Anda di halaman 1dari 3

Muhammad Darmawan

Ardiansyah/1112113000007

Western Muslims and the Future of Islam


Interreligious Dialogue.
Seperti yang telah kita ketahui, dialog antar agama merupakan
sebuah tradisi panjang yang telah dilakukan sejak masa silam. Setiap
orang dari berbagai latar belakang agama yang berbeda bertemu saling
bertukar pikiran mengenai agama mereka masing-masing. Hal ini
dilakukan agar setiap orang yang berasal dari agama yang berbeda dapat
menghormati eksistensi agama yang lain serta saling toleransi dalam
menjalani kehidupan ini dan mungkin dapat saling membantu
meringankan beban satu sama lain.
Dalam dialog antar agama terdapat kelompok tertentu yang
mengkhususkan dirinya untuk menjadi perantara dalam setiap acara, baik
itu seminar ataupun konferensi yang di mana diperlukan pembangunan
jembatan komunikasi. hal tersebut perlu dilakukan agar dalam
mendiskusikan obyek yang sensitif, dalam hal ini agama, dapat mencapai
kesepahaman bersama, sehingga dapat memberikan solusi yang konkrit
untuk mencegah kekerasan terhadap agama apapun. Dibentuknya
hubungan yang penuh dengan rasa hormat dan toleransi yang tinggi
menciptakan suasana yang sangat kondusif, walaupun mereka berasal
dari latar belakang yang berbeda. Akan tetapi permasalahan utama dari
hal ini adalah bahwa orang-orang yang mengikuti pertemuan tersebut
rata-rata datang dengan urusan pribadi, tidak berasal dari perwakilan
kelompok tertentu yang memang ingin atau mendorong pluralisme agama
ke arah yang penuh toleransi.
Dalam dialog seperti ini diperlukan orang-orang yang berpikiran
terbuka agar dapat membawa solusi ke arah yang lebih baik sehingga
tercapai kemaslahatan bersama. Akan tetapi, ada kelompok tertentu yaitu
kelompok radikal yang jarang bertemu dan mempunyai pandangan
fundamentalisme yang sangat kuat. Apabila setiap orang dari berbagai
agama yang memiliki pandangan tersebut dipertemukan dalam suatu
pertemuan dialog antar agama maka yang terjadi bukanlah
mendiskusikan solusi yang tepat bagi mereka. Justru yang akan terjadi
adalah perdebatan atau penolakan satu agama terhadap lainnya yang
dapat menyebabkan situasi menjadi lebih buruk.
Setiap orang yang terlibat dalam dialog antar agama sangatlah
penting bagi mereka untuk menanamkan tanggung jawab pada diri
mereka sendiri dalam memahamkan kelompok mereka atas apa yang
telah dicapai dalam sebuah dialog antar agama. Dalam hal ini individu
baik itu perwakilan ataupun datang dengan urusan pribadi memainkan
peran yang sangat penting untuk menjadi mediator antara kelompok
mereka dengan kelompok lain sebagai upaya untuk mencegah hal-hal
yang tidak diinginkan. Sehingga potensi konflik agama yang dapat terjadi
sewaktu-waktu dapat dikelola menjadi potenasi kerjasama yang saling
menguntungkan bagi setiap pihak yang terlibat di dalamnya.

Perlu ditanamkan pada pikiran setiap individu bahwa dialog antar


agama adalah sangat penting adanya. Hal ini dilakukan sebagai upaya
untuk meminimalisir potensi konflik antar umat beragama atau
mencegahnya sedini mungkin agar hal-hal seperti itu dapat dihindari.
Kejadian masa lalu patut menjadi pelajaran bagi kita bahwa perbedaan
agama yang dijadikan sebagai alasan utama untuk pergi berperang
harusnya dijadikan pelajaran di antara kita semua. Dominasi satu agama
terhadap agama lain tidak akan membawa keuntungan apapun bagi
agama yang mendominasi. Malah yang terjadi adalah adanya rasa ingin
balas dendam dari agama yang didominasi untuk menghancurkan agama
yang mendominasinya. Sirkulasi seperti ini tidak akan pernah selesai
apabila dipelihara terus-menerus. Maka dari itu perlu adanya perubahan
paradigma mengenai toleransi antar umat beragama.
The Cultural Alternative.
Islam lahir bukan murni hasil dari sebuah kebudayaan, akan tetapi
Islam lahir dengan nilai-nilai serta esensi keagamaan yang kuat. Seperti
yang kita ketahui prinsip utama dalam Islam adalah tauhid, dimana hal ini
menjadi landasan utama dalam menjalankan aktivitas keagamaan sesuai
dengan apa yang telah ditetapkan oleh Islam itu sendiri. Saat kita
berbicara Islam, secara tidak langsung kita berbicara mengenai iman,
spiritualitas, dan etika yang dimana ketiganya membentuk konsepsi
manusia dan kehidupan.
Apabila kita sadari lebih lanjut, setiap jengkal wilayah di dunia ini
memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Islam yang kita praktekan
tentunya memiliki perbedaan dengan apa yang dipraktekan oleh mereka
yang tinggal di wilayah yang berbeda. Akan tetapi Islam menegaskan
bahwa akulturasi budaya ke dalam agama Islam diperbolehkan selama hal
tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam serta masih dalam
batas koridor yang wajar.
Adanya integrasi nilai-nilai budaya ke dalam Islam telah memberikan
warna tersendiri bagi penganutnya. Fleksibilitas Islam terhadap budaya
apapun memungkinkan penganutnya untuk menyesuaikan nilai-nilai Islam
dengan kebudayaan mereka, sehingga walaupun mereka hidup dalam
nilai-nilai Islam akan tetapi, esensi budaya mereka tetap terpelihara
dengan baik tanpa takut kehilangan budaya yang telah mereka miliki
sejak lama.
Perlu ditekankan bahwa Islam memberikan kebebasan pada
pengikutnya untuk mempraktekkan Islam sesuai dengan kebudayaan
mereka dengan syarat tidak keluar dari batas koridor yang telah
ditetapkan. Maka dari itu, setiap muslim bebas untuk membentuk budaya
atau peradaban mereka sendiri sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga
Islam menjadi sebuah agama yang penuh dengan peradaban, hasil dari
akulturasi budaya yang sangat beragam. Identitas memang perlu
dipertahankan dan setiap muslim berhak untuk membentuk identitas
tersebut sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa eksistensi mereka
masih ada walaupun Islam telah menjadi pijakan hidup mereka.

Muslim di Barat seperti yang telah kita ketahui, mayoritas merupakan


para imigran, baik itu legal maupun ilegal yang masuk ke negara-negara
Barat untuk bertahan hidup. Kepindahan mereka dari negara asal secara
tidak langsung pasti akan membawa nilai-nilai yang telah mereka anut
sebelumnya. Bukan hanya Islam yang akan membentuk identitas mereka,
bentuk kehidupan seperti yang telah mereka praktekan di negara asalnya
akan mereka bawa ke negara tujuan mereka. Sehingga muncul berbagai
pandangan mengenai identitas Islam seseorang. Karena setiap negara
mempunyai implementasi nilai-nilai Islam yang berbeda. Akan tetapi hal
tersebut mayoritas bertahan pada generasi pertama. Generasi kedua dan
ketiga cenderung untuk tidak mengakui lagi asal-usul mereka, sehingga
identitas mereka yang berasal dari pendahulu mereka sebagai seorang
pendatang menjadi kabur.
Generasi-generasi penerus dari para imgran masih mempertahankan
identitas keislaman mereka, akan tetapi di lain sisi identitas budaya dari
negeri mereka berasal berangsur-angsur hilang. Dalam hal ini perlu
dibentuk sebuah identitas baru bagi muslim yang tinggal di negaranegara Barat. Hal ini ditujukan untuk membentuk kembali identitas
kebudayaan mereka. Pembentukan identitas perlu dilakukan, dimana hal
ini bertujuan untuk mengharmonisasikan prinsip-prinsip Islam dengan
bentuk kehidupan yang ada di negara-negara Barat. Sehingga apabila hal
tersebut dapat diwujudkan, akan lebih mudah mendefinisikan identitas
asal mereka tanpa kehilangan nilai-nilai Islam di dalamnya. Kedinamisan
Islam terhadap berbagai budaya bukan berarti kebebasan untuk
mengadopsi seluruh budaya yang ada tanpa memandang apakah sesuai
dengan nilai Islam atau tidak.