Anda di halaman 1dari 3

Muhammad Darmawan

Ardiansyah/1112113000007

After the Cold War: the maturing of the Greater West


Asian Crisis
Pasca Perang Dingin sampai awal tahun 2000-an, Dinamika kawasan
Timur Tengah diwarnai oleh berbagai peristiwa yaitu: Invasi Irak ke Kuwait,
Perjanjian perdamaian Israel-Palestina, serangan Al-Qaeda ke AS, dan
invasi AS serta sekutunya ke Irak. Sejarah pergolakan wilayah di Timur
Tengah pasca perang dingin tidak terlepas dari terjadinya perang teluk 1,
2, dan 3 yang memliki kontribusi besar dalam mengubah wajah
perpolitikan antar negara di Timur Tengah. Greater West Asian Crisis
adalah gambaran Barat terhadap kondisi perpolitikan di kawasan tersebut
yang penuh dengan tensi antar negara serta persaingan kekuatan militer
yang sangat kompetitif di kawasan tersebut.
Dalam tataran negara terdapat pengaruh yang besar suatu negara
terhadap negara lain dalam hal survival. Maka dari itu, setiap peristiwa
yang menimpa suatu negara pasti memiliki keterkaitan dengan peristiwa
yang terjadi sebelumnya dan akan mempengaruhi peristiwa yang terjadi
di kemudian hari. Campur tangan Barat juga memiliki pengaruh yang
sangat besar terhadap dinamika politik kawasan. Greater West Asian
Crisis adalah hasil interaksi strategis yang terjadi di kawasan Asia pada
saat itu. Di Timur Asia terdapat peristiwa uji coba nuklir yang dilakukan
oleh India untuk mengantisipasi serangan dari luar, khususnya Cina.
Sedangkan di barat Asia terdapat perang etnis yang sangat
mematikan pasca perang dingin akibat disintegrasi Yugoslavia. Belum lagi
pemisahan Timor-timor dari Indonesia, perang Aljazair serta nasib imigran
pasca 9/11. Kondisi politik di Timur Tengah pasca perang dingin diukur
dari perubahan politik global yang memiliki dampak besar terhadap krisis
yang terjadi di kawasan tersebut. Di tahun 1989-1991 konflik global telah
mengubah konteks politik Timur Tengah. Akan tetapi perubahan tersebut
bukan terjadi karena penyebaran ide-ide perdamaian dan liberalisasi
seperti yang umumnya dilakukan Barat terhadap negara lainnya.
Jadi pada tahun 1980 sampai 2000 pola interaksi politik di kawasan
ini bukanlah pola saling ketergantungan atau liberalisasi yang umumnya
terjadi, akan tetapi, pola konflik regional dan aliansi terbentuk karena
adanya persaingan kekuatan global dalam misi menyebarkan influence
serta power mereka di wilayah tersebut. Kawasan ini juga memiliki
karakteristik yang unik dimana menegaskan otonomi terhadap
ketergantungan global. Hal inilah yang berkontribusi besar bagi kegagalan
perjanjian damai Israel-Palestina, peristiwa 9/11, serta invasi AS ke Irak.
Dalam memahami perubahan global kita harus melihat dari sifat
perang dingin itu sendiri, baik itu pertarungan ideologi ekonomi,
perlombaan senjata nuklir antara barat dan timur serta persaingan
geopolitik. Bubarnya soviet yang kemudian diikuti oleh pembagian
ideologi yang dibagi menjadi kekuatan kapitalis dan anti kapitalis dan
ekonomi neoliberal yang menyebar ke daerah baru di dunia. Akhir dari
persaingan strategis dan ideologis adalah munculnya globalisasi yang

disatu sisi memiliki kontribusi besar dalam penyebaran ide-ide politik dan
ekonomi neoliberal.
Keruntuhan Soviet serta munculnya globalisasi dalam level
internasional pasca 1991 memiliki pengaruh yang sangat besar dalam
membentuk peristiwa dan harapan di Timur Tengah. Harus diketahui
bahwa negara dan masyarakat yang ada di kawasan ini memiliki karakter
yang khas dibanding kawasan lainnya. Negara-negara di kawasan ini
bereaksi terhadap perubahan namun semaksimal mungkin untuk
menentang perubahan tersebut yang menjadi tren global. Hal ini dapat
kita lihat dari kebijakan-kebijakan politik mereka yang dirancang
semaksimal mungkin untuk membendung tren global, seperti demokrasi
dll.
Resistensi negara terhadap kondisi politik internasional diperparah
oleh peran masyarakat kawasan dalam merespon runtuhnya Uni Soviet
serta kecurigaan yang sangat besar terhadap globalisasi. Maka dari itu
penting untuk menghindari generalisasi tren global ke kawasan ini tanpa
batasan. Karena kawasan ini memliki karakter yang sangat berbeda dan
unik dari kawasan lainnya. Alasan yang melatar belakangi hal tersebut
bukanlah budaya, agama, atau situasi antar negara yang tidak aman.
Akan tetapi respon negara dan gerakan sosial dalam menyikapi
perubahan tersebut. Perubahan politik internasional pasca runtuhnya
Soviet tidak memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi politik
di wilayah ini. Dikarenakan negara memiliki kontrol politik, masyarakat,
dan ekonomi yang sangat kuat untuk menjaga dari hal-hal yang tidak
diinginkan, dan bila perlu negara mengambil tindakan pre-emptive untuk
mencegah hal tersebut.
Hal yang sama juga diterapkan pada gerakan-gerakan sosial yang
menantang negara dengan pola pikir internasional yang penuh dengan
muatan demokrasi. Kekhasan Timur Tengah dalam melawan siklus
internasional bukan tanpa alasan. Pertarungan ideologis antara AS dan US
yang menjadi tren global telah terjadi lebih dulu di Timteng satu
dasawarsa sebelum 1980. Perang Dingin juga mewariskan peristiwa yang
paling dramatis di wilayah Timur Tengah, yakni perang Irak-Kuwait yang
diikuti oleh respon dunia internasional.
Dari sisi AS, akhir dari persaingan dengan Soviet memberikan AS
ruang yang lebih besar bagi AS untuk mempengaruhi kebijakan negaranegara di Timur Tengah. Contohnya saja mempengaruhi kebijakan negara
di Timur Tengah terkait pasokan minyak ke AS dan sekutunya dengan
harga yang tidak wajar. Kebijakan energi yang terjadi antara negara
TimTeng dan AS serta sekutunya cenderung dilakukan secara tertutup.
Fokus lain dari kebijakan AS di wilayah ini adalah mengamankan wilayah
teluk agar pasokan minyak tidak terganggu.
Kebijakan AS untuk mempromosikan perdamaian di Timur Tengah
juga tidak terlepas dari kepentingan untuk menjaga stabilitas kawasan
agar pasokan minyak tidak terganggu. Di luar minyak, fokus politik
kebijakan AS di Timur Tengah adalah mendamaikan Arab-Israel. Akan
tetapi, segala upaya yang dilakukan oleh AS kandas terus-menerus.
Yahudi memiliki perang yang sangat penting dalam mempengaruhi
kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah, khususnya Israel. Kebijakan-

kebijakan pro Israel tidak terlepas dari pengaruh lobi Yahudi yang sangat
kuat menancapkan taringnya dalam kongres. Maka dari itu, keberhasilan
perundingan damai Palestina-Israel bergantung pada bagaimana dinamika
lobi antara Kongres dan Yahudi dalam menyelesaikan permasalahan ini.
Menurut saya penulis menjelaskan sangat komprehensif terkait
permasalahan yang terjadi di wilayah Timur Tengah. Penulis menjelaskan
sejarah intervensi Barat yang mulai masif terjadi pada saat terjadinya
perang teluk kedua. Akan tetapi dalam buku ini saya melihat bahwa
penulis terlalu banyak menjelaskan tentang sejarah perang teluk yang
dimulai dari perang Irak-Iran, Irak-Kuwait, dan Invasi AS ke Irak dan
Afghanistan. Selain itu dalam tulisan ini, penjelasan fenomena atau
sejarah diiringi oleh teori, akan tetapi penjelasan teori sangat sedikit
sekali terhadap fenomena sejarah yang terjadi.
Dinamika perpolitikan di kawasan Timur Tengah yang sangat
fluktuatif dijelaskan oleh penulis secara secara terpisah dengan
penjelasan teori yang digunakan dalam melihat fenomena di Timur
Tengah. Pemisahan antara penjelasan sejarah dan teori menurut saya
menimbulkan kebingungan karena dapat menimbulkan misunderstanding
bagi pembacanya. Akan tetapi secara keseluruhan penulis telah
menjelaskan secara lengkap bagaimana dinamika perpolitikan di wilayah
Timur Tengah. Terlepas dari itu semua tulisan ini sangat cocok sekali untuk
dijadikan sebagai sebuah referensi dalam memahami hubungan
internasional di wilayah Timur Tengah dan menjadi rujukan bagi penulisan
yang terkait dengan kawasan tersebut.