Anda di halaman 1dari 3

Muhammad Darmawan Ardiansyah/

1112113000007/ HI C

African Perceptions of the European Union: Assessing the Work of


the EU in the Field of Democracy Promotion and Peacekeeping,
by: Dr Lorenzo Fioramonti, Ph. D.
Hubungan Afrika dengan Uni Eropa telah terjalin sejak masa
kolonialisme. Hubungan ini didasarkan pada hubungan yang tidak
seimbang. Di mana Barat menjadikan Afrika sebagai lahan yang hanya
dikeruk potensi sumber dayanya baik manusia maupun alam, tanpa
memikirkan kesejahteraan ataupun akibat dari hal yang dilakukannya.
Kurangnya timbal balik hubungan antara penjajah dan yang dijajah
menjadikan Afrika sebagai kawasan paling tertinggal di dunia, baik dalam
segi politik maupun ekonomi.
Segala tindakan yang dilakukan Barat pasca kolonialismepun dapat
dikatakan sebagai bentuk dari neo-kolonialisme yang telah dipersiapkan
sejak masa kolonialisme. Sejatinya Barat telah mengkondisikan Afrika
sedemikian rupa agar ketergantungan yang besar pada masa kolonialisme
terhadap penjajah tetap ada walaupun negara-negara di kawasan
tersebut telah merdeka.
Di era modern ini, Barat, melalui Uni Eropa cenderung meningkatkan
hubungan dengan Afrika dalam bidang politik dan ekonomi. Seperti yang
telah kita ketahui, kondisi perpolitikan dan perekonomian di Afrika
sangatlah buruk sekali. Dibutuhkan reformasi politik dan ekonomi di
kawasan tersebut untuk meningkatkan kualitas negara-negara di Afrika.
Barat melalui Uni Eropa, sebagai pemain global dan mantan penjajah
tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Pasti mereka akan
mengambil tindakan yang responsif untuk mempromosikan demokrasi
dan perdamaian yang menjadi alat utama bagi mereka untuk memperkuat
pengaruh di kawasan tersebut. Akan tetapi, banyaknya syarat-syarat yang
ditetapkan oleh Uni Eropa, khususnya dalam aspek bantuan ekonomi,
memberikan dampak yang sangat besar terhadap kegagalan negaranegara Afrika itu sendiri untuk mencapai kesejahteraan. Belum lagi
ditambah dengan persyaratan dalam bidang politik, yang akan semakin
membawa negara-negara Afrika dalam keterpurukan.
Bantuan Uni Eropa terhadap negara-negara di Afrika terkait dalam
bidang politik maupun ekonomi selalu dibarengi dengan persyaratanpersyaratan yang cenderung kurang solutif. Hal ini malah memperburuk
keadaan Afrika itu sendiri. Selama Uni Eropa masih mengandalkan sanksi
dan persyaratan-persyaratan yang memberatkan bagi Afrika, selama itu
pula Afrika tidak akan pernah mengalami kemajuan dalam bidang
ekonomi maupun politik. walaupun terdapat kemajuan, tentunya tidak
akan maksimal dan signifikan serta terkadang relatif, bergantung pada
siapa yang melihat perkembangan kemajuan tersebut.
Bantuan luar negeri Barat dalam bidang perekonomian yang
berkedok untuk membebaskan Afrika dari jeratan hutang luar negeri yang
tidak terbayar, dapat dikatakan hanyalah isapan jempol belaka. Dapat kita
lihat saat ini, sebagian besar negara-negara Afrika semakin bergantung

pada Barat untuk mendapatkan aliran hutang secara terus-menerus.


Tentunya hal ini dapat dikatakan sebagai jebakan Barat terhadap Afrika
agar negara-negara di kawasan tersebut selalu dapat dikontrol sesuai
dengan kepentingan Barat.
Intervensi Barat dalam bidang ekonomi saja memiliki dampak yang
sangat besar terhadap aspek politik dan sosial. Peningkatan hubungan
antara Barat melalui Uni Eropa dengan Afrika dalam aspek perdamaian/
keamanan serta demokrasi dapat dikatakan sebagai alat untuk
memperkuat pengaruh Barat di kawasan tersebut, serta membendung
kekuatan lain dari dominasi yang berlebihan. Sehingga tidak ada kekuatan
lain yang melebihi pengaruh Barat di kawasan tersebut.
Semakin banyaknya aktor-aktor kuat dalam sistem internasional yang
mulai bermunculan di abad 21 ini secara tidak langsung memaksa Barat
untuk meningkatkan hubungan mereka dengan daerah-daerah bekas
jajahan. Hal ini ditujukan untuk meminimalisir perkembangan pengaruh
selain Barat di kawasan tersebut. Maka, jika kita mengatakan bahwa Barat
ingin membantu Afrika keluar dari ketidakstabilan politik serta keamanan
adalah salah besar. Pasti ada motif/ kepentingan terselubung yang
dibungkus dengan hal tersebut.
Harus dipahami bahwa isu politik dan keamanan merupakan isu yang
sangat sensitif dalam hubungan internasional. Sensitif karena negaranegara yang tidak setuju dengan tindakan Barat dalam membangun
perdamaian dan demokrasi di Afrika dapat dikatakan sebagai intervensi
yang dibungkus sedemikian rupa, sehingga terlihat baik dan cenderung
berakibat positif. Padahal, jika kita perhatikan lebih lanjut, tidak mungkin
Barat dengan tulus dan sukarela mau menggelontorkan dana yang sangat
besar hanya untuk membangun perdamaian dan demokrasi di Afrika.
Pastinya ada kepentingan Barat yang harus diperjuangkan di
kawasan tersebut. Dan Barat tidak akan serta-merta menggelontorkan
dana yang banyak tanpa melakukan kalkulasi cost-benefit yang telah
dilakukan sebelumnya. Dan menurut konsep ini, jika kita lihat pola Barat
melalui Uni Eropa meningkatkan hubungan denga Afrika, pastinya ada
cost tersendiri jika Uni Eropa tidak meningkatkan hubungan dengan
Afrika. Maka dari itu dicanangkanlah program pembangunan perdamaian
dan demokrasi beserta nilai-nilainya di Afrika.
Tentunya peningkatan hubungan dalam aspek pembangunan
perdamaian dan demokratisasi di Afrika menimbulkan banyak pertanyaan
yang menyesakkan dada. Kepentingan itu pasti ada, tapi untuk apa Uni
Eropa melakukan itu. Apakah untuk mengamankan distribusi barang ke
Eropa agar tidak terganggu? Ataukah untuk mengamankan benua Afrika
serta meminimalisir pengaruh eksternal di kawasan tersebut? Entahlah
motif apa yang melatar belakangi Eropa untuk mengambil tindakan
tersebut. Akan tetapi, yang pasti motif Barat tidak akan jauh dari motif
ekonomi dan keamanan.

Di era modern saat ini, strategi Barat yang cenderung menggunakan


persyaratan dan sanksi dinilai kurang efektif dan efisien. Hal ini
dikarenakan mulai munculnya pengaruh Cina di Afrika sebagai alternatif
bagi negara-negara Afrika yang tidak mampu mengakomodir persyaratan
dan sanksi yang diterapkan oleh Uni Eropa. Cina dinilai lebih fleksibel dan
menguntungkan karena hubungan yang dijalin tidak mensyaratkan
apapun dan tanpa pengkondisian apapun, yang terpenting adalah hasil
yang didapatkan dari kerjasama tersebut.
Strategi ini sangat strategis sekali karena negara-negara Afrika tidak
mendapatkan kontrol atau intervensi apapun dari pihak luar. Yang ada
hanyalah hubungan simbiosis mutualisme di antara kedua belah pihak.
Berbeda dengan Uni Eropa yang sarat dengan pengkondisian. Dimana hal
ini banyak menimbulkan kerugian bagi negara-negara di Afrika. Selain itu
pengkondisian juga memberikan dampak yang berbeda-beda terhadap
negara-negara di kawasan tersebut.
Ada yang berhasil, stagnan, bahkan mengalami kegagalan yang
berujung pada kolapsnya negara tersebut. Dapat dilihat bahwa tindakan
Uni Eropa tidak selalu mengalami keberhasilan. Relativitas sangat berlaku
dalam hal pengkondisian. Hal ini diakibatkan oleh kondisi dalam negeri
negara-negara Afrika yang berbeda-beda. Maka dari itu, hasil yang
didapatkanpun berbeda-beda tergantung kondisi negara tersebut pada
saat itu.