Anda di halaman 1dari 3

Muhammad Darmawan

Ardiansyah/1112113000007
The Organization of The Islamic Conference: Sharing An Illusion
Dalam beberapa dekade terakhir ini, ketegangan antara dunia
muslim dan barat semakin meningkat. Puncak dari ketegangan di antara
keduanya terjadi setelah serangan teroris yang dikenal sebagai peristiwa
9/11. Kejadian ini menjadi berita utama hampir di setiap media di seluruh
dunia. Pemahaman dunia muslim terhadap kondisi politik internasional
yang berubah drastis sangat berpengaruh pada politik dalam negeri
setiap negara muslim.
Perang melawan teror yang dikumandangkan oleh AS seakan
menempatkan dunia Islam sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam
serangan ini. Adanya anggapan bahwa terorisme mempunyai keterikatan
yang sangat erat dengan Islam menimbulkan sentimen di kalangan umat
Islam terhadap AS itu sendiri. Kekecewaan Muslim terhadap Barat
menimbulkan masalah tersendiri dalam negeri Muslim tersebut. Gerakan
radikalisme Islam yang tumbuh pesat menjadi perhatian utama dunia
internasional sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi dunia Muslim.
Dalam hal ini peran Organisasi Konferensi Islam patut dipertanyakan
mengenai keefektifan organisasi tersebut dalam menyelesaikan
permasalahan di atas.
OKI berdiri pada tahun 1969 di Maroko. Sejarah terbentuknya OKI
berawal dari peristiwa pembakaran Masjidil Aqsa di Yerussalem. Akibat
kejadian ini, timbul sentimen terhadap Israel yang dianggap pihak yang
paling bertanggung jawab pada peristiwa tersebut. Padahal faktanya
kejadian tersebut bukanlah dilakukan oleh Israel melainkan oleh turis
Australia.
Sentimen tersebut memunculkan pandangan dalam dunia Islam
bahwa Israel berniat untuk menghancurkan situs suci Islam. OKI sebagai
jawaban dari perusakan tersebut memunculkan pola pikir defensif dalam
melakukan setiap aktifitasnya. Hal ini menjadikan OKI berfokus pada
sentimen anti Israel serta bentuk dukungan di antara negara muslim
dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Di awal pendiriannya, OKI mendapat tantangan yang sangat serius
dari dalam organisasi itu sendiri. Keragaman sejarah, budaya, politik, dan
ekonomi di antara negara-negara muslim itu sendiri tidak dapat dinaifkan
keberadaannya. Apakah bisa negara-negara tersebut dapat menyatukan
suaranya dalam mengatasi permasalahan di atas? Padahal faktanya dapat
kita lihat bahwa setiap negara tersebut mempunyai sistem pemerintahan
yang berbeda-beda serta mengejar kepentingan yang berbeda pula dalam
percaturan politik internasional.
Apakah hanya dengan kesamaan ideologi dapat menyatukan mereka
dalam merespon permasalahan di atas? Akan tetapi ada hal yang unik
dari OKI sendiri, adanya anggapan bahwa negara-negara Muslim hanya
menjadikan organisasi ini untuk mencapai kepentingan nasional mereka.
Seperti persaingan antara Arab Saudi dan Iran yang berambisi untuk
menjadi pemimpin bagi negara-negara Muslim di dunia.

Adanya intervensi Amerika Serikat terhadap negara-negara Muslim


tertentu menimbulkan perpecahan di antara negara-negara OKI itu
sendiri. Hal ini tidak dapat terlepas dari efek Perang Dingin yang membagi
dunia pada dua blok, yaitu Barat dan Soviet. Walaupun konflik tersebut
telah usai, hal ini tidak mengendurkan hubungan antara negara-negara
aliansi tersebut.
Hubungan AS dengan beberapa negara Muslim membagi OKI dalam
dua bagian, yaitu negara-negara yang menganggap AS sebagai negara
yang Hegemon serta negara-negara yang berteman baik dengan AS
dalam bentuk penempatan pasukan AS di wilayah negara tersebut. Hal
inilah yang menjadi titik lemah dari ketidakefetifan OKI serta peran politik
minyak dalam menciptakan kontradiksi di antara anggota OKI dalam
menyatukan suaranya.
Walaupun dalam kenyataannya OKI telah mengecewakan banyak
masyarakat Muslim akibat terjadinya perang Irak, di sisi lain organisasi ini
masih dibanggakan keberadaannya karena suaranya yang mewakili
kepentingan dunia Islam. Problem terbesar OKI sendiri adalah tindak
lanjutnya dalam menyelesaikan konflik di Palestina. Kurangnya komitmen
di antara anggotanya menimbulkan ketidakpercayaan publik Muslim
terhadap keefektifitasan organisasi tersebut.
Segala bentuk dukungan OKI terhadap kemerdekaan Palestina itu
sendiri hanyalah sebatas dukungan. OKI sebagai organisasi bagi dunia
Muslim tidak dapat memberikan sanksi apapun pada Israel, yang hanya
bisa dilakukan hanyalah mengutuk dan mengecam tindakan okupasi Israel
ke wilayah Palestina.
Kekonsistenan OKI dalam mengecam serta mengutuk Israel akibat
dari tindakan Israel yang semakin agresif dalam melakukan serangan ke
wilayah Palestina. OKI berteriak keras dengan cara membentuk opini
masyarakat internasional untuk ikut serta dalam mengutuk tindakan Israel
tersebut. OKI mengajak seluruh masyarakat dunia peduli terhadap konflik
Palestina-Israel yang tak kunjung usai.
OKI juga memunculkan opini bahwa tindakan agresi Israel merupakan
ancaman bagi kepentingan Muslim. OKI juga memunculkan opini bahwa
Israel itu sendiri adalah teroris yang tak pandang bulu dalam menyerang
siapapun. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh OKI menggambarkan
bahwa segala koordinasi yang dilakukannya sia-sia belaka. PBB sebagai
lembaga yang mendapat legitimasipun tidak dapat berbuat apa-apa.
Ide pemboikotan terhadap Israel secara ekonomi yang digagas oleh
Suriah dan Iran menjadi opsi yang mungkin lebih efektif dalam mencegah
eskalasi konflik yang sedang terjadi. Akan tetapi, sekali lagi OKI
menjadikan opsi tersebut sebagai pilihan dan dikembalikan lagi
keputusannya pada masing-masing negara Muslim. Hal ini sangat
mencerminkan bagaimana kepentingan nasional menjadi tujuan utama
yang patut diperjuangkan daripada kepentingan bersama.

Dalam realitasnya OKI menempatkan dirinya pada posisi yang sangat


sulit yang dimana cita-cita yang diinginkan tidak sejalan dengan realitas
politik yang penuh dengan kepentingan yang dapat menimbulkan
perpecahan. Keragaman anggota OKI yang berasal dari jalur politik
berbeda, datang dengan kepentingan nasional yang sangat beragam
menjadikan penyatuan visi di antara anggota-anggotanya sangat sulit
diimplementasikan.