara masuk kembali ke rongga pleura yang dapat menyebabkan
pneumotoraks.
4. Mempertahankan agar paru tetap mengembang dengan jalan mempertahankan
tekanan negatif pada intra pleura.
D. Jenis-jenis WSD
1. WSD dengan satu botol
Sistem ini terdiri dari satu botol dengan penutup segel. Penutup
mempunyai dua lobang, satu untuk ventilasi udara dan lainnya memungkinkan
selang masuk hampir ke dasar botol.
Keuntungan :
Penyusunannya sederhana.
Mudah untuk pasien yang berjalan.
Kerugian :
Saat drainase dada mengisi botol lebih banyak kekuatan yang diperlukan.
Untuk terjadinya aliran tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol.
Campuran darah dan drainase menimbulkan busa dalam botol yang
membatasi garis pengukuran drainase.
2. WSD dengan dua botol
Pada sistem dua botol, botol pertama adalah sebagai botol penampung
dan yang kedua bekerja sebagai water seal. Pada sistem dua botol, penghisapan
dapat dilakukan pada segel botol dalam air dengan menghubungkannya ke
ventilasi udara.
Keuntungan :
Mempertahankan water seal pada tingkat konstan.
Memungkinkan observasi dan pengukuran drainage yang lebih baik.

Kerugian :
Menambah areal mati pada sistem drainage yang potensial untuk masuk ke
dalam area pleura.
Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol.
Mempunyai batas kelebihan kapasitas aliran udara pada kebocoran udara.
3. WSD dengan tiga botol
Pada sistem tiga botol, botol kontrol penghisap ditambahkan ke sistem
dua botol. Botol ketiga disusun mirip dengan botol segel dalam air. Pada sistem
ini yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ketiga dan
bukan jumlah penghisap di dinding yang menentukan jumlah penghisapan yang
diberikan pada selang dada. Jumlah penghisap di dinding yang diberikan pada
botol ketiga harus cukup unutk menciptakan putaran-putaran lembut gelembung
dalam botol. Gelembung kasar menyebabkan kehilangan air, mengubah tekanan
penghisap dan meningkatkan tingkat kebisingan dalam unit pasien. Untuk
memeriksa patensi selang dada dan fluktuasi siklus pernafasan, penghisap harus
dilepaskan saat itu juga.
Keuntungan :
Sistem paling aman untuk mengatur pengisapan.
Kerugian :
Lebih kompleks, lebih banyak kesempatan untuk terjadinya kesalahan dalam
perakitan dan pemeliharaan.
Sulit dan kaku untuk bergerak / ambulansi.
System drainase selang dada

Sistem

Satu Botol

Keuntungan

Kerugian

Mempertahankan water
seal pada tingkat konstan.
Memungkinkan observasi
dan pengukuran crainase
yang lebih baik

Saat drainase dada


mengisi botol, lebih
banyak kekuatan
diperlukan untuk
memungkinkan udara dan
cairan pleura keluar dari

Dua Botol

Mempertahankan water
seal pada tingkat konstan.
Memungkinkan observasi
dan pengukuran crainase
yang lebih baik

Tiga Botol

System paling aman untuk


mengatur penghisapan

Unit water seal


-sekali pakai

Plastic dan tidak mudah


pecah seperti botol

Flutter valve

Ideal untuk transport


karena segel air
dipertahankan bila unit
terbalik Kurang satu ruang
untuk mengisis Tak ada
masalah dengan

dada masuk ke botol.


Campuran darah darinase
dan udara menimbulkan
campuran busa dalam
botol yang membatasi
garis pengukuran
drainase. Untuk terjadinya
aliran, tekanan pleural
harus lebih tinggi dari
tekanan botol.
Menambah area mati pada
system drainase yang
mempunyai potensial
untuk masuk ke dalam
area pleural Untuk
terjadinya aliran, tekanan
pleural harus lebih tinggi
dari tekanan botol
Mempunyai batas
kelebihan kapasitas aliran
udara pada adanya
kebocoran pleural
Lebih kompleks, lebih
banyak kesempatan untuk
terjadinya kesalahan
dalam perakitan dan
pemeliharaan
Mahal
Kehilangan water seal dan
keakuratan pengukuran
drainase bila unit terbalik
Mahal
Katup berkipas tidak
memberikan informasi
visual pada tekanan
intrapleural karena tak ada
fluktuasi air pada ruang

Screw valve

Calibrated spring
mechanism

penguapan air Penurunan


kadar kebisingan
Ideal untuk transport
karena segel air
dipertahankan bila unit
terbalik Kurang satu ruang
untuk mengisis Tak ada
masalah dengan
penguapan air Penurunan
kadar kebisingan

Sama dengan diatas


Mampu mengatasi volume
besar

water seal
Mahal
Katup berkipas tidak
memberikan informasi
visual pada tekanan
intrapleural karena tak ada
fluktuasi air pada ruang
water seal
Katup sempit membatasi
jumlah volume yang dapat
diatasinya, tidak efisien
untuk kebocoran udara
pleural besar
Mahal

4. Unit drainage sekali pakai


a. Pompa penghisap Pleural Emerson
Merupakan pompa penghisap yang umum digunakan sebagai
pengganti penghisap di dinding. Pompa Penghisap Emerson ini dapat
dirangkai menggunakan sistem dua atau tiga botol.
Keuntungan :
Plastik dan tidak mudah pecah.
Kerugian :
Mahal.
Kehilangan water seal dan keakuratan pengukuran drainage bila unit
terbalik.
b. Fluther valve
Keuntungan :
Ideal untuk transport karena segel air dipertahankan bila unit terbalik.
Kurang satu ruang untuk mengisi.

Tidak ada masalah dengan penguapan air.


Penurunan kadar kebisingan.
Kerugian :
Mahal.
Katup berkipas tidak memberikan informasi visual pada tekanan intra
pleural karena tidak adanya fluktuasi air pada ruang water seal.
c. Calibrated spring mechanism
Keuntungan :
Idem.
Mampu mengatasi volume yang besar.
Kerugian :
Mahal
5. WSD selang dada
Selang dada di kategorikan sebagai pleura atau mediastinal tergantung
pada lokasi ujung selang. Pasien dapat di pasang lebih satu selang pada lokasi
yang berbeda tergantung tujun selang. Selang yang lebih besar (20-36 french)
digunakan untuk mengalirkan darah aatu drainse pleura yang kental. Selang
yang lebih kecil (16-20 french) di gunakan untuk membuang udara.
E. Pemasangan WSD
1. Persiapan alat
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Sarung tangan steril


Doek steril
Spuit 5 cc steril
Pisau bedah steril
Klem arteri lurus 15-17 cm steril
Klem pemegang jarum (naadl voerder) da jarum jahit kulit yang steril
Benang sutera steril untuk jahitan kulit 4 x 25 cm
Selang untuk drain yang steril

2. Cara pemasangan selang WSD


a) Bila mungkin penderita dalam posisi duduk. Bila tidak mungkin setengah
duduk, bila tidak mungkin dapat juga penderita tiduran dengan sedikit
miring ke sisi yang sehat.
b) Tentukan tempat untuk pemasangan WSD. Bila di sebelah kanan, di sela iga
( s.i ) VII atau VIII, kalau di sebelah kiri di s.i VIII atau IX linea aksilaris

posterior atau kira-kira sama tinggi denga sela iga dari angulus inferius
scapulae. Bila di dada bagian depan dipilih s.i II di garis midklavikuler
kanan atau kiri.
c) Ditentukan kira-kira tebal dinding torax.
d) Secara steril diberi tanda pada selat WSD dari lubang terakhir selang WSD
tebal dinding toraks ( misalnya dengan ikatan benang).
e) Cuci tempat yang akan dipasang WSD dan sekitarya dengan cairan annti
septic.
f) Tutup dengan duke steril.
g) Daerah tempat masuk WSD dan sekitarnya dianestesi setempat secara
h)
i)
j)
k)

infiltrate dan block.


Insisi kulit subkutis dan otot dada di tengah s.i.
Irisan diteruskan secara tajam ( tusukan ) menembus pleura.
Dengan klem arteri lurus lubang diperlebar secara tumpul.
Selang WSD diklem dengan arteri klem dan didorong masuk ke rongga

pleura (sedikit dengan tekanan).


l) Fiksasi selang WSD sesuai dengan tanda pada selang WSD.
m)Daerah luka dibersihkan dan diberi zalf steril agar kedap udara.
n) Selang WSD disambung dengan botol SD steril.
o) Bila mungkin dengan continous suction dengan tekanan -24 sampai -32 cm
air.
3. Perawatan luka WSD
a) Verbang diganti tiga hari sekali
b) Diberi zalf steril
4. Perawatan selang dan botol WSD
a) Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari diukur berapa cairan yang
keluar kalau ada dicatat.
b) Cairan di botol WSD adalah cairan antiseptic.
c) Setiap hendak mengganti botol dicatat berapa pertanbahan cairan.
d) Setiap hendak mengganti dicatat undulasi ada atau tidak.
Bila undulasi tidak ada, ini mempunyai makna yang sangat penting
karena beberapa kondisi dapat terjadi antara lain :
1) Motor suction tidak jalan.
2) Selang tersumbat atau terlipat.
3) Motor suction tidak jalan.

4) Selang tersumbat atau terlipat.


5) Paru-paru telah mengembang.
Oleh karena itu harus yakin apa yang menjadi penyebab, segera periksa
kondisi sistem drainase, amati tanda-tanda kesulitan bernafas.
e) Setiap hendak mengganti dicatat adanya gelembung udara yang keluar dari
WSD.
f) Penggantian botol harus tertutup untuk mencegah udara masuk ke dalam
ronggan pleura yang mengklem selang atau dilipat dan diikat dengan karet.
g) Setiap penggantian botol atau selang harus memperhatikan sterilitas botol
dan selang harus tetap steril.
h) Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri sendiri
dengan memakai sarung tangan.
5. Indikasi pengangkatan selang dada
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Satu hari berhentinya kebocoran udara


Drainase < 50-100 cc ciran/hari
1-3 hari pasca oprasi jantug
2-6 hari pasca oprasi thorax
Obliterasi rogga empiema
Drainase serosenglinosa (keouarnya cairan serous) dari sekitar sisi
pemasangan selang dada.

6. Paru
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Dengan WSD paru diharapkan paru mengembang.


Control pengembangan paru dengan pemeriksaan fisik dan radiologic.
Latihan nafas ekspirasi dan inspirasi yang dalam.
Latihan batuk yang efisien .
Pemberian antibiotika.
Ekspektoran cukup obat batuk hitam (OBH).

7. Dinyatakan berhasil bila :


a) Paru sudah mengembag penuh pada pemeriksaan fisik atau radiologi.
b) Darah cairan tidak keluar dari WSD.
c) Tidak ada pus pada selang WSD (tidak ada empiema)
8. Mengangkat WSD
a) Disediakan alat-alat untuk mengangkat jahitan kulit yang steril.

b) Kain kassa steril.


c) Zalf steril.
d) Teknik :
1) Angkat jahitan.
2) Pasien disuruh bernafas dalam.
3) Pada waktu ekspirasi dalam dan menahannya, WSD di angkat dengan
menutup kain kassa steril yang mengandung zalf steril.
9. Dikatakan baik dan dapat dipulangkan bila :
a) Keadaan umum memungkinkan.
b) Pada control 1-2 hari pasca pengaangkatan WSD, paru tetap mengembang
penuh.
c) Tanda-tanda infeksi atau empiema tidak ada.
F. Asuhan Keperawatan dengan WSD
1. Pengkajian
a. Sirkulasi
Takikardi, irama jantung tidak teratur ( disritmia )
Suara jantung III, IV, galop / gagal jantung sekunder
Hipertensi / hipotensi
b. Nyeri
Subyektif :
Nyeri dada sebelah
Serangan sering tiba-tiba
Nyeri bertambah saat bernafas dalam
Nyeri menyebar ke dada, badan dan perut
Obyektif :
Wajah meringis
Perubahan tingkah laku
c. Respirasi
Subyektif :
Riwayat sehabis pembedahan dada, trauma

Riwayat penyakit paru kronik, peradangan, infeksi paru, tumor, biopsi


paru.
Kesulitan bernafas
Batuk
Obyektif :
Takipnoe
Peningkatan kerja nafas, penggunaan otot bantu dada, retraksi interkostal.
Fremitus fokal
Perkusi dada : hipersonor
Pada inspeksi dan palpasi dada tidak simetris
Pada kulit terdapat sianosis, pucat, krepitasi subkutan
d. Rasa aman
Riwayat fraktur / trauma dada
Kanker paru, riwayat radiasi / khemotherapi
e. Pengetahuan
Riwayat keluarga yang mempunyai resiko tinggi seperti TB, Ca.
Pengetahuan tentang penyakit, pengobatan, perawatan.
2. Diagnosa
a) Tidak efektifnya pola nafas sehubungan dengan :
Penurunan ekspansi paru
Penumpukan sekret / mucus
Kecemasan
Proses peradangan
Ditandai dengan :
Dyspnoe, takipnoe
Nafas dalam

Menggunakan otot tambahan


Sianosis, arteri blood gas abnormal ( ABGs )
Kriteria evaluasi
Pernafasan normal / pola nafas efektif dengan tidak adanya sianosis,
gejala hipoksia dan pemeriksaan ABGs normal.
3. Intervensi
a) Intervensi keperawatan dan rasionalisasi
Independen
Identifikasi faktor presipitasi, misal :
Kolaps spontan, trauma keganasan, infeksi komplikasi dari mekanik
pernafasan
Memahami penyebab dari kolaps paru sangat penting untuk mempersiapkan
WSD pada ( hemo/pneumotoraks ) dan menentukan untk terapi lainnya.
b) Evaluasi fungsi respirasi, catat naik turunnya/pergerakan dada, dispnoe, kaji
kebutuhan O2, terjadinya sianosis dan perubahan vital signs.
Tanda-tanda kegagalan nafas dan perubahan vital signs merupakan
indikasi terjadinya syok karena hipoksia, stress dan nyeri.
c) Auskultasi bunyi pernafasan
Kemungkinan akibat dari berkurangnya atau tidak berfungsinya lobus,
segmen, dan salah satu dari paru-paru
Pada daerah atelektasis suara pernafasan tidak terdengar tetapi bila hanya
sebagian yang kolaps suara pernafasan tidak terdengar dengan jelas.
Hal tersebut dapat menentukan fungsi paru yang baik dan ada tidaknya
atelektasis paru.
d) Catat pergerakan dada dan posisi trakea
Pergerakan dada yang terjadi pada saat inspirasi maupun ekspirasi tidak
sama dan posisi trakea akan bergeser akibat adanya tekanan peumotoraks.

e) Kaji fremitus
Suara dan fibrasi fremitus dapat membedakan antara daerah yang terisi
cairan dan adanya pemadatan jaringan
f) Bantu pasien dengan menekan pada daerah yang nyeri sewaktu batuk dan
nafas dalam
Dengan penekanan akan membantu otot dada dan perut sehingga dapat
batuk efektif dan mengurangi trauma.
g) Pertahankan posisi yang nyaman dengan kepala lebih tinggi dari kaki
Miringkan dengan arah yang sesuai dengan posisi cairan / udara yang ada
di dalam rongga pleura
Bantu untuk mobilisasi sesuai dengan kemampuannya secara bertahap
dan beri penguatan setiap kali pasien mampu melaksanakannya.
Mendukung untuk inspirasi maksimal, memperluas ekspirasi paru-paru dan
ventilasi.
h) Bantu

pasien

untuk

mengatasi

kecemasan

/ketakutan

dengan

mempertahankan sikap tenang, membantu pasien untuk mengontrol dengan


nafas dalam.
Kecemasan disebabkan karena adanya kesulitan dalam pernafasan dan
efek psikologi dari hipoksia.
4. Implementasi
a. Penatalaksanaan
1) Mengisibilik bilik waterseal dengan air steril dengan ketinggia yang sama
dengan 2 cm H2O.
2) Jika di gunkan penghisap,isi bilik control penghisap dengan air steril
dengan ketiggian 20cm atau sesuai yang di haruskan.
3) Sambungkan kateter drainase dari ruang pleural (pasien) keselang yang
datang dari bilik pengumpul dari system water seal. Plester dengan baik.

4) Jika di gunakan penghisap,hubugkan selag bilik control penghisap ke unit


penghisap. Nyalakan unit peghisap dan naikan tekanan sampai timbul
gelembung secara lambat namun tetap dalam bilik control penghisap.
5) Tandai ketinggian cairan awal pada bagian luar unit dreinase. Tandai
peningkatan setiap jam/hari (taggal dan waktu) pada ketiggian dreinase.
6) Pastikan bahwa selang tidak meggulung atau mengganggu gerakan
pasien.
7) Berikan dorongan pasien untuk mencari posisi yng nyaman. Berikan
dorongan untuk mengambil posisi kelurusan tubuh yag baik. Jika pasien
berbaring dalam posisi lateral,pastikan bahwa selang tidak terteka oleh
berat badan pasien. Berikan dororngan pada pasien untuk mengubah
posisi degan sering.
8) Lakukan latihan rentang gerak untuk lengan dan bahu dari sisi yang sakit
beberapa kali sehari. Obat nyeri tertentu mungkin diperlukan.
9) Dengan perlahan perah selang dengan arah bilik drainase sesuai
kebutuhan.
10) Pastikan adanya fluktuasi dari ketinggian cairan dalam bilik water seal.
11) Fluktuasi cairan dalam selang akan berhenti bila
a) Paru telah terekspansi
b) Selang tersumbat oleh bekuan darah atau fibrin, atau selang kusut
c) Terjadi loop dependen
d) Motor pengisap atau dinding tidak bekerja dengan baik
12) Amati terhadap kebocoran udara dalam system drainase sesuai yang
diindikasikan oleh gelembung konstan dalam bilik water seal.
13) Observasi dan laporkan dengan segera pernapasan dangkal, cepat;
sianosis; tekanan dalam dada; emvisema subkutan; gejala-gejala
hemoragi; perubahan yang signifikan dalam tanda-tanda vital.
14) Berikan dorongan pada pasien untuk napas dalam dan batuk pada
interval yang teratur. Berikan obat yeri yang adekuat. mintakan pesanan
untuk pompa PCA jika diperlukan. Instruksikan dalam penggunakan
spirometri insentif.
15) Jika pasien harus dipindahkan ke area lain, letakan system drainase di
bawah ketinggian dada, jika pasien berbaring pada brankar. Jika selang
terlepas, gunting ujung yang terkontaminasi dari selang dada dan selang,

pasang konektor steril dalam selang dada dan selang, sambungkan


kembali ke system drainase. Jangan mengklem selang dada selama
memindahkan pasien.
16) Ketika membantu dokter bedh dalam melepaskan selang:
a) Instuksikan pasien untuk melakukan maneuver valsalva dengan
lambat dan bernapas dengan tenang
b) Selang dada diklem dan dengan cepat dilepaskan
c) Secara bersamaan, balutan kecil dipasangkan dan buat kedap udara
dengan menutupkan kasa petrolaktum dengan bantalan kasa 10x10
cm, dan tutupi dan rapatkan secara menyeluruh dengan plester adesif.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah tindakan pemasangan Water Seal
Drainage (WSD) merupakan suatu tindakan untuk mengalirkan udara, cairan secara
bertahap dari rongga pleura, dengan cara memasukkan pipa/ selang WSD atau suatu

usaha untuk memasukkan kateter ke dalam rongga pleura dengan maksud untuk
mengeluarkan cairan yang terdapat di dalam rongga pleura, seperti misalnya pus pada
empisema atau untuk mengeluarkan udara yang terdapat di dalam rongga pleura,
misalnya pneumotoraks. Bedanya dengan tindakan torakosentesis adalah kateter
dipasang pada dinding toraks dalam waktu yang lama dan dihubungkan dengan suatu
botol penampung.

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika

Tamsuri, Anas. 2008. Klien dengan Gangguan Pernapasan. Jakarta: EGC


Ward, Jeremy P.T dkk. 2006. At a Glance Sistem Respirasi. Jakarta: Erlangga
Rizky, Frizka. Askep WSD. 3 Juni 2011.
http://nsfrizcarizky.blogspot.com/2011/06/frizca-rizky-askep-wsd.html , 26
Maret 2012, pukul 21.38.
Rofiq, Ahmad. Water Seal Drainage. 29 Januari 2008.
http://rofiqahmad.wordpress.com/2008/01/29/water-seal-drainage/ , 26
Maret 2012, pukul 21.33.