Anda di halaman 1dari 3

EVALUASI PROYEK INFRASTRUKTUR

EKSPLOITASI GUA PLAYAN SEBAGAI SOLUSI KEKERINGAN DI


DESA GIRICAHYO, KABUPATEN GUNUNG KIDUL

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan
akan menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya,
air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air
minum. Adapun

persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi

kualitas air yang meliputi kualitas fisik, kimia, biologi dan radiologis, sehingga
apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping
Air baku untuk air bersih harus dapat diambil terus menerus dengan
fluktuasi debit yang relatif tetap, baik pada saat musim kemarau maupun musim
hujan. Kontinuitas juga dapat diartikan bahwa air bersih harus tersedia 24 jam
per hari, atau setiap saat diperlukan.
Penyediaan air bersih untuk masyarakat mempunyai peranan yang sangat
penting dalam meningkatkan kesehatan lingkungan atau masyarakat, yakni
mempunyai peranan dalam menurunkan angka penderita penyakit, khususnya
yang berhubungan dengan air, dan berperan dalam meningkatkan standar atau
taraf/kualitas hidup masyarakat.
Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah dari kebutuhan air
untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan (entry
point). Terjadinya kekeriangan di suatu daerah bisa menjadi kendala dalam
penungkatan produksi pangan di daerah tersebut. Di Indonesia pada setiap
musim kemarau hamper selalu terjadi kekeringan pada tanaman pangan dengan
intensitas dan luas daerah yang berbeda tiap tahunnya.

Goa Plawan termasuk salah satu potensi alam goa yang terdapat di Dusun
Gabug, Desa Giricahyo, Kec. Purwosari, Kab. Gunung Kidul Provinsi
D.I.Yogyakarta. Goa Plawan mempunyai kedalaman 107 meter dan potensi air
dalam Goa Plawang sangat besar sekali, debit air di Goa Plawang sebesar 200
liter/detik. Oleh karena itu, Goa Plawan dimaanfaatkan sebagai sumber air
bersih. Tetapi Untuk saat ini warga masih menggunakan cara tradisional untuk
mendapatkan air dari dalam gua tersebut.
Sebagai solusi untuk mengatasi kekeringan dan memanfaatkan potensi
yang ada di desa tersebut perlu diadakan eksploitasi air di gua playan tersebut.
Sebagai sarananya (resources) perlu dibangun infrastruktur yang berupa pipapipa penyalur air, bak reservoir , mesin pengangkat air (pompa), panel surya
untuk tenaga mesin dan lainnya. Setelah air diangkat dari goa, selanjutnya akan
di tamping disuatu bak reservoir. Dari bak inilah nantinya mampu mengalirkan
air ke seluruh penjuru masyarakat.
Dengan adanya infrastruktur ini diharapkan terjadi perubahan gaya
mencari kebutuhan air bersih dari sumber mata air sekarang langsung dapat
disalurkan melalui pipa-pipa ke rumah-rumah warga. Selain itu terjadinya
peningkatan pola penggunaan air yang lebih efektif dan fungsional. Dengan
demikian diharapkan tingkat kesejahteraan warga desa dapat lebih meningkat.
Kategori dalam pembangunan proyek ini termasuk public utilities
(fasilitas umum) karena keseluruhan hasil pengembangan kawasan akan
digunakan oleh masyarakat dan bisa menjadi akses dunia luar dan terciptanya
suatu kondisi yang memiliki kehidupan infrastruktur didalamnya. Dalam
pendekatan infrastruktur sebagai fasilitas pendukung terdapat kapasitas yang
dipilah kedalam tiga kategori yaitu kapasitas personal, kapasitas komunitas dan
kapasitas sistem. Kapasitas personal terkait dengan ketrampilan (skill) dan
pengetahuan yang dimiliki masyarakat di daerah tersebut. Dalam hal

pembangunan yang melibatkan masyarakat untuk tenaga ahli mendapatkan


bantuan dari Universitas Gajah Mada (UGM) dan Dinas Pekerjaan Umum yang
langsung menerjunkan orang orang mahasiswa dan dosen dari berbagai
fakultas serta para professional dari pihak dinas Pekerjaan Umum untuk turun
langsung ke lapangan untuk memberikan arahan untuk pembangunan wilayah di
daerah daerah itu, arahan dilakukan dengan cara memperlihatkan langsung
dilapangan bagaimana sistem kerja untuk membangun proyek tersebut
Kapasitas sistem tercermin dengan adanya hubungan kerjasama
Universitas Gajah Mada dengan pihak luar dalam pencarian dana untuk Desa
Giricahyo. Universitas Gajah Mada menjadi pihak yang bertanggungjawab
dalam membantu pengelolaan infastruktur di Desa Giricahyo sehingga
masyarakat mendapat kepastian akan tetap terlaksananya proyek ini walaupun
terdapat beberapa kendala di lapangan seperti pemeliharaan (maintenance) yang
orang- orang didaerah tersebut belum mengerti secara penuh bagaimana cara
cara pemeliharaan pembangunan yang sudah terlaksana.
Dalam implementasi kebijakan dan program pembangunan juga
membutuhkan jejaring (network) dan logistik. Jejaring tersebut berupa
hubungan antara masyarakat dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk melakukan
interaksi dengan lingkungan luar. Hubungan tersebut dapat berdampak baik bagi
pembangunan di desa desa karena adanya sarana interaksi yang lebih luas
untuk pelaksanaan pembangunan selanjutnya. Logistik dalam konteks ini adalah
pengelolaan jangka berkelanjutan untuk pembangunan infrastruktur di daerah
tersebut. Sistem pemeliharan (maintenance) dibebankan kepada masyarakat
yang menggunakan atau yang berada didekat nya.
.