Anda di halaman 1dari 7

1

A. PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP


KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA PADA MATERI
SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL
B. Latar Belakang
Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang diberikan disetiap jenjang
pendidikan. Matematika memberikan nilai yang sangat penting bagi siswa sekolah dasar
dan sekolah menengah pertama, karena memberikan kontribusi yang positif bagi
perkembangan intelektual demi menghadapi perubahan yang semakin maju. Selain itu
matematika juga merupakan mata pelajaran mutlak yang harus ada di sekolah, sehingga
matematika dijadikan mata pelajaran pokok dalam satuan pendidikan. Menurut
Russefendi, matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan
dengan ide proses dan penalaran. Kemampuan berpikir kritis merupakan bagian dari
penalaran. Sesuai dengan Krulik Rudnik (safutra, 2012: 3, bahwa penalaran mencakup
berpikir dasar, berpikir kritis, dan berpikir kreatif. Maka berpikir kritis juga merupakan
bagian yang penting dalam pembelajaran matematika.
Dalam belajar matematika, kebutuhan akan kemampuan berpikir kritis
berhubungan erat dengan situasi duniayang dinamis, cepat berubah, dan tidak mudah
diramal. Kemampuan ini dibutuhkan dalam menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil
kesimpulan yang tepat akan suatu masalah yang kompleks. Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 (BNSP:2006) menegaskan bahwa
kemampuan berpikirkritis diperlukan agar siswa dapat mengelola dan memanfaatkan
informasi untukbertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan
kompetitif.Sejalan dengan itu, Husnidar (2014) berpendapat bahwa mengajarkan
danmengembangkan kemampuan berpikir kritis dipandang sebagai sesuatu yangsangat
penting untuk dikembangkan di sekolah agar siswa mampu dan terbiasamenghadapi
berbagai permasalahan di sekitarnya. Hal ini menjukkan bahwakemampuan berpikir
kritis merupakan salah satu kemampuan yang penting untukdikembangkan mulai dari
jenjang pendidikan yang paling dasar.
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dikalangan masyarakat
indonesia merupakan hal yang sangat penting dengan situasi dunia saat ini, karena
tingkat permasalahan dalam era persaingan global semakin tinggi. Pengembangan
kemampuan ini sangat diperlukan agar lebih memahami konsep yang dipelajari, dan
dapat menerapkannya dalam berbagai situasi. Hal ini sependapat dengan pernyataan
Hasratuddin (2011: 132 yang menyatakan bahwa satu diantara program pendidikan yang
dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan kreatif adalah matematika.
Berbicara mengenai kemampuan berpikir kritis, kemampuan siswa Indonesia
masih berada dibawah standar internasional. Hal tersebut didasarkan hasil studi oleh
TIMSS (Trend in International Mathematics and Science Study), yang dipublikasikan
oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperlihatkan bahwa skor yang diraih
Indonesia masih di bawah skor rata-rata internasional. Hasil studi TIMSS 2003,
Indonesia berada di peringkat ke-35 dari 46 negara peserta dengan skor rata-rata 411,

sedangkan skor rata-rata internasional 467 (Zakaria,2014). Hasil studi tahun 2007,
Indonesia berada pada peringkat ke-36 dari 49 negara peserta dengan skor rata-rata 397,
sedang skor rata-rata internasinal 500 (Zakaria, 2014). Hasil studi TIMSS terbaru pada
tahun 2011, Indonesia berada pada di peringkat ke-38 dari 42 negara peserta dengan skor
rata-rata 386, sedang skor rata-rata internasiaonal 500 (Zakaria, 2014).
Kondisi yang tidak jauh berbeda terlihat dari hasil studi yang dilakukan PISA
(Programme for Intenational Student Assessment). Hasil studi PISA 2009, Indonesia
berada di peringkat ke-61 dari 65 negara peserta dengan skor rata-rata 371, sedang skor
rata-rata internasional 500 (OECD, 2014). Hasil studi PISA 2012, Indonesia berada di
peringkat ke-64 dari 65 negara peserta dengan skor rata-rata 375, sedang skor rata-rata
internasional 500 (OECD, 2014).
Studi yang dilakukan TIMSS dan PISA menunjukkan skor yang diraih Indonesia
masih di bawah skor rata-rata internasional. Selama tiga studi terakhir terlihat bahwa
peringkat Indonesia tidak mengalami peningkatan bahkan semakin menurun. Adapun
soal-soal yang digunakan dalam studi TIMSS dan PISA merupakan soal yang terdiri dari
masalah-masalah yang tidak rutin untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Dalam menghadapi soal-soal ini siswa dituntut untuk berpikir kritis dan kreatif. Hasil
studi TIMSS dan PISA menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa Indonesia
masih tergolong rendah.
Tingkat kemampuan berpikir matematis di alami oleh siswa SMP Negeri 9
Singkawang Timur yang masih belum bisa menunjukkan hasil yang memuaskan, hal ini
terlihat dari hasil prariset yang dilakukan oleh peneliti dan hasil wawancara dengan guru
mata pelajaran matematika. Terlihat bahwa siswa dalam pembelajaran matematika
cenderung dikhususkan pada kemampuan menyelsaikan soal dengan rumus secara
procedural. Siswa menghafal bukan memahami konsep bagaimana cara menyelsaikan
soal tersebut. Bahkan beberapa siswa salah menerapkan rumus sehingga sering salah
dalam langkah penyelesaian soal. Hal ini disebabkan siswa hanya menghafal rumus
bukan memahami konsep. Dalam menghadapi masalah matematika apalagi yang belum
pernah dicontohkan oleh guru, siswa tidak tahu langkah apa yang harus dilakukan untuk
memecahkan masalah matematika tersebut. Selain itu, ada beberapa siswa yang senang
menyalin pekerjaan temannya, hal itu dikarenakan kurangnya aktivitas yang dilakukan
siswa.
Hasil wawancara dengan Kepala Sekolah, dinyatakan bahwa dalam proses
pembelajaran di kelas guru sudah menggunakan berbagai metode sebagai upaya
meningkatkan hasil belajar. Metode tersebut diantaranya metode ceramah, tanya jawab
dan mengulang kembali materi yang telah diberikan.
Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran matematika, dinyatakan bahwa
materi sistem persamaan linear dua variabel memiliki kesulitan dalam menyatakan soal
cerita ke dalam model matematika, sehingga berdampak kekeliruan dalam menetukan
himpunan penyelsaiann pada materi persamaan linear dua variabel. Pernyataan tersebut
disetujui oleh beberapa siswa dalam belajar materi tersebut terlihat mudah akan tetapi

setelah guru memberikan soal soal berupa pemecahan masalah siswa mengalami
kesulitan dalam menganalisa dan menentukan jawabannya.
Hasil prariset yang dilakukan peneliti di SMP N 9 Singkawang Timur dengan
memberikan 4 soal yang memuat indikator kemampuan berpikir kritis matematis siswa
yaitu ; (1mengenal dan memecahkan masalah); (2 menghubungkan); (3 menganalisis); (4
mengevaluasi); kepada 128 siswa kelas VIII dan hasilnya menunjukkan bahwa
kemampuan berpikir kritis matematis siswa masih sangat rendah untuk keempat
indikator tersebut. Dapat dilihat dari hasil prariset pekerjaan siswa pada Gambar 1.1
berikut ini.

Berdasarkan Gambar 1.1 hasil prariset pekerjaan siswa dapat disimpulkan sebagai
berikut.
1. Mengenal dan memecahkan masalah, terdapat 5 siswa (15,63%) yang dapat
mengenal dan memecahkan masalah dalam mencari luas lingkaran dan 27 siswa
(84,37%) yang tidak dapat mengenal dan memecahkan masalah dalam mencari luas
lingkaran.
2. Menghubungkan, terdapat 9 siswa (28, 13%) yang dapat menyatakan hubungan jari
jari pertama dengan jari jari kedua suatu lingkaran dan 23 siswa (71,87%) yang tidak
dapat menyatakan hubungan jari jari pertama dengan jari jari kedua suatu lingkaran.
3. Menganilisis, terdapat 8 siswa (25%) yang dapat menganalisis dalam penerapan
rumus keliling lingkaran untuk mencari jari jari dari rumus keliling lingkaran dan 24
siswa (75%) yang tidak dapat menganalisis dalam penerapan rumus keliling
lingkaran untuk mencari jari jari dari rumus keliling lingkaran.

4. Mengevaluasi, terdapat 10 siswa (31,25%) yang dapat menjawab soal dengan benar
dan 22 siswa (68,75) yang salah dalam mengerjakan soal baik dalam menghitung
maupun memasukkan rumus.
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dapat diperlukan model pembelajaran
yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang diharapkan mampu memantapkan
berpikir kritis siswa adalah Model Pembelajaran Kontekstual. Model pembelajaran yang
dapat digunakan ialah model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and
Learning). Sanjaya mengemukakan,Model pembelaja-ran kontekstual adalah suatu
strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh
untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi
kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam
kehidupan mereka ( 2009: 255). Model pembelajaran kontekstual lebih menekankan
pada aktivitas siswa secara penuh baik fisik maupun mental sehingga kegiatan belajar
siswa tidak hanya menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.
Dari uraian diatas peneliti tertarik untuk menerapkan Model Pembelajaran
Kontekstual pada materi segitiga di kelas VIII SMP Negeri 9 Singkawang Timur, dengan
harapan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa sehingga akan membantu dalam
peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap pembelajaran yang diberikan.
C. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang di atas, dapat diidentifikasi
beberapa permasalahan sebagai berikut.
1. Pembelajaran yang digunakan masih cenderung berpusat pada guru yaitu metode
ceramah, tanya jawab dan mengulang materi yang telah diberikan.
2. Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini ditunjukkan dalam menjawab
soal prariset bahwa kemampuan berpikir kritis siswa masih tergolong rendah.
3. Kurangnya aktivitas belajar siswa dalam menyelesaikan soal yang diberikan oleh
guru.
D. Pembatasan Masalah
Penelitian ini terfokus pada Pengaruh Model Pembelajaran Kontekstual Terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
kelas VIII SMP Negeri 9 Singkawang Timur Tahun Pelajaran 2016/2017.
E. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, identifikasi masalah, dan batasan masalah,
maka masalah umum yang akan diangkat dalam permasalahan ini adalah Bagaimana
Pengaruh Model Pembelajaran Kontekstual Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Matematis Siswa Pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel di kelas VIII SMP
N 9 Singkawang Timur?.
Selain masalah pokok di atas, dalam penelitian ini terdapat beberapa sub sub
sebagai berikut.

1. Apakah terdapat pengaruh kemampuan berpikir kritis matematis siswa antara model
pembelajaran kontekstual dengan pembelajaran langsung pada materi sistem
persamaan linear dua variabel
2. Bagaimana keterlaksanaan model pembelajaran kontekstual pada materi sistem
persamaan linear dua variabel
3. Bagaimana aktivitas belajar siswa ketika diterapkan model pembelajaran kontekstual
pada materi sistem persamaan linear dua variabel
F. Tujuan Penelitian
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah Untuk mengidentifikasi pengaruh
model pembelajaran kontekstual terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa
pada materi persamaan linear dua variabel di kelas VIII SMP Negeri 9 Singkawang
Timur. Adapun sub-sub tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh kemampuan berpikir kritis matematis siswa
antara model pembelajaran kontekstual dengan pembelajaran langsung pada materi
sistem persamaan linear dua variabel.
2. Untuk mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran kontekstual pada materi sistem
persamaan linear dua variabel.
3. Untuk mengetahui aktivitas belajar siswa ketika diterapkan model pembelajaran
kontekstual pada materi persamaan linear dua variabel di kelas VIII SMP Negeri 9
Singkawang Timur.
G. Manfaat Penelitian
Adapun penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik yang bersifat
teoritis maupun yang bersifat praktis.
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini dapat memberikan sumbangan

terhadap

pembelajaran

matematika terutama untuk peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi
persamaan linear dua variabel di SMP Negeri 9 Singkawang Timur kelas VIII melalui
pembelajaran kontekstual.
2. Manfaat praktis
Dilihat dari segi praktis, penelitian ini memberikan manfaat antara lain.
a. Bagi guru
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberdayakan guru matematika SMP
Negeri 9 Singkawang Timur, dalam menggunakan pembelajaran kontekstual
sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
b. Bagi siswa
Melalui pembelajaran kontekstual diharapkan dapat meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa SMP Negeri 9 Singkawang Timur dalam pembelajaran
matematika pada materi persaaman linear dua variabel.
c. Bagi sekolah
Penelitian ini diharapkan memberi informasi dan masukan dalam menggunakan
pembelajaran kontekstual untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam

menentukan sebuah pengajaran yang lebih baik serta mampu meningkatkan


kualitas pembelajaran matematika di sekolah.
d. Bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam
penggunaan pembelajaran kontekstual. Sehingga dapat dijadikan sebagai bahan,
latihan dan pengembangan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Selain itu
sebagai wahana uji kemampuan terhadap bekal teori yang diterima di bangku
kuliah serta sebagai bekal bagi masa depan sebagai seorang calon pendidik (guru).
H. DefinisiOperasional
Untukmenghindaripenafsiran
yang
salahmengenaiistilah
yang
digunakandalampenelitianini, makaperlupenjelasanbeberapaistilahsebagaiberikut :
1. Model PembelajaranKontekstual
Model
dimaksuddalampenelitianiniadalahpembelajaran

PembelajaranKontekstualyang
yang

dapatmembantu

guru

dalammengaitkanpembelajarandengankehidupansehariharisiswadanmembuatsiswadapatmenghubungkanantarapengetahuan

yang

dimilikinyadenganpenerapannyakehidupansehari-hari.Secaragarisbesarlangkahpeneraan
model

pembelajarankontektualadalahkonstruktivisme,

menemukan,

bertanya,

masyarakatbelajar, pemodelan, refleksi, danpenilaiansebenarnya.


2. KemampuanBerpikirMatematis
KemapuanBerfikirMatematisadalahsuatu proses keterampilanberfikir yang
terjadipadadiriseseorangsertabertujuanuntukmembuatkeputusan-keputusan

yang

rasionalmengenaisesuatu yang dapatdiyakinikebenarannya.

3. AktivitasSiswa
Aktivitas siswa dalam penelitian ini adalah kegiatan siswa yang
dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung, dimana aktivitas
tersebut di amati oleh guru.
4. Pelaksanaan Model Pembelajaran
Adapunketerlaksaanpembelajarandalampenelitianiniadalahketerlaksaanatauke

giatan yang dilaksanakan guru sesuairencanapelaksanaanpembelajaran (RPP).