Anda di halaman 1dari 2

Muhammad Darmawan

Ardiansyah/1112113000007

The Foreign Policy of Saudi Arabia

Arab Saudi dianggap sebagai negara yang secara kekuatan sangat


kurang dibandingkan negara-negara tetangganya di jazirah arab. Secara
populasi seperempat dari seluruh orang yang menetap di Arab Saudi
adalah pekerja asing. Hal ini tentu sangat kecil dibandingkan dengan
Mesir, Turki, atau negara-negara semenanjung arab, seperti Yaman yang
secara geografis memiliki wilayah yang sama dengan Arab. Akan tetapi,
Arab Saudi mempunyai total produk domestik bruto terbesar di wilayah
tersebut. Hal ini dikarenakan Arab Saudi adalah negara produsen minyak
serta eksportir terbesar di dunia. Seperempat dari cadangan minyak dunia
berada di wilayah Arab Saudi. Arab Saudi juga menjadi rumah suci bagi
agama Islam, maka dari itu Arab Saudi mengklaim sebagai pemimpin
dunia Islam.
Arab Saudi menjadi negara yang paling terintegrasi dalam sistem
ekonomi dan strategis dunia, hal ini akibat perannya yang sangat
signifikan sebagai produsen minyak utama dunia. Maret 1999 Arab Saudi
menghasilkan 12,3% dari total minyak dunia dan merupakan produsen
dan eskportir terbesar minyak dunia. Pada tahun 1998, Arab Saudi
memiliki 24,8% cadangan minyak dunia, dua kali dari negara-negara di
dunia. Pendapatan negara yang sebagian besar berasal dari minyak
menjadikan Arab Saudi mudah dalam meningkatkan kapabilitas
militernya. Maka dari itu Arab Saudi menjadikan minyak sebagai alat
dalam hubungannya yang strategis dengan Amerika Serikat. Hal ini
menjadikan hubungan mereka semakin berkembang secara ekonomi,
politik, dan militer.
Saudi adalah negara lemah secara militer di wilayah Timur Tengah,
akan tetapi Saudi Arabia ingin menjaga independensi dan otonomi
negaranya untuk mencegah munculnya hegemoni di kawasan tersebut. Di
lain sisi Arab Saudi mengklaim sebagai negara hegemoni di semenanjung
arab. Klaim tersebut diwujudkan oleh Arab Saudi dengan membuat
sebuah kerjasama regional dengan negara Yaman dan negara-negara
monarki kecil lainnya yang disebut Gulf Cooperation Council (GCC).
Negara modern Arab Saudi dibangun oleh penaklukan. Wilayahnya
terdiri dari empat bagian yang telah menyatu sejak zaman nabi
Muhammad. Warisan keluarga Al-Saud adalah Najd yang merupakan pusat
dari kerajaan Arab Saudi yang dibangun pada abad delapan belas dan
kesembilan belas oleh generasi sebelumnya dari keluarga tersebut. Di
abad 20 Abd Al Aziz ibn Abd Al Rahman Al Saud, lebih dikenal Ibn Suad di
barat. Pada masa pemerintahannya dia memperluas kerajaan Arab Saudi
ke timur dengan mengambil Al Ahsa. Pencaplokan wilayah ini
memudahkan Arab Saudi untuk mengakses teluk Persia/Arab. Wilayah
tersebut adalah jantung dari industri minyak Saudi, yang dimana
merupakan wilayah yang kaya akan minyak. Akan tetapi timbul masalah
lain, yaitu adanya gesekan dengan warga minoritas syiah di wilayah
tersebut.

Strategi kebijakan luar negeri Arab Saudi adalah menjalin hubungan


yang kuat dengan AS, untuk mengontrol kekuatan di Timur Tengah, serta
mempertahankan keamanan rezimnya dari rong-rongan oposisi dalam
negeri. Jalinan koneksi antara Saudi dan Washington menjanjikan BoP di
wilayah ini serta mempertahankan rezim dari Al Saud dari kejatuhan yang
ditimbulkan oleh oposisi dalam negeri, akan tetapi, dalam perjanjiannya
dengan Washington, Arab Saudi menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak
boleh melakukan intervensi baik politik maupun militer di wilayah teritorial
Arab Saudi. Keefektifan hubungannya dengan Amerika Serikat terbukti
akibat efek dari kedua kebijakan luar negeri tersebut ditambah dengan
kekuatan minyak yang dimiliki oleh Arab Saudi.