Anda di halaman 1dari 11

PERTAHANAN WILAYAH PERBATASAN INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Lautan merupakan bagian penting yang yang ada di bumi karena 70% atau 140 juta mil persegi
dari permukaan bumi ini terdiri dari laut. Lautan memiliki fungsi sebagai jalan raya yang
menghubungkan suatu bangsa dengan bangsa lain keseluruh pelosok dunia untuk berbagai
macam kegiatan dengan kekayaan sumber daya perikanan yang vital bagi kehidupan manusia
dan kekayaan sumber daya mineral yang terkandung di dasar laut itu sendiri. Perhatian yang
ditujukan terhadap kekayaan-kekayaan dasar laut telah merubah hukum laut yang bersifat
unidimensional menjadi pluridimensional yang sekaligus merombak filosofi dan konsepsi hukum
laut masa lalu.
Majelis umum Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) pada tahun 1976 membentuk suatu badan yang
bernama United Nations Seabed Committee yang menghasilkan konvensi PBB tentang Hukum
Laut atau United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) tanggal 10 Desember
1982 pada Konferensi Hukum Laut III atau United Nations Conference on the Law of the Sea III
di Montego Bay, Jamaica. Konvensi ini merupakan perwujudan dari usaha masyarakat
internasional untuk mengukur masalah kelautan secara menyeluruh yang penyusunannya
memakan waktu selama 10 tahun. Pengaturan dalam konvensi ini merupakan pembaharuan
dibidang hukum kelautan karena berbagai ketentuan hukum baru mengenai hukum laut
disepakati oleh Negara-negara anggota, diantaranya adalah pengaturan mengenai rejim Negara
kepulauan, Zona Ekonomi Ekslusif 200 mil, lebar laut wilayah, landas kontinen dan berbagai
langkah pengamanan turut diatur oleh konvensi ini.
Bagi bangsa Indonesia konvensi ini memiliki arti yang sangat penting, karena untuk pertama
kalinya asas Negara kepulauan atau Wawasan Nusantara yang dicetuskan melalui Deklarasi
Juanda 1957 diakui oleh masyarakan Internasional sebagai bagian dari konvensi hukum laut
baru. Hal lain mengenai pentingnya konvensi hukum laut ini bagi Indonesia adalah bahwa
konvensi ini merupakan dasar bagi penyusunan hukum laut di Indonesia beserta pertahanan
keamanan maritim Indonesia.
Asas Negara kepulauan yang memiliki pengertian selain memiliki kelebihan juga memiliki
konsekuensi pengawasan yang lebih komprehensif bagi Negara yang bersangkutan, bagi
Indonesia permasalahan ini meliputi aspek fisik dan aspek non fisik. Aspek-aspek fisik
diantaranya adalah:

1. Persoalan mengenai lintas damai perdagangan laut. Untuk hal ini ada tiga permasalahan yang
dapat kita kaji, yaitu:
Pertama. 25% perdagangan dunia onboard dalam merchant ship melintasi jalur lalu lintas
internasional melalui Indonesia, pada tahun 2000 sekitar 22.000 milyar menjadi 35.000 milyar
ton pada tahun 2010, dan 41.000 milyar ton pada tahun 2014. Dimana perdagangan tersebut
dibawa oleh sekitar oleh sekitar 50.000-60.000 kapal dagang setiap tahunnya melintasi jalur lalu
lintas internasional yang melintasi perairan Indonesia.
Kedua. Intervensi dan Inisiatif oleh negara-negara besar yang kepentingannya (ekonomi
perdagangan dan perang melawan terorisme) tidak ingin terganggu di kawasan perairan
Indonesia. Hal ini tentunya didorong oleh tujuan mereka untuk mengamankan jalur perdagangan
laut dan kontrol atas barang-barang yang diangkut oleh kapal-kapal yang melalui jalur tersebut.
Ketiga. Penyelundupan baik manusia, senjata ringan, dan narkotika. Ratusan ribu pucuk senjata
ringan (Small Arm and Light Weapon) selundupan beredar di kawasan Asia Tenggara tiap
tahunnya dan lebih dari 80 persen dari penyalurannya melewati laut. Daerah-daerah sekitar Alur
Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) selalu rawan terhadap kegiatan-kegiatan kejahatan
internasional, penyelundupan manusia dan senjata, dan infiltrasi. Hal ini tentunya sangat terkait
dengan kegiatan teorisme dan separatisme di Indonesia.
Dari ketiga alasan tersebut di atas, membuktikan bahwa Indonesia berada dalam sebuah situasi
dan kondisi yang tepat dan sesuai untuk datangnya ancaman dari kekuatan eksternal yakni
intervensi negara lain yang ingin mengamankan kepentingannya dan pihak non-negara seperti
kelompok teroris dan sindikat penyelundupan internasional yang memanfaatkan jalur laut
internasional. Selain itu, Indonesia juga memiliki ancaman dari internal seperti dari kelompok
pemberontak atau separatis yang mendapatkan pasokan persenjataan dari penyelundupan senjata
yang beredar di sekitar perairan Indonesia karena adanya jalur laut internasional dan lemahnya
pengawasan dan pengamanan patrol laut oleh pihak militer Indonesia.
2. Pengamanan pulau-pulau terluar Indonesia
Pulau-pulau terluar Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau kecil seringkali merupakan hal yang
kurang diperhatikan keberadaannya oleh pemerintah Indonesia, kasus Sipadan dan Ligitan
merupakan salah satu contoh lemahnya pengawasan Indonesia terhadap pulau-pulau kecil, yang
dimanfaatkan oleh pihak asing untuk memelihara pulau-pulau tersebut sehingga diperoleh
dokumentasi dan bukti-bukti pengelolaan, hal ini tentunya merugikan Indonesia apabila tidak
segera mengambil langkah prefentif mengenai pengelolaan pulau-pulau terluar, karena
penghitungan batas terluar diambil dari pulau terluar Indonesia.
3. Sarana penunjuk daerah perbatasan laut
Sarana penunjuk daerah perbatasan laut merupakan hal penting yang harus diperhatikan terutama
bagi Negara-negara dengan perbatasan laut yang sangat kecil, misalnya perbatasan selat Malaka.

Minimnya luas selat Malaka yang tidak mencapai batas yang ada dalam ketentuan internasional
mengakibatkan perlunya kesepakatan antara Negara-negara tetangga, sehingga perbatasan laut
pun dicapai dengan kesepakatan para pihak. Pentingnya sarana penunjuk perbatasan adalah
untuk mempermudah pengawasan dan pengamanan daerah laut, misalnya dengan pembuatan
mercu suar. Namun, permasalahan tingginya dana yang diperlukan untuk pembangunan sebuah
mercu suar menyebabkan adanya permasalahan baru bagi Negara.
4. Pengelolaan daerah bawah laut
Daerah bawah laut merupakan daerah yang paling kaya akan sumber kekayaan mineral, seperti
minyak dan gas bumi, pospor, tembaga, emas, linen berlian dan sumber-sumber lain . Kondisi ini
bukan hanya merupakan fenomena geografis dan geologis tetapi juga merupakan fenomena
ekonomis, karena banyaknya pihak yang ingin mengambil keuntungan dari kekayaan alam yang
terdapat dibawah laut. Kemajuan teknologi juga menjadi salah satu pendorong kemajuan hukum
laut, diantaranya adalah penanaman pipa dan kabel dasar laut beserta seluruh kegiatan penelitian
dasar laut. Kasus Ambalat merupakan salah satu contoh kasus mengenai banyaknya kepentingan
pihak-pihak pada sebuah landas kontinen atau dasar laut.
Dari keseluruhan permasalah diatas dapat dikaji bahwa masalah yang paling utama dari
keseluruhan permasalahan menyangkut aspek kewilayahan suatu Negara yang meliputi aspek
kedaulatan dan hak berdaulat secara nyata terhadap negaranya. Hal ini dapat dilihat dari
perbatasan wilayah sebuah Negara dengan Negara lain, baik perbatasan darat maupun laut.
Kondisi saat ini, pengelolaan batas wilayah Negara baik batas di darat maupun di laut belum
tuntas sepenuhnya. Permasalahan ini hanya dapat dituntaskan secara lintas sektoral antara
berbagai pihak yang terlibat.
2. Rumusan Masalah
Menghadapi permasalahan yang disebutkan diatas, pemerintah harus segera melakukan upayaupaya hukum untuk melindungi dan mempertahankan wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Oleh karena itu perlu dikaji upaya-upaya yang dapat ditempuh oleh Pemerintah
Indonesia dalam rangka penanganan permasalahan perbatasan maritim Republik Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Indonesia Sebagai Negara Kepulauan

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia,
yang memiliki 18.110 pulau dengan garis pantai sepanjang108.000 km. Berdasarkan Konvensi
Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas wilayah perairan seluas 3,2
juta km2 yang terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 juta km2 dan laut teritorial seluas 0,3
juta km2. Selain itu Indonesia juga mempunyai hak eksklusif untuk memanfaatkan sumber daya
kelautan dan berbagai kepentingan terkait seluas 2,7 juta km2 pada perairan Zona Ekonomi
Eksklusif (sampai dengan 200 mil dari garis pangkal).
Kurang lebih 6 juta km persegi wilayah Indonesia berupa lautan yang sangat mempengaruhi
iklim dan cuaca seluruh wilayah. Dipandang dari sifat alami, maka lingkungan laut Indonesia
memperlihatkan sifat integral antara unsur laut dan darat. Secara ekologis, hal ini merupakan
dasar ilmiah dan alami bagi konsep wawasan nusantara sebagai wujud kesatuan geografis, yang
menjadi dasar kesatuan politis, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan.
Definisi yang diberikan terhadap Negara kepulauan ialah sebagai Negara-negara yang terdiri dari
satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain, sedangkan berdasarkan konsep
yuridis yang dimaksud dengan kepulauan adalah suatu gugusan pulau, termasuk bagian pulau,
perairan diantaranya dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lainnya demikian
eratnya sehingga pulau-pulau, perairan dan wujud alamiah lainnya itu merupakan suatu kesatuan
geografi, ekonomi dan politik yang hakiki, atau yang secara historis dianggap sebagai demikian.
Kemudian konvensi ini menentukan bahwa untuk kepentingan penentuan zona maritim, Negaranegara kepulauan dapat menarik garis pangkal lurus kepulauan (straight archipelagic baselines)
sampai sejauh 100 mil laut, yang menghubungkan titik-titik paling luar dari pulau-pulau paling
luar dan batu-batu karang. Selama perbandingan ratio air dan daratan tidak melebihi sembilan
berbanding satu dengan ketentuan bahwa wilayah yang dihasilkan tidak memotong Negara lain
dari laut lepas dan zona ekonomi eksklusif.
Sebagai negara kepulauan, wilayah maritim merupakan kawasan strategis dengan berbagai
keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya sehingga berpotensi menjadi prime
mover pengembangan wilayah nasional. Bahkan secara historis menunjukan bahwa wilayah
maritim ini telah berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik
dan geografis yang dimilikinya. Secara sederhana, pembangunan wilayah maritim diartikan
sebagai pembangunan wilayah yang terkait dengan sumber daya kelautan. Wilayah kelautan
Indonesia mencakup: (a) perairan kepulauan dan wilayah laut teritorial sampai 12 mil laut, (b)
zona ekonomi eksklusif (ZEE) 200 mil, dan (c) landas kontinen. Luasnya wilayah kepulauan
yang harus diawasi merupakan permasalahan yang harus ditindaklanjuti agar pemerintah melalui
aparatur negaranya tidak lengah dalam melakukan tugas untuk mengawasi wilayah laut
kepulauan Indonesia.
2. Perbatasan wilayah laut Indonesia
Dalam bahasa Inggris perbatasan sering disebut dengan border, boundary atau frontier.
Perbatasan merupakan salah satu manifestasi penting dalam suatu Negara dan bukan hanya suatu

garis imajiner diatas permukaan bumi, melainkan suatu garis yang memisahkan suatu daerah
dengan daerah lainnya. A.E. Moodie menyatakan bahwa boundary adalah garis-garis yang
mendemarkasikan batas-batas terluar dari suatu Negara. Dinamakan Boundary karena berfungsi
mengikat (bound) suatu unit politik. Sedangkan frontier mewujudkan jalur-jalur (zona) dengan
lebar beraneka yang memisahkan dua wilayah berbeda Negara. Pengaturan perbatasan harus ada
supaya tidak timbul kekalutan, karena perbatasan merupakan tempat berakhirnya fungsi
keadulatan
suatu
Negara
dan
berlakunya
keadulatan
Negara
lain.
Seperti halnya negara-negara berkembang lainnya di kawasan Asia, masalah perbatasan
merupakan masalah yang kerap dihadapi. Tumpang tindih pengaturan ZEE dengan beberapa
Negara tetangga juga berpotensi melahirkan friksi dan sengketa yang dapat mengarah pada
konflik internasional. kaitannya dengan hubungan Indonesia-Malaysia, masalah perbatasan dapat
terlihat dalam kasus Selat Malaka dimana kawasan perairan tersebut diklaim oleh beberapa
negara yaitu Singapura, Malaysia, dan termasuk Indonesia. Selat Malaka merupakan jalur lalu
lintas perdagangan yang menghubungkan antara negara-negara barat dengan negara-negara
timur, sehingga kawasan ini merupakan kawasan yang strategis bagi jalur perdagangan. Masalah
Selat Malaka sempat akan diinternasionalisasikan, meskipun pada akhirnya cukup negara-negara
pantai yang menjaga perairan tersebut, yaitu Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Penjagaan
Selat Malaka dilakukan dengan cooperative security, dimana masing-masing angkatan laut
negara-negara pantai melakukan patroli bersama di sekitar wilayah perairan selat Malaka.
Hingga sekarang masih belum jelas status dari Selat Malaka merupakan bagian dari wilayah
negara mana.
3. Pertahanan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
Kepentingan strategis yang bersifat tetap adalah penyelenggaraan usaha pertahanan negara untuk
menjaga dan melindungi kedaulatan negara dan keutuhan wilayah NKRI, serta keselamatan dan
kehormatan bangsa dari setiap ancaman, baik yang berasal dari luar maupun yang timbul di
dalam negeri. Dalam melaksanakan kepentingan pertahanan yang bersifat tetap, bangsa
Indonesia senantiasa berpegang prinsip sebagai bangsa yang cinta damai tetapi lebih cinta pada
kemerdekaan dan kedaulatannya. Sedangkan dalam menjamin kepentingan pertahanan yang
bersifat tetap, penyelenggaraan pertahanan dilaksanakan dengan sistem kesemestaan, melibatkan
seluruh rakyat dan sumber daya, serta sarana dan prasarana nasional sebagai satu-kesatuan
pertahanan.
Kepentingan strategis yang bersifat mendesak pada dasarnya tidak bias dipisahkan dari
kepentingan strategis pertahanan yang bersifat tetap. Kepentingan strategis pertahanan yang
bersifat mendesak ini lebih diarahkan untuk mengatasi isu keamanan aktual, yaitu tindakan yang
dapat mengganggu kedaulatan dan keutuhan NKRI, serta gangguan terhadap keselamatan dan
kehormatan bangsa. Kerjasama internasional di bidang pertahanan diperlukan sebagai alat
diplomasi pertahanan. Dengan kata lain, kerjasama internasional bidang pertahanan merupakan
salah satu langkah visioner untuk modernisasi pertahanan dalam kancah diplomasi serta trainingtraining bersama secara militer. Visi strategis pertahanan Indonesia sudah selayaknya diapresiasi

dan disikapi oleh segenap anak bangsa, agar implementasi kebijakan pertahanan Indonesia
benar-benar dihayati sebagai maknanya dalam Preambule UUD 1945. berbagai macam upaya
dapat ditempuh pemerintah dalam mempertahankan pertahanan dan keamanan wilayah NKRI,
diantaranya adalah :
Deterrence
Indonesia perlu mengembangkan konsep deterrence atau penangkalan. Dengan adanya
deterrence ini diharapakan dapat memberikan dampak psikologis terhadap negara-negara yang
akan melakukan serangan militer ke Indonesia atau melakukan tindakan-tindakan lainnya
sehingga mereka akan mengetahui efeknya jika mereka berani macam-macam terhadap wilayah
Indonesia dan jika terjadi serangan balasan (retaliation). Salah satu langkah untuk mewujudkan
deterrence tersebut yaitu dengan melakukan modernisasi atau pembangunan kekuatan militer
Indonesia. Pembaharuan persenjataan benar-benar dilakukan, tidak hanya sekedar perawatan
persenjataan yang telah ada tetapi kita perlu membeli senjata dan peralatan tempur lainnya yang
modern juga memiliki teknologi yang canggih untuk melindungai wilayah NKRI ini.
Modernisasi perlu dilakukan, terutama dalam Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU)
juga stabilisasi dalam Angkatan Darat (AD) untuk mempertahankan wilayah NKRI dari ancaman
yang datang baik dari luar maupun dalam negeri. Modernisasi di AL harus dilakukan karena
kemampuan militer armada laut kita sangat minim apalagi jika dibandingkan dengan luas
wilayah Indonesia
Kawasan-kawasan perbatasan atau daerah-daerah yang dianggap rawan harus dijaga secara
intensif seperti perairan Selat Malaka, Pulau Kalimantan, kawasan Natuna, dan daerah lain yang
berbatasan atau berhubungan dengan negara Malaysia. Konsep detrrence bukan berarti tanpa
resiko dapat menimbulkan dampak lain bagi hubungan antar negara. Deterrence yang diikuti
dengan modernisasi/pembangunan kekuatan militer dapat memunculkan kecurigaan dari negara
lain atas pembangunan tersebut. Misalnya, untuk mendukung modernisasi militer maka
Indonesia harus meningkatkan anggaran belanja pertahanannya dari rata-rata 1% PDB menjadi
diatas 1% atau 3%-5% dari PDB agar dapat mengejar ketertinggalannya. Hal ini dapat direspon
oleh negara lain sebagai ancaman dan ikut membangun kekuatan militer negaranya sehingga
mengakibatkan terjadinya perlombaan senjata (Arms Race) diantara negara-negara. Yang dapat
dilakukan untk menghindari kecurigaan dan ketegangan, dalam pembangunan militernya
Indonesia harus jelas kearah mana, misalnya bisa kearah non-provocative defence.
Pengembangan kapasitas pertahanan kita sebenarnya dapat dilandaskan pada prinsip ini sehingga
tidak menstimulasi kekhawatiran negara lain dan jelas untuk meyakinkan masyarakat
internasional.
Preventive Diplomacy
Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan jalan militer untuk mencapai suatu
penyelesaian. Kebanyakan untuk menyelesaikan masalahnya, Indonesia dengan Malaysia

melakukan hubungan diplomasi untuk membicarakan dan melakukan lobi-lobi menyangkut


permasalahan yang dihadapi kedua negara. Indonesia perlu menggalakan upaya preventive
diplomacy untuk mencegah segala bentuk permasalahan yang dihadapi dengan berkembang
mejadi konflik militer. Dalam pelaksanaannya, diplomasi yang dilakukan harus diaksanakan oleh
orang-orang yang ahli dalam berdiplomasi dan mengerti akan masalah yang tengah dihadapi
sehingga kepentingan-kepentingan kita dapat tersampaikan dalam berbagai perundingan.
Semenjak lahirnya Negara-negara di dunia, semenjak itu pula berkembang prinsip-prinsip
hubungan internasional, hukum internasional dan diplomasi. Dalam hubungannya satu sama lain
negara-negara mengirimkan utusannya untuk berunding dengan negara lain dalam rangka
memperjuangkan dan mempertahankan kepentingannya masing-masing selain mengupayakan
terwujudnya kepentingan bersama. Cara-cara dan bentuk yang dilakukan dalam melakukan
pendekatan dan berunding dengan Negara lain untuk mengembangkan hubungan tersebut
dinamakan diplomasi yang dilaksanakan oleh para diplomat. Selanjutnya pembukaan dan
pemeliharaan diplomatik dengan Negara lain, atas dasar kesamaan hak, merupakan manifestasi
nyata
dari
kedaulatan
suatu
Negara.
Preventve diplomacy perlu dilakukan Indonesia setidaknya untuk membangun komunikasi dan
saling pengertian diantara kedua negara sehingga Indonesia diharapkan dapat mengantisipasi
permasalahan yang ada agar tidak muncul ke permukaan dan mengakibatkan terjadinya konflik.
Kemungkinan-kemungkinan konflik inilah yang harus dikelola melalui preventive diplomacy.
Selama ini upaya diplomasi Indonesia dipandang masih kurang dalam menangani masalahmasalah dengan Malaysia. Seperti yang terjadi pada kasus Sipadan-Ligitan.
Preventive diplomacy mencakup berbagai tindakan: conflict avoidance, preventive action,
conflict management, conflict resolution, dan lain-lain. Semua istilah-istilah tersebut bertujuan
sama yaitu mengelola konlik pada tahap paling awal dianggap lebih manusiawi, tidak
mengeluarkan biaya banyak dan lebih manageable daripada saat konflik tersebut telah menginjak
pada tahap yang lebih maju dan lebih luas. Diharapkan dengan melakukan preventive diplomacy
Indonesia dapat menjaga hubungan baik dengan menekan konflik-konflik yang akan muncul.
Cooperative Security
Kerja sama keamanan (cooperative security) memang perlu dilakukan oleh Indonesia, mengingat
banyaknya masalah-masalah yang terjadi di kawasan-kawasan perbatasan. Setidaknya dengan
dilakukannya kerja sama kemanan dapat meredam konflik yang terjadi. Seperti yang dilakukan
di Selat Malaka, cooperative security dilakukan dengan patroli bersama di perairan tersebut
dengan begitu Indonesia, Malaysia, Singapura tidak terlibat dalam peperangan namun penjagaan
wilayah yang diklaim masing-masing negara. Cooperative security dapat meminimalisir
terjadinya ekskalasi konflik dan meningkatkan kerja sama antar negara di bidang pertahanan dan
keamanan.
Masalah piracy, illegal logging, termasuk masalah TOC dan transboundary issues lainnya
memang tantangan besar bagi kita, tapi merupakan bentuk konflik lain sehingga Indonesia tidak
perlu mencurahkan dana terlalu besar. Indonesia lebih baik melakukan cooperative security

dengan menjaga perairan beramai-ramai mengingat keterbatasan kapasitas pertahanan maritim


Indonesia dengan demikan efisiensi juga dapat tercapai. Indonesia dan Malaysia juga perlu
mengadakan latihan militer gabungan berkaitan dengan banyaknya masalah kemanan yang
muncul di sepanjang perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia diamana latihan gabungan ini
meliputi aspek darat, samudera, dan angkasa. Diharapkan dengan adanya latihan gabungan ini
hubungan angkatan bersenjata kedua negara dapat kembali pulih, karena sifat kerja sama
kemanan ini adalah lintas batas negara maka perlu dilakukan koordinasi peraturan atau hukum
antara Indonesia dengan Malaysia. Hal ini perlu dilakukan agar dalam penanganan kasus-kasus
seperti piracy, penyaluran TKI ilegal, atau ilegal logging agar jelas siapa yang berwenang atau
bertugas dan bagaiamana penanganan kasus-kasus tersebut sehingga tidak saling bertentangan
satu sama lain.
Kedua negara harus memiliki sistem untuk bersama-sama mengantisipasi dan mengatasi
persoalan keamanan. cooperative security dapat dijadikan langkah awal di lapangan atau di
lokasi terjadinya permasalahan (dispute) agar tidak terjadi konflik yang lebih luas sehingga
Negara dapat menentukan langkah selanjutnya untuk mengatasi persoalan atau sengketa tersebut.
Semua upaya-upaya diatas memang beberapa konsep yang dapat dilakukan dan bertujuan agar
dapat dilaksanakan dalam tindakan riil. Dalam pelaksanaannya, konsep-konsep itulah yang dapat
dijadikan patokan atau acuan untuk mengarahkan berbagai usaha dan upaya agar membentuk
Indonesia yang lebih kuat dan maju. Indonesia dapat menjadi kuat untuk menjaga wilayahnya
(dengan segala potensinya) dan kepentingannya baik dari segi pertahanan kemanan maupun dari
segi diplomasi.
Upaya-upaya yang telah disebutkan diatas merupakan sebagian kecil dari berbagai upaya yang
dapat ditempuh oleh Indonesia dalam rangka menjaga hubungan baik dengan Negara-negara
tetangga. Postur pertahanan (defence posture) merupakan wujud kemampuan dan kekuatan
serta gelar Hankamneg yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan strategi dalam mencapai
sasaran dan tujuan Hankamneg. Menurut pengertian di atas, postur pertahanan memiliki tiga
aspek utama, yakni kemampuan (capability), kekuatan (force) dan gelar (deployment). Menurut
Oxford Dictionary of U.S. Military, kemampuan adalah forces or resources giving a country or
state the ability to undertake a particular kind of military action (kekuatan atau sumber daya
yang memberi kebisaan sebuah negara untuk menjalankan tindakan militer tertentu). Sementara,
secara luas, kekuatan dapat didefinisikan sebagai elemen-elemen tempur dari keseluruhan
struktur pertahanan (the fighting elements of all defence structure). Dan, gelar adalah tata sebar
dari kekuatan. Ketiga aspek tersebut, melalui suatu sinergi, ditujukan untuk mendukung strategi
dalam
mencapai
tujuan
pertahanan
negara.
Berdasarkan pengertian postur pertahanan yang menjadi acuan Dephan, sebuah penilaian atas
postur pertahanan harus dimulai dengan pembahasan mengenai tujuan pertahanan negara, serta
strategi apa yang dijalankan untuk mencapai sasaran dan tujuan tersebut. Menurut pasal 4 UU
No. 3 tahun 2001 tentang Pertahanan Negara, tujuan utama pertahanan negara adalah untuk
menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik

Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. Khusus dalam hal
pertahanan negara dalam menghadapai ancaman militer, pasal 7 ayat 2 menegaskan bahwa
sistem
pertahanan
negara
menempatkan
TNI
sebagai
komponen
utama.
Tujuan utama demikian pada hakekatnya merupakan kepentingan strategis pertahanan yang
bersifat tetap. Oleh karena itu, secara operasional tentunya harus dijabarkan ke dalam bentuk
upaya mengatasi berbagai ancaman dan tantangan terhadap tujuan utama itu sendiri dalam kurun
waktu dan dimensi geografis tertentu. Dengan kata lain, penilaian terhadap postur pertahanan
secara esensial merupakan penilaian terhadap efektifitas dan efisiensi kekuatan pertahanan
negara (khususnya TNI) dalam mengelola dan mengatasi berbagai ancaman dan tantangan yang
secara aktual dan nyata dihadapi.
Dalam hal ini, Buku Putih Pertahanan (BPP) Indonesia menyatakan bahwa sasaran
penyelenggaraan pertahanan negara adalah untuk mencegah dan mengatasi ancaman keamanan
tradisional dan non-tradisional. Kemungkinan ancaman tradisional dalam waktu dekat, baik
berupa agresi dan invasi, dinilai kecil. Namun, untuk kepentingan pembangunan postur
pertahanan secara komprehensif, potensi ancaman tradisional perlu dijabarkan secara
operasional. Kalaupun kecil kemungkinan akan adanya ancaman agresi dan invasi terhadap
Indonesia, ancaman berupa infiltrasi dan intrusi kekuatan asing ke wilayah yurisdiksi Indonesia
tidak dapat diabaikan begitu saja. Bentuk ancaman ini jelas mengancam tegaknya kedaulatan
Indonesia,
yang
dinyatakan
sebagai
tujuan
utama
pertahanan
negara.
Meskipun diakui bahwa kemungkinan ancaman tradisional tetap tidak dapat diabaikan, BPP
menilai bahwa ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia lebih besar kemungkinannya yang
berasal dari ancaman non-tradisional. Ancaman-ancaman itu kemudian diidentifikasikan
kedalam bentuk konkrit berupa:
(1) terorisme,
(2) separatisme,
(3) radikalisme,
(4) konflik komunal,
(5) kerusuhan sosial,
(6) perompakan dan pembajakan di laut,
(7) imigrasi ilegal,
(8) penangkapan ikan ilegal dan pencemaran laut, dan
(9) penebangan kayu ilegal dan penyelundupan.
Dalam hal ancaman tradisional, selain dari hanya menyatakan menjamin eksistensi kekuatan
pertahanan yang mampu tetap memelihara tegaknya kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI,

BPP masih belum menjabarkan secara konkrit kemungkinan-kemungkinan ancaman yang akan
dihadapi. Sementara, dari berbagai jenis ancaman non-tradisional di atas, secara umum dapat
dikatakan bahwa penggunaan kekuatan pertahanan Indonesia dewasa ini lebih terfokus pada
upaya untuk menangani dua jenis persoalan keamanan nasional, yakni konflik-konflik internal
(internal conflicts) dan ancaman berbasis maritim (maritim-based threats), yang pada dasarnya
membutuhkan kemampuan menjalankan lower level operations. Dalam menghadapi ancaman
non-tradisional akan digunakan kekuatan TNI baik sebagai komponen utama maupun sebagai
pendukung, tergantung jenis ancaman yang dihadapi.
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dalam hubungan bernegara memang tidak selamanya berjalan harmonis pasti terdapat beberapa
potensi persoalan yang dapat menggoyahkan hubungan antar negara. Setiap persoalan yang
terjadi dapat menimbulkan dua dampak yang berbeda bagi negara, dampak tersebut dapat berupa
kerja sama atau konflik. Terkadang dalam suatu konflik, satu aspek yang terkena konflik dapat
merambat ke aspek-aspek lainnya. Untuk menjaga agar tidak terulang lagi atau setidaknya
mengantisipasi konflik-konflk yang dapat terjadi, Indonesia harus melakukan berbagai upaya
untuk mengatasi konflik dan meningkatkan posisi tawar (bargaining position). Segala upaya
yang dilakukan bertujuan agar kelak tidak ada lagi permasalahan yang mengganggu hubungan
kerja
sama
antar
Negara
yang
bersengketa.
Pada dasarnya hubungan antar negara dipengaruhi oleh kepentingan masing-masing negara dan
hubungan antar negara dapat berjalan dengan baik jika kepentingan-kepentingan tersebut tidak
saling berbenturan. Masalah perbatasan merupakan masalah yang seringkali menjadi masalah
yang cukup sensitive antar Negara yang saling berdekatan. Hubungan angtar Indonesia dan
Negara-negara tetangga sebenarnya dapat dikatakan telah berjalan cukup baik, hanya tinggal
bagaimana negara-negara tersebut saling menghormati dan menghargai satu sama lain,
mengantisipasi dan mengelola potensi konflik, dan akhirnya mengembangkan kerja sama
bilateral yang saling menguntungkan di berbagai bidang (poleksosbud hankam). Cara-cara yang
dapat digunakan salah satunya adalah melalui diplomasi yang baik. Kerja sama keamanan
(cooperative security) memang perlu dilakukan oleh Indonesia, mengingat banyaknya masalahmasalah yang terjadi di kawasan-kawasan perbatasan
2. SARAN
Walaupun berbagai upaya telah dilakukan Indonesia untuk mengatasi berbagai persoalan
perbatasan dengan Negara-negara tetangga, namun, masalah yang dihadapi masih juga belum
bisa terselesaikan. Agar masalah yang dihadapi dapat segera terselesaikan maka jalan yang harus
ditempuh harus lebih tersistematis dan mendapatkan dukungan lintas sektoral dari pihak-pihak

yang terkait di dalam negeri, baik dari departemen luar negeri maupun angkatan pertahanan
Indonesia.