Anda di halaman 1dari 3

Muhammad Darmawan

Ardiansyah/1112113000007/6C

Chinas Soft Power in Africa


Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Cina yang sangat pesat
digadang-gadang akan menjadi ancaman bagi dominasi ekonomi AS dan
Barat terhadap sistem internasional. Industrialisasi yang dibangun secara
masif serta dibukanya keran investasi yang selebar-lebarnya bagi investor
asing menjadikan Cina kekuatan ekonomi baru yang mampu menjadi
pesaing AS dalam sektor perekonomian.
Peningkatan ekonomi Cina yang sangat pesat juga diiringi dengan
menjamurnya investasi Cina di negara-negara dunia ketiga. Baik itu
investasi berupa pertambangan, pabrik, fasilitas-fasilitas publik, serta
infrastruktur yang sangat dibutuhkan bagi negara-negara dunia ketiga
sebagai pondasi awal untuk meningkatkan perekonomian mereka.
Pastinya negara-negara dunia ketiga sangat menyambut positif langkah
Cina untuk melakukan investasi di negara mereka. Karena, sebagaimana
kita ketahui, Cina tidak pernah melakukan intervensi dalam negeri suatu
negara sebelum melakukan investasi di negara tersebut.
Sikap Cina yang bersifat non-intervensi terhadap urusan dalam
negeri suatu negara menjadi nilai tersendiri di mata negara-negara dunia
ketiga. Karena, investasi yang dilakukan oleh Cina tidak memuat unsurunsur persyaratan yang memberatkan bagi negara-negara itu sendiri. Hal
inilah yang membuat Cina mudah untuk menanamkan investasinya di
negara manapun.
Tentunya hal ini sangat bertolak belakang dengan cara investasi
negara-negara Barat di dunia ketiga khususnya Afrika. Segala bantuan
maupun investasi yang berupa hutang yang digelontorkan oleh AS dan
sekutunya selalu ditunggangi oleh persyaratan-persyaratan yang sangat
memberatkan negara-negara dunia ketiga. Persyaratan itu seperti harus
ditegakkannya nilai-nilai demokrasi di wilayah tersebut, serta liberalisasi
ekonomi yang seluas-luasnya terhadap perekonomian negara tersebut.
Hal ini membuat negara-negara di Afrika cenderung dipaksakan
untuk mematuhi segala persyaratan yang dikondisikan oleh Barat. Yang
malah membuat negara-negara itu semakin terpuruk oleh kondisi
tersebut, karena efek pengkondisian yang berdampak besar terhadap
aspek sosial, ekonomi, dan politik. Dapat dilihat bahwa bantuan yang
diberikan oleh Barat seharusnya memberikan keringanan dan
mengeluarkan negara-negara tersebut dari jurang keterpurukan, malah
menjadikan negara-negara itu semakin terpuruk.
Tidak adanya alternatif kreditor pada masa itu membuat negaranegara di Afrika mau tidak mau harus meminjam dari Barat demi
menyelamatkan perekonomian mereka yang semakin terpuruk. Hal ini
membuat tingkat bargaining Barat sangat tinggi terhadap negara-negara
Afrika. Tingkat bargaining yang sangat tinggi dimanfaatkan oleh Barat
dengan memberikan persyaratan-persyaratan yang memberatkan negaranegara Afrika itu sendiri.
Munculnya Cina sebagai salah satu kekuatan ekonomi baru di dunia
memberikan
angin
segar
bagi
negara-negara
yang
terpuruk
perekonomiannya, seperti negara-negara Afrika. Tingkat pertumbuhan
ekonomi yang sangat tinggi dimanfaatkan Cina untuk berinvestasi di
negara-negara dunia ketiga seperti Afrika. Tentunya negara-negara Afrika

sangat membuka lebar keran investasi bagi Cina karena tidak adanya
persyaratan-persyaratan yang memberatkan serta pengkondisian
terhadap aspek-aspek tertentu di negara-negara tersebut.
Perlu diketahui bahwa hal ini mendorong hubungan yang lebih
intensif lagi bagi Cina dan negara-negara di Afrika, karena setiap
tahunnya dapat dipastikan nilai perdagangan antara dua pihak selalu
bertambah. Terjadinya peningkatan hubungan perdagangan yang sangat
drastis di antara dua pihak membuat khawatir negara-negara Barat akan
dominasi hubungan mereka di kawasan tersebut.
Pastinya negara-negara di kawasan Afrika akan lebih cenderung
untuk mendekati Cina daripada Barat. Karena Cina memberikan peluang
yang sangat besar bagi negara-negara di kawasan tersebut untuk
mengembangkan perekonomian mereka terlepas dari kondisi dalam
negeri itu sendiri, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun politik. Hal
inilah yang tidak ditawarkan oleh Barat terhadap negara-negara di
kawasan tersebut.
Pergerakan Cina yang sangat agresif dalam menjalin hubungan
dengan negara-negara di kawasan tersebut menimbulkan ancaman bagi
dominasi ekonomi Barat terhadap kawasan Afrika itu sendiri. Jika Barat
tidak mengubah kebijakan perekonomiannya terhadap kawasan tersebut,
maka dapat dipastikan bahwa akan terjadi pergeseran dominasi, dimana
Cina akan menjadi kekuatan dominan baru di kawasan tersebut.
Munculnya Cina sebagai aktor dominan di kawasan tidak terlepas dari
pendekatan Cina yang lebih bersahabat dan mudah diterima oleh negaranegara di kawasan Afrika, daripada pendekatan Barat yang cenderung
mendikte urusan dalam negeri negara-negara tersebut, yang seharusnya
tidak dicampuri, karena merupakan wilayah kedaulatan sebuah negara
yang harus dihormati.
Selain itu pendekatan Cina di Afrika yang cenderung terfokus pada
peningkatan ekonomi serta keterlibatan ekonomi di negara-negara
tersebut yang berupa perluasan perdagangan dan investasi, serta
menjamurnya berbagai proyek infrastruktur Cina dipandang lebih cocok
bagi nasib perekonomian negara-negara tersebut di masa yang akan
datang, daripada Barat yang cenderung terfokus pada pemenuhan nilainilai mereka yang sangat idealis dan cenderung tidak rasional.
Sejalan dengan hal di atas, negara-negara di Afrika juga cenderung
untuk lebih meningkatkan hubungan dengan Cina, karena munculnya
pandangan baru bahwa Cina merupakan kekuatan global yang baru dan
potensial. Hal inilah yang membuat negara-negara Afrika sangat intensif
dalam menjalin hubungan dengan Cina, karena mereka berharap bahwa
kemunculan Cina sebagai kekuatan global yang baru akan memberikan
dampak yang positif bagi kelangsungan hidup negara-negara Afrika itu
sendiri.
Nilai tambahan lain yang ditawarkan oleh Cina adalah, dengan tidak
adanya intervensi urusan dalam negeri dibalik investasi serta bantuannya
terhadap negara-negara di Afrika, memungkinkan pembangunan
perekonomian dapat dilaksanakan sesegera mungkin dengan hasil yang
lebih nyata dan memuaskan daripada apa yang dapat diperoleh dari Barat
yang hanya berupa keterpurukan dalam lubang yang lebih dalam.

Walaupun pada saat ini sektor perekonomian masih didominasi oleh


AS dan sekutunya, akan tetapi mereka harus tetap waspada dengan
pergerakan Cina yang sangat agresif di kawasan Afrika. Bukan tidak
mungkin jika nantinya negara-negara di Afrika akan berpaling semua ke
Cina dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian mereka yang
sangat terpuruk.
AS dan sekutunya juga harus waspada dengan pertumbuhan
investasi dan bantuan Cina yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Karena bisa saja nantinya ada spillover dalam kerjasama antara negaranegara Afrika dan Cina ke tingkat yang lebih tinggi, seperti kerjasama
dalam aspek keamanan. Mungkin saja jika kerjasama keamanan ini
dilakukan secara intensif dan berkelanjutan dapat menjadikan negaranegara Afrika ini menciptakan sebuah aliansi militer dengan Cina yang
berpotensi terhadap perubahan hegemon dunia nantinya.
Maka dari itu, seharusnya AS dan sekutunya menyadari bahwa perlu
dilakukan perubahan pendekatan terhadap negara-negara di Afrika agar
ketergantungan mereka terhadap dominasi AS tidak hilang dan potensipotensi yang dapat membahayakan dominasi AS dapat diminimalisir
seminimal mungkin. Mungkin dengan menggandeng Cina sebagai mitra
dalam mengembangkan perekonomian negara-negara Afrika dapat
menjadi alternatif bagi AS untuk mulai merubah pendekatannya yang
cenderung kaku. Dengan menggandeng Cina, mungkin AS dan sekutunya
tetap bisa menjadi aktor utama dalam kawasan tanpa menyingkirkan Cina
sebagai aktor pendatang baru dalam kawasan tersebut.