Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

EFEK OBAT PADA SISTEM KARDIOVASKULAR


(SIMULASI KOMPUTER)

Asisten

: Bu Beatrice

Kelompok pembuat laporan :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Puspita Budi Anggraeni


Elfrida Riandani Yulitama
Weni Nurohmawati
Rien Esti Pambudi
Nori Diva Tanisa
Ni Putu Wahyu Cahyaning Utami

(2443013098)
(2443013109)
(2443013118)
(2443013119)
(2443013302)
(2443014264)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA
SURABAYA
2016
a.

Judul
Efek obat pada sistem kardiovaskulari (simulasi komputer).

b.

Tujuan Praktikum

Memahami efek berbagai obat pada tekanan darah arterial

Memahami efek berbagai obat pada kecepatan denyut jantung

Memahami efek berbagai obat pada kekuatan kontraksi jantung

c.

Teori Tentang Obat Uji


i.
Penggolongan Obat
Analgesik Opioid ( Morphin, naloxone )
Antagonis adenosine ( 8-Sulfophenyl Theophyline )
Antagonis H1 ( Mepiramin )
Anti aritmia ( Adenosine )
Antidiabetes, Sulfonilurea ( Metformin )
Antihipertensi, CCB non dihidropiridine ( Verapamil )
Antikolinergik ( Nor adrenalin, Atropin, Gallamin )
Blokerganglionik ( Hexametonium )
Histamin
Kolinergik ( Asetilkolin, Neostigmin, Carbachol )
Muscle Relaxane ( Tobucurarine )
ii.
Farmakokinetika ADME
Antikolinergik ( Atropin )
Dalam sirkulasi darah, atropine mampu memasuki jaringan dan
separuhnya mengalami hidrolisis enzimatim di hepar dan sebagian
dieksresi dalam bentuk asal, dengan waktu paruh sekitar 4 jam ( Salistia,

2007).
Analgesik opioid ( Morfin )
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat diabsorbsi melalui
kulit luka. Morfin juga dapat menembus mukosa, sehingga menyebabkan
sebagian kecil morfin yang diabsorbsi. Setelah pemberian tunggal, morfin
mengalami konyugasi dengan asam glukoronat di hepar, sebagian

dikeluarkan dalam bentuk bebas dan 10%

tidak diketahui nasibnya.

Eksresi morfin terutama melalui ginjal, sebagian kecil melalui tinja dan
keringat sedangkan yang terkonyugasi ditemukan dalam empedu, dan

sebagian kecil dikeluarkan bersama cairan lambung( Sulistia, 2007).


Antihistamin
Setelah pemberian peroralatau parenteral AH1 diabsorbsisecarabaik,
efeknyaditimbulkansetelah

15-30

menitdenganmaksimal

1-2

jam.

Sedangkan lama kerjagenerasi 1 setelahpemberiandosistunggaladalah 4

6 jam ( Sulistia, 2007 ).


Anti aritmia ( Adenosin )
Dieliminasidalamwaktu
dalamselmenjalani

yang
transport

dalamseldimetabolisirolehenzim

singkathanyabeberapadetiksaja.
aktifkedalamsemuaseldan
deaminase

menjadimetabolit

Di
di
yang

tidakaktif( Sulistia, 2007 ).


Sulfonilurea ( Metformin )
Diabsorbsimelaluisalurancernadengancukupefektif. Terikatpada protein
plasma sekitar 30 90% terutama albumin. Semua sulfonylurea dieksresi
di ginjaldandiabsorbsi di hepar( sulistia, 2007 ).

iii.

StrukturObat

iv.

FarmakodinamikaObat
Atropine
Pengaruh atropine terhadap jantung bersifat bifasik, dengan pemberian
dosis 0,25 0,5mg yang lazim digunakan.Bradikardi biasanya tidak nyata
dan tidak disertai perubahan tekanan darah atau curah jantung. Atropin
tidak mempengaruhui tekanan darah atau pembuluh darah secara
langsung, tetapi menghamba tvasodilatasi oleh asetilkoline atau ester kolin
yang lain. Atropin tidak berefek pada sirkulasi darah bila diberikan sendiri,

karena pembuluh darah tidak dipersarafi parasimpatik( Salistia, 2007 ).


Asetilkolin
Efek farmakodinaamik Ach dibedakan menjadi dua, yaitu efek muskarinik
dan efek nikotinik. Pada sistem kardiovaskular vasodilatasi Ach terjadi di
semua anteriol, termasuk di pembuluh darah koroner dan pulmoner, hal ini
terjadi karena Ach bekerja langsung pada reseptor muskarinik M3 yang
terdapat pada endotel, yang kemudian akan memacu sintesi snitric oxide.
Selain itu secara tidak langsung menyebabkan vasodilatasi karena
merangsang reseptor muskarinik yang terdapat di prasinaps saraf
adrenergic dan berperan dalam penggurangan penglepasan NE ( Salistia,

2007 ).
Analgesik opioid ( Morphin )
Pemberian morfin pada dosis terapi tidak mempengaruhi tekanan darah,
frekuensi maupun irama denyut jantung. Perubahan yang terjadi akibat
efek depresi pada pusat vagus dan pusat vasomotor yang baru terjadi pada
dosis toksik. Tekanan darah turun akibat hipoksia pada stadium akhir
intoksikasi morfin. Morfin dan opioid lain menurunkan kemampuan
sistem kardiovaskular untuk bereaksi terhadap perubahan sikap. Efek
pada curah jantung tidak konstan dan pada miokard tidak berarti karena
frekuensi jantung dipengaruhi atau hanya menurun sedikit ( Salistia, 2007

).
Antagonis Histamin
Menghambat efek histamine pada pembuluh darah, bronkus dan
bermacam macam otot polos. Dalam dosis terapi tidak memperlihatkan
efek yang berarti pada sistem kardiovaskular. Selain itu AH1 bermanfaat

mengobati hipersensitivitas atau keadaan lain yang disertai penglepasan

histamine endogen berlebihan( Sulistia, 2007 ).


Anti aritmia ( Adenosin )
Efek adenosine diperantarai melalui interaksinya dengan reseptor adenosin
yang berpasangan dengan protein G, adenosine mengaktifkan aliran ion
kalium yang sensitive terhadap asetilkolin di atrium, sinus dan nodus AV
yang dapat menimbulkan pemendakan lama aksi potensial, hiperpolarisasi

dan perlambatan automatisitas normal ( Sulistia, 2007 ).


Sulfonilurea ( Metformin )
Dengan merangsang insulin
dari granul sel pankreas, melalui
interaksinya dengan ATP-sensitive K channel pada membran sel
pankreas yang menimbulkan depolarisasi membrane sehingga dapat

membuka kanal Ca. maka ion Ca akan merangsang pengeluaran insulin


( Sulistia, 2007 ).
Antihipertensi ( Verapamil )
Memperlambat pembentukan impuls spontan di nodus SA serta
v.

menurunkan kecepatan depolarisasi spontan 4 fase di serabut purkinje.


ESO, Toksisitasobat
Antikolinergik ( Atropin )
Mulutkering, gangguan miksi, meteorisme yang sering terjadi, sindrom
demensia, memburuknya sekresi urin pada pasien hipertofiprostat,
memburuknya penglihatan pada pasien glaukoma, kompensasi pembuluh

darah di wajah yang menyebabkan muka menjadi merah (Sulistia, 2007).


Kolinergik ( Asetilkolin )
Dapat menimbulkan serangan iskemia jantung pada pasien angina pektoris

karena akan mengurasi sirkulasi koroner( Sulistia, 2007 ).


Analgesik opioid ( Morfin )
Menyebabkan mual dan muntah terutama pada wanita, gejala urtikaria,
dermatitis kontak, pruritis dan bersin pada kasus intoksikasi akut pasien
akan mengalami sopor atau koma, pasien sianotik, frekuensi nafas lambat

dan pupil pint point ( Sulistia, 2007 ).


Antihistamin
Mulut kering, palpitasi, hipotensi, sakit kepala, rasa berat dan lemah pada
tangan ( Sulistia, 2007 ).
Anti aritmia ( Adenosin )

Asistol, pada dosis 6-12mg pasien merasakan dadanya sesak. Dan sesekali

vi.

dilaporkan adanya bronkospasme ( Sulistia, 2007 ).


Sulfonilurea ( Metformin )
Hipoglikemi hingga koma, gejala susunan saraf pusat seperti vertigo

dangan gangguan saluran cerna.


Antihipertensi ( CCB non dihidropiridin, Verapamil )
Konstipasi, hipotensi berat.
Indikasi Klinis Obat
Antikolinergik
Atropine untuk saluran cerna digunakan sebagai penghambat motilitas
terutama mengobati ulkus peptikum, dan untuk medikasi preanestasi yaitu
untuk mengurangi sekresi lender jalan napas serta menghambat N.vagus

pada bradikardia.
Kolinergik ( Asetilkolin )
Tidak berguna secara klinis, hanya digunakan dalam penelitian
dikarenakan efek sangat luas di berbagai organ dan memiliki efek kerja
yang terlalu singkat karena segara dihancurkan oleh butir kolinesterase

( Sulistia, 2007 ).
Analgesik Opioid ( Morfin )
Meredakan dan menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati
dengan analgesic non-opioid, mengurangi sesak nafas akibat edema

pulmonai yang menyertai gagal jantung kiri( Sulistia, 2007 ).


Antihistamin
Pengobatan simtomatik berbagai penyakit alergi dan mencegah atau

mengobati mabuk perjalanan ( sulistia, 2007 ).


Anti aritmia ( Adenosin )
Pengobatan kardia ventrikel yang disangka terjadi karena delayed after

depolarzation ( DAD ).
Sulfonilurea
Pengobatan DM tipe II
Antihipertensi ( Verapamil )
Pengobatan pilihan utama pada serangan akut takikardia supra ventrikel
paroksismal yang disebabkan oleh arus balik nodus AV, penurunan segera

vii.

respons ventrikel pada fibrilasi atau flutter atrium ( Sulistia, 2007 ).


Daftar produk dagang obat yang beredar dan Industri pembuatnya

d.

No

Nama generik

Nama Dagang

Pabrik

Morfin

MSTcontinous

Mahakam

Metformin

Benofamin

Bernofarma

Nor epineprin

Levosol

Fahrenheit

Atropin

Cendotropine

Cendo

Neostigmin

Prostigmin

Combiphar

Verapamil

Cardiover

Landson

Metode dan Pengujian Aktivitas


i. Hewan percobaan
: Kucing
ii. Jenis obat
:
1. Tobucurarine (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 mg/kg)
2. Noradrenaline (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 g/kg)
3. Asetilkolin (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 /kg)
4. Neostigmin (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 mg/kg)
5. Carbacol (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 /kg)
6. Atropin (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 mg/kg)
7. Histamin (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 mg/kg)
8. Mepiramin (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 mg/kg)
9. Hexametonium (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 mg/kg)
10. Gallamin (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 mg/kg)
11. Verapamil (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 mg/kg)
12. Morphin (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 mg/kg)
13. Naloxone (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 mg/kg)
14. Adenosin (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 /kg)
15. 8-SPT (0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 mg/kg)
iii. Alat dan bahan

e.

: Program Stratchclyde Pharmacology Simulations: The


Virtual Cat.

Skema Kerja Praktikum


Buka program Stratchclyde Pharmacology Simulations: The Virtual Cat.

Kemudian akan muncul kotak dialog (Gambar e.1) klik OK


Klik Options pada Set Display Options pilih : Blood Pressure, Heart Rate dan
Skeletal Muscle (Gambar e.2)
Mulailah dengan tombol Start untuk menggambar grafik sebelum perlakuan obat.
Hentikan grafik setelah tergambar sepanjang 2 kotak dengan klik Stop (Gambar
e.3)
Pilihlah obat pada Standard Drugs beserta dosisnya. Buatlah grafik sepanjang 2
kotak untuk setiap perlakuan dosis obat dengan klik Start dan Stop
Setelah mendapatkan grafik dari berbagai dosis obat, catat hasilnya ke dalam table.
Ambil puncak grafik sebagai data.

Gambar e.1

Tampilan program

Stratchclyde

Pharmacology

Simulations:

The Virtual Cat.

Gambar e.2

Tampilan program

Stratchclyde

Pharmacology

Simulations:

The Virtual Cat.

Gambar e.3 Tampilan program Stratchclyde Pharmacology Simulations: The Virtual Cat.

f.
No.

Hasil Praktikum
Obat

Golongan

Dosis

1.

Tobocurarine

Muscle
Relaxane

0,1mg/kg
100 mg/kg

2.

Noradrenaline

3.

Acetylcholine

Anti
Kolinergik
Kolinergik

4.

Neostigmine

Kolinergik

5.

Carbachol

Kolinergik

6.

Atropine

Anti

0,1 mg/kg
100 mg/kg
0,1 mg/kg
100 mg/kg
0,1 mg/kg
100 mg/kg
0,1 mg/kg
100 mg/kg
0,1 mg/kg

Blood
Pressure

Heart
Rate

Skeletal
Muscle
Relaksasi

Relaksasi

Kontraksi

Kontraksi

Kontraksi

Kontraksi

Mekanisme Kerja

Antagonis kompetitif
Ach pada reseptor
nikotinik
Merangsang adeno
reseptor
Merangsang reseptor
muskarinik dan nikotinik
Agonis dengan Ach pada
reseptor muskarinik

Antagonis kompetitif

Kolinergik

100 mg/kg

dengan Ach reseptor


muskarinik
Histamin menimbulkan
efek bila berinteraksi
dengan H1, H2 & H3
Menghambat interaksi
histamin dengan reseptor
Menghambat transmisi
prostaglandin
Kompetitif antagonis
dengan Ach pada resepto
nikotinik

7.

Histamine

Histamin

0,1 mg/kg
100 mg/kg

Kontraksi

8.

Mepyramine

Relaksasi

Hexamethonium

Relaksasi

10.

Gallamine

0,1 mg/kg
100 mg/kg
0,1 mg/kg
100 mg/kg
0,1 mg/kg
100 mg/kg

9.

Antagonis
H1
Bloker
Ganglionik
Anti
kolinergik

Relaksasi

11.

Verapamil

0,1 mg/kg
100 mg/kg

Relaksasi

Menghambat kanal
kalsium

12.

Morphine

Relaksasi

Naloxone

0,1 mg/kg
100 mg/kg
0,1 mg/kg
100 mg/kg

13.

CCB Non
Dihidropyri
din
Analgesik
Opioid
Analgesik
Opioid

Relaksasi

14.

Adenosine

Relaksasi

8-SPT

Tetap

Relaksasi

16.

Glibenclamide

0,1 mg/kg
100 mg/kg
0,1 mg/kg
100 mg/kg
0,1 mg/kg
100 mg/kg

15.

Anti
Aritmia
Antagonis
Adenosine
Sulfonilurea

Relaksasi

Bekerja pada reseptor


opioid kappa
Kompetitif antagonis
reseptor opioid &
kappa
Meningkatkan adenilil
cyclase
Memblok reseptor
adenosin
Meningkatkan sensitifitas
sel

Keterangan :
( ) = Meningkat ; ( ) = Menurun
G. Foto hasil pengamatan

1. Tobocurarine

Tetap

2. Noradrenalin

3. Acetylcholine

4. Neostigmine

5. Carbachol

6. Atropine

7. Histamine

8. Mepyramine

9. Hexamethonium

10. Gallamine

11. Verapamil

12. Morphine

13. Naloxone

14. Adenosine

15. 8-SPT

g.

Pembahasan Hasil Praktikum


Praktikum di lakukan untuk mengetahui efek obat terhadap cardiovaskuler.

Dilakukan percobaan pada jantung kelinci. Praktikum ini menggunakan enam belas
macam obat yaitu Tobocucarine, Noradrenaline, Atropine, Gallamine, Acetylcholine,
Neostigmin, carbachol, Histamine, Mepyramine, Hexamethonium, Verapamil, Morphine,
Naloxone, Adenosine, 8-SPT, Glibenclamide. Pada percobaan ini dilakukan dengan
metode simulasi ExPharm.Hewan yang digunakan adalah kucing. Langkah pertama yang
di lakukan adalah melakukan kontrol dengan cara menekan start sampai 2 kotak
kemudian dihentikan. Kemudian memilih obat yang dipakai dan dosis yang diinginkan.
Setelah dosis dipilih kemudian obat di injeksikan. Setiap dosis yang dipilih untuk 2 kotak,
kemudian catat hasil pengukuran tekanan darah, nadi dan otot skeletal.

Pemberian obat tubocurarin dengan dosis 0,1-100mg/kg didapatkan hasil


menurunnya heart rate dan pressure serta efek relaksasi pada skeletal muscle. Hal ini
dikarenakan tubocurarine termasuk golongan muscle relaxane yang dapat menurunkan
tekanan darah.
Pada pemberian obat Asetilkolin didapatkan hasil tekanan darah dan denyut nadi
yang menurun serta relaksasi otot skeletal. Hal ini dikarenakan obat ini bekerja pada
saraf parasimpatis, yakni saraf yang memiliki efek relaksasi tubuh dan melemaskan otot.
Sehingga pada paktikum ini dapat dilihat bahwa asetikolin dapat menurunkan denyut nadi
dan tekanan darah serta relaksasi pada otot skeletal. Selain itu efek ini juga timbul pada
pemberian obat neostigmin dan corbacol.
Kemudian hewan coba diberikan perlakuan kembali dengan obat yag berbeda.
Noreadrenaline di berikan dengan dosis 0,1-100mg/kg. pada percobaan kali ini terlihat
efek adrenalin pada hewn coba yaitu meningkatnya heart rate, blood pressure serta efek
kontraksi pada skeletal muscle. Efek ini juga ditemui pada pemberian Atropin. Adrenalin
dan atropine termasuk golongan Antikolinergi yang bekerja menghambat asetikolin
sehingga akan menurunkan fungsi syaraf parasimpatis. Antikolinergetika menghambat
terutama reseptor-reseptor muskarinik yang terdapat di ssp dan organ perifer. Pada dosis
rendah efek yang menonjol adalah penurunan denyu jantung ( bradikardia) pada dosis
tinggi, reseptor jantung pada nodus SA disekat dan denyut jantung sedikit bertambah
( takikardia).
Pada pemberian Histamin terlihat bahwa heart rate dan blood pressure menrun serta
adanya efek kontraksi pada skeletal muscle. Histamn dapatmenimbulkan efek bila
berinteraksi dengan reseptor histaminergik, yaitu reseptor , H1, H2 ,H3. Interaksi
histamine dengan H menyebabkan kontrksi dengan otot polos, usus dan bronki. Interaksi
dengan reseptor H juga dapat menyebabkan sekresi asam lambung dan kecepatan kerja
jantung.
Pada pemberian mepiramin dosis 0,1-100mg/kg didapatkan hasil bahwa mepiramin
menurunkn heart rate dan blood pressure serta memberikan efek relaksasi terhadap
skeletal muscle. Mepiramin merupakan termasuk golongan antagonis

h1 dengan

mekanisme kerja menghambat interaksi histamin dengan reseptor. Pada dosis terapi
antagonis H1 pada sistem kardiovaskular tidak memiliki efek yang berarti. Secara umum
antagonis H1 efektif mengkambat kerja histamin pada otot polos ( usus , bronkus).
Pada pemberian obat hexamethonium dengan berbagai dosis didapatkan hasil
tekanan darah dan nadi yang menurun, dan otot skeletal yang mengalami relaksasi. Hal
ini disebabkan karena hexamethonium adalah obat golongan ganglion blocker yang
bekerja pada reseptor di pra-ganglionic baik dalam sistem saraf simpatis dan
parasimpatis, yang keduanya diatur oleh ligan-gated ionotropic reseptor nicotinic
acetylcholine. Efek perangsangan simpastis dan parasimpastis terhadap tekanan darah
arteri ditentukan oleh dua faktor, yaitu daya dorong darah dari jantung dan tahanan
terhadap aliran darah ini yang melewati pembuluh darah. Perangsangan simpatis
meningkatkan daya dorong oleh jantung dan tahanan terhadap aliran darah, yang
biasanya menyebabkan tekanan menjadi sangat meningkat. Sebaliknya, perangsangan
parasimpatis menurunkan daya pompa jantung tetapi sama sekali tidak mempengaruhi
tahanan perifer. Efek yang umum adalah terjadi sedikit penurunan tekanan.
Pada pemberian obat verapamil dengan berbagai dosis didapatkan hasil tekanan
darah dan nadi yang menurun, dan otot skeletal yang mengalami relaksasi. Hal ini
dikarenakan verapamil adalah termasuk dalam obat antihipertensi golongan calcium
channel blockers yang melebarkan pembuluh darah sehingga dapat menurunkan tekanan
darah.
Pada pemberian obat Morphine dan Naloxone dengan berbagai dosis didapatkan
hasil tekanan darah dan nadi yang menurun, dan otot skeletal yang mengalami relaksasi.
Obat-obat tersebut termasuk golongan obat analgesik opioid yang dapat memberikan efek
relaksasi sehingga tekanan darah menurun.
Pada pemberian obat Adenosin dengan berbagai dosis didapatkan hasil tekanan darah
dan nadi yang meningkat, dan otot skeletal yang mengalami relaksasi.Adenosine bekerja
meningkatkan adenylil cyclase yang mempunyai efek miningkatkan tekanan darah.
Pada pemberian obat 8-SPT dengan berbagai dosis didapatkan hasil tekanan darah
dan nadi yang normal dan otot skeletal yang mengalami relaksasi. Obat ini tidak

mempengaruhi efek terhadap jantung akan tetapi dapat membuat efek relaksasi terhadap
otot.
Pada pemberian obat Glibenclamide didapatkan hasil tekanan darah dan nadi yang
menurun, dan otot skeletal yang mengalami relaksasi. Hal ini dikarenakan obat golongan
sulfonyl urea contohnya glibenclamid dapat mempunyai efek terhadap menurunnnya
tekanan darah pada pengujian jantung kucing.

Muscle relaxan

: Tobocucarine

Anti kolinergik

: Noradrenaline, Atropine, Gallamine

Kolinergik

: Acetylcholine, Neostigmin, carbachol

Histamin

: Histamine

Antagonis H1

: Mepyramine

Bloker ganglionik

: Hexamethonium

CCB non dihydropiridin : Verapamil


Analgesik Opioid
Anti Aritmia

: Morphine, Naloxone
: Adenosine

Antagonis adenosin
Sulfonil urea

: 8-SPT
: Glibenclamide

Kesimpulan
Pembahasan obat yang berpengaruh terhadap suatu alat tubuh akan lebih mudah di
pahami bila fisiologi dan patofisiologi alat tubuh tersebut di mengerti, karena reaksi alat
tubuh yang sakit terhadap obat mungkin berbeda dari reaksi alat tubuh yang sehat.

Sistem kardiovaskuler adalah suatu sistem yang sangat dinamik,yang harus mampu
berdaptasi cepat terhadap perubahan mendadak. Perubahan terkanan darah, kerja dan
frekuensi jantung serta komponen kardiovaskuler lain merupakan resultante dari berbagai
faktor pengatur yang bekerja secara serentak.
Obat obat yang kardiovaskuler adalah obat yang digunakan untuk kelainan jantung
dan pembuluh darah. Dalam hal ini mencakup sistem sirkulasi darah yang terdiri dari
jantung komponen darah dan pembuluh darah. Pusat peredaran darah atau sirkulasi darah
ini berawal dijantung, yaitu sebuah pompa berotot yang berdenyut secara ritmis dan
berulang 60-100x/menit. Setiap denyut menyebabkan darah mengalir dari jantung, ke
seluruh tubuh dalam suatu jaringan tertutup yang terdiri atas arteri, arteriol, dan kapiler
kemudian kembali ke jantung melalui venula dan vena
Review Jurnal
Judul : Effects of Combination Lipid Therapy in Type 2 Diabetes Mellitus
The ACCORD Study Group*

Pendahuluan
Pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 memiliki peningkatan insiden penyakit
kardiovaskular aterosklerotik. Peningkatan ini disebabkan berbagai faktor risiko yang
terkait termasuk hipertensi dan dislipidemia. ditandai dengan peningkatan kadar plasma
trigliserida, rendahnya tingkat kolesterol high-density lipoprotein (HDL) , dan partikel
padat low-density lipoprotein (LDL). Tindakan untuk penelitian pengontrolan Risiko
Kardiovaskular pada Diabetes (ACCORD) dirancang untuk menguji efek dari perawatan
intensif glukosa darah dan juga tekanan darah atau lipid plasma pada efek kardiovaskular
yang timbul pada pasien dengan diabetes tipe 2 yang berisiko tinggi untuk penyakit
kardiovaskular. Meskipun statin mempunyai khasiat yang efektif pada pasien dengan
diabetes tipe 2, tingkat kejadian kardiovaskular tetap tinggi pada pasien tersebut
bahkansetelah pemberian statin. terapi fibrat pada pasien dengan diabetes tipe 2
mengurangi tingkat kejadian penyakit jantung koroner di pada percobaan intervensi HDL
Veterans , tapi tidak pada intervensi Fenofibrate.Namun, analisis post hoc data dari studi
FIELD menduga manfaat bagi pasien dengan tingkat kolesterol trigliserida tinggi dan
HDL rendah .penelitian fibrat Sebelumnya pada subyek dengan diabetes1 atau mereka
yang tidak diabetes tidak membahas peranan obat tersebut pada pasien yang menerima
terapi statin. Hipotesis yang kami uji di ACCORD Lipid adalah bahwa pada pasien
berisiko tinggi dengan diabetes tipe 2, pengobatan kombinasi dengan fibrat (baik untuk
meningkatkan kadar kolesterol HDL dan menurunkan kadar trigliserida) dan statin (untuk
mengurangi kadar kolesterol LDL) akan mengurangi tingkat kejadian kardiovaskular,
dibandingkan dengan pengobatan dengan statin saja.

Metode Desain penelitian


Penelitian ACCORD adalah uji coba secara acak yang dilakukan di 77 bagian klinis
disusun dalam tujuh jaringan di Amerika Serikat dan Kanada. Dalam penelitian
ACCORD, semua pasiensecara acak bersedia untuk menerima kontrol intensif glikemik
(targetkan tingkat hba1c di bawah 6,0%) atau dengan terapi standar (target tingkat hba1c
7,0-7,9%). Hasil perbandingan initelah dilaporkan sebelumnya. Sebuah subkelompok
pasien juga terdaftar dalam penelitian ACCORD dan mengalami pengacakan, dalam
desain faktorial 2 per 2, untuk menerima simvastatin dan juga fenofibrate atau plasebo.
Pengacakan dilakukan antara 11 Januari2001, dan 29 Oktober 2005 Akhir dari kunjungan
penelitian dijadwalkan antara bulan Maret dan Juni 2009 Semua pasien dalam penelitian
ACCORD menderita diabetes 2 dan tingkat hba1c 7,5% atau lebih. Jika pasien memiliki
bukti penyakit kardiovaskular klinis, rentang usia terbatas yaitu 40-79tahun; jika mereka
memiliki bukti penyakit subklinis kardiovaskular atau setidaknya dua faktor risiko
kardiovaskular, rentang usia yaitu hingga 55-79 tahun. Pasien yang secara khusus
memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam percobaan ini jika
memiliki kriteria sebagai berikut:tingkat kolesterol LDL 60-180 mg per desiliter (1,554,65 mmol per liter), HDL kadar kolesterol HDL di bawah 55 mg per desiliter (1,42
mmol per liter) untuk perempuan dan ras kulit hitam atau di bawah 50 mg per desiliter
(1.29 mmol per liter) untuk semua kelompok lainnya, dan tingkat trigliserida di bawah
750 mg per desiliter (8,5 mmol per liter) jika mereka tidak menerimaterapi lipid atau di
bawah 400 mg per desiliter (4,5 mmol per liter) jika mereka menerima terapi lipid. semua
pasien diberikan informed consent tertulis.
PROSEDUR penelitian
Terapi simvastatin Open-label mulai pada awal pengacakan, dan pemberian tertutup
baik
fenofibrate atau plasebo dimulai 1 bulan kemudian. Dosis awal simvastatin memenuhi
pedoman lipid nasional di Waktu penelitian dimulai. Dosis simvastatin dimodifikasi dari
waktu ke waktu untuk mengkuti perubahan pedoman (lihat Bagian 6 di Lampiran
Tambahan 1) .18 Pada awal percobaan, dosis fenofibrate 160 mg per hari. Karena
kenaikan kadar kreatinin serum pada beberapa pasien saat menerima dosis fenofibrate ini,
mulai tahun 2004, dosis fenofibrate disesuaikan dengan perkiraan laju filtrasi glomerulus
(GFR) dengan penggunaan
Modifikasi Diet pada penyakit ginjal (MDRD)
Sebuah profil lipid plasma puasa diukur pada laboratorium pusat ACCORD pada 4,
8, dan 12 bulan setelah pengacakan, setiap tahun, dan pada akhir penelitian. Profil
keamanan, termasuk tes fungsi hati dan pengukuran tingkat creatine kinase, ditentukan
pada 1, 4, 8, dan 12 bulan setelah pengacakan dan setiap tahun. Jika gejala atau tandatanda efek toksik obat berkembang, tes fungsi hati (termasuk pengukuran SGPT), creatine
kinase, atau keduanya harus dilakukan. Jika fungsi Nilai-nilai nya tinggi, obat lipid

sementara dihentikan; jika nilai-nilai creatine kinase yang meningkat, obat lipid secara
permanen dihentikan.
HASIL sudah ditentukan
Hasil utama yang sudah ditentukan adalah terjadinya kasus kardiovaskular utama ,
termasuk infark miokard nonfatal, stroke nonfatal, atau kematian akibat kardiovaskuler.
Hasil sekunder termasuk kombinasi dari hasil primer ditambah revaskularisasi atau rawat
inap untuk gagal jantung kongestif kombinasi dari peristiwa koroner yang fatal , infark
miokard nonfatal, atau angina pectoris tidak stabil (disebut "kejadian penyakit koroner
utama"); infark miokard nonfatal;fatal atau stroke yang tidak fatal; kematian dari setiap
penyebab; kematian akibat kardiovaskuler; dan rawat inap atau kematian akibat gagal
jantung.

kelompok fenofibrate dan 194 (7,0%) pada kelompok plasebo menerima pengurangan
dosis baik fibrat atau plasebo karena GFR diperkirakan menurun. Tidak ada perbedaan
yang signifikan kejadian hemodialisis dan stadium akhir penyakit ginjal pada kedua
kelompok (75 pasien kelompok fenofibrate vs 77 pada kelompok plasebo). insiden lebih
rendah timbulnya mikroalbuminuria dan makroalbuminuria pada kelompok fenofibrate
dibandingkan pada kelompok plasebo
LIPID PLASMA
Pada akhir penelitian, tingkat kolesterol LDL rata-rata turun 100,0-81,1 mg per
desiliter (2,59-2,10 mmol per liter) pada kelompok fenofibrate dan 101,1-80,0 mg per
desiliter (2,61-2,07 mmolper liter) pada kelompok plasebo Berarti kadar kolesterol HDL

meningkat 38,0-41,2 mg per desiliter (0.98 menjadi 1,07 mmol per liter) pada kelompok
fenofibrate dan 38,2-40,5 mg per desiliter (0.99 untuk 1.05 mmol per liter) pada
kelompok plasebo. Kadar trigliserida plasma
Median menurun dari 164-122 mg per desiliter (1,85-1,38 mmol per liter) pada kelompok
fenofibrate dan dari 160 144 mg per desiliter (1,81-1,63 mmol per liter) pada kelompok
plasebo.
HASIL KLINIS
Tingkat hasil primer tahunan adalah 2,2% pada kelompok fenofibrate, dibandingkan
dengan 2,4% pada kelompok plasebo (rasio hazard pada kelompok fenofibrate, 0.92, 95%
confidence interval [CI], 0,79-1,08; P = 0,32 setelah penyesuaian untuk monitoring)
(Tabel 2 dan Gambar. 2). rasio Hazard untuk hasil sekunder, termasuk masing-masing
komponen hasil primer, berkisar 0,82-1,17 (P0.10 untuk semua perbandingan) (Tabel 2).
Angka tahunan kematian akibat semua penyebab 1,5% pada kelompok fenofibrate dan
1,6% dalam rasio kelompok plasebo (hazard, 0.91; 95% CI, 0,75-1,10; P = 0.33 untuk
perbandingan disesuaikan). Efek Studi-kelompok pada hasil primer di seluruh
subkelompok ditampilkan pada Gambar 3 . Hanya jenis kelamin menunjukkan bukti
interaksi menurut studi kelompok: Hasil primer untuk pria adalah 11,2% pada kelompok
fenofibrate dibandingkan 13,3% pada kelompok plasebo, sedangkan tingkat bagi
perempuan adalah 9,1% pada kelompok fenofibrate dibandingkan 6,6%
di kelompok plasebo (P = 0,01 untuk interaksi). Ada saran yang tidak signifikan pada
heterogenitas ketika pasien yang memiliki tingkat trigliserida ketiga tertinggi (204 mg
per desiliter [2.30 mmol per liter]) dan tingkat kolesterol HDL ketiga terendah (34 mg
per desiliter [0.88 mmol per liter]) yang dibandingkan dengan semua pasien lain (P =
0,057 untuk interaksi). dalam hal ini subkelompok pasien dengan kadar trigliserida tinggi
dan kadar kolesterol HDL rendah, hasil primer adalah 12,4% pada kelompok fenofibrate,
dibandingkan 17,3% pada kelompok plasebo, sedangkan tingkat seperti itu 10,1% pada
kedua kelompok studi untuk semua pasien lainnya

Kesimpulan
Kombinasi fenofibrate dan simvastatin tidak mengurangi tingkat kejadian penyakit
kardiovaskular yang fatal, infark miokard nonfatal, atau stroke nonfatal, dibandingkan
dengan simvastatin saja. Hasil ini tidak mendukung penggunaan rutin terapi kombinasi
dengan fenofibrate dan simvastatin untuk mengurangi risiko kardiovaskular pada
sebagian besar pasienberisiko tinggi dengan diabetes tipe 2

Pustaka
https://en.wikipedia.org/wiki/Hexamethonium
https://id.scribd.com/doc/157007479/Refrat-Saraf-Otonom-Simpatis-Dan-Parasimpatis

Anda mungkin juga menyukai