Anda di halaman 1dari 3

Muhammad Darmawan

Ardiansyah/1112113000007

Theory of International Relations in Islam

Islam sebagai agama tentunya serta sebagai pedoman bagi para


umatnya telah menentukan bagaimana hidup ini harus dijalankan. Salah
satu hal terpenting yang diajarkan Islam pada umatnya adalah tata cara
bergaul dengan sesama muslim dan non-muslim. Dalam dimensi
hubungan internasional, hal tersebut disebut sebagai Muamalat atau
dalam hukum Islam disebut sebagai Siyar. Siyar mengajarkan tentang
hubungan timbal balik antara muslim dan non-muslim. Sebelum
membahas lebih jauh mengenai hal tersebut alangkah baiknya kita tinjau
terlebih dahulu evolusi awal dari hubungan antara muslim dan nonmuslim. Runtuhnya Uni Soviet menjadi awal dari lahirnya banyak gagasan
yang mendiskriminasi Islam. Islam dianggap sebagai ancaman terhadap
perdamaian dan keamanan dunia. Hal tersebut menimbulkan banyak
perdebatan baik dikalangan para orientalis ataupun para sarjana muslim
sendiri.
Banyaknya perspektif negatif yang muncul mengenai Islam tidak
lepas dari sentimen agama yang dimunculkan untuk memusuhi Islam itu
sendiri. Alangkah baiknya kita meninjau ulang sumber-sumber Islam
dalam melihat hubungan muslim dan non-muslim. Dalam Islam terdapat
tata cara berhubungan antara muminun dengan muahidun, atau antara
muminun dengan orang yang tidak beragama. Hubungan tersebut dibagi
lagi menjadi tiga kategori yaitu, muharibin, ahl al-ahd, dan dzimmah ahl.
Berdasarkan kategori di atas, para sarjana membagi dunia menjadi dua,
yaitu dar al-Islam dan dar al-harb.
Awal dari munculnya hubungan antara muslim dan non-muslim
adalah pada saat nabi memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Di Madinah
nabi membagi penduduk setempat berdasarkan 2 kategori yaitu, harb almushriki dan ahd al-mushriki. Kategori tersebut didasarkan atas hubungan
mereka dengan nabi. Setelah turunnya ayat At-Taubah kategori tersebut
diperluas menjadi Muharibun, ahl al ahd, dan ahl al-dzimmah.
Para sarjana Islam klasik mendefinisikan Dar Al-Islam sebagai Dar
yang berada di bawah otoritas Islam yang dimana hukum islam berlaku
dan penduduknya hidup di bawah perlindungan hukum tersebut. Dar AlHarb bisa menjadi Dar Al-Islam asalkan memenuhi salah satu dari tiga
kondisi berikut:
1. Apabila sebuah penduduk kota berperang melawan Islam dan
rakyatnya menjadi muslim.
2. jika sebuah wilayah berada dalam batas Dar-Al-Harb tetapi masih di
bawah otoritas Islam.
3. Jika kota berada di bawah pengaruh Islam kemudian direbut oleh
Dar Al-Harb, lalu ditebus.
Di lain sisi para sarjana Islam modern mendefinisikan Dar Al-Islam sebagai
wilayah yang dimana hukum islam diterapkan dan muslim bebas
mempraktekkan hukum islam di wilayah tersebut. Apabila kita telaah lebih

lanjut para sarjana klasik dan sarjana modern Islam sepakat mengenai
definisi dari Dar Al-Islam yaitu seperti yang telah disebutkan di atas.
Dar Al-Harb didefiniskan oleh sarjana klasik sebagai wilayah yang
secara otoritatif tidak memuat prinsip-prinsip Islam. Dar Al-Harb
selamanya tidak akan menjadi Dar Al-Islam sampai wilayah tersebut
menerapkan hukum Islam. Sedangkan sarjana modern mendefinisikannya
sebagai seluruh wilayah non-Islam di bawah otoritas non-muslim yang
dimana hukum yang diterapkan di wilayah tersebut bukan hukum Islam.
Dalam hal ini Dar dapat dikatakan sebagai Dar Al-Harb apabila:
1. Jika otoritas berada di bawah non-muslim.
2. Jika wilayah tersebut didiami muslim, tapi ada kecemasan terhadap
serangan musuh.
3. Jika kaum muslim dan dzimmi tidak mendapat perlindungan dari Dar
Al-Islam.
Dar Al-Harb bisa menjadi Dar Al-Islam apabila muslim menaklukkan
dan menerapkan hukum islam di wilayah tersebut. Sebaliknya, Dar AlIslam dapat menjadi Dar Al-Harb apabila:
1. Wilayah Islam ditaklukan dan Dar Al-Harb mengambil wewenang
sepenuhnya atas wilayah tersebut.
2. Orang Islam murtad lalu mengambil otoritas atas wilayah tersebut
dengan menerapkan hukum non-Islam.
3. Ahl Al-Dzimmah mengingkari perjanjian yang ada serta menang
dalam melawan muslim.
Dalam perdebatan selanjutnya para sarjana membagi Dar-Al-Harb
menjadi 2 kategori yaitu, Dar Al-Ahd dan Dar Al-Muwadaa berdasarkan
apakah Dar tersebut memiliki perjanjian atau tidak dengan otoritas
muslim. Dar Al-Muwadaa adalah Dar yang memiliki perjanjian dengan
otoritas muslim akan tetapi hukum dan ketentuan Islam tidak berlaku d
Dar tersebut. Sedangkan definisi dari Dar Al-Ahd sendiri masih belum jelas
karena banyaknya perdebatan yang timbul mengenai Dar itu sendiri dan
hal ini dianggap sebagai penemuan dari sarjana modern.
Setelah saya membaca hampir dari keseluruhan bacaan ini saya
melihat bahwa penulis berusaha untuk menjelaskan mengenai hubungan
internasional dalam Islam dengan cara mengambil berbagai argumen dari
para akademisi muslim baik itu klasik maupun modern. Sehingga
pandangan pembaca tidak terpaku pada satu argumen saja melainkan
berbagai argumen yang mungkin dapat dikombinasikan satu sama lain
yang mungkin dapat menjadikannya sebagai argumen yang kuat.
Apabila kita perhatikan lebih lanjut penulis menyusun artikel ini
secara sistematis dan berurutan. Hal ini dapat kita lihat dari adanya subbab tertentu yang membahas mengenai logika dari sebuah perspektif
yang didefinisikan dan dibahas secara rinci oleh penulis melalui argumenargumen yang dikemukakan oleh ahlinya. Terlepas dari hal di atas, di
akhir tulisannya penulis memberikan argumen mengenai apa yang

ditulisnya dengan memberikan penjelasan singkat mengenai fenomena


yang terjadi di masa sekarang.