Anda di halaman 1dari 72

BAB I

PENDAHULUAN
Perkembangan

petenakan

di

indonesia

khususnya

ternak

ruminansia sangat ditentukan oleh penyediaan bahan pakan berupa


hijauan berkualita tinggi yang dapat mencukupi kebutuhan sepanjang
tahun. Ketersediaan pakan yang terbatas pada musim kemarau menjadi
permasalahan yang dihadapi oleh peternak disamping itu pakan yang
dihasilkan berkualitas rendah sehingga terlihat pada pertumbuhan ternak
yang kurang memuaskan. Penyediaan hijauan pakan ternak merupakan
salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan peternakan.
Permasalahan yang sering dihadapi pada pengadaan hijauan
pakan adalah kesulitan pengadaan hijauan makanan ternak akibat
keterbatasan lahan akibat belum adanya pengelolaan yang baik sehingga
menyebabakan kualitas dan kuantitas produksi rendah.Beberapa masalah
yang sering timbul dalam pengelolaan hijauan pakan ternak antara lain
adanya fluktuasi hijauan pakan ternak yang tajam sebagai akibat
pergantian musim hujan dan musim kemarau. Keterbatasan lahan
memerlukan penanganan khusus yaitu dibutuhkan suatu manajemen
pengelolaan lahan agar ketersediaan pakan tetap tersedia sepanjang
musim.
Tujuan
mengetahui

dari

praktikum

prosedur

manajemen

pengelolaan

lahan

pastura

adalah

untuk

agar

dapat

pastura

mengefisiensikan antara input dan output pastura sehingga menjamin


ketersediaan pakan hijauan sepanjang tahun. Manajemen pastura
didalamnya termasuk ke dalam mengestimasi produksi lahan baik secara
visual maupun bahan kering. Hal tersebut dapat bermanfaat bagi peternak
untuk memperkirakan carrying capacity dari lahan patura tersebut. Hasil
akhir dari praktikum manajemen pastura, mahasiswa diharap dapat
mengelola dan manfaatkan pastura dengan sebaik-baiknya.

BAB II
DEFOLIASI
TINJAUAN PUSTAKA
Rumput Raja (Pennisetum purpureophoides) atau "King Grass"
merupakan jenis rumput unggul, mudah ditanam dan dapat tumbuh di
dataran rendah sampai dataran tinggi dengan potensi produksi yang
tinggi. Tidak semua bahan hijauan dapat dimakan oleh ternak kecil. Umur
hijauan pada saat dipangkas mempengaruhi kadar protein, daya cerna
dan jumlah yang dikonsumsi oleh ternak. Komposisi zat hara rumput Raja
tidak banyak berbeda dibandingkan dengan rumput Gajah. Produksi
bahan hijauan (biomassa) maupun bahan keringnya tinggi, sehingga
menyebabkan produksi zat-zat makanan per satuan luas menjadi lebih
tinggi. Pemanfaatan lahan kritis, sebagi tempat usaha ternak dengan
tanaman industri dan atau buah-buahan tampaknya lebih menjanjikan
keberhasilan. Tanaman pangan hanya ditanam pada masa awal saja, atau
dengan porsi kecil bila petani merasa perlu untuk menjamin keamanan
pangannya. Dengan penataan tanaman pakan dan tanaman tahunan
yang serasi, laju erosi dapat dikendalikan (Ramada. 2008).
Teknik budidaya yang dapat dilakukan untuk memperbanyak
cabang, agar diperoleh bahan untuk stek dalam jumlah yang maksimal
adalah defoliasi. Defoliasi adalah pemangkasan ujung batang (Hopkins,
1995).

Prinsip

dari

perlakuan

tersebut

adalah

untuk

mengatur

keseimbangan hormone antara lain sitokinin dengan auksin pada ketiak


daun di bawah ujung batang (Taiz and Zeiger, 1998 dan Hopkins, 1995).

MATERI DAN METODE


Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum defoliasi adalah sabit,
rafia, dan meteran
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum defoliasi adalah
tanaman rumput Raja
Metode
Rumput Raja dipotong tiga ruas dari atas permukaan tanah
menggunakan sabit. Kemudian rumput raja ditandai dengan tali raffia
seluas 1m x 1m dalam satu petak. Pengamatan dilakukan selama 21 hari
dan dicatat jumlah tunas dan panjang daun terpanjang.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan praktikum defoliasi yang telah dilakukan, diperoleh
hasil sebagai berikut :
Hari ke1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Tabel 1. Hasil pengamatan pertumbuhan


Jumlah tunas
Tinggi terpanjang (cm)
2
0,5
3
0,5
5
1
8
3
13
4
21
8
21
12
21
17
22
20
22
24
24
30
24
36
27
44
27
57
27
70
27
79
27
82
27
90
27
95

Praktikum defoliasi meliputi pemotongan daun dan pengukuran


pertumbuhan. Daun dipotong 3 ruas dari bagian diatas tanah. Kemudian
dilakukan pengukuran pertumbuhan meliputi jumlah tunas yang muncul
dan panjang daun terpanjang. Hasil dari praktikum menunjukkan jumlah
tunas yang muncul hingga hari ke-21 adalah 27 buah dengan panjang
daun terpanjang adalah 95 cm.

100
80
60
Panjang daun

40
20
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021
Hari

Grafik 1. Pertumbuhan rumput raja


Grafik pertumbuhan rumput raja diatas menunjukkan peningkatan
yang stabil. Awal masa pemotongan belum terdapat pertumbuhan tunas
rumpur raja. Tunas baru mulai tumbuh pada hari kedua dan terus
mengalami pertumbuhan sampai waktu pengamatan berakhir yaitu
selama 21 hari. Pertumbuhan tunas rumput raja pada akhir masa
pengamatan tingginya hampir mencapai 100 cm bila dilihat dari grafik
diatas.
30
25
20
jumlah tunas

15
10
5
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Hari

Grafik 2. Jumlah tunas yang muncul


Grafik diatas menunjukkan pertumbuhan tunas daun berdasarkan
jumlah tunas daun. Pertumbuhan tunas daun dimulai pada hari kedua
sesudah rumput raja didefoliasi atau dilakukan pemotongan. Jumlah tunas
rumput raja terus mengalami peningkatan sampai hari yang ditentukan
yaitu hari ke-21. Jumlah tunas daun pada hari terakhir pengamatan
mencapai 30 tunas bila dilihat dari grafik pertumbuhan jumlah tunas daun
diatas.

Brougham (1996) menyatakan tanaman akan tumbuh kembali


sekitar 3 sampai 5 inchi pada hari keempat sesudah mengalami defoliasi.
Berdasarkan hal tersebut, regrowth pada tanaman yang diamati lebih
rendah dari kisaran normal. Mulatsih (2003) menyatakan defoliasi yang
singkat akan mempercepat regrowth dan tinggi pemotongan memberi
pengaruh pada laju pertumbuhan kembali karena cadangan karbohidrat
cukup untuk mendukung pemunculan dan pertumbuhan tunas baru yang
terbentuk. Berdasarkan hal tersebut, lambatnya pertumbuhan kembali dari
tanaman yang diamati diindikasikan karena lamanya waktu defoliasi dan
tinggi pemotongan tanaman yang kurang sesuai.
Defoliasi adalah pemangkasan ujung batang. Prinsip dari perlakuan
tersebut adalah untuk mengatur keseimbangan hormone antara lain
sitokinin dengan auksin pada ketiak daun di bawah ujung batang (Taiz
and Zeiger, 1998 dan Hopkins, 1995). Perlakuan defoliasi dapat
menyebabkan sintesis auksin ditiadakan sehingga tidak terjadi trasnsport
auksin kebawah sehingga konsentrasi auksin di ketiak daun semakin
rendah. Auksin yang tidak turun dari ketiak daun akan memacu
pembentukan hormone sitokini (Taiz dan Zeiger, 1998). Sato dan Mori
(2001) menyatakan bahwa pemacuan sintesisi sitokinin adalah turunnya
konsentrasi auksin ini tidak secara langsung, tetapi melalui pengaktifan
enzim

isopentenil

transferase

yang

merupakan

katalisator

pada

pembentukan sitokinin. Auksin dan sitokinin merupakan dua jenis zat


pengatur tumbuh tanaman yang seringkali digunakan untuk menginduksi
morfogenetik tanaman (Zulkarnaen, 2007).

KESIMPULAN
Praktikum defoliasi dilakukan untuk mengetahui regrowth suatu
tanaman. Kemampuan regrowth tanaman tersebut diamati dengan
menggunakan variabel kecepatan pertumbuhan tunas dan jumlah tunas
daun. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa proses regrowth tanaman
rumput raja berjalan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Brougham, R.W. 1996. Effect of intensity of defoliation on regrowth of


pasture. Australian Journal of Agricultural Research 7(5) 377-387.
Hopkis, W.G. 1995. Introduction to Plant Physiology. John Willey and Sons
Inc, Singapore
Mulatsih, R.T. 2003. Pertumbuhan kembali rumput Gajah dengan interval
defoliasi dan dosis pupuk urea yang berbeda. J. Indon. Trop. Anim.
Agric. 28(3).
Ramada. Agus. 2008. Rumput Raja: Aplikasi. Jakarta
Sato, S.S and H. Mori. 2001. Control Outgrowth and Dormancy In Axilary
Bud. Japan.
Taiz L. and E. Zieger. 1998. Plant Physiology. Sinauer Associates Inc.
Publisher. Sunderland. Massachusetts
Zulkarnain, 2007. Regenerasi tanaman nenas (Ananas comosus (l.).
merr.) dari tunas aksilar mahkota buah. J. Agroland. (14)1:1-5.

BAB III
PRODUKSI LAHAN
TINJAUAN PUSTAKA
Kunci keberhasilhan dalam peningkatan produksi peternakan
menurut Diana (2005), adalah tersedianya bahan makanan yang cukup
dan mempunyai nilai gizi yang tinggi. Ketersediaan bahan makanan untuk
ternak tidak selalu dalam keadaan yang memadai seperti yang
diharapkan, baik dari segi mutu maupun jumlahnya. Masalah utama yang
dihadapi

dalam

penyediaan

pakan

hijauan

adalah

terbatasnya

penggunaan dan kepemilikan lahan, karena pada umumnya lahan


produktif digunakan untuk tanaman pangan.
Hijauan makanan ternak terdiri atas hijauan pakan yang berupa
rumput lapangan, limbah hasil pertanian, rumput jenis unggul, juga berupa
jenis Leguminosa (Mathius et al., 1997). Definisi hijauan makanan ternak
menurut Lubis (1992), adalah pakan dalam bentuk daun-daunan dan
kadang-kadang masih bercampur batang, ranting serta bunga umumnya
berasal dari tanaman sebangsa rumput (Gramineae) dan kacangkacangan (Leguminose). Produksi hijauan dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti iklim, misalnya sifat fisik tanah, spesies tanaman yaitu
kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan manajemen perlakuan
manusia.
Pengukuran produksi lahan pastura dapat dilakukan dengan cara
pengambilan sampel dilakukan secara acak melalui peta yang kemudian
setiap spot terpilih dibuat protected square meter yang berukuran 1x1 m.
Pengukuran jumlah produksi dilakukan dengan penimbangan dan
pengukuran kualitas dilakukan dengan analisis proksimat. Pemotongan
dilakukan 50 sampai 100 cm diatas permukaan tanah (Sumarsono, 2007).
Tanaman rumput raja (Pennisetum purpuphoides) merupakan
rumput

hasil

persilangan

antara

Pennisetum

purpureum

dengan

Pennisetum typoides (Sujitman, 1996). Berdasarkan penelitian diketahui

komposisi rumput raja adalah PK 9 sampai 10%, NDF 61 sampai 64%,


ADF 51 sampai 52%, dan TDN 57 sampai 59% (Patty, 1996). Rumput raja
merupakan jenis rumput unggul yang mempunyai produktivitas dan
kandungan zat gizi yang cukup tinggi serta disukai oleh ternak ruminansia.
Rumput raja mempunyai

produksi bahan

kering

40

sampai

63

ton/ha/tahun dengan rata-rata kandungan zat-zat gizi yaitu : protein kasar


9,66%, BETN 41,34%, serat kasar 30,86%, lemak 2,24%, abu 15,96%,
dan TDN 51% (Lubis, 1992).

10

MATERI DAN METODE


Materi
Alat. Alat-alat yang digunakan pada praktikum pengukuran
produksi lahan adalah sabit, rafia, meteran, timbangan, koran, staples,
dan seperangkat analisis BK.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum pengukuran
produksi lahan adalah rumput Raja (Pennisetum purpuphoides ).
Metode
Pengukuran produksi lahan dilakukan dengan cara dibuat ubinan
dengan rafia yang berukuran 1m x 1m kemudian hijauan dipotong
menggunakan sabit maksimal 3 sampai 5 ruas diatas permukaan tanah.
Hasil pengukuran produksi lahan kemudian dicacah dan ditimbang
sebanyak 500 gram yang kemudian dimasukkan dalam kantong koran
yang sebelumnya juga telah ditimbang dan dimasukkan ke dalam oven
pada suhu 55oC lalu ditimbang selama kurang lebih tiga hari. Sampel uji
bahan kering yang telah selesai dikeringkan dengan oven bersuhu 55 oC
ditimbang kembali dan kemudian digiling menggunakan willy mill dengan
dengan ukuran screen sebesar 1. Hasil penggilingan sampel kemudian
disiapkan untuk analisis bahan kering. Parameter yang dianalisis untuk
mendapatkan bahan kering yaitu kadar air sampel. Kadar air sampel
didapatkan setelah sampel dikeringkan dalam oven bersuhu 55 oC selama
sehari semalam. Sampel yang telah dianalisis kadar air dapat digunakan
untuk menentukan kandungan bahan kering. Data tersebut selanjutnya
digunakan untuk mengukur carryng capacity lahan.

11

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pengambilan sampel produksi lahan dilakukan di lahan koleksi
laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak pada hari Minggu, 17 November
2013 pukul 08.00. Sampel yang digunakan adalah rumput raja atau
Pennisetum purpuphoidesyang dipotong dengan cara membuat ubinan
sebesar 1x1 m dan dipotong sekitar 3 sampai 5 ruas diatas permuakaan
tanah. Latar belakang pemotongan sebesar 3 sampai 5 ruas dipermukaan
tanah dinyatakan oleh Hanafi et al. (2005), bahwa pemanenan hijauan
makanan ternak harus disesuaikan dengan umur tanaman agar kuantitas
dan kualitas hijauan maksimal. Pemotongan yang ideal dilakukan 20 cm
diatas permukaan tanah. Pemotongan yang terlalu pendek dapat
menyebabkan regrowth tanaman menjadi lama, sedangkan pemotongan
yang terlalu panjang dapat menyebabkan pertumbuhan tunas apikal yang
cepat tanpa diimbangi dengan pertumbuhan anakan yang banyak. Hasil
pemotongan sampel adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil pengambilan sampel
Rumput raja
pemotongan
8,2 kg

Nama sampel
Timbangan
Berat setelah
dari lahan
Berat koran
Berat sebelum dioven 55 oC
Berat setelah dioven 55 oC
Berat silika disk
Berat sampel
Silika disk+sampel sebelum
dioven 105 oC
Silika
disk+sampel
setelah
o
dioven 105 C
KA1
DW
KA2
DM2
KA total
DM
DM rata-rata

Rumput raja
8,2 kg

19 gram
519 gr
82,1 gr
12,8991
1,0052

19 gram
519 gr
82,1 gr
14,8669
1,0045

13,8243

15,7964

84,14%
15,82%
7,96%
92,04%
85,44%
14,56%

84,14%
15,82%
7,5%
92,5%
85,37%
14,63%
14,59%

12

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa produksi hijauan


segar rumput raja sebesar 8,2 kg per m 2. Sampel rumput raja ditimbang
sebanyak 500 gr untuk kemudian di oven dan dianalisis proksimat.
Sumarsono (2007) menyatakan rumput raja merupakan persilangan
antara P. Purpureum dan P. Typhoides. Produksi segar rumput gajah
sebesar 1076 ton/ha/tahun dan produksi bahan kering rumput raja
sebesar 110 ton/ha/tahun. Rumput raja mempunyai sifat toleransi
terhadap jenis tanah yang cukup luas, tumbuh baik pada tanah yang tidak
terlalu lembab dan didukung dengan drainase yang baik. Rumput raja
tidak tahan terhadap naungan dan genangan air. Faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi segar rumput raja menurut Mathius et al.(1997),
yaitu bibit tanaman, pemupukan, pemeliharaan, dan waktu potong.
Proses selanjutnya untuk mendapatkan bahan kering dari rumput
raja

yaitu

penggilingan.

Penggilingan

sampel

dilakukan

dengan

menggunakan alat yang bernama grinder. Agus (2007) menyatakan


grinding adalah proses penggilingan bahan baku yang bertujuan untuk
mengurangi ukuran partikel. Ukuran partikel yang relatif kecil, proses
mixing akan lebih mudah serta mempunyai tingkat homogenitas yang
lebih tinggi. Grinding dilakukan dengan willy mill dengan ukuran screen 1.
Berat sampel setelah digiling sebesar 63,1 gr.
Data hasil analisis kadar air dan bahan kering diatas didapatkan
dengan cara analisis proksimat dengan dua kali pengulangan. Analisis
proksimat yang dilakukan hanya sebatas untuk mengetahui kandungan air
dan kandungan bahan kering rumput raja. Kandungan air total rumput raja
pada sampel 1 sebesar 85,44% dan sampel 2 sebesar 85,37%. Nilai dari
dry mater sampel 1 rumput raja sebesar 14,56% dan sampel 2 sebesar
14,63%, sehingga kandungan bahan kering rata-rata sampel rumput raja
sebesar 14,59%. Produksi bahan kering rumput raja menurut Sumarsono
(2007), sebesar 110 kg/ha/tahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi
produksi kering rumput raja menurut Suhartati et al. (2004), adalah

13

varietas yang digunakan, waktu pemanenan, dan lingkungan termasuk di


dalamnya ketinggian tempat, curah hujan dan kelembaban lingkungan.
Efek curah hujan yang tinggi juga dapat mempengaruhi produksi bahan
kering hijauan menurut Hidayati et al. (2001), produksi bahan kering pada
musim hujan dapat menurun sebesar 8,3% dan meningkat pada level
5,5% pada musim kering
Berdasarkan data perhitungan diatas dapat digunakan sebagai
bahan perhitungan carryng capacity lahan jika diketahui luas lahan 5000
m2. Hasil analisis kandungan N rumput raja 1,36% sehingga PK rumput
raja sebesar 8,5%. Hasil analisis in vitro PK(DP) sebesar 60,4% sehingga
kadar DP sebesar 5,134%. Nilai TDN rumput raja sebesar 52% sehingga
produksi hijauan DM/m2 sebesar 1,19%. Kandungan nutrisi dalam
produksi hijauan DP-nya sebesar 0,061 kg/m 2 dan RDN-nya sebesar
0,6188 kg/m2. Total produksi yang diberikan pada ternak sebesar 75%
sehingga DP dan TDN yang masuk adalah DP sebesar 0,457 kg/m 2 dan
TDN sebesar 0,4641 kg/m 2. Kebutuhan Unit Ternak (UT) perhari adalah
DP sebesar 18,59 m2 dan untuk TDN sebesar 10,98 m 2. Jumlah petak
sebanyak 40, sehingga luas petak untuk mempunyai kandungan DP
sebesar 743,6 m2 dan untuk TDN sebesar 439,2 m2. Nilai carryng capacity
untuk DP sebesar 6,72 dan untuk TDN sebesar 11,38. Lahan tersebut
mampu menampung ternak sebesar 8 ekor untuk DP dan 13 ekor untuk
TDN jika sampai yang ditampung seberat 300 kg/ekor.
Soetrisno (2002) menyatakan bahwa kemampuan ternak dalam
mengkonsumsi HMT dalam keadaan segar diperkirakan hanya sekitar
10% dari berat badan atau 3% dari berat badan apabila hijauan yang
diberikan dalam bentuk kering (tanpa kandungan air). Jumlah hijauan
yang dapat diberikan pada ternak tergantung pada beberapa faktor, yaitu
harga hijauan dan jenis ternak. Ternak perah, hijauan dalam keadaan
kering udara pemberiannya tidak boleh kurang dari 1% (agar kandungan
lemak susu normal), tetapi tidak boleh lebih dari 2% dari berat ternak.
Ternak ruminansia kecil pemberian hijauan dapat mencapai 2 sampai 3%

14

berat badan. Pemberian pakan pada ternak juga harus memperhatikan


waktu pemanenan hal tersebut terkait dengan kualitas hijauan yang
dikandung dalam bahan kering.

15

KESIMPULAN
Pengukuran produksi lahan pastura bertujuan untuk mengetahui
produksi segar atau biomassa patura dan produksi bahan kering pastura
tersebut. Hasil pengukuran prosduksi lahan dapat digunakan untuk
menentukan total carrying capacity suatu lahan pastura.

16

DAFTAR PUSTAKA
Agus, A. 2007. Membuat Bahan Pakan Ternak secara Mandiri. Citra Aji
Parama. Yogyakarta.
Diana, N.H. 2007. Keragaman pastura campuran pada berbagai tingkat
naungan dan aplikasiny pada lahan perkebunan kelapa sawit. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Hanafi, N.D., Roeswandy dan H.F. Nasution. 2005. Pengaruh berbagai
level naungan dari beberapa pastura campuran terhadap produksi
hijauan. Jurnal Agribisnis, Vol.1, No.2.
Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangunan. Jakarta
Mathius, I.W., D. Lubis., E. Wina., D.P. Nurhayati, dan I.G.M. Budiarsana.
1997. Penambahan kalsium karbonat dalam konsentrat untuk
domba yang mendapat silase rumput raja sebagai pakan dasar. Vol
2, No3.
Patty, C. W. 1996. Pengaruh aras pemupukan Nitrogen pada King Grass
terhadap kecernaan nutrien, parameter fermentasi rume, sintesis N
mikrobia dan neraca N pada Sapi Perah. Tesis. Program
Pascasarjana, UGM. Yogyakarta
Soetrisno R. D. 2002. Potensi Tanaman Pakan untuk Pengembangan
Ternak Ruminansia. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Suhartati, F.M., Wardhana S., dan Sri R. 2004. Analisis sifat fisik rumput
lokal. Journal Animal Production, Vol. 6, No. 1 Mei 2001:37-47
Sujitman, 1996. Pengaruh dosis pemupukan nitrogen dan bentuk bibit
terhadap produksi dan kandungan protein kasar rumput raja. Jurnal
Peternakan dan Lingkungan
Sumarsono. 2007. Ilmu Tanaman Makanan Ternak. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.

17

BAB IV
SILASE
TINJAUAN PUSTAKA
Silase
Metode pengawetan pakan yang telah umum dilakukan adalah
dengan membuat silase melalui suatu proses fermentasi dingin yang
dikenal dengan ensilase (Mathius et al., 1997). Silase adalah hijauan
pakan yang diawetkan dalam suatu tempat yang kedap udara. Hijauan
tersebut masih dalam keadaan segar dan dapat diberikan pada ternak
tanpa mengganggu proses pencernaan dan mempunyai nilai gizi yang
cukup tinggi. Prinsip pembuatan silase adalah menurunkan derajat
keasaman (pH) serendah mungkin, sehingga mikrobia yang bersifat
patogen tidak tumbuh dan dilakukan pada tempat anaerob (Sumarsih dan
Waluyo, 2002), sedangkan Ridwan et al. (2006) menyatakan, prinsip
pembuatan silase adalah fermentasi hijauan oleh bakteri asam laktat
secara anaerob. Bakteri asam laktat akan menggunakan karbohidrat yang
terlarut

dalam

air

(water

soluble

carbohydrate

atau

WSC)

dan

menghasilkan asam laktat. Asam ini akan berperan dalam penurunan pH


silase.
Tempat yang kedap udara untuk menyimpan atau mengawetkan
hijauan pakan disebut silo. Ensilase dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu
susunan hijauan dalam silo, jumlah udara yang masuk dalam silo, dan
kandungan bakteri yang berperan dalam ensilase. Ensilase selesai dalam
waktu 3 sampai 4 minggu atau 30 hari tergantung dari jumlah bakteri dan
laju fermentasi (Sumarsih dan Waluyo, 2002).
Prinsip pembuatan silase adalah fermentasi hijauan oleh bakteri
yang menghasilkan asam secara anaerob. Sebagian bakteri pada proses
tersebut memecah selulosa dan hemiselulosa menjadi gula sederhana.
Sebagian lagi bakteri menggunakan gula sederhana tersebut menjadi
asam asetat, laktat atau butirat. Proses fermentasi yang sempurna harus

18

menghasilkan asam laktat sebagai produk utamanya, karena asam laktat


yang dihasilkan akan berperan sebagai pengawet pada silase yang akan
menghindarkan hijauan dari kerusakan atau serangan mikroorganisme
pembusuk. Bagi ternak yang mengkonsumsi silase, asam laktat yang
terkandung dalam silase akan digunakan sebaga sumber energi. Hal yang
perlu diperhatikan pada proses fermentasi silase adalah mengupayakan
secepat mungkin produksi asam sehingga akan semakin sedikit
kehilangan nutrien yang terkandung pada hijauan yang dibuat silase,
karena pada saat pembentukan asam ini terjadi kehilangan BK hijauan.
(Widyastuti, 2008).
Widyastuti (2008) menyatakan proses fermentasi silase memakan
waktu sedikitnya 21 hari untuk mencapai hasil yang optimal dan terbagi
atas 6 tahapan sebagai berikut : 1) fase pertama, respirasi aerobik baik
hijauan maupun bakteri aerob yang menempel pada hijauan berlangsung
pada fase ini. Proses respirasi yang terjadi pada fase ini menghasilkan air
dan panas. Keadaan ini tidak dikehendaki karena bakteri aerob
menggunakan karbohidrat terlarut sehingga akan terjadi persaingan
dengan BAL (Bakteri Asam Laktat), karena BAL akan bertanggung jawab
untuk proses fermentasi anaerob selanjutnya. Peristiwa penting yang
terjadi adalah proteolisis atau pemecahan protein hijauan yang mencapai
sekitar 50%. Protein hijauan menjadi asam-asam amino, amoniak dan
amina. Aktivitas enzim yang bekerja pada proses proteolisis ini akan
menurun dan berhenti seiring dengan suasana yang mulai asam. Fase ini
sedapat mungkin harus dilalui secepatnya; 2) fase kedua, fase ini dimulai
ketika semua oksigen sudah habis dipakai oleh bakteri aerob. Bakteri
asam asetat mulai tumbuh menggunakan karbohidrat terlarut dan
menghasilkan asam asetat yang berguna menekan kapang dan kamir
pada awal fermentasi. Bakteri asam asetat akan bertahan sampai pH
sekitar 5 dan setelah itu mulai menurun jumlahnya. Hal ini merupakan
pertanda berakhirnya fase kedua yang biasanya berlangsung antara 1
sampai 3 hari; 3) fase ketiga, kehidupan bakteri asam asetat pada fase ini

19

tidak sesuai lagi dengan keadaan yang asam dan anaerob, maka
jumlahnya mulai menurun dan digantikan BAL yang mulai tumbuh dan
menghasilkan asam laktat; 4) fase keempat, seiring dengan pertumbuhan
BAL yang meningkat, maka produksi asam laktat meningkat pula pada
fase ini. Asam laktat sangat diharapkan pada fermentasi silase untuk
menjamin preservasi hijauan yang efisien dan harus mencapai lebih dari
60% dari total asam-asam organik yang diproduksi. Fase ini merupakan
fase yang terlama (4 sampai 21 hari) dalam proses fermentasi silase dan
berlangsung terus sampai kondisi asam benar-benar tercapai dan mampu
menekan pertumbuhan mikroorganisme pembusuk. Hijauan sudah dalam
keadaan diawetkan pada kondisi tersebut; 5) fase kelima, fase ini lebih
pada evaluasi keberhasilan pembuatan silase. Pengamatan pH yang
dicapai pada waktu pembuatan silase bukan satu-satunya indikator
kualitas silase atau tipe fermentasi yang terjadi. Adakalanya hijauan
dengan kadar air yang lebih dari 70% menghasilkan fermentasi yang
berbeda. Adanya pertumbuhan Clostridium sp. yang menghasilkan asam
butirat membuat kualitas silase yang dihasilkan berbeda; 6) fase keenam,
fase ini sangat penting untuk mempertahankan kualitas silase yang
dihasilkan, karena pembukaan silo (tempat pembuatan silase) akan
menyebabkan terjadinya kontak dengan udara yang memungkinkan
pertumbuhan kapang dan khamir. Kondisi ini dapat menyebakan
kerusakan BK silase yang cukup tinggi. Sangat diperlukan strategi untuk
mempertahankan kondisi anaerob dan menghindari kerugian akibat
kerusakan silase.
Guna memproduksi silase yang baik, rumput sebaiknya dipanen
pada fase vegetatif dan tidak lebih dari fase generatif (fase berbunga).
Kadar gula yang rendah dan kadar air yang tinggi menyebabkan
fermentasi dan perombakan anaerob menjadi tidak memuaskan. Silase
yang baik mempunyai ciri-ciri tekstur tidak berubah, tidak menggumpal,
warna hijau seperti daun direbus, rasa dan bau asam, tidak ada asam
butirat dan tidak ada lendir. Kriteria silase yang baik dengan pH 4,5 atau

20

kurang, kandungan asam laktat 3 sampai 13% dari bahan kering, tidak
ada jamur, warna seragam kecoklatan atau hijau layu, tidak berbau
amonia dan kandungan amonia rendah yaiitu 5% dari total nitrogen
(Sumarsih dan Waluyo, 2002).
Rumput raja
Rumput raja merupakan hasil persilangan antara P. Purpureum
Schum dengan P. Thypoides Burn. Rumput ini mudah ditanam, dapat
tumbuh di dataran rendah dan tinggi (50 sampai 1200 mdpl), juga mampu
hidup di daerah yang curah hujannya diatas 1000 mm per tahun. Rumput
raja dapat ditanam dengan menggunakan stek batang atau sobekan
rumpun. Batang yang digunakan untuk stek sebaiknya yang sudah cukup
tua, yaitu yang telah berumur delapan bulan, panjang stek kira-kira 25
sampai 30 cm dengan mengandung dua mata tunas. Bibit rumput raja
yang terbaik adalah dengan tiga atau lebih mata tunas dan akan lebih baik
lagi apabila menggunakan batang utuh yang dihilangkan helai daunnya
(Sinaga, 2005).
Jerami kacang tanah
Kacang tanah yang tergolong genus Arachis mempunyai 12
spesies. Namun, yang selama ini dikenal dan banyak dibudidayakan
adalah dari spesies Arachis hypogaea L, mempunyai dua subspesies,
yakni subspesies hypogeae dan subspesies fascigiata. Kedua subspesies
tersebut

memiliki

perbedaan

sifat-sifat

morfologi.

Kacang

tanah

subspesies fascigiata terdiri dari dua tipe, yakni tipe valensia dan tipe
spanis, sedangkan kacang tanah subspesies hypogeae hanya ada satu
tipe, yakni tipe virginia. Daun kacang tanah merupakan sumber protein
dan zat kapur sehingga sangat baik untuk pakan ternak (misalnya ternak
kelinci). Akan tetapi, pemberiannya kepada hewan ternak tidak boleh
dalam keadaan segar (daun baru dipangkas) dan juga tidak boleh dalam
jumlah berlebihan, sebab daun kacang tanah yang diberikan dalam

21

keadaan segar dan berlebihan dapat menyebabkan sakit perut atau


kembung (bloat) bagi hewan ternak yang memakannya (Cahyono, 2007).
Jerami atau tangkai tanaman yang kering dari tanaman kacang tanah
(Arachis hypogaea) memiliki nilai gizi lebih tinggi daripada jerami lainnya.
Jerami kacang tanah mempunyai kandungan Bahan Kering (BK)
sebanyak 35 %, PK sebanyak 15,1 %, SK sebanyak 22,7 %, TDN
sebanyak 65 %, Ca sebanyak 1,51 % dan P sebanyak 0,20 % (Arinita,
2010).
Faktor yang mempengaruhi
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas silase antara lain
keadaan hijauan yang akan dibuat silase, perlakuan terhadap hijauan
dengan pemotongan dan pelayuan, keadaan llingkungan yaitu dengan
ada tidaknya oksigen dalam silo dan penambatan bahan aditif. Kualitas
silase tergantung dari umur tanaman, kandungan bahan kering tanaman
dan

kandungan

nutrisi

khususnya

karbohidrat

tanaman.

Guna

memproduksi silase yang baik, rumput sebaiknya dipanen pada fase


vegetatif dan tidak lebih dari fase generatif (fase berbunga). Kadar gula
yang rendah dan kadar air yang tinggi menyebabkan fermentasi dan
perombakan anaerob menjadi tidak memuaskan (Sumarsih dan Waluyo,
2002).
Manfaat silase
Pembuatan silase sudah dikenal sejak lama terutama di daerah
yang

mengalami

musim

dingin.

Proses

silase

berguna

untuk

mengawetkan hijauan yang banyak tersedia di musim semi atau panas


dan kemudian silase dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak pada
musim dingin. Pembuatan silase juga sangat bermanfaat untuk daerahdaerah yang bermusim kemarau cukup panjang. Silase dibuat dalam
suasana anaerob dan dengan tumbuhnya mikroorganisme tertentu di

22

dalamnya membuat pH silase menjadi rendah (asam) dan keadaan ini


membuat silase awet sampai beberapa bulan (Wina, 2005).
Arinita (2010) menyatakan keunggulan pakan yang dibuat silase
adalah pakan awet (tahan lama), tidak memerlukan proses pengeringan,
meminimalkan kerusakan zat bahan pakan atau gizi akibat pemanasan
serta

mengandung

asam-asam

organik

yang

berfungsi

menjaga

keseimbangan populasi mikrobia. Tujuan utama pembuatan silase adalah


untuk mengawetan dan mengurangi kehilangan zat makanan suatu
hijauan untuk dimanfaatkan pada masa kekurangan hijauan. Sumarsih
dan Waluyo (2002) mengatakan tujuan pembuatan silase adalah
meningkatkan nilai gizi pakan, mengawetkan pakan dan mencegah agar
tidak banyak nilai gizi yang hilang.

23

MATERI DAN METODE


Materi
.

Alat. Alat-alat yang digunakan pada praktikum silase adalah

parang, golok, balok kayu (alas untuk memotong), toples, timbangan


analitik, kantong plastik, dan kertas pH.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum silase adalah
rumput raja (Pennisetum purpuphoides) segar dan jerami kacang tanah
(Arachis hypogea).
Metode
Silase dibuat dengan menggunakan bahan hijauan rumput raja
(Pennisetum purpuphoides) dalam keadaan segar dan jerami kacang
tanah

(Arachis

hypogea)

dengan

perlakuan

1:1,

1:3,

dan

3:1.

Perlakuanperbandingan tersebut menunjukkan perbandingan komposisi


rumput raja dengan jerami kacang tanah yang digunakan sebagai bahan
pembuata silase. Bahan yang akan dibuat silase dipotong kecil-kecil
(ukuran kurang lebih 5 cm), kemudian dimasukkan ke dalam toples kaca.
Pemasukan bahan ke dalam botol diusahakan agar kondisinya anaerob
dengan cara bahan dipadatkan atau ditekan sampai tidak ada tempat bagi
udara. Botol diisi sampai penuh. Selanjutnya dilakukan pemeraman silase
selama 21 hari. Setelah selama 21 hari maka dibuka, diamati dan diukur
pH-nya.

24

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh data silase
sebagai berikut :
Tabel 3. Hasil pengamatan silase
Pengamata
Perlakuan
n
1:1
3:1
1:3
Pra
Pasca
Pra
Pasca
Pra
Tekstur
Kasar
Lunak
Kasar
Kasar
Kasar
Warna
Hijau Hijau tua Hijau
Hijau
Hijau
tua
Bau
Hijauan Seperti Hijauan Segar Hijauan
segar
rumput
segar
segar
pH
6,25
5,75
5,5
5,5
5,5

Pasca
Lunak
Coklat
Asam
6,25

Silase dibuat dengan menggunakan bahan hijauan rumput raja


(Pennisetum purpuphoides) dan jerami kacang tanah dengan 3 macam
perlakuan yaitu silase dengan perbandingan rumput raja:jerami kacang
tanah 1:1, 3:1, dan 1:3. Bahan yang akan dibuat silase dipotong agar
ukurannya menjadi lebih kecil, kemudian dimasukkan ke dalam toples
kaca. Pemasukan bahan ke dalam botol diusahakan silo dikondisikan
anaerob dengan cara bahan dipadatkan atau ditekan sampai tidak ada
tempat bagi udara sampai botol terisi penuh. Pemeraman silase dilakukan
selama 21 hari.
Perlakuan rumput raja:jerami kacang tanah 1:1 menghasilkan
silase dengan tekstur lunak, berwarna hijau tua, berbau seperti rumput
dan memiliki pH 5,75. Kondisi ini sedikit berbeda dengan kondisi awal
bahan pakan yaitu memiliki tekstur kasar, berwarna hijau dan berbau
hijauan

segar.

Perlakuan

rumput

raja:jerami

kacang

tanah

3:1

menghasilkan silase dengan tekstur kasar, berwarna hijau, berbau segar


dan memiliki pH 5,5. Kondisi ini tidak berbeda nyata dengan kondisi awal
bahan pakan yaitu memiliki tekstur kasar, berwarna hijau dan berbau
hijauan

segar.

Perlakuan

rumput

raja:jerami

kacang

tanah

1:3

menghasilkan silase dengan tekstur lunak, berwarna coklat, berbau asam


dan memiliki pH 6,25. Kondisi ini berbeda nyata dengan kondisi awal
25

bahan pakan yaitu memiliki tekstur kasar, berwarna hijau dan berbau
hijauan segar.
Pemotongan bahan pakan menjadi ukuran yang lebih kecil
berfungsi untuk memperbesar luas permukaan bahan pakan sehingga
ketika dimasukkan dalam botol yang berfungsi sebagai silo, bahan pakan
tersebut mampu memenuhi semua ruang dalam botol sehingga tercipta
kondisi yang anaerob. Hal tersebut dilakukan karena ensilase terjadi pada
kondisi anaerob. Sumarsih dan Waluto (2002) menyatakan prinsip
pembuatan silase adalah menurunkan derajat keasaman (pH) serendah
mungkin, sehingga mikrobia yang bersifat patogen tidak tumbuh dan
dilakukan pada tempat anaerob. Ensilase dipengaruhi oleh tiga faktor
yaitu susunan hijauan dalam silo, jumlah udara yang masuk dalam silo,
dan kandungan bakteri yang berperan dalam ensilase.
Sumarsih dan Waluyo (2002) menyatakan silase selesai dalam
waktu 3 sampai 4 minggu atau 30 hari tergantung dari jumlah bakteri dan
laju fermentasi. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Widyastuti (2008)
bahwa proses fermentasi silase memakan waktu sedikitnya 21 hari untuk
mencapai hasil yang optimal. Berdasarkan hal tersebut, lama pemeraman
silase yang dilakukan pada saat praktikum sudah sesuai.
Penentuan kualitas silase dapat ditentukan secara organoleptis
yaitu meliputi warna, bau, tekstur, rasa, dan analisis laboratorium (kadar
protein, serat kasar, lemak, abu, dan BETN). Silase secara laboratoris
banyak mengandung asam laktat dan tidak mengandung asam butirat.
Silase yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : tekstur tidak
berubah, tidak menggumpal, warna hijau seperti daun direbus, rasa dan
bau asam, tidak ada asam butirat dan tidak ada lendir. Kriteria silase yang
baik dengan pH 4,5 atau kurang, kandungan asam laktat 3 sampai 13%
dari bahan kering, tidak ada jamur, warna seragam kecoklatan atau hijau
layu, tidak berbau amonia dan kandungan amonia rendah yaiitu 5% dari
total nitrogen. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas silase antara lain
keadaan hijauan yang akan dibuat silase, perlakuan terhadap hijauan

26

dengan pemotongan dan pelayuan, keadaan lingkungan yaitu dengan ada


tidaknya oksigen dalam silo dan penambahan bahan aditif. Selain itu,
kualitas silase tergantung dari umur tanaman, kandungan bahan kering
tanaman

dan

kandungan

nutrisi

khususnya

karbohidrat

tanaman

(Sumarsih dan Waluyo, 2002).


Kualitas suatu silase diperlihatkan oleh beberapa parameter seperti
pH, suhu, tekstur, warna, dan kandungan asam laktatnya. Derajat
keasaman (pH) yang optimum untuk silase yang baik sekitar 3.8 sampai
4.2. dan akan memperlihatkan tekstur dan warna silase yaitu halus dan
hijau kecoklatan (Ratnakomala et al., 2006). Berdasarkan hal tersebut,
kualitas silase yang paling baik adalah perlakuan rumput raja:jerami
kacang tanah 3:1 karena silase dengan perlakuan tersebut menghasilkan
silase yang kondisinya tidak berbeda dengan kondisi awal bahan pakan
serta memiliki pH yang cukup rendah meskipun pH silase tersebut masih
berada di atas kisaran normal. Silase dengan perlakuan rumput
raja:jerami kacang tanah 1:1 dan 1:3 merupakan silase yang tidak cukup
baik untuk dijadikan pakan ternak karena kondisi silase tersebut berbeda
nyata dengan kondisi awal bahan pakan dan memiliki pH yang berada
jauh diatas kisaran normal. Ratnakomala et al. (2006) menyatakan
kegagalan dalam pembuatan silase dapat disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranya adalah proses pembuatan yang salah, terjadi
kebocoran silo sehingga tidak tercapai suasana di dalam silo yang
anaerobik, tidak tersedianya karbohidrat terlarut (WSC), berat kering (BK)
awal yang rendah sehingga silase menjadi terlalu basah dan memicu
pertumbuhan organisme pembusuk yang tidak diharapkan.
Penelitian Moore et al. (1996) menyatakan bahwa silase dengan
perbandingan

rumput:legum

3:1

dengan

penambahan

amonia

menghasilkan kulaitas yang baik dibandingkan dengan silase dengan


perbandingan rumput:legum 1:1 dengan penambahan amonia dan silase
dengan perbandingan rumput:legum 1:3 dengan penambahan amonia.
Hal tersebut dipengaruhi oleh kadar protein pada bahan pakan dan

27

mikrobia yang berperan dalam proses fermentasi terhadap bahan pakan.


Berdasarkan hal tersebut, silase dengan perbandingan rumput:legum 3:1
memiliki kandungan protein yang cukup tinggi sehingga mikrobia yang
berperan dalam fermentasi mampu melakukan kerja dengan optimal.

28

KESIMPULAN
Silase merupakan metode presevasi bahan pakan yang dapat
meningkatkan kualitas bahan pakan karena adanya proses fermentasi.
Imbangan yang paling baik dalam pembuatan silase adalah perlakuan
rumput raja:jerami kacang tanah 3:1 karena silase dengan perlakuan
tersebut menghasilkan silase yang kondisinya tidak berbeda dengan
kondisi awal bahan pakan.

29

DAFTAR PUSTAKA
Arinita, T. W. 2010. Pengaruh substitusi jerami kacang tanah dengan
silase daun pisang (Musa paradisiaca) terhadap kecernaan bahan
kering dan bahan organik ransum pada kelinci New Zaeland White
jantan. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret.
Surakarta.
Cahyono, B. 2007. Budi Daya Kacang Tanah. Aneka Ilmu. Semarang.
Mathius I. W., D. Lubis, E. Wina, D.P. Nurhayati, I. G. M. Budiarsana.
1997. Penambahan kalsium karbonat dalam konsentrat untuk
domba yang mendapat silase rumput raja sebagai pakan dasar.
Balai Penelitian Ternak. Bogor.
Moore K.J., R.P. Lemenager, V.L. Lechtenberg, K.S. Hendrix, J.E. Risk.
1996. Digestion and utilization of ammoniated grass-legume silage.
J. Anim. Sci. 62:235-243.
Ridwan R., S. Ratnakomala, G. Kartina, Y. Widyastuti. 2005. Pengaruh
penambahan dedak padi dan Lactobacillus plantarum 1BL-2 dalam
pembuatan silase rumput gajah (Pennisetum purpureum). Media
Peternakan Volume 28 Nomor 3 hlm. 117-123.
Sinaga, R. 2005. Tanggap morfologi, anatomi, dan fisiologi rumput gajah
dan rumput raja akibat penurunan ketersediaan air tanah. Disertasi.
Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sumarsih S. dan Waluyo B. 2002. Pengaruh aras pemberian tetes dan
lama pemeraman yang berbeda terhadap protein kasar dan serat
kasar silase hijauan sorgum. Laporan Penelitian. Fakultas
Peternakan, Universitas Diponegoro. Semarang.
Widyastuti, Y. 2008. Fermentasi silase dan manfaat probiotik silase bagi
ruminansia. Media Peternakan Volume 31 Nomor 3 hlm. 225-232 .

30

BAB V
PENANAMAN DAN PEMUPUKAN
TINJAUAN PUSTAKA
Peranan tanah bagi pertumbuhan tanaman
Tanah merupakan hasil transformasi zat-zat mineral dan organik di
muka daratan bumi (Sutanto, 2009). Tanah adalah sumber utama
penyedia zat hara bagi tumbuhan. Tanah juga tapak utama terjadinya
berbagai bentuk zat didalam daur makanan (Nasoetion, 2009). Komponen
tanah (mineral, organik, air, dan udara) tersusun antara yang satu dan
yang lain membentuk tubuh tanah. Tubuh tanah dibedakan atas horizonhorizon yang kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah sebagai hasil
proses pedogenesis. Bermacam-macam jenis tanah yang terbentuk
merupakan refleksi kondisi lingkungan yang berbeda (Sutanto,2009).
Tanah yang menjadi media tumbuh bagi tanaman memiliki
komposisi seperti, karbohidrat (gula, selulosa, hemiselulosa), lemak
(gliserida, asam-asam lemak, stearat dan oleat), dan lignin yang tersusun
dari C, H, dan O, juga oleh N. P, S, Fe, dan lain-lain, sedangkan bagian
mineralnya terdiri dari unsur hara makro dan mikro esensial.Tanaman
membutuhkan unsur hara untuk dapat melengkapi siklus hidupnya, dan
jika tanaman mengalami defisiensi maka dapat diperbaiki dengan unsur
hara tersebut. Unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar,
biasanya diatas 500 ppm dinamakan unsur hara esensial sedangkan,
unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit, biasanya
kurang dari 50 ppm dinamakan unsur hara mikro esensial. Unsur hara
makro esensial yang melimpah meliputi karbon (C), hidrogen (H), dan
oksigen (O), sedangkan yang terbatas meliputi nitrogen (N), fosfor (P),
kalium (K), belerang (S), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Unsur hara
mikro esensial meliputi boron (B), besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu),
seng (Zn), molybdenum (Mo), dan khlorin (Cl). Unsur yang paling banyak
dibutuhkan oleh tanaman adalah unsur N karena digunakan sebagai

31

komponen produksi, kecuali untuk tanaman yang produksinya berupa


buah berair atau umbi. Unsur hara yang ada dalam tanah dapat juga
dimanfaatkan untuk mengubah sampah organik menjadi kompos dan
mengurangi emisi gas rumah kaca dengan membuat lubang resapan
biopori (Hanafiah, 2005).
Jagung
Jagung (Zea mays L.) adalah tanaman semusim dan termasuk
jenis rumputan atau graminae yang mempunyai batang tunggal, meski
terdapat kemungkinan munculnya cabang anakan pada beberapa genotip
dan lingkungan tertentu. Batang jagung terdiri atas buku dan ruas. Daun
jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan satu sama lain. Bunga
jantan terletak pada bagian terpisah pada satu tanaman sehingga lazim
terjadi penyerbukan silang. Jagung merupakan tanaman hari pendek,
jumlah daunnya ditentukan pada saat inisiasi bunga jantan, dan
dikendalikan oleh genotip, lama penyinaran, dan suhu (Subekti et al.,
2003).
Jagung secara umum mempunyai pola pertumbuhan yang sama,
namun interval waktu antar tahap pertumbuhan dan jumlah daun yang
berkembang dapat berbeda. Pertumbuhan jagung dapat dikelompokkan
ke dalam tiga tahap yaitu (1) fase perkecambahan, saat proses imbibisi air
yang ditandai dengan pembengkakan biji sampai dengan sebelum
munculnya daun pertama; (2) fase pertumbuhan vegetatif, yaitu fase mulai
munculnya daun pertama yang terbuka sempurna sampai tasseling dan
sebelum keluarnya bunga betina (silking), fase ini diidentifiksi dengan
jumlah daun yang terbentuk; dan (3) fase reproduktif, yaitu fase
pertumbuhan setelah silking sampai masak fisiologis (Subekti et al.,
2003).
Benih jagung umumnya ditanam pada kedalaman 5 sampai 8 cm.
Bila kelembaban tepat, pemunculan kecambah seragam dalam 4 sampai
5 hari setelah tanam. Semakin dalam lubang tanam semakin lama

32

pemunculan kecambah ke atas permukaan tanah. Kondisi lingkungan


yang lembab menyebabkan tahap pemunculan berlangsung 4 sampai 5
hari setelah tanam, namun pada kondisi yang dingin atau kering,
pemunculan tanaman dapat berlangsung hingga dua minggu setelah
tanam atau lebih (Subekti et al., 2003).
Inokulum rhizobium
Rhizobium merupakan bakteri berbentuk batang dan bulat, tidak
menghasilkan spora,waktu generasi 2 sampai 4 jam (fast growing) dan 4
sampai 6 jam (slow growing), bersifat gram negatif, tumbuh cepat pada
medium YMA (yeast mannitol agar), diameter koloni 1 sampai 5 mm,
setelah hari ketiga sampai kelima pada suhu 25 sampai 28C, dapat
menggunakan gula dan alkohol serta beberapa asam sebagai sumber
energi (Fuskhah et al., 2007).Upaya-upaya yang dapat ditempuh untuk
meningkatkan produktivitas tanaman jagung, yaitu: pertama, menciptakan
varietas unggul lokal maupun hibrida yang berdaya hasil tinggi,
kedua,memperbaiki

sifat-sifat

toleransi

tanaman

jagung

terhadap

kemasaman tanah dan kekeringan; ketiga, memproduksi benih sumber


dan

memantapkan

sistem

perbenihan.

Mengembangkan

teknologi

budidaya yang lebih efisien sangat strategis untuk meningkatkan


produktivitas tanaman jagung. Pemanfaatan rizobakteri merupakan salah
satu aspek teknologi budidaya yang dapat diusulkan yang berperan
sebagai Plant Gowth Promoting Rhizobacteria (PGPR). PGPR merupakan
kelompok bakteri heterogen yang aktif mengkoloni akar tanaman dan
dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Beberapa jenis
bakteri

yang

Azospirillum,

termasuk

PGPR

Azotobacter,

diantaranya

Klebsiella,

adalah

Pseudomonas,

Enterobacter,

Alcaligens,

Arthobacter, Burkholderia, Bacillus dan Serratia (Raka et al., 2012).

33

Pemupukan
Jenis pupuk
Pemupukan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan
kesuburan tanah. Pemupukan dilakukan karena tanah tidk mampu
menyediakan satu atau beberapa unsur hara untuk menjamin tingkat
produksi tertentu. Jenis pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk
anorganik dan organik. Pupuk anorganik merupakan pupuk yang dibuat
dengan teknologi khusus di pabrik melalui perubahan-perubahan kimia
dari pupuk alam atau dari bahan dasar sederhana seperti pada
pembuatan pupuk N. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisasisa makhluk hidup yang dapat berupa pupuk kandang, pupuk hijau, dan
lain-lain (Sadikin, 2004).
Pupuk organik cair adalah pupuk organik berbentuk cairan. Pupuk
cair umumnya hasil ekstrak bahan organik yang sudah dilarutkan dengan
pelarut seperti air, alkohol, atau minyak. Senyawa organik mengandung
karbon, vitamin, atau metabolit sekunder dapat berasal dari ekstrak
tanaman, tepung ikan, tepung tulang, atau enzim. Pengaplikasian pupuk
organik dengan menyemprotkan ke daun atau disiramkan ke tanah
(Dongoran, 2009).
Pupuk kandang dapat dibedakan menjadi dua yaitu pupuk kandang
segar berupa kotoran hewan yang baru dikeluarkan oleh hewan sehingga
belum mengalami pembusukan dan pupuk kandang busuk yang
merupakan pupuk kandang yang tekah disimpan atau digundukkan
sehingga mengalami pembusukan. Pengaruh pemberian pupuk kandang
antara lain memudahkan penyerapan air hujan, memperbaiki kemampuan
tanah dalam mengikat air, mengurangi erosi, memberikan lingkungan
tumbuh yang baik untuk perkecambahan buji dan akar, dan merupakan
sumber unsur hara tanaman. Kandungan unsur hara dalam pupuk
kandang yang penting bagi tanaman antara lain nitrogen, phosphor, dan
kalium. Rata-rata kandungan unsur hara di dalam pupuk kandang adalah

34

0,3 sampai 0,6% N, 0,1 sampai 0,3% P2O5, dan 0,3 sampai 0,5% K2O
(Mahanani, 2003).
Kebutuhan dan gejala defisiensi
Tanaman jagung membutuhkan minimal 13 jenis unsur hara yang
diserap melalui tanah. Hara N, P, dan K diperlukan dalam jumlah lebih
banyak dan sering kekurangan, sehingga disebut hara primer. Hara Ca,
Mg, dan S diperlukan dalam jumlah sedang dan disebut hara sekunder.
Hara primer dan sekunder lazim disebut hara makro. Hara Fe, Mn, Zn, Cu,
B, Mo, dan Cl diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit, disebut hara
mikro sedangkan 3 unsur lainnya yaitu C, H, dan O diperoleh dari air dan
udara.Tidak semua pupuk yang diberikan ke dalam tanah dapat diserap
oleh tanaman. Nitrogen yang dapat diserap tanaman jagung hanya sekitar
55 sampai 60%, P sekitar 20%, K antara 50 sampai 70%, sedangkan S
sekitar 33%. Tanggapan tanaman terhadap pupuk yang diberikan
bergantung pada jenis pupuk dan tingkat kesuburan tanah. Oleh karena
itu, takaran pupuk berbeda untuk setiap lokasi. Hara N, P dan K
merupakan hara yang sangat dibutuhkan tanaman jagung untuk tumbuh
dan berproduksi, dimana untuk setiap ton biji yang dihasilkan, tanaman
jagung memerlukan 27,4 kg N; 4,8 kg P; dan 18,4 kg K (Sirappa dan
Razak, 2010).
Metode pemupukan
Sutedjo (1994) dalam skripsi Mahanani (2003) menyatakan metode
pemupukan yang dapat digunakan adalah :
a. Penyebaran pupuk. Cara ini biasanya menggunakan pupuk yang
tidak larut dalam air dan bagian-bagian utamanya terikat secara
kimiawi.

Cara

pemupukannya

dengan

disebar

merata

dan

dilakukan setelah atau sebelum pengolahan tanah kemudian


dibenamkan.
b. Plow sole palcement. Metode ini dilakukan pada saat pengolahan
tanah dengan menempatkan pupuk yang diperlukan secara
langsung di belakang alat pembajak. Hal ini bertujuan agar

35

pemupukannya dapat merata dan terbenam dalam tanah. Pupuk


yang biasa digunakan merupakan pupuk yang tidak mudah larut
dalam air.
c. Side band placement. Metode ini dilakukan dengan menempatkan
pupuk pada sebuah sisi atau kedua belah sisi tanaman atau benih
yang berjarak 5 sampai 7,5 cm pada kedalaman 2,5 sampai 5 cm
dari permukaan tanah.
d. In the row palcement. Cara pemupukan dengan menempatkan
pupuk pada lubang-lubang benih atau sepanjang larikan tempat
benih yang akan ditanami.
e. Top dressed atau side dressed placement. Metode ini dilakukan
dengan menempatkan pupuk di atas permukaan tanah di sekitar
tempat tumbuh tanaman. Pemupukan dengan cara ini sebaiknya
dilakukan menjelang musim hujan dan minggu pertama sesudah
musim hujan. Hal ini bertujuan agar pencucian atau pengangkutan
pupuk oleh air dapat dihindarkan.
f. Penyemprotan atau sistem irigasi. Penyemprotan hanya dapat
dilakukan dengan pupuk yang mudah larut dalam air agar unsurunsur yang terkandung dalam larutan pupuk buatan dapat diserap
oleh daun atau batang tanaman. Cara pemupukan dengan
penyemprotan merupakan cara yang efektif karena biayanya
murah.

Distribusi

nutrisi

ke

tanaman

lebih

cepat,

waktu

pengaplikasiannya setiap saat, dan kehilangan unsur hara akibat


pencucian bisa dikurangi.

36

MATERI DAN METODE


Materi
Alat. Alat-alat yang digunakan dalam penanamandan pemupukan
adalah cangkul, ember, tali rafia, dan patok.
Bahan. Bahan-bahan yang digunakan dalam penanaman dan
pemupukan adalah jagung (Zea mays), pupuk cair, pupuk kandang dan
air.
Metode
Bahan yang akan ditanam ke dalam lubang pada petak berukuran
1,5x1,5 m yang telah disediakan adalah jagung dengan jarak tanam
sebesar 25 cm. Lahan digemburkan terlebih dahulu menggunakan
cangkul sebelum ditanami. Parit kecil dibuat mengelilingi petak lahan yang
akan ditanami. Pemupukan kemudian dilakukan dengan cara menyemprot
petak penanaman menggunakan pupuk cair sebanyak 500 ml yang telah
dicampur dengan 1250 ml air. Lubang penanaman dibuat sebanyak 25
lubang dengan 3 biji jagung pada tiap lubang. Patok dan rafia kemudian
dipasang di sekeliling lahan sebagai penanda. Pertumbuhan dan
perkembangan jagung diamati meliputi jumlah daun dan tinggi tanaman.

37

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tanah merupakan salah satu media tanam yang umum digunakan.
Lahan yang digunakan pada saat praktikum digemburkan terlebih dahulu
menggunakan cangkul dan diratakan sebelum ditanami. Sutanto (2009)
menyatakan tanah merupakan hasil transformasi zat-zat mineral dan
organik di muka daratan bumi sedangkan Nasution (2009) menyatakan
tanah adalah sumber utama penyedia zat hara bagi tumbuhan. Tanah juga
tapak utama terjadinya berbagai bentuk zat didalam daur makanan.
Penyiapan dan pengolahan lahan berupa pembajakan tanah
berfungsi untuk menggemburkan tanah, sehingga memperlancar sirkulasi
udara atau aerasi di dalam tanah. Penyiapan lahan sangat bergantung
pada fisik tanah seperti tekstur tanah. Tanah bertekstur berat perlu
pengolahan yang intensif. Tanah bertekstur ringan sampai sedang dapat
disiapkan dengan teknik olah tanah konservasi seperti olah tanah
minimum. Budi daya jagung dengan teknik penyiapan lahan konservasi
dapat berhasil baik pada tanah bertekstur ringan sampai sedang dan
ditunjang oleh drainase yang baik (Akil dan Dahlan, 2004).
Tanah setelah digemburkan kemudian diratakan dan dipasang
patok kayu dan tali rafia sehingga membentuk petak petak berukuran luas
1,5x1,5 m. Masing-masing kelompok mengerjakan satu buah petak.
Tepian petak dibuat saluran irigasi berupa parit kecil yang berfungsi untuk
lewatnya air yang akan mengairi lahan,karena lahan yang digunakan tidak
luas, maka pembuatan parit irigasi hanya menggunakan cangkul. Akil dan
Dahlan

(2009)

menyatakan

pengairan

tanaman

jagung

pada

musimkemarau bersumber dari air tanah yang dipompa maupun air


permukaandari jaringan irigasi. Agar distribusi air lebih efektif ke tanaman,
petaniumumnya membuat saluran air di antara barisan tanaman
denganmenggunakan cangkul atau bajak ditarik ternak.
Lahan yang telah siap dengan lubang tanamnya, kemudian
dimasukan biji jagung sebanyak tiga biji dalam satu lubang tanam, lubang

38

penanaman dibuat sebanyak 25 lubang dengan jarak tanam 25x25 cm.


Jadi banyaknya biji yang diperlukan untuk menanami satu buah petak
adalah 75 biji. Nasoetion (2009) menyatakan sistem jarak tanam
mempengaruhi cahaya, CO2, angin, dan unsur hara yang diperoleh
tanaman sehingga akan berpengaruh pada proses fotosintesa yang pada
akhirnya

memberikan

pengaruh

yang

berbeda

pada

parameter

pertumbuhan dan produksi jagung. Jarak yang lebih sempit mampu


meningkatkan produksi per luas lahan dan jumlah biji namun menurunkan
bobot biji. Variasi jarak tanam berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah
daun, tinggi tanaman, indeks luas daun, indeks panen, serta jumlah
tongkol namun berpengaruh nyata terhadap produksi per ha. Nasution
(2009) menyatakan sistem jarak tanam satu baris menggunakan jarak
tanam 60x25 cm memberikan tinggi tanaman jagung yang paling tinggi
dibandingkan dengan sistem dua baris menggunakan jarak tanam 25x25
cm dan sistem baris segitiga berjarak 25x25x25 cm dengan jarak tiap
segitiga 60 cm. Berdasarkan hal tersebut, jarak tanam yang digunakan
pada saat praktikum belum sesuai untuk menghasilkan tinggi tanaman
jagung yang optimal. Nasution (2009) mengatakan sistem jarak tanam
mempengaruhi cahaya, angin, serta unsur hara yang diperoleh tanaman
yang pada akhirnya memberikan pengaruh yang berbeda pada parameter
pertumbuhan dan produksi jagung.
Penanaman pada setiap lahan diberikan perlakuan yang berbeda
berupa perbedaan pupuk yang diberikan, yaitu perlakuan dengan
pemupukan pupuk kompos sebanyak 1,5 kg/m 2 dan perlakuan dengan
pemupukan pupuk cair sebanyak 500 ml dengan penambahan air
sebanyak 2,5 liter per petak lahan. Mahanani (2003) menyatakan pupuk
yang diberikan pada tanaman dapat dalam bentuk butiran atau granule
maupun dalam bentuk larutan. Pupuk yang diberikan dalam bentuk
granule lebih efektif karena pupuk tidak mudah tercuci oleh air hujan atau
air penyiraman dan dapat diserap tanaman secara perlahan sehingga
ketersediaan pupuknya

lebih

kontinyu. Berdasarkan

39

hal

tersebut,

pemakaian pupuk kompos untuk pemupukan tanaman lebih efektif


dibandingkan dengan penggunaan pupuk cair.
Pengukuran tanaman dilakukan setiap hari selama satu bulan pada
keseluruhan tanaman. Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh data tinggi
tanaman jagung sebagai berikut :
Tabel 4. Rata-rata tinggi tanaman jagung tiap minggu
Perlakuan
Tinggi tanaman pada minggu ke- (cm)
I
II
III
IV
(kelompok)
Pupuk kompos
13
28,5
40,8
62,4
(27)
Pupuk kompos
23
50
96
175
(29)
Pupuk cair (28)
11
25,5
37
57,3
Pupuk cair (30)
10,8
15,8
25,6
37,8
Berdasarkan hasil data diatas apabila diolah dan ditampilkan dalam
bentuk grafik. Hasil grafik rata-rata tinggi tanaman jagung tiap minggu
adalah sebagai berikut:
Grafik 3. Rata-rata tinggi tanaman jagung per minggu
200
180
160
140
120
100
80
60
40
20
0

Kelompok 27
Kelompok 28
Kelompok 29
Kelompok 30

40

41

Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh data jumlah daun tanaman


jagung sebagai berikut :
Tabel 5. Rata-rata jumlah daun tanaman jagung tiap minggu
Perlakuan
Jumlah daun pada minggu ke- (helai)
I
I
I
I
(kelompok)
Pupuk kompos
4
4
4
4
(27)
Pupuk kompos
6
6
6
6
(29)
Pupuk cair (28)
4
4
4
4
Pupuk cair (30)
4
4
4
4
Data hasil rata-rata jumlah daun tanaman jagung diatas apabila
disajikan dalam bentuk grafik hasilnya adalah sebagai berikut:
30
25
Kelompok 27
20

Kelompok 28
Kelompok 29

15

Kelompok 27

10

Kelompok 28

Kelompok 30

Kelompok 29

0
Minggu ke-I Minggu ke-II Minggu ke-IIIMinggu ke-IV

Grafik 4. Rata-rata jumlah daun tanaman jagung per minggu


Berdasarkan tabel dan grafik diketahui bahwa perbedaan perlakuan
pemupukan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan
tanaman, khususnya tinggi tanaman. Perlakuan dengan pemupukan
menggunakan pupuk cair menghasilkan tanaman dengan tinggi yang
relatif

rendah

apabila

dibandingkan

dengan

perlakuan

dengan

pemupukan menggunakan pupuk kompos. Jumlah daun pada perlakuan


pemupukan menggunakan pupuk kompos terutama pada kelompok 29
lebih banyak dibandingkan dengan jumlah daun dari kelompok yang lain.
Hal ini menunjukan bahwa penggunaan pupuk kompos lebih efektif untuk

42

memperoleh pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang optimum


dibandingkan

dengan

penggunaan

pupuk

cair.

Dongoran

(2009)

menyatakan unsur hara mikro berfungsi terutama dalam pembentukan


daun dan klorofil pada daun sehingga apabila pembentukan daun tersebut
terganggu,

maka

proses

fotosintesis

akan

terganggu

juga

dan

pertumbuhan tanaman tersebut terganggu. Berdasarkan hal tersebut,


unsur hara mikro pada tanaman kelompok 29 tercukupi sehingga
perkembangan daun dan pertumbuhan tanaman dapat berlangsung
dengan baik dibandingkan dengan tanaman dari kelompok lain.
Kedua pupuk yang digunakan dalam praktikum merupakan contoh
bahan organik. Penggunaan bahan organik berupa pupuk kompos
menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang lebih baik
dibandingkan

dengan

penggunaan

pupuk

cair.

Dongoran

(2009)

menyatakan bahan organik sangat berperan pada pembentukan struktur


tanah yang baik dan stabil. Pemberian bahan organik juga berperan
dalam memperbaiki sifat kimia tanah. Yasyifun (2008) menyatakan
penambahan bahan organik akan meningkatkan pH tanah masam dan
menurunkan pH tanah alkalis. Jagung mampu tumbuh dengan baik pada
kemasaman tanah (pH) 5,6 sampai 7,2. Tingkat kemasaman (pH) tanah
dapat mempengaruhi pertumbuhan akar, mikrobia tanah, memacu
pelapukan batu, dan melepaskan beberapa unsur hara seperti K +, Ca2+,
Mg2+, dan Mn2+. Pemberian bahan organik yang berupa kompos mampu
meningkatkan kandungan unsur hara dalam tanah selain meningkatkan
pH tanah karena kompos mengandung sebagian unsur hara yang
dibutuhkan oleh tanaman. Berdasarkan hal tersebut, pupuk kompos lebih
mampu meningkatkan kandungan unsur hara dalam tanah yang
diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung
dibandingkan dengan pupuk cair.

43

KESIMPULAN
Praktikum penanaman dilakukan untuk mengetahui efek level
pemupukan pada berbagai jenis pupuk. Pupuk yang digunakan selama
praktikum adalah pupuk cair dan pupuk kandang.

44

DAFTAR PUSTAKA

Dongoran, Doddy. 2009. Respons pertumbuhan dan produksi tanaman


jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt) terhadap pemberian
pupuk cair TNF dan pupuk kandang ayam. Skripsi. Fakultas
Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan.
Fasfakh E., Soetrisno R. D., Budhi S. P. S., Maas A. 2009. Pertumbuhan
dan produksi leguminosa pakan hasil asosiasi dengan rhizobium
pada media tanam salin. Seminar Nasional Kebangkitan
Peternakan. Semarang.
Hanafiah, Kemas Ali. 2005. DasarDasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo
Persada. Jakarta.
Mahanani, C. L. R. 2003. Pengaruh media tanam dan pupuk NPK
terhadap produksi tanaman Pak-Choi (Brassicachinensis) varietas
Green Pak-Choi. Skripsi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Nasoetion, Andi Hakim. 2009. Pengantar ke IlmuIlmu Pertanian. Litera
Antarnusa. Jakarta.
Nasution, Diana Pima. 2009. Pengaruh sistem jarak tanam dan metode
pengendalian gulma terhadap pertumbuhan dan produksi jagung
(Zea mays L.) varietas DK3. Skripsi. Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utar. Medan.
Raka I. G. N., Khalimi K., Nyana I. D. N., Siadi I. K. 2012. Aplikasi
rizobakteri Pantoea agglomerans untuk meningkatkan pertumbuhan
dan hasil tanaman jagung (Zea mays, L.) Varietas Hibrida BISI-2.
Agrotrop 2(1):1-9.
Sadikin, Soraya. 2004. Pengaruh dosis pupuk N dan jenis pupuk kandang
terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman nilam (Pogostemon
cablin Benth.). Skripsi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Sirappa M. P. dan Razak, Nasruddin. 2010. Peningkatan produktivitas
jagung melalui pemberian pupuk N, P, K dan pupuk kandang pada
lahan kering di maluku. Prosiding Pekan Serealia Nasional. ISBN
978-979-8940-29-3.
Subekti NA, Syafruddin, Roy E, Sri S. 2003. Morfologi tanaman dan fase
pertumbuhan jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros.
45

Sutanto, Rachman. 2009. DasarDasar Ilmu Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

46

BAB VI
PRODUKSI VISUAL
TINJAUAN PUSTAKA
Perkembangan peternakan di Indonesia terutama pada ternak
ruminansia tidak terlepas dari peran penyediaan hijauan pakan.
Penyediaan hijauan pakan dalam jumlah dan kualitas yang berkecukupan
sudah semakin sulit, sebab sebagian besar lahan yang berpotensi
sebagai sumber hijauan telah beralih fungsi, menjadi perumahan dan
sarana non pertanian lainnya. Permasalahan lain yang muncul adalah
tidak seimbangnya populasi ternak dengan penyediaan hijauan pakan,
khususnya pada musim kemarau. Ketidakseimbangan produksi hijauan
dengan populasi ternak diperlukan cara untuk mengatasi permasalahan
tersebut seperti diperlukannya satu informasi keanekaragaman hijauan
pakan dalam mendukung perkembangan peternakan (Prawiradiputra et.al,
2002).
Iriani

dan

Kushartono

(2004)

menyatakan

pakan

hijauan

merupakan sumber makanan utama bagi ternak ruminansia. Ternak besar


akan mengkonsumsi hijauan sebesar 10 % dari berat badannya atau
sekitar 20 sampai 25 kg/ekor/hari, sedangkan ternak kecil dapat
menghabiskan hijauan antara 5 sampai 7 kg/ekor/hari. Penyediaan pakan
yang cukup dan berkesinambungan sangat diperlukan sesuai dengan
kebutuhan tersebut.
Sukses tidaknya industri peternakan di Indonesia, khususnya
industri ternak ruminansia tergantung pada beberapa faktor. Salah satu
faktor yang sangat penting adalah pengembangan tanaman untuk
penyediaan pakan utamanya yang berupa hijauan. Semua jenis/tipe
usaha peternakan ruminansia, seyogyanya hijauan makanan ternak
(HMT) diusahakan sendiri agar biaya produksi ternak dapat ditekan dan
tidak akan dipermainkan harga pakan. Produksi HMT mengikuti prinsipprinsip dasar yang sama, baik dalam agronomi, ilmu nutrisi maupun
47

ekonomi. Walaupun demikian, untuk masing-masing kategori perlu


penyesuaian-penyesuaian agar dapat dilaksanakan sesuai dengan
harapan (Soetrisno, 2002).
Soetrisno (2002) menyatakan untuk menentukan berapa jumlah
ternak yang dapat diberi pakan hijauan yang kita tanam, perlu dilakukan
pengukuran hasil terlebih dahulu. Metode pengukuran produksi lahan
terdapat beberapa macam, salah satu yang sering dilakukan adalah
metode dekstruktif biasanya menggunakan kuadrat ukuran 1 m 2, semakin
luas ukuran tentu saja akan semakin baik dan semakin banyak sampel
yang diambil secara acak akan semakin kecil koefien variansinya.
Soedomo melaporkan (1995), melaporkan untuk area pastura seluas 65
ha sekurang-kurangnya diperlukan pengambilan sampel 100 sampel.
Metode non dekstruktif dilakukan secara visual, tetapi masih perlu
dilakukan pengambilan sampel, apabila akan dihitung presentase spesiesspesies tanaman yang ada. Waite (1994) menyatakan keuntungan dari
penggunaan estimasi produksi lahan menggunakan pengamatan visual
yaitu mudah dilakukan dan tidak memerlukan biaya yang besar dalam
pelaksanaannya. Kekurangan dari pengamatan visual adalah data yang
diperoleh tidak memuat tentang dry mater tanaman dan komposisi nutrien
tanaman.

48

MATERI DAN METODE


Materi
Alat. Alat-alat yang digunakan dalam pengukuran produksi visual
adalah kolom sampling (ubinan) ukuran 1m x 1m, sabit dan timbangan.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum pengukuran
produksi visual adalh beberapa jenis rumput dan legum yang ada di
Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian (KP4)
Berbah, Yogyakarta.

Metode
Metode yang digunakan untuk pengukuran produksi visual yaitu
dengan metode ubinan. Ubinan seluas 1m x 1m dilempar secara acak
pada padang hijauan sebanyak dua kali. Ubinan pertama dilempar secara
acak kemudian setelah dilakukan perhitungan komposisi dan berat
tanaman dalam ubinan dilakukan pelemparan ubinan kedua dengan jalan
melangkah 10 langah ke arah kanan dan kemudian dilempar kembali
ubinan tersebut. Hijauan yang berada dalam ubinan dipotong dengan
sabit. Rumput kemudian dipisahkan dari legum dan gulma, lalu ditafsir
masing-masing berat hijauan yang dipotong kemudian masing-masing
hijauan ditimbang. Penafsiran yang dilakukan kemudian dibandingkan
dengan pengukuran sebenarnya.

49

HASIL DAN PEMBAHASAN


Metode produksi visual yang benar menurut Effendi (2011),
dilakukan

dengan

metode

cuplikan

dengan

menggunakan

frame

berukuran bujur sangkar (ubinan 1x1 m). Pengambilan sampel di


lapangan dilakukan secara acak dan dilakukan sebanyak 2 kali ulangan,
ditentukan dengan melihat homogenitas lahan yaitu komposisi botani,
penyebaran produksi serta topografi lahan. Hijauan yang teretak di area
frame kemudian dipotong lebih kurang 5 sampai 10 cm di atas permukaan
tanah.
Berdasarkan hasil pengamatan produksi visual menggunakan
ubinan, berikut hasil data yang diperoleh dengan dua kali pengulangan:
Nama

Zazin
Erlina
Wahyu
Fauzi
Dana
Berat
sebenarny
a

Tabel 6. Ubinan 1
Spesies
Rumput
Legum
Berat
KeBerat
Ketaksira
salahan
taksira salahan
ng
%
ng
%
1500
92,061
300
2,43
1300
66,453
1300
66,453
1000
28,041
781 gram
- gram

Gulma
Berat
Ketaksira salahan
ng
%
15
42,308
10
61,538
10
62,538
25
3,846
30
15,385
26 gram

Berat sebenarnya rumput dalam ubinan 1 sebesar 781 gram, gulma


26 gram sedangkan legum tidak terdapat. Hasil taksiran yang dilakukan
praktikan hasilnya sa ngat bervariasi pada spesies rumput penafsiran
terbesar dengan berat 1500 gram dengan persen kesalahan 92,061% dan
penafsiran terkecil penafisran berat rumput sebesar 300 gram dengan
persen kesalahan sebesar 2,43%. Penafsiran terbesar pada spesies
gulma sebesar 30 gram dengan persen kesalahan 15,385% sedangkan
penfsiran terkecil atau yang paling mendekati berat sebenarnya adalah 25
gram dengan persen kesalahan sebesar 3,846%.
50

Pengujian produksi visual lahan pastura menggunakan ubinan


dilakukan dengan menggunakan dua kali replikasi atau ulangan. Berikut
hasil pengukuran produksi visual berdasarkan ulangan kedua:
Nama

Zazin
Erlina
Wahyu
Fauzi
Dana
Berat
sebenarny
a

Tabel 7. Ubinan 2
Spesies
Rumput
Legum
Berat
Kealaha
Berat
Kesala
taksira
n%
taksira
n%
ng
ng
600
57,895
25
4,67
700
84,21
20
16,67
500
31,579
20
16,67
1000
163,158
25
4,167
900
136,842
20
16.67
380gram
24 gram

Gulma
Berat
Kesala
taksira
n%
ng
15
51,613
25
19,355
30
3,226
50
61,29
45
45,161
31 gram

Hasil dari pengukuran ubinan ke dua didapatkan semua spesies


terdapat di dalam ubinan seperti rumput, legum dan gulma. Berat
sebenarnya rumput sebesar 380 gram, legum 24 gram dan gulma 31
gram. Hasil penafsiran rumput terbesar adalah 1000 gram dengan
kesalahan 163,158% dan yang terkecil sebesar 500 gram dengan
kesalahan 31,579%. Hasil penafsiran spesies legum yang terbesar
sebesar 20 gram dengan persen kesalahan 16,67 dan penafsiran terkecil
pada berat tafsir 25 gram dengan kesalahan 4167%. Hasil penafsiran
spesies gulma terbesar pada berat tafsir 50 gram dengan kesalahan
sebesar 61,29% sedangkan penafsiran terkecil pada berat tafsir 30 gram
dengan kesalahan sebesar 3,226%.
Presentase masing-masing spesies dalam ubinan 1 adalah rumput
sebesar 96,78% untuk rumput dan 3,22% gulma dari total berat populasi
dari ubinan 1. Presentase rumput dalam ubinan 1 sebesar 87,35%, legum
sebesar 5,52%, dan gulma 7,13% dari total berat populasi. Berdasarkan
penelitian Waite (1994), yang dilakukan di lahan pastura dengan
komposisi tanaman pastura berupa rumput gajah, siratro, rumput lain dan
gulma. Rata-rata persen komposisi hasil pengamatan visual pada lahan
51

pastura adalah sebagai berikut rumput gajah 66%, siratro 9%, rumput lain
12 % dan gulma 13%. Hasil data yang diperoleh dari pengamatan
praktikum jika dibandingkan dengan literatur menunjukkan bahwa
komposisi rumput yang sangat tinggi dengan sedikit legum dan lebih
banyak gulma dari pada tanaman legum. Hal tersebut menunjukkan
bahwa diperlukan introduce tanaman baru yaitu legum dalam lahan
pastura tersebut.
Variasi spesies yang ada dalam sampel ubin dan 2 berbeda hal
tersebut dipengaruhi oleh karakteristik tanah, musim, dan kandungan
nutrien yang terdapat dalam tanah (Soedomo, 1995). Komposisi jumlah
tanaman dalam pastur tersebut juga berbeda. Jumlah tanaman yang
paling banyak didominasi oleh rumput, gulma dan legum. Hal tersebut
menurut Diana (2007), disebabkan yang utama karena efek naungan dari
tanaman rumput yang lebih besar dari tanaman lain sehingga dapat
mengurangi

intensitas

cahaya.

Intensitas

cahaya

penting

bagi

pertumbuhan tanaman karena merupakan bahan dalam melakukan


fotosintesi tanaman. Faktor lain yang mepengaruhi adalah kondisi tanah
yang dapat mempengaruhi kandungan-kandungan nutrien di dalam tanah
yang dibutuhkan oleh tanaman. Berdasarkan komposisi tanaman yang
terdapat di dalam lahan tersebut dapat disimpulkan bahwa tempat yang
digunakan sebagai pastura karena komposisi tanaman yang mengisi
lahan tersebut berupa rumput, legum dan gulma yang saling berinteraksi.

52

KESIMPULAN
Pengamatan produksi visual dilakukan bertujuan untuk mengetahui
secara visual atau pengamatan indra produksi suatu lahan pastura. Hasil
dari pengamatan tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk
mengevaluasi produksi pastura dalam suplai ketersedian hijauan untuk
ternak.

53

DAFTAR PUSTAKA
Diana, N.H. 2007. Keragaman pastura campuran pada berbagai tingkat
naungan dan aplikasiny pada lahan perkebunan kelapa sawit.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Effendi, D. 2011. Pola pengembangan kawasan sapi potong di Kabupaten
Aceh Besar Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Iriani N. dan Kushartono B. 2004. Inventarisasi keanekaragaman pakan
hijauan guna mendukung sumber pakan ruminansia. Balai
Penelitian Ternak. Bogor.
Prawiradiputra B. R. et.al. 2002. Karakterisasi rumput benggala (Panicum
maximum) sebagai pakan ternak. Balai Penelitian Ternak. Bogor.
Soedomo, R. 1995. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik. BPFE. Yogyakarta.
Soetrisno R. D. 2002. Potensi Tanaman Pakan Untuk Pengembangan
Ternak Ruminansia. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Waite, R.B. 1994. The aplication of visual estimation procedures for
monitoring pasture yield and composition in exclosures and small
plots. Tropical Grassland vol. 28, 38-42.

54

BAB VII
TRAKTOR
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Traktor
Traktor adalah suatu mesin traksi yang utamanya dirancang dan
dinyatakan sebagai penyedia tenaga bagi peralatan pertanian dan
perlengkapan usaha tani (Sembiring et al., 1998). Traktor didesain secara
spesifik untuk keperluan traksi tinggi pada kecepatan rendah, atau untuk
menarik trailer atauinstrumen yang digunakan dalam pertanian atau
konstruksi.Berdasarkan asal katanya, traktor berarti alat penghela. Fungsi
utama traktor ialah untuk menghela sesuatu sehingga semua traktor tentu
pada bagian belakangnya dilengkapi dengan sambungan untuk tempat
menggandeng alat yang akan dihela tersebut. Pengertian traktor ialah
kendaraan bermesin yang khusus dirancang untuk menjadi penghela.
Berdasarkan sejarahnya, traktor memang dirancang awalnya untuk
mengganti hewan hela dengan mesin yang lebih kuat. Traktor digunakan
untuk berbagai keperluan pada saat ini. Penggunaan yang paling banyak
ialah untuk pengolahan tanah, karena memang pekerjaan pengolahan
tanah adalah pekerjaan pertanian yang relatif membutuhkan daya yang
besar dibanding pekerjaan lainnya. Traktor juga digunakan untuk
penanaman, untuk pemeliharan tanaman, untuk memutar pompa irigasi,
untuk pemanen (dengan memasang pisau reaper), untuk memutar
perontok padi, serta untuk pengangkutan, mulai dari bibit, pupuk,
peralatan, sampai hasil pertanian (Tasliman, 2001).
Jenis dan Kegunaan
Traktor dapat digolongkan menurut jumlah rodanya, bentuk
rodanya, menurut ukurannya, atau menurut rancangan penggunaannya.
Traktor dapat dibagi menjadi: traktor roda dua, traktor roda tiga dan traktor
roda empat menurut jumlah rodanya sedangkan menurut bentuk rodanya,

55

dapat dibedakan antara traktor beroda berban karet, traktor dengan roda
besi (roda sarang), serta traktor krepyak. Traktor dapat digolongkan
menjadi traktor kendara dan traktor tangan menurut cara penggunaannya
(Tasliman, 2001).
Traktor kendara. Traktor roda empat dan traktor krepyak disebut
juga traktor kendara, karena pengemudi traktor ini naik di ruang kemudi
dan mengemudikannya menggunakan roda kemudi seperti layaknya sopir
mobil. Traktor roda empat terbagi lagi menjadi beberapa macam.
Rancangan penggunaan pada traktor kendara, dapat dibedakan adanya
traktor standar, traktor kebun, traktor industri, dan traktor kolong tinggi.
Menurut ukurannya, traktor kendara dapat digolongkan menjadi: traktor
mini, traktor besar dan traktor raksasa (Tasliman, 2001).
Traktor standar. Traktor standar ialah traktor yang biasa digunakan
di lahan pertanian. Ciri utama ialah ukuran jarak roda yang standar, ialah
sekitar 110 cm dan kolong yang cukup tinggi ialah sekitar 60 cm. Roda
tersebut dapat digeser sedikit pada porosnya sehingga jarak roda dapat
diatur. Traktor ini biasa digunakan untuk pengolahan tanah, penanaman,
serta pekerjaan pemeliharaan tanaman. Jarak roda yang standar tersebut
dimaksudkan agar traktor dapat dijalankan di sela-sela larikan tanaman
yang jaraknya memang telah disesuaikan dengan jarak roda traktor
sedangkan kolong yang relatip tinggi dimaksudkan agar ketika traktor
melintas di atas larikan tanaman tidak merusak tanaman tersebut. Traktor
standar digolongkan sebagai traktor besar pada penggolongan menurut
ukuran (Tasliman, 2001).
Traktor kebun. Traktor kebun berukuran lebih kecil dari traktor
standar, serta berkolong rendah. Traktor tersebut dirancang untuk
digunakan pada petak-petak yang kecil, serta tidak dirancang untuk
dijalankan di atas larikan tanaman. Pekerjaan yang bisa dilakukan dengan
traktor kebun ialah pengolahan tanah, pemotongan rumput, pengangkutan
menggunakan trailer, dan sebagainya. Traktor kebun digolongkan sebagai
traktor mini pada pembagian menurut ukuran (Tasliman, 2001).

56

Traktor industri. Traktor industri ialah traktor yang dirancang untuk


keperluan industri, sehingga rancangannya tidak perlu memperhatikan
keperluan penggunaan di lahan pertanian. Rancangan ukurannya sangat
tergantung keperluan pekerjaannya sehingga tidak diperlukan adanya
kolong tinggi ataupun jarak roda yang standar meskipun tidak tertutup
kemungkinan penggunaan traktor industri untuk pekerjaan pertanian.
Pekerjaan semisal pengangkutan dengan trailer tidak memerlukan standar
jarak roda atau tinggi kolong sehingga dapat menggunakan traktor non
standar (traktor industri atau traktor kebun) (Tasliman, 2001).
Traktor kolong tinggi. Traktor kolong tinggi dirancang untuk
pekerjaan pada tanaman-tanaman yang memerlukan kolong tinggi
misalnya tebu. Traktor ini dapat dibuat berkolong dengan ketinggian lebih
dari 1 meter (Tasliman, 2001).
Traktor tangan. Traktor roda dua biasa dikenal dengan nama
traktor tangan. Traktor ini tidak bisa dikendarai sehingga pengemudi harus
berjalan di belakangnya. Alat kemudi berupa setang yang dipegang
dengan tangan kanan dan kiri. Hal inilah barangkali yang menyebabkan
traktor tersebut dinamakan traktor tangan. Traktor tangan biasa digunakan
untuk pekerjaan pengolahan tanah, kebanyakan dengan dipasangi rotary
tiller juga menggunakan bajak dan garu. Traktor tangan dapat dibuat
menjadi alat penanam atau pemanen dengan sedikit modifikasi. Traktor
tangan dapat digunakan dengan roda berban karet ataupun roda besi
(Tasliman, 2001).
Traktor tangan agaknya adalah mesin penghela yang paling sesuai
untuk kebanyak pedesaan di Jawa. Hal tersebut bisa diperkirakan dengan
melihat perkembangan penggunaannya yang pesat di berbagai pedesaan.
Kelebihan traktor tangan dibanding traktor roda empat antara lain: 1)
Harganya lebih murah, dikarenakan komponen yang lebih sedikit, 2)
kontruksinya lebih sederhana, sehingga perawatan lebih mudah, biaya
pemeliharaan lebih murah dibanding traktor roda empat, 3) bisa dirakit
sendiri di pedesaan, di bengkel yang tersedia di lokal setempat, dan 4)

57

kemampuan untuk digunakan pada petak yang kecil serta petak yang
berada di tengah sawah milik orang lain (Tasliman, 2001).
Traktor roda empat tidak mungkin digunakan pada situasi tersebut,
karena traktor roda empat membutuhkan adanya jalan ke tiap petak yang
akan dikerjakan. Sedangkan traktor roda dua dapat melintas melalui
sawah tetangga, asal sawah tersebut belum ditanami. Penggunaannya
juga lebih mudah, tidak memerlukan ketrampilan yang tinggi (Tasliman,
2001).
MATERI DAN METODE
Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah traktor berupa
hand traktor dan mobile traktor.
Metode
Metode yang digunakan adalah dengan mencoba langsung baik
hand traktor maupun mobile traktor dengan masing-masing praktikan.
.

58

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan, diketahui
bahwa traktor yang digunakan adalah traktor kendaraan atau disebut juga
sebagai traktor mobil yaitu Kubota sedangkan traktor tangan yang
digunakan berupat raktor merk Quick. Traktor digunakan untuk berbaga
ikeperluan, penggunaan yang paling banyak adalah untuk pengolahan
tanah, karena memang pekerjaan pengolahan tanah adalah pekerjaan
pertanian yang relatif membutuhkan daya yang besar dibanding pekerjaan
lainnya. Traktor juga digunakan untuk penanaman, untuk pemeliharaan
tanaman, untuk memutar pompa irigasi, untuk pemanen (dengan
memasang pisau reaper), untuk memutar perontok padi, serta untuk
pengangkutan, mulai dari bibit, pupuk, peralatan, sampai hasil pertanian..
Traktor roda dua biasa dikenal dengan nama traktor tangan. Traktor
ini tidak bisa dikendarai sehingga pengemudi harus berjalan di
belakangnya. Alat kemudi berupa setang yang dipegang dengan tangan
kanan dan kiri. Hal ini kemungkinan yang menyebabkan traktor tersebut
dinamakan traktor tangan. Traktor tangan biasa digunakan untuk
pekerjaan pengolahan tanah, kebanyakan dengan dipasangi rotary tiller
juga menggunakan bajak dan garu. Traktor tangan dapat dibuat menjadi
alat penanam atau pemanen dengan sedikit modifikasi. Traktor tangan
dapat digunakan dengan roda berban karet ataupun roda besi.
Traktor roda ban dengan roda satu atau dua umumnya dikenal
sebagai traktor tangan untuk pertanian pada lahan sempit atau pada
luasan lahan yang tidak begitu luas. Traktor beroda tiga digunakan untuk
kegiatan antar barisan tanaman terutama dalam kegiatan pemeliharaan
tanaman. Traktor beroda empat atau lebih umumnya mempunyai motor
penggerak yang lebih besar dan sering digunakan untuk penyiapan pada
lahan pertanian. Traktor tersebut bisa dengan penggerak 2-WD atau 4WD sebagai traksi yang sangat besar untuk traktor tersebut (Sitompul,
1991). Berdasarkan hal tersebut hand traktor yang digunakan pada saat

59

praktikum termasuk spesifikasi traktor beroda tiga dan mobile traktor


termasuk spesifikasi traktor beroda empat.

60

KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang dilakukan traktor sesuai fungsinya
digunakan sebagai alat untuk mempermudah dalam kegiatan produksi
pertanian. Traktor yang digunakan dalam praktikum yaitu berupa hand
traktor dan mobile traktor.

61

DAFTAR PUSTAKA
Sitompul. 1991. Motor bakar internal dan tenaga di bidang pertanian.
JICA-DGHE/IPB Project/ADAET.IPB. Bogor.
Tasliman, 2001. Motor bakar dan traktor pertanian. Naskah ajar untuk
mata kuliah motor bakar dan traktor. Jurusan Teknik Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Jember.
Sembiring, E.N.,I.N. Suastawa, dan Desrial. 1990. Sumber tenaga tarik di
bidang budidaya pertanian. JICA-DGHE/IPB Project/ADEAT : JTA9a (132). Proyek Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi .Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

62

BAB VII
UJI TETRAZOLIUM
Tinjauan Pustaka
Uji tetrazolium
Uji tetrazolium (TZ) banyak digunakan untuk pengujian viabilitas
benih karena waktu yang diperlukan lebih cepat dalam hitungan jam)
dibandingkan pengujian daya berkecambah (dalam hitungan hari). Uji
tetrazolium menggunakan larutan 2,3,5- triphenyl tetrazolium chloride
yang tidak berwarna. Senyawa tersebut diimbibisi oleh benih dan didalam
jaringan benih yang hidup akan bereaksi dengan proses reduksi dalam
respirasi. Aktivasi enzim dehidrogenase akan melepaskan ion H + dan
bereaksi dengan larutan TZ membentuk endapan formazon yang
berwarna merah, stabil dan tidak larut dalam air. Letak dan ukuran daerah
yang terwarnai serta intensitas perwarnaan (disebut pola topografi)
membentuk klasifikasi benih viable atau non- viable (ISTA, 2004).
Zanzibar dan Nanang (2010) menyatakan bahwa uji tetrazolium
dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk menduga mutu fisiologis benih
tanaman yang digunakan baik sebagai penelitian atau ditumbuhkan. Uji
tetrazolium relatif lebih efisien dibandingkan dengan uji perkecambahan,
selain itu dapat dijadikan faktor pembanding yang baik untuk kedua
metode. Penelitiannya pada tahun 2009 menyatakan bahwa ada dua
metode dalam pendugaan mutu fisiologis benih, yaitu secara langsung
dan

tidak

langsung.

Metode

langsung

menggunakan

indikator

pertumbuhan kecambah, benih dikecambahkan pada media ideal, dan


dilakukan digerminator, sedangkan metode tidak langsungnya didasarkan
pada proses metabolisme serta kondisi fisik yang merupakan indikasi
tidak langsung; disebut pula uji cepat viabilitas.
Bradford 2004 cit. Dina et al. (2007) menyatakan bahwa pengujian
tetrazolium dapat digunakan untuk uji viabilitas dengan penambahan
kriteria dalam penilaian uji viabilitas. Uji tetrazolium dapat mendeteksi

63

kerusakan paling dini pada embrio dan menunjukkan deteriorasi benih


yang yang merupakan indikator viabilitas, hal ini dikarena uji tetrazolium
akan menghasilkan indikator yang jelas dengan penandaan munculnya
warna merah pada biji yang akan diuji. Survei tahun 1976, 1982, dan 1990
menyatakan uji tetrazolium menjadi metode yang paling banyak
digunakan untuk uji vigor dan (Leist, 2004). Uji tetrazolium harus
berkolerasi dengan pertumbuhan tanaman.
Vigor benih merupakan fokus bagi insan perbenihan. Benih yang
vigor adalah, yang telah melalui upaya pemuliaan genetik dan pemurnian
fisik sehingga diperoleh sebuah lot benih berisi individu-individu benih
yang prima, memiliki tingkatkemurnian genetik yang tinggi, bersih
penampilan fisik, sehat pertumbuhan danhomogen. Vigor benih jelas
mengait berbagai fungsi insan benih yang bergerak di sektor hulu maupun
hilir. Hasil peneltian menunjukkan bahwa keadaan benih pasca tanam di
lapang dapat disimulasikan dalam bentuk model-model tertentu, sehingga
dapat diketahui mutu benih dengan melakukan simulasi yang mendekati
keadaan sebenarnya. Simulasi atau ujitersebut dapat pula diketahui
tingkat vigor benih. Langkah awal untuk menduga dengan cepat viablitas
benih,

yang

sebelumnya

dapat

diketahui

dengan

melakukan

pengecambahan maka dilakukan uji cepat dengan berbagai metode.


diantaranya yaitu uji tetrazolium (Utomo, 2013).
Alternatif lain yang murah dan mudah adalah penggunaan benih
bebas virus dengan tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan sumber
infeksi virus. Hasil penelitian Saleh et al. (1991),menunjukkan bahwa
penggunaan benih sehat dapat menurunkan laju perkembangan penyakit.
Upaya lain adalah melakukan monitoring secara berkala melalui
pengamatan visual terhadap gejala yang muncul. Namun cara ini sulit
dilakukan, karena adanya kemungkinan munculnya infeksi laten atau
bahkaninfeksi virus lain yang gejalanya mirip (Bos, 1990). Cara yang
paling tepat dan cepat untuk mendeteksi gejala yang disebabkan oleh
virus ialah dengan uji tetrazolium.

64

Kacang tanah
Arachis merupakan tanaman yang unik dan sering ditanam oleh
banyak petani karena memiliki manfaat yang beraneka ragam antara lain:
sumber protein dari hijaun ternak dengan kandungan protein kasar
berkisar 7,82 sampai 19% berdasarkan bahan kering, meningkatkan
produktivitas rumput bila ditanam secara rumpunan, pupuk hijauan untuk
lahan yang miskin akan bahan organik, menyuburkan tanah yang miskin
akan unsur hara, penutup lahan diareal perkebunan, pengendali erosi
pada lahan miring, dan tanaman hias (Yuhaeni, 2001).
Kacang tanah (Arachis hypogea L) merupakan tanaman pangan
yang cukup penting di Indonesia, karena diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan pangan dan industri. Hasil kacang tanah di Indonesia pada
tahun 2002 adalah 1,11 t/ha polong kering (BPS 2002), angka ini masih
rendah dibandingkan dengan hasil kacang tanah di Amerika Serikat dan
Australia yang mencapai 3 t/ha polong kering. Hasil kacang tanah di
Indonesia masih dapat ditingkatkan secara teoritis.
Kacang hijau
Kacang hijau merupakan tanaman tropis yang membutuhkan
suasana panas sepanjang hidupnya. Tanaman kacang hijau dapat
ditanam 2000 m di bawah permukaan laut di daerah tropik. Kacang hijau
sebagai tanaman musim hangat, tumbuh di bawah suhu rata-rata yang
berkisar antara 20C sampai 40C, dengan suhu optimum antara 28C
sampai 30C. Tanaman ini rentan terhadap genangan, sebaliknya tahan
terhadap kekeringan, dengan cara mempersingkat periode antara
pembungaan dan pematangan. Keperluan airnya sekitar 200 sampai 300
mm

untuk

masa

pertumbuhan.

Kacang

hijau

termasuk

divisi

Spermatophyta, anak divisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, bangsa:


Leguminosae,

suku

Papilionaceae,

Phaseolus radiatus L. (Fardani, 2012)

65

marga

Phaseolus,

dan

jenis

Materi dan Metode


Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam uji tetrazolium adalah beaker
glass, aluminium foil, pinset,.
Bahan. Bahan- bahan yang digunakan pada praktikum uji
perkecambahan adalah larutan tetrazolium, biji kacang yang terdiri dari
kacang tanah dan kacang hijau.
Metode
Biji yang akan diuji daya perkecambahannya yaitu biji kacang tanah
dan kacang hijau. Biji kacang tanah dan hijau diambil masing- masing
sebanyak enam biji dan dipilih yang baik, tidak rusak. Kemudian bji-biji
tersebut diperlakukan dengan dua perlakuan yang berbeda, yaitu tiga biji
dibelahdan tiga biji sisanya dibiarkan utuh lalu direndam dengan larutan
tetrazolium selama kurang lebih 1 jam perendaman. Kemudian diangkat
setelah 1 jam dan diamati apakah terdapat warna merah pada biji.

66

Hasil dan Pembahasan


Berdasarkan praktikum uji tetrazolium yang telah dilakukan dengan
cara perendaman biji terlebih dahulu selama 16 jam dengan air hangat
kemudian dimasukkan dalam larutan tetrazolium didapatkan hasil pada
tabel 1 sebagai berikut :
Tabel 8. Hasil uji tetrazolium
Warna yang timbul

Dibelah setelah
direndam
Dibelah
sebelum
direndam

Nomor

Kacang hijau

Kacang tanah

1
2
3
4
5
6

Putih
Putih
Putih
Merah
Merah
merah

Putih
Putih
Putih
Merah
Merah
Merah

Masing-masing biji kacang yang digunakan sebanyak enam biji


yaitu tiga biji yang sengaja dibelah sebelum direndam dan tiga biji sisanya
dibelah setelah perendaman dengan larutan tetrazolium. Berdasarkan
hasil yang didapatkan, kacang hijau yang sengaja dibelah setelah
direndam selama 1 jam dengan larutan tetrazolium menghasilkan warna
putih pada bagian kotiledon biji, bagitu pula dengan biji kacang tanah yang
dibelah setelah direndam juga berwarna putih. Hal ini disebabkan larutan
tetrazolium tidak bereaksi dengan enzim dehidrogenase yang terdapat
pada biji yang belum dibelah sebelumnya. Proses respirasi pada biji
terjadi didalam biji tepatnya pada bagian kotiledon biji, jika larutan
tetrazolium tidak bereaksi dengan proses respirasi biji, maka pada bagian
kotiledon biji tidak akan berwarna merah, itu sebabnya biji yang tidak
dibelah

sebelumnya

bagian

kotiledonnya

masih

berwarna

putih

sedangkan, biji kacang hijau yang dibelah terlebih dahulu sebelum


direndam menunjukkan perubahan warna yang timbul setelah direndam
dengan larutan tetrazolium bagian kotiledon menjadi warna merah. Hal ini
disebabkan adanya jaringan benih yang hidup akan bereaksi dengan

67

proses reduksi dalam respirasi. Aktivasi enzim dehidrogenase akan


melepaskan ion H+ dan bereaksi dengan larutan TZ membentuk endapan
formazon yang berwarna merah.
Proses pembelahan yang dilakukan merupakan salah satu proses
skarifikasi yang dilakukan terhadap biji yang akan diuji. Hal tersebut
bertujuan untuk mempercepat proses imbibisi pada biji. Imbibisi
merupakan proses awal sebelum pengujian tetrazolium hal ini menurut
Zanzibar (2009), memiliki tujuan utama untuk mengaktifkan enzim
dehidrogenase yang ada dalam biji, lalu membedakan sel yang hidup atau
mati, memacu pertumbuhan, meningkatkan jumlah oksigen terlarut serta
mempertegas penampakan kondisi struktur tumbuh. Fungsi enzim
dehidrogenase sendiri adalah memecah unsur H 2O hasil respirasi menjadi
ion H+ dan O2 sehingga ketika dilakukan perendaman dengan larutan
tetrazolium; larutan tersebut akan mengikat ion H + dan membentuk gugus
formazon yang berwarna merah. Faktor-faktor yang mempengaruhi
keragaman proses reduksi yaitu kondisi fisik; bila benih rusak pewarnaan
menjadi kurang cerah karena penetrasi garam tetrazolium berlangsung
lambat, namun dalam proses evaluasi benih demikian tergolong hidup.
ISTA (2003), menyatakan tahapan pengujian tetrazolium yang tepat
adalah benih yang akan diuji dilembabkan terlebih dahulu dalam kertas
basah selama 18 jam pada suhu 20C. Selanjutnya benih direndam dalam
larutan tetrazolium klorida 1% dalam buffer fosfat selama 6 jam dengan
suhu 30C. Kriteria dari benih hidup untuk uji tetrazolium adalah bila
radikel dan kotiledon berwarna merah atau merah muda tanpa warna
putih. Apabila terdapat warna putih pada radikel atau kotiledon maka
bagian

tersebut

dikatakan

mati

(Zanzibar

dan

Nanang,

2010).

Pembelahan yang dilakukan setelah pengujian tetrazolium berfungsi untuk


mengecek ada tidaknya perubahan warna pada biji.
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan
bahwa ketiga biji kacang hijau dan kacang tanah yang dibelah terlebih
dahulu sebelum direndam dalam kondisi hidup, karena terdapat warna

68

merah cerah pada bagian kotiledonnya, sedangkan ketiga biji yang


dibelah setelah direndam berwarna putih dan dapat dikatakan biji tersebut
rusak atau mati. Viabilitas untuk biji kacang tanah dan kacang hijau yang
dibelah terlebih dahulu sebelum direndam larutan tetrazolium lebih baik
dibandingkan dengan biji yang dibelah setelah direndam. Berdasarkan
data yang didapatkan, maka hasil pengujian viabilitas biji kacang tanah
dan kacang hijau dengan uji tetrazolium sudah sesuai dengan literatur.

69

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan
untuk mengetahu viabilitas suatu biji dapat menggunakan uji tetrazolium
yang ditandai perubahan warna merah pada kotiledon biji..

70

Daftar Pustaka
Biro Pusat Statistik. 2002. Statistik Indonesia. Biro Pusat Statistik, Jakarta.
Hlm 3.
Bos, L. 1990. Pengantar Virologi Tumbuhan (terjemahan). Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta. 226 hlm.
Dina, E. Widajati, B. Wirawan, dan S. Ilyas. 2007. Pola topografi
pewarnaan tetrazolium sebagai tolok ukur viabilitas dan vigos benih
kedelai (Glicyne max L. Merr) untuk pendugaan pertumbuhan
tanaman dilapangan. Bull. Agron. (35) 2 : 88-95.
Fardani, Sulastri. 2012. Pengaruh proporsi penambahan kompos BioPA
dan mulsa jerami terhadap serapan hara Na, Mg serta kandungan
klorofil tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) yang ditanam
di kawasan pantai pandansari Bantul. Skripsi. FMIPA, Uinersitas
Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
[ISTA] International Seed Testing Association. 2004. Seed Science and
Technology. International Rules for Seed Testing. Zurich :
International Seed Testing Association.
Leist, N. 2004. Seed vigour determination by means of the topographical
tetrazolium test. Makalah dalam ISTA Seed Quality Assesment
Training Organised by ASPA. Hanoi. Vietnam. 22-26 November
2004.
Saleh, N., Y. Baliadi, A. Munif, S. Karsono, Riwanodja, danSuwono. 1991.
Pengendalian peanut stripe virus pada kacang tanah dengan cara
kultur teknis dan insektisida. Risalah Seminar Tahunan Hasil
Penelitian Tanaman Pangan. Balai Penelitian Tanaman Pangan
Malang. Hlm. 193-198.
Utomo, B.P. 2013. Uji tetrazolium dan uji daya hantar listrik, salah satu
metode cepat penduga mutu benih. PBT Ahli Pertama Balai Besar
Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBP2TP)
Surabaya. Surabaya.
Yuhaeni, S. 2001. Arachis: tanaman unik hijauan pakan ternak. Leaflet.
Balai Penelitian Ternak. Ciawi. Bogor.
Zanzibar, M, dan Nanang, H. 2010. Akurasi metode uji cepat dalam
menduga mutu fisiologis benih damar. Balai Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP). Bogor.

71

Zanzibar, M. 2009. Kajian metode uji cepat sebagai metode resmi


pengujian kualitas benih tanaman hutan di Indonesia. Jurnal
Standardisasi Nasional 11 (1): 38-45.

72