Anda di halaman 1dari 8

1.

Judul Jurnal
Cyclosporine a 0.05% eye drops for the treatment of subepithelial infiltrates
after epidemic keratoconjungtivitis
2. Resume Laporan Penelitian
Cyclosporine a 0.05% eye drops for the treatment of subepithelial infiltrates
after epidemic keratoconjungtivitis
Seydi Okumus, Erol Coskun, Mehmet Gurlan Tatar
University of Gaziantep, Faculty of Medicine, Department of Ophthalmology
Gaziantep, Turkey
Okumus et al. BMC Opthalmology 2012, 12:42
Latar belakang
Epidemik keratokonjungtivitis (EKC) adalah salah satu infeksi virus yang
paling umum pada mata yang disebabkan oleh adenovirus. Adenovirus terdiri
dari beberapa serotipe yang berbeda. Serotipe 8,11, 19, 37 yang bertanggung
jawab atas EKC. Adapun serotipe 8 dan 19 adalah penyebab utama yang paling
sering menyebabkan EKC. Gejala dari infeksi ini muncul setelah periode
inkubasi yang membutuhkan waktu 2 hari sampai 14 hari. Nyeri, rasa terbakar,
gatal, mata merah,penurunan visus, halo,fotofobia,kimosis, periaurikular
ipisilateral limfadenopai dapat terjadi selama infeksi tersebut. Sekitar 80%
kasus keratitis dalam bentuk difus superfisial punctum keratitis, fokal epitel
pungtum keratitis, dan infiltrat subepitel (SEI) yang dapat terjadi setelah
infeksi konjungtivitis dalam waktu 1 sampai 3 minggu. Pada kasus ini terjadi
infiltrat subepitelial kecil, bulat berwarna keabu-abuan yang terdiri dari residu
antigen dan akumulasi limfosit pada permukaan sel stroma. Lesi ini akan
menghilang tanpa menyebabkan jaringan parut atau neovaskularisasi. Lesi
biasanya bilateral dan sering asimetris. Infeksi virus ini dapat dorman dalam
kornea selama berbulan-bulan atau dapat menyebabkan infeksi yang akut.
Terapi kortikosteroid topikal terbukti dapat menekan gejala yang terjadi pada
infeksi EKC, akan tetapi penggunaan jangka panjang dari obat tersebut dapat
menimbulkan berbagai penyakit mata lainnya seperti katarak, glaukoma,
infeksi yang lebih berat lainnya. Ada beberapa laporan lainnya yang
menunjukkan kemanjuran topikal siklosporin A (CsA) dengan konsentrasi 1%
dan 2 % pada fase akut infeksi adenoviral dalam terapi awal dapat menurunkan

gejala dan kekeruhan kornea serta dapat menjadi pilihan dalam terapi infiltrat
subepitel aktif dalam fase kronis. Beberapa laporan lain menunjukkan bahwa
ada penilitian lebih rinci yang dilakukan dengan topikal CsA 0,05% dalam
mengobati infiltrat subepitl kornea. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini
adalah untuk menilai efisiensi topikal 0,05% CsA dalam mengobati infiltrat
subepitel kornea yang telah bertahan selama lebih dari tiga bulan pada pasien
dengan adenoviral epidemi keratokonjungtivitis.
Metode
Penelitian ini dilakukan pada 22 mata dari 16 pasien yang dirujuk ke klinik
antara bulan september 2007 dan oktober 2011, dan pasien dengan subepitelial
infiltrat dengan epidemi keratokonjungtivitis yang berlangsung selama lebih
dari 3 bulan dan pasien yang telah diberi kortikosteroid namun tidak
memberikan respon berarti, pasien yang telah diberikan 3 jenis kortikosteroid
dan dihentikan karena efek samping yang terjadi. Pasian di catat usia, jenis
kelamin, mata yang terkena, dilakukan penilaian BCVA (logaritma minimum
sudut resolusi)pengukuran sebelum dan sesudah pengobatan, pengukuran TIO
dicatat, dilakukan pemeriksaan segmen anterior. Dilakukan pencatatan
kortikosteroid yang digunakan, rata-rata penggunaan kortikosteroid, durasi
penggunaan topikal 0,05% CsA. Cornea subepithelial infiltrate scoring (CSIC)
adalah skoring variatif 0 - 4 sesuai dengan jumlah pada pemeriksaan
biomikroskopik. (0 : tidak ada infiltrat, 1: 1-2, 2: 6-10, 3: 11-15, 4 : lebih dari
16 infiltrat)
Semua pasien diobati dengan topikal 0,05% CsA selama satu bulan
diberikan 4 kali sehari, pemberian kortikosteroid selama 15 hari pertama dan
kemudian dilanjutkan pemberian topikal 0,05% CsA setelah pemberian
kortikosteroid topikal dihentikan. Pada akhir bulan pertama, pengobatan
dihentikan. Pada akhir bulan pertama, pengobatan dihentikan pada pasien
dengan CSIS 0, pada pasien dengan CSIS selain 0 dilanjutkan pemberian
topikal 0,05% CsA sehari sekali sesuai intensitas gejala dan pemeriksaan klinis.
Semua analisis menggunakan SPSS 17.0 (Statistical Package for Social
Sciences Inc. Chicago, IL, USA) , dengan nilai p<0,05 dianggap signifikan.

Hasil
22 mata dari 16 pasien dimasukkan studi ini. 6 pasien adalah laki-laki
(37,5%) dan 10 pasien adalah perempuan (62,5%). Rata-rata usia pasien adalah
35,2 16,6 tahun (13-75 tahun). Infiltrat subepitel yang terletak pada mata
kanan didapatkan pada 14 pasien sedangkan mata kiri didapatkan pada 8
pasien. Sebelum pengobatan BCVA adalah 0.00 LogMAR pada 10 mata dan
ada berbagai gangguan tingkat penglihatan pada 12 mata dengan nilai 0,40
0,10 LogMAR. Sebelum terapi rata-rata TIO yang tercatat 18,50 3,82 mmHg
(11-26 mmHg), dan skor rata-rata CSIS 1,680,89. Durasi rata-rata
penggunaan kortikosteroid pada pasien 6,7 3,9 bulan (3-14 bulan). Terapi
Fluorometholone dilakukan pada 11 mata, Loteprednol etabonate pada 9 mata
dan Prednisolon asetat pada 2 mata. Sebelum menerima topikal CsA terdapat 7
pasien (8 mata) yang masih dalam terapi glaukoma. Setelah 1 bulan pertama,
skala CSIS ditemukan 0 pada 8 mata sehingga pengobatan dihentikan dan
pasien difollow up pada periode berikutnya dengan hasil tidak ada kekambuhan
selama periode tersebut. Pada 14 mata terapi topikal 0,05% CsA dilanjutkan
sesuai dengan temuan pemeriksaan BCVA, CSIS dan adanya gejala yang
terdapat pada pasien seperti halo, fotofobia. Adapun hasil skala CSIS yaitu 1
mata dengan skala 2, 2 mata dengan skala 3 dan 1 mata dengan skala 4 dimana
semua skala tidak kembali ke 0 setelah pengobatan. Rata-rata durasi
pengobatan CsA topikal dari pasien 5,1 3,5 bulan (1-13 bulan). Rata-rata
follow up pasien adalah 9,2 4,7 (4-22 bulan). 1 pasien dengan hasil skala
CSIS tidak mencapai , tidak datang pada saat follow up setelah 6 bulan.
Pada kontrol yang terakhir hasil BCVA yang tercatat menjadi 0,07 0,07
sedangkan TIO adalah 16,86 2,76 mmhg dan CSIS adalah 0,23 0,53 pada
masing-masing pasien. Nilai BCVA rata-rata , CSIS , TIO sebelum terapi dan
saat kontrol terakhir dibandingkan didapatkan hasil statistik yang signifikan
yaitu perbedaan diantara adalah ( p =0,002 ; p = 0,002; p < 0.001). Pada
kontrol yang terakhir gejala (silau, fotofobia, ketidanyamanan) sudah tidak
dikeluhkan lagi pada 18 mata (81,8%), 4 mata (18,2) masih didapatkan infiltrat
subepitel, fotofobia. Rata-rata durasi penghentian obat aalah periode 4,1 2,6
bulan (0-12 bulan), pada akhir bulan pertama penghentian terapi CsA pada 8

mata tanpa adanya kekambuhan namun setelah 3 bulan sejak penghentian obat
terdapat kekambuhan pada 2 mata sehingga diperlukan terapi CsA selama 7-8
bulan. terdapat 16 dari 18 mata yang bebas dari infiltrat subepitel.
Diskusi
Epidemik keratokonjungtivitis (EKC) dapat hadir dengan gejala kimosis,
sakit mata, gatal, hipermia, fotofobia, pembengkakkan kelopak mata yang
dapat berakibat gangguan dalam kegiatan sehari-hari. Dalam 80% kasus pada
pasien, keratitis dengan infiltrat subepitelial (SEI) dapat terjadi pada
konjungtivitis. SEI dapat mengakibatkan penurunan ketajaman penglihatan,
halo, silindris tidak teratur dan fotofobia. Beberapa penelitian melaporkan
bahwa penurunan ketajaman penglihatan visual disebabkan SEI terjadi dalam
beberapa minggu atau bertahan hingga bertahun-tahun dalam beberpa kasus.
Pada infeksi adenovirus okular beberapa agen seperti trifluridine, vidarabine,
gansiklovir ditemukan tidak efektif dalam pengobatan. Adapun terapi
kortikosteroid jangka panjang yang digunakan dalam terapi ini efektif namun
dapat menimbulkan gangguan lainnya seperti katarak, glaukoma, infeksi
kronis. Penelitian ini terdiri dari pasien yang tidak memiliki regresi di SEI
meskipun menggunakan terapi kortikosteroid selama 3-14 bulan (rata-rata 6,7
3,9 bulan) dan pasien yang harus menghentikan terapi kortikosteroid karena
peningkatan tekanan intraokular pada penggunaan jangka panjang. Beberapa
penelitian melaporkan terapi topikal CSA berperan dalam penghambatan T
limfosit proliferasi dan aktivasi serta penekanan peradangan permukaan okular
kelenjar air mata. Hal ini dilaporkan dalam literatur efektifitas CSA dalam
kasus peradangan seperti keratokonjungtivitis vernal, keratitis ulseratif karena
artritis rematoid, thygeson superficial punctate keratitis, uveitis anterior,
keratokonjungtivitis superor limbus, penyakit Behcet, keratitis herpes,
keratokonjuntivitis atopi dan masih banyak lagi. Topikal 0,05 CsA dapat pula
digunakan sebagai terapu pada sindrom dry eye, terapi setelah operasi
pterigium, pengobatan kelenjar meibom.
Reinhart dan rekan telah melaporkan bahwa terdapat penurunan jumlah SEI
di 48 mata dari 70 pasien yang mengalami SEI setelah infeksi EKC dengan

pemberian terapi 2% CsA topikal, dan tidak terdapat kekambuhan setelah


terapi dihentikan. Dalam beberapa literatur juga dilaporkan bahwa 1% CSA
topikal adalah toleransi yang baik dan tidak menimbulkan efek samping
sistemik pada jangka panjang. Romanowsky juga melaporkan bahwa
percobaan 0,5% dan 2% topikal CsA efektif dalam mengurangi jumlah SEI
serta replikasi virus.
Dalam penelitian ini terdapat perbaikan klinis dari gejala yang disebabkan
oleh SEI pada infeksi EKC tersebut, dengan menggunakan topikal 0,05% CsA .
pada penelitian ini terdapat 2 kasus berulang (11,12%) yang telah diobati
dengan CsA topikal dalam 4 dan 8 bulan. Sementara durasi perawatan untuk
semua mata adalah sekitar 5,1 3,5 bulan. Setelah 9,2 4,7 bulan (4-22 bulan)
pengobatan hanya 2 mata saja (terjadi kekambuhan pada bulan ke 3) dari 18
yang terdeteksi. Adapun pengobatan untuk SEI dengan menggunakan CsA
harus tetap dilanjutkan sampai CSIS menjadi 0. Akan tetapi dalam penelitiam
ini belum dapat menjelaskan apakah SEI akan kambuh setelah pengobatan atau
saat beberapa bulan setelah terapi. Adapun kekurangan yang ada yaitu durasi
kunjungan / follow up kurang lama, jumlah pasien yang sedikit, tidak adanya
kelompok

kontrol,

desain

penelitian

retrospektif

tampaknya

menjadi

keterbatasan dalam penelitian ini.


Untuk pengobatan SEI setelah EKC dibutuhkan 2 terapi yang efektif dalam
proses penyembuhan. 2 metode tersebut adalah topikal kortikosteroid dan
topikal CsA. Karena kelompok sampel yang diambil dalam penelitian ini hanya
kelompok kasus saja tanpa adanya kelompok kontrol/plasebo maka penelitian
ini masih tidak dapat menjelaskan kemungkinan kejadian kekambuhan yang
terjadi pada pasien.
Kesimpulan
Terapi topikal 0,05% CsA adalah pilihan yang aman dan efektif dalam
memberantas gejala dari infeksi adenovirus dan terapi pada subepitel infiltrat
yang resisten pada pemberian kortikosteroid.
3. Worksheet Critical Appraisal
Worksheet Critical Appraisal
Jurnal Terapi

Judul Jurnal: Cyclosporine a 0.05% eye drops for the treatment of


subepithelial infiltrates after epidemic keratoconjungtivitis
Okumus et al. BMC Opthalmology 2012, 12:42

Validitas
1a. Apakah alokasi pasien terhadap Ya
[]
terapi/perlakuan dikalukan secara
Tidak
random?
[ ]
1b. Apakah randomisasi dilakukan Ya
[]
tersembunyi?
Tidak
[ ]
1c.

Apakah

antara

subyek Ya
[]
penelitian dan peneliti blind
Tidak
terhadap terapi/perlakuan yang []

Alokasi pasien dilakukan tidak


dilakukan secara random.
Terdapat

dalam

Methode

( halaman 2).
Alokasi pasien dilakukan tidak
dilakukan secara random.
Terdapat

dalam

Methode

( halaman 2.
Pasien
maupun

peneliti

mengetahui
kelompok

pengalokasian
pasien

dan

diberikan?

perlakuan yang diberikan.

2a. Apakah semua subyek yang Ya


[ ]
ikut serta dalam penelitian
Tidak
diperhitungkan
dalam
hasil []

Pengamatan dilakukan cukup

/kesimpulan? (apakah pengamatan

Terdapat dalam Hasil halaman

nya cukup lengkap?)


2b. Apakah pengamatan

2-3-4.
Pengamatan

dilakukan cukup panjang?

yang Ya
[]
Tidak
[]

2c. Apakah subyek dianalisis pada Ya


[
kelompok dimana subyek tersebut
Tidak
dikelompokkan
dalam [] ]
randomisasi?

lengkap.

panjang

ini

Terdapat

cukup
dalam

Methode dan Result ( halaman


2-4).
Pasien yang memenuhi kriteria
dibagi menjadi 1 kelompok
dan tetap dalam kelompok
masing-masing sampai hasil
dianalisis.
Terdapat dalam Metods &

3a.

yang Ya
[]
dieksperimenkan, apakah subyek
Tidak
diperlakukan sama?
[ ]

3b.

Selain

perlakuan

Apakah

penelitian
penelitian?

kelompok

sama

dalam Ya
[]
pada
awal
Tidak
[ ]

result (halaman 2-4)


Setiap subyek mendapat terapi
yang

sama

sesuai

dengan

kelompok

hingga

selesai

penelitian.
Terdapat

dalam

result

( halaman 2-4)
Kedua kelompok sama secara
statistik,

baik

dari

segi

karakteristik maupun riwayat


penyakit.
Dapat dilihat dalam kriteria
inklusi dan eksklusi di bagian
Methods halaman 2

Importance
1. Berapa besar efek terapi?

Nilai BCVA rata-rata , CSIS , TIO


sebelum terapi dan saat kontrol terakhir
dibandingkan didapatkan hasil statistik
yang

signifikan

yaitu

perbedaan

diantara adalah ( p =0,002 ; p = 0,002;


p < 0.001). Pada kontrol yang terakhir
gejala

(silau,

ketidanyamanan)

fotofobia,
sudah

tidak

dikeluhkan lagi pada 18 mata (81,8%),


4 mata (18,2) masih didapatkan infiltrat
subepitel, fotofobia.
2. Seberapa tepat estimasi efek Tidak dapat dinilai
terapi?

Terdapat di Diskusi (halaman 4-5)

Apllicable
1. Apakah pasien yang kita miliki Ya
[ ]
sangat berbeda dengan pasien
Tidak

Dari

segi

karakteristik

memiliki banyak kesamaan.

dalam penelitian?
[]
2. Apakah hasil yang baik dari Ya
[]
penelitian dapat diterapkan
Tidak
dengan kondisi yang kita miliki? [ ]
3. Apakah semua outcome klinis Ya
[]
yang penting dipertimbangkan
Tidak
(efek samping yang mungkin [ ]
timbul)?
4. Apakah

Dengan melihat hasil maka


metode ini bisa diterapkan.
Dari

memahami Ya
[]
harapan dan pilihan pasien?
Tidak
[ ]
5. Apakah intervensi yang akan Ya
[]
diberikan
akan
memenuhi
Tidak
harapan pasien? Pasien siap [ ]
akan konsekuensinya?

ini

outcome

semua
sudah

dipertimbangkan. Tetapi tidak


ada

sudah

penelitian

efek

samping

dalam

sudah

sesuai

metode ini.
Metode ini

harapan dan pilihan pasien.


Jika

ini

diterapkan

maka

harapan pasien akan terpenuhi


dalam

meningkatkan

aliran

udara ke paru.

Kesimpulan
Dari hasil penilaian validitas dan kepentingan maka laporan penelitian ini
dapat disimpulkan bahwa laporan penelitian ini dapat digunakan sebagai
referensi namun untuk diterapkan dalam klinis masih belum dapat dipakai
dikarenakan terdapat beberapa kekurangan dalam penelitian ini sehingga
dibutuhkan penelitian lebih lanjut.