Anda di halaman 1dari 3

Krisis Finansial Asia

Krisis finansial asia berawal dari serangan spekulatif pada baht Thailand pada
15 Mei 1997, peristiwa ini kemudian menyebar dengan cepat ke Negara-negara lain
di Asia Timur melalui mata uang, pasar saham, dan pasar property yang kemudian
menghasilkan efek benturan pada pasar global, khususnya di Eropa Timur dan
Amerika Latin. Bank sentral Thailand ikut mengintervensi guna mempertahankan
nilai mata uangnya terhadap dolar AS, tetapi dipaksa untuk membiarkan mata
uangnya mengambang pada tanggal 2 Juli. Akibatnya, baht turun drastis dan
memicu krisis perbankan domestik. Pada 1 Agustus, International Monetary Fund
(IMF) memberikan paket penyelamatan sebesar $16 miliar, diikuti dengan dana
talangan sebesar $3,9 miliar pada 20 Agustus.
Pada awal September, mata uang Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand
masing-masing turun sebesar 20 persen atau lebih, dan ini diiringi oleh gelombang
penjualan pada pasar saham regional. Penurunan mata uang Indonesia dan
dilanjutkan dengan kenaikan harga bahan pokok mengaruh pada kerusuhan di
seluruh negeri dan memaksa presiden Soeharto yang telah lama berkuasa mundur.
Bahkan ekonomi seperti Singapura dang Hong Kong, yang termasuk ekonomi
terkuat di wilayah ini dan memiliki sistem finansial yang kuat, menyerah pada krisis
ini. Dolar Singapura turun 15 persen terhadap dolar AS antara Juli 1997 sampai
dengan Maret 1999, membalikkan kenaikan jangkan panjang saat pertumbuhan
PDB turun menjadi -0,1 persen pada 1998, setelah pertumbuhan yang kuat sebesar
5,6 persen pada tahun sebelumnya. Dolar Hong Kong, yang berada di bawah
spekulasi intensif dan kurs tetap dimana ia terpatok pada dolar AS hanya
diselamatkan oleh tindakan ekstrem otoritas moneter serta oleh tingkat cadangan
valuta asing Hong Kong yang tinggi. Di Malaysia, pada akhir 1997, pasar saham
telah kehilangan lebih dari 50 persen nilainya dan pada tahun berikutnya ekonomi
tersebut mengalami resesi pertamanya dalam beberapa tahun.
Ada dua penjelasan dasar atas krisis finansial asia. Pada dasarnya, yang
pertama menghubungkan dengan kepanikan finansial. Menurut pandangan ini,
sebagian besar pesimisme pemenuhan diri dari pemberi pinjaman internasionallah
yang merupakan akar penyebabnya. Setelah kepanikan dimulai, bank-bank
internasional
mulai menarik pinjaman dan modal asing keluar dari wilayah
tersebut. Hal ini sama dengan bank lari saat para investor tiba-tiba panik dan
meminta pembayaran dengan segera. Bank kemudian dipaksa untuk menjual aset
jangka panjang dengan kerugian. Tidak sepeerti kasus bank domestic lari dimana
bank sentral dapat menghentikan krisis dengan bertindak sebagai pemberi
pinjaman sebagai upaya terakhir pada sebuah krisis internasional dimana cadangan
valuta asing terbatas sehubungan dengan utang eksternal jangka pendek, seperti
kasus di banyak Negara Asia, hanya sedikit hal yang dapat dilakukan otoritas
moneter. Saat bank sentral menaikkan tingkat suku bunga riil untuk menghentikan
arus keluar modal dan mempertahankan mata uang, pinjaman domestic menjadi
lebih mahal dan jika milai mata uang turun, hal ini meningkatkan biaya pembayaran

utang luar negeri, dan mengarah pada tidak kembalinya pinjaman dan kegagalan
bank.
Pandangan krisis ini didukung oleh fakta bahwa banyak Negara yang terkena
krisis, seperti Singapura dan Hong Kong, pada dasarnya secara ekonomi dalam
keadaan baik sebelum krisis, tetapi belum terhindar dari gelombang kepanikan
penjualan dan penarikan investasi internasional. Dengan kata lain, krisis ini
menular, sama-sama menyerang negara lemah ataupun kuat. Akhirnya, Negaranegara telah menjadi bagian dari keajaiban asia dan dalam perjalanannya, hanya
sedikit bukti dari badan internasional, seperti Bank Dunia, yang menyebutkan
bahwa sebuah krisis itu sangat besar.
Akan tetapi menurut pandangan fundamentalis, krisis asia bersama dengan
krisis sebelumnya, disebabkan oleh kelemahan ekonomi fundamental yang tetap
tersembunyi hingga krisis tersebut tidak bergerak. Thailand dan Malaysia,
contohnya, memiliki deficit rekening akumulasi yang cukup besar pada
keseimbangan pembayaran mereka da nada tanda peringatan bahwa Thailand
kehilangan daya saing ekspor di ekspor padat karya dan tidak cukup mediversifikasi
ke dalam priduk bernilai tambah yang lebih tinggi, seperti alat-alat elektronik dan
chip computer.
Kebanyakan pemerintah Asia, seperti Korea Selatan dan Indonesia, juga
menyediakan jaminan implisit terhadap sektor perbankan, yang mendorong
pemberian pinjaman berisiko kepada perusahaan besar dengan tata kelola
perusahaan yang buruk, yang mengarah pada meningkatnya saham untuk
pinjaman bermasalah. Pada beberapa kasus, hal ini diterjemahkan menjadi
gelembung pada saham dan pasar properti dan overheating in the economy. Hal ini
diperparah dengan pengawasan yang lemah, asuransi deposit yang tidak
mencukupi, penilaian proyek yang buruk, dan terkadang korupsi. Di Thailand
contohnya, perusahaan keuangan yang tumbuh dengan cepat pada awal 1990-an
hamper tanpa regulasi.
Apakah masalah-masalah ini terbatas pada sekktor dalam negeri? Mungkin
dapat diselesaikan, tetapi factor baru pada tahun 1990-an adalah naiknya
keterbukaan finansial ekonomi Asia dan kenaikan pinjaman asing dengan drastis.
Pinjaman jangka pendek hingga pemberian pinjaman uang pada proyek yang
kurang dapat dipercaya menjadi lebih umum, khususnya di Korea, Malaysia, dan
Thailand. Hal ini menciptakan ketidaksesuaian kematangan yang besar pada
laporan keuangan institusi keuangan lokal, yang diperparah oleh ketidaksesuaian
mata uang karena peminjaman menggunakan mata uang asing, biasanya dolar AS
sementara pemberian pinjaman untuk perusahaan-perusahaan domestic
menggunakan mata uang lokal. Para investor internasional senang berinvestasi di
negara-negara lain sepanjang prospek ekonomi mereka terlihat bagus. Dan dengan
secara implisit mempertahankan mata uang mereka berhubungan erat dengan
dolar AS, bank sentral di wilayah ini memperkuat keyakinan bahwa pinjaman

tersebut akan dikembalikan pada nilai tukar tertentu tanpa resiko devisa asing.
Tepat sebelum krisis, bank Thailand misalnya, berulang kali menjamin para investor
asing bahwa mereka akan menjamin perusahaan yang mengalami kegagalan
keuangan.
Tidak mengejutkan, ketika lingkungan internasional diperburuk dengan
kenaikan dolar AS yang drastis setelah tahun 1995, yang membuat ekspor lebih
mahal untuk negara-negara yang mematok mata uangnya dekat dengan dolar,
kemunduranyang bersifat siklus di Eropa dan Jepang, dan meningkatnya persaingan
dari Cina pada pasar ekspor padat karya, kelemahan-kelemahan ekonomi ini
menjadi lebih jelas ketika digabungkan dengan pergeseran sentimen investor asing
dari optimisme ke pesimisme, hasilnya adalah pelarian modal dan berkembangnya
krisis Asia.

Istilah penting :
Kebijakan perdagangan ( trade policy) adalah kebijakan pemerintah yang secara
langsung memengaruhi jumlah barang dan jasa yang diimpor atau diekspor oleh
suatu negara.
Pelarian modal (capital Flight) adalah pengurangan pada permintaan aset yang
besar dan tiba-tiba yang terjadi di sebuah negara.