Anda di halaman 1dari 26

1

I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada kondisi alami, ternak hidup berkeliaran dan melakukan semua
aktivitasnya di alam bebas. Kebutuhan hidupnya tergantung pada kondisi yang
disediakan oleh alam. Karena itu, produktivitasnya sangat rendah akibat banyaknya
kendala dan kondisi genetis ternak tersebut. Sementara pada pemeliharaan secara
intensif,

ternak

dibatasi

aktivitasnya

yang

bertujuan

untuk

meningkatkan

produktivitas ternak, dan efisiensi dalam pemeliharaan ternak. Pada pemeliharaan


secara intensif untuk membatasi aktivitas ayam, pemeliharaan dilakukan di dalam
kandang. Kandang harus mampu menyediakan suatu lingkungan yang nyaman bagi
ternak dan memudahkan pengelolaan sehingga ayam mampu berproduksi secara
maksimal sesuai potensi genetis dengan pengelolaan yang efisien.
Kandang serta peralatan yang ada di dalamnya merupakan sarana pokok untuk
terselenggarakannya pemeliharaan ayam secara intensif, berdaya guna dan berhasil
guna. Ayam akan terus-menerus berada di dalam kandang, maka dari itu kandang
harus dirancang dan ditata agar memberikan kebutuhan hidup yang sesuai bagi ayamayam yang berada di dalamnya. Bahan dan konstruksi kandang merupakan suatu hal
yang perlu mendapat perhatian dalam sistem perkandangan. Hal ini berhubungan
dengan terciptanya suatu kondisi microklimat yang lebih sesuai dengan tingkat
kebutuhan fisiologis ayam.

Konstruksi kandang juga merupakan aspek yang berhubungan dengan


aktivitas ternak yang tergambar dari tingkahlaku sesuai dengan fase pertumbuhan
atau tingkat produksi dan tujuan produksi dari ternak. Sehubungan dengan hal ini
khususnya yang menyangkut dengan bahan dan konstruksi perkandangan merupakan
hal penting yang perlu dipahami.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.
2.

Agar mahasiswa mengetahui jenis dan bentuk dari peralatan kandang unggas.
Agar mahasiswa mengetahui kegunaan dari peralatan kandang unggas.

1.3 Waktu dan Tempat


Pelaksaan praktikum dilakukan pada tanggal 2 Mei 2016 pukul 07.30- 09.30
di Local Chicken Breeding Test Farm Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
Sumedang.

II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perkandangan
kandang ternak adalah bangunan yang dapat digunakan untuk melindungi
ternak dari pengaruh cuaca buruk, seperti hujan, panas matahari, angin kencang dan
gangguan lainnya. Selain hal tersebut, kandang ternak pun memiliki fungsi lainnya
yang sangat penting dan berlaku untuk semua jenis ternak unggas (ayam ras
pedaging, ayam ras petelur, ayam kampung pedaging, ayam kampung petelur, itik
pedaging, itik petelur, dan puyuh), ternak ruminansia (sapi pedaging, sapi perah,
kerbau, domba, kambing pedaging dan kambing perah, dan ternak monogastrik
(kuda, babi dan kelinci).
Pada pemeliharaan secara intensif untuk membatasi aktivitas ternak, maka
pemeliharaan dilakukan di dalam kandang (Suprijatna, dkk, 2008). Kandang yang
baik akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan konversi pakan, laju
pertumbuhan dan kesehatan ternak (Sudarmano dkk, 2003).
Kandang merupakan salah faktor yang harus diperhatikan pada usaha
peternakan, selain faktor bibit ternak, pakan, penyakit ternak, limbah dan panen.
Kandang adalah salah satu kebutuhan penting dalam bisnis peternakan. Fungsi utama
kandang adalah untuk menjaga supaya ternak tidak berkeliaran dan memudahkan
pemantauan serta perawatan ternak. Terdapat banyak sekali jenis kandang, baik
berdasarkan tipe maupun bahan yang digunakan untuk membuat kandang tersebut,
sedangkan penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan. secara tidak langsung
kandang juga mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil peternakan. Kandang yang
fungsional akan menambah pendapatan bagi para pemiliknya.

2.2 Peralatan Kandang


Peralatan adalah benda yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan
sehari-hari, sedangkan kandang ternak adalah bangunan yang dapat digunakan untuk
melindungi ternak dari pengaruh cuaca buruk, seperti hujan, panas matahari, angin
kencang dan gangguan. Jadi, alat perkandangan adalah alat-alat yang digunakan
untuk keberlangsungan hidup ternak dan juga untuk membantu peternak dalam
memelihara ternaknya itu sendiri (Mulyanti, 2010).
Peralatan perkandangan untuk peternakan ayam ada bermacam-macam seperti
tempat pakan yang digunakan selama proses pemeliharaan mulai dari 1 hari sampai
panen, lalu tempat minum dan tempat minum itu sendiri ada dua bentuk yaitu
berbentuk bundar dan panjang, dengan standar dringking space yang sama yaitu
tempat minum manual memanjang standar 1 cm/ekor dan tempat minum manual
bundar standar 1 cm/ekor, alat pemanas, termometer untuk mengukur suhu, tirai
kandang untuk menahan udara, chicken guard/ pagar pembatas untuk membatasi
ruang gerak ayam dan juga litter atau alas untuk menyerap air dan memberi panas dan
nyaman (Soeparmo, 1994).
Peralatan kandang yang digunakan dalam peternakan itu sendiri harus
disesuaikan dengan kebutuhan dari ternak, populasi ternaknya dan juga
perekonomian peternaknya itu sendiri. Apabila ternaknya dalam jumlah yang besar,
peralatan kandang yang digunakan haruslah menggunakan peralatan yang canggih,
modern dan otomatis untuk memudahkan peternaknya. Namun, apabila ternak yang
dimiliki dalam jumlah yang kecil lebih baik menggunakan peralatan kandang yang
manual dan biasa agar tidak memerlukan biaya yang besar (Soeparmo, 1994).

III
ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA
3.1 ALAT
1.
2.
3.
4.

Tempat dan makan unggas.


Tempat dan minum unggas.
Alat pemanas (brooder).
Kipas Angin (blower).

3.2 BAHAN
1. Transparasi.

3.3

PROSEDUR KERJA
1. Perhatikan gambar-gambar dan sampel peralatan kandang serta peralatan
pendukung pada proses produksi unggas.
2. Catat oleh saudara keterangan yang dianggap perlu.

IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.1

Hasil Pengamatan
4.1.1

Peralatan Kandang Unggas


Tabel 1. Hasil Pengamatan Peralatan Pakan Unggas

N
N

Nama Alat

1
1

2
2

Gambar Alat

Fungsi Alat

Tempat
Feeder Tray

DOC

Baby Chick

Tempat

Feeder

DOC

Makan

Makan

3
3

4
4

Round

Tempat

Feeder

Ayam

Round
Waterer

5
5

Tempat

Minum

Ayam

Tempat
Drinker Bell

Makan

Ayam

Minum

4.1.2

Hasil Pengamatan Kandang Semi-Close


Tampak Depan

Tampak Samping Kanan

4.1.3

Pembahasan
4.2.1
1.

Peralatan Kandang Unggas

Tempat Pakan
Dalam tempat pakan unggas memiliki berbagai macam bentuk dan ukuran.

Bentuk makanan pada dasarnya berbentuk bulat (round) dan bentuk memanjang
(through). Bentuk makanan bulat yang konvensional disebut round feeder serta
tempat makan bulat yang digantung disebut hanging feeder. Tempat makan ayam
untuk DOC berbentuk baki dan disebut dengan feeder tray. Terdapat juga tempat
pakan DOC yang mungkin lebih modern lebih efisien dalam pemberian pakan
terhadap DOC, tempat pakan itu ialah baby chick feeder. Tempat makanan unggas
yang berbentuk memanjang jarang digunakan karena kurang praktis dan memakan
tempat. (Rasyaf, 2000)
Baby Chick Feeder
Pada hasil pengamatan mengenai tempat pakan unggas didapatkan
salah satu alat yang dinamakan baby chick feeder. Baby chick feeder merupakan
tempat pakan yang dapat digunakan untuk DOC, biasanya tempat pakan yang
menggunakan baby chick feeder adalah peternak kemitraan. Tempat pakan jenis ini
berbentuk seperti mangkuk dengan piringan dibawahnya dan berwarna kuning. Mazia
(2009) menyatakan bahwa baby chick feeder merupakan salah satu jenis tempatpakan
unggas umur 1 hari sampai umur tertentu.
Feeder Tray
Pada hasil pengamatan mengenai tempat pakan unggas didapatkan
salah satu alat yang dinamakan feeder tray. Feeder tray merupakan tempat pakan
yang biasa digunakan untuk DOC, namun kekurangan dari feeder tray ini sendiri

10

mudah kotor dan pakan dapat terbuang, karena pada tempat pakan ini berbentuk
nampan dan mudah untuk DOC masuk kemudian mengeluarkan feses didalam feeder
tray ini, sehingga pakan yang tersisa tidak bisa di konsumsi lagi oleh DOC.
Tempat pakan jenis ini berbentuk lingkaran berwarna kuning. Rasyaf (2000)
menyatakan bahwa feeder tray merupakan tempat pakan yang digunakan pada ayam
umur 1 hari sampai satu atau dua minggu dengan kapasitas 100 DOC/buah.
Round Feeder
Pada hasil pengamatan mengenai tempat pakan unggas didapatkan salah satu
alat yang dinamakan round feeder. Round feeder merupakan tempat pakan yang biasa
digunakan untuk ayam dewasa, biasanya round feeder ini digantung atau disebut
Hanging Feeder. Tempat pakan jenis ini berwarna kuning. Rasyaf (2000) menyatakan
bahwa pada umumnya ayam dewasa menggunakan tempat pakan jenis round feeder
dengan kapasitas berbeda-beda.
Through Feeder
Through feeder ini merupakan tempat pakan unggas dengan berbentuk
memanjang yang biasanya digunakan oleh ayam petelur dan ayam kampung, dengan
kapasitas standarnya digunakan 5 cm perekor Rasyaf (2000). Pada pakan memanjang
ini terdapat beberapa kekurangan yang sehingga jarang digunakan oleh para peternak.
Selain memakan tempat long feeder ini juga kurang praktis karena apabila pakan
sudah habis peternak harus mengisi kembali long feeder tersebut beberapa kali.

11

2.

Tempat Minum
Tempat minum untuk ayam ataupun unggas terdapat berbagai bentuk dan

ukuran. Terdapat yang berbentuk bulat (round waterer) atau drinker bell terdapat
berbagai ukuran yaitu 600 ml, 1 liter, 1 dan 2 gallon. Selain itu adapula yang
berbentuk cup, niple dan kombinasinya.
Round Waterer
Pada hasil pengamatan mengenai tempat minum unggas didapatkan salah satu
alat yang dinamakan round waterer. Round waterer merupakan tempat minum manual
yang biasa digunakan. Tempat minum jenis ini berbentuk seperti galon berwarna
putih dengan wadah berbentuk piring berwarna merah.

Kekurangan pada tempat

minum yang memakai round waterer ini untuk persediaannya harus masih diisi ulang
oleh para peternak, sehingga membutuhkan tenaga kerja. Mazia (2009) menyatakan
bahwa ayam yang sudah berumur lebih dari 2 minggu menggunakan tempat minum
round waterer dengan kapasitas yang bervariasi.
Drinker Bell
Pada hasil pengamatan mengenai tempat minum unggas didapatkan salah satu
alat yang dinamakan drinker bell. Drinker bell merupakan tempat minum otomatis
yang dapat digunakan. Kelebihan dari tempat minum dengan menggunakan Drinker
Bell yaitu dapat menghemat tenaga dan persediaannya adlibitum, tempat minum jenis
ini berwarna merah. Mazia (2009) menyatakan bahwa ayam yang sudah berumur 2
minggu dapat menggunakan tempat minum otomatis yang circumference 110 cm
untuk kapasitas 50-75 ekor/buah.

12

3.

Alat Pemanas (Brooder)


Indukan buatan atau juga alat pemanas yang disebut brooder, sebenarnya

merupakan alat berbentuk bundar atau persegi empat yang didalamnya terdapat alat
pemanas, bisa dari kompor minyak, lampu pijar, batu bara atau gas. Fungsi pemanas
adalah untuk menghangatkan anak ayam yang masih muda atau yang masih berumur
antara 1 hari hingga sekitar 2-3 minggu. Karena fungsinya menyerupai induk ayam,
makanya bisa disebut sebagai "indukan buatan".
Gasolec
Pada hasil pengamatan mengenai alat pemanas unggas didapatkan salah satu
pemanas unggas bersumber gas atau disebut gasolec. Alat pemanas berfungsi untuk
menghangatkan unggas apabila mengalami kedinginan. Murtidjo (1997) menyatakan
bahwa gasolec cocok digunakan pada pemeliharaan anak ayam di kandang postal
yang berkapasitas lebih dari 100 ekor anak ayam. Mazia (2009) menyatakan bahwa
alat pemanas dapat bersumber dari listrik, gas, minyak tanah, batu bara, kayu bakar,
dan serbuk gergaji.
Lampu Bohlam/Dop
Lampu bohlam ini digunakan untuk menghangatkan sejumlah kecil DOC
dengan cara menggantungkan lampu bohlam 60 atau 100 watt. Fungsi bohlam lebih
kearah penerangan karena untuk pemanas membutuhkan energi yang besar sehingga
dari segi biaya tidak menguntungkan. Disamping itu, diperlukan pemanas alternatif
untuk mengantisipasi terjadinya listrik padam dan juga bohlam mudah pecah.
Kelebihan menggunakan bohlam adalah tidak membutuhkan oksigen, tidak beresiko
kebakaran dan mudah diatur untuk memperoleh panas yang dibutuhkan.

13

Chick Guard
Pada hasil pengamatan mengenai chick guard diketahui fungsi dari chick
guard yaitu untuk sekat atau pembatas ayam. Haryanto dkk (2012) menyatakan
bahwa chick guard berfungsi sebagai sekat supaya anak ayam tidak berkeliaran kelain
tempat, serta untuk memfokuskan panas brooder. Mazia (2009) menyatakan bahwa
tinggi pembatas 40-50 cm, prinsipnya tidak mengganggu aktivitas dalam tatalaksana
harian kandang.
Kipas Angin (Blower)
Blower (kipas penghembus angin) yang difungsikan sewaktu cuaca panas,
agar sewaktu udara panas blower ini dapat menyesuaikan dengan suhu atau
kelembaban dalam kandang. Dapat sedikit mengurangi dalam pergatian cuaca seperti
dari malam ke siang, karena itu berperngaruh terhadap produktivitas ayam. Meskipun
telah dilengkapi boat winch dan blower, suhu dan kelembaban dalam kandang masih
sangat dipengaruhi lingkungan luar karena sifatnya yang terbuka. Krisnawan (2012)
menyatakan bahwa kipas atau blower dipasang untuk menghembuskan angin segar
dalam kandang.
Exhaust Fan
Pada hasil pengamatan mengenai exhaust fan diketahui berfungsi untuk
menyerap udara dari dalam kandang ke luar kandang. Exhaust fan biasanya
digunakan oleh industry peternakan. Krisnawan (2012) menyatakan banyaknya
exhaust fan yang digunakan tergantung dari volume bangunan kandang dan bobot
badan ayam dalam kandang tersebut.

14

Cooling Pad
Pada hasil pengamatan mengenai cooling pad diketahui untuk menjaga
kelembaban dalam kandang. Mazia (2009) menyatakan bahwa cooling pad yaitu
serangkaian alat yang berfungsi sebagai pendingin otomatis atas kerja sinyal dari
perubahan suhu kemudian diteruskan ke panel set point.
4.2.2
1.

Sistem Perkandangan Unggas

Sistem Kandang Open House


Menurut dosen yang membimbing pada saat praktikum, di Indonesia bentuk
kandang yang umum dijumpai adalah kandang sistem terbuka atau open house baik
sistem panggung maupun sistem postal dengan lantai beralasakan sekam, serutan
gergaji kayu, dan beberapa peternak pernah juga menggunakan jerami. Kandang open
house ini banyak digunakan oleh peternak di Indonesia dikarenakan biaya yang
dikeluarkan lebih sedikit dari pada untuk kandang close house, akan tetapi kelemahan
dari jenis kandang ini ialah tidak dapat mengendalikan iklim makro disekitar
kandang. Model kandang tipe open house ini biasanya ditandai dengan banyaknya
jendela maupun ventilasi yang dapat dibuka dan ditutup untuk sirkulasi udara, serta
dalam sistem kandang open house tidak digunakan plavon, blower serta cooling pad
yang dapat mengatur suhu di dalam kandang, karena pada kandang tipe open house
pengaturan suhu selain bergantung pada suhu lingkungan, juga dapat menggunakan
brooder, serta penggunaan ventilasi yang dapat dibuka dan di tutup sesuai dengan
kebutuhan.
Model kandang sistem terbuka memberikan kontribusi yang tidak terlalu
signifikan bila dibandingkan dengan model kandang sistem tertutup namun dalam
keadaan lingkungan yang memiliki suhu lingkungan yang stabil dan tidak terlalu
panas atau dingin seperti di dataran tinggi, akan tetapi memberikan efek yang kurang
baik bila dibandingkan dengan kandang tipe close house pada kondisi lingkungan

15

dalam dataran rendah yang memiliki suhu yang tinggi dan berfluktuatif. Di samping
itu, model kandang sistem terbuka tidak sesuai lagi dengan perkembangan mutu
genetik ayam ras saat ini, yakni ayam dengan strain-strain modern dengan tingkat
pertumbuhan yang cepat bila dibandingkan dengan strain-strain ayam tempo dulu.
Sementara itu, pengetahuan sebagian para peternak akan pentingnya
kesehatan lingkungan untuk meningkatkan kesehatan pribadi juga memberikan
peluang pada renovasi atau rekonstruksi kandang ayam broiler dan layer model
terbuka (open house) ke model tertutup (close house). Namun sejauh ini rekonstruksi
kandang terbuka menjadi kandang tertutup dihadapkan pada kendala modal yang
dimiliki para peternak masih jauh dari cukup untuk pengembangannya. Di samping
itu, kendala lain yang dihadapi peternak adalah teknologi yang dipunyai masih
kurang serta minimnya infrastruktur.
2.

Sistem Kandang Close House.


Kandang sistem tertutup atau close house merupakan sistem kandang yang
harus sanggup mengendalikan iklim mikro di dalam kandang seperti mengeluarkan
kelebihan panas, kelebihan uap air, dan gas-gas yang berbahaya seperti CO, CO2 dan
NH3 yang ada dalam kandang dengan bantuan exhaust fan yang menariknya keluar
kandang dimana exhaust fan ini memiliki sensor suhu yang akan berfungsi sesuai
keadaan suhu dimana suhu meningkat maka kinerja exhaust fan pun akan meningkat
guna mengendalikan iklim mikro di dalam kandang dengan dibantu dengan cooling
pad, tetapi disisi lain dapat menyediakan berbagai kebutuhan oksigen bagi ayam.
Berdasarkan hal tersebut, kandang dengan model sistem tertutup ini diyakini
mampu

meminimalkan

pengaruh-pengaruh

buruk

lingkungan

dengan

mengedepankan produktivitas yang dimiliki ayam. Kandang model tertutup


dimaksudkan untuk meminimalisir kontak antara ayam dengan kondisi lingkungan di
luar kandang. Tujuan pembangunan kandang sistem tertutup adalah menciptakan

16

lingkungan ideal dalam kandang, meningkatkan produktivitas ayam, efisiensi lahan


dan tenaga kerja serta menciptakan usaha peternakan yang ramah lingkungan.
Dengan harapan bahwa dengan lingkungan yang nyaman, ayam yang diternakkan
dapat berproduksi dengan baik dan tinggi kualitas maupun kuantitasnya.
Secara konstruksi, kandang sistem tertutup dibedakan atas dua sistem yakni
pertama sistem tunnel dengan beberapa kelebihan yang dimilikinya seperti
mengandalkan aliran angin untuk mengeluarkan gas sisa, panas, uap air dan
menyediakan oksigen untuk kebutuhan ayam. Sistem tunnel ini lebih cocok untuk
area dengan temperatur maksimal tidak lebih dari 300C.
Sistem kedua adalah evaporative cooling sistem (ECS). Sistem ini
memberikan benefit pada peternak seperti mengandalkan aliran angin dan proses
evaporasi dengan bantuan angin. Sistem kandang tertutup ini hanya cocok untuk
daerah panas dengan suhu udara di atas 350C.
4.2.3

Perbedaan Kandang Open House dan Close House

Beberapa perbedaan mendasar yang terlihat antara kandang close house dan
kandang open house. Dimana kandang open house tidak memiliki cooling pad,
exhaust fan, sensor suhu, plavon, electric debeaking, dan panel control. Dimana
semua peralatan tersebut merupakan peralatan untuk mengontrol iklim mikro yang
terdapat dalam kandang, sedangkan kandang open house hanya memiliki katrol pada
ventilasi yang bisa dibuka tutup atau diturun-naikkan untuk sirkulasi udara dalam
kandang serta mengatur suhu kandang, namun tetap saja suhu kandang secara
keseluruhan bergantung pada lingkungan luar, serta tidak dapat mengendalikan
kandungan ammonia yang ada pada kandang, tidak seperti pada kandang close house
yang dapat mengendalikan suhu, uap air, maupun ammonia dengan bantuan exhaust
fan dan cooling pad yang tersedia dalam kandang.

17

Tabel 2. Pembeda antar tipe kandang Close House dan tipe kandang Open
House.
Tipe Kandang
NO

Pembeda

Close house

Cooling Pad

Exhaust fan

Sensor Suhu

Katrol ventilasi

Plavon

Electric debeaking

Panel control

Open house

Dari pembahasan diatas dapat dilihat bagaimana keunggulan dan kelemahan serta
bagaimana cara pengoperasian kedua tipe kandang tersebut, namun diluar itu ada
beberapa bangunan yang harus ada pada kandang close house maupun open house
yakni :
1. Pagar
Pagar merupakan pembatas kandang dari dunia luar, selain untuk mencegah adanya
pencurian, juga untuk mencegah predator masuk ke dalam kandang yang dapat
membahayakan ternak.
2. Gudang pakan
Gudang merupakan tempat penyimpanan, baik itu pakan maupun peralatan, bangunan
ini merupakan bangunan penting dalam mendukung suatu budidaya peternakan
unggas.
3. Tempat pembakaran

18

Tempat pembakaran ini digunakan untuk membakar bangkai ayam yang mati,
khususnya ayam yang mati terkenan penyakit, baik itu yang bersifat zoonosis maupun
tidak baik yang menular maupun tidak.
4. Lubang pembuangan atau penguburan
Tempat ini digunakan untuk memasukkan bangkai ayam yang telah mati agar tidak
dibawa hewan liar ataupun orang yang tidak bertanggung jawab, serta tidak
mencemari lingkungan disekitar.

19

V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

Terdapat beberapa peralatan perkandangan yang harus ada dalam kandang


unggas seperti tempat makan, tempat minum, alat pemanas (brooder), blower,
dan lain sebagainya. Masing masing peralatan tersebut mempunyai bentuk,

ukuran, dan model yang bervariasi pada setiap jenisnya.


Dalam Pembangunan serta lokasi kandang harus memperhatikan faktor iklim,

predator, dan juga tujuan produksi dari peternak yang ingin dicapai.
Tipe kandang open house memiliki kelebihan yang praktis serta murah dalam
pengadaan kandang tipe ini, serta bila lingkungan tidak terlalu panas atau
memiliki suhu dan cuaca ekstrim, kandang tipe ini cukup mampu untuk
mendukung produksi ayam. Namun kelemahannya adalah kurang mampunya
dalam pengendalian iklim makro dalam kandang, serta bau ammonia yang

lebih menyengat dibandingkan dengan kandang sistem close house.


Tipe kandang close house memiliki kelebihan dalam segi pemberian
kenyamanan pada ternak serta baik dalam mendukung performans ternak,
khususnya ternak ayam broiler, namun kelemahannnya terletak pada biaya

pengadaan kandang yang relatif mahal.


Pengendalian suhu dalam kandang baik open house maupun close house
merupakan hal penting dimana panas ini akan sangat dibutuhkan pada fase
brooding dan DOC. Namun panas tidak diinginkan saat ayam sudah pada fase
finisher, maka dari itu diperlukan manajemen perkandangan yang baik dalam
mengatur hal tersebut.

5.2 Saran
Pada praktikum peralatan dan perkandangan sudah cukup baik dalam
penjelasan materinya, namun sebaiknya jika alat-alat yang akan diperlihatkan untuk
ditambahkan kelengkapannya dan kebersihannya.

20

VI
DAFTAR PUSTAKA

A.S. Sudarmono dan Y Bambang Sugeng. 2003 Beternak Domba. Penebar Swadaya:
Depok.
Haris, Sopyan. 2012. Sistem Kandang Clouse House. http://www.unggas
indonesia.wordpress.com/2012/03/category/broiler/cosed-house/.
[Diakses pada 4 Mei 2016 pukul 10.36 WIB]
Haryanto, T. Dkk. 2012. Kunjungan Lapang Managemen Usaha Ternak Unggas di
Karang Anyar Farm. Tersedia di http://triharyantosaputra.wordpress.com
/tag/mutu/ diakses pada tanggal 3 Mei 2016.

Krisnawan, A. 2012. Kreatif Memelihara Ikan Bersama Ayam. Yogyakarta : Pustaka


Baru.
Mazia, Centia Murni. 2009. Mengelola Kandang dan Peralatan Ayam Pedaging.
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pertanian. Vedca. Cianjur.
Mulyanti. 2010. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Gadjah
Yogyakarta.

Mada Universiti Press:

Murtidjo, B.A. 1997. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Yogyakarta : Kanisius


Rasyaf. 2000. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta
Soeparmo. 1994. Ilmu dan Teknologi Perkandangan. Gadjah Mada Universiti Press:
Yogyakarta.

21

Suroprawiro, Pramu. 1981. Teknik beternak ayam ras di Indonesia. Margie Group :
Jakarta.
Suprijatna, Edjeng., Umiyati Atmomarsono, & Ruhyat Kartasudjana. 2008. Ilmu
Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya: Depok.

22

LAMPIRAN

1. Tempat Pakan, Tempat Minum, Dan Alat Brooder

Gambar 1. Baby feeder chick

Gambar 3. Drinker bell

Gambar 2. Feeder tray

Gambar 4. Round feeder

23

Gambar 5. Round waterer

Gambar 6. Gas brooder atau Gasolec

Gambar 7. Bohlam/Dop

24

2. Kandang

Gambar 8. Bagian dalam kandang Open House

Gambar 9. Bagian dalam kandang Semi-Close House.

25

Gambar 10. Bagian dalam kandang Semi- Close House.

Gambar 11. Katrol Ventilasi.

NAMA

Gambar 12. Troiler Feeder

KONTRIBUSI

26

Zhasa nurlailya

Tinjauan Kepustakaan dan


Gambar Hasil Pengamatan

Aldo

Kata Pengantar, Daftar Isi dan


Bab 1

Aisofi

Pembahasan Peralatan
Kandang Unggas

Syahrindra Anzala

Pembahasan Perbedaan
Kandang Open House dan Close
House

Sayyid Muhammad

Editor dan lain-lain