Anda di halaman 1dari 2

Muhammad Darmawan

Ardiansyah/1112113000007

The Rise of China and its Implications for the Muslim World
Dalam tulisan kali ini saya akan membahas artikel yang ditulis oleh Moniruzzaman
mengenai kebangkitan Cina di abad 21 dalam aspek teknologi, ekonomi, dan militer. Apabila kita
memperhatikan lebih lanjut mengenai tulisan ini dapat kita cermati bahwa banyak prediksi yang
menyatakan terjadinya penurunan influence serta power Amerika Serikat di abad 21 ini.
Penurunan tersebut diiringi oleh bangkitnya kekuatan baru, yaitu Cina. Secara perlahan Cina
memastikan dirinya mampu untuk menjadi salah satu kekuatan baru dalam sistem internasional.
Apabila kita perhatikan lebih lanjut, dapat dilihat bahwa Cina menjadi salah satu kekuatan
ekonomi baru di abad 21 ini yang mampu bersaing dengan negara-negara yang notabene
merupakan pemain lama dalam ekonomi internasional. Pertumbuhan ekonomi Cina yang sangat
signifikan berkontribusi besar bagi perkembangan sektor lainnya, khususnya militer. Terjadinya
peningkatan belanja militer Cina dapat diindikasikan sebagai sebuah ambisi Cina untuk menjadi
salah satu kekuatan militer dunia yang patut diperhitungkan.
Alasan utama mengapa Cina meningkatkan perbelanjaan militernya adalah tidak lain untuk
mengamankan kepentingannya di dalam dan luar negeri serta untuk meningkatkan bargaining
powernya dalam sistem internasional. Pertumbuhan ekonomi Cina yang sangat signifikan
terutama ditopang oleh sektor industri membutuhkan konsumsi bahan bakar yang sangat banyak.
Tentunya Cina tidak akan dapat mencukupi kebutuhannya sendiri akan konsumsi bahan bakar
yang sangat banyak.
Cina perlu untuk menjalin hubungan dengan negara-negara yang memiliki cadangan
minyak yang besar guna menopang kelangsungan hidup sektor industri yang notabene menjadi
pilar utama perekonomian Cina. Pembentukan SCO, dibangunnya hubungan dilpomatik dengan
negara-negara Afrika, serta menjamurnya investasi Cina di berbagai negara, terutama di negaranegara muslim bertujuan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri Cina yang semakin
hari semakin tinggi tingkat konsumsinya.
Dapat kita lihat bahwa SCO menjadi alat yang bermanfaat bagi Cina dalam melancarkan
kepentingannya geopolitiknya serta menjadi alat untuk menyebarkan influence di wilayah
kawasan sekitarnya. Pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan menjadi faktor utama Cina
untuk meningkatkan kapabilitas militer mereka dalam memperkuat bargaining power mereka
serta melindungi kepentingan mereka di luar negeri.
Terjadinya peningkatan hubungan antara Cina dengan negara-negara pemilik energi,
khususnya wilayah Timur Tengah yang notabene menjadi basis cadangan minyak terbesar di
dunia. Hubungan ini diwujudkan dengan peningkatan kerjasama ekonomi yang sangat signifikan
di antara negara-negara tersebut. Menjamurnya MNC Cina yang mengeksplorasi minyak di
wilayah Timur Tengah menjadi alasan bagi Cina untuk memperkuat militernya dalam rangka
untuk mengamankan kepentingan mereka di luar wilayahnya.
Negara-negara barat yang notabene mempunyai kekuatan secara ekonomi, teknologi,
maupun militer rata-rata menjalin hubungan luar negeri dengan cara memberikan syarat-syarat
tertentu terhadap negara-negara yang dituju. Syarat-syarat itu dapat berupa intervensi secara
politik, ekonomi, maupun militer. Dengan cara tersebut mereka dapat mengkontrol situasi dalam
negeri yang dituju. Hal inilah yang menjadikan sebuah negara itu lemah dan tidak mempunyai
kedaulatan dalam negeri sendiri.
Munculnya Cina sebagai kekuatan baru baik dalam bidang ekonomi, teknologi, maupun
militer, seperti membawa harapan tersendiri bagi negara-negara yang terekploitasi oleh Barat
khususnya negara dunia ketiga. Harapan itu adalah dengan kemunculan Cina menjadi sebuah
bentuk kekuatan baru, maka ada alternatif baru bagi negara-negara dunia ketiga untuk

melakukan kerjasama baik dalam bidang militer, ekonomi, dsb. Strategi Cina dalam menjalin
hubungan luar negerinya tanpa melakukan intervensi apapun pada negara yang dituju menjadi
nilai tambah tersendiri bagi negara-negara di dunia ketiga untuk meningkatkan hubungan mereka
dengan Cina.
Tujuan Amerika Serikat untuk menjadikan sistem internasional bersifat unilateralisme di
bawah pimpinannya terganjal dengan semakin kuatnya Cina secara ekonomi maupun militer.
Seperti yang telah kita ketahui, banyak sekali negara-negara yang dianggap Barat sebagai musuh
dan ancaman terhadap mereka cenderung bergabung/beraliansi dengan Cina dan Rusia. Mereka
memandang bahwa apabila mereka tidak melakukan aliansi dengan negara-negara kuat seperti
Cina dan Rusia sesegera mungkin, maka dapat dipastikan bahwa negara mereka tidak lama lagi
akan jatuh ke tangan AS dan sekutunya.
AS akan melakukan apapun dengan alasan apapun untuk menjatuhkan sebuah negara yang
memiliki sumber daya alam yang banyak akan tetapi pemerintahannya tidak mendukung atau
menganggap AS sebagai super power. AS akan menggulingkan pemerintahan tersebut dan
menggantikannya dengan pemimpin-pemimpin baru yang pro terhadap AS dan sekutunya.
Sehingga kepentingan-kepentingan AS dan sekutunya dapat terpenuhi secara maksimal.
Banyak sekali korban-korban AS dan sekutunya, seperti Irak, Afghanistan, Libya, dll. Patut
diketahui bahwa negara-negara tersebut tidak menjalin kemitraan yang strategis dengan
kekuatan-kekuatan lain dalam sistem internasional. Sehingga pada saat AS dan sekutunya
melancarkan serangan pada negara-negara tersebut dengan berbagai alasan, dunia cenderung
untuk diam dan tidak melakukan reaksi apapun atas peristiwa yang menimpanya.
Maka dari itu, beberapa negara yang dianggap AS dan sekutunya sebagai ancaman
terhadap pihaknya yang masih ada sampai saat ini, contoh Iran dan Korea Utara, menjalin
hubungan yang strategis dengan kekuatan-kekuatan lain seperti Cina dan Rusia untuk
menggalang dukungan serta mendapatkan bantuan baik secara politik, ekonomi, maupun militer
untuk melindungi eksistensinya dalam sistem internasional. Sehingga kelangsungan hidup
negara-negara tersebut dapat terjamin dengan adannya kemitraan yang sangat strategis dengan
negara-negara kuat seperti Cina dan Rusia.
Iran contohnya, walaupun berkali-kali mendapat sanksi yang sangat berat yang dijatuhkan
oleh PBB seperti embargo ekonomi dll, akan tetapi negara mereka tidak goyah sedikitpun dalam
merespon sanksi tersebut. Hal ini dikarenakan Iran telah menjalin hubungan luar negeri dengan
Cina dimana kedua negara melakukan kerjasama ekonomi yang sangat intensif sehingga
walaupun dikenai embargo ekonomi, Iran masih tetap bisa survive dengan mengandalkan
kemitraan strategisnya dengan Cina. Patut kita ketahui juga, mengapa sampai sekarang Iran
belum mendapatkan gempuran militer dari AS dan sekutunya? Jawabannya adalah karena Cina
dan Rusia sebagai pemegang hak veto dalam dewan keamanan PBB selalu kompak untuk
memveto berbagai keputusan yang dapat merugikan mitranya tersebut. Sehingga AS dan
sekutunya sampai saat ini masih belum bisa melakukan intervensi militer ke negara-negara
tersebut.
Dapat kita simpulkan dari kenyataan-kenyataan di atas bahwa AS secara tidak langsung
mengakui bahwa Cina dan Rusia merupakan super power lainnya dalam sistem internasional,
dilihat dari sepak terjangnya yang sangat efektif untuk membendung AS dalam mewujudkan
dunia yang unilateral di bawah pimpinannya. AS patut memperhitungkan Cina dalam segi
apapun. Dikarenakan dapat saja sewaktu-waktu AS tersaingi baik dalam segi ekonomi, militer,
maupun teknologi serta potensi terbentuknya Perang Dingin kedua antara blok AS dan blok Cina
yang mulai banyak mendapat simpatisan.