Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kista merupakan kantung yang berisi cairan dan dapat berlokasi di bagian
mana saja dari tubuh. Pada ovarium, tipe kista yang berbeda dapat terbentuk.
Tipe kista ovarium yang paling umum dinamakan kista fungsional, yang biasanya
terbentuk selama siklus menstruasi normal. Setiap bulan, ovarium seorang
wanita tumbuh kista kecil yang menahan sel telur.Ketika sebuah sel telur matur,
kantung membuka untuk mengeluarkan sel telur, sehingga dapat berjalan
melewati tuba falopii untuk melakukan fertilisasi. Kemudian kantung pecah.Salah
satu tipe dari kista fungsional, ada yang dinamakan kista folikular, kantung ini
tidak terbuka untuk mengeluarkan sel telur tapi terus tumbuh. Kista tipe ini
biasanya akan menghilang setelah satu sampai tiga bulan. Kista korpus luteum,
bentuk lain dari kistafungsional, terbentuk apabila kantung kista ini tidak
menghilang. Malahan kantung kista menutup lagi setelah sel telur dikeluarkan.
(Wiknjosastro, 2007)
Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium.Kanker
ovarium merupakan pembunuh yang diam-diam (silent killer).Karena, memang
seringkali penderita tidak ada perasaan apa-apa. Kalaupun terjadi keluhan
biasanya sudah lanjut misalnya: sering kembung, teraba massa atau ada
benjolan di perut bagian bawah, gangguan pencernaan, danlain-lain.Sampai
sekarang belum ada cara deteksi dini yang sederhana untuk memeriksa
adanyakeganasan ovarium itu. Sekarang ini yang bisa dipakai masih
menggunakan USG, tetapi itu agak sulit kalau diterapkan secara massal karena
biayanya cukup mahal.Berbeda halnya dengan kanker serviks yang bisa
dideteksi dini dengan papsmear.(Moeloek FA,2006)
Orang yang menggunakan pil KB risiko terjadinya kanker ovarium bisa
lebih kecil.Karena kanker ovarium itu terjadi apabila ovarium aktif mengalami
pertumbuhan folikel.Tapi dengan menggunakan kontrasepsi hormonal terutama
pil KB, proses itu pada ovarium ditekan, sehingga risikonya terjadi keganasan
pada ovarium menurun.Kista ovarium ini bisa juga terjadi pada anak-anak,
1

bahkan ketika masih bayi, pada remaja sampai orang tua. Tetapi kebanyakan
dialami wanita berusia di atas 40 tahun. Bahkan, pada bayi dalam kandungan
bisa ditemukan kista ovarium. Pada ibu hamil yang terdapat kistaneoplasti, bila
menutupi jalan lahir kistanya bisa dioperasi saat hamil. Tetapi jika kistanya tidak
menutupi jalan lahir, kista dapat dioperasi setelah melahirkan.(Sastrawinata,
Sulaiman. dkk. 2004)
1.2

Tujuan

1. Mengetahui penegakkan diagnosa kista ovarium pada pasien ini.


2. Mengetahui faktor resiko kista ovarium pada pasien ini.
3. Mengetahui penatalaksanaan kista ovarium pada pasien ini.
4. Mengetahui bagaimana monitoring pada kondisi kista ovarium.
1.3

Manfaat
Penulisan makalah laporan kasus dapat meningkatkan pengetahuan dan

pemahaman dokter muda mengenai kista ovariumdalam hal anamnesa,


pemeriksaan fisik dan penunjang, penegakkan diagnosa, penatalaksanaan, dan
monitoring.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh
dimana saja dan jenisnya bermacam-macam. Kista yang berada di dalam atau
permukaan ovarium (indung telur) disebut kista ovarium atau tumor ovarium.
(Wiknjosastro, 2007)
2.2 Klasifikasi
Klasifikasi tumor ovarium dibagi menjadi :

Tumor ovarium jinak


a. Kistik tumor ovarium non neoplastik:

Kista folikel

Kista ini berasal dari folikel de Graaf yang tidak sampai berovulasi, namun
tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah
bertumbuh dibawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang
lazim, melainkan memebesar menjadi kista.

Kista Korpus luteum

Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi korpus
albikans. Kadang-kadang korpus luteum mempertahan diri, perdarahan yang
sering terjadi didalamnya menyebabkan terjadinya kista, berisi cairan yang
berwarna merah cokelat karena darah tua.

Kista inklusi germinal

Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian kecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium.

Kista teka lutein

Disebabkan karena meningkatnya kadar HCG terdapat pada mola hidatidosa.

Kista endometrium

Kista ini endometriosis yang berlokasi di ovarium

Kista stein leventhal

Disebabkan

karena

peningkatan

kadar

LH

yang

menyebabkan

hiperstimuliovarium.
b) Tumor ovarium neoplastik

Kistoma ovarii simpleks

Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali
billateral, dan dapat menjadi besar

Kistadenoma musinosum

Asal tumor ini belum diketahui pasti namun diperkirakan berasal dari suatu
teratoma dimana dalam pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemenelemen lain.

Kistadenoma serosum

Para penulis berpaendapat bahwa kista ini berasal dari epitel permukaan
ovarium (germinal epithelium).

Kista endometroid

Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin, pada dinding dalamterdapat
satu lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel endometrium.

Kista dermoid

Sebenernya kista dermoid adalah satu teratoma kistik yang jinak di


manastruktur-struktur ektodermal dengan diferensiasi sempurna, seperti epitel
kulit,rambut, gigi, dan produk glandula sebasea.

Tumor ovarium ganas


Kistik

Kistadenokarsinoma

musinosum,

kistadenokarsinoma

serosum,

dan

epidermoidkarsinoma

Solid

Karsinoma endometroid dan mesonefroma.

2.3

Faktor Resiko
Penyebab kista ovarium dan beberapa faktor resiko berkembangnya ovarium

adalah wanita yang biasanya memiliki:(Wiknjosastro, 2007).

2.4

Riwayat kista ovarium terdahulu


Siklus haid tidak teratur
Perut buncit
Menstruasi di usia dini (11 tahun atau lebih muda)
Sulit hamil
Penderita Hipotiroid
Penderita kanker payudara yang pernah menjalani kemoterapi.

Etiologi
Kista ovarium dapat timbul akibat stimulasi yang berlebihan terhadap

gonadotropin (Sastrawinata, Sulaiman. dkk. 2004).

Gestational

khoriokarsinoma)
Fungsi ovarium, ovulasi yang terus menerus akan menyebabkan epitel

permukaan ovarium mengalami perubahan neoplastik.


Zat karsinogen, zat radioaktif, asbes, virus eksogen dan hidrokarbon

polikistik
Pada pasien yang sedang diobati akibat kasus infertilitas dimana terjadi

tropoblastic

neoplasma

induksiovulasi melalui manipulasi hormonal.


2.5

Manifestasi klinik

(molahidatidosa

dan

Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit
nyeri yang tidak berbahaya. Tetapi adapun kista yang berkembang menjadi besar
dan menimbulkan nyeri yang tajam. Pemastian penyakit tidak biasa dilihat dari
gejala-gejala saja karena mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti
endometriosis, radang panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker
ovarium. Meski demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau
perubahan ditubuh anda untuk mengetahui gejala mana yang serius.
(Wiknjosastro , 2007)
Gejala-gejala berikut yang muncul bila anda mempunyai kista ovarium:

Perut terasa penuh, berat, kembung.


Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil).
Haid tak teratur.
Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar

kepanggul bawah dan paha.


Nyeri senggama.
Mual, ingin muntah, atau pergeseran payudara mirip seperti pada saat
hamil.

2.6

Diagnosis

Anamnesa

Pada anamnesa rasa sakit atau tidak nyaman pada perut bagian bawah.
Rasa sakit tersebut akan bertambah jika kista tersebut terpuntir atau terjadi
ruptur. Terdapat juga rasa penuh di perut. Tekanan terhadap alat-alat di
sekitarnya dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, gangguan miksi dan
defekasi.Dapat

terjadi

penekanan

terhadap

kandung

kemih

sehingga

menyebabkan frekuensi berkemih menjadi sering.

Pemeriksaan Fisik

Kista yang besar dapat teraba dalam palpasi abdomen. Walau pada wanita
premonopause yang kurus dapat teraba ovarium normal tetapi hal ini adalah

abnormal jika terdapat pada wanita postmenopause. Perabaan menjadisulit pada


pasien yang gemuk. Teraba massa yang kistik, mobile, permukaan massa
umumnya rata. Cervix dan uterus dapat terdorong pada satu sisi.Dapat juga
teraba, massa lain, termasuk fibroid dan nodul padaligamentum uterosakral, ini
merupakan keganasan atau endometriosis. Padaperkusi mungkin didapatkan
ascites yang pasif.(Wiknjosastro, 2007).

Pemeriksaan Penunjang

1. USG
Merupakan alat terpenting dalam menggambarkan kista ovarium.Dengan
pemeriksaan ini dapat ditentukan letak batas tumor, apakah tumor berasal
dariuterus, atau ovarium, apakah tumor kistik atau solid dan dapat dibedakan
pulaantara

cairan

dalam

rongga

perut

yang

bebas

dan

tidak.Dapat

membantumengidentifikasi karakteristik kista ovarium.


2. Foto Roentgen
Pemeriksaan

ini

bertujuan

untuk

menentukan

adanya

hidrotoraks.Pemeriksaan pielogram inravena dan pemasukan bubur barium pada


kolon dapat untuk menentukan apakah tumor bearasal dari ovarium atau tidak,
misalnya tumor bukan dari ovarium yang terletak di daerah pelvis seperti tumor
kolon sigmoid.
3. Pengukuran serum CA-125
Tes darah dilakukan dengan mendeteksi zat yang dinamakan CA-125, CA125diasosiasikan dengan kanker ovarium. Dengan ini diketahui apakah massa
ini jinak atau ganas.
4. Laparoskopi
Perut diisi dengan gas dan sedikit insisi yang dibuat untuk memasukan
laparoskop.Melalui laparoskopi dapat diidentifikasi dan mengambil sedikit contoh
kista untuk pemeriksaan PA.
2.7

Penatalaksanaan

Dapat dipakai prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan


operasi dan tumor non neoplastik tidak. Tumor non neoplastik biasanya besarnya
tidak melebihi 5 cm. Tidak jarang tumor-tumor tersebut mengalami pengecilan
secara spontan dan menghilang. Tindakan operasi pada tumor ovarium
neoplastik yang tidak ganas adalah pengangkatan tumor dengan mengadakan
reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Tetapi jika tumornya
besar atau ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan ovarium, disertai
dengan pengangkatan tuba.
Seluruh jaringan hasil pembedahan perlu dikirim ke bagian patologi anatomi
untuk diperikasa. Pasien dengan kista ovarium simpleks biasanya tidak
membutuhkan terapi. Penelitian menunjukkan bahwa pada wanita post
menopause, kista yang berukuran kurang dari 5 cm dan kadar CA 125 dalam
batas normal, aman untuk tidak dilakukan terapi, namun harus dimonitor dengan
pemeriksaan USG serial. Sedangkan untuk wanita premenopause, kista
berukuran kurang dari 8 cm dianggap aman untuk tidak dilakukan terapi. Terapi
bedah diperlukan pada kista ovarium simpleks persisten yang lebih besar 10 cm
dan kista ovarium kompleks. Laparoskopi digunakan pada pasien dengan kista
benigna, kista fungsional atau simpleks yang memberikan keluhan. Laparotomi
harus dikerjakan pada pasien dengan resiko keganasan dan pada pasien
dengan kista benigna yang tidak dapat diangkat dengan laparaskopi. Eksisi kista
dengan konservasi ovarium dikerjakan pada pasien yang menginginkan ovarium
tidak diangkat untuk fertilitas di masa mendatang.Pengangkatan ovarium
sebelahnya

harus

dipertimbangkan

pada

wanita

post

menopause,

perimenopause, dan wanita premenopasue yang lebih tua dari 35 tahun yang
tidak menginginkan anak lagi serta yang beresiko menyebabkan karsinoma
ovarium.Diperlukan konsultasi dengan ahli endokrin reproduksi dan infertilitas
untuk endometrioma dan sindrom ovarium polikistik. Konsultasi dengan onkologi
ginekologi diperlukan untuk kista ovarium kompleks dengan serum CA125 lebih
dari 35 U/ml dan pada pasien dengan riwayat karsinoma ovarium pada
keluarga.Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan
pemeriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi
anatomik untuk mendapat kepastian tumor ganas atau tidak.

Untuk

tumor

Prosedurnya

ganas
adalah

ovarium,
total

pembedahan

abdominal

merupakan

histerektomi,

pilihan

bilateral

utama.
salfingo-

ooforektomi,dan appendiktomi (optional). Tindakan hanya mengangkat tumornya


saja (ooforektomi atau ooforokistektomi) masih dapat dibenarkan jika stadiumnya
iamasih muda, belum mempunyai anak, derajat keganasan tumor rendah seperti
pada fow potential malignancy (borderline). Radioterapi hanya efektif untuk jenis
tumor yang peka terhadap radisi, disgerminoma dan tumor sel granulosa.
Kemoterapi

menggunakan

obat

sitostatika

seperti

agens

alkylating

(cyclophosphamide, chlorambucyl) dan antimetabolit (adriamycin). FoIlow up


tumor ganas sampai 1 tahun setelah penanganan setiap 2 bulan, kemudian 4
bulan selama 3 tahun setiap 6 bulan sampai 5 tahun dan seterusnya setiap tahun
sekali.

2.8

Diagnosa Banding

2.9

Kehamilan
Mioma uteri
Tumor kolon sigmoid
Ginjal ektopik
Limpa bertangkai
Ascites
Komplikasi

a. Perdarahan ke dalam kista yang terjadi sedikit-sedikit, sehingga berangsurangsur menyebabkan pembesaran kista, dan hanya menimbulkan gejala-gejala
klinik yang minimal. Akan tetapi jika perdarahan terjadi dalam jumlah yang
banyak akan terjadi distensi yang cepat dari kista yang menimbulkan nyeri perut
yang mendadak.
b. Torsio. Putaran tangkai dapat terjadi pada kista yang berukuran diameter 5
cm atau lebih. Putaran tangkai menyebabkan gangguan sirkulasi meskipun
gangguan ini jarang bersifat total.
c. Kista ovarium yang besar dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada perut
dan dapat menekan vesica urinaria sehingga terjadi ketidakmampuan untuk
mengosongkan kandung kemih secara sempurna.

d. Massa kista ovarium berkembang setelah masa menopouse sehingga besar


kemungkinan untuk berubah menjadi kanker (maligna). Faktor inilah yang
menyebabkan pemeriksaan pelvic menjadi penting.
2.10

Prognosis
Prognosis untuk kista jinak baik.Walaupun penanganan dan pengobatan

kanker ovarium telah dilakukan dengan prosedur yang benar namun hasil
pengobatannya sampai sekarang ini belum sangat menggembirakan termasuk
pengobatan yang dilakukan di pusat kanker terkemuka di dunia sekalipun. Angka
kelangsungan hidup 5 tahun (5 Years survival rate) penderita kanker ovarium
stadium lanjut hanya kira-kira 20-30%, sedangkan sebagian besar penderita 6070% ditemukan dalam keadaan stadium lanjut sehingga penyakit ini disebut juga
dengan silent killer.(Wiknjosastro, 2007).

10

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1

Identitas

3.1.1

Identitas Pasien
Nama

: Ny. W

Register

: 11072933

Usia

: 45 tahun

Alamat

: Krajan Selatan RT1/ RW 10 Sumber Porong ,Lawang

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pendidikan

: SMP

Menikah

: 1 kali

Lama Menikah: 24 tahun


Datang di Poliklinik: 14 November 2012
Nama Suami : Tn. A
Usia

: 47 tahun

Menikah

: 1 kali

Pekerjaan

: Swasta ( Tukang Listrik )

Pendidikan

: SMA

Penghasilan

: 1,000,000 Rp-1,500,000 Rp

11

3.2

Subyektif

Anamnesa
(Tanggal 14 November 2012 Jam 11.00 )
Keluhan Utama

: Benjolan di perut sebelah kanan disertai nyeri


kadang- kadang. Benjolan semakin lama semakin
membesar.

Keluhan Penyerta

: Nyeri kalau ditekan di benjolan dan mual .

Pasien datang ke IGD dr. Saiful Anwar Malang dengan keluhan


benjolan di perut sebelah kanan disertai nyeri kadang-kadang sejak 2
bulan yang lalu.Nyeri juga dirasakan saat perut ditekan dan disertai mula
Sebelum datang ke IGD RSU dr. Saiful Anwar Malang pasien sudah
berobat ke RSU Lawang oleh dr Hendri SpOG dan akhirnya dirujuk ke
RSSA karena benjolan sudah terlalu besar.Pasien tidak mengalami
penurunan berat badan.Riwayat haid teratur tiap bulan,lama 3-4 hari,ganti
pembalut 3-4 kali sehari. Pasien tidak merasakan nyeri saat haid dan saat
berhubungan.Hari pertama menstruasi terakhir 14 Oktober 2012.Pasien
sering BAK tetapi sedikit.Pasienmempunyai riwayat minum jamu daun
sirih setelah menstruasi.Pasien juga tidak ada riwayat merokok, minumminuman beralkohol.Pasien tidak mengalami nyeri pervaginal. Pasien
tidak pernah darah tinggi, Pasien tidak pernah gula darah tinggi..Tidak
ada riwayat pemakaian KB.

Riwayat penyakit terdahulu


Pasien mempunyai riwayat penyakit keputihan sejak 3 tahun yang lalu
dan sudah kontrol ke poli ginekologi.

Riwayat pengobatan
Awalnya

pasien

berobat

ke

bidan

dan

dirujuk

ke

Puskesmas

Lawang.Pasien kemudian dirujuk ke RSU Lawang dan dirawat oleh dr


Hendri SpOG.Pasien akhirnya dirujuk ke RSSA karena benjolan nya
sudah terlalu besar.Minum jamu daun sirih setelah menstruasi.

12

Riwayat penyakit keluarga


Pasien menyangkal kalau dalam keluarganya ada yang pernah
mempunyaitumor kandungan seperti yang pasien alami.Keputihan (- ) DM
(-), hipertensi (-).

Riwayat kehamilan dan kelahiran


G1P1001Ab000
Anak pertama lahir SptB di bidan dengan berat lahir 3100 gram panjang
badan 49 cm sekarang usia 23 tahun
o Riwayat penyakit saat kehamilan anak pertama:
o Hipertensi (-)
o Kencing Manis (-)
o Asma (-)
o Perdarahan (-)
o Keguguran (-)
o Demam (-)
o Anyang-anyangan (-)
o Keputihan (-)
o Flu (-)
o Jamu (-)
o Obat (-) vitamin
o Pijat oyok (-)

Riwayat intake makanan


Nafsu makan pasien normal 3 x sehari.

3.3

Obyektif
Pemeriksaan Fisik
(A) Generalis
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan Darah

: 110/80 mmHg

Nadi

: 80 x/Menit, Reguler

RR

: 20 x/Menit

Temperatur Axilla

: 36,80C

Temperatur Rectal

: 36,6o C

13

Kepala dan Leher

: Anemis - / - Ikterus - /-

Thorax

: Cor/ S1 S2 tunggal, Murmur(-)


Pulmo/ v v

Abdomen

Rh - -

Wh - -

v v

- -

- -

v v

- -

- -

:Teraba massa kistik ukuran 12 x 10 cm, mobile,


permukaan rata ,berbatas tegas.

Ekstermitas

: edema - -

Anemi - -

Gatal- Gatal - -

- -

- -

- -

Berat badan

: 48 kg

Tinggi Badan

: 147 cm

(B) Status Ginekologi


Genetalia Externa
Vulva

: Flux (-) Flex -) Massa (-) ulkus (-)

Inspekulo
V/v

: Flux (-) Flex(-)


POMP tertutup, Licin,

VT
Vulva

: POMP tertutup, licin,


CUAF ~ dalam batas normal
APD:teraba massa kistik ukuran 12
cm,mobile,permukaan rata,berbatas tegas,tidak
nyeri
AP S: massa (-),nyeri (-)
Cavum Douglasi dalam batas normal.

Diagnosis banding
PDx
14

Laboratorium

: Lab lengkap ( DL,SE,SGOT,SGPT,Albumin ,GDS,

Creatinine,Ureum),Konsul kardiologi,Konsul anastesi.

a. Hasil Laboratorium Darah Lengkap tanggal 14-11-2012


Darah Lengkap

Nilai

Satuan

Nilai Rujukan

Kesan

Leukosit

6,69

103/mm3

4,7-11,3

Normal

Hemoglobin

11,9

g/dL

11,4-15,1

Normal

Hematokrit

36,9

38 - 42

Rendah

Trombosit

350

103/mm3

142 424

Normal

MCV

80,40

Fl

80 93

Normal

MCH

25,90

Pg

27 31

Normal

MCHC

32,20

g%

32 36

Normal

RDW

12,90

11,5 - 14,5

Normal

Neutrofil

83,9

51 67

Normal

Limfosit

10,6

25 33

Normal

Monosit

4,8

25

Normal

Eosinofil

0.4

04

Normal

Basofil

0,3

01

Normal

Lain-lain

Hitung Jenis :

b. Serum Elektrolit
Natrium:134 mmol/L
Kalium :3.73 mmol/L
Klorida:114 mmol/L
c. Faal Hati
SGOT:14 U/L
SGPT:6 U/L
Albumin:4.34 g/dL
d. Metabolisme Karbohidrat
Gula Darah Sewaktu :112 mg/dL
e. Faal Ginjal

15

Ureum: 17.90 mg/dL


Creatinine:0.59 mg/dL
f.

Faal Hemostasis
PPT dan APTT Dalam Batas Normal

g. Hasil USG ginekologi


31 Oktober 2012
VU:Ukuran normal,dinding regular,massa/batu (-)
Uterus:Ukuran normal ,tidak tampak massa patologis,posisi retrofleksia
Tampak massa complex solid kistik ,batas tegas ,bersepta ,dengan
kalsifikasi ,ukuran mencapai hingga region umbilical,kemungkinan dari
adnexa kanan dengan color Doppler tampak vaskularisasi pada septanya
dan bagian yang solid RI=0.72-0.83

Tidak tampak limfadenopati pada aorta abdominalis dan parailiaca.


Kesimpulan :mixed ovarial tumor kanan susp teratoma

14 November 2012
Tampak VU terisi minimal
Tampak Uterus dalam batas normal
Adnexa:Massa kistik dengan internal echo ukuran 91.9x134 mm
h. Hasil USG color Doppler
Mixed ovarial tumor kanan suspect teratoma
RI:0.72-0.83
i) Ca 125 : 134.5

Diagnosis Kerja
Cystoma Ovarii
PTx
16

1.Pro SOVC
2.Persiapan operasi
-Puasa
-IVFD RL 1000cc
-Injeksi Ceftriaxone 1gr IV (skin test)
-Injeksi Metoclopramide 1 amp IV
-Injeksi Ranitidin 1 amp IV
-Daftar OK/Sedia darah/SP

PMo
Observasi VS dan keluhan
KIE
Menjelaskan kepada pasien tentang :
1. Menjelaskan tentang operasi yang akan dilakukan beserta komplikasi
yang bisa terjadi.
2. Pasien disuruh banyak istirehat dan menghindari pekerjaan yang beratberat setelah operasi.
3. Menjelaskan kapan pasien harus kontrol lagi dan sampai berapa lama.

17

BAB IV
PERMASALAHAN

4.1

Medis

4.2

Siklus haid masih teratur.


Menyangkal nyeri saat berhubungan.
Terapi apa yang dapat diberikan.
Sosial

4.3

Tingkat Pendidikan
Ekonomi

Pekerjaan Tukang Listrik

18

BAB V
PEMBAHASAN

Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat
tumbuhdimana saja dan jenisnya bermacam-macam.Kista yang berada di dalam
atau permukaan ovarium (indung telur) disebut kista ovarium atau tumor
ovarium.(Wiknjosastro, 2007)
Keluhan utama pada kista ovarium adalah .Perut terasa penuh, berat,
kembung,Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil),Haid tak
teratur,nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar
kepanggul

bawah

dan

paha,nyeri

senggama,mual,

ingin

muntah,

atau

pergeseran payudara mirip seperti pada saat hamil. Pada pasien ini didapatkan
keluhan nyeri pada perut sejak 2 bulan yang laludi sertai masa yang besar pada
perut bagian kanan. Selain itu pasien juga mengeluhkan beberapa bulan terakhir
buang air kecil menjadi sedikit.
Penyebab kista ovarium adalah stimulasi yang berlebihan terhadap
gonadotropin:(Sastrawinata,

Sulaiman.

dkk.

2004).

Selain

itu,Gestational

tropoblastic neoplasma ( molahidatidosa dan khoriokarsinoma),Fungsi ovarium,


ovulasi yang terus menerus akan menyebabkan epitel permukaan ovarium
mengalami perubahan neoplastik, dan Zat karsinogen, zat radioaktif, asbes, virus
eksogen dan hidrokarbon polikistik. Pada pasien ini penyebabnya masih perlu
dicari.
Pada anamnesa rasa sakit atau tidak nyaman pada perut bagian bawah.
Rasa sakit tersebutakan bertambah jika kista tersebut terpuntir atau terjadi
ruptur. Terdapat juga rasa penuh di perut.Tekanan terhadap alat-alat di
sekitarnya dapat menyebabkan rasa tidaknyaman, gangguan miksi dan
defekasi.Dapat

terjadi

penekanan

terhadap

kandung

kemih

sehingga

menyebabkan frekuensi berkemih menjadi sering. Pada pasien anam nesa yang
didapatkan adalah keluhan benjolan di perut sebelah kanan disertai nyeri
kadang-kadang sejak 2 bulan yang lalu.Nyeri juga dirasakan saat perut ditekan
dan disertai.Pasien tidak mengalami penurunan berat badan.Riwayat haid teratur
tiap bulan,lama 3-4 hari,ganti pembalut 3-4 kali sehari. Pasien tidak merasakan
nyeri saat haid dan saat berhubungan.Hari pertama menstruasi terakhir 14
Oktober 2012.Pasien sering BAK tetapi sedikit.

19

Hasil pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan pada pasien dengan kista
ovarium adalah Kista yang besar dan dapat teraba dalam palpasi abdomen.
Walau pada wanita premonopause yang kurus dapat teraba ovarium normal
tetapi hal ini adalah abnormal jika terdapat pada wanita postmenopause.
Perabaan menjadisulit pada pasien yang gemuk. Teraba massa yang kistik,
mobile, permukaan massa umumnya rata. Cervix dan uterus dapat terdorong
pada satu sisi.Dapat juga teraba, massa lain, termasuk fibroid dan nodul
padaligamentum uterosakral, ini merupakan keganasan atau endometriosis.
Padaperkusi mungkin didapatkan ascites yang pasif.(Wiknjosastro, 2007). Pada
pasien ini, didapatkan pemeriksaan fisik didapatkan Teraba massa kistik ukuran
12 x 10 cm, mobile, permukaan rata ,berbatas tegas pada abdomen disertai
APD:teraba massa kistik ukuran 12 cm,mobile,permukaan rata,berbatas
tegas,tidak nyeri pada pemeriksaan VT.
Pemeriksaan penunjang yang di lakukan untuk mendiagnosa kista ovarium
Pemeriksaan Penunjang,USG Merupakan alat terpenting dalam menggambarkan
kista ovarium. Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak batas tumor,
apakah tumor berasal dariuterus, atau ovarium, apakah tumor kistik atau solid
dan dapat dibedakan pulaantara cairan dalam rongga perut yang bebas dan
tidak dapat membantumengidentifikasi karakteristik kista ovarium.
Roentgen,pemeriksaan

ini

bertujuan

untuk

menentukan

Foto
adanya

hidrotoraks.Pemeriksaan pielogram inravena dan pemasukan bubur barium pada


kolon dapat untuk menentukan apakah tumor bearasal dari ovarium atau tidak,
misalnya tumor bukan dari ovarium yang terletak di daerah pelvis seperti tumor
kolon sigmoid. Pengukuran serum CA-125,Tes darah dilakukan dengan
mendeteksi zat yang dinamakan CA-125, CA-125diasosiasikan dengan kanker
ovarium. Dengan ini diketahui apakah massa ini jinak atau ganas.dan
Laparoskopi Perut diisi dengan gas dan sedikit insisi yang dibuat untuk
memasukan laparoskop.Melalui laparoskopi dapat diidentifikasi dan mengambil
sedikit contoh kista untuk

pemeriksaan PA. Pada pasien ini dilakukan

pemeriksaan penunjang antar lain :


a)

USG

ginekologi

pada

tanggal

31

Oktober

2012

dengan

hasilVU:Ukuran normal,dinding regular,massa/batu (-) Uterus:Ukuran


normal ,tidak tampak massa patologis,posisi retrofleksia.Tampak massa
complex solid kistik ,batas tegas ,bersepta ,dengan kalsifikasi ,ukuran

20

mencapai hingga region umbilical,kemungkinan dari adnexa kanan


dengan color Doppler tampak vaskularisasi pada septanya dan bagian
yang

solid

RI=0.72-0.83.Tidak

tampak

limfadenopati

pada

aorta

abdominalis dan parailiaca.dengan Kesimpulan :mixed ovarial tumor


kanan

susp teratoma. Dan pemeriksaan pada tanggal 14 November

2012 Tampak VU terisi minimal,Tampak Uterus dalam batas normal serta


Adnexa:Massa kistik dengan internal echo ukuran 91.9x134 mm .
a. USG color Doppler dengan hasil, Mixed ovarial tumor kanan suspect
teratoma. RI:0.72-0.83, dan Ca 125 : 134.5
Penatalaksanaan yang dilakukan pada kista ovari

Dapat dipakai prinsip

bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor non neoplastik
tidak. Tumor non neoplastik biasanya besarnya tidak melebihi 5 cm. Tidak jarang
tumor-tumor

tersebut

mengalami

pengecilan

secara

spontan

dan

menghilang.Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas


adalah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium
yang mengandung tumor. Tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu
dilakukan pengangkatan ovarium, disertai dengan pengangkatan tuba.
Seluruh jaringan hasil pembedahan perlu dikirim ke bagian patologi anatomi
untuk diperikasa.Pasien dengan kista ovarium simpleks biasanya tidak
membutuhkan terapi. Penelitian menunjukkan bahwa pada wanita post
menopause, kista yang berukuran kurang dari 5 cm dan kadar CA 125 dalam
batas normal, aman untuk tidak dilakukan terapi, namun harus dimonitor dengan
pemeriksaan

USG

serial.Sedangkan

untuk

wanita

premenopause,

kista

berukuran kurang dari 8 cm dianggap aman untuk tidak dilakukan terapi.Terapi


bedah diperlukan pada kista ovarium simpleks persisten yanglebih besar 10 cm
dan kista ovarium kompleks. Laparoskopi digunakan pada pasien dengan kista
benigna, kista fungsional atau simpleks yang memberikan keluhan. Laparotomi
harus dikerjakan pada pasien dengan resiko keganasan dan pada pasien
dengan kista benigna yang tidak dapat diangkat dengan laparaskopi.Eksisi kista
dengan konservasi ovarium dikerjakan pada pasien yang menginginkan ovarium
tidak diangkat untuk fertilitas di masa mendatang.Pengangkatan ovarium
sebelahnya

harus

dipertimbangkan

pada

wanita

post

menopause,

perimenopause, dan wanita premenopasue yang lebih tua dari 35 tahun yang
tidak menginginkan anak lagi serta yang beresiko menyebabkan karsinoma
ovarium.Diperlukan konsultasi dengan ahli endokrin reproduksi dan infertilitas

21

untuk endometrioma dan sindrom ovarium polikistik. Konsultasi dengan onkologi


ginekologi diperlukan untuk kista ovarium kompleks dengan serum CA125 lebih
dari 35 U/ml dan pada pasien dengan riwayat karsinoma ovarium pada
keluarga.Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan
pemeriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi
anatomik untuk mendapat kepastian tumor ganas atau tidak. Penatalaksan yang
dilakukanpada pasien meliputi SOVC dan Operasi dengan premedikasi
-Puasa
-IVFD RL 1000cc
-Injeksi Ceftriaxone 1gr IV (skin test)
-Injeksi Metoclopramide 1 amp IV
-Injeksi Ranitidin 1 amp IVmedik
-Daftar OK/Sedia darah/SP
Operasi dilakukan karena ukuran kista yang melebihi 5 cm dan sudah
menggangu organ sekitar.
Prognosis pada pasien ini adalah Dubia ed Bonam jika penatalaksanaan
telah benar dan sesuai prosed

22

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Tumor


Ovarium Neoplastik Jinak. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran.
Jilid I. Jakarta :Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2000. p. 388-9.
Moeloek FA, Nuranna L, Wibowo N, Purbadi S. Standar Pelayanan Medik
Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : Perkumpulan Obstetri dan
GinekologiIndonesia; 2006. p.130.
Sastrawinata, Sulaiman. dkk. 2004. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri
Patologi.Edisi 2. Jakarta: EGC hal :104.
Wiknjosastro H. Tumor Jinak Pada Alat Genital Dalam Buku Ilmu
KandunganEdisi 2., editor: Saifuddin A.B,dkk. Jakarta: Yayasan Bina
PustakaSarwono Prawirohardjo.2005: 345-346.
Wiknjosastro, Hanifa. dkk. 2007. Ilmu Kandungan. Edisi 2.Cetakan 5.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Hal : 346
362.

23