Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU KEMAJIRAN DAN KEBIDANAN

( Ultrasonografi Dan Diagnosa Kebuntingan Pada Kucing )

NAMA

: HASMIRAH ARDIYANTI

NIM

: O111 13 008

KELOMPOK

: I ( SATU )

NAMA ASISTEN

: MUH. DANAWIR ALWI

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

1. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat menganalisa hasil gambaran
USG dan menjelaskan proses kebuntingan dan menganalisa gangguan kebuntingan
pada kucing.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Ultrasonografi
USG adalah suatu alat dalam dunia kedokteran yang memanfaatkan gelombang
ultrasonik, yaitu gelombang suara yang memiliki frekuensi yang tinggi (250 kHz 2000 kHz) yang kemudian hasilnya ditampilkan dalam layar monitor

(Effendi,

2011).
Utrasonografi medis (sonografi) adalah sebuah teknik diagnostik pencitraan
menggunakan suara ultra yang digunakan untuk mencitrakan organ internal dan otot,
ukuran, struktur, dan luka patologi teknik ini berguna untuk

memeriksa organ

(Effendi, 2011).

Gambar 1. USG 2 Dimensi


Sonografi obstetrik biasa digunakan ketika masa kehamilan. Pilihan frekuensi
menentukan resolusi gambar dan penembusan ke dalam tubuh pasien. Diagnostik
sonografi umumnya beroperasi pada frekuensi dari 2 sampai 13 megahertz.
Sedangkan dalam fisika istilah "suara ultra" termasuk ke seluruh energi akustik
dengan sebuah frekuensi di atas pendengaran manusia (20.000 Hertz), penggunaan

umumnya dalam penggambaran medis melibatkan

sekelompok frekuensi yang

ratusan kali lebih tinggi. Ultrasonografi atau yang lebih dikenal dengan singkatan
USG digunakan luas dalam medis. Pelaksanaan prosedur diagnosis atau terapi dapat
dilakukan dengan bantuan ultrasonografi (misalnya untuk biopsi atau pengeluaran
cairan). Biasanya menggunakan probe

yang digenggam yang diletakkan di atas

pasien dan digerakkan, gel berair memastikan penyerasian antara pasien dan probe.
Dalam kasus kehamilan,

Ultrasonografi (USG) digunakan oleh dokter spesialis

kedokteran (DSOG) untuk memperkirakan usia kandungan dan memperkirakan hari


persalinan. Dalam dunia kedokteran secara luas, alat USG (ultrasonografi) digunakan
sebagai alat bantu untuk melakukan diagnosa atas bagian tubuh yang terbangun dari
cairan (Mose, 2011).
Transduser adalah komponen USG yang ditempelkan pada bagian tubuh yang
akan diperiksa, seperti dinding perut atau dinding poros usus besar pada pemeriksaan
prostat. Di dalam transduser terdapat kristal yang digunakan untuk menangkap
pantulan gelombang yang disalurkan oleh transduser. Gelombang yang diterima
masih dalam bentuk gelombang akusitik (gelombang pantulan)

sehingga fungsi

kristal disini adalah untuk mengubah gelombang tersebut menjadi

gelombang

elektronik yang dapat dibaca oleh komputer sehingga dapat diterjemahkan dalam
bentuk gambar (Levenno, 2003).

Gambar 2. Contoh Citra USG Kepala Pada Janin

2.2 Jenis Jenis USG


Adapun jenis pemeriksaan USG ada 4 jenis yaitu sebagai berikut ( Casado,
2010):
1. USG 2 Dimensi
Menampilkan gambar dua bidang (memanjang dan melintang). Kualitas gambar
yang baik sebagian besar keadaan janin dapat ditampilkan.
2. USG 3 Dimensi
Dengan alat USG ini maka ada tambahan 1 bidang gambar lagi yang
disebut koronal. Gambar yang tampil mirip seperti aslinya. Permukaan suatu
benda (dalam hal ini tubuh janin) dapat dilihat dengan jelas. Begitupun keadaan
janin dari posisi yang berbeda. Ini dimungkinkan karena gambarnya dapat diputar
(bukan janinnya yang diputar).
3. USG 4 Dimensi
Sebetulnya USG 4 Dimensi ini hanya istilah untuk USG 3 dimensi yang dapat
bergerak (live 3D). Kalau gambar yang diambil dari USG 3 Dimensi statis,
sementara pada USG 4 Dimensi, gambar janinnya dapat bergerak. Jadi pasien
dapat melihat lebih jelas dan membayangkan keadaan janin di dalam rahim.
4. USG Doppler
Pemeriksaan USG yang mengutamakan pengukuran aliran darah terutama aliran
tali pusat. Alat ini digunakan untuk menilai keadaan/kesejahteraan janin. Penilaian
kesejahteraan janin ini meliputi gerak napas janin (minimal 2x/10 menit), tonus
(gerakan janin), indeks cairan ketuban (normalnya 10-20 cm), Doppler arteri
umbilikalis dan reaktivitas denyut jantung janin.
2.3 Prinsip Kerja USG
Ultrasonik adalah gelombang suara dengan frekuensi lebih tinggi daripada
kemampuan

pendengaran

telinga

manusia,

sehingga

kita

tidak

bisa

mendengarnya sama sekali. Suara yang dapat didengar manusia mempunyai


frekuensi antara 20 20.000 Cpd (Cicles per detik = Hz). Pemeriksaan

USG ini menggunakan gelombang suara yang frekuensinya 1 10 MHz ( 1


10 juta Hz )(Boer, 2005).
Gelombang suara frekuensi tinggi tersebut dihasilkan dari kristal-kr istal
yang terdapat dalam suatu alat yang disebut transduser. Perubahan bentuk akibat
gaya mekanis pada kristal, akan menimbulkan tegangan listrik. Fenomena
ini disebut

efek

piezo-electric,

yang

merupakan

dasar

perkembangan

USG selanjutnya. Bentuk kristal juga akan berubah bila dipengaruhi oleh medan
listrik. Sesuai dengan polaritas medan listrik yang melaluinya, kristal akan
mengembang dan mengkerut, maka akan dihasilkan gelombang suara
frekuensi tinggi (Boer, 2005).
2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Gambar Pada Citra USG
Kualitas suatu gambar pada atau hasil pada USG di pengaruhi oleh beberapa
faktor, diantaranya faktor individu dan faktor yang terjadi pada mesin USG itu
sendiri (Mose, 2011):
1. Faktor individu terbagi menjadi 2 sebagai berikut
a. Operator
Operator merupakan seorang ahli yang sudah mendapatkan serifikasi kompetensi
bidang USG Dasar Obstetri dan Ginekologi, operator sangat berperan

dalam

menghasilkan kualitas gambar yang baik, dalam arti hasilnya dapat dilihat dengan
jelas dengan kasat mata oleh seorang pasien. Perekaman objek yang diinginkan harus
dicari dengan akurat dan benar oleh operator. Seorang

operator

juga harus

memahami bagaimana meletakkan transduser sehingga dapat memperoleh gambar


yang baik menjalankan mesin alat USG, sehingga dapat mengatur kualitas hasil dari
sebuah gambar (Endjun, 2007).
b. Pasien
Pasien juga menentukan kualitas perekaman objek yang diinginkan melalui
alat USG. Kondisi pasien seperti obesitas atau adanya lemak berlebih di sekitar perut

dapat menyebabkan perekaman menjadi kurang jelas. Kemudian faktor lain adalah
janin itu sendiri, misalkan saja perekaman terjadi pada saat bayi sedang bergerak,
sehingga bagian yang ingin direkam menjadi kabur atau kurang jelas (Endjun, 2007).
2. Faktor Alat USG
Untuk mendapatkan hasil perekaman yang baik, perlu diperhatikan beberapa
hal sebagai berikut (Endjun, 2007) :
a. Untuk mendapatkan ketajaman gambar, hal yang harus diatur adalah fokus.
Fokus dapat diatur melalui mesin USG oleh operator, fokus ditempatkan pada
daerah yang akan diamati. Semakin banyak fokus yang digunakan, semakin
banyak energi yang dipakai, sehingga gambar USG semakin tidak tegas.
Untuk penggunaan fokus pada pemeriksaan, khusus untuk jantung janin
hanya dipergunakan satu fokus, sedangkan untuk organ lainnya cukup dua
buah fokus.
b. Ketajaman gambar dipengaruhi oleh resolusi aksial dan lateral, resolusi
aksial adalah kemampuan untuk membedakan dua titik pada daerah yang
tegak lurus dengan transduser. Resolusi lateral adalah kemampuan untuk
membedakan dua titik pada daerah horizontal (lateral) terhadap transduser.
c. Transduser, pemakaian transduser yang tepat. Pada transduser terdapat panel
control terdapat beberapa pengaturan, yaitu pengaturan gain dan fokus agar
gambar yang dihasilkan optimal. Pemakaian gain yang terlalu tinggi atau
terlalu rendah akan

membuat gambar sulit dievaluasi dengan benar.

Pengukuran harus menggunakan caliper yang bentuk dan ukurannya pas


dengan organ atau struktur yang akan diukur.
d. Artefak yang sering terjadi pada pemeriksaan USG ada beberapa macam,
diantaranya (Mose, 2011) :
1. Reverberasi, berupa gambaran gema yang tersusun berlapis-lapis sejajar.
Hal ini di sebabkan gema suara-ultra terpantul berulang-ulang antara
transduser dan suatu reflektor yang kuat.

2. Refraksi, terjadi oleh karena adanya reflector yang kuat yang bertindak
sebagai refracting boundary dari suara yang dating sehingga suatu benda
tidak pada tempat yang sebenarnya. Contohnya gambaran double image
pada tulang kepala yang menyerupai spalding sign.
3. Multipath, terjadi karena suara yang berulang oleh setidaknya dua
reflector akan menyebabkan terlihatnya suatu benda dengan jarak yang
lebih jauh dari keadaan yang sebenarnya.
4. Bayangan akustik adalah pengurangan atau hilangnya intensitas suara di
belakang suatu massa padat. Hal ini disebabkan oleh adanya atenuasi dan
defleksi.
5. Pemilihan media cetak atau dokumentasi, dokumentasi sebaiknya
berbentuk rekaman permanen, mencakup

parameter ukuran dan hasil

temuan anatominormal dan patologi. Hasil cetakan gambar USG sangat


dipengaruhi oleh kualitas mesin pencetak gambar (printer), film yang
dipakai dan mesin USG tersebut. Saat ini gambar-gambar USG diformat
dalam bentuk gambar digital (JPEG, BMP dan TIFF).
2.5 Cara Kerja USG
USG bekerja melalui beberapa tahapan sebagai berikut (Gonzales, 2003) :
1. Transduser bekerja sebagai pemancar dan sekaligus penerima gelombang
suara. Pulsa listrik yang dihasilkan oleh generator diubah menjadi energi
akustik oleh transduser yang dipancarkan dengan arah tertentu pada bagian
tubuh yang akan dipelajari atau direkam. Sebagian akan dipantulkan dan
sebagian lagi akan

merambat terus menembus jaringan yang akan

menimbulkan bermacam-macam

echo sesuai dengan jaringan yang

dilaluinya.
2. Pantulan echo yang berasal dari jaringan-jaringan tersebut akan membentur
transduser, dan kemudian diubah menjadi pulsa listrik lalu diperkuat dan
selanjutnya diperlihatkan dalam bentuk cahaya pada layar oscilloscope.

Dengan demikian bila transduser digerakkan seolah-olah kita melakukan


irisan - irisan pada bagian tubuh yang dinginkan, dan gambaran irisan-irisan
tersebut akan dapat dilihat pada layar monitor.
2.6 Kebuntingan Pada Kucing
Periode kebuntingan adalah periode dari fertilisasi atau konsepsi sampai partus
atau kelahiran individu muda. Selama periode ini sel-sel tunggal membelah dan
berkembang menjadi organisasi yang lebih tinggi yaitu individu. Lama kebuntingan
berlangsung selama 65 hari atau sekitar 9-10 minggu dimulai dari perkawinan sampai
kelahiran. Kelahiran normal terjadi pada hari ke setelah perkawinan 63-69, pada
kucing Siam kelahiran terjadi lebih lama yaitu pada hari ke 71. Jumlah anak dalam
satu kali partus bervariasi yaitu 1-8 ekor, biasanya 4 ekor (Noakes dan Pearson 2003).
Pada pertengahan kebuntingan posisi fetus terletak pada sembarangan arah. Pada
kebuntingan yang lanjut, posisi fetus adalah longitudinal terhadap sumbu panjang
induk dalam presentai anterior dengan kepala dan kedua kaki depannya mengarah ke
servik. Kuda, babi, anjing dan kucing punggung mengarah ke dinding abdomen yang
kemudian merotasi menjelang partus yaitu punggungnya mengarah punggung induk
(Elisa, 2011).
Kucing adalah hewan poliestrus musiman yang berarti bahwa kucing dapat
mengalami siklus estrus berkali-kali selama musim kawin. Musim kawin kucing
tergantung pada faktor iklim dan suhu lingkungan. Kucing pada iklim tropis dapat
mengalami siklus sepanjang tahun. Siklus estrus lengkap pada kucing terjadi selama
1-3 minggu (Noakes dan Pearson 2003).
Berikut siklus reproduksi pada kucing yang dibagi menjadi empat periode
(Parrish, 2004):
1. Fase proestrus adalah fase folikel de Graaf tumbuh di bawah hormon FSH dan
menghasilkan tingginya estrogen. Fase ini berlangsung 81-2 hari, mulai
muncul gejala estrus.

2. Fase estrus adalah fase yang ditandai betina menerima pejantan, fase ini
merupakan fase folikel de Graaf besar dan matang. Terjadi 4-6 hari. Jika
kucing tidak kawin estrus dapat terjadi sampai 8-10 hari, ovulasi pada kucing
akan terjadi 27 jam setelah kopulasi.
3. Fase diestrus adalah periode terlama dari siklus birahi, corpus luteum besar
dan progesteron tinggi. Pada fase ini bisa terjadi kebuntingan selama 65 hari
maupun pseudopregnan selama kurang lebih 40 hari.
4. Fase anestrus adalah fase terlama yaitu 3-4 bulan.
Pemahaman proses dan siklus kawin pada kucing diperlukan dalam usaha
pengawinan kucing. Tanda pada musim ini diinisiasi oleh kesediaan kucing untuk
kopulasi. Kucing melakukan vokalisasi, rolling di lantai, dan menjadi lebih manja
(Whitney, 1986).
Hal lain yang membedakan reproduksi kucing betina yaitu ovum padakucing
tidak ruptur secara spontan seperti pada mamalia lain. Kopulasi akanmenstimulasi
terjadinya ovulasi, sehingga apabila kucing tidak dikawinkan, tidak akan terjadi
ovulasi dan tidak terbentuk korpus luteum (Whitney, 1986).
Dalam menentukan kebuntingan seringkali kita terkecoh, terutama bagi dokter
hewan yang sudah lama tidak praktek atau yang belum berpengalaman. Differensial
diagnosa kebuntingan yang sering adalah adanya tumor, mummifikasi fetus,
pyometra, mukometra (Parrish, 2004).
Kucing adalah hewan yang mengalami ovulasi terinduksi. LH akan dilepaskan
dari pituitari anterior ketika vulva kucing betina distimulasi oleh penis pejantan saat
terjadi kopulasi. Hanya sekitar 50% kucing akan mengalami ovulasi setelah
perkawinan pertama, biasanya pelepasan LH akan terjadi setelah beberapa kali proses
kopulasi. Dalam waktu 24 jam kucing dapat kawin beberapa kali, kucing betina juga
dapat kawin dengan lebih dari satu pejantan dalam satu periode estrus, sehingga
memungkinkan anak kucing yang dilahirkan berasal dari pejantan yang berbeda
(Parrish, 2004).

Pada kondisi bunting progesterone meningkat 24 -50 jam setelah kenaikan LH,
jumlah progesteron rata-rata selama kebuntingan yaitu 15-30 nmol/l. Progesteron ini
dihasilkan oleh corpus luteum, plasenta juga memproduksi progesterone namun
dalam jumlah yang sangat sedikit. Selama terjadi kebuntingan, fetus atau plasenta
menghasilkan semacam faktor yang member sinyal kepada korpus luteum untuk tidak
mengalami regresi (Noakes dan Pearson, 2003).
Selain faktor tersebut, corpus luteum kebuntingan kucing juga dipertahankan oleh
beberapa hormone seperti prolaktin dan relaksin. Khusus pada carnivore relaksin
disekresikan oleh plasenta mulai dari hari ke 20-30 post kopulasi sebagai faktor
luteotropik spesifik, yang bekerja mempertahankan corpus luteum secara langsung,
atau secara tidak langsung menstimulasi pelepasan prolaktin dari piuitari, atau bisa
menstimulasi faktor luteotropik yang lain. Sekresi prolaktin sekitar 25-35 hari post
kopulasi dan mencapai puncaknya sebelum parturisi (Noakes dan Pearson, 2003 ).
Hormon relaksin diproduksi oleh plasenta mulai dari usia kebuntingan 20 hari
pada kucing, hormone relaksin ini yang tidak ditemui pada kondisi pseudopregnant
(Bowen, 2001).
Identifikasi dan perkembangan organ-organ fetus kucing melalui pemeriksaan
USG pada hari ke-21 sampai ke-41 masa kebuntingan (Rasad, 2005) yaitu:
Organ yang
Umur

Teridentifikasi

Derajat

Keterangan

Kebuntingan
21-24 hari

Perkembangannya
Jantung

Echogenisitas
Hypoechoic

Berdenyut

Hypoechoic

dengan lumen
Bentuk Fetus

Anechoic
Hypoechoic

Teramati
Batas antara kepala

Kepala dan badan

dan badan belum

Isoechoic

25-26 hari

terlihat
Jantung
Bakal tulang

Hypoechoic
Hyperechoic

Berdenyut

punggung
Lambung

Anechoic

Belum
berfungsi

Batas antara
kepela, leher, dan
badan terlihat jelas
Fetus belum ada
pergerakan
Jantung
Aorta terlihat jelas

Hypoechoic
Anechoic

Berdenyut
Melakukan
sistem sirkulasi
darah

Bakal tulang

Hyperechoic

punggung dan
costae
Lambung

Anechoic

27-32 hari

Belum
berfungsi

Batas antara
kepela, leher, dan
badan terlihat lebih
jelas
Ada pergerakan

33-36 hari

fetus
Bakal kaki depan

Hypoechoic

dan belakang
Jantung
Katup jantung

Hypoechoic
Hyperechoic

Berdenyut
Membuka dan
menutup pada
saat terjadi
sistem sirkulasi

darah di jantung
Tulang punggung

Hyperechoic

sudah terbentuk
dan jelas
Lambung
membesar
Hati

Anechoic

Belum

Hypoechoic

berfungsi
Melakukan
sistem sirkulasi
melalui vena

Paru-paru

Hypoechoic

porta
Belum
berfungsi

Jari jemari kaki

Hyperechoic

depan dan
belakang terlihat
Orbita
Bakal vesika

Anechoic
Anechoic

urinaria
Cerebrum
Jantung (batas

Hypoechoic
Hypoechoic

Menampung
urin
Berdenyut

atrium dan

37-41 hari

ventrikel)
Tulang punggung

Hyperechoic

lebih jelas
Costae
Hati (dominan)

Hyperechoic
Hypoechoic

Melakukan
sistem sirkulasi
melalui vena
porta

3. Materi dan Metode


3.1 Waktu danTempat Praktikum

Praktikum pemeriksaan kebuntingan pada kucing dengan menggunakan alat


ultrasonografi (USG) merupakan salah satu kegiatan pelaksanaan praktikum dari
mata kuliah Ilmu Kebidanan dan Kemajiran yang dilaksanakan pada hari Rabu
tanggal 30 Maret 2016 yang bertempat di Klinik Hewan Pendidikan Universitas
Hasanuddin.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam

praktikum ini,

antara lain:
1. Mesin USG
2. Silet atau gunting
3.2.2

Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini,

antara lain:
1. Kucing bunting
2. Gel accoustik
3.3. Metode
Adapun metode yang digunakan

dalam

praktikum

ini

adalah sebagai berikut :


1. Mempersiapkan hewan yaitu dengan mencukur rambut kucing betina yang
bunting menggunakan gunting atau silet pada daerah abdomen sampai bersih.
2. Melakukan pengenalan alat ultrasonografi.
3. Kucing direbahkan secara dorsal recumbency pada meja periksa, dan ditahan
agar tidak bergerak-gerak.
4. Mengaktifkan tombol dari alat ultrasonografi untuk pemeriksaan kebuntingan.
5. Menuangkan gel ultrasonic pada daerah abdomen hewan yang telah dicukur
bersih.
6. Meletakkan probe pada gel lalu tekan dan dengan menggunakan probe lalu
meratakan gel ultrasonic tersebut menelusuri daerah abdomen untuk mencari
letak uterus.

7. Pada saat probe menelusuri daerah abdomen, amati gambaran yang muncul
pada layar monitor. Pemeriksaan USG berpatokan pada vesica urinaria.
8. Pemeriksaan USG dilakukan terhadap kucing betina bunting untuk melihat
dan mengevaluasi organ-organ yang terdapat di abdomen.
4. Hasil dn Pembahasan
4.1 Hasil

Gambar 3. Alat dan bahan yang digunakan saat USG

Gambar 4. Pengukuran Diameter Kantong Kebuntingan

Gambar 5. Hasil Dari Heart Rate Fetus


4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengenalan Pemeriksaan Menggunakan Alat USG
Ultrasonografi (USG) merupakan suatu prosedur diagnosis yang digunakan untuk
melihat struktur jaringan tubuh atau analisis dari gelombang Doppler, atau USG
merupakan suatu alat dalam dunia kedokteran yang memanfaatkan gelombang
ultrasonik, yaitu gelombang suara yang memiliki frekuensi yang tinggi (250 kHz 2000 kHz) yang kemudian hasilnya ditampilkan dalam layar monitor. USG bisa
digunakan untuk mendiagnosa kebuntingan, dan masih banyak fungsi lainnya dari
USG. Pada USG sendiri terdapat monitor, tranduser (Konveks dan Linear). Untuk
hewan besar probe yang digunakan ialah bentuk linear sedangkan untuk hewan kecil
biasanya yang berbentuk konveks.
Dimana pada bagian transducer atau probe terdapat sebuah
seperti titik yang timbul pada bagian samping dari probe yang
biasanya

disebut

dengan

mar

yang

berfungsi

memudahkan

seseorang / operator untuk dapat mengetahui dan menandai posisi


pada monitor. Pada saat akan melakukan USG kucing sebaiknya
direbahkan pada posisi dorsal recumbency agar lebih memudahkan
dalam melakukan USG. Untuk mendapatkan tampilan gambar yang
baik maka, sebelumnya harus mengatur tingkat frekuensi dan
kedalaman yang akan digunakan. Sebab hal ini yang akan sangat
berpengaruh terhadap ketajaman atau kualitas gambar yang
didapatkan.

Pada hasil yang dipantulkan ke monitor gambar seperti susunan


segitiga namun tidak runcing, dimana posisi paling atas di monitor
merupakan posisi yang paling dekat dengan probe atau dengan
kata lain yaitu bagian abdomen / perut bagian ventral. Dan bagian
paling bawah adalah bagian yang dekat dengan tulang belakang.
Pada hasil gambar pada USG berbeda dengan hasil gambar pada xray dimana telah dijelaskan pada tipus bahwa jika :
1. Putih (hyperechoic/hyperechoigenic) merupakan : tulang, otot padat.
2. Abu-abu (putih+hitam) atau hypoechoic merupakan : hepar, otak, uterus,ren.
3. Hitam (anechoic/anechoigenic) merupakan : cairan dan sejenisnya.

4.2.2

Mengehitung Fetus Dan Usia Kebuntingan

Pada pembacaan USG, pada saat menghitung fetus terlihat ada 4 fetus pada
kucing, dimana dapat dilihat pada hasil USG bahwa fetus kucing terlihat detak
jantung yang bergerak, serta terlihat tulang vertebrae terlihat jelas dari salah satu fetus
tetapi diameter kepala dan diameter badan tidak terlihat dengan jelas. Pada perkiraan
partus dan usia kebuntingan kucing dapat dihitung dengan menggunakan diameter
badan dan diameter kepala. Pada hasil yang diperoleh saat praktikum yaitu tidak
ditemukannya kepala sehingga tidak dapat mengukur diameter dari fetus. Usia pada
kebuntingan dengan menggunakan diameter kantong kebuntingan yaitu 37 hari.
Selain itu juga dilakukan USG pada kucing bunting yang lain dimana usia kandungan
diperkirakan 30,8 hari.
Adapun rumus memprediksi usia kebuntingan dengan diameter kepala, diameter
badan dan diameter kantong kebuntingan yaitu :
GA = 25 x HD x 3

GA = 11 x BD +21

GA = (6 x GSD) + 20
= (6 x 2,95) + 20
= 37 hari
GA = (6 x GSD) + 20
= (6 x 1,81) + 20
= 30,8 hari
4.2.3

Menghitung Heart Rate Fetus

Pada alat USG dapat juga dilakukan perhitungan Heart Rate pada fetus, dimana
tujuan dari pemeriksaan denyut jantung fetus ini adalah sebagai acuan untuk
mengetahui kesehatan induk dan perkembangan fetus khususnya denyut jantung fetus
dalam rahim. Pada hasil pemeriksaan USG heart rate fetus yaitu 202 bpm ( denyut
jantung permenit ) dimana frekuensi jantung pada kucing yang normal yaitu 200-250
bpm.
5. Kesimpulan
USG adalah suatu alat dalam dunia kedokteran yang memanfaatkan gelombang
ultrasonik, yaitu gelombang suara yang memiliki frekuensi yang tinggi (250 kHz 2000 kHz) yang kemudian hasilnya ditampilkan dalam layar monitor .
Suara yang dapat didengar manusia mempunyai frekuensi antara 20 20.000
Cpd

(Cicles

per

detik

Hz).

Pemeriksaan

USG

ini

menggunakan

gelombang suara yang frekuensinya 1 10 MHz ( 1 10 juta Hz ).


Lama kebuntingan pada kucing berlangsung selama 65 hari atau sekitar 9-10
minggu dimulai dari perkawinan sampai kelahiran. Kelahiran normal terjadi pada hari
ke setelah perkawinan 63-69, pada kucing Siam kelahiran terjadi lebih lama yaitu
pada hari ke 71.
Untuk mendapatkan hasil USG yang baik maka harus memperhatikan tingkat
frekuensi dan kedalaman.

Hal yang dapat diamati dengan menggunakan USG ialah mendiagnosa


kebuntingan, jumlah anak, letak fetus, detak jantung fetus dan pergerakan fetus.

DAFTAR PUSTAKA
Boer, A, 2005. Ultrasonografi. Dalam: Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik Edisi
Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 453- 455.
Bowen,R. 2001. Placentation in Dogs and Cats .http://www.vivo.colostate.edu/
Hbooks/pathphys/reprod/placenta/index.html.di akses pada tanggal 31 Maret
20:45WITA.

Casado, Ordoyo Cristian. 2010. Research Project Image Contrast Enhancement


Methods, Technical University-SOFIA.
Endjun, Januadi. 2007. Obstetri dan Ginekologi. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta.
Elisa,
2011.
Faal
Kebuntingan.
Universitas
Gajah
Mada.
elisa.ugm.ac.id/.../a061ab9edf39f58ee4dd35c554a03 di akses pada tanggal 31
Maret pukul 21:09 WITA.
Gonzales, Rafael C. 2002. Digital Image Processing, Addison Wesley.
Levenno, Kenneth, dkk. 2003. Williams Manual of Obstetrics. McGraw Hill
Mose, Johanes. 2011. Ultrasonografi Obsetri dan Ginekologi. Jakarta: Penerbit
Sagung Setyo.
Noakesdan Pearson. 2004. BSAVA Manual of Small Animal Reproduction and
Neonatology.
Parrish, J.J. 2004. Reproduction in The Canine and Feline. Lecture Animal Scienc
434. www.ansci.wisc.edu/jjp1/ansci_repro/lec/lec...dog_cat/lec25_12.ppt. Di
akses pada tanggal 31 Maret pukul 21:34 WITA.
Rasad, Sjahriar. 2005. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FK
UI.
Whitney, L.F. 1986. The Complete Book of Cat Care. Doubleday & Company, Inc.,
Garden City, New York. 50-51, 159-161.