Anda di halaman 1dari 70

HUKUM KEWARISAN ISLAM DAN PELAKSANAANNYA

Oleh :
ROBYANSYAH
A01112094

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014

KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya panjatkan kepada Allah SWT Tuhan yang Maha Esa,
karena atas berkah dan rahmat-Nya, saya bisa menyelaikan karya ilmiah ini.
Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuh memenuhi salah satu tugas kuliah, yaitu
mata kuliah Hukum Kewarisan Islam. Karya ilmiah ini saya sadari sangat jauh dari
sempurna. Tanpa bantuan dari banyak pihak, tentunya penulisan karya ilmiah ini
yang menyita banyak energi biaya dan waktu akan sulit terselesaikan. Oleh karena
itu saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang namanya tidak
bisa saya sebutkan satu per satu atas bantuannya dalam mengerjakan karya ilmiah
ini.
Akhir kata, saya mohom maaf yang sebesar-besarnya, jika selama penulisan karya
ilmiah ini ada salah kata atau perbuatan yang menyinggng semua pihak. Saya
berharap Allah SWT membalas semua kebaikan para pihak yang telah membantu.
Semoga karya ilmiah ini membawa manfaat bagi ilmu pengetahuan. Amin.

Pontianak, 20 November 2014


Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar isi

ii

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

BAB II Pembahasan

A. Pengertian

B. Sumber Hukum Kewarisan Islam

C. Rukun, Syarat, Dan Azas Azas Hukum Kewarisan

11

D. Sebab Dan Penghalang Kewarisan

21

E. Derajat Ahli Waris

28

F. Ahli Waris dan Penggolongannya

30

G. Pembagian waris

43

H. Ashabah

50

I. Penghitungan dan Pentashihan

52

J. Aul dan Radd

55

K. Hak Waris Banci dan Wanita Hamil

58

L. Hak Waris Orang Yang Hilang, Tenggelam dan Tertimbun

61

BAB III Penutup

66

Daftar Pustaka

iii

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hukum waris Islam merupakan ekspresi penting hukum keluarga
Islam, ia merupakan separuh pengetahuan yang dimiliki manusia sebagaimana
ditegaskan Nabi Muhammad SAW. Mengkaji dan mempelajari hukum waris
Islam berarti mengkaji separuh pengetahuan yang dimiliki manusia yang telah
dan terus hidup di tengah-tengah masyarakat muslim sejak masa awal Islam
hingga abad pertengahan, zaman modern dan kontemporer serta di masa yang
akan datang.
Sejak

sejarah

awalnya

(origin)

hingga

pembentukan

dan

pembaharuannya (change and development) di masa kontemporer hukum waris


Islam menunjukkan dinamika dan perkembangannya yang penting untuk dikaji
dan diteliti oleh para pemerhati hukum Islam. Bukan suatu hal yang kebetulan
jika ternyata telah banyak pemerhati yang menulis dan mengkaji perkembangan
hukum waris Islam dari berbagai aspeknya. Kontak Islam dengan berbagai
agama yang ada pada masa awal Islam hingga zaman kontemporer juga telah
ikut mewarnai hubungan Islam dan non-Islam (baca: muslim dan non muslim).
Bahkan juga mewarnai hukum Islam dalam relasinya dengan non muslim,
termasuk di dalamnya hukum waris Islam.
Kewarisan beda agama merupakan salah satu dari persoalan
kontemporer dalam pemikiran hukum Islam kontemporer. Di satu sisi nas alQuran tidak menjelaskan tentang bagian ahli waris untuk non muslim
sedangkan hadits tidak memberikan sedikitpun bagian harta bagi ahli waris non
muslim, namun di sisi lain tuntutan keadaan dan kondisi menghendaki hal yang
sebaliknya. Dialektika antara hukum dan tuntutan perkembangan zaman
tersebut jelas menjadi problem besar bagi hukum kewarisan Islam.
Problematika kewarisan beda agama mencuat ketika relasi muslim
dan non muslim kembali didiskusikan dan diwacanakan oleh berbagai

kalangan. Bahkan hal tersebut telah menjadi perhatian para pemikir Islam sejak
awal pembentukannya hingga zaman kontemporer. Hanya saja tuntutan zaman
kontemporer yang didalamnya terdapat isu hubungan antar agama dan hak asasi
manusia memaksa kembali untuk mendiskusikan kewarisan beda agama dalam
perspektif hukum Islam.
Perubahan dan pembaharuan hukum waris Islam telah terjadi secara
nyata dalam sejarah pemikiran hukum Islam, untuk menyebut contoh apa yang
terjadi dalam perumusan hukum waris Islam di Indonesia dengan konsep ahli
waris pengganti telah merubah dan memperbarui hukum waris Islam di
Indonesia.
Sejarah juga menunjukkan bahwa pada sepanjang sejarah hukum
Islam pemikiran hukum waris Islam tidaklah berhenti, walaupun ada yang
beranggapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup namun sesungguhnya pemikiran
hukum Islam tetap dilakukan setidaknya oleh dua golongan penegak syariat
Islam yaitu qadi/hakim dan mufti. Hakim melakukan pemikiran hukum Islam
dengan jalan melaksanakan hukum melalui putusan pengadilan, sedangkan
mufti melalui fatwa-fatwa hukum.
Hakim sebagai penegak hukum mempunyai posisi sentral dalam
penerapan hukum. Hakim tidak hanya dituntut agar dapat berlaku adil tetapi ia
juga harus mampu menafsirkan undang-undang secara aktual sesuai dengan
kebutuhan dan perkembangan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan
masyarakat pencari keadilan dengan tetap mempertimbangan aspek keadilan,
kepastian hukum dan nilai kemanfaatannya. Melalui putusan-putusannya
seorang hakim tidak hannya menerapkan hukum yang ada dalam teks undangundang (hakim sebagai corong undang-undang) tetapi sesugguhnya ia juga
melakukan pembaharuan-pembaharuan hukum ketika dihadapkan pada
masalah-masalah yang diajukan kepadanya dan belum diatur dalam undangundang ataupun telah ada aturan tetapi dipandang tidak relevan dengan keadaan
dan kondisi yang ada (hakim menciptakan hukum baru/jadge made law).
Hakim di lingkungan peradilan agama di Indonesia sebagai salah satu
penegak hukum Islam ternyata juga telah melaksanakan fungsi menetapkan

putusan terhadap perkara-perkara yang diajukan kepadanya dengan terlebih


dahulu mengemukakan pertimbangan-pertimbangan hukum pada putusannya
tersebut. Dan melalui putusan tersebut tidak dapat disangkal bahwa ia telah turut
berperan dalam pemikiran hukum Islam terlebih lagi ketika putusannya tersebut
mengandung pembaharuan terhadap pemikiran hukum Islam.
Adanya perbedaan antara putusan Hakim Mahkamah Agung Republik
Indonesia tentang bagian harta bagi ahli waris non muslim dan status ahli waris
non muslim dengan fiqh di atas, jelas menimbulkan pertanyaan mendasar
tentang bagaimana dan mengapa putusan tersebut lahir, bukankah putusan
tersebut tidak sejalan dengan fiqih dan bahkan tidak sejalan dengan kompilasi
hukum Islam yang juga tidak memberikan bagian harta sedikitpun bagi ahli
waris non muslim dan tidak memberikan status ahli waris dari pewaris muslim
bagi ahli waris non muslim.

B. Rumusan Masalah
Adapun Rumusan Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini
yaitu sebagai berikut :
1. Mencari dan memahami pegertian ilmu waris dan hal yang berkaitan
dengannya dari berbagai sumber dan pendapat.
2. Mencari dan memahami berbagai macam ilmu waris yang ada di Indonesia
dan juga cara pelaksanaannya.
3. Mencari sumber ilmu hukum waris baik yang berasal dari Al-Quran
maupun UU yang ada di indonesia.
4. Mengetahui cara pelaksanaan ilmu hukum waris di indonesia dengan agama
dan suku yang beragam.
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Hukum Kewarisan Islam.
2. Dengan menulis makalah ini penulis dapat lebih memahami Ilmu Hukum
Waris yang ada di Indonesia.
3. Dan yang terakhir, semoga makalah ini bermanfaat bagi teman mahasiswa.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengetian
Dalam beberapa literatur Hukum Islam ditemui beberapa istilah untuk
menamakan Hukum Waris Islam, seperti fiqh mawaris, ilmu faraidh dan hukum
kewarisan. Perbedaan dalam penamaan ini terjadi karena perbedaan arah yang
dijadikan titik utama dalam pembahasan.
Pengertian Hukum Waris Menurut Islam adalah suatu disiplin ilmu
yang membahas tentang harta peninggalan, tentang bagaimana proses
pemindahan, siapa saja yang berhak menerima bagian harta warisan /
peninggalan itu serta berapa masing-masing bagian harta waris menurut hukum
waris islam.
Prof. T.M. Hasby As-Shid dalam bukunya hukum islam yang berjudul
fiqh mawaris (Hukum Waris Islam) telah memberikan pemahaman tentang
pengertian hukum waris menurut islam ialah:

"Ilmu yang dengan dia dapat diketahui orang-orang yang menjadi


ahli waris dalam islam, orang yang tidak dapat mewarisi harta warisan
menurut islam, kadar yang diterima oleh masing-masing ahli waris dalam islam
serta cara pengambilannya"

Hukum Waris Islam kadang-kadang disebut juga dengan istilah AlFaraidh bentuk jamak dari kata fardh, yang artinya kewajiban dan atau bagian
tertentu. Apabila dihubungkan dngan ilmu, menjadi ilmu faraidh, maksudnya
ialah ilmu untuk mengetahui cara membagi harta waris orang yang telah
meninggal dunia kepada yang berhak menerimanya menurut hukum islam. Di
dalam ketentuan Hukum Waris Menurut Islam yang terdapat dalam Al-quran
lebih banyak yang ditentukan dibandingkan yang tidak ditentukan bagiannya.

Dalam literatur hukum di Indonesia digunakan pula beberapa nama


keseluruhannya mengambil dari bahasa Arab, yaitu waris, warisan, pustaka dan
hukum kewarisan. Yang menggunakan nama Hukum Waris Islam, memandang
kepada orang yang berhak menerima harta waris menurut islam, yaitu yang
menjadi subjek dari hukum ini. Adapun menggunakan nama warisan islam
memandang kepada harta warisan yang menjadi objek dari hukum ini.
Syariat Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat
teratur dan adil. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap
manusia, baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Syariat
Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah
meninggal dunia kepada ahli warisnya, dari seluruh kerabat dan nasabnya, tanpa
membedakan antara laki-laki dan perempuan, besar atau kecil.
Al-Quran menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang
berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. Bagian
yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap
pewaris, apakah dia sebagai anak, ayah, istri, suami, kakek, ibu, paman, cucu,
atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu.
Oleh karena itu, Al-Quran merupakan acuan utama hukum dan
penentuan pembagian waris, sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang
diambil dari hadits Rasulullah saw. dan ijma para ulama sangat sedikit. Dapat
dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Quran
yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci, kecuali hukum waris ini. Hal
demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang
legal dan dibenarkan AlIah SWT. Di samping bahwa harta merupakan tonggak
penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat.

B. Sumber Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia


1.1. Al Quran
Adapun ayat-ayat al Quran yang mengatur tentang kewarisan secara jelas
dan rinci adalah sebagai berikut :

a) Surat an Nisa ayat 11

11. Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk)


anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan
bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya
perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta
yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia
memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi
masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang
meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak
mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka
ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai
beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagianpembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau
(dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anakanakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih
dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana

b) Surat an Nisa ayat 12

12. Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan


oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteriisterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari
harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka
buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh
seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai
anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh
seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi
wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.
Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak
meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai
seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara
perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis
saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu
lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu,
sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar
7

hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris).


(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benarbenar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun

c) Surat an Nisa ayat 176


176. Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah:
"Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang
meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai
saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu
seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang lakilaki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak
mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka
bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang
meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudarasaudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara lakilaki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah
menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu

d) Surat an Nisa ayat 7

7. Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibubapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula)
dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau
banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan

e) Surat an Nisa ayat 33


33. Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu
bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika
ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka,
maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah
menyaksikan segala sesuatu

f) Surat al Anfal ayat 75

75. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta
berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga).
Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih
berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu

g) Surat al Ahzab ayat 6

6. Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari


diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan
orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih
berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang
mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik
kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu
telah tertulis di dalam Kitab (Allah)

1.2. Al Hadits atau Sunnah Rasul


Adapun hadits atau sunnah yang ada hubungannya dengan hukum
kewarisan antara lain adalah :
a. Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas.
Kami telah diberi tahu oleh Mamar dari Ibn Thowus, dari bapaknya,
dari Ibn Abbas berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: bagilah
harta waris diantara orang-orang yang berhak menerima bagian sesuai
dengan ketentuan al-Quran. Jika masih ada tinggalan (sisa) maka yang
lebih berhak adalah ahli waris lakilaki
b. Hadits Nabi dari Jabir Ibn Abdillah
Kami telah diberitahukan oleh Amr Ibn Abi Qois dan Muhammad bin
al-Munkadir dari Jabir bin Abdillah berkata: Rasulullah telah datang
menjengukku sedang saya dalam keadaan sakit di bani Salamah
kemudian saya bertanya: Wahai Nabi Allah bagaimana saya harus
membagi harta diantara anak-anakku, maka sebelum Nabi bertolak
dariku maka turunlah ayat:

10


Yang artinya Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian
pusaka) untuk anak-anakmu. Yaitu bagian seorang anak laki-laki sama
dengan bagian dua orang anak perempuan.

1.3. Ijtihad
Ijtihat adalah usaha atau ikhtiar yang sungguh sungguh dengan
mempergunakan segenap kemampuan yang ada di lakukan oleh orang ( ahli
hukum yang memenuhi syarat untuk mendapatkan garis hukum yang
belum jelas atau tidak ada ketentuannya di dalam al Quran dan sunnah
Rasul.

C. Rukun, Syarat, Dan Azas Azas Hukum Kewarisan


1.1. Rukun
Sebagaimana hukum lainnya, masalah warispun memiliki
ketentuan khusus (rukun-rukun) yang harus terpenuhi. Dengan kata lain,
hukum waris dipandang sah secara hukum Islam jika dalam proses
penetapannya dipenuhi tiga rukun, yaitu: waris, muwarrits dan maurutus.
Hal ini senada dengan pendapat Sayyid Sabiq, menurut beliau pewarisan
hanya dapat terwujud apabila terpenuhi 3 hal, yaitu:
a) Al- Waris, yaitu orang yang akan mewariskan harta peninggalan si
muwaris lantaran mempunyai sebab-sebab untuk mempustakai seperti
adanya ikatan perkawinan, hubungan darah (keturunan) dan hubungan
hak perwalian dengan si muwaris.
b) Al Muwarris, yaitu orang yang meninggal dunia, baik mati haqiqy
maupun mati hukmy, seperti orang yang hilang kemudian dihukumi
mati.
c) AlMaurus, disebut juga tirkah dan miras yaitu harta benda atau hak
yang akan dipindahkan dari muwaris kepada al-waris.

11

1.2. Syarat
Pusaka mempusakai adalah berfungsi sebagai menggantikan
kedudukan dalam memiliki harta benda antara orang yang telah meninggal
dunia dengan orang yang ditinggalkannya. Oleh karena itu pusaka
mempusakai memerlukan syarat-syarat sebagai berikut:
a) Matinya mawarris

(orang yang mempusakakan). Meninggalnya

pewaris merupakan conditio sine quanon untuk terbukanya harta waris,


karenanya meninggalnya pewaris harus nyata adanya. Apabila tidak
jelas kematiannya tetap menjadi miliknya yang utuh sebagaimana
dalam keadaan yang jelas hidupnya. Kematian pewaris menurut doktrin
fikih dapat dibedakan kepada tiga macam, yaitu:
1) Mati haqiqy artinya tanpa melalui pembuktian dapat diketahui dan
dinyatakan bahwa seseorang telah meninggal dunia.
2) Mati Hukmy adalah seseorang yang secara yuridis melalui
keputusan hakim dinyatakan telah meninggal dunia. Ini bisa terjadi
seperti kasus seseorang dinyatakan hilang (mafqud) tanpa diketahui
dimana dan bagaimana keadaannya. Melalui keputusan hakim,
setelah melalui upaya-upaya tertentu, ia dinyatakan meninggal.
3) Mati taqdiri yaitu anggapan bahwa seseorang talah meninggal
dunia. Misalnya karena ada ikut ke medan perang atau tujuan lain
yang secara lahiriyah mengancam dirinya. Setelah sekian tahun
tidak di ketahui kabar beritanya dan melahirkan dugaan kuat bahwa
ia telah meninggal dunia, maka dapat dinyatakan bahwa ia
meninggal.
b) Hidupnya waris (orang yang mempusakai) di saat kematian muwaris,
ketentuan ini merupakan syarat mutlak agar seseorang berhak
menerima warisan, sebab orang yang sudah meninggal dunia tidak
mampu lagi membelanjakan hartanya, baik yang diperoleh karena
pewarsi maupun sebab-sebab lainnya. Hidupnya ahli waris itu baik
secara hakiki maupun secara taqdir hidup secara hakiki berarti
ketetapan tentang hidupnya ahli waris secara nyata dapat diketahui dan

12

dapat diterima menurut syara, sedangkan hidup secara taqdir


sebagaimana anak dalam kandungan, ia tetap berhak menerima harta
waris bila bapaknya meninggal.
c) Tidak adanya penghalang-penghalang mempusakai (mawaniul irsi).
Dalam kitab Ianat al-Tholibin dijelaskan bahwa penghalang
mempusakai itu ada 3 macam yaitu pembunuhan, perbudakan dan
perbedaan agama. Dengan dipenuhinya rukun dan syarat kewarisan
seperti tersebut di atas, maka harta waris yang tertinggal dapat
dibagikan kepada para ahli waris sesuai dengan bagian yang telah
ditentukan.
1.3. Azas Azas Hukum Kewarisan
Dalam penjelasan pasal 49 huruf b UU No. 3 Tahun 2006
dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Waris adalah penentuan siapasiapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan,
penentuan bagian masing-masing ahli waris dan pelaksanaan pembagian
harta peninggalan tersebut serta penetapan pengadilan atas permohonan
seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan
bagian masing-masing ahli waris. Dari hal-hal tersebut di atas maka dalam
pelaksanaan pembagian waris tidak dapat dipisahkan dengan azas-azas
hukum waris Islam yang meliputi :
1. Azas Integrity : Ketulusan
Integrity artinya : Ketulusan hati, kejujuran, keutuhan. Azas
ini mengandung pengertian bahwa dalam melaksanakan Hukum
Kewarisan dalam Islam diperlukan ketulusan hati untuk mentaatinya
karena terikat dengan aturan yang diyakini kebenarannya. Hal ini juga
dapat dilihat dari keimanan seseorang untuk mentaati hukum Allan
SWT, apalagi penjelasan umum angka 2 alinea keenam Undangundang Nomor 7 tahun 1989 Tentang Peradilan Agama memberi hak
opsi kepada para pihak untuk bebas menentukan pilihan hukum waris
mana yang akan dipergunakan dalam menyelesaikan pembagian waris,
telah dinyatakan dihapus oleh UU No. 3 Tahun 2006 Tentang

13

Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama.


Penghapusan tersebut berarti telah membuka pintu bagi orang Islam
untuk melaksanakan hukum waris Islam dengan kaffah yang pada
ahirnya ketulusan hati untuk mentaati hukum waris secara Islam adalah
pilihan yang terbaik, landasan kesadarannya adalah firman Allah SWT
surat Ali Imran ayat 85 :

85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali


tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi
2. Azas Ta' abbudi : Penghambaan diri
Yang dimaksud azas Ta'abbudi adalah melaksanakan
pembagian waris secara hukum Islam adalah merupakan bagian dari
ibadah kepada Allah SWT, yang akan berpahala bila ditaati seperti
layaknya

mentaati

pelaksanaan

hukum-hukum

Islam

lainnya.

Ketentuan demikian dapat kita lihat, setelah Allah SWT menjelaskan


tentang hukum waris secara
Islam sebagaimana dijelaskan dalam surat an-Nisa' ayat 11 dan 12,
kemudian dikunci dengan ayat 13 dan 14 :

13. (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari


Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah
memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai14

sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan


yang besar
14. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan
melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya
ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa
yang menghinakan
3. Azas Hukukul Maliyah : Hak-hak Kebendaan
Yang dimaksud dengan Hukukul Maliyah adalah hak-hak
kebendaan, dalam arti bahwa hanya hak dan kewajiban terhadap
kebendaan saja yang dapat diwariskan kepada ahli waris, sedangkan
hak dan kewajiban dalam lapangan hukum kekeluargaan atau hak-hak
dan kewajiban yang bersifat pribadi seperti suami atau istri, jabatan,
keahlian dalam suatu ilmu dan yang semacamnya tidak dapat
diwariskan. Kewajiban ahli waris terhadap pewaris diatur dalam
Kompilasi Hukum Islam pasal 175 yang berbunyi :
a. Mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai;
b. Menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan
termasuk
b. kewajiban pewaris maupun menagih piutang;
c. Menyelesaikan wasiat pewaris;
d. Membagi harta warisan diantara anti waris yang berhak
4. Azas Hukukun Thabiiyah : Hak-Hak Dasar
Pengertian hukukun thabiiyah adalah hak-hak dasar dari ahli
waris sebagai manusia, artinya meskipun ahli waris itu seorang bayi
yang baru lahir atau seseorang yang sudah sakit menghadapi kematian
sedangkan ia masih hidup ketika pewaris meninggal dunia, begitu juga
suami istri yang belum bercerai walaupun sudah pisah tempat
tinggalnya, maka dipandang cakap untuk mewarisi. Hak-hak dari
kewarisan ini ada empat macam penyebab dan seagama. Hubungan
keluarga yaitu hubungan antar orang yang mempunyai hubungan darah

15

(genetik) baik dalam garis keturunan lurus ke bawah (anak cucu dan
seterusnya) maupun ke samping (saudara).
Kebalikan dari ketentuan tersebut, hukum Islam menentukan beberapa
macam penghalang kewarisan yaitu Murtad, membunuh dan hamba
sahaya, sedangkan dalam Kompilasi Hukurn Islam penghalang
kewarisan kita jumpai pada pasal 173 yang berbunyi:
Seseorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim
yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dihukum karena :
dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau
menganiaya berat pada pewaris; dipersalahkan secara memfitnah telah
mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu
kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau
hukuman yang lebih berat.
5. Azas Ijbari : Keharusan, kewajiban
Yang dimaksud Ijbari adalah bahwa dalam hukum kewarisan
Islam secara otomatis peralihan harta dari seseorang yang telah
meninggal dunia (pewaris) kepada ahli warisnya sesuai dengan
ketetapan Allah SWT tanpa digantungkan kepada kehendak seseorang
baik

pewaris

maupun

ahli

waris.

Unsur

keharusannya

(ijbari/compulsory) terutama terlihat dari segi di mana ahli waris (tidak


boleh tidak) menerima berpindahnya harta pewaris kepadanya sesuai
dengan jumlah yang telah ditentukan oleh Allah. Oleh karena itu orang
setelah ia meninggal dunia kelak, karena dengan kematiannya, secara
otomatis juga dilihat dari segi yang lain yaitu :
a. Peralihan harta yang pasti terjadi setelah orang meninggal dunia.
b. Jumlah harta sudah ditentukan untuk masing-masing ahli waris.
c. Orang-orang yang akan menerima harta warisan itu sudah
ditentukan dengan pasti yakni mereka yang mempunyai hubungan
darah dan perkawinan.

16

6. Azas Bilateral
Azas ini mengandung makna bahwa seseorang menerima hak
kewarisan dari kedua belah pihak yaitu dari kerabat keturunan laki-laki
dan dari kerabat keturunan perempuan. Azas bilateral ini dapat dilihat
dalam al-Qur'an surat an-Nisa' ayat 7 :

7. Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibubapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula)
dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau
banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan
7. Azas Individual : Perorangan
Azas ini menyatakan bahwa harta warisan dapat dibagi-bagi
pada masing masing ahli waris untuk dimiliki secara perorangan.
Dalam pelaksanaannya seluruh harta warisan dinyatakan dalam nilai
tertentu yang kemudian dibagi-bagikan kepada ahli waris yang berhak
menerimanya menurut kadar bagian masing-masing. Azas Individual
ini dapat dilihat dalam al-Qur'an surat an-Nisa' ayat 7 :

7. Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibubapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula)
dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau
banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan

17

Dalam surat an-Nisa ayat 8 :

8. Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan
orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik
Kemudian surat an-Nisa' ayat 33 :


33. Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu
bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika
ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka,
maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah
menyaksikan segala sesuatu
8. Azas Keadilan yang Berimbang
Azas ini mengandung pengertian bahwa harus ada
keseimbangan antara hak yang diperoleh seseorang dari harta warisan
dengan kewajiban atau beban biaya kehidupan yang harus
ditunaikannya. Laki-laki dan perempuan misalnya, mendapat bagian
yang sebanding dengan kewajiban yang dipikulnya masing-masing
(kelak) dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Seorang laki-laki
menjadi penanggung jawab dalam kehidupan keluarga, mencukupi
keperluan hidup anak dan isterinya sesuai (QS.2:233) dengan
kemampuannya.

18

Dalam surat Al-Baqarah ayat 233 :


233. Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun
penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan
kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan
cara maruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar
kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan
karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun
berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum
dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka
tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan
oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu
memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu
kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang
kamu kerjakan
Tanggung jawab tersebut merupakan kewajiban yang harus
dilaksanakan, terlepas dari persoalan apakah isterinya mampu atau
tidak, anak-anaknya memerlukan bantuan atau tidak. Berdasarkan
keseimbangan antara hak yang diperoleh dan kewajiban yang harus
19

ditunaikan, sesungguhnya apa yang diperoleh seseorang laki-laki dan


seorang perempuan dari harta warisan manfaatnya akan sama mereka
rasakan.
9. Azas Kematian
Makna azas ini adalah bahwa kewarisan baru muncul bila ada
yang meninggal dunia. Ini berarti kewarisan semata-mata sebagai
akibat dari kematian seseorang. Menurut ketentuan hukum Kewarisan
Islam, peralihan harta seseorang kepada orang lain yang disebut
kewarisan terjadi setelah orang yang mempunyai harta itu meninggal
dunia, artinya harta seseorang tidak dapat beralih kepada orang lain
(melalui pembagian harta warisan) selama orang yang mempunyai
harta itu masih hidup, dan segala bentuk peralihan harta-harta
seseorang yang masih hidup kepada orang lain, baik langsung maupun
yang akan dilaksanakan kemudian sesudah kematiannya, tidak
termasuk ke dalam kategori kewarisan menurut hukum Islam.
Dengan demikian, kewarisan Islam adalah kewarisan yang menurut
Kitab Undangundang Hukum Perdata (BW) disebut kewarisan ab
iIntestato dan tidak mengenal kewarisan atas dasar wasiat yang disebut
testamen.
10. Azas Membagi Habis Harta Warisan
Membagi habis semua harta peninggalan sehingga tidak
tersisa adalah azas dari penyelesaian pembagian harta warisan. Dari
menghitung dan menyelesaikan pembagian dengan cara : Menentukan
siapa yang menjadi Ahli waris dengan bagiannya masingmasing,
membersihkan/memurnikan harta warisan seperti hutang dan Wasiat,
Sampai dengan melaksanakan pembagian hingga tuntas.

20

D. Sebab dan Penghalang Kewarisan


1.1. Sebab-sebab Mendapatkan Warisan
Ada beberapa ketentuan yang menyebabkan seseorang memiliki
hak untuk saling mewarisi. Beberapa ketentuan tersebut terdiri atas tiga
sebab, yaitu:
a. Hubungan darah atau kekerabatan
Hubungan ini dikenal juga dengan nasab hakiki, yaitu hubungan
keluarga atau orang yang mewarisi dengan orang yang diwarisi. Seperti
kedua orang tua, anak, saudara, paman, dan seterusnya. Hal ini
ditegaskan dalam ayat yang artinya, orang-orang yang memiliki
hubungan kekerabatan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya
(daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. al-Anfal:75).
b. Hubungan perkawinan
Hubungan

perkawinan

sebagai

penyebab

pewarisan

sebagaimana termuat dalam surah an-Nisa[4] ayat 11. Hubungan


perkawinan terjadi jika akad telah dilakukan secara sah antara suami dan
istri. Meskipun diantara keduanya belum pernah melakukan hubungan
intim, hak pewaris tetap berlaku. Adapun pernikahan yang batil atau
rusak, tidak bias menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris.
c. Hubungan antara budak dengan yang memerdekakannya
Hukum ini mungkin terjadi pada zaman dahulu. Zaman
perbudakan. Dalam fikih islam hubungan ini diistilahkan dengan wala.
Seseorang yang telah memerdekakan budak, jika budak itu telah
merdeka dan memiliki kekayaan jika ia mati yang membebaskan budak
berhak mendapatkan warisan. Akan tetapi, jika yang mati adalah yang
membebaskannya, budak yang telah bebas tersebut tetap tidak berhak
mendapat warisan. Sebagaiman hadis berbunyi,Hak wala itu hanya
bagi orang yang telah membebaskan hamba sahayanya.(H.R. Bukhari
dan Muslim).

21

1.1. Penghalang Kewarisan


a. Penghalang Pewaris (Mawani Al-Irs)
Yang di maksud dengan mawani al-irs adalah penghalang
terlaksananya warist mewarisi, dalam istilah ulama faroid adalah suatu
keadaan atau sifat

yang menyebabkan orang tersebut tidak dapat

menerima warisan padahal sudah cukup syarat-syarat dan ada hubungan


pewarisan. Pada awalnya seseorang sudah berhak mendapat warisan
tetapi oleh karena ada suatu keadaan tertentu berakibat dia tidak
mendapat harta warisan.
b. Menurut Hukum Islam
Ada bermacam-macam penghalang seorang menerima warisan
antara lain:
1) Perbudakan
Seorang budak adalah milik dari tuannya secara mutlak,
karena ia tidak berhak untuk memiliki harta, sehingga ia tidak
berhak untuk memiliki harta, dan ia tidak bisa menjadi orang yang
mewariskan dan tidak akan mewarisi dari siapapun.[1] sesuai
dengan firman Allah dalam surat Al-Nahl (16): 75.


75. Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya
yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan
seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia
menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara
terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi
Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui

22

2) Karena Pembunuhan
Seseorang yang membunuh ahli warisnya atau seseorang
yang membunuh orang lain (dengan cara) yang tidak di benarkan
oleh hukum, maka ia tidak dapat mewarisi harta yang terbunuh itu,
sebagaimana sabda rasulullah SAW:
Dari amr bin syuaib dari ayahnya dari kakeknya ia berkata:
rasulullah SAW, bersabda: orang yang membunuh tidak dapat
mewarisi suatupun dari harta warisan orang yang di bunuhnya."
Ketentuan ini mengandung kemaslahatan agar orang tidak
mengambil jalan pintas untuk mendapat harta warisan dengan
membunuh orang yang mewariskan .
Pada dasarnya pembunuhan itu adalah merupakan tindak
pidana kejahatan namun dalam beberapa hal tertentu pembunuhan
tersebut tidak di pandang sebagai tindak pidana dan oleh karena itu
tidak di pandang sebagai dosa. Untuk lebih mendalami
pengertiannya ada baiknya di kategorikan sebagai berikut:
a) Pembunuhan secara hak dan tidak melawan hukum, seperti
pembunuhan di medan perang, melaksanakan hukuman mati,
dan membela jiwa, harta dan kehormatan.
b) Pembunuhan secara tidak hak dan melawan hukum (tindak
pidana kejahatan), seperti: pembunuhan dengan sengaja dan
pembunuhan tidak sengaja.
Tentang bentuk-bentuk pembunuhan yang menjadi
penghalang untuk mendapatkan warisan ini, tidak ada kesamaan
pendapat, dan pendapat yang berkembang adalah sebagai berikut:
a) Menurut imam syafii, bahwa pembunuhan dalam bentuk
apapun menjadikan penghalang bagi si pembunuh untuk
mendapatkan warisan.
b) Menurut imam maliki, pembunuhan yang menghalangi hak
kewarisan hanyalah pembunuhan yang di sengaja.

23

c) Menurut imam hambali, pembunuhan yang menghalangi hak


kewarisan adalah pembunuhan tidak dengan hak, sedangkan
pembunuhan dengan hak tidak menjadi penghalang, sebab
pelakunya bebas dari sangsi akhirat.
d) Menurut iamam hanafi, bahwa pembunuhan yang menghalangi
hak kewarisan adalah pembunuhan yang di kenai sangsi qishos,
sedangkan pembunuhan yang tidak berlaku padanya qishos
(kalaupun disengaja seperti yang di lakukan anak-anakatau
dalam keadaan terpaksa tidak menghalangi kewarisan).
Terhalangnya si pembunuh untuk mendapatkan hak
kewarisan dari yang di bunuhnya, di sebabkan alasan-alasan
berikut:
a) Pembunuhan itu memutuskan silaturrahmi yang menjadi sebab
adanya kewarisan, dengan terputusnya sebab tersebut maka
terputus pula musababnya.
b) Untuk mencegah seseorang mempercepat terjadinyaproses
pewarisan.
c) Pembunuhan adalah suatu tindak pidana kejahatan yang di
dalam istilah agama di sebut dengan perbuatan masiat,
sedangkan hak kewarisan merupakan nikmat , maka dengan
bsendirinya masiat tidak boleh di pergunakan sebagai suatu
jaln untuk mendapatkan nikmat.
3) Karena Berlainan Agama (Ikhtilafu Ad-Din)
Adapun yang di maksut berlainan agama adalah
berbedanya agama yang di anut antara pewaris dan ahli waris,
artinya seorang seorang muslim tidaklah mewarisi dari yang bukan
muslim, begitu pula sebaliknya seorang yang bukan muslim
tidaklah mewarisi dari seorang muslim. Ketentuan ini di dasarkan
pada bunyi sebuah hadits sabda rasulullah SAW,:
dari usamah bin zaid ra, bahwa rasulullah SAW brsabda, tidak
mewarisi orang islam kepada orang kafir dan orang kafir tidak

24

akan mewarisi kepada orang islam. (HR. Al jamaah, kecuali


muslim dan Al-Nasai).
Menurut jumhurul ulama fiqih, yang menjadi ukuran
dalam penetapan perbedaan agama adalah pada saat meninggal
orang yang mewariskan. apabila meninggal seorang muslim, maka
ia terhalang mendapat warisan walaupun kemudian ia masuk islam
agama islam sebelum pembagian harta warisan di laksanakan.
Apabila pembunuh dapat memutuskan hubungan kekerabatan
hingga mencabut hak kewarisan, maka demikian jugalah hanya
dengan perbedaan agama, sebab wilayah hukum islam (khususnya
hukum waris)tidak mempunyai daya berlaku bagi orang-orang non
muslim.
Selain itu hubungan antara kerabat yang berlainan agama
dalam kehidupan sehari-hari hanya terbatas dalam pergaulan dan
hubungan baik (hubungan kemasyarakatan), dan tidak termasuk
dalam hal pelaksanaan hukum syariah (termasuk hukum waris),
hal ini sejalan dengan ketentuan Alquran surah Luqman ayat 15
sebagai berikut:

15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan


dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,
maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu,
maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan

25

Majlis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah


Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H 26-29 juli
2005 M menetapkan fatwa tentang kewarisan beda agama bahwa
Hukum waris islam tidak memberikan hak salaing mewarisi
antara orang-orang yang berbeda agama (antara muslim dengan
non muslim). Pemberian harta antara orang yang berbeda agama
hanya dapat di lakukan dalam bentuk hibah, wasiat, dan hadiah.
4) Karena murtad (riddah)
Murtad artinya bila seseorang pindah agama atau keluar
dari agama islam.

Di sebabkan tindakan murtadnya itu maka

seseorang batal dan kehilangan hak warisnya. Berdasarkan hadits


rosul riwayat abu bardah, menceritakan bahwa saya telah di utus
oleh rasulullah SAW kepada seorang laki-laki yang kawin dengan
istri bapaknya, rasulullah menyuruh supaya di bunuh laki-laki
tersebut dan membagi hartanya sebagai harta rampasan karena ia
murtad (berpaling dari agama islam).
5) Karena hilang tanpa berita
Karena seseorang hilang tanpa berita tak tentu dimana
alamat dan tempat tinggal selama 4 (empat) tahun atau lebih , maka
orang tersebut di anggap mati karena hukum (mati hukmy) dengan
sendirinya tidak mewarist dan menyatakan mati tersebut harus
dengan putusan hakim.
c. Menurut Undang-Undang Hukum Perdata
Di dalam Kompilasi Hukum Islam (Inpres No.1/1991) pada
Buku II, Pasal 173 menyatakan seorang terhalang menjadi ahli waris
apabila dengan putusan Hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum
yang tetap, dihukum karena :
1. Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau
menganiaya berat pada pewaris.

26

2. Dipersalahkan secara menfitnah telah mengajukan pengaduan


bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam
dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih besar.
Menurut UU perdata dalam KUH Per yang membahas
kewarisan ada beberapa kelompok orang yang tidak berhak mendapat
waris atau disebut ahli waris yang tidak patut/terlarang menerima waris
(onwaardig).
Hukum kewarisan menurut KUH Per mengenai ahli waris
yang Tidak Patut Menerima Warisan (Onwaardig).
Terdapatnya sebab-sebab menurut Undang-undang ahli waris tidak
patut atau terlarang (onwaardig) untuk menerima warisan dari si
pewaris.( Pasal 838,.. untuk ahli waris karena undang-undang dan Pasal
912 untuk ahli waris karena adanya wasiat ).
Ahli waris menurut undang-undang yang dinyatakan tidak
patut untuk menerima warisan, dalam Pasal 838 KUH Perdata, adalah:
a) Mereka yang telah dihukum karena dipersalahkan telah membunuh
atau mencoba membunuh si pewaris.
b) Mereka yang dengan putusan hakim pernah dipersalahkan karena
secara fitnah telah melakukan pengaduan terhadap si pewaris, ialah
suatu pengaduan telah melakukan kegiatan kejahatan yang diancam
hukuman penjara lima tahun lamanya atau lebih berat.
c) Mereka yang dengan kekerasan atau perbuatan telah mencegah si
pewaris untuk membuat atau mencabut surat wasiat.
d) Mereka yang telah menggelapkan, merusak atau memalsukan surat
wasiat si pewaris.
Ahli waris menurut wasiat yang dinyatakan tidak patut untuk
menerima warisan dalam Pasal 912 KUH Perdata, adalah :
a) Mereka yang telah dihukum karena membunuh si pewaris.
b) Mereka

yang

telah

menggelapkan,

membinasakan

atau

memalsukan surat wasiat si pewaris.

27

c) Mereka yang dengan paksaan atau kekerasan telah mencegah si


pewaris untuk mencabut atau mengubah surat wasiatnya.
B. Derajat Ahli Waris
Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan
derajat dan urutan. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan
derajatnya:
1) Ashhabul furudh. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta
warisan. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya
dalam Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijma'.
2) Ashabat nasabiyah. Setelah ashhabul furudh, barulah ashabat nasabiyah
menerima bagian. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris
yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. Bahkan, jika
ternyata tidak ada ahli waris lainnya, ia berhak mengambil seluruh harta
peninggalan. Misalnya anak laki-laki pewaris, cucu dari anak laki-laki
pewaris, saudara kandung pewaris, paman kandung, dan seterusnya.
3) Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri).
Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya
masih juga tersisa, maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh
masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. Adapun suami
atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada.
Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan,
sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan
dibandingkan lainnya.
4) Mewariskan kepada kerabat. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat
pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul
furudh juga 'ashabah. Misalnya, paman (saudara ibu), bibi (saudara ibu),
bibi (saudara ayah), cucu laki-laki dari anak perempuan, dan cucu
perempuan dari anak perempuan. Maka, bila pewaris tidak mempunyai
kerabat sebagai ashhabul furudh, tidak pula 'ashabah, para kerabat yang
masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan
warisan.

28

5) Tambahan hak waris bagi suami atau istri. Bila pewaris tidak mempunyai
ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah, juga tidak ada
kerabat yang memiliki ikatan rahim, maka harta warisan tersebut
seluruhnya menjadi milik suami atau istri. Misalnya, seorang suami
meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya, maka
istri

mendapatkan

bagian

seperempat

dari

harta

warisan

yang

ditinggalkannya, sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya.


Dengan demikian, istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya.
Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang
meninggal.
6) Ashabah karena sebab. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah
orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun
perempuan). Misalnya, seorang bekas budak meninggal dan mempunyai
harta warisan, maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah
satu ahli warisnya, dan sebagai 'ashabah. Tetapi pada masa kini sudah tidak
ada lagi.
7) Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. Yang dimaksud
di sini ialah orang lain, artinya bukan salah seorang dan ahli waris.
Misalnya, seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. Sebelum
meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian
anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan
termasuk salah satu ahli warisnya. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali
berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang
wasiatnya demikian.
8) Baitulmal (kas negara). Apabila seseorang yang meninggal tidak
mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-- maka
seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk
kemaslahatan umum.

29

A. Ahli Waris Dan Penggolongannya


1) Pengertian Ahli Waris
Ahli waris adalah setiap orang yang berhak atas harta peninggalan
pewaris dan berkewajiban menyelesaikan hutang hutangnya. Hak dan
kewajiban tersebut timbul setelah pewaris meninggal dunia. Hak waris itu
didasarkan pada hubungan perkawinan, hubungan darah, dan surat wasiat,
yang diatur dalam undang undang. Tetapi legataris bukan ahli waris,
walaupun ia berhak atas harta peninggalan pewaris, karena bagiannya
terbatas pada hak atas benda tertentu tanpa kewajiban.
Dalam Pasal 833 ayat 1 KUHPdt dinyatakan bahwa sekalian ahli
waris dengan sendirinya karena hukum memperoleh hak milik atas semua
harta kekayaan orang yang meninggal dunia (pewaris). Dalam Pasal 874
KUHPdt juga dinyatakan bahwa segala harta kekayaan orang yang
meninggal dunia adalah kepunyaan sekalian ahli warisnya menurut
undang undang, sekedar terhadap itu dengan surat wasiat tidak diambil
suatu ketetapan yang sah.
Ketentuan Pasal Pasal di atas pada dasarnya didasari oleh asas
le mort saisit le vif, yang telah disebut di atas. Yang artinya orang yang
mati berpegang pada orang yang masih hidup. Asas ini mengandung arti
bahwa setiap benda harus ada pemiliknya.
Setiap ahli waris berhak menuntut dan memperjuangkan hak
warisnya, menurut Pasal 834 B.W. seorang ahli waris berhak untuk
menuntut upaya segala apa saja yang termasuk harta peninggalan si
meninggal diserahkan padanya berdasarkan haknya sebagai ahli waris
(heriditatis petito). Hak penuntutan ini menyerupai hak penuntutan
seorang pemilik suatu benda, dan menurut maksudnya penuntutan itu
harus ditujukan kepada orang yang menguasai satu benda warisan dengan
maksud untuk memilikinya. Oleh karena itu, penuntutan tersebut tidak
boleh ditujukan pada seorang yang hanya menjadi houder saja, yaitu
menguasainya benda itu berdasarkan suatu hubungan hukum dengan si
meninggal, misalnya menyewa. Penuntutan tersebut tidak dapat ditujukan

30

kepada seorang executeur testamentair atau seorang curator atas suatu


harta peninggalan yang tidak diurus. Seorang ahli waris yang
menggunakan hak penuntutan tersebut, cukup dengan mengajukan dalam
surat gugatannya, bahwa ia adalah ahli waris dari si meninggal den barang
yang dimintanya kembali itu termasuk benda peninggalan.
Menurut Pasal 1066 ayat 2 KUHPdt setiap ahli waris dapat
menuntut pembagian harta warisan walaupun ada larangan untuk
melakukan itu. Jadi, harta warisan tidak mungkin dibiarkan dalam keadan
tidak terbagi kecuali jika diperjanjikan tidak diadakan pembagian, dan
inipun tidak lebih lama dari lima tahun.
Walaupu ahli waris itu berhak atas harta warisan, dimana pada
asasnya tiap orang meskipun seorang bayi yang baru lahir adalah cakap
untuk mewaris hanya oleh undang - undang telah ditetapkan ada morang
orang yang karna perbuatannya, tidak patut (onwaardig) menerima
warisan. Hal ini ditentukan dalam Pasal 838 KUHPdt yang dianggap tidak
patut jadi ahli waris, sehingga dikecualikan dari pewarisan adalah :
a) mereka yang telah dihukum karena dipersalahkan telah membunuh,
atau mencoba membunuh pewaris;
b) mereka yang dengan putusan hakim dipersalahkan karena fitnah telah
mengadikan pewaris bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan
yang diancam dengan hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman
yang lebih berat;
c) mereka yang dengan kekerasan telah mencegah pewaris membuat atau
mencabut surat wasiat;
d) mereka yang telah menggelapkan, merusak, atau memalsukan surat
wasiat pewaris.
Selain itu, oleh undang - undang telah ditetapkan bahwa ada
orang orang yang berhubungan dengan jabatan atau pekerjaannya,
maupu hubungannya dengan si meninggal, tidak diperbolehkan menerima
keuntungan dari suatu surat wasiat yang diperbuat oleh si meninggal.
Mereka ini, diantaranya adalah notaries yang membuatkan surat wasiat itu

31

serta saksi saksi yang menghadiri pembuatan testament itu, pendeta yang
melayani atau dokter yang merawat si meninggal selama sakitnya yang
terakhir. Bahkan pemberian waris dalam surat wasiat kepada orang orang
mungkin menjadi perantara dari orang orang ini (tussenbiede komende
personen) dapat dibatalkan. Sebagai orang orang perantara ini oleh
undang undang diangap anak anak dan isteri dari orang orang yang
tidak diperbolehkan menerima warisan dan tastement itu.
Selanjutnya dalam Pasal 912 ditetapkan alasan alasan yang
menurut pasal 838 tersebut diatas, menyebabkan seseorang tidak patut
menjadi waris, berlaku juga sebagai halangan untuk dapat menerima
pemberian pemberian dalam suatu testament, kecuali dalam pasal 912
tidak disebutkan orang yang telah mencoba membunuh orang yang
meninggalkan warisan. Jika si meninggal ini ternyata dalam surat
wasiatnya masih juga memberikan warisan pada seorang yang telah
berbuat demikian, hal itu dianggap sebagai suatu pengampunan terhadap
orang itu.
2) Syarat Syarat Ahli Waris
Dalam pasal 832 KUHPdt dinyatakan bahwa menurut undang undang yang berhak menjadi ahli waris ialah, para keluarga sedarah, baik
sah maupun luar kawin, dan si suami atau istri yang hidup terlama. Dalam
hal, bilamana baik keluarga sedarah, maupun si yang hidup terlama di
antara suami istri, tidak ada, maka segala harta peninggalan si yang
meninggal, menjadi milik negara, yang mana berwajib akan melunasi
segala hutangnya, sekedar harga harta peniggalan mencukupi untuk itu.
Kemudian menurt Pasal 874 KUHPdt dinyatakan segala harta peninggalan
seseorang yang meninggal dunia, adalah kepunyaan sekalian ahli warisnya
menurut undang undang, sekedar terhadap itu dengan surat wasiat telah
diambilnya suatu ketetapan yang sah.
Menurut Pasal 836 KUHPdt dinyatakan dengan mengingat akan
ketentuan dalam Pasal 2 KUHPdt, supaya dapat bertindak sebagai waris,
seorang harus telah lahir, pada saat warisan jatuh meluang. Dimana Pasal

32

2 KUHPdt menyatakan bahwa anak yang ada dalam kandungan seorang


perempuan, dianggap sebagai telah dilahirkan, bila mana juga kepentingan
si anak mengkehendakinya, namun apabila mati suatu dilahirkan,
dianggaplah ia tak pernah telah ada.
Jadi menurut pasal pasal tersebut di atas syarat syarat ahli waris adalah
sebagai berikut :
a. Mempunyai hak atas harta peninggalan si pewaris, yang timbul karena
1) Hubungan darah (Pasal 832 B.W.)
2) Karena wasiat (Pasal 874 B.W.)
b. Harus sudah ada dan masih ada ketika si pewaris meninggal dunia
(Pasal 836 B.W.), dengan tetap memperhatikan ketentuan dari pasal 2
B.W.
c. Ahli waris bukan orang yang dinyatakan tidak patut menerima warisan
atau orang yang menolak harta warisan, adapun Pasal yang mengatur
mengenai orang yang tidak patut menjadi ahli waris yaitu Pasal 838
B.W. yang telah tersebut di atas dalam sub bab sebelumnya . Jika kita
tinjau dari syarat pewarisan tersebut di atas, maka akan timbul suatu
pertanyaan, bagaimanakah jika antara dua orang yang saling mewaris
meninggal dalam waktu yang sama?
Dari ketentuan Pasal 831 B.W. dapat diketahui jika terjadi dua
orang atau lebih yang sama atau lebih yang saling mewaris itu meninggal
dalam waktu yang sama atau dalam waktu yang hampir bersamaan namun
tidak dapat dibuktikan siapa yang meninggal terlebih dahulu maka diantara
keduanya tidak saling mewaris.
3) Hak dan Kewajiban Ahli Waris
Dalam rangka untuk mengetahui hak dan kewajiban ahli waris
perlu kiranya untuk diketahui hak dan kewajiban pewaris. Hak pewaris
timbul sebelum terbukanya harta peninggalan dalam arti bahwa pewaris
sebelum meninggal dunia berhak menyatakan kehendaknya dalam sebuah
testament atau wasiat. Isi dan wasiat tersebut dapat berupa :

33

a. Erfstelling, yaitu suatu penunjukan satu atau beberapa orang menjadi


ahli waris untuk mendapatkan sebagian atau keseluruhan harta
peninggalan. Orang yang ditunjuk dinamakan testamentair erfgenaam
(ahli waris menurut wasiat).
b. Legaat, adalah pemberian hak kepada seseorang atas dasar tastement
atau wasiat yang khusus. Pemberian itu dapat berupa :
1) Hak atas satu atau beberapa benda tertentu;
2) Hak atas seluruh dari satu macam benda tertentu;
3) Hak vruchtgebruik atas sebagian / seluruh warisan (Pasal 957
KUHpdt).
Kewajiban si pewaris adalah merupakan pembatsan terhadap
haknya ditentukan undang undang. Ia harus mengindahkan adanya
legitieme portie, yaitu suatu bagian tertentu dari harta peninggalan yang
tidak dapat dihapuskan oleh orang yang meninggalkan warisan. Hak ahli
waris dapat diperinci sebagai berikut:
Setelah terbuka warisan, ahli waris diberikan hak untuk menentukan sikap:
a. Menerima secara penuh (zuivere aanvaarding), yaitu dapat dilakukan
secara tegas atau secara lain. Dengan tegas yaitu jika penerimaan
tersebut dituangkan dalam suatu akte yang memuat penerimaannya
sebagai ahli waris. Secara diam diam, jika ahli waris tersebut
melakukan perbuatan penerimaannya sebagai ahli waris dan perbuatan
tersebut harus mencerminkan perbuatan penerimaan terhadap warisan
yang meluang, yaitu dengan mengambil, menjual atau melunasi hutang
hutang pewaris.
b. Menerima dengan reserve (hak untuk menukar) Voorrecht van boedel
beschriyving atau beneffeciare aanvaarding. Hal ini harus dinyatakan
pada Panitera Pengadilan Negeri ditempat warin terbuka. Akibat yang
terpenting dalam warisan secara beneficare ini adalah bahwa
kewajiban untuk melunasi hutang hutang dan beban lain si pewaris
dibatasi sedemikian rupa sehingga pelunasannya dibatasi menurut
kekuatan warisan, dalam hal ini berarti si ahli waris tersebut tidak usah

34

menanggunga pembayaran hutang dengan kekayaan sendiri, jika


hutang pewaris lebuh besar dari harta bendanya. Adapun kewajiban
kewajiban seorang ahli waris beneficiair, ialah :
1. Melakukan pencatatan adanya harta peninggalan dalam waktu 4
(empat) bulan setelahnya ia menyatakan kehendaknya kepada
Panitera Pengadilan Negeri, bahwa ia menerima warisan secara
beneficiair.
2. Mengurus harta peninggalan sebaik baiknya.
3. Selekas lekasnya membereskan urusan warisan (Dewa Made
Suartha boedel tot effenheid brengen).
4. Apabila diminta oleh semua orang berpiutang harus memberikan
tanggungan untuk harga benda benda yang bergerak beserta
benda benda yang tak bergerak yang tidak diserahkan kepada
orang orang berpiutang yang memegang hypothek.
5. Memberikan pertanggungan jawab kepada sekalian penagih
hutang dan orang orang yang menerima pemberian secara legaat.
Pekerjaan ini berupa menghitung harga serta pendapatan
pendapatan yang mungkin akan diperoleh, jika barang barang
warisan dijual dan sampai berapa persen piutang piutang dan
legaten itu dapat dipenuhi.
6. Memanggil orang orang berpiutang yang tidak terkenal,dalam
surat kabar resmi.
c. Menolak warisan. Hal ini mungkin jika ternyata jumlah harta kekayaan
yang berupa kewajiban membayar hutang lebih besar dari pada hak
untuk menikmati harta peninggalan. Penolakan wajib dilakukan
dengan suatu pernyataan kepada Panitera Pengadilan Negeri setempat.
Kewajiban ahli waris, antara lain :
1. Memelihara harta keutuhan harta peninggalan sebelum harta
peninggalan dibagi.
2. Mencari cara pembagian yang sesuai dengan ketentuan dan lain
lain.

35

3. Melunasi hutang pewaris jika pewaris meniggalkan hutang.


4. Melaksanakan wasiat jika ada.
4) Penggolongan Ahli Waris dan Bagiannya
Ada dua macam ahli waris yang diatur dalam undang - undang
yaitu Ahli Waris berdasarkan hubungan perkawinan dan hubungan darah,
dan Ahli Waris berdasarkan surat wasiat. Ahli Waris yang pertama disebut
Ahli Waris ab intestato, sedangkan yang kedua disebut dengan Ahli Waris
testamentair.
Ahli Waris ab intestato diatur dalam pasal 832 KUHPdt,
dinyatakan bahwa yang berhak menjadi Ahli Waris adalah para keluarga
sedarah dan istri (sumi) yang masiih hidup dan jika ini semua tidak ada,
maka yang berhak menjadi Ahli Waris adalah Negara. Pertanyaannya
adalah siapa sajakah yang termasuk dalam keluarga sedarah yang berhak
mewaris itu?
Untuk menjawabnya kita dapat melihat dalam B.W., dimana Ahli
Waris dibedakan menjadi 4 (empat) golongan ahli waris, yaitu:
Golongan I : golongan ini terdiri dari anak dan keturunannya kebawah
tanpa batas beserta janda atau duda.
Menurut ketentuan pasal 852 KUHPdt, anak anak walaupun
dilahirkan dari perkawinan yang berlainan dan waktu yang berlainan, laki
laki atau perempuan mendapatkan bagian yang sama, mewaris kepala
demi kepala. Anak anak yang mewaris sebagai pengganti dari ayah (ibu)
mewaris pancang demi pancang. Yang dimaksud dengan pancang adalah
semua anak dari seorang yang berhak mewaris, tetapi telah meninggal
terlebih dahulu.
Kemudian tetang anak adopsi, Ali Afandi, S.H. menyatakan
bahwa anak adopsi kedudukannya sejajar seperti anak yang lahir dalam
perkawinan orang yang mengadopsinya.
Menurut ketentuan pasal 852 a KUHPdt, bagian seorang istri (suami) jika
ada anak dari parkawiannya dengan orang yang meninggal sama dengan
bagian seorang anak yang meninggal. Jika perkawinan itu bukan

36

perkawinan yang pertama dan dari perkawinan yang dahulu ada juga anak,
maka baigan dari istri (suami) itu tidak boleh lebih dari bagian terkecil dari
anak anak pewaris itu. Bagaimanapun juga seorang istri tidak boleh lebih
dari seperempat harta warisan. Yang dimaksud dengan terkecil itu
adalah bagian dari seorang anak yang dengan ketetapan surat wasiat dapat
berbeda beda, asal tidak kurang dari legitieme portie.
Selanjutnya dalam pasal 852 b KUHPdt, ditentukan bahwa
apabila istri (suami) mewaris bersama sama dengan orang orang lain
dari pada anak anak atau keturunannya dari perkawinannya yang dulu,
maka ia dapat menarik seluruh atau bagian prabot rumah tangga dalam
kekuasannya. Yang dimaksud dengan orang orang lain dari pada anak
anak itu ialah orang orang yang menjadi Ahli Waris karena ditetapkan
dengan surat wasiat. Harga perabot rumah tangga itu harus dikurangkan
dari bagian warisan istri (suami) itu. Jika harganya lebih basar dari pada
harga bagian warisannya maka harga kelebihan itu harus dibayar lebih
dahulu pada kawan warisnya.
Golongan II : golongan ini terdiri dari ayah dan / atau ibu si
pewaris beserta saudara dan keturunannya sampai derajat ke 6 (enam).
Menurut ketentuan pasal 854 KHUPdt,apabila seorang meninggal dunia
tanpa meniggalkan keturunan maupun istri(suami), sedangkan bapak dan
ibunya masih hidup, maka yang berhak mewarisi ialah bapak, ibu, dan
saudara sebagai berikut :
a. Bapak dan ibu masing - masing mendapat sepertiga dari hrta warisan,
jika yang meninggal itu hanya mempunyai seorang saudara, yang
mana mendapat sepertida lebihnya,
b. Bapak dan ibu masing masing mendapat seperempat dari harta
warisan, jika yang meninggal itu mempunyai lebih dari seorang
saudara, yang mana mendapat dua seperempat lebihnya.
Selanjutnya dalam pasal 855 KUHPdt ditentukan bahwa apabila orang
yang meninggal dunia itu tampa meninggalkan keturunan maupun istri
(suami), sedangkan bapak atau ibunya masih hidup, maka :

37

a. Bapak atau ibu mendapat seperdua dari harta warisan, jika yang
meninggal itu hanya mempunyai seorang saudara, yang mana
mendapat seperdua lebihnya ;
b. Bapak atau ibu mendapat sepertiga dari harta warisan, jika yang
meninggal itu mempunyai dua orang saudara yang mana mendapat
duapertiga lebihnya ;
c. Bapak atau ibu mendapat seperempat dari harta warisan, jika yang
meninggal itu mempunyai lebih dari dua orang saudara, yang mana
mendapat tigaperempat lebihnya.
Jika bapak dan ibu telah meninggal dunia, maka seluruh harta
warisan menjadi bagian saudara saudaranya (pasal 856 KUHPdt).
Pembagian antara saudara saudara adalah sama, jika mereka itu
mempunyai bapak dan ibu yang sama. Apabila mereka berasal dari
perkawinan yang berlainan (bapak sama tetapi lain ibu, atau ibu sama
tetapi lain bapak), maka harta warisan dibagi dua. Bagian yang pertama
adalah bagin bagi garis bapak dan bagian yang kedua adalah bagian bagi
garis ibu. Saudara saudara yang mempunyai bapak dan ibu yang sama
mendapat bagian dari bagian dari garis bapak dan garis ibu. Saudara
saudara yang hanya sebapak atau seibu dapat baian dari bagian garis bapak
atau garis ibu saja (Pasal 857).
Apabila orang yang mennggal dunia itu tidak meninggalkan
keturunan istri atau suami, saudara, sedangkan bapak atau ibunya masih
hidup. Maka bapak atau ibunya yang masih hidup itu mewarisi seluruh
warisan anaknya yang meniggal dunia itu (pasal 859 KUHPdt).
Golongan III : golongan ini terdiri dari keluarga sedarah menurut garis
lurus ke atas.
Menurut ketentuan Pasal 853 dan Pasal 858 KUHPdt apabila
orang yang meninggal dunia itu tidak meninggalkan keturunan, maupun
istri atau suami, saudara saudara, ataupun orang tua, maka warisan jatuh
kepada kakek dan nenek. Dalam hal ini warisan itu dibelah menjadi dua.
Satu bagian diberikan kepada kakek dan nenek yang diturunkan bapak dan

38

satu bagian lagi diberikan kepada kakek dan nenek yug menurunkan ibu.
Apabila kakek dan nenek tidak ada, maka warisan jatuh kepada orang tua
kakek dan nenek (puyang). Apabila yang tidak ada itu hanya kakek dan
nenek, maka bagian jatuh pada garis keturunannya, dan menjadi bagian
yang masih hidup. Ahli waris yang terdekat derajatnya dalam garis lurus
ke

atas,

mendapat

setengah

warisan

dalam

garisnya

dengan

menyampingkan semua ahli waris lainnya. Semua keluarga sedarah dalam


garis lurus keatas dalam derajat yang sama mendapat begian kepala demi
kepala (bagian yang sama).
Golongan IV : golongan ini terdiri dari keluarga sedarah dalam
garis kesamping yang lebih jauh sampai derajat ke 6 (enam).
Apabila orang yang meninggal dunia itu tidak meninggalkan
keturunan, istri atau suami, saudara saudara, orangtua, nenek dan kakek,
maka menurut ketentuan Pasal 853 dan Pasal 858 ayat 2 KUHPdt warisan
jatuh pada Ahli Waris yang terdekat pada tiap garis. Jika ada beberapa
orang yang derajatnya sama, maka warisan dibagi berdasarkan bagian
yang sama.
Keluarga sedarah dalam garis menyimpang lebih dari derajat ke
6 (enam) tidak mewarisi. Jika dalam garis yang satu tidak ada keluarga
yang sedarah dalam derajat yang mengijinkan untuk mewarisi, maka
semua keluarga sedarah dalam garis yang lain memperoleh seluruh
warisan (Pasal 861 KUHPdt).
Apabila semua orang yang berhak mewarisi tidak ada lagi, maka
seluruh warisan dapat dituntut oleh anak luar kawin yang diakui. Apabila
anak luar kawin inipun juga tidak ada, maka seluruh warisan jatuh pada
Negara (Pasal 873 ayat 1 dan Pasal 832 ayat 2 KUHPdt).
Dengan berlakunya undang - undang perkawinan No. 1 Tahun
1974 maka pewarisan anak luar kawin walaupun diakui, tidak relevan lagi.
Undang - undang no. 1 tahun 1974 hanya mengenal anak sah dan anak luar
kawin (tidak sah). Anak sah adalah Ahli Waris, sedangkan anak luar kawin

39

hanya berhak mewarisi dari ibu yang melahirkannya dan keluarga sedarah
dari pihak ibunya.
5) Ahli Waris Yang Tidak Berhak Mewaris
Menurut ketentuan Pasal 838 KUHPdt, yang dianggap tidak
patut menjadi Ahli Waris dan karenanya tidak berhak mewaris adalah :
1. Mereka yang telah dihukum karena dipersalahkan telah membunuh
atau mencoba membunuh pewaris.
2. Mereka yang dengan putusan hakim dipersalahkan karena dengan
fitnah mengajajukan pengaduan terhadap pewaris mengenai suatu
kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara 5 (lima) tahun
lamanya atau hukuman yang lebih berat.
3. Mereka yang dengan kekerasan telah mencegah pewaris membut atau
mencabut surat wasiatnya.
4. Mereka yang telah menggelapkan, merusak atau memalsukan syrat
wasiat pewaris.
Bebeda dengan KUHPdt adalah hukum waris adat. Menurut
uraian Prof. Hilman Adikusuma, S.H. (1980) seorang yang telah berdosa
terhadap pewaris apabila dosanya itu diampuni, ia tetap menerima harta
warisan, artinya masih berhak mewaris. Sedangkan menurut hukum waris
Islam, orang yang tidak berhak mewaris adalah:
1. Pembunuh pewaris, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ApTirmidzi, Ibnmajah, Abu Dawud, Am-Masaai.
2. Orang yang murtad yaitu keluar dari Agama Islam, berdasarkan hadis
yang diriwayatkan oleh Abu Bardah.
3. Orang yang berbeda agama dengan pewaris, yaitu orang bukan
menganut Agama Islam atau Kafir, berdasarkan hadis yang
diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, Ibn Majah, At-Tirmidzi.
4. Anak zina, yaitu anak yang lahir karena hubungan diluar nikah,
berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
Tidak berhak mewaris terdapat juga pada ahli waris yang
menolak warisan dalam Pasal 1058 ditentukan bahwa seorang ahli waris

40

yang menolak warisan dianggap tidak pernah menjadi Ahli Waris.


Penolakan itu berlaku surut sampai waktu meninggalnya pewaris. Menurut
Pasal 1059 KUHPdt bagian dari Ahli Waris yang menolak itu jatuh pada
ahli waris lainnya, seolah olah ahli waris yang menolak itu tidak pernah
ada. Menurut Pasal 1057 KUHPdt penolakan warisan harus dinyatakan
dengan tegas dikepaniteraan Pengadilan Negeri. Menurut Pasal 1062
KUHPdt dinyatakan pula bahwa hak untuk menolak warisan tidak dapat
gugur karena Daluarsa.
Penolakan warisan itu harus dengan suka rela atas kemauan
sendiri, apabila penolakan itu terjadi na paksaan atau penipuan, maka
menurut Pasal 1065 KUHPdt penolakan itu dapat dibatalkan (ditiadakan).
Tetapi kesukarelaan penolakan itu tidak boleh dilakukan dengan alasan
tidak mau membayar hutang. Jka terjadi demikian, menurut Pasal 1061
KUHPdt hakim dapat memberi kuasa kepada para kreditur dari ahli waris
yang menolah itu untuk atas namanya menjadi pengganti menerima
warisan.
6) Ahli Waris Pengganti
KUHPdt membedakan antara ahli waris uit eigen hoofed dan
ahli waris bij plaasvervulling. Ahli Waris uit eigen hoofed adalah ahli
waris yang memperoleh warisan berdasarkan kedudukannya sendiri
terhadap pewaris,misalnya anak pewaris ,istri/suami pewaris. Ahli waris
bij plaasvervullingadalah ahli waris pengganti berhubung orang yang
berhak mewaris telah meninggal dunia lebih dahulu daripada pewaris.
Misalnya seorang ayah meniggal lebih dahulu daripada kakek, maka anakanak ayah yang meninggal itu menggantikan kedudukan ayahnya sebagai
ahli waris dari kakek.
Penggantian ini terjadi dalam garis kebawah dan terjadi tanpa
batas. Tiap ahli waris yang meninggal lebih dahulu digantikan oleh anakanaknya. Jika lebih dari satu anak sebagai penggantinya, maka
penggantian itu dihitung sebagai satu cabang, artinya semua anak yang
menggantikan itu mendapatkan bagian yang sama. Penggantian dapat juga

41

terjadi pada keluarga dalam garis samping. Tiap saudara pewaris baik
saudara kandung maupun saudara tiri, jika meninggal lebih dahulu,
digantikan oleh anaknya. Penggantian ini juga dapat tanpa batas. Tiap
penggantian dihitung sebagai satu cabang (bij staken).
Menurut ketentuan pasal 841 KUHPdt penggantian adalah hak
yang memberikan kepada seseorang untuk menggantikan seorang Ahli
Waris yang telah meninggal labih dahulu dari pada pewarisnya untuk
bertindak sebagai pengganti dalam derajat dan dalam hak orang yang
digantikannya. Pengganian ini menurut pasal 842 KUHPdt hanya terjadi
dalam garis lurus ke bawah tanpa batas, sedangkan pasal 843 KUHPdt
manyatakan dalam garis lurus ke atas tidak terdapat penggatian. Dalam hal
ada penggantian, maka menurut pasal 846 KUHPdt pembagian dilakukan
pancang demi pancang .
Dalam hal mengenai ada tidaknya istilah ahli waris pengganti
dalam hukum adat, dalam uraiannya Prof. Hilman Hadikusuma, S. H.
menyatakan dalam hukum adat dikenal juga ahli waris pengganti, hanya
saja penggantian tersebut tergantung pada garis kekerabatan yang dianut
oleh masyarakat yang bersangkutan (ptrilineal, matrilineal, dan parental).
Dalam hukum islam dikenal juga Ahli Waris pengganti, yang disebut
mawali. Yang dimaksud dengan mawali adalah Ahli Waris yang
menggantikan seseorang untuk memperoleh bagian warisan yang tadinya
akan diperoleh orang yang digantikan itu. sebabnya ialah bahwa orang
yang digantikan itu ialah orang yang seharusnya menerima warisan kalau
dia masih hidup, tetapi dalam kasus yang bersangkutan ia telah meninggal
dunia terlebih dahulu dari pada pewaris. Mewali itu adalah keturunan anak
pewaris, keturunan saudara pewaris atau keturunan orang yang
mengadakan perjanjian mewaris dengan pewaris.

42

B. Pembagian Waris
1. Menurut Al Quran
Jumlah bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam,
yaitu setengah (1/2), seperempat (1/4), seperdelapan (1/8), dua per tiga
(2/3), sepertiga (1/3), dan seperenam (1/6). Kini mari kita kenali
pembagiannya secara rinci, siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul
furudh dengan bagian yang berhak ia terima.
a. Ashhabul Furudh yang Berhak Mendapat Setengah
Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta
waris peninggalan pewaris ada lima, satu dari golongan laki-laki dan
empat lainnya perempuan. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami,
anak perempuan, cucu perempuan keturunan anak laki-laki, saudara
kandung perempuan, dan saudara perempuan seayah. Rinciannya seperti
berikut:
1) Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan,
dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, baik
anak laki-laki maupun anak perempuan, baik anak keturunan itu
dari suami tersebut ataupun bukan. Dalilnya adalah firman Allah:
"... dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang
ditinggalkan istri-istri kalian, bila mereka (para istri) tidak
mempunyai anak ..." (an-Nisa': 12)
2) Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta
peninggalan pewaris, dengan dua syarat:
a. Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak
perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki, penj.).
b. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal. Dalilnya
adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya
seorang, maka ia mendapat separo harta warisan yang ada".
Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada, maka anak
perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah.

43

3) Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian


separo, dengan tiga syarat:
a. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu lakilaki dari keturunan anak laki-laki).
b. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan
anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal).
c. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun
anak laki-laki.
4) Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta
warisan, dengan tiga syarat:
a. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki.
b. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan).
c. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek, dan tidak pula
mempunyai keturunan, baik keturunan laki-laki ataupun
keturunan perempuan.
5) Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta
warisan peninggalan pewaris, dengan empat syarat:
a. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki.
b. Apabila ia hanya seorang diri.
c. Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan.
d. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak, dan tidak pula anak,
baik anak laki-laki maupun perempuan.
b. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat
Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat
(1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua, yaitu suami dan istri.
Rinciannya sebagai berikut:
1) Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta
peninggalan istrinya dengan satu syarat, yaitu bila sang istri
mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak lakilakinya, baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun

44

dari suami lain (sebelumnya). Hal ini berdasarkan firman Allah


berikut:
"... Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat
seperempat dari harta yang ditinggalkannya " (an-Nisa': 12)
2) Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta
peninggalan suaminya dengan satu syarat, yaitu apabila suami tidak
mempunyai anak/cucu, baik anak tersebut lahir dari rahimnya
ataupun dari rahim istri lainnya. Ketentuan ini berdasarkan firman
Allah berikut:
"... Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan
jika kamu tidak mempunyai anak ..." (an-Nisa': 12)
c. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan
Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh
bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. Istri, baik seorang maupun lebih
akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya, bila
suami mempunyai anak atau cucu, baik anak tersebut lahir dari
rahimnya atau dari rahim istri yang lain. Dalilnya adalah firman Allah
SWT:
"... Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh
seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh, wasiat
yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu ..." (anNisa': 12)
d. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga
Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari
harta peninggalan pewaris ada empat, dan semuanya terdiri dari wanita:
1. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih.
2. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih.
3. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih.
4. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih.
Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut:

45

1) Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai


saudara laki-laki, yakni anak laki-laki dari pewaris. Dalilnya firman
Allah berikut:
"... dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi
mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan ..." (an-Nisa': 11)
Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak
tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah.
Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua',
melainkan 'dua anak perempuan atau lebih', hal ini merupakan
kesepakatan para ulama. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah
saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang
mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin
ar-Rabi' r.a. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini.
Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan
bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau
lebih'. Jadi, orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut
adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan
menyalahi ijma' para ulama. Wallahu a'lam.
2) Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan
mendapatkan bagian dua per tiga (2/3), dengan persyaratan sebagai
berikut:
a. Pewaris tidak mempunyai anak kandung, baik laki-laki atau
perempuan.
b. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan.
c. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki.
3) Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat
bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut:
a. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun
perempuan), juga tidak mempunyai ayah atau kakek.
b. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak
mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah.

46

c. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan, atau cucu


perempuan dari keturunan anak laki-laki. Dalilnya adalah
firman Allah:
"... tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi
keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang
meninggal ..." (an-Nisa': 176)
4) Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian
dua per tiga dengan syarat sebagai berikut:
a. Bila pewaris tidak mempunyai anak, ayah, atau kakek.
b. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara
laki-laki seayah.
c. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu
perempuan dari keturunan anak laki-laki, atau saudara kandung
(baik laki-laki maupun perempuan).
e. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga
Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan
sepertiga bagian hanya dua, yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki
ataupun perempuan) yang seibu.
Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat:
1) Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan
anak laki-laki.
2) Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki
maupun perempuan), baik saudara itu sekandung atau seayah
ataupun seibu. Dalilnya adalah firman Allah:
"... dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia
diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat
sepertiga..." (an-Nisa': 11)
Juga firman-Nya:
"... jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka
ibunya mendapat seperenam..." (an-Nisa': 11)

47

f. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam


Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian
seperenam (1/6) ada tujuh orang. Mereka adalah (1) ayah, (2) kakek asli
(bapak dari ayah), (3) ibu, (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki,
(5) saudara perempuan seayah, (6) nenek asli, (7) saudara laki-laki dan
perempuan seibu.
2. Sistem Hukum kewarisan menurut KUH Perdata (BW).
Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata ada dua cara
untuk mendapatkan warisan, yaitu:
1) Sebagai ahli waris menurut Undang-undang.
2) Karena ditunjuk dalam surat wasiat (testament).
Cara yang pertama dinamakan mewarisi menurut Undang-undang atau ab
intestato dan cara yang kedua dinamakan mewarisi secara testamentair.
Dalam hukum waris berlaku suatu asas, bahwa hanyalah hak-hak
dan kewajiban-kewajiban dalam lapangan hukum kekayaan harta benda
saja yang dapat diwariskan. Dengan kata lain hanyalah hak-hak dan
kewajiban-kewajiban yang dapat dinilai dengan uang saja (Subekti, 1993:
95).
Bila orang yang meninggal dunia tidak membuat testamen, maka
dalam Undang-undang Hukum Perdata ditetapkan pembagian warisan
sebagai berikut:
a. Yang pertama berhak mendapat warisan yaitu suami atau isteri dan
anak-anak, masing masing berhak mendapat bagian yang sama
jumlahnya (pasal 852 BW).
b. Apabila tidak ada orang sebagaimana tersebut di dtas, maka yang
kemudian berhak mendapat warisan adalah orang tua dan saudara dari
orang tua yang meninggal dunia, dengan ketentuan bahwa orang tua
masing-masing sekurang-kurangnya mendapat seperempat dari
warisan (pasal 854 BW).
c. Apabila tidak ada orang sebagaimana tersebut di atas, maka warisan
dibagi dua, separuh untuk keluarga pihak ibu dan separuh lagi untuk

48

pihak keluarga ayah dari yang meninggal dunia, keluarga yang paling
dekat berhak mendapat warisan. Jika anak-anak atau saudara-saudara
dari pewaris meninggal dunia sebelum pewaris, maka tempat mereka
diganti oleh keturunan yang sah (pasal 853 BW).
Menurut ketentuan pasal 838 KUH Perdata, yang dianggap
tidak patut menjadi ahli waris dan karenanya tidak berhak mewaris ialah:
a. Mereka yang telah dihukum karena dipersalahkan telah membunuh
atau mencoba membunuh pewaris.
b. Mereka yang dengan putusan hakim Pengadilan dipersalahkan karena
dengan fitnah telah mengajukan pengaduan terhadap pewaris
mengenai suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara lima
tahun lamanya atau hukuman yang lebih berat.
c. Mereka yang dengan kekerasan telah mencegah pewaris membuat atau
mencabut surat wasiatnya.
d. Mereka yang telah menggelapkan, merusak atau memalsukan surat
wasiat pewaris.
3. Persamaan dan perbedaan antara sistem hukum Islam dengan sistem
KUH Perdata (BW).
Sistem hukum kewarisan menurut KUH Perdata tidak
membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan, antara suami dan
isteri, mereka berhak semua mewaris, dan bagian anak laki-laki sama
dengan bagian anak perempuan, bagian seorang isteri atau suami sama
dengan bagian anak.
Apabila dihubungkan dengan sistem keturunan, maka KUH
Perdata menganut system keturunan Bilateral, dimana setiap orang itu
menghubungkan dirinya dengan keturunan ayah mapun ibunya, artinya ahli
waris berhak mewaris dari ayah jika ayah meninggal dan berhak mewaris
dari ibu jika ibu meninggal, berarti ini ada persamaan dengan hukum Islam.
Persamaanya apabila dihubungkan antara sitem hukum waris menurut
Islam dengan sistem kewarisan menurut KUH Perdata, baik menurut KUH
Perdata maupun menurut hukum kewarisan Islam sama-sama menganut

49

system

kewarisan

individual,

artinya

sejak

terbukanya

waris

(meninggalnya pewaris) harta warisan dapat dibagi-bagi pemilikannya


antara ahli waris. Tiap ahli waris berhak menuntut bagian warisan yang
menjadi haknya. Jadi sistem kewarisan yang dianut oleh KUH Perdata
adalah sistem kewarisan individul bilateral (Subekti, 1953: 69), sedangkan
perbedaannya adalah terletak pada saat pewaris meninggal dunia, maka
harta tersebut harus dikurangi dulu pengluaran-pengluaran antara lain
apakah harta tersebut sudah dikeluarkan zakatnya, kemudian dikurangi
untuk membayar hutang atau merawat jenazahnya dulu, setelah bersih, baru
dibagi kepada ahli waris, sedangkan menurut KUH Perdata tidak mengenal
hal tersebut, perbedaan selanjutnya adalah terletak pada besar dan kecilnya
bagian yang diterima para ahli waris masing-masing, yang

menurut

ketentuan KUH Perdata semua bagian ahli waris adalah sama, tidak
membedakan apakah anak, atau saudara, atau ibu dan lain-lain, semua sama
rata, sedangkan menurut hukum Islam dibedakan bagian antara ahli waris
yang satu dengan yang ahli waris yang lain.
Persamaan tersebut disebabkan karena pola dan kebutuhan
masyarakat yang universal itu adalah sama, sedangkan perbedaanperbedaan itu disebabkan karena cara berfikir orang-orang barat adalah
abstrak, analistis dan sistematis, dan pandangan hidup mereka adalah
individulaistis dan materialistis, sedangkan hukum Islam dilatar belakangi
oleh cara berfikir yang logis, riil dan konkrit, dan pandangan hidup dalam
hukum Islam didasarkan pada sistem kekeluargaan dan bersifat rohani
(magis).

C. Ashabah
Kata 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak
bapak. Disebut demikian, dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-menguatkan dan melindungi. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah
para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam
Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. Pengertian 'ashabah yang sangat

50

masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris
karena ia menjadi ahli waris tunggal. Selain itu, ia juga menerima seluruh sisa
harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian
masing-masing.
1) Macam-macam 'Ashabah
'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab)
dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). Jenis 'ashabah yang kedua ini
disebabkan memerdekakan budak. Oleh sebab itu, seorang tuan (pemilik
budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya
apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan.
Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs
(nasabnya tidak tercampur unsur wanita), (2) 'ashabah bil ghair (menjadi
'ashabah karena yang lain), dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah
bersama-sama dengan yang lain).
a. 'Ashabah bin nafs
1) Arah anak, mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki
mulai cucu, cicit, dan seterusnya.
2) Arah bapak, mencakup ayah, kakek, dan seterusnya, yang pasti
hanya dari pihak laki-laki, misalnya ayah dari bapak, ayah dari
kakak, dan seterusnya.
3) Arah saudara laki-laki, mencakup saudara kandung laki-laki,
saudara laki-laki seayah, anak laki-laki keturunan saudara
kandung laki-laki, anak laki-laki keturunan saudara laki-laki
seayah, dan seterusnya. Arah ini hanya terbatas pada saudara
kandung laki-laki dan yang seayah, termasuk keturunan mereka,
namun hanya yang laki-laki. Adapun saudara laki-laki yang seibu
tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul
furudh.
4) Arah paman, mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung
maupun yang seayah, termasuk keturunan mereka, dan seterusnya.

51

b. 'Ashabah bi Ghairihi
'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli
waris yang kesemuanya wanita:
1) Anak perempuan, akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan
saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki).
2) Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah
bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya, atau anak laki-laki
pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki), baik
sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya.
3) Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama
saudara kandung laki-laki.
4) Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan
dengan saudara laki-lakinya, dan pembagiannya, bagian laki-laki
dua kali lipat bagian perempuan.
c. 'Ashabah ma'al Ghair
'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung
perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi
bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara
laki-laki. Jadi, saudara kandung perempuan ataupun saudara
perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau
cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-- akan
menjadi 'ashabah. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan
istilah 'ashabah ma'al ghair.

D. Penghitungan dan Pentashihan


Mengetahui pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita
yang mengkaji ilmu faraid. Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti
bagian setiap ahli waris, hingga pembagiannya benar-benar adil, tanpa
mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. Persoalan "pokok masalah"
ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil, yang berarti usaha
untuk mengetahui pokok masalah. Dalam hal ini, yang perlu diketahui adalah

52

bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa
melalui pemecahan yang rumit. Karena itu, para ulama ilmu faraid tidak mau
menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa
menyertakan angka-angka pecahan, penj.).
Untuk mengetahui pokok masalah, terlebih dahulu perlu kita ketahui
siapa-siapa ahli warisnya. Artinya, kita harus mengetahui apakah ahli waris
yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah, atau semuanya hanya dari
ashhabul furudh, atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh.
Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah, maka
pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki.
Misalnya, seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki, maka
pokok masalahnya dari lima. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh
saudara kandung laki-laki, maka pokok masalahnya dari sepuluh.
Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan
perempuan, maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan), dan satu
wanita satu kepala. Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki
dua kali bagian anak perempuan. Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah
per kepala.
Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk
memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh
yang mempunyai bagian berbeda-beda.
Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian:
Pertama: bagian setengah (1/2), seperempat (1/4), dan seperdelapan (1/8).
Kedua: bagian dua per tiga (2/3), sepertiga (1/3), dan seperenam (1/6).
Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama
saja (yakni 1/2, 1/4, 1/8), berarti pokok masalahnya dari angka yang paling
besar. Misalnya, bila dalam suatu keadaan, ahli warisnya dari sahib fardh
setengah (1/2) dan seperempat (1/4), maka pokok masalahnya dari empat (4).
Misal lain, bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para
sahib fardh setengah (1/2), seperempat (1/4), dan seperdelapan (1/8) --atau
hanya seperempat dengan seperdelapan-- maka pokok masalahnya dari delapan

53

(8). Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh
sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan
seperenam (1/6), maka pokok masalahnya dari enam (6). Sebab angka tiga
merupakan bagian dari angka enam. Maka dalam hal ini hendaklah diambil
angka penyebut yang terbesar.
Akan tetapi, jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara
sahib fardh kelompok pertama (1/2, 1/4, dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3,
1/3, dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk mengetahui pokok masalahnya.

Pokok masalah dari enam (6)


Suami setengah (1/2)

Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6)

Ibu sepertiga (1/3)

Paman kandung, sebagai 'ashabah

Pokok masalah dari dua belas (12)


Istri seperempat (1/4))

Ibu seperenam (1/6)

Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3)

Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya)

Pokok masalah dari 24


Bagian istri seperdelapan (1/8)

berarti

Bagian anak perempuan setengah (1/2)

berarti

12

Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6)

berarti

Bagian ibu seperenam (1/6)

berarti

Saudara kandung laki-laki, sebagai 'ashabah (sisa)

54

E. Aul dan Radd


1) Definisi al-'Aul
Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti, di antaranya
bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil, seperti yang difirmankanNya:
"... Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."
(an-Nisa': 3)
Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu
bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para
ahli waris.
Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta
yang dibagikan habis, padahal di antara mereka ada yang belum menerima
bagian.
Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat
setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan
tertentu, seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6)
menjadi sembilan (9). Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya
mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). Begitu
pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain, bagian mereka dapat
berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah.
2) Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul- kan
Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. Tiga di
antaranya dapat di-'aul-kan, sedangkan yang empat tidak dapat.
Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6), dua belas
(12), dan dua puluh empat (24). Sedangkan pokok masalah yang tidak
dapat di-'aul-kan ada empat, yaitu dua (2), tiga (3), empat (4), dan delapan
(8).
Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat
dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan. Maka
pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). Bagian
suami setengah berarti satu (1), dan bagian saudara kandung perempuan

55

setengah, berarti mendapat bagian satu (1). Maka dalam masalah ini tidak
menggunakan 'aul.
Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya, angka-angka
pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6), dua belas
(12), dan dua puluh empat (24). Namun, ketiga pokok masalah itu masingmasing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. Sebagai misal, angka
enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10), yakni dapat
naik menjadi tujuh, delapan, sembilan, atau sepuluh. Lebih dari angka itu
tidak bisa. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat
kali saja.
Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan
hingga tujuh belas (17), namun hanya untuk angka ganjilnya. Lebih
jelasnya, pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas
(13), lima belas (15), atau tujuh belas (17). Lebih dari itu tidak bisa. Maka
angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja.
Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan
kepada dua puluh tujuh (27) saja, dan itu pun hanya pada satu masalah
faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan
"masalah al-mimbariyyah".
3) Definisi ar-Radd
Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau
juga bermakna 'berpaling/palingkan'. Seperti terdapat dalam firman Allah
berikut:
"Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali,
mengikuti jejak mereka semula. " (al-Kahfi: 64)
"Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka
penuh kejengkelan ..." (al-Ahzab: 25)
Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya
Allah, palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku).

56

Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah


berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian
ashhabul furudh. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul.
Sebagai misal, dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak
waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing, tetapi
ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok
kerabat lain sebagai 'ashabah-- maka sisa harta waris itu diberikan atau
dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian
mereka masing-masing.
4) Syarat-syarat ar-Radd
Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan, kecuali bila
terwujud tiga syarat seperti di bawah ini:
1) adanya ashhabul furudh
2) tidak adanya 'ashabah
3) ada sisa harta waris.
5) Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd
Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh,
kecuali suami dan istri. Artinya, suami atau istri bagaimanapun
keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang
ada.
Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan
orang:
1) anak perempuan
2) cucu perempuan keturunan anak laki-laki
3) saudara kandung perempuan
4) saudara perempuan seayah
5) ibu kandung
6) nenek sahih (ibu dari bapak)
7) saudara perempuan seibu
8) saudara laki-laki seibu

57

6) Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd


Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa
mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. Hal ini disebabkan
kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab, akan tetapi karena
kekerabatan sababiyah (karena sebab), yaitu adanya ikatan tali pernikahan.
Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian, maka dari itu mereka
(suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. Mereka hanya
mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. Maka
apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa
dari harta waris, suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai
tambahan.

F. Hak Waris Banci Dan Wanita Hamil


1) Definisi Banci
Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari
kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. Misalnya, khanatsa wa
takhannatsa, yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang laki-laki
menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. Karenanya dalam
hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang
menyerupai laki-laki."
Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang
yang

mempunyai

alat

kelamin

laki-laki

dan

kelamin

wanita

(hermaphrodit), atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali.


2) Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci
Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai
pemberian hak waris kepada banci musykil ini:
a. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling
(lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau
wanita. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta
pendapat mayoritas sahabat.

58

b. Mazhab Maliki berpendapat, pemberian hak waris kepada para banci


hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. Maksudnya,
mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan, kemudian
disatukan dan dibagi menjadi dua, maka hasilnya menjadi hak/bagian
banci.
c. Mazhab Syafi'i berpendapat, bagian setiap ahli waris dan banci
diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. Karena pembagian seperti
ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. Sedangkan sisanya (dari
harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masingmasing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. Inilah
pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i.
3) Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya
Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-- hak waris
yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua
keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita.
Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya
dibekukan sampai statusnya menjadi jelas, atau sampai ada kesepakatan
tertentu di antara ahli waris, atau sampai banci itu meninggal hingga
bagiannya berpindah kepada ahli warisnya.
Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit
menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-- yaitu jika banci
dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit, maka hak waris yang
diberikan kepadanya adalah hak waris wanita; dan bila dinilai sebagai lakilaki dan bagiannya ternyata lebih sedikit, maka divonis sebagai laki-laki.
Bahkan, bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus
ditiadakan haknya, maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak
waris.
Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i, bila dalam suatu keadaan
salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci
dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita), maka
gugurlah hak warisnya.

59

4) Definisi Hamil
Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar
(infinitif) dari kata hamalat. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun
idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung
janin).
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang
ibu-bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan
melahirkannya dengan susah payah (pula) ..." (al-Ahqaf: 15)
5) Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan
Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan
memenuhi dua persyaratan:
a. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan
ibunya ketika pewaris wafat.
b. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya, sehingga
dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan.
Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan
hidup. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun
sejak kematian pewaris, jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak
pewaris. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r.a.:
"Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun
sekalipun berada dalam falkah mighzal."
Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam
kandungan maksimal empat tahun. Pendapat inilah yang paling akurat
dalam mazhab Imam Ahmad, seperti yang disinyalir para ulama mazhab
Hambali.
Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali, bayi yang baru
keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan
yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. Bila gerakan itu
hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-- maka tidak

60

dinyatakan sebagai bayi yang hidup. Dengan demikian, ia tidak berhak


mewarisi. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.:
"Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian
mati), maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan." (HR
Nasa'i dan Tirmidzi)
Namun, apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam
keadaan mati, atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian
mati, atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil, maka tidak
berhak mendapatkan waris, dan ia dianggap tidak ada.
6) Keadaan Janin
Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak
mewarisi. Kelima keadaan tersebut:
a. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun, baik janin tersebut
berkelamin laki-laki ataupun perempuan.
b. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau
perempuan), dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin
ganda (banci).
c. Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki
maupun perempuan.
d. Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya, baik sebagai lakilaki ataupun perempuan.
e. Sebagai ahli waris tunggal, atau ada ahli waris lain namun ia majhub
(terhalang) hak warisnya karena adanya janin.

G. Hak Waris Orang Yang Hilang, Tenggelam dan Tertimbun


1) Definisi
Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'.
Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak
mengetahui di mana sesuatu itu berada). Kita juga bisa simak firman Allah
SWT berikut:

61

"Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang
dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat)
beban unta, dan aku menjamin terhadapnya." (Yusuf: 72)
Sedangkan menurut istilah para fuqaha, al-mafqud berarti orang yang
hilang, terputus beritanya, dan tidak diketahui rimbanya, apakah dia masih
hidup atau sudah mati.
2) Hukum Orang yang Hilang
Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan
dengan orang yang hilang/menghilang, di antaranya: istrinya tidak boleh
dinikahi/dinikahkan,

hartanya

tidak

boleh

diwariskan,

dan

hak

kepemilikannya tidak boleh diusik, sampai benar-benar diketahui


keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. Atau telah
berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -- telah mati,
dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah
mati.
Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih
hidup berdasarkan asalnya, hingga benar-benar tampak dugaan yang
sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). Yang demikian itu
berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r.a. tentang wanita yang suaminya
hilang dan tidak diketahui rimbanya. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri
yang tengah diuji, maka hendaknya dia bersabar, dan tidak halal untuk
dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian
suaminya."
3) Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini
terutama para ulama dari mazhab yang empat.
Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak
dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan
melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. Apabila
orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada, maka ia dapat
diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. Dalam riwayat lain, dari

62

Abu Hanifah, menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun


(90).
Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah
tujuh puluh tahun (70). Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum
yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. antara enam puluh
hingga tujuh puluh tahun.
Dalam riwayat lain, dari Imam Malik, disebutkan bahwa istri
dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya- dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu
kemungkinan-kemungkinan

dan

dugaan

yang

dapat

mengenali

keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana


dan prasarana yang ada. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu,
maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh
tahun untuk menunggu. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang
hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya, maka mulailah ia
untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati
suaminya, yaitu empat bulan sepuluh hari. Bila usai masa idahuya, maka
ia diperbolehkan untuk menikah lagi.
Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu
orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun, yakni dengan melihat
umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. Namun, pendapat yang
paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu
tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Akan tetapi, cukup dengan
apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim, kemudian divonisnya sebagai
orang yang telah mati. Karena menurut Imam Syafi'i, seorang hakim
hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan
tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati, sesudah
berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu
tersebut.
Sementara itu, mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang
yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti

63

jika terjadi peperangan, atau menjadi salah seorang penumpang kapal yang
tenggelam-- maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun.
Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum
diketahui beritanya, maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya.
Demikian juga istrinya, ia dapat menempuh masa idahnya, dan ia boleh
menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai.
Namun, apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan
meninggal, seperti pergi untuk berniaga, melancong, atau untuk menuntut
ilmu, maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. Pertama,
menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun
Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi
sembilan puluh tahun. Kedua, menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad
hakim. Kapan saja hakim memvonisnya, maka itulah yang berlaku.
4) Hak Waris Orang Hilang
Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris, dan di
antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya, maka cara
pemberian hak warisnya ada dua keadaan:
a. Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain.
b. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada, tetapi
bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardhnya (yakni termasuk ashhabul fardh)
Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan
pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-- untuk sementara
hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. Bila ahli
waris yang hilang ternyata masih hidup, maka dialah yang berhak untuk
menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Namun, bila ternyata
hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati, maka harta waris
tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing
mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya.
Sedangkan pada keadaan kedua, ahli waris yang ada berhak
untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang

64

yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati, atau mirip
dengan pembagian hak waris banci). Maksudnya, bila ahli waris yang ada
--siapa saja di antara mereka-- yang dalam dua keadaan orang yang hilang
tadi sama bagian hak warisnya, hendaknya ia diberi hak waris secara
sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan, atau tanpa ada yang
dibekukan). Namun, bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di
antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan
matinya), maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi.
Namun, bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam
dua keadaan orang yang hilang, dengan sendirinya tidak berhak untuk
mendapatkan harta waris sedikit pun.
5) Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun
Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang
tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka
yang lebih dahulu meninggal. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti,
pembagian waris lebih mudah dilaksanakan, yakni dengan memberikan
hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. Setelah orang kedua
(yang meninggal kemudian) meninggal, maka kepemilikan harta waris tadi
berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. Begitulah seterusnya.
Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar
secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu
meninggal, maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak
saling mewarisi. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh
ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi
kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan, dan tidak
pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan, serta yang
meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya."
Hal demikian, menurut para ulama, disebabkan tidak
terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. Maka
seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris
dari kerabat yang masih hidup.

65

BAB III
Penutup

A. Kesimpulan
Harta warisan adalah harta yang dalam istilah faraid dinamakan
Tirkah (peninggalan) merupakan sesuatu atau harta kekayaan oleh yang
meninggal, baik berupa uang atau materi lainya yang dibenarkan oleh syariat
islam untuk diwariskan kepada ahli warisnya.dan dalam pelaksanaanya atau
apa-apa yang yang ditinggalkan oleh yang meninggal harus diartikan
sedemikian luas sehingga mencakup hal-hal yang ada pada bagianya.
Kebendaan dan sifat-sifatnya yang mempunyai nilai kebendaan. hak-hak
kebendaan dan hak-hak yang bukan kebendaan dan benda-benda yang
bersangkutan dengan hak orang lain.
Pentingnya

pembagian

warisan

untuk

orang-orang

yang

ditinggalkan dengan seadil-adilnya sudah diatur dalam Islam, mencegah


terjadinya konflik antar ahli waris dan menghindari perpecahan ukhuwah
persaudaraan antar sesama keluarga yang masih hidup. Pembagian tersebut
sudah di atur dalam al-quran dan al hadist Namun ada beberapa ketentuan yang
di sepakati dengan ijma dengan seadil-adilnya.

66

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Abdul Gani. (1994). Pengantar Kompilasi Hukum Islam Dalam Tata
Hukum Indonesia. Jakarta: Gema Insani Press.
Wicaksono, F. Satrio. (2011). Hukum Waris (Cara Mudah Dan Tepat Membagi
Harta Waris). Jakarta: Tranmedia Pustaka.
Fuad, Mansun (2004). Hukum Islam Indonesia. Yogyakarta: LkiS Yogyakarta.
A Karim, Muchith (2010). Pelaksanaan Hukum Waris Di Kalangan Umat Islam
Indonesia. Jakarta: Maloho Jaya Abadi Press.
Khalifah, Muhammad Thaha Abul Ela (2007). Pembagian Warisan Berdasarkan
Syariat Islam. Solo: Tiga Serangkai.
Sabiq, As-Sayyid. (1988). Faroidh. Bandung: Amaarif.
Sarwat, Ahmad. Fiqih Mawaris. DU Center

iii

Anda mungkin juga menyukai