Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH FISIKA FARMASI

RHEOLOGI

OLEH :

Nama

: Yermiat

NIM

: 13 3145 201 061

Kelas

: B s1 farmasi

PROGRAM STUDY S1 FARMASI


STIKes MEGA REZKY
MAKASSAR
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat rahmatNya dan hidayahNya saya dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Rheologi . Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah
Fisika Farmasi. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan
waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan
makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca dan bermanfat
untuk pembangunan ilmu pengetahuan bagi semua pembaca khususnya saya
pribadi.

Makassar, 22 oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul ....................................................................................................


Kata Pengantar ....................................................................................................
Daftar Isi .............................................................................................................
Bab I
Pendahuluan
a. Latar Belakang...........................................................................................
b. Rumuan Masalah ......................................................................................
Bab II
Pembahasan
a.
b.
c.
d.
e.

Definisi Rheologi......................................................................................
Kegunaan mempelajari rheologi dalam kestabilan obat...........................
Penggolongan tipe aliran/ rheologi...........................................................
Sifat/hal yang dapat mempengaruhi rheologi/sifat aliran suatu zat..........
Contoh aplikasi rheologi dalam bidang farmasi.......................................

Bab III
Penutup
a. Kesimpulan .............................................................................................
b. Saran ........................................................................................................
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Salah satu praktikum dalam Fisika Farmasi adalah Viskositas & Rheologi.
Viskositas adalah ukuran resistensi zat cair untuk mengalir sedangkan Rheologi
merupakan ilmu yang mempelajari tentang sifat zat cair atau deformasi zat padat.
Praktikum ini membahas masalah cara perhitungan Viskositas dengan
menggunakan alat tertentu yang dikenal dengan nama Viscometer.
Beberapa alat yang biasa digunakan, yaitu Viscometer Ostwald, Viscometer
Bola Jatuh, Viscometer Cup dan Bob serta Viscometer kerucut dan lempeng .
Sebenarnya nilai Viskositas sudah ada Dalam literarul tapi terkadang terjadi
perbedaan nilai tergantung dari kondisi zat tersebut. Beberapa tahun terakhir ini,
prinsip dasar reologi telah digunakan dalam penyelidikan cat, tinta, berbagai
adonan, bahan bahan untuk pembuat jalan, kosmetik, produk hasil peternakan,
serta bahan bahan lain. Terkadang dalam literatul tidak dicantumkan nilai
viscositas atau terkadang senyawa tersebut nilai viskositasnya tidak sesuai dengan
literatul. Oleh karena itu kita sebagai mahasiswa farmasi harus mampu
menghitung nilai viskositas suatu zat.

B.

Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Menjelaskan Definisi Rheologi


Mengetahi kegunaan Rheologi dalam kestabilan obat
Penggolongan tipe aliran/Rheologi
Sifat/ hal yang dapat mempengaruhi Rheologi/sifat aliran suatu zat
Contoh aplikasi Rheologi dalam bidang Farmasi

Bab II

Pembahasan
A. Definisi Rheologi
Rheologi berasal dari bahasa yunani mengalir (rheo) dan logos (ilmu).
Digunakan istilah ini untuk pertama kali oleh Bingham dan Croeford untuk
menggunakan aliran cairan dan deformasi dari padatan. Rheologi mempelajari
hubungan antara tekanan gesek (shearing stress) dengan kecepatan geser (shearing
rate) pada cairan, atau hubungan antara strain dan stress pada benda padat.
Rheologi merupakan ilmu yang mempelajari sifat zat cair atau deformasi zat
padat. Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. Dalam bidang Farmasi, prinsip
prinsip rheologi diaplikasikan dalam pembuatan krim, suspensi, emulsi, lotion, pasta,
penyalut tablet dan lain sebagainya. Selain itu, prinsip rheologi digunakan untuk
karakterisasi produk sediaan Farmasi (Dosage Form). Sebagai penjamin kualitas yang
sama untuk setiap batch. Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari bahan,
penuangan, pengeluaran dari tube atau pelewatan dari jarum suntik. Rheologi dari
suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien, stabilitas fisika
obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability). Sehingga viskositas
telah terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh.
Sifat-sifat rheologi dari sistem farmaseutika dapat mempengaruhi pemilihan
alat yang akan digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabriknya. Lebihlebih lagi tidak adanya perhatian terhadap pemilihan alat ini akan berakibat
diperolehnya hasil yang tidak diinginkan. Aspek ini dan banyak lagi aspek-aspek
rheologi yang diterapkan dibidang farmasi.
Ada beberapa istilah dalam rheologi ini :
a.
Rate of shear (D) dv/dr untuk menyatakan perbedaan kecepatan (dv) antara dua
bidang cairan yang dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil (dr).
b.
Shearing stress ( atau F ) F/A untuk menyatakan gaya per satuan luas yang
diperlukan untuk menyebabkan aliran.
B. Kegunaan Rheologi
Rheologi (dari bahasa yunani rheos yang berarti mengalir dan logos berarti ilmu)
adalah ilmu tentang aliran atau perubahan bentuk (deformasi) di bawah tekanan.
Kegunaan mempelajari rheologi dalam kestabilan obat adalah :
1. Dalam pencampuran dan aliran bahan-bahan
2. Pengemasan bahan tersebut ke dalam wadah serta pengeluarannya saatakan dipakai
3. Memberi pengaruh terhadap daya terima pasien yaitu seperti dalam halkenyamanan
pasien tersebut yang lebih menyenangi dalam penggunaanbentuk sediaan, misalnya
pasien lebih nyaman menggunakan lotion daripada salep
4. Kestabilan fisis
5. Ketersediaan hayati (biological avaibility)
6. Pemilihan peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan (produksi)
Pengukuran rheologi digunakan untuk mengkarakterisasi kemudahan penuangandari
botol, penekanan atau pemencetan dari suatu tube untuk wadah lain yangdapat
berubah bentuk, pemeliharaan bentuk produk dalam suatu bejana atau sesudah
pengeluaran, penggosokan bentuk produk di atas atau ke dalam kulit,dan bahkan
pemompaan produk dari pencampuran dan penyimpanan ke alatpengisian (filling).

Yang terpenting adalah sifat isi dan aliran yang dikehendakitahan untuk self-life yang
diisyaratkan bagi produk tersebut.
Shearing stress (F) : adalah gaya per satuan luas yang menciptakan
perubahan bentuk.Dua bidang sejajar berjarak x; antarabidang-bidang tersebut, isi
kentaldibatasi. Puncak, bidang A, bergeraksecara horizontal dengan kecepatan
vkarena aksi dengan gaya F. Bidang B yanglebih bawah tidak bergerak. Akibatnya
ada suatu perubahan kecepatan v/x antara bidang-bidang tersebut. Perubahan ini
didefinisikan sebagai Rate of shear
(G).

C. Penggolongan

tipe

aliran/

rheologi
Pada dasarnya rheologi mempelajari
hubungan antara tekanan gesek
(shearing stress) dengan kecepatan
gesek (shearing rate) pada cairan atau
hubungan strain dan stress pada
benda padat. Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah sebagai
berikut:
1. Sistem Newton
Newton adalah orang pertama yang mempelajari sifat-sifat aliran daricairan secara
kuantitatif. Dia menemukan bahwa makin besar viskositassuatu cairan, akan makin
besar pula gaya persatuan luas (Shearing stress) yang diperlukan untuk menghasilkan
Rate of shear tertentu, rate of shear harus berbanding lurus dengan shearing stress.
adalahkoefisien viskositas atau viskositas. Satuan viskositas adalah poise,
didefinisikan sebagai gaya geser yang diperlukan agar menghasilkankecepatan 1
cm/detik di antara dua bidang sejajar cairan yang masing-masing luasnya 1 cm 2 dan
dipisahkan oleh jarak 1 cm.
S=X G
Istilah fluiditas () didefinisikan sebagai kebalikan dari viskositas
= 1/
Viskositas kinematik (v), adalah viskositas mutlak seperti didefiniskan diatas di bagi
oleh kerapatan cairan. Satuan viskositas kinematik adalahstoke (s) dan centistoke (cs)
v = /
Aliran newton adalah jenis aliran yang ideal. Pada umumnyacairan yang bersifat ideal
adalah pelarut, campuran pelarut, dan larutansejati. Shearing stress (S) atau gaya yang
diperlukan per satuan luasberbanding lurus dengan kecepatan aliran yang dihasilkan
atau Rate Of Shear (G). contohnya adalah gliserol

2. Sistem Non Newton


Hampir seluruh sistem disperse termasuk sediaan-sediaan farmasi yangberbentuk
emulsi, suspensi dan sediaan setengah padat tidak mengikutihukum newton (Non
Newtonian Bodies).

Aliran Plastis

f: yield value

S = G Rate of share

Kurva aliran plastis tidak melalui titik (0,0) tapi memotong sumbu
shearing stress pada suatu titik tertentu dikenal sebagai harga yield.Yield Value
adalah harga yang harus dipenuhi agar cairan mulai mengalir, sebelum
yield value zat bertindak sebagai bahan elastis setelah yield value siatem
mengalir sesuai dengan sistem newton dimana shearing stress berbanding
dengan rate of shear. Adanya Yield value disebabkan oleh adanya kontak
antara partikel-partikel yang berdekatan (disebabkan oleh gaya van der Waals),
yang harusdipecah sebelum aliran dapat terjadi. Sekali yield value terlampaui,
tiap kenaikan shearing stress selanjutnya mengakibatkan kenaikan yang
berbanding langsungpada rate of shear. Pada umumnya plastis menyerupai
sistem Newton pada shear stress di atas yield value.

Aliran Pseudoplastis

Kurva tidak linier dan tidak ada Yield value


(melengkung).Viskositasmenurun dengan meningkatnya rate of share. Terjadi
pada molekul berantaipanjang seperti polimer-polimer termasuk gom,
tragakan, Na-alginat, metilselulosa, karboksimetilselulosa. Rheogram
lengkung untuk bahan-bahanpseudoplastis disebabkan karena kerja Shearing
terhadap molekul-molekul yangsecara normal tidak beraturan mulai menyusun
sumbu yang panjang dalam arahaliran. Pengarahan ini mengurangi tahanan
dalam dari bahan tersebut danmengakibatkan rate of shear yang lebih besar
pada tiap shearing stress berikutnya. Jadi meningkatnya shearing stress
menyebabkan keteraturan polimer sehingga mengurang tahanan dan lebih
meningkatkan rate of share pada shearing stress berikutnyaSistem
pseudoplastis disebut pula sebagai sistem geser encer (shear-thinning) karena
dengan menaikkan tekanan geser viskositas menjadi turun.Contoh klasik
adalah kecap atau saus tomat yang untuk mengeluarkannya daribotol harus
mengocoknya kuat-kuat.

Aliran Dilatan

Sistem aliran dilatan disebut juga sebagai system geser kental (shearthickening system). Istilah dilatan dikaitkan dengan meningkatnya
volume . Zat-zat yang mempunyai sifat-sifat aliran dilatan dimiliki oleh
suspensi yang berkonsentrasi tinggi (>50%) dari partikel yang terdeflokulasi,
contohnya adalah pencampuran veegum dan CMC. Viskositas meningkat
dengan bertambahnya rate of shear. Jika stress dihilangkan, suatu sistem
dilatan kembali ke keadaan fluiditas aslinya.
Mekanisme sistem aliran dilatan :
Pada saat istirahat, partikel-partikel tersebut tersusun rapat dengan volume
antar partikel atau volume void (kosong) minimum. Tetapi jumlah pembawa
dalam suspensi tersebut cukup untuk mengisi volume ini dan menyebabkan
partikel-partikel bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya pada rate of
shear rendah. Pada saat shear stress meningkat, bulk dari sistem tersebut
mengembang atau memuai. Partikel-partikel tersebut, dalam usahanya untuk
bergerak lebih cepat satu melampaui lainnya, mengambil bentuk kemasan
terbuka. Susunan tersebut mengakibatkan meningkatnya volume void
(kosong) di antara partikel. Jumlah pembawa yang tinggal adalah tetap
( konstan) dan pada beberapa titik menjadi tidak cukup untuk mengisi ruangruang kosong antar partikel menjadi lebih besar. Oleh karena itu hambatan
aliran meningkat karena partikel-partikel tidak terbasahi atau dilumasi secara
sempurna lagi oleh pembawa tersebut, sehingga suspensi akan seperti pasta
yang kaku. Bahan-bahan dilatan bisa menjadi padat pada kondisi shear yang
tinggi, dengan demikian dapat merusak alat pada proses pembuatan.

Aliran Tiksotropi

Pada sistem non newton (plastis dan pseudoplastis), kurva menurun


seringkali disebelah kiri dari kurva yang menaik yang menunjukan bahan
tersebut mempunyai konsistensi lebih rendah pada setiap harga rate of shear
pada kurva yang menurun dibandingkan pada kurva yang menaik. Ini
menunjukkan adanya pemecahan struktur yang tidak terbentuk kembali
dengan segera jika stress tersebut dihilangkan atau dikurangi. Gejala ini

disebut tiksotropi. Tiksotropi adalah suatu pemulihan yang isotherm dan


lambat pada pendiaman suatu bahan yang kehilangan konsistensinya karena
shearing. Tiksotropi hanya dapat diterapkan untuk shear-thinning system.
Tiksotropi terjadi karena proses pemulihan yang lambat dari konsistensi GelSol-Gel (proses pertama berlangsung cepat sedangkan proses kedua
berlangsung lebih lambat)Contohnya : magma magnesia

Aliran Antitiksotropi

Anti Tiksotropi ditunjukkan dengan kurva menurun berada di kanan


kurva menaik (konsistensinya meningkat)

Rheopeksi

Rheopeksi adalah suatu gejala dimana suatu sol membentuk suatu gel
lebih cepat jika diaduk perlahan-lahan atau kalau di share daripada jika
dibiarkan membentuk gel tersebut tanpa pengadukan. Pada tipe pseudoplastis
dan plastis, kecepatan pemadatan sol tiksotropi melalui gerakan kuat dan
teratur disebut rheopeksi. Pada tipe dilatan disebut antirheopeksi yaitu
penurunan konsistensi akibat geseran pada saat didiamkan.
Salah satu cara menentukan sifat alir adalah dengan viscometer
stormer yang prinsipnya adalah perputaran rotor yang merupakan aplikasi

kecepatan geser dan penambahan beban aplikasi dari gaya gesek. Semakin
berat beban yang digunakan, maka kecepatan perputaran rotor akan semakin
cepat karena ada energi yang ditambahkan. Gesekan antara rotor dengan
senyawa yang diuji akan meningkatkan suhu. Suhu yang meningkat
menyebabkan ikatan antar partikel renggang sehingga viskositas menurun dan
kecepatan mengalir menaik. Setelah itu ditentukan waktu yang digunakan
rotor untuk memutar sebanyak 25 kali. Pemutaran 25 kali telah mewakili tipe
dari sifat alir tersebut.

D. Sifat-sifat yang dapat mempengaruhi sifat alir suatu zat


1. Suhu : kenaikan suhu akan menyebabkan gerak antar partikel merenggang,
sehingga viskositas akan menurun dan waktu alir akan semakin cepat karena zat
semakin mudah mengalir.
2. Viskositas : semakin tinggi viskositas menyebabkan tahanannya akan semakin
besar sehingga zat tersebut makin sulit mengalir dan sebaliknya. Viskositas
berbanding terbalik dengan sifat alir
3. Kerapatan : semakin tinggi kerapatan suatu zat, jarak antar partikel akan semakin
sempit, viskositas semakin besar dan zat semakin sulit untuk mengalir. Sifat alir
berbanding terbalik dengan kerapatan.
4. Konsentrasi : semakin tinggi konsentrasi suatu zat, maka jumlah partikel semakin
banyak sehingga viskositas semakin tinggi dan zat semakin sulit mengalir. Sifat
alir berbanding terbalik dengan konsentrasi.
Kegunaan rheologi dalam formulasi :
-

Untuk sediaan farmasi cair tipe aliran yang diinginkan adalah tiksotropik
Mempunyai konsistensi tinggi dalam wadah (mencegah pengendapan)
Akan menjadi cair bila dikocok dan mudah untuk dituang

E.

Contoh aplikasi rheologi dalam bidang farmasi


Aplikasi di bidang produk sabun pembersih wajah, susu kedelai (Glycine soja
Sieb. & Zucc) diketahui mengandung bahan yang berfungsi sebagai humektan karena
kandingan alanin, glisin, prolin, serin, dan asam amino lainnya. Selain itu susu kedelai
juga memiliki fungsi emolien karena kandungan asam oleat, linoleat, linolenat,
arakhidonat, dan asam lemak lainnya. dalam penelitian ini akan diformulasi sediaan
sabun cair wajah mengandung 15% susu kedelai yang berfungsi sebagai emolien dan
humektan untuk menjaga agar kulit tetap bersih, lembut, dan lembab, serta mencegah
kekeringan kulit. Dalam pembuatan sabun, bahan utamanya adalah surfaktan dari
golongan anionic yang berfungsi sebagai pembersih. Selain itu, ditambahkan pula
surfaktan amfoter atau nonionic untuk mengurangi iritasi yang disebabkan dari
surfaktan anionic. Salah satu surfaktan anionic yang digunakan adalah Lauret-7-sitrat

yang merupakan jenis surfaktan lunak. Surfaktan ini juga memiliki keunggulan karena
fungsinya sebagai pelembab sehingga mencegah kulit wajah menjadi kering. Lauret7-sitrat juga dapat berfungsi sebagai peningkat busa, yang dengan penambahan susu
kedelai sifat membusa dari surfaktan yang ada dalam formula standar menjadi
berkurang. Penggunaan surfaktan Lauret-7-sitrat akan divariasi dengan konsentrasi
1%;2%;3% (0% Lauret-7-sulfat sebagai kontrol), agar didapat busa yang semakin
meningkat dan stabil serta tidak mengiritasi kulit, karena akan dikombinasi dengan
natrium lauret sulfat dari surfaktan anionic, dan juga digunakan kokamid DEA
sebagai surfaktan nonionic untuk mengurangi iritasi yang ditimbulkan oleh surfaktan
anionic. Bahan tambahan lain adalah hidroksipropil metil selulosa (HPMC) sebagai
pengental, BHA sebagai antioksidan, dinatrium EDTA sebagai pengkelat, serta 5bromo-5-nitro-1,3-dioksan sebagai pengawet.
Dalam pembuatan sediaan sabun cair wajah, salah satu evaluasi dalam
pembuatan sediaan sabun adalah evaluasi viskositas dan sifat alir. Viskositas diukur
menggunakan viscometer Brookfield tipe LV dengan mengamati angka pada skala
viscometer dengan kecepatan tertentu pada suhu kamar. Sediaan dimasukkan ke
dalam wajah berupa gelas piala dan spindle yang sesuai sampai batas yang ditentukan,
lalu diputar dengan kecepatan tertentu sampai jarum merah viscometer menunjuk
pada skala yang konstan. Sifat alir diukur dengan mengubah kecepatan viscometer
sehingga didapat viskositas pada berbagai kecepatan geser (rpm). Sufat alir dapat
diketahui dengan cara membuat kurva hubungan antara kecepatan geser(rpm) dengan
gaya (dyne/cm3) sesuai dengan data yang diperoleh. Hasil evaluasinya adalah
pengukuran viskositas pada sediaan sabun cair wajah Formula I sampai IV
menunjukkan bahwa sediaan sabun cair wajah formula IV yaitu konsentrasi Laurat-7sitrat sebesar 3% mempunyai viskositas yang paling tinggi dan formula I yang
memiliki konsentrasi Laurat-7-sitrat sebesar 1% terendah, sehingga dapat dinyatakan
bahwa dengan bertambahnya konsentrasi lauret-7-sitrat menungkat pula
viskositasnya. Hal ini disebabkan karena lauret-7-sitrat merupakan surfaktan yang
berfungsi sebagai peningkat viskositas.
Penyimpanan pada suhu lebih tinggi dapat menyebabkan terjadinya pemutusan
rantai polimer sehingga kedudukan molekul-molekul menjadi renggang, akibatnya
viskositasnya turun. Hal ini sesuai dengan hukum Arrhenius, bahwa semua sediaan
yang disimpan selama periode waktu tertentu pada suhu yang lebih tinggi dari suhu
kamar akan mengalami penurunan viskositas.Dapat disimpulkan bahwa semua
formula yang disimpan pada suhu 25C dan 40C mempunyai sifat alir pseudoplastis
dengan viskositas 9050-18420 cPs, memberikan kekentalan yang membuat sediaan
tersebyt mudah untuk dituang.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat alir cairan adalah konsentrasi, suhu,

kerapatan, viskositas, dan beban.


Berdasarkan sifat alirnya, tipe aliran dibagi menjadi dua yaitu Newtonian dan
non-Newtonian. Non-Newtonian berupa plastis, pseudoplastis, dan dilatan.

B. Saran
Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah berupaya semaksimal mungkin
untuk mencapai hasil terbaik namun keterbatasan pengetahuan seerta
pengalaman yang dimiliki menjadikan makalah ini jauh dari kesempurnaan.

Oleh karena itu, untuk kepentingan perbaikan makalah berikutnya maka kritik
dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat penulis harapkan

Daftar Pustaka
Attwood, 2008, Physical Pharmacy, University of Manchester, UK London, PP.
74-75, 82-86.
Aulton, 2007, Pharmaceutics the Design and Manufacture of Medicine, Churchill
Livingstone, New York, PP. 49-53.
Lachaman, 1989, Teori dan Praktek Farmasi Industri, UI press : Jakarta, PP. 1-8.
Suyono, 1988, Kimia Fisika 1, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Jakarta, PP.44.
Swarbrick, 2000, Pharmaceutical Emulsion and Suspensions, Marcel Dekker Inc,
New York, PP. 559-573.